Caption : My Geeky Boy Chapter 10 A and 10 B

Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Kim Sohyun, Xi Luhan, Oh Sehun, Kim Yerim (RV), and other cast

Genre : Drama, Romance, School life, Smut

Rating : M

Playing : APINK Eunji ft Seo In Guk - All For You

Forward :

Haiiii i'm back : membawa chapter spesial chanbaek anniv huhuhuhu habis gelap terbitlah terang yesh :3 karna total words nya 8000 words, saya memutuskan buat ngebagi chapter ini jadi chapter 10 A dan B hehehe jd ntar langsung di next aja /? baca ff ini direkomendasikan sambil denger lagu all for you :3

Oiya ada yg nanya bisa bikin ff ini dari mana... jengjengjeng/? ff ini terinspirasi dari kisah di rp (lol don't blame me/?)

Happy reading!^^


I might not be able to give you the whole world but
Now I will promise only to you
I will be a person who is only for you

It's only for you just wanna be for you
You just need to stay by my side just as you are right now
Even if I'm born again, I want to look at only you forever

.

.

.

.

.

"Sayang, ayo kita pulang!"

Laki-laki berambut hitam dengan kacamata yang bertengger kokoh di tulang hidungnya sedang berdiri di depan sebuah pintu kelas. Ia sedikit terkekeh melihat kekasihnya tengah membilas kain lap dengan air dalam sebuah ember.

"Kau duluan saja. Aku belum mengepel lorong, aish sialan si Bae seonsaengnim itu!" gerutu Baekhyun sambil memeras kain lap tersebut dan menampar-nampar kain tersebut dengan kesal. Bibir mungilnya mengerucut kesal sambil mengeluarkan sumpah serapah untuk guru wanita yang sudah menghukumnnya dengan tidak berperi-kemanusiaan.

Bagaimana tidak, Baekhyun lah yang menjadi biang keladi dari keonaran di kelas tadi siang. Sebuah foto editan perempuan telanjang berdada besar dengan wajah Bae seonsaengnim tertempel di papan tulis kelas. Jadilah kemurkaan guru wanita yang merupakan rival masa lalu Baekhyun semakin menjadi pada laki-laki mungil itu. Bahkan Bae seonsaengnim tidak perlu repot-repot menyelidiki siapa pelakunya, karena satu-satunya murid keturunan iblis yang berani kurang ajar padanya hanyalah Byun Baekhyun seorang.

"Apa yang sudah kau lakukan? Kau ini benar-benar biang onar." Decak Chanyeol saat Baekhyun menghampirinya dengan sebuah gagang pel dan ember di tangannya. Baekhyun mengerucutkan bibirnya manja pada Chanyeol, yang disambut kecupan manis dari laki-laki jangkung itu.

"Aku hanya mengerjainya seperti yang sudah-sudah. Tanganku gatal akhir-akhir ini, tidak betah jadi anak manis yang selalu menuruti peraturan."

Mendengar penuturan Baekhyun, mau tak mau Chanyeol mencubit kedua pipi gembil Baekhyun yang setiap hari semakin berisi. Ia begitu gemas dengan perilaku Baekhyun, namun itulah yang menjadi daya tarik kekasihnya. Baekhyun terkekeh pelan dan mulai mengepel lantai di ujung lorong kelas 2, meninggalkan Chanyeol yang masih setia bertengger di bibir pintu kelas Baekhyun. Chanyeol mengamati setiap gerak-gerik kekasihnya yang menggemaskan itu dengan senyum lebar yang terplester di wajahnya.

Chanyeol merasa beruntung semuanya kembali seperti sedia kala. Tak ada lagi Chanyeol yang mengabaikan Baekhyun, tak ada lagi Baekhyun yang menangis memohon Chanyeol untuk tetap tinggal, tak ada lagi kebodohan-kebodohan yang Chanyeol perbuat. Rupanya badai di antara mereka sudah mereda dan pergi, meninggalkan pelangi yang perlahan-lahan muncul dan memperindah hari-hari mereka.

Kini Chanyeol selalu setia menunggu Baekhyun keluar kelas jika kelas nya pulang lebih awal. Chanyeol bahkan mengendarai mobil hitam mewahnya ke sekolah agar ia bisa mengantar kekasih mungilnya pulang ke rumah dengan selamat. Hal itu menjadi headline news di mading sekolah dan membuat seisi sekolah gempar karena si culun Chanyeol merupakan siswa kaya raya. Seiring dengan merebaknya kabar tentang dirinya, hubungannya dengan Baekhyun semakin terkuak dan menjadi perbincangan di kalangan siswa, baik seangkatan, senior, maupun junior.

Pasalnya siapa yang tidak mengenal biang onar Byun Bekhyun yang tak pernah pandang bulu dalam mencari mangsa? Siswa keturunan iblis yang tergila-gila dengan hal-hal berbau seks!

Siapa yang tidak mengenal Park Chanyeol si culun nan jenius kelas 2A yang menjadi 'artis' dadakan hanya karena mobil Ferrari hitamnya?

Dan kenyataan nya dua laki-laki itu adalah sepasang kekasih. Bagaikan bumi dan langit, kata orang. Semua orang memuji Chanyeol, namun semua orang juga menghina Baekhyun. Tetapi Byun Baekhyun tetaplah Byun Baekhyun yang tidak pernah ambil pusing, ia merasa senang karena namanya semakin bersinar mengalahkan si ketua cheerleader oplasan, Jessica.

"Mau ku bantu? Wajahmu pucat, sayang." Kata Chanyeol. Guratan kekhawatiran terpatri di wajahnya saat melihat kekasih mungilnya menyelesaikan semua hukumannya sendiri. Belum lagi bibirnya yang memucat dan tubuhnya yang bermandikan keringat.

"T-tidak apa-apa, Yeol. Ini tinggal sedikit lagi. Kau tahu, jika aku tertangkap basah menerima bantuan maka si nenek sihir itu akan memberikanku hukuman mengerjakan 100 soal olimpiade! Aku benci terlalu banyak belajar, itu akan membuat kulitku mengeriput!"

Chanyeol mengecek jam tangannya. Pukul 6 petang, pantas sekolah sudah sepi. Ia segera masuk ke dalam kelas Baekhyun, mengambil tas ransel berwarna biru muda milik Baekhyun dan menarik pergelangan tangan kekasihnya.

"Kita harus pulang, kau belum makan dan aku tidak mau kau sakit, Byun Baekhyun. Turuti kata-kataku, atau aku akan menghukummu! Tidak usah pedulikan hukuman itu, ada aku yang akan membantumu."

Dengan senang hati Baekhyun membanting kain pel nya, memasukkannya di dalam ember, dan menendang ember tersebut ke pojok lorong. Persetan dengan nenek sihir itu, kini ususnya sudah berteriak minta diisi. Apalagi Chanyeol yang mengajaknya makan, ia tidak akan repot-repot mengeluarkan uang sepeser pun.

"Menghukumku? Apa aku perlu menari telanjang di depanmu? Apa aku harus mengulum penismu yang besar itu, Park seonsaengnim?" ujar Baekhyun dengan nada menggoda sambil mengedipkan sebelah matanya. Ia ingin tertawa melihat ekspresi Chanyeol yang membeku karena kata-katanya.

Dengan mendadak Chanyeol mendorong tubuh Baekhyun ke dinding. Chanyeol menahan kedua tangan Baekhyun ke atas dan mencengkramnya. Rupanya Baekhyun sengaja karena tahu kekasihnya akan sangat 'berbahaya' jika membicarakan tentang penis.

Kedua mata besar Chanyeol memandangi bibir Baekhyun dengan tatapan lapar. Ibu jarinya mengelus bibir bawah Baekhyun dengan gerakan pelan. Baekhyun hanya bisa memandangi Chanyeol dan menunggu apa yang akan dilakukan laki-laki berambut hitam itu.

"Mmmm.."

Bibir tebal Chanyeol kembali menyapu bibir mungil kemerahan itu. Namun Chanyeol hanya memberi hisapan kecil pada bibir bawah Baekhyun dan menggigitnya dengan gemas. Baekhyun yang sedang terpejam menikmati bibir Chanyeol harus membuka matanya kesal. Ia tidak suka dipermainkan seperti ini, ia merindukan bibir tebal itu. Bahkan belum ada 1 menit Chanyeol menciumnya.

"Menari telanjang kedengarannya menarik, anak nakal." Bisik Chanyeol menggoda sambil menjilat telinga kiri Baekhyun. Baekhyun hanya membelalakkan matanya, kulitnya meremang karena perbuatan Chanyeol yang tidak terduga seperti itu. Sialnya penisnya mulai berkedut-kedut dan dengan entengnya Park Chanyeol pergi mendahului dirinya sambil terkekeh.

"YA! PARK CHAN-"

"Diamlah dan ayo kita pergi makan, sayang."

Chanyeol menarik tangan Baekhyun dan berjalan menuju parkiran sekolah. Sementara di belakangnya, Baekhyun dengan susah payah mengimbangi langkah-langkah kaki Chanyeol yang terlampau besar karena ukuran kakinya yang panjang.

Setelah masuk ke dalam mobil dan memakaikan ikat pinggang di tubuh Baekhyun, Chanyeol segera memacu mobilnya menuju restoran terdekat. Ia tidak ingin laki-laki mungilnya sakit, karena baginya Baekhyun adalah prioritas utama.

Di sisi lain, Baekhyun hanya bisa memandangi Chanyeol dengan tatapan teduh. Akhir-akhir ini Chanyeol terus menempelinya, terus berdiri di sampingnya seperti seorang 'bodyguard'. Baekhyun sangat senang karena Chanyeol telah membayar semuanya. Bahkan Baekhyun tidak melihat lagi interaksi antara Chanyeol dan Sohyun.

"Mengapa kau tersenyum seperti itu, sayang?" tanya Chanyeol saat mendapati Baekhyun yang terus menatapnya dengan senyuman yang lebar dari ekor matanya.

"Ah.. tidak apa, aku hanya sedang bersyukur pada Tuhan karena tetap menjagamu di sisiku." Kata Baekhyun santai. Mendengar ucapan Baekhyun, sebuah senyuman terukir di paras tampan laki-laki berambut hitam itu. Dadanya mulai bergemuruh, jantungnya kembali berdetak di luar kendali. Byun Baekhyun selalu punya sejuta cara untuk menaklukkan hatinya.

Seperti jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya?

Untuk itu, Chanyeol membawa jari-jari lentik Baekhyun ke dalam genggaman hangatnya. Chanyeol membimbing punggung tangan Baekhyun mendekat ke wajahnya dan mengecupi punggung tangan itu sebagai ucapan terima kasih yang terkira. Ia menempelkan punggung tangan Baekhyun pada pipi kirinya, merasakan lembutnya kulit Baekhyun dan hangatnya genggaman mereka.

Momen-momen kecil inilah yang sebelumnya hilang dari kehidupan mereka. Momen yang dapat mengalirkan perasaan nyaman dan cinta yang semakin besar. Inilah pelangi yang sesunngguhnya, Byun Baekhyun dan Park Chanyeol telah kembali.

"Ayo kita turun, sayang."

Chanyeol mematikan mesin mobilnya setelah memakirkan mobil mewahnya di depan sebuah kedai ayam goreng. Baekhyun hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya kebingungan, tidak menyadari bahwa mereka sudah sampai di restoran tujuan. Ini pasti karena ia terlalu sibuk memandangi Chanyeol, memperhatikan setiap lekuk wajah tampan laki-laki itu.

Dengan gentleman, Chanyeol membukakan seatbelt dan pintu untuk Baekhyun. Tidak lupa ia akan menarik bangku di restoran agar Baekhyun bisa duduk. Baekhyun benar-benar diperlakukan seperti putri raja. Bukannya Baekhyun pemalas dan ingin memanfaatkan Chanyeol, namun perlakuan seperti ini lah yang ia suka dari kekasihnya. Bagaimana Baekhyun merasa bahwa dirinya diprioritaskan dan diperlakukan di atas segalanya.

"Yeol, kau ingat besok hari apa?" tanya Baekhyun sambil memainkan jari-jari besar Chanyeol di atas meja, menunggu pesanan 2 porsi ayam goreng madu mereka tiba. Kedua alis Chanyeol bertemu, ia menggeleng pelan tidak mengetahui maksud pertanyaan Baekhyun.

"Serius kau tidak tahu?"

Baekhyun memberikan tatapan memelasnya pada Chanyeol. Ia menggoyang-goyangkan tangan Chanyeol seakan meminta Chanyeol untuk mengingatnya lagi.

"Besok hari Sabtu sayang, lalu ada apa? Apa aku pernah menjanjikanmu sesuatu, hm?"

"Pesanan anda, tuan." Ujar seorang pelayan membuyarkan percakapan mereka. Baekhyun hanya bisa memberikan senyuman masam pada pelayan tersebut. Ia mendengus pelan dan menghempaskan tangan Chanyeol –dengan sedikit kasar, mencoba mengalihkan keberadaan Chanyeol dengan ayam goreng madu di hadapannya.

Keduanya memakanan makanan masing-masing dengan terdiam. Chanyeol tahu jika Baekhyun sedang marah padanya, terbukti sedari tadi ia terus membanting-banting sumpitnya hingga menimbulkan bunyi yang memekakkan telinga. Karena Baekhyun sengaja ingin menunjukkan pada Chanyeol bahwa ia kesal dengan sifat tidak peka laki-laki itu.

Baekhyun yang sedang kesal akan berubah seribu kali lipat lebih manja dan kekanakan di mata Chanyeol. Setiap Chanyeol mengajaknya berbicara di sela kegiatan makan mereka, Baekhyun akan menunduk dan memainkan ayam goreng madunya seakan potongan ayam itu lebih menarik dari pada Chanyeol. Saat Chanyeol membayar semuanya di kasir, ia tidak menemukan Baekhyun di meja mereka. Baekhyun berjalan mendahului Chanyeol menuju parkiran dan menunggu laki-laki berkacamata itu di samping mobil hitamnya.

"Tidak usah, aku bisa membukanya sendiri!" ujar Baekhyun ketus saat Chanyeol bermaksud membukakan pintu untuknya. Ia menangkis tangan Chanyeol dan duduk dengan kedua tangan terlipat di dadanya.

Di sepanjang perjalanan, laki-laki berambut ungu itu hanya bisa menggembungkan pipinya lalu membuang muka pada pemandangan di luar jendela. Sungguh ia benar-benar jengah dengan kebodohan dan ketidak pekaan Chanyeol, sekarang ia harus menghadapi sifat pikun Chanyeol. Apakah materi-materi pelajaran membuat ingatannya tenggelam ke dasar otaknya?

"Kau marah padaku?" tanya Chanyeol bodoh sambil mencoba menggenggam tangan Baekhyun. Namun nyatanya Baekhyun dengan sigap menarik tangan mungilnya dan memasukkannya ke dalam kantung blazer seragam nya. Berkali-kali Chanyeol menghela napasnya dan mencoba fokus pada jalanan di depannya, berkali-kali juga Chanyeol mencoba mencairkan suasana dengan melontarkan beberapa lelucon. Namun Baekhyun tetap diam membisu.

Apa Chanyeol harus memberikan ciuman panas seperti kesukaan Baekhyun? Apa Chanyeol harus 'menggoda' kekasihnya seperti yang Baekhyun lakukan padanya ketika sedang marah? Ah tidak mungkin! Ia tidak ingin terlihat bodoh di depan Baekhyun, dan pasti Baekhyun akan menganggapnya 'mencari kesempatan dalam kesempitan'. Chanyeol takut Baekhyun akan kecewa karena sudah memanfaatkan tubuhnya.

"Sayang..." panggil Chanyeol dengan nada merajuk yang dibalas dengan tatapan membunuh dari Baekhyun. Chanyeol menahan pergelangan tangan Baekhyun saat kekasihnya hendak masuk ke dalam pekarangan rumahnya. Dengan susah payah Chanyeol menyusul langkah-langkah Baekhyun yang mendadak lebih cepat ketika sedang kesal.

"Apa? Kau pulang saja ini sudah malam."

"T-tapi.."

BLAMMMM

Chanyeol tersentak saat Baekhyun membanting pintu rumahnya. Ia benar-benar seperti keledai dungu yang tidak tahu apapun. Baekhyun sendiri tidak memberikan petunjuk apapun tentang hari 'esok' mereka. Seingat Chanyeol, ia tidak pernah berjanji mengajak Baekhyun pergi atau merencanakan sesuatu, tapi mengapa Baekhyun terlihat sangat marah padanya?

"Aishhh!"

Chanyeol menggaruk-garuk kepalanya dengan kasar. Ia ingin menodong Baekhyun dengan rentetan pertanyaan, namun pasti kekasihnya akan memaki-maki dirinya atas kebodohannya. Chanyeol begitu frustrasi karena ia tidak ingin membuat kesalahan lagi, sudah cukup ia tersiksa dengan kebodohannya sendiri. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan kedua yang Baekhyun telah berikan.

Pada akhirnya, Chanyeol harus pulang dengan beribu pertanyaan menari-nari di kepalanya. Sepanjang perjalanan ia terus mencoba mengingat semua kata-kata yang ia pernah ucapkan pada Baekhyun. Namun hasilnya benar-benar nihil. Rasanya ingin bagi Chanyeol untuk membenturkan kepalanya di atas stir mobil, mungkin saja ada kenangan yang hilang bisa muncul kembali secara ajaib.

Tapi itu tidak mungkin kan?

.

.

.

.

.

"Aku pulang.."

Tak ada yang menjawab. Chanyeol membuka sepatunya malas dan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru rumahnya. Rupanya belum ada satu anggota keluarganya yang kembali ke rumah. Laki-laki berkacamata itu menghela napasnya pelan dan berjalan lesu menuju kamarnya.

Walaupun ia sudah terbiasa hidup seperti ini, dimana semua anggota keluarganya mempunyai kesibukan yang luar biasa, namun ia tetaplah remaja yang membutuhkan kasih sayang. Ingin sekali rasanya setiap malam bercengkrama dengan keluarga, menonton tayangan di televisi bersama, atau makan malam bersama. Nyatanya kegiatan-kegiatan itu hanya bisa ia rasakan ketika hari-hari besar seperti hari ulang tahun atau natal.

Terkadang ia iri dengan kehidupan kekasihnya. Eomma Baekhyun adalah sosok seorang ibu yang sangat perhatian pada anaknya, walaupun kedua anaknya berjenis kelamin laki-laki. Meskipun ia belum pernah bertemu Baekbeom, ia mendengar cerita-cerita Baekhyun bahwa Baekbeom sering menjahilinya hingga membuat kekasihnya menangis, namun Baekbeom akan pergi keluar dan kembali dengan sebuah es krim strawberry di tangannya sebagai permintaan maaf. Baekhyun benar-benar beruntung.

Chanyeol melemparkan kacamatanya ke atas meja belajar dan menghempaskan tubuhnya dengan kasar di atas tempat tidur. Sembari jari-jarinya bekerja membuka kancing seragamnya, ia memandangi langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong.

Chanyeol membayangkan jika saat itu Baekhyun tidak memaafkannya dan pergi meninggalkannya. Mau jadi apa kehidupan Chanyeol sekarang? Hanya Baekhyun lah cahaya yang selalu menyinari hari-harinya (yang sebenarnya suram). Hanya di sekolah atau saat bertukar pesan dengan Baekhyun, Chanyeol merasa hidup. Baekhyun bisa menjadi kekasih, adik, sahabat, atau bahkan menjadi seperti ibu yang selalu memperhatikan dirinya. Karena saat berada di pelukan Baekhyun, Chanyeol menemukan arti rumah yang selama ini ia rindukan.

"Byun Baekhyun.." bisik Chanyeol pada udara di sekelilingnya. Bayangan wajah Baekhyun terlintas di benaknya dan itu membuat dirinya merindu setengah mati. Ingin rasanya Chanyeol mengajak Baekhyun untuk menginap di rumahnya, agar ia bisa merasakan pelukan hangat Baekhyun saat mereka tertidur. Agar ia tidak merasakan kesepian seperti hari-hari biasanya.

Chanyeol menghela napas kasar. Ia tidak mengerti kenapa ia mendadak melankolis dan murung seperti ini. Apakah ini efek perselisihan kecilnya dengan Baekhyun?

Ah... besok...

Chanyeol merogoh sakunya dan mendapati ponselnya dalam keadaan mati total, bermaksud untuk melihat kalender di ponselnya. Ia menepuk keningnya dengan kasar, dengan gerakan tergesa-gesa mencari dimana letak kalender dindingnya berada. Ia melempar apapun yang berada di jangkauan matanya, hanya untuk mencari kalender yang mungkin tenggelam bersama kertas-kertas ujiannya.

"Gotcha!" pekik Chanyeol saat menemukan kalendernya yang ternyata tertimbun di balik poster pekan karya ilmiah yang kemarin ia tempel di dinding. Ia menyusuri deretan angka yang tercetak di kertas hitam itu dengan telunjuknya.

Hari ini tanggal 13.. besok adalah tanggal 14...

"Shit, Park Chanyeol! Ada apa dengan ingatanmu?! Aishh.. pantas saja Baekhyun marah!" rutuknya sendiri sambil mengamati angka 14 yang seakan-akan tertawa mengejek kebodohannya.

Tanggal 14 adalah hari resminya hubungan nya dengan Baekhyun. Sejak awal mereka berhubungan, Baekhyun selalu merengek pada Chanyeol agar bisa merayakan hari jadi mereka setiap bulan. Walaupun tidak seperti kebanyakan warga Korea yang merayakan hari jadi dalam hitungan kelipatan 100 hari, 200 hari atau 1000 hari, Chanyeol mencoba mengerti dan menyanggupi permintaan Baekhyun.

Dua bulan yang lalu, ketika hubungan mereka belum tertimpa masalah, Chanyeol mengajak Baekhyun pergi ke Everland dan menghabiskan waktu seharian penuh untuk laki-laki mungilnya itu. Saat itu Baekhyun benar-benar sangat ceria dan berkali-kali mengucapkan terima kasih pada Chanyeol. Ini semua bukanlah permintaan Baekhyun, namun Chanyeol berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menjadikan Baekhyun sebagai prioritas. Ia hanya ingin membuat Baekhyun ceria dan tidak pernah merasakan kesepian seperti apa yang selalu ia rasakan.

Pikiran Chanyeol melayang-layang, memikirkan kemana harus membawa Baekhyun pergi dengan waktu kurang dari 24 jam untuk mempersiapkan semuanya. Ia menggigit bibirnya kesal karena keadaan otaknya yang keruh dan tidak fokus. Dengan malas ia membuka sebuah lemari pendingin berukuran kecil yang terletak di samping meja belajarnya.

Cklek

Cara yang paling tepat untuk menghilangkan penat hanyalah membiarkan kerongkongannya terisi cairan kesukaannya. Walaupun sekarang ia telah berubah menjadi anak teladan, namun kebiasaannya mengonsumsi minuman alkohol tetap tidak bisa hilang dari kehidupannya. Ia tidak bisa menjadi suci dan bersih seratus persen. Ia tetap membutuhkan minuman-minuman berkadar alkohol tinggi (lebih dari soju) untuk menyegarkan pikirannya.

Saat sedang berpikir, mendadak pandangan Chanyeol tertuju pada deretan polaroid yang menggantung di atas meja belajarnya. Ia mendesah pelan, mengambil beberapa polaroid yang sudah sedikit memudar termakan waktu.

'Sohyunnie terlalu semangat belajar hingga tertidur seperti ini. Coba lihat wajahnya yang menggemaskan! Kkkk'

'Pulau Jeju bersama Sohyunnie! Best day ever~'

'Hadiah kejutan untuk uri Kim Sohyun. Semoga dia menyukainya!'

Chanyeol tersenyum getir membaca beberapa kalimat pada setiap polaroid di tangannya. Ia meneguk bir Cass kesukaannya dengan kasar. Mendadak pandangan matanya buram, entah karena efek bir yang mengisi rongga kerongkongannya, atau karena air mata yang tiba-tiba memenuhi kedua matanya.

Disana, terpampang wajah Sohyun yang sedang tertidur pulas. Chanyeol terkekeh pelan saat mengingat bagaimana Sohyun dengan susah payah mengajarinya agar bisa mempertahankan nilai-nilainya. Atau pemandangan laut di Pulau Jeju dengan figur Sohyun yang menggunakan gaun pendek dengan senyum merekahnya.

"Lupakan semua itu.. bukankah kau sudah merasakan bagaimana sakitnya dicampakkan? Apa kau mau Baekhyun merasakan hal yang sama sepertimu? Kau benar-benar jahat, Park Chanyeol!"

Tiba-tiba kalimat itu terngiang lagi di telinga Chanyeol. Realita di hadapannya seperti menyadarkan Chanyeol dari lamunan masa lalunya. Jujur, hati Chanyeol seperti dihujam beribu belati saat Sohyun melontarkan pernyataan itu. Ternyata selama ini semua perbuatannya sia-sia. Upayanya menjadi lebih baik dan semua harapan-harapan Chanyeol terhadap Sohyun menguap sudah.

Sohyun yang menyatakan bahwa tidak ada harapan lagi baginya untuk berhubungan baik dengan perempuan yang pernah mengisi ruang di hatinya itu. Sohyun lah yang membangun dinding pembatas yang begitu kokoh di antara mereka berdua.

Mungkin ini lah saatnya bagi Chanyeol untuk berhenti dan menyerahkan seluruh hati serta hidupnya hanya untuk seseorang yang ia miliki sekarang. Chanyeol akan benar-benar berhenti dan mengikuti semua permintaan Sohyun. Chanyeol sadar bahwa Sohyun tidak akan peduli dengan kehidupannya yang terdahulu. Bagaimana hancurnya Chanyeol, bagaimana Chanyeol yang tertatih-tatih menata kembali hati dan kehidupannya, bagaimana harapan-harapan bodoh Chanyeol.

Chanyeol mengeratkan genggamannya pada botol kaca di tangannya. Ia memandangi polaroid-polaroid itu dengan nanar. Chanyeol menghela napasnya, mencoba meyakinkan jika semua akan lebih baik bersama Baekhyun.

Bukankah Tuhan tahu mana hal yang sekedar kita inginkan dan mana hal yang benar-benar kita butuhkan?

Sebelum semuanya semakin jauh dan menyakiti hatinya (lagi), ia membuka semua penjepit polaroid dan mengambil semua polaroid-polaroid itu. Chanyeol mencari sebuah pemantik dari laci mejanya.

Sedetik kemudian, api mulai menjalar dan menggerogoti lembaran-lembaran polaroid itu, bersamaan dengan kenangan-kenangan masa lalunya yang ia kubur di dasar hatinya dan tidak akan pernah ia buka kembali. Dengan kesunyian yang selalu setia menemani malam-malamnya, Chanyeol mengikrarkan dalam hati bahwa ia tidak akan melepaskan apa yang ia miliki sekarang. Ia tidak akan pernah membiarkan seseorang yang ia cintai merasakan apa yang pernah Chanyeol rasakan.

"Semoga kau mendapatkan apa yang kau mau, Kim Sohyun. Aku akan menjadi laki-laki yang paling bahagia bersama Baekhyun."

.

.

.

.

.


NEXT TO CHAPTER 10 B! :)