Caption : My Geeky Boy Chapter 10 B
I might not be able to give you the whole world but
Now I will promise only to you
I will be a person who is only for you
It's only for you just wanna be for you
You just need to stay by my side just as you are right now
Even if I'm born again, I want to look at only you forever
.
.
.
.
.
"Selamat pagi, Byun Baekhyun."
Chanyeol terkekeh melihat Baekhyun sedang tertidur di kasur kesayangannya sambil memeluk boneka pemberian darinya. Ini baru pukul 6 pagi dan Chanyeol begitu bersemangat menjemput Baekhyun ke rumahnya. Setelah merenungkan semuanya semalaman, hari ini ia akan menekadkan untuk menutup kisahnya bersama Sohyun dan mengulang kisahnya bersama Baekhyun dari awal.
Eomma Baekhyun, yang sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Chanyeol di rumahnya, menyuruhnya untuk membangunkan Baekhyun. Berkali-kali Eomma Baekhyun mengatakan bahwa anak bungsunya itu semalam pulang dengan muka yang ditekuk dan mata yang berkaca-kaca. Eomma Baekhyun tahu jika Chanyeol lah yang bisa memberi jawaban atas semuanya, namun Chanyeol hanya mengatakan jika terjadi sedikit kesalah pahaman di antara mereka.
"Aigooo.." Chanyeol menahan tawanya melihat Baekhyun yang tidur dengan berbagai posisi (karena tidak bisa diam), bahkan Baekhyun terus menggaruk bokongnya dalam keadaan mata yang terpejam. Guling dan selimutnya telah tergeletak di lantai, menjadi korban kebrutalan kekasihnya itu.
Chanyeol membungkukkan badannya dan mengecup kening Baekhyun dengan lembut. Ia terus mengelus rambut berwarna ungu kekasihnya itu dengan penuh sayang. Sebenarnya ia tidak tega harus membangunkan Baekhyun di waktu sepagi ini, namun ia harus menjalankan rencananya.
Beberapa menit kemudian, kedua mata sipit Baekhyun mengerjap-ngerjap tanda ia sudah mulai terjaga dari tidurnya. Merasakan ada sebuah tangan yang terus menempel di kepalanya, dengan susah payah Baekhyun mencoba membuka kedua matanya.
"Y-yeol?!" pekik Baekhyun dengan suara paraunya saat melihat Chanyeol yang sedang tersenyum lebar menyambut paginya, mengalahkan cerahnya sinar matahari yang mulai masuk melalui ventilasi udara kamarnya. Baekhyun ingin sekali memukul kepala kekasihnya itu. Baekhyun sangat amat teramat benci bangun pagi, baginya tidur 8 jam saja tidak cukup.
Dengan sedikit tertawa, Chanyeol menggendong tubuh mungil Baekhyun menuju kamar mandi yang terletak di depan kamar Baekhyun.
"Y-yak! Turunkan aku, bodoh!" pekik Baekhyun sekali lagi sambil memukul-mukul bahu Chanyeol untuk segera menurunkannya. Ia takut Eomma nya akan melihat pemandangan aneh seperti ini di pagi hari, dan ia akan memastikan bahwa Eommanya akan menodongnya dengan banyak pertanyaan. Padahal Baekhyun tidak tahu, jika Chanyeol sudah berkenalan lebih jauh dengan sang Eomma dan meminta izin untuk mengajaknya pergi pagi ini.
"Kita tak punya waktu lagi, sayang."
Chanyeol menurunkan tubuh Baekhyun, dan mendudukkannya di toilet. Baekhyun hanya bisa pasrah karena kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul. Chanyeol mengambil sikat gigi berbentuk panda dan pasta gigi dari westafel.
"Aaaaaa.." titah Chanyeol sambil menjepit kedua pipi gembil Baekhyun dengan jari-jarinya. Mau tak mau Baekhyun menuruti perkataan Chanyeol dan membuka mulutnya lebar-lebar. Laki-laki berambut hitam itu mulai memasukkan sikat gigi ke dalam mulut Baekhyun, dengan hati-hati menyikat gigi-gigi mungil kekasihnya itu. Beberapa kali Baekhyun tersedak busa yang memenuhi rongga mulutnya, dan ia akan terbatuk-batuk sambil mengeluarkan ekspresi yang menggemaskan bagi Chanyeol.
Setelah selesai menyikat gigi dan mencuci wajah Baekhyun, Chanyeol harus menggendong tubuh kekasihnya itu untuk turun ke lantai dasar. Sang Eomma yang sedang memasak hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat bagaimana anaknya tertidur (lagi) di gendongan Chanyeol. Chanyeol tersenyum dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja, ia meminta izin pada Eomma Baekhyun untuk berangkat pergi meskipun Baekhyun masih mengenakan piyama biru mudanya.
Chanyeol menidurkan Baekhyun di jok penumpang dan memasangkan seatbelt ke pinggang ramping Baekhyun dengan sangat hati-hati, agar laki-laki mungil itu tidak terbangun. Ternyata ada untungnya Baekhyun tertidur seperti ini. Jika dalam keadaan sadar, pasti Baekhyun akan membombardir gendang telinga Chanyeol dengan rengekan, sumpah serapah, atau pertanyaan-pertanyaan yang memekakkan telinganya.
Roda-roda mobil Chanyeol berputar mengantarkan sepasang kekasih itu menuju suatu tempat yang sudah dipersiapkan Chanyeol. Bukanlah tempat yang istimewa dan mahal, namun Chanyeol mempunyai maksud dibalik tujuannya.
Senyuman tak henti-hentinya terukir di wajah Chanyeol pagi ini. Selain merupakan kegiatan yang bagus untuk mengawali hari, ia tersenyum karena penampilan Baekhyun yang sangat menggemaskan. Laki-laki mungil itu tertidur pulas dengan memeluk bantal mobil berbentuk bola basket kesayangan Chanyeol, belum lagi rambut 'air mancur' ciri khasnya ketika ia berada di rumah. Namun satu yang menjadi favorit Chanyeol, yaitu wajah Baekhyun yang polos tanpa olesan eyeliner ataupun BB cream.
Sesekali Chanyeol mengelus pipi gembil Baekhyun saat mobil mereka sedang berada di lampu merah. Chanyeol benar-benar tak tahan untuk mencium pipi yang selalu mengeluarkan semburat kemerahan itu. Sebenarnya Chanyeol sedang berusaha agar tidak menjatuhkan pandangannya pada piyama biru muda Baekhyun. Demi Tuhan, piyama itu begitu tipis hingga lekuk tubuh Baekhyun terlihat, belum lagi celana dalamnya yang tercetak jelas. Semua itu tidak baik untuk kesehatan penis Chanyeol, karena ia tidak ingin melakukan apapun yang berhubungan dengan kegiatan intim hari ini.
"Semoga kau menyukai semua yang sudah aku persiapkan, sayang."
.
.
.
.
.
.
"Ya! Park Chanyeol, kau mau membawaku kemana? Aishh.. kau ingin mempermalukanku?" cerca Baekhyun saat Chanyeol memaksanya turun dari mobil setelah mereka sampai di depan suatu gedung.
Terjadi pertengkaran kecil di mobil tadi karena Baekhyun yang merengek tidak akan turun karena masih memakai piyama, Baekhyun bahkan hampr menangis dan terus menendang-nendang tubuh besar Chanyeol yang sedang membuka seatbeltnya. Pertama, Baekhyun belum mandi dan tidak memakai eyeliner andalannya. Kedua, ia masih memakai piyama yang sangat tipis (Baekhyun baru menyadarinya ketika ia bangun dari tidurnya). Ketiga, Chanyeol seperti menculiknya! Berpura-pura misterius dengan mengajaknya ke tempat yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Walaupun ia sangat rela diculik atau bahkan diperkosa kekasihnya yang sangat tampan itu, tapi ia butuh persiapan!
"Tenang saja tidak ada banyak orang disini, sayang." Ujar Chanyeol enteng sambil menggenggam tangan mungil Baekhyun. Sementara Baekhyun terus menerus menunduk dan mencoba menutupi sebagian wajah polosnya dengan satu tangan.
Baekhyun tidak ingin mengangkat kepalanya dan menerima pandangan aneh dari orang-orang di sekelilingnya. Lagipula ia tidak ingin mempermalukan Chanyeol dengan penampilan buruk rupanya. Yang Baekhyun dengar sedari tadi, ada beberapa orang yang menyapa Chanyeol.. seperti seorang security? Namun Baekhyun sama sekali tidak berminat untuk mencari tahunya.
"Dan-kook Mi-ddle School?"
Baekhyun mengeja rentetan tulisan yang terpampang pada sebuah papan nama yang tinggi menjulang. Baekhyun mengerutkan kedua alisnya tidak mengerti apa maksud Chanyeol mengajaknya ke sebuah sekolah menengah seperti ini. Sedangkan di sampingnya, Chanyeol hanya tersenyum simpul melihat bagaimana kekasihnya kebingungan.
"Ikuti aku.." pinta Chanyeol sambil menarik tangan mungil Baekhyun dengan lembut, mau tidak mau Baekhyun mengikuti langkah Chanyeol dengan ragu.
"Disana ada sebuah taman kecil dengan air mancur, biasanya para siswa berkumpul disini ketika jam istirahat. Tetapi seperti yang kau tahu, hanya siswa pintar yang selalu berkumpul untuk membicarakan pelajaran. Siswa biang onar akan berkumpul di kantin belakang sekolah untuk.. ya kau tahu, merokok? Menonton video porno? Atau apapun itu."
Baekhyun hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya dan mengangguk ragu. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian bangunan di sekelilingnya. Sekolah ini benar-benar mewah, batin Baekhyun. Siswa-siswa disana pastilah bukan dari kalangan biasa, jenius atau kaya raya. Bagi Baekhyun, sekolah seperti ini hanya bisa ia lihat di drama-drama kesukaan Eommanya.
"Di ujung sana terdapat toilet laki-laki dan perempuan khusus siswa kelas 2!"
"Ah! Aku akan menunjukan kantin belakang sekolah nanti, kau pasti menyukainya!"
"Ini ruangan khusus klub-klub di sekolah ini. Klub yang paling populer di sekolah ini ada 3, klub menari, klub basket, dan paduan suara."
Baekhyun masih belum mengerti maksud permainan Chanyeol. Laki-laki berkacamata itu terus mengoceh tentang sekolah tempat mereka berada sekarang, seakan pernah menjadi bagian dari sekolah ini.
Sekolah
"APA INI SEKOLAHMU, PARK CHANYEOL?!" pekik Baekhyun dengan suara melengkingnya. Ia sangat merutukki kemampuan otak nya yang sangat lamban jika bersama Chanyeol. Ini sekolah menengah pertama Chanyeol! Tetapi apa tujuan Chanyeol mengajaknya ke tempat yang seharusnya memberikan kenangan buruk bagi laki-laki tinggi itu? Bukankah Chanyeol akan sangat sensitif dengan 'masa lalu'nya?
Chanyeol menghentikan langkahnya sejenak. Ia terkekeh sambil mencubit gemas pipi gembil kekasih mungilnya. Jadi sedari tadi Baekhyun belum menyadarinya?
Chanyeol mengangguk cepat, memberi kecupan singkat di bibir mungil Baekhyun dan merangkul pinggang ramping Baekhyun, melangkahkan kaki-kaki mereka lagi menyusuri sekolah yang menjadi kebanggaan Park Chanyeol dulu. Baekhyun yang mulai mengerti arah permainan Chanyeol hanya bisa mendengarkan dengan seksama ocehan-ocehan Chanyeol yang mendadak seperti 'tour guide'.
"Ini adalah koridor khusus loker, sama seperti di sekolah kita.. Ah ini loker milikku dulu!" ujar Chanyeol senang sambil menunjuk loker bernomor 61. Pintu loker besi berwarna hijau tua itu dipenuhi banyak stiker-stiker bertemakan basket, peninggalan Chanyeol dulu. Chanyeol tidak mengerti kenapa pemilik yang sekarang tidak mencopot semua stiker miliknya, padahal stiker-stiker itu merusak keindahan dan sama sekali terlihat tidak rapi.
Sementara Chanyeol berjalan menuju sisi koridor yang lain untuk sekedar bernostalgia, Baekhyun terus memandangi pintu loker bernomor 61 di hadapannya. Jari-jari mungilnya terangkat untuk mengelus stiker-stiker usang milik kekasihnya. Entah kenapa, perasaan hangat mulai menjalar di tubuhnya. Seakan-akan Baekhyun dapat melihat dan merasakan kehadiran Chanyeol 2 tahun yang lalu. Ia dapat 'melihat' bagaimana Chanyeol yang berjalan dengan gerombolan teman-temannya, tertawa lepas hingga para guru menghukum mereka karena membuat kegaduhan. Entah kenapa ia dapat membayangkan bagaimana masa lalu Chanyeol, bagaimana sosok 'bad boy' yang berbeda dari si culun Chanyeol yang sekarang, dan itu membuatnya sedikit terharu. Ia merasa menjadi lebih dekat dengan Chanyeol dari sebelumnya.
"Baek.."
Cklek
"Y-ya! Apa itu, Yeol? Aku belum siap!" pekik Baekhyun saat menyadari bahwa Chanyeol mengarahkan sebuah kamera polaroid di hadapannya. Baekhyun paling benci dengan gambar yang diambil secara tiba-tiba, itu membuat wajahnya terlihat aneh dan buruk rupa. Lagi pula jika Chanyeol ingin menyimpan gambarnya, seharusnya laki-laki itu memberi aba-aba agar Baakhyun bisa memberikan pose terimutnya untuk kekasih yang paling ia cintai itu.
"Tidak, tidak. Ini lucu, sayang hahaha." Chanyeol tertawa sambil mengipas-ngipaskan kertas polaroid di tangannya. Dengan kesal Baekhyun mencoba meraih kertas tersebut, tetapi Chanyeol malah mengangkat tangannya tingigi-tinggi karena ia tahu tubuh mungil Baekhyun tidak akan bisa meraih kertas tersebut.
"Chan...yeol sunbae?!"
Perebutan kertas polaroid antara sepasang kekasih itu harus terinterupsi oleh sebuah suara berat yang menggema dari ujung lorong. Baekhyun mengikuti suara yang memanggil nama kekasihnya itu. Terlihat sesosok laki-laki yang tingginya hampir menyaingi Chanyeol berlari dengan semangat menghampiri Chanyeol. Laki-laki itu membawa tas olahraga di bahu kirinya dan kantung berisi bola basket di bahu kanannya.
"Zelo? Sedang apa kau disini? Apa ada pertandingan dalam waktu dekat ini?" tanya Chanyeol pada laki-laki yang diketahui bernama Zelo itu. Zelo membungkuk sedikit dan memukul bahu Chanyeol sebagai salam antar laki-laki.
"Ah kebetulan hari ini tugasku membersihkan ruangan dan lapangan basket, sunbae.. astaga ini benar-benar dirimu? M-maksudku.. lihat penampilanmu sunbae! Oh apa kau sekarang memakai kacamata? Siapa yang kau bawa itu, sunbae?" ucap Zelo panjang kali lebar melihat penampilan Chanyeol yang berubah 180 derajat dari terakhir mereka bertemu. Zelo benar-benar tidak percaya dan sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Chanyeol.
Menyadari arah pandangan Zelo, Chanyeol tertawa pelan dan merangkul bahu Baekhyun. "Ini Baekhyun, kekasihku." Ucap Chanyeol dengan nada bangga. Baekhyun yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka hanya bisa membungkuk dengan canggung sambil menutupi bagian dada dan selangkangannya –karena piyama tipisnya.
"Senang bertemu denganmu, Baekhyun-ssi. Sunbae, kau harus bercerita pada kami tentang kehidupanmu di sekolahmu yang sekarang! Apa yang membuatmu menjadi seperti ini? Apa kau masih bermain basket?"
Chanyeol tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Zelo. Laki-laki berkacamata itu mengatakan jika ada waktu, ia akan berkumpul dengan klub basketnya dan menceritakan semuanya. Chanyeol mohon pamit pada Zelo karena harus mengajak Baekhyun ke tempat lain yang sudah ia rencanakan.
Chanyeol mengajak Baekhyun menyusuri anak tangga menuju lantai 2, tempat koridor kelas 3 berada. Jantung Chanyeol mulai berdetak kencang karena satu persatu kenangan masa lalunya muncul di dalam otaknya. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada Baekhyun, bermaksud menguatkan hatinya.
Tiba-tiba pandangan mata Chanyeol jatuh pada kelas dengan pintu bertuliskan 'kelas 3A'. Ia menggigit bibirnya dan mencoba mengintip dari kaca jendela. Hatinya mendadak ngilu melihat bagaimana bayangan Sohyun sedang duduk di kursi paling depan sedang memperhatikan materi-materi di papan tulis. Kemudian bayangan itu berganti dengan dirinya yang menghampiri Sohyun di jam istirahat. Saat itu kelas bergemuruh karena kedatangan si 'berandalan' Chanyeol untuk menemui kekasihnya yang sangat pendiam.
"Park Yoda! Semangat! Jangan melukai dirimu sendiri, bermainlah dengan maksimal!"
"Chanyeollie~"
"Kenapa kau tidak pernah mau belajar, Park Chanyeol? Kau harus memperbaiki nilai-nilaimu!"
Baekhyun sedikit meringis merasakan cengkraman tangan Chanyeol semakin erat. Laki-laki mungil itu berjinjit untuk mengintip melalui jendela seperti yang dilakukan Chanyeol, namun ia tidak mendapati apapun selain kursi-kursi kosong di dalam sana.
"A.. ayo kita pergi!" kata Chanyeol tergagap dan dengan penuh paksaan menarik tangan Baekhyun. Mereka menuruni anak tangga dengan terburu-buru hingga tubuh mungil Baekhyun terseok-seok di belakang laki-laki jangkung itu.
Baekhyun sama sekali tidak mengerti dengan perubahan mood Chanyeol dan apa yang sedang terjadi. Ia benar-benar bingung dengan raut wajah Chanyeol yang mendadak masam dan mulai berkeringat padahal tidak ada apapun yang terjadi di dalam kelas itu
BLAMMM
"Ya! Park Chanyeol! Apa yang kau pikirkan? Kenapa kita harus pergi secepat ini?! Aishh.."
Baekhyun mengeluarkan seluruh tenaganya untuk membombardir gendang telinga Chanyeol atas seluruh perbuatannya. Laki-laki mungil itu kini mengelus dan meniup-niup bekas cengkraman tangan Chanyeol di pergelangan tangannya. Namun Chanyeol tidak menjawabnya, laki-laki itu malah mengacak-ngacak rambutnya frutrasi.
"Y-yeol..."
Chanyeol menginjak pedal gas dengan tiba-tiba, membuat tubuh mungil Baekhyun tersentak. Baekhyun tahu ada yang salah dari diri Chanyeol, untuk itu ia hanya bisa membungkam bibirnya.
Chanyeol merasa seperti seorang pecundang yang mengingkari janjinya sendiri. Bukankah semalam ia sudah bertekad untuk melupakan sosok Sohyun dan hanya fokus pada Baekhyun seorang? Mengapa hanya karena bayang-bayang Sohyun ia menjadi ketakutan dan hampir mengacaukan rencananya?
Selama di perjalanan, tak ada yang berani mengangkat suara dan menciptakan suasana canggung yang sangat dibenci Baekhyun. Baekhyun hanya bisa memasrahkan semua pada Chanyeol. Ia membiarkan Chanyeol yang menguasai hari jadi mereka.
Beberapa lama kemudian, mobil Chanyeol berhenti di depan sebuah cafe di tengah kota Seoul. Baekhyun memandang keluar jendela dengan mata yang berbinar melihat cafe dengan beberapa kue dan pastry yang terpampang di etalase mereka. Perut Baekhyun benar-benar lapar karena Chanyeol hanya memberikannya 2 bungkus roti selama perjalanan. Baekhyun sungguh beruntung karena Chanyeol seakan bisa membaca pikiran nya hari ini.
"Baek, maafkan aku.. aku tidak bermaksud membawamu pergi secepat itu. T-tapi.. aishh.. kepalaku mulai berputar karena mengingat sesuatu yang seharusnya aku lupakan."
Baekhyun membeku mendengar penuturan Chanyeol. Ia mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil dan menatap Chanyeol penuh tanya.
'Mengingat sesuatu yang seharusnya aku lupakan'
Baekhyun mengerti kemana arah pembicaraan Chanyeol. Hatinya bagai tertohok menyadari Chanyeol tiba-tiba mengingat perempuan itu dan perempuan itu masih menguasai hampir seluruh pikiran Chanyeol. Baekhyun ingin memukul kepala Chanyeol dan berteriak memaki laki-laki bertelinga lebar itu, betapa lemahnya Chanyeol hanya karena perempuan itu, dan apakah ia akan mengingkari janjinya yang ia ucapkan pada Baekhyun. Namun hati kecil Baekhyun mengalahkan kerja otak Baekhyun.
"Sudahlah lupakan saja, Yeol. Ayo kita turun." Ucap Baekhyun sambil menghela napasnya berat. Pada akhirnya ia tidak akan pernah bisa marah dan hanya bisa memaafkan Chanyeol. Baekhyun tidak ingin berlarut-larut dan merusak suasana hari jadi mereka.
Kemudian dengan sigap Chanyeol turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Baekhyun. Baekhyun dengan penuh semangat sedikit berlari menuju pintu cafe yang sedari tadi menggodanya untuk mengisi perut keroncongannya.
"Kau mau kemana sayang? Di sebelah sini!"
Baekhyun menghentikan langkahnya yang berjarak bebrapa sentimeter dari pintu. Ia mengernyit melihat Chanyeol menunjuk-nunjuk sebuah gang sempit di depannya. Apa yang Chanyeol pikirkan? Apakah Chanyeol ingin mengorek-ngorek tempat sampah untuk mencari makan? Batin Baekhyun kesal.
Melihat Baekhyun yang terpaku di tempat, Chanyeol segera menarik tangan mungil kekasihnya. Baekhyun benar-benar benci dengan Chanyeol yang selalu menarik-narik tubuh mungilnya tanpa perasaan. Lagi pula untuk apa mengajaknya memasukki sebuah gang sempit nan gelap yang dipenuhi sampah seperti ini? Apakah Chanyeol benar-benar ingin menculiknya?!
Setelah cukup jauh menelusuri gang sempit itu, Chanyeol tersenyum dan menarik tangan Baekhyun untuk berjalan lebih cepat lagi. Baekhyun yang sudah kewalahan hanya bisa pasrah dan menggerakkan kakinya tanpa sadar.
Baekhyun mengernyit saat melihat sebuah bangunan berdinding batu bata berdiri di ujung gang sempit itu. Chanyeol dengan mata berbinar mendekati pintu berbahan dasar kayu yang sudah melapuk termakan rayap. Dari luar Baekhyun dapat mendengar suara dentuman alat musik, tetapi Baekhyun masih belum mengerti tempat apa yang ada di hadapannya saat ini.
Kriiieettt..
Chanyeol mendorong pintu kayu berukuran besar itu dengan sekuat tenaga. Bangunan terebut nampak seperti bangunan yang sudah ditinggal selama bertahun-tahun bagi Baekhyun. Baekhyun mengeratkan genggamannya pada lengan Chanyeol, ia takut akan ada sesuatu yang menyeramkan akan keluar dari dalam bangunan itu.
"Minhyuk?"
Chanyeol mengedarkan pandangannya di ruangan yang gelap itu. Ia meraba-raba dinding di sekitar untuk mencari sebuah saklar lampu. Sedetik kemudian, cahaya menerangi seluruh penjuru ruangan di dalam bangunan tua itu.
"Selamat datang di studio musikku, sayang."
Rahang Baekhyun nyaris terlepas melihat keadaan di sekelilingnya. Kedua mata sipitnya mengerjap-ngerjap beradaptasi dengan cahaya yang masuk ke dalam iris matanya. Chanyeol berdiri di hadapannya dengan merentangkan tangannya sebagai ucapan selamat datang. Di belakang Chanyeol terdapat berbagai macam alat musik dengan beberapa laki-laki yang sedang sibuk menyetel alat-alat yang mereka pegang.
Studio musik
Ah! Baekhyun mengerti sekarang. Baekhyun pernah melihat piala kemenangan Chanyeol sebagai drummer favorit di dalam kamar kekasihnya itu. Jadi, apakah ini tempat yang selalu Chanyeol gunakan untuk berlatih dan menghabiskan waktunya?
Berbagai pertanyaan memenuhi kepala Baekhyun seperti mengapa Chanyeol yang kaya raya harus berlatih di sebuah tempat yang bahkan terlihat seperti gudang dari pada studio musik? Padahal ia yakin Chanyeol dapat menyewa atau bahkan membangun studio sendiri.
"Y-ya, Park Chanyeol! Kau tidak mengatakan akan ada banyak orang disini!" ujar Baekhyun kesal melihat beberapa laki-laki –yang merupakan teman satu band Chanyeol di hadapannya. Dngan canggung ia menutupi dada dan bagian selangkangannya karena piyama pembawa sial itu. Namun Chanyeol hanya mengelus rambut keunguan Baekhyun tanpa menjawab satu patah kata pun.
Tanpa Baekhyun sadari, Chanyeol berjalan mendahuluinya dan mengambil sebuah gitar akustik berwarna hitam. Laki-laki berkacamata itu duduk di sebuah kursi kayu, lalu menyalakan sebuah mikrofon yang sudah dipersiapkan di hadapannya. Chanyeol tersenyum memandangi Baekhyun dari kejauhan, bagaimana Baekhyun terlihat sangat menggemaskan dengan piyama dan tatapan kebingungan yang terpancar di kedua matanya.
Tiba-tiba seseorang mengganti penerangan di ruang studio itu menjadi temaram cahaya lilin. Baekhyun terkejut saat petikan senar gitar mulai memasukki indera pendengarannya. Lutut laki-laki mungil itu melemas menyadari bahwa Chanyeol telah mempersiapkan kejutan kecil untuk dirinya. Walaupun Baekhyun sempat kesal dan enggan berbicara dengan Chanyeol, namun ia tidak menyangka jika Chanyeol mempersiapkan rencananya kurang dari 24 jam.
Terlebih lagi Baekhyun tidak pernah sekali pun melihat Chanyeol bermain musik. Melihat Chanyeol memegang gitar saja tidak pernah, karena itu Baekhyun masih belum percaya bahwa kekasihnya itu merupakan anggota sebuah grup band.
"Aku ingin membawakan sebuah lagu untukmu." kata Chanyeol dengan yang suara sedikit gemetar.
Found myself dreaming
In silver and gold
Like a scene from a movie
That every broken heart knows.
"Sebagai permintaan maafku padamu karena aku sudah membuatmu mendengar suara-suara yang tidak enak. Ya.. kau tahu, desahanku tadi.. pasti kau mendengarnya."
"Baekhyun.."
"Jangan berikan hatimu untuk siapa-siapa"
We were walking on moonlight
And you'll pull me close
Spit second and you'd disseaperad
And then i was all alone.
"Aku menyukaimu.."
"Aku tahu kau belum mempunyai perasaan itu. Tapi aku bersumpah, Baekhyun, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Mau kah kau menjadi kekasihku? Maafkan aku, tapi aku benar-benar menginginkanmu."
Woke up in tears
With you by my side
Breath of relief, and I realised
No, we're not promised tomorrow.
"Ya.. aku mau, Chanyeol"
"Terima kasih, Baekhyun-ah. Aku berjanji tidak akan membuatmu menyesal dengan keputusanmu"
So I'm gonna love you
Like I'm gonna lose you
I'm gonna hold you
Like I'm saying goodbye
"Aku benar-benar mencintaimu.."
"Biar aku tunjukkan bahwa kau benar-benar satu-satunya milikku dan yang paling aku cintai"
Wherever we're standing, I won't take you for granted
Cause we'll never know when,
When we'll run out of time
"Katakan kau mencintaiku."
In the blink of an eye
Just a whisper of smoke
You could lose everything, the truth is you never know
"Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu siapa seseorang itu, yang terpenting aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kau harus percaya padaku, aku bukan seseorang itu.. walaupun aku tahu pasti jika aku tidak ada apa-apanya dibanding cinta pertamamu itu.."
So I'll kiss you longer baby
Any get chance that I get
And I'll make the most of the minutes
And love with no regrets.
"Jangan menangis, sayang. Semua yang aku inginkan ada padamu.. kau membuatku nyaman, kau membuatku merasakan jatuh cinta lagi."
Let's take our time
To say what we want
Use what we got, before it's all gone
Cause no, we're not promised tomorrow
"Bukankah kau bilang kau merindukanku? Sekarang aku sudah berada disini, untukmu..."
"Kau yang membuatku mengatakan 'aku mencintaimu'.. ya aku mencintaimu! Jadi ku mohon, lupakan perempuan itu.. kau membuat dadaku sakit setiap malam.. kau membuat tidurku tak nyenyak.."
So I'm gonna love you
Like I'm gonna lose you
I'm gonna hold you
Like I'm saying goodbye
"Byun Baekhyun.. maafkan atas kesalahanku selama ini. Aku tahu kau telah mengorbankan perasaanmu demi mempertahankan hubungan kita. Aku.. aku tidak tahu harus berkata apa, tapi bisakah kita mengulang semuanya dari awal? Aku ingin membayar semuanya, Baek. Aku tidak akan membuatmu sakit.. karena aku sadar, melihatmu terluka benar-benar membunuhku perlahan."
Baekhyun terpaku dengan air mata yang mulai menetes di kedua pipinya. Ia menutup mulutnya dengan punggung tangan untuk menahan isakkan nya. Bersamaan dengan suara berat Chanyeol yang melantunkan lagu kesukaan Baekhyun, seluruh kenangannya bersama Chanyeol muncul memenuhi pikirannya hingga ia nyaris tak bisa bernapas. Dadanya terasa sesak, hal kecil seperti ini membuat Baekhyun menjadi laki-laki yang paling lemah di dunia.
Baekhyun benar-benar tersihir pemandangan di depannya. Chanyeol berkali-kali lipat lebih tampan saat memangku gitarnya dan bernyanyi dengan suara rendahnya. Ia seperti lupa bahwa kekasihnya adalah seorang laki-laki culun nan jenius di sekolah. Chanyeol memancarkan aura tersendiri yang tidak bisa Baekhyun jabarkan dengan kata-kata. Ia terlampau syok bercampur rasa kagum. Pantas saja Chanyeol memenangkan banyak penghargaan, pikir Baekhyun. Baekhyun tidak bisa membayangkan jika seluruh siswa di sekolah melihat penampilan Chanyeol yang sesungguhnya. Baekhyun pasti akan bunuh diri karena cemburu buta.
Melihat Baekhyun yang diam mematung, Chanyeol bangkit dan meletakkan gitar hitamnya. Laki-laki itu berjalan mendekati Baekhyun yang tidak henti-hentinya menatap ke arahnya.
Cklekk..
"Y-yak! Hiks.. Park Chanyeol!"
Chanyeol menahan tawanya saat figur Baekhyun yang sedang menangis semakin lama semakin terlihat jelas di kertas polaroidnya. Baekhyun sangat ingin menendang penis Chanyeol karena selalu mengambil gambar tanpa memberi aba-aba. Apalagi ketika ia sedang menangis dengan wajah yang memerah dan membengkak persis seperti seekor babi. Benar-benar tidak ada bagus-bagusnya!
Walaupun kesal, Baekhyun melangkahkan kakinya dan melingkarkan kedua lengannya di pinggang Chanyeol dengan erat. Ia menenggelamkan wajanya pada dada bidang Chanyeol.
"J.. jangan pergi.. hiks.. Park.. ak-aku mau.."
Chanyeol terkekeh pelan dan mengelus rambut keunguan itu lembut. Baekhyun benar-benar seperti seorang bocah di pelukannya, ia terisak dan menggeleng-geleng, bahkan tangannya meremas jaket yang dikenakan Chanyeol agar Chanyeol tidak beranjak dari sisinya.
"Kekasihmu sangat menggemaskan, Yeol! Apakah dia adik kelasmu?" celetuk Minhyuk yang sedang memainkan stik drum di tangannya.
"Huwaaaaaa!"
Baekhyun memekik mendengar pertanyaan yang dllontarkan Minhyuk. Pasti ini karena ukuran badannya yang hanya setinggi dada Chanyeol dan baju piyama bodohnya. Chanyeol menempelkan telunjuknya di bibir, mengisyaratkan sahabatnya itu untuk diam. Bisa-bisa Baekhyun marah dan mengancam akan pulang ke rumah.
Chanyeol mengusap-ngusap punggung sempit Baekhyun seperti seorang ibu menenangkan anaknya yang sedang menangis. Sesekali ia menciumi rambut Baekhyun yang beraroma buah strawberry.
Setelah tangisan Baekhyun mereda, Chanyeol memutuskan untuk pamit pada semua sahabat yang sudah bersedia membantunya menyiapkan kejutan kecil-kecilan untuk Baekhyun. Untung saja para sahabatnya itu menyanggupi dan dengan senang hati mengubah set studio mereka menjadi panggung sederhana.
Entah apa yang merasukki Chanyeol hingga ia bisa bernyanyi di depan kekasihnya seperti itu. Walaupun suara Chanyeol tidak sumbang, tetapi menyanyi bukanlah kemampuan utama nya. Terlebih lagi ia menyanyikan lagu berbahasa inggris. Chanyeol tahu lagu itu adalah lagu kesukaan Baekhyun karena laki-laki mungil itu akhir-akhir ini mengirimkan pesan suara berisi suara nya yang sedang bernyanyi lagu tersebut. Nyanyian Baekhyun saat malam hari sangat menentramkan hatinya dan membuat tidurnya nyenyak.
Langit berubah menjadi gelap, matahari telah bersembunyi untuk menyinari bumi di bagian lain. Chanyeol menghela napasnya mantap dan menginjak pedal gas mobilnya kencang agar dapat segera sampai ke tempat tujuan terakhir. Chanyeol melirik ke arah kekasihnya, rupanya Baekhyun sedang menggosok-gosokkan telapak tangan di lengannya tanda ia sedikit kedinginan. Pantas saja sebab piyama yang ia pakai terlalu tipis untuk menahan suhu dingin dari pendingin mobil Chanyeol.
"Yeol, apa masih ada tempat yang akan kita kunjungi? Ini sudah malam." Tanya Baekhyun dengan suara pelan takut menyinggung kekasihnya. Chanyeol hanya mengangguk dan tersenyum tanpa menjawab satu patah kata pun.
Tidak lama kemudian, mobil Chanyeol memasukki sebuah kompleks perumahan yang Baekhyun tahu merupakan jalan menuju rumah kekasihnya. Baekhyun melirik ke arah Chanyeol. Apa Chanyeol ingin mengajaknya ke rumah? Atau Chanyeol hanya ingin mengambil suatu barang yang tertinggal?
Namun semua perkiraan Baekhyun salah saat mobil Chanyeol terus melaju melewati rumah Chanyeol menuju sebuah lapangan basket yang berada di dalam kompleks tersebut. Setelah Chanyeol memarkirkan mobilnya, ia mengambil sebuah bungkusan dari jok belakang mobilnya. Baekhyun yang tidak mengerti maksud Chanyeol hanya bisa membuka pintu mobil dan berjalan meninggalkan Chanyeol menuju tengah lapangan.
Lapangan basket
Ddangg.. ddangg.. ddangg..
"Apa yang kau lak- omo.."
Baekhyun tercekat. Bagaikan adegan 'slow-motion' di film yang ia lihat, Chanyeol berjalan menghampiri Baekhyun sambil mendribble sebuah bola basket di tangannya. Baekhyun tidak tahu kapan Chanyeol menanggalkan jaket nya dan menyisakan kaus tanpa lengan yang melekat sempurna di tubuhnya. Belum lagi sepatu basket yang menghiasi kaki panjangnya, benar-benar membuat Chanyeol terlihat seperti seorang atlet.
"Tanganku kaku akhir-akhir ini, ku pikir sudah lama sekali aku tidak bermain basket." Ujar Chanyeol enteng sambil mengeluarkan senyum mautnya. Chanyeol mengelilingi Baekhyun yang masih terpaku di tempat dengan tangan yang terus memantul-mantulkan bola tersebut ke tanah.
Baekhyun benar-benar tidak bisa menjelaskan apa yang ada dihadapannya. Sosok di depannya bukan lah Park Chanyeol yang ia kenal. Chanyeol di depannya terlalu menawan dan bersinar bagi Baekhyun. Hari ini Chanyeol memberikan hal-hal yang tidak pernah Baekhyun bayangkan sebelumnya.
Pertama, ia mengajak Baekhyun mengunjungi sekolahnya. Membuat Baekhyun tenggelam bersama jejak kenangan masa lalu Chanyeol di sekolah tersebut. Saat Baekhyun berjalan melewati koridor loker, ia dapat melihat foto Chanyeol yang berjejer dengan siswa lain di sebuah papan yang bertuliskan 'Our MVP'. Chanyeol memakai seragam basketnya dengan rambut yang tidak beraturan khas anak berandalan.
Kedua, studio musik itu. Chanyeol seolah menghipnotis Baekhyun dengan penampilannya. Seakan Chanyeol menunjukan siapa dirinya yang sebenarnya pada Baekhyun. Rasanya Baekhyun ingin berteriak pada dunia bahwa inilah kekasihnya! Kekasihnya yang sangat bertalenta dan tampan!
Terakhir, lapangan basket ini. Apa yang ingin Chanyeol lakukan dengan bola basket itu?
BRAKKK
Baekhyun tersadar dari lamunannya saat bola yang Chanyeol lemparkan menghantam papan ring basket, kemudian bola tersebut jatuh melewati ring dengan sempurna. Chanyeol berlari mengambil bola basket kesayangannya dan berteriak pada Baekhyun.
"AYO KITA BERMAIN, SAYANG!"
"A.. aku tidak bisa bermain basket, Yeol." Kata Baekhyun terbata-bata. Baekhyun tidak tahu harus melakukan apa, ia tidak pernah memainkan bola itu sebelumnya. Katakan saja ia tidak tertarik dengan olahraga yang berhubungan dengan bola. Ia hanya bisa memandangi Chanyeol yang sedari tadi berlari mengelilinginya dann melompat untuk melemparkan bola tersebut ke dalam ring.
"Untukmu, pakailah!" tiba-tiba Chanyeol mengeluarkan sebuah kain berwarna merah dari dalam tasnya. Ia menghampiri Baekhyun dan membentangkan kain itu di wajah Baekhyun. Baekhyun terhenyak menyadari apa yang ada di tangan Chanyeol saat ini.
Chan Yeol P.
61
Seragam basket tanpa lengan kebanggaan Chanyeol dengan nomor punggung 61, angka keberuntungan Chanyeol. Tangan Baekhyun terangkat untuk menyentuh seragam tersebut dengan gemetar. Dadanya sesak melihat raut bangga terpatri di wajah tampan Chanyeol. Chanyeol ingin menunjukkannya pada Baekhyun, ia ingin mengulang kenangan membanggakan menjadi atlet basket sekolah bersama Baekhyun. Baekhyun ingin memeluk Chanyeol, mengatakan bahwa Chanyeol adalah laki-laki yang sangat hebat dan Baekhyun sangat beruntung memiliki seorang Park Chanyeol.
Dengan gerakan cepat Baekhyun memakai seragam tersebut. Chanyeol terkekeh melihat tubuh Baekhyun yang 'tenggelam' di dalam seragam nya. Seragam itu berukuran terlalu besar untuk Baekhyun, seragam itu lebih mirip gaun mini jika dikenakan Baekhyun.
"Baek, lihat kesini!"
Cklek..
Ini pertama kalinya Baekhyun melakukan sebuah pose imut untuk kamera polaroid Chanyeol. Kali ini tidak ada rengekan dari laki-laki mungil itu karena Chanyeol telah memberi aba-aba. Baekhyun mengecup pipi Chanyeol setelah melihat betapa menggemaskan dirinya dalam balutan seragam kebesaran milik Chanyeol.
Kemudian Chanyeol menyimpan kembali kameranya di dalam tas dan meninggalkannya, kembali asyik dengan permainannya sendiri. Suara decitan sepatu basket Chanyeol dengan tanah menggema bagaikan suara alunan musik bagi Baekhyun. Entah mengapa, semakin lama Baekhyun semakin tenggelam dalam permainan basket Chanyeol. Walaupun ia tidak mengerti teknik apapun dalam olahraga basket, intinya Chanyeol benar-benar handal dan nampak profesional.
Baekhyun menyukai suara pantulan bola basket yang memenuhi telinganya. Bagaimana keringat membasahi seluruh tubuh Chanyeol, membuat tubuh jangkung kekasihnya terlihat mengkilat di bawah temaram cahaya bulan. Bagaimana deru napas Chanyeol ketika berlari menggiring bola dan senyumannya yang mengembang ketika berhasil memasukkan bola ke dalam ring dengan sempurna.
Pipi Baekhyun memanas saat Chanyeol berjalan menghampirinya. Ia mendadak canggung dan salah tingkah seperti perempuan ketika Chanyeol berdiri dengan kedua tangan diletakkan di pinggang. Dada Chanyeol naik turun karena berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya, pandangan matanya tidak lepas dari figur mungil Baekhyun.
"Apa kau mengerti maksud rencanaku untuk mengajakmu pergi ke tempat-tempat tadi, Baek?"
"Emm.. sedikit, masih samar-samar." Kata Baekhyun ragu sambil memainkan ujung seragam basket Chanyeol. Mata nya bergerak-gerak kesana kemari enggan menatap ke arah Chanyeol. Baekhyun tidak bisa melihat Chanyeol dengan jarak sedekat ini. Chanyeol terlalu seksi dan Baekhyun takut penis kecilnya akan terangsang saat berdekatan dengan kekasihnya.
"Kau tahu, semua tempat tadi adalah bagian dari hidupku. Tidak ada satupun orang di sekolah yang tahu kecuali kau, Baekhyun, kekasihku. Aku hanya ingin terbuka padamu.. ini aku yang sebenarnya."
"Bukan berarti aku memalsukan identitasku di sekolah, aku hanya ingin berubah lebih baik. Semua ini hanya membuatku teringat dengan kehidupanku yang dulu, hanya mengingatkanku dengan.. perempuan itu Aku yakin jika aku melakukan semua hal itu lagi bersamamu, mimpi burukku akan menguap dan aku bisa kembali pada diriku yang sebenarnya."
Baekhyun mengangguk sambil menggigit bibirnya. Mendengar kata 'perempuan itu', hati Baekhyun mendadak ngilu, tetapi ia mencoba tersenyum dan membiarkan Chanyeol berbicara.
"Kau sudah melihat sisi lainku, bukan? Hahaha apakah aku terlihat tampan? Apa kau semakin mencintaiku? Apakah aku harus berpenampilan seperti ini ke sekolah?" tanya Chanyeol yang disambut pukulan kecil dari Baekhyun di dadanya. Baekhyun menggeleng cepat, mengatakan bahwa Baekhyun menyukai penampilan Chanyeol dengan kacamata besarnya. Ia tidak ingin ada orang lain yang melihat ketampanan Chanyeol, ia tidak ingin perhatian orang-orang tertuju pada Chanyeolnya. Chanyeol hanya miliknya seorang.
Chanyeol menarik dagu Baekhyun dan menatap kedua mata sipit Baekhyun lekat-lekat. Chanyeol semakin mempersempit jarak di antara mereka dengan menarik pinggang Baekhyun merapat ke tubuhnya.
"Byun Baekhyun.. sekarang kau adalah milikku. Kau juga sudah menggenggam masa laluku dan aku yakin kau akan menjadi masa depanku."
Baekhyun mengangguk dan Chanyeol menjemput bibir mungil itu dengan bibirnya. Melumatnya dengan pelan hingga Baekhyun hilang akal. Tangan kekarnya melingkar di pinggang Baekhyun yang ramping. Chanyeol sangat merindukan bibir itu. Bibir yang membuatnya kehabisan oksigen namun merupakan kebutuhan hidupnya.
Baekhyun memejamkan matanya sambil berjinjit agar bisa menyejajarkan tingginya dengan Chanyeol. Ia mengalungkan tangannya di leher Chanyeol, menarik tengkuk Chanyeol agar semakin memperdalam ciuman mereka.
Chanyeol memiringkan kepalanya, mencari posisi terbaik untuk menikmati bibir Baekhyun yang belum terjamah oleh bibirnya. Sesekali lidahnya menjilati bibir mungil itu, kemudian dengan pasrah Baekhyun membuka mulutnya memberi akses agar lidah Chanyeol bisa memasukki rongga mulutnya. Tangan Baekhyun turun meremas otot biceps Chanyeol yang terbentuk sempurna hingga menciptakan aliran listrik yang menjalar di tubuh Chanyeol.
"Mmmh.." desahan Baekhyun lolos begitu Chanyeol menyelipkan tangan besarnya ke dalam seragam basket berlapis piyama yang dikenakan Baekhyun. Ia butuh untuk menyentuh kulit Baekhyun. Ia rindu bagaimana suhu tubuhnya meningkat hanya dengan menyentuh kulit mulus itu.
Ciuman mereka semakin memanas. Keduanya tengah sibuk menyentuh bagian tubuh yang mereka rindukan tanpa melepaskan kontak bibir mereka. Mereka tidak bisa menahannya lagi, Chanyeol dan Baekhyun benar-benar saling membutuhkan. Mereka harus melampiaskan perasaan mereka yang telah memuncak dengan cara tersendiri.
"K.. kita lanjutkan di rumahku."
.
.
.
.
to be continued
Apa hubungan mereka akan kembali seperti semula? Bagaimana nasib Sohyun ke depannya?
ENA ENA IS NUMBER 1, ENA ENA IS THEIR PRIORITY/?
HAHAHA ADUH APA INI FAILED BANGET :'''( saya nemu ide kado annivnya pcy pas lg bengong dan entah kenapa kalo saya yg di posisi Baek pasti udah nangis terharu :'''') makasih sekali lagi yang udah ngikutin ff abal ini sampe sejauh ini :'''))))) saya ga bisa ngungkapin rasa terima kasih saya pake kata2 :'')
! bakal ada orang baru muncul di chapter selanjutnya~
Oiya yang suka couple exo lain, terutama hunhan shipper yukkk baca ff hunhan baru saya : Something's Going on Us (Promosi wkwkwk) :333
DON'T FORGET TO REVIEW, FOLLOW, DAN FAV YA :''3
