Caption : My Geeky Boy Chapter 11

Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Kim Sohyun, Xi Luhan, Oh Sehun, Kim Yerim (RV), and other cast

Genre : Drama, Romance, School life, Smut

Rating : M

Playing : Crush feat Punch - Sleepless Night

Forward :

SIAPA YANG RINDU CHANBAEKKKK? MANA SUARANYAAAA? WKWKWK

Maafkan saya baru update skrg terkendala dengan jadwal irl saya :((( saya rasa ff ini makin aneh tapi saya suka (?) ff ini makin panjang 6000an words, jadi jangan muntah ya kkkkk duh padahal saya kemaren ga bermaksud bikin enaena tapi kalian pada ngiranya itu enaena(?) so... baca aja :''')))

Okay... HAPPY READING^^


'I am in love with you, can't you see my heart?
Please don't go far away because my tears are about to fall

I am waiting for you
I'm at the same spot, at the same place
Just like how spring comes after the winter

Like finding shelter when it rains
Like resting when things get hard
I would always protect you from behind'

.

.

.

.

.

BRAKKK

"Ya.. Park Chan –mmmph.."

Kata-kata Baekhyun terhenti saat Chanyeol membungkam kedua bibir mungilnya dengan tidak sabar. Chanyeol benar-benar tidak bisa menahannya lagi, bahkan ia harus menutup pintu rumahnya dengan cara menendang karena kedua tangannya sibuk melucuti pakaian kekasihnya itu.

Baekhyun sedikit meringis saat kepalanya terantuk pintu kayu di belakangnya. Chanyeol mencium, bukan, memakan bibirnya dengan sangat lapar seolah-olah tidak ada hari esok untuk dapat menikmati bibir mungil itu. Bibir Chanyeol terus mengemut bibir bawah dan atas Baekhyun bergantian, tak lupa dengan lidahnya yang menerobos masuk ke dalam rongga mulut Baekhyun yang basah dan hangat.

Baekhyun ingin menghentikan perbuatan Chanyeol dan meminta laki-laki tinggi itu untuk bermain lembut, romantis, dan pelan. Namun Baekhyun bisa melihat dari sudut matanya bahwa wajah tampan Chanyeol sudah memerah sepenuhnya, membuat Chanyeol berubah menjadi 'monster seks'.

Namun apapun cara yang digunakan Chanyeol, Baekhyun selalu menyukai bagaimana penis Chanyeol menusuk dan menghentak-hentakkan tubuhnya kasar. Atau bagaimana tubuh atas Chanyeol bekerja berkebalikan dari tubuh bagian bawahnya, menciumi lembut wajah Baekhyun dan mengelus-elus tulang pinggul Baekhyun yang menonjol agar ia menjadi rileks. Entah itu 'Park Chanyeol yang gentleman' atau ' Park Chanyeol si monster seks', Baekhyun tetap menyukainya.

"Nghh.. yeol.." desahan tak henti-hentinya keluar dari bibir mungil Baekhyun yang terbuka. Tangan besar Chanyeol terus menggerayangi tubuh atasnya yang terbuka, memainkan ujung nipple Baekhyun yang mulai mengeras dengan telunjuk panjangnya, menekan-nekan benda itu hingga tenggelam ke dalam kulit Baekhyun, hingga membuat serbuan aliran listrik mengalir di dalam pembuluh darahnya.

Chanyeol melingkarkan tangan di pinggang ramping Baekhyun dengan posesif, ia tidak akan membiarkan Baekhyun melakukan apapun selain memuaskan birahinya. Setiap kali Baekhyun mencoba mendorong tubuh Chanyeol untuk sekedar mengambil oksigen, Chanyeol akan mendekapnya lebih erat, malah laki-laki tinggi itu menggendong tubuh mungil Baekhyun. Chanyeol melingkarkan kedua kaki Baekhyun di pinggangnya, tangan kekarnya menahan bokong Baekhyun agar tubuh mungil itu tidak terjatuh.

"B-baekhh.."

Chanyeol menggeram nikmat sambil menubrukkan tubuh Baekhyun ke dinding untuk bersandar. Baekhyun menunduk dan meremas rambut hitam Chanyeol, kedua matanya terpejam menikmati bibir tebal Chanyeol yang sedang menelusuri kulit lehernya. Bulu kuduk Chanyeol meremang bersamaan dengan lidahnya yang menari-nari di permukaan kulit mulus itu.

Tangan Chanyeol pun tidak tinggal diam, diturunkan celana piyama beserta celana dalam kekasih mungilnya itu dengan tergesa-gesa. Kedua pipi pantat Baekhyun terlalu menggoda untuk sekedar disentuh, sehingga Chanyeol tidak dapat menahan gairahnya untuk meremas bongkahan sintal itu.

Jari-jari besar Chanyeol menelusup, menggelitik kulit pinggiran lubang Baekhyun dengan ujung telunjuknya. Laki-laki bermarga Byun itu hanya bisa mengeratkan kedua kakinya di pinggang Chanyeol dengan jari-jari kaki yang mengepal menahan sensasi geli yang sulit digambarkan.

"Y-yeol.. ku mohonhh.." pinta Baekhyun dengan suara parau. Chanyeol benar-benar membuatnya kehilangan akal dengan memasukkan jari telunjuk besarnya ke dalam lubang sempit Baekhyun. Telunjuk besar itu bergerak mengoyak-ngoyak dinding dalam lubang Baekhyun, sesekali menusukkan ujungnya mencari titik yang bisa membuat Baekhyun mengerang kenikmatan.

Bibir mereka kembali bertemu untuk sebuah ciuman penuh nafsu dan saling membutuhkan satu sama lain. Baekhyun butuh pelampiasan dan bibir Chanyeol lah jawabannya. Laki-laki mungil itu terus menghisap bibir tebal Chanyeol sambil menjilati bibir yang terbuka itu. Jari-jari lentik Baekhyun menyelinap di antara helaian rambut hitam Chanyeol, meremas rambut itu dengan tidak beraturan tanpa menyadari bahwa gerakan jari-jari nya dapat meningkatkan libido Chanyeol.

Chanyeol adalah laki-laki jenius yang memiliki sistem motorik yang sangat bagus, terutama dalam hal bercinta. Seluruh bagian tubuhnya bekerja dalam waktu bersamaan, dan sekarang laki-laki jangkung itu berjalan menuju ruang makan dengan Baekhyun dalam gendongannya tanpa memutuskan kontak bibir mereka. Kedua lengan kekarnya semakin kaku karena harus menopang berat badan Baekhyun, sehingga Chanyeol mendudukkan bokong Baekhyun di atas meja makan.

"Mmmhh.. g-geli.." desah Baekhyun saat Chanyeol mulai menciumi dada mulusnya. Lidah Chanyeol terus menggoda ujung nipple Baekhyun yang mulai menegang. Baekhyun menengadahkan kepalanya, bibirnya terbuka, dan matanya terpejam merasakan bagaimana Chanyeol menggulung-gulung lidahnya di sekitar nipple miliknya dan menggigitnya pelan hingga mengeras di dalam mulut laki-laki tampan itu.

"Akhhhh!"

Baekhyun menjerit, lubangnya seakan-akan terbelah menjadi dua karena Chanyeol menambah dua jari-jari besarnya ke dalam sana. Jari-jari itu mengoyak lubang Baekhyun hingga lubang itu basah dan menimbulkan suara kecipak yang khas di telinga mereka. Padahal Baekhyun tahu bahwa ketiga jari-jari Chanyeol tidak ada apa-apanya dibanding penis besar Chanyeol yang sedang berereksi maksimal.

PRANGGG!

Chanyeol menyingkirkan benda apapun yang berada di atas meja makan dengan beringas. Baekhyun terbelalak mendengar suara pecahan piring dan cangkir yang beradu dengan lantai keramik di bawah mereka. Baekhyun mencoba menatap Chanyeol, meminta penjelasan atas apa yang dilakukan kekasihnya itu. Demi Tuhan, sekarang ruangan itu sangat berantakan dengan pecahan kaca dan sisa-sisa makanan yang mengotori lantai. Namun Chanyeol tak peduli, baginya bercinta dengan kekasihnya adalah prioritas utama, dan ia tak mau repot-repot memindahkan Baekhyun ke dalam kamarnya.

Baekhyun bergidik melihat wajah Chanyeol yang memerah, bahkan rona kemerahan itu juga menjalar ke kulit leher dan telinga Chanyeol. Belum lagi urat-urat di leher Chanyeol yang menonjol dan jakunnya yang terus bergerak naik turun, menunjukkan bahwa laki-laki di hadapannya seperti akan meledak karena menahan nafsu birahinya. Ia tidak dapat menginterupsi apapun yang dilakukan Chanyeol, atau Chanyeol akan menghabisinya hidup-hidup malam ini.

Chanyeol mengeluarkan jari-jarinya, tangan besarnya digunakan untuk menaikkan kedua kaki Baekhyun ke atas meja dan menekuknya. Ia membuka kedua paha Baekhyun lebar-lebar, memperlihatkan lubang Baekhyun yang memerah dan basah karena perbuatannya sendiri. Lubang itu berkerut seakan memanggil-manggil Chanyeol untuk menghujamkan penis kebanggaannya di dalam sana.

"Byun Baekhyun, aku tidak dapat menahannya lagi. Kau… kau begitu menggairahkan.." desis Chanyeol sambil membaringkan badan Baekhyun di atas meja tersebut. Pupil mata Chanyeol meredup memandangi tubuh telanjang Baekhyun yang berkeringat dan dipenuhi rona-rona kemerahan karena ulah bibir nya sendiri. Rasanya ingin menghabisi tubuh kekasihnya malam itu juga, karena ia bersumpah, tubuh Baekhyun terlalu indah dan sensual di saat bersamaan.

Chanyeol membuka kancing dan menurunkan celana jeans ketatnya hingga lutut, mengeluarkan penisnya yang mengacung sempurna dengan cairan putih yang membasahi kepala penis itu. Urat-urat di batang penis Chanyeol mulai timbul, membuat penis Chanyeol berukuran lebih besar dari biasanya. Chanyeol menggigit bibirnya membayangkan dinding lubang Baekhyun yang berkontraksi dan meremas setiap inchi batang penisnya.

"M.. masukanhh.."

Baekhyun merintih bersamaan dengan cengkraman kuku-kuku jari Chanyeol yang menancap di kulit pahanya. Baekhyun semakin melebarkan kedua pahanya dan mengangkat bokongnya agar Chanyeol dapat lebih mudah melihat lubangnya. Chanyeol mengerang saat memasukkan penisnya dengan susah payah ke dalam lubang kemerahan itu. Entah mengapa lubang Baekhyun menjadi lebih sempit padahal Chanyeol sudah memberikan 'pemanasan' pada lubang itu. Cairan kental yang membasahi lubang Baekhyun sama sekali tidak membantu penis Chanyeol untuk melesak masuk sempurna ke dalamnya.

Baekhyun mendesah hebat sambil mengeratkan pegangan pada pinggiran meja. Entah karena penis Chanyeol yang secara ajaib berukuran 'ekstra' dari biasanya, atau gairah mereka yang sudah memuncak, Baekhyun merasakan sakit yang teramat sangat pada bagian bokongnya.

"Fuck your tighthh hole!" umpat Chanyeol setelah penisnya menghujam lubang Baekhyun sepenuhnya. Laki-laki jangkung itu tersengal kewalahan, ia terdiam sejenak sambil memandangi wajah Baekhyun yang sekarang ikut memerah. Chanyeol mencengkram kuat-kuat paha Baekhyun dan mulai memaju-mundurkan pinggulnya dengan tempo pelan.

Tubuh Baekhyun bergetar merasakan bagaimana dinding lubangnya bergesekan dengan kulit penis Chanyeol. Ia benar-benar frustrasi karena Chanyeol yang menggerakkan penisnya dengan tempo pelan, dan itu membuat Baekhyun nyaris naik pitam. Baekhyun ingin menghentakkan pinggulnya secepat yang ia bisa, namun apa daya posisi nya sangat tidak menguntungkan dan Chanyeol lah yang mendominasi kali ini.

"Lebih cepathh.. masukkan penismu lebih dalam, Park! Tunggangi lubangku lebih liarhh!" titah Baekhyun mengeluarkan kata-kata kotornya. Ia memandangi raut wajah Chanyeol yang sangat menggairahkan dengan tatapan sayu. Ia dapat melihat laki-lakinya menggeram dan menggigit bibirnya, sementara kedua alisnya bertemu menahan kenikmatan dari lubang Baekhyun.

Kaki-kaki Chanyeol seperti tak bertulang, kenikmatan itu menjalar dengan sangat cepat ke seluruh tubuhnya. Chanyeol terus menyodokkan ujung penisnya pada titik prostat Baekhyun, menghujani lubang itu dengan tusukan-tusukan yang membuat dinding lubang Baekhyun berkerut mencengkram erat penis Chanyeol.

Hentakkan pinggul Chanyeol yang begitu kasar membuat meja yang Baekhyun tiduri berdecit hebat, bahkan Baekhyun berpikir bahwa kaki-kaki meja itu tidak bisa menopang tubuh Baekhyun dan gerakan liar Chanyeol. Mungkin meja itu akan ambruk beberapa menit kemudian.

Sementara itu, tubuh Baekhyun semakin bergetar. Ada sensasi geli namun mendesak di bagian bawah perutnya. Penis mungilnya yang menegang terasa panas dan semakin berkedut. Jari-jari lentiknya terangkat untuk menggoda tubuhnya sendiri, menambah rangsangan yang tidak bisa Chanyeol berikan kali ini karena laki-laki itu terlampau fokus dengan kegiatannya di bawah sana.

Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri menahan rasa geli yang timbul akibat perbuatannya. Jari-jari lentik itu memilin nipple kemerahannya sendiri, menarik-nariknya gemas sambil meraba-raba tubuh bagian atasnya sendiri.

"Y.. yeol… akkkhhh!" Baekhyun hampir menangis, penisnya memuncratkan sperma yang terbilang banyak, membasahi perutnya dan perut Chanyeol. Sedikit-sedikit cairan itu mulai mengalir melalui selangkangannya dan kedua pahanya.

Chanyeol terus menggerakkan pinggulnya, ditambah kedua tangan Baekhyun yang terulur untuk menekan bokong Chanyeol. Lubang Baekhyun terasa penuh, tanda penis Chanyeol yang berkedut hampir mencapai klimaks. Laki-laki tinggi itu memaju-mundurkan pinggulnya semakin cepat, tidak beraturan, dan kasar.

"Ahhh!"

Chanyeol mencengkram kuat-kuat paha Baekhyun, matanya terpejam, dan menengadahkan kepalanya bersamaan dengan cairan sperma yang memenuhi lubang Baekhyun. Napas Chanyeol memburu, dada bidangnya bergerak naik turun berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya.

Chanyeol menunduk dan mengelus kedua belah bibir Baekhyun yang sedikit membengkak dengan ibu jarinya. Laki-laki berambut keunguan itu dapat melihat kilatan nafsu masih terpancar dari kedua bola mata Chanyeol. Baekhyun tahu nafsu masih menguasai seluruh organ tubuh Chanyeol, yang artinya permainan malam ini belum berakhir begitu saja.

"S.. sayang.." ucap Chanyeol terbata-bata dengan suara rendahnya. Laki-laki berambut hitam itu mengusakkan hidungnya di antara ceruk leher Baekhyun yang beraroma begitu memabukkan. Tangan-tangan besar Chanyeol kembali meraba setiap inchi kulit tubuh Baekhyun yang semakin panas karena suasana intim yang tercipta di antara mereka.

Baekhyun hanya bisa berpasrah saat tangan kekar Chanyeol kembali mengangkat tubuhnya. Secara refleks ia melingkarkan kedua kakinya di pinggang Chanyeol dan memeluk erat-erat leher kekasihnya itu. Setengah penis Chanyeol masih terbenam di dalam lubang Baekhyun karena laki-laki jangkung itu enggan meninggalkan surga dunianya.

Dengan segenap kekuatan dan kecerdikannya, Chanyeol menaiki setiap anak tangga dengan menahan nafsu yang memuncak kembali akibat ulah Baekhyun. Laki-laki mungil itu sedikit terkekeh mendengar geraman Chanyeol saat dirinya mengecupi leher Chanyeol, sedikit memberikan hisapan dan jilatan-jilatan kecil disana. Chanyeol yang benar-benar gerah dengan ulah kekasihnya hanya bisa meremas bokong Baekhyun tanpa ampun, sambil bersusah payah berjalan mencapai kamar tidurnya.

BRAKKKK

Chanyeol menendang pintu kamar nya dengan kasar hingga pintu kayu yang tidak bersalah itu berbenturan dengan dinding di sebelahnya. Baekhyun terperanjat saat Chanyeol membanting tubuhnya ke kasur, melepaskan kontak antara lubang dan penis miliknya.

"Jangan bermain-main denganku, Byun Baekhyun." Ucap Chanyeol dengan suara rendah dan tatapan matanya yang dalam. Bulu kuduk Baekhyun meremang melihat bagaimana aura mengintimidasi Chanyeol mengelilingi tubuhnya hingga ia tidak bisa berkutik sedikit pun.

"Balikkan badanmu!"

Baekhyun mengangguk sedikit takut, lalu membalikkan tubuh mungilnya yang mulai terasa ringkih akibat nafsu kekasihnya itu. Baekhyun mengangkat bokongnya lebih tinggi, menantang Chanyeol untuk menggagahinya lebih liar. Seperti telah bersiap, laki-laki mungil itu menenggelamkan wajahnya pada bantal Chanyeol, meremas kedua sisi bantal itu hingga nyaris tak berbentuk.

Baekhyun menggigit bibir nya merasakan tangan besar Chanyeol mulai menggerayangi bokongnya, mengelusnya dengan gerakkan memutar. Persendian Baekhyun terasa ngilu saat rasa hangat dari telapak tangan Chanyeol menjalar di permukaan kulitnya yang terbuka.

Tangan Chanyeol merembet menuju belahan bokong Baekhyun. Lubang itu masih terus berkedut dan basah karena sperma Chanyeol. Laki-laki jangkung itu menjilat bibirnya sendiri dan mulai menggenggam kembali penis besarnya untuk mengarahkan benda itu ke dalam lubang yang paling menggoda bagi Chanyeol.

"A-arrrhhh –"

BRUKKKKK!

Rintihan Baekhyun terhenti, begitu juga dengan gerakan pinggul Chanyeol. Chanyeol menyadari bahwa suara itu berasal dari lantai dasar, ia pun segera berlari mengambil celana pendek di dalam lemarinya dengan kasar. Baekhyun yang merasa takut hanya bisa membungkus seluruh tubuh telanjangnya dengan selimut milik kekasihnya.

"Aku akan memeriksanya, sayang. Tunggulah disini!" titah Chanyeol yang disambut anggukkan ragu Baekhyun. Baekhyun hanya bisa mengeratkan genggamannya pada selimut Chanyeol, tubuhnya diselimuti rasa takut. Bagaimana jika ada tetangga yang memergokki perbuatan mereka? Atau bahkan orang tua Chanyeol yang marah besar melihat seisi rumah yang berantakan karena perbuatan Chanyeol? Bisa-bisa Baekhyun dikuliti hidup-hidup! Batin Baekhyun penuh tanya.

"Noona?!" pekik Chanyeol melihat sesosok wanita cantik sedang bersusah payah membuka sepatu hak tingginya dengan berbagai macam kantung belanja di tangannya. Rupanya wanita berparas model itu menendang pintu rumah mereka karena terlalu banyak kantung di tangannya.

Sementara wanita cantik yang bernama Yoora itu menengadahkan kepalanya, mengikuti sumber suara yang memanggilnya. Ia memutar bola matanya kesal melihat penampiilan adik laki-lakinya yang sangat 'berbahaya'. Chanyeol menghampiri Yoora hanya dengan boxer yang menempel di tubuhnya, belum lagi penis yang masih mengacung di hadapan Yoora, dan tubuh yang berkeringat.

"Ku pikir kau sudah berhenti, Park Chanyeol. Perempuan mana lagi yang kau bawa kali ini?" ujar Yoora melewati Chanyeol dengan tatapan meneliti. Wanita itu mengendus-endus aroma tubuh Chanyeol yang, hell, dipenuhi bau sperma dan keringat. Wanita itu bergidik dan berjalan masuk meninggalkan kantung-kantung belanja yang tergeletak begitu saja di pintu masuk.

"Bukan perempuan dan dia itu kekasihku, noona."

Chanyeol mengikuti kakak perempuannya itu dengan langkah yang malas. Kakak perempuannya ini kadang protektif padahal Chanyeol adalah laki-laki yang sudah beranjak dewasa. Laki-laki jangkung itu mendadak menghentikan langkahnya, berbenturan dengan punggung Yoora, karena wanita itu pun menghentikan langkahnya. Yoora terperanjat kaget melihat bagaimana keadaan ruang makan mereka yang kini sudah porak poranda bak korban perang dunia ketiga.

"Kau menghancurkan seisi rumah hanya untuk bercinta dengan laki-laki?! Lihat apa yang sudah kau lakukan! Gunakan otakmu itu, bodoh!" pekik Yoora sambil menunjuk wajah tampan Chanyeol. Wanita itu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, mencari sosok kekasih yang dikatakan Chanyeol tadi.

"Ya! Noona! Mau kemana?!"

Chanyeol berteriak mengejar Yoora yang kini tengah menaiki tangga menuju kamar Chanyeol. Chanyeol benar-benar tak habis pikir mengapa kaum hawa selalu mencampuri urusan pribadinya.

Kaki-kaki panjang Chanyeol mencoba menyusul langkah Yoora yang terburu-buru. Chanyeol tahu jika kakak perempuannya itu sedang marah besar karena ulah bodoh Chanyeol, tetapi Chanyeol tidak ingin Yoora menghakimi Baekhyun mungilnya yang tidak bersalah.

"Kau tidak boleh masuk! Ini privasiku!"

"Minggir ku bilang!"

Kedua kakak beradik itu pun saling memperebutkan gagang pintu yang bertengger manis di pintu kamar Chanyeol. Berkali-kali Chanyeol mencoba memeluk tubuh sang kakak, menahan agar wanita itu tidak dapat masuk dan bertemu Baekhyun. Laki-laki jangkung itu juga menggendong Yoora dan menjauhkan tubuh tinggi wanita itu dari jangkauan pintu kamarnya. Ia juga berdoa dalam hati bahwa Baekhyun sudah memakai pakaian yang lengkap di dalam sana. Berkali-kali juga Yoora menendang selangkangan Chanyeol, membuat laki-laki jangkung itu berakhir terjerembap ke lantai dengan penis yang berkedut kesakitan.

"Ya! Laki-laki penggoda, tunjukkan batang hidungmu! Kau mau memanfaatkan adikku, hah? Dasar murahan!" pekik Yoora sambil mendobrak pintu kamar Chanyeol dan menghentakkan kakinya ke lantai setelah berhasil masuk ke kamar sang adik.

Chanyeol hanya bisa mengusap wajahnya kasar sambil berusaha bangkit untuk menenangkan Yoora. Chanyeol dapat melihat dari ujung ruangan, bagaimana kekasih mungilnya itu bersembunyi di bawah selimut miliknya, masih dengan posisi yang sama seperti tadi. Bahkan laki-laki bertubuh mungil itu menutupi seluruh tubuhnya dan meringkuk persis seperti janin seekor kucing. Tubuh gemetaran Baekhyun yang bisa terlihat jelas di kedua mata Chanyeol, entah kenapa membuat Chanyeol tersenyum simpul karena gemas dengan tingkah kekasihnya.

Yoora meletakkan kedua tangannya di pinggang dan berdecak kesal saat telah mengetahui dimana posisi laki-laki yang ia cari. Jari-jari lentik nya dengan cekatan menarik selimut yang berada di atas kasur adik laki-lakinya itu. Harusnya dari awal Yoora melihat sebuah gundukan di atas kasur Chanyeol, dan sekarang ia merasa seperti dibodohi.

"Turun kau, dasar peng—"

"Maafkan aku, s.. sungguh aku tidak pernah menggoda Chanyeol.. k-kau hanya salah paham, noona."

Yoora tercekat melihat tubuh bagian atas Baekhyun yang terbuka, kulit mulus laki-laki mungil itu dipenuhi bekas kemerahan yang tidak lain tidak bukan merupakan perbuatan bejat adik laki-lakinya. Belum lagi Baekhyun yang memasang wajah memelas dengan 'puppy eyes' andalannya. Yoora dan Chanyeol bisa melihat kedua mata sipit itu kini dipenuhi air mata yang merangsek untuk keluar.

"Noona, sudah ku bilang dia adalah kekasihku. Apa kau tidak percaya? Baekhyun adalah seseorang yang membuat hidupku menjadi lebih baik. Ku mohon tinggalkan kami." Pinta Chanyeol sambil menghampiri Baekhyun. Tubuh Baekhyun bergetar, ia terus menunduk karena malu harus bertatap muka dengan Yoora.

Yoora tertegun melihat bagaimana Chanyeol memakaikan kaus miliknya ke tubuh mungil Baekhyun dengan lembut. Yoora tidak pernah melihat Chanyeol seperti ini, sangat bertanggung jawab dan gentleman. Yoora yang awalnya ingin menghabisi Baekhyun harus mengurungkan niat nya saat melihat betapa ringkih dan lemah kekasih adiknya itu. Sebuah perasaan aneh tiba-tiba menyergap, membuat isi perut wanita itu bergejolak.

Setelah memakai pakaian yang lengkap, Baekhyun segera mencoba berdiri dengan tertatih karena sakit yang luar biasa di bagian bawah tubuhnya. Laki-laki mungil itu memberanikan diri membungkuk 90 derajat di depan Yoora yang masih berdiri termangu memandangi Baekhyun.

"Ah.. tidak apa-apa. Maafkan aku sudah bersikap kasar padamu….." ucap Yoora menggantung.

"Baekhyun. Byun Baekhyun imnida."

Baekhyun kembali membungkuk dengan cepat tanda perkenalan. Laki-laki mungil itu mulai menghapus airmata yang menggenang di kedua mata sipitnya. Sorot keraguan itu kini berganti dengan kepercayaan diri dan keyakinan untuk memperkenalkan diri pada kakak perempuan Chanyeol.

Ketiganya mendadak terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing yang melayang entah kemana. Yoora memandangi Chanyeol dan Baekhyun bergantian dan mulai terseyum simpul. Setidaknya adik laki-lakinya telah menemukan arah hidupnya kembali. Yoora pikir perubahan Chanyeol menjadi sang kutu buku hanya bertahan 3 hari, namun nampaknya seseorang telah membuat Chanyeol nyaman dan membuatnya melupakan masa lalunya.

Yoora tahu apa yang pernah terjadi pada Chanyeol. Chanyeol yang dulu adalah Chanyeol yang menyeramkan tetapi menyedihkan di saat yang bersamaan. Bahkan saat Chanyeol terpuruk, mungkin hanya beberapa kali dalam sebulan Yoora bisa melihat sosok jangkung itu di rumah. Setiap Yoora menginjakkan kaki ke rumah, aroma alkohol, rokok, dan partner seks Chanyeol lah yang selalu menyambutnya.

Namun Yoora yakin Chanyeol sudah mulai beranjak dewasa, apalagi kini ada seorang Byun Baekhyun yang hadir menjaga dan memberi perhatian penuh pada Chanyeol. Sepertinya Baekhyun adalah anak baik-baik, pikir Yoora.

"Hmm.. aku pamit membereskan barang-barangku di bawah. Baekhyun, kau menginap disini saja.. pasti kau lelah kan?" kata Yoora sedikit menggoda dengan penekanan pada kata 'lelah' dan sebuah kedipan mata.

Baekhyun mengangguk ragu dan menghela napasnya lega saat Yoora telah meninggalkan kamar Chanyeol. Baekhyun mengelus dadanya yang sedari tadi sesak karena gugup, kemudian ia berguling kesana kemari di atas kasur Chanyeol untuk menghilangkan sisa-sisa kegugupannya.

Sementara Chanyeol hanya memperhatikan gerak gerik Baekhyun dengan kekehan kecil, sembari tangan besarnya mengelus rambut keunguan Baekhyun dengan lembut.

"Astaga Park Chanyeol! Kau tidak tahu jika kekasihmu ini nyaris terkena serangan jantung, stroke, dan komplikasi karena noonamu yang menyeramkan itu! Ya Tuhan… itu adalah beberapa menit paling menegangkan di kehidupan seorang Byun Baekhyun… untung saja Yoora noona tidak memotong penisku!"

"Maafkan Yoora noona. Dia memang suka mencampuri urusan orang dan terlalu mengekang.. kau tahu sayang, semua perempuan memang seperti itu. Ah ayo kita tidur, kau pasti sangat lelah."

Baekhyun mengangguk semangat dan merangkak untuk mencari posisi tidur yang sesuai. Senyuman, pandangan lembut, dan sentuhan-sentuhan kecil tidak berhenti Chanyeol berikan pada Baekhyun. Baru kali ini Baekhyun menginap di rumahnya, ada di sampingnya saat ia menutup mata, dan berada di pelukannya saat ia membuka mata esok pagi. Hal itu membuat jantung Chanyeol berdegup kencang.

Baekhyun merapatkan tubuhnya pada Chanyeol, menyandarkan kepalanya di atas dada bidang Chanyeol. Jari-jari lentiknya menari-nari di atas dada Chanyeol, membuat suatu gerakan seperti menulis sesuatu.

'Terima kasih untuk semuanya.'

Chanyeol tertegun mencoba mencerna apa yang baru saja dilakukan laki-laki mungilnya. Ia tersenyum dan menarik dagu Baekhyun lembut, membuat Baekhyun menatap kedua mata Chanyeol dalam-dalam.

Kemudian Chanyeol hanya mengangguk tanpa sepatah kata apapun, ia mendaratkan sebuah kecupan lembut di atas bibir mungil Baekhyun sebagai jawabannya. Ibu jarinya mengelus kedua belah bibir Baekhyun yang membengkak akibat perbuatan mereka tadi, dan itu membuat Chanyeol terkekeh.

Chanyeol terus memandangi figur indah yang berada di pelukannya saat ini. Betapa ia menyayangi Baekhyun dan tidak akan pernah bisa menjauh dari sosok laki-laki di hadapannya. Terkadang di momen-momen manis seperti ini, terlintas ketakutan dan penyesalan di benak Chanyeol. Bagaimana jika Tuhan sedang merencanakan sesuatu lalu memisahkan dirinya dan Baekhyun lagi. Chanyeol tidak bisa membayangkan jika harus merasakan pahitnya keterpurukan untuk yang kedua kalinya dalam hidupnya.

'Aku sangat menyayangimu.'

Chanyeol tersenyum lembut dan menggenggam jari-jari lentik itu. Ia mengecup jari-jari itu satu persatu sebagai wujud rasa terima kasih dan syukurnya atas kehadiran Baekhyun di dalam hidupnya. Chanyeol tertawa pelan dan berkata, "Aku juga. Tapi rasa sayangku lebih besar dari punyamu, Park Baekhyun."

Baekhyun mengerucutkan bibir nya sambil memukul dada bidang itu lumayan keras (hingga membuat Chanyeol terbatuk-batuk). Baginya kadar perasaan seseorang tidak lah penting karena sesungguhnya keberadaan seseorang itu di samping kita adalah bagian yang terpenting. Seperti yang kebanyakan orang katakan bahwa 'seseorang yang romantis akan kalah dengan yang selalu ada', dan Baekhyun mempercayai itu. Baekhyun sangat bersyukur karena Chanyeol termasuk dalam kedua kategori itu.

'Jangan tinggalkan aku lagi'

Baekhyun tersenyum getir usai menuliskan kalimat itu. Keduanya hanya bisa terdiam sambil memandangi satu sama lain. Entah kenapa kali ini Chanyeol tak membalas kalimat Baekhyun dan hanya bisa mengelus rambut Baekhyun dengan lembut.

Baekhyun menggigit bibirnya, ketakutan mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Apakah Chanyeol tidak bisa menjawab karena ingin meninggalkan dirinya lagi? Namun bukankah laki-laki jangkung itu sudah berjanji pada Baekhyun dengan segenap perasaannya?

"Kau tidak ingin menjawabnya?"

"….."

Chanyeol masih terdiam, ia memperbaiki posisi tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Baekhyun tanpa membuat Baekhyun harus menengadahkan kepalanya. Chanyeol menekuk sebelah tangannya dan menjadikan tangan itu sebagai bantalan kepalanya. Ia mendekatkan wajahnya pada Baekhyun dan melumat pelan bibir mungil itu.

Kedua mata mereka terpejam, menikmati rasa hangat yang mengalir dari kontak bibir mereka. Chanyeol menangkup pipi Baekhyun dan terus mengelus nya dengan ibu jari miliknya.

Chanyeol tidak tahu harus mengatakan apa. Ia ingin mengeluarkan seribu satu janjinya untuk meyakinkan Baekhyun, namun ia hanyalah manusia biasa. Chanyeol bukan Tuhan, ia tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi di kemudian hari. Untuk itu ia hanya membungkam bibirnya dengan bibir Baekhyun, mencoba bertekad untuk mewujudkan permintaan Baekhyun itu dengan perbuatannya sebagai laki-laki sejati. Bukan hanya sekedar mengumbar janji manis yang sewaktu-waktu akan berbalik menyerangnya.

Chanyeol lah yang pertama melepaskan kontak bibir mereka. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menenangkan Baekhyun, karena dirinya terlampau bodoh untuk menenangkan kekasihnya dengan kata-kata. Laki-laki berambut hitam itu pun menarik selimut miliknya hingga menutupi hampir seluruh tubuhnya dan tubuh Baekhyun.

"Tidak ada yang perlu ditakutkan lagi, oke? Sekarang, peluk tubuhku dan pejamkan kedua matamu, Baek. Kau akan terus berada di pelukanku sampai kau membuka matamu."

"Mmmm.." gumam Baekhyun sambill mencoba memejamkan kedua matanya. Chanyeol tersenyum melihat bagaimana kekasihnya berubah menjadi seorang siswa taman kanak-kanak yang menggemaskan saat tidurnya. Sangat berkebalikan dengan apa yang selama ini ia perbuat dan ia katakan di depan umum.

Chanyeol mengecup seluruh bagian wajah Baekhyun satu per satu. Mulai dari kening, kedua mata kecilnya, pipi Baekhyun yang semakin berisi, hidung, dan juga bibir mungilnya.

"Selamat tidur, Byun Baekhyun."

.

.

.

.

.

'….Kau akan terus berada di pelukanku sampai kau membuka matamu.'

Berada di pelukan bokongmu!

Bohong..

Chanyeol benar-benar tidak bisa dipercaya!

Baekhyun hampir menangis saat ia membuka kedua matanya dan tidak mendapati lengan kekar yang memeluknya semalam. Kasur di sampingnya begitu kosong tanpa laki-laki tampan itu.

Baekhyun berpikir mungkin Chanyeol sedang pergi ke kamar mandi atau berada di dapur. Ya, pasti Chanyeol tidak akan meninggalkannya sendiri lagi kan?

Namun sebuah kertas berwarna kuning menempel di atas bantal yang ditiduri Chanyeol semalam. Dengan gerakan kasar, Baekhyun merampas kertas itu. Kedua mata sipitnya melebar saat membaca jejeran huruf yang ditulis menggunakan spidol berwarna biru gelap itu.

'Byun Baekhyun sayang, maafkan aku. Cho Seonsaengnim mengirimiku pesan saat pagi buta, ia memintaku datang ke sekolah karena ada urusan yang mendesak. Aku tidak ingin membangunkanmu karena kau tidur seperti babi mati kkkk~ aku tidak akan lama!'

"YAAAA! Park Chanyeol sialan! Mati saja kau! Aishhh.."

Baekhyun memekik kesal sambil meninju dan membanting-banting guling Chanyeol murka. Bagaimana bisa Chanyeol meninggalkannya sendiri di rumah sebesar ini bersama kakak perempuan Chanyeol yang semalam hampir mengulitinya hidup-hidup?!

Ya Tuhan…

Bagaimana jika semalam Yoora noona hanya berpura-pura baik di depan Chanyeol?! Bagaimana jika nanti wanita itu datang dan melabrak dirinya yang lemah dan tak berdaya ini? Batin Baekhyun berlebihan.

Baekhyun tak tahu apa yang harus ia lakukan untuk membunuh waktu sampai Chanyeol pulang. Bahkan Baekhyun tidak tahu saat Chanyeol melepaskan pelukannya dan bersiap-siap untuk berangkat. Apakah benar dirinya seperti babi mati saat tidur? Ah tapi ini juga ulah Chanyeol yang menggagahinya dengan beringas hingga seluruh persendiannya nyaris lepas!

Jam di kamar Chanyeol menunjukkan pukul 8 pagi, masih terlalu pagi untuk ukuran Byun Baekhyun di hari libur. Baekhyun terus menggaruk-garuk kepalanya frustrasi. Ia tidak mau turun ke lantai dasar dan bertatap muka dengan Yoora tanpa Chanyeol di sisinya. Namun perutnya sedari tadi memberontak, ia butuh asupan makanan. Sementara di kamar Chanyeol hanya terdapat bungkus makanan sisa dan kertas-kertas ulangan.

Baekhyun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan kamar Chanyeol, mencari sesuatu yang bisa ia gunakan sembari menunggu Chanyeol. Namun seperti biasa, tak ada yang istimewa dari kamar laki-laki jangkung itu selain deretan piala, home theater, gitar, dan tumpukan buku di atas meja belajarnya.

Kemudian Baekhyun berjalan mengelilingi kamar tersebut, mencoba menajamkan matanya pada benda-benda aneh yang mungkin masih menjadi rahasia di antara mereka berdua. Ia berjalan menuju lemari besar berwarna hitam yang berdiri kokoh di sudut ruangan.

"Woah.. baju-bajunya… pasti mahal dan bermerk.." decak Baekhyun setelah membuka pintu lemari Chanyeol. Jejeran jaket dari brand ternama, kaus-kau berlogo group metal yang original dan berharga mahal, juga sepatu-sepatu basket berbagai macam warna. Andai saja selera dan ukuran tubuh Chanyeol sama dengan dirinya, pasti Baekhyun akan membawa pulang beberapa kaus Chanyeol untuk dipamerkan pada Baekbeom.

Baekhyun mengambil sebuah sweater rajut berwarna khaki yang beberapa kali Chanyeol pakai. Baekhyun hanya lah laki-laki yang menyukai sweater, celana pendek, atau apapun yang 'sedikit' menggemaskan. Ia menghirup aroma tubuh Chanyeol yang masih menempel di sweater tersebut, membuatnya merindukan sosok jangkung yang seharusnya menjadi orang pertama saat ia membuka mata tadi.

Baekhyun memakai sweater tersebut dan berakhir dengan ukuran yang kebesaran di tubuhnya. Ia terkekeh kecil sambil menciumi lengan sweater Chanyeol dengan rona merah di pipinya, layaknya perempuan yang sedang kasmaran. Sedikit menjijikan, namun itulah kenyataannya.

Kemudian kedua mata sipitnya tertuju pada sebuah kotak besi berukuran sedang yang berada di bawah meja belajar Chanyeol. Baekhyun berjongkok dan membuka benda yang ia ketahui sebagai kulkas berukuran kecil itu. Ah.. barangkali Chanyeol menyimpan stok susu, cola, atau es krim di dalam sana.

"Apa ini?" tanya Baekhyun melihat deretan botol berwarna hijau dengan merk yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Baekhyun mengambil botol tersebut dan mencoba membaca tulisan pada label botol itu, berharap ia bisa mengetahui minuman apa ini.

"YA! Mengapa semua laki-laki meminum minuman seperti ini?! Pertama Sehun dan sekarang Chanyeol! Tidak tau kah mereka jika mereka masih di bawah umur?! Aishh jinjja!"

Baekhyun membanting botol tersebut, mengembalikan ke tempat semula dan menutup kulkas itu rapat-rapat dengan perasaan kesal. Jadi selama ini Chanyeol masih suka minum seperti itu? Bukankah ia bilang ia ingin berubah? Dasar pembohong! Batin Baekhyun kesal.

Laki-laki berambut keunguan itu bangkit dan mendudukkan bokongnya di kursi belajar Chanyeol. Ia menyilangkan tangannya di dada karena kesal, ia merasa dikhianati oleh Chanyeol. Beribu pertanyaan muncul di kepalanya dan itu membuatnya pusing. Apakah selama ini dirinya terlalu polos ataukah memang kedua laki-laki binal itulah yang sudah kelewatan?

Entah ada sesuatu yang menariknya untuk menatap kulkas kecil itu lagi. Seperti ada yang memanggil-manggilnya dari dalam sana. Baekhyun mengacak-acak rambutnya frustrasi. Rasa penasaran Baekhyun benar-benar mengalahkan segalanya. Ia membungkuk dan mengambil sebuah botol yang tadi ia pegang dari dalam kulkas tersebut.

"Oke oke! Kali ini kau menang!" gumam Baekhyun kesal sambil memandangi botol hijau di tangannya. Ia menajamkan indera penglihatannya untuk meneliti setiap inchi botol tersebut. Sesekali ia mengendus-enduskan hidung mancungnya, mencoba mencari tahu apa kenikmatan cairan yang berada di dalam botol itu.

Perhatian Baekhyun teralih pada sebuah benda kecil berbahan besi yang terletak di atas kulkas. Dengan gerakan sembunyi-sembunyi, Baekhyun mengambil benda yang dapat membantunya menghilangkan rasa penasarannya.

Cklek

Tutup botol tersebut terbuka dan jatuh menggelinding di atas lantai. Baekhyun mengernyit merasakan aroma aneh memasukki rongga hidungnya. Enzim-enzim pencernaan di dalam saluran pencernaan nya telah bersiap menerima cairan di dalam botol itu sebagai pengganti sarapannya.

"Aku tidak tahu kalau kau menjadi candu bagi kekasihku sendiri.." ucap Baekhyun pada botol di tangannya seakan-akan botol itu bisa menjawab semua kata-katanya.

Baekhyun jadi teringat insiden yang terjadi di kamarnya beberapa waktu yang lalu, ketika Chanyeol datang ke rumahnya dengan keadaan yang sangat menyedihkan. Penampilan yang berantakan dan mulut beraroma alkohol. Bagi Baekhyun, orang-orang yang menjadikan alkohol sebagai pelampiasan adalah orang yang paling menyedihkan di muka bumi. Maka dari itu Baekhyun tidak ingin Chanyeol terus-menerus meminum cairan itu karena hatinya seperti teriris melihat keterpurukan Chanyeol.

Namun apakah minuman berakohol terasa senikmat itu hingga menjadi candu bagi Chanyeol?

Dengan keingin tahuan yang besar, Baekhyun meneguk bir bermerk Cass tersebut. Rasa pahit segera menjalar di kerongkongannya, membuat kedua alisnya bertemu dan bulu kuduknya meremang. Ketika cairan tersebut sampai di perutnya, Baekhyun merasakan dunianya hampir berputar. Perutnya terus berkontraksi, rasa mual yang luar biasa mendesaknya untuk memuntahkan cairan tersebut.

"Hoekkk.."

Baekhyun bersusah payah menelan tetes demi tetes bir itu. Matanya mulai berkunang-kunang, tubuhnya melemas, dan kepalanya terasa sangat ringan. Bukan salah Baekhyun jika ia berakhir mabuk seperti ini, salahkan Chanyeol yang menyimpan beberapa botol bir di kamarnya. Salahkan Sehun yang selalu melarangnya mencoba hal ini dan itu, hingga ia menjadi anak yang polos dan naïf.

Kedua pipi gembil Baekhyun kini mengeluarkan semburat kemerahan. Walaupun Baekhyun terbilang mahir dalam hal-hal berbau seks, tetapi Baekhyun benar-benar seorang amatiran jika menyangkut tentang minuman keras, bar, ataupun kehidupan malam lainnya.

Baekhyun menyandarkan kepalanya dan memijat pelipisnya pelan. Ia menyipitkan matanya, sebuah kertas yang menggantung di atas meja belajar mencuri perhatiannya. Baekhyun mengerjapkan matanya, menyadari bahwa itu bukan 'sebuah' namun 'beberapa'.

Laki-laki bermata sipit itu mencoba meraih kertas putih tersebut dengan susah payah. Kertas-kertas itu terasa jauh dari jangkauan Baekhyun dan semua benda-benda di sekitar Baekhyun berguncang pelan.

Baekhyun mengernyit memandangi kertas tersebut. Disana terdapat figur dirinya yang sedang menangis dengan wajah bengkak dan buruk rupa. Baekhyun mencoba membalik kertas yang diketahui sebagai polaroid itu.

'Melihatnya menangis benar-benar membuatku tersiksa. Byun Baekhyun, aku tidak akan meninggalkanmu!'

Laki-laki berambut keunguan itu hampir tersedak sisa-sisa bir yang berada di dalam rongga mulutnya. Dadanya seperti dihantam palu godam, dan itu membuatnya sulit bernapas. Baekhyun menegakkan kepalanya, ia terkejut melihat beberapa polaroid dengan figur dirinya memenuhi meja belajar Chanyeol. Ia mencoba mengambil beberapa polaroid lain dengan tangan yang bergetar.

'My baby~ Baekhyun sangat menggemaskan dengan piyama itu! Ah aku tak tahan untuk memeluknya!'

Baekhyun ingat semua foto ini diambil saat Chanyeol 'merayakan' hari jadi mereka kemarin. Baekhyun masih mengingat bagaimana Chanyeol dengan seenaknya mengambil gambar dirinya yang belum siap. Ujung-ujung bibir Baekhyun terangkat mengukir sebuah senyuman simpul. Ternyata Chanyeol benar-benar menganggap dirinya menggemaskan dan Baekhyun merasa bahagia atas hal itu.

'Baekhyunnie terlihat imut sekaligus seksi dengan seragam basketku! Apakah tubuhnya memang sekecil itu? Dia lebih mirip siswa taman kanak-kanak kkkk~ bagaimana jika ia hanya mengenakan seragam itu tanpa dilapisi baju apapun?

Ya! Chanyeol kau begitu mesum hahaha!'

"Dasar bodoh.." umpat Baekhyun pelan, tetapi sebuah tawa terlontar dari bibir mungilnya membaca pesan Chanyeol yang tertulis dibalik polaroid itu. Chanyeolnya benar-benar mesum bahkan hanya melihat Baekhyun mengenakan seragam kebesaran, laki-laki jangkung itu sudah terangsang.

Pandangan Baekhyun jatuh pada sebuah polaroid yang terasa asing baginya. Ia memandangi polaroid itu lekat-lekat. Hanya ada dirinya yang sedang tertidur pulas dengan sebuah lengan yang melingkar di tubuhnya. Mendadak rasa hangat menjalar ke sekujur tubuhnya dan jantungnya berdegup sangat kencang. Lengan itu milik Chanyeolnya, yang selalu memeluknya posesif seakan mencegah dirinya pergi dari sisi Chanyeol.

'Wajah polosnya saat tidur, membuat jantungku berdetak kencang. Ya.. Byun Baekhyun, aku tidak akan pernah melepaskan pelukan ini. Melihat kau berada di sampingku seperti ini membuatku ingin selalu menghabiskan waktu bersamamu. Saranghae!

*note : jika kita sudah dewasa nanti, aku akan berdiri di depan rumahmu dan berlutut di hadapanmu. Ayo hidup bersama sampai tidak ada yang bisa kita lakukan lagi selain mencintai satu sama lain.

Bibir Baekhyun bergetar dan kedua mata sipitnya mendadak dipenuhi air mata. Baekhyun tidak menyangka bahwa Chanyeol akan begitu serius seperti ini. Bahkan Baekhyun tidak mengetahui saat Chanyeol mengendap-ngendap tengah malam hanya untuk menulis pesan-pesan itu dan memasangnya.

"Ya! Kau bilang tidak akan melepaskan pelukanmu, tapi kau pergi meninggalkanku di pagi buta…" gumam Baekhyun sedikit meracau karena efek bir yang masih menguasai tubuhnya.

Baekhyun sekarang mengerti maksud Chanyeol yang selalu mengambil gambar dirinya dan beberapa polaroid yang berjajar di atas meja belajar Chanyeol….

Chanyeol mengganti semua polaroid miliknya, polaroid yang berisi kenangan-kenangannya bersama perempuan itu, dengan polaroid berisi figur seorang Byun Baekhyun. Chanyeol benar-benar sudah beranjak dari cengkraman masa lalunya. Chanyeol hanya ingin melihat pada satu orang dan itu adalah Baekhyun, yang membantunya bangkit dengan segala kelebihan dan kekurangan yang laki-kaki mungil itu miliki.

Baekhyun tidak dapat membendung airmatanya, kini air mata itu sudah mengalir bak sungai yang berada di kedua pipinya. Ia mengangkat kedua lututnya dan memeluknya, tangannya menggenggam erat-erat polaroid yang menjadi saksi bisu hubungan mereka.

Laki-laki mungil itu ingin bertemu Chanyeol saat ini juga, ingin memeluk tubuh tinggi itu dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang laki-laki itu. Baekhyun ingin Chanyeol menghapus air matanya dan mengatakan langsung semua yang ia tulis di polaroid-polaroid miliknya.

Baekhyun tidak mengerti apakah ia ingin menghentikan waktu atau mempercepat waktu agar mereka bisa menjadi dewasa. Baekhyun mungkin masih terlalu kecil untuk hal-hal percintaan seperti ini, namun ia hanya ingin bersama Chanyeol. Hanya itu permintaan polos dari seorang laki-laki yang akan beranjak dewasa seperti dirinya.

"Hiks.."

Kemudian dengan sekuat tenaga melawan isakkan hebat dan getaran di tangannya, Baekhyun menghapus air mata yang memenuhi pelupuk matanya. Ia meraih sebuah spidol yang tertinggal di atas meja belajar Chanyeol. Baekhyun menggoreskan spidol tersebut hingga meninggalkan sebuah kalimat di polaroid tersebut.

'Ya, aku mau, Park Chanyeol.'

.

.

.

.

.

"Saem, apa yang terjadi? Mengapa ak—"

Kalimat Chanyeol terhenti bersamaan dengan langkah kakinya saat beberapa pasang mata memandangnya dengan heran. Chanyeol tersenyum kikuk sambil membungkuk tanda meminta maaf. Ia mengecek jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 6 pagi. Apakah Chanyeol sudah terlambat di hari libur seperti ini?

"Ah, Chanyeol! Akhirnya kau datang juga, silahkan duduk. Kita mulai pembicaraan ini karena seluruh anggota tim telah lengkap." Kata Cho Seonsaengnim sambil membuka sebuah map yang berisi beberapa helai kertas

Chanyeol yang belum mengerti apa yang terjadi hanya bisa memainkan kunci mobil di tangannya, menunggu guru muda di hadapannya melanjutkan kalimatnya. Ia tidak mengerti mengapa guru muda yang selalu menjadikan dirinya sebagai kaki tangan harus memerintahkannya datang ke sekolah di hari libur seperti ini.

Chanyeol akan meninju rahang guru itu jika yang terjadi hanyalah peristiwa atau kegiatan yang tidak penting untuk kehidupannya. Chanyeol akan meninju guru itu karena sudah menginterupsi waktu nya bersama Baekhyun, membuat ia tidak bisa melihat saat-saat dimana Baekhyun membuka kedua matanya dan memeluknya lebih erat karena masih mengantuk.

Chanyeol ingin memberikan 'morning kiss' untuk Baekhyun. Bukan 'morning kiss' satu arah yang hanya bisa diberikan Chanyeol tanpa dibalas oleh kekasihnya yang masih tertidur pulas. Chanyeol ingin, ehm, Baekhyun memanjakan penisnya yang selalu ereksi di pagi hari. Chanyeol benar-benar ingin menjadika hari ini sebagai harinya untuk Baekhyun, bukan untuk guru muda yang selalu memerintahkan pekerjaan tak jelas padanya.

"Pemerintah akan mengadakan olimpiade sains untuk sekolah menengah atas dan universitas. Sekolah kita akan mengirimkan 4 tim yang terdiri dari tim matematika, fisika, kimia, dan biologi. Setiap timnya terdiri dari 3 orang, 2 orang untuk bidang inovasi dan 1 orang untuk bidang teori."

Chanyeol menelan liurnya dengan susah payah. Ia melihat beberapa siswa di sekelilingnya dan menemukan seorang siswi yang sedang menunduk sambil memainkan ujung sweaternya.

Sohyun..

Perasaan Chanyeol mendadak tak enak. Bukan berarti Chanyeol tidak suka ataupun iri dengan keikut sertaan Sohyun di tim olimpiade kali ini. Tidak, ia tidak seambisius itu. Namun ia tidak ingin masalah yang sedang ia urai satu per satu harus menjadi runyam kembali hanya karena kegiatan olimpiade ini.

Perempuan itu hanya bisa menunduk dan enggan memerhatikan penjelasan Cho Seonsaengnim. Chanyeol sadar bahwa Sohyun mengetahui kehadirannya, untuk itu Sohyun mencegah kontak apapun dengan Chanyeol.

"Saya akan membacakan nama anggota tim berdasarkan bidang keilmuan. Untuk Matematika ada Jinki, Seohyun, dan Yoseob. Lalu Fisika ada Joonmyeon, Sunyoung, dan Nayeon. Kimia ada Chanyeol, Sohyun, dan Wonwoo. Bi—"

Chanyeol benar-benar ingin meledak. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat agar tidak melayang ke wajah guru muda itu. Chanyeol dan guru muda itu pasti tahu jika Sohyun menguasai hampir keempat bidang tersebut, lalu kenapa Cho Seonsaengnim harus memasukkan Sohyun ke dalam tim yang sama dengan dirinya?!

Chanyeol tahu kemarahannya sungguh tak beralasan dan tidak profesional, tetapi ia hanya ingin menjauhi segala sesuatu tentang perempuan itu. Perasaannya perlahan mulai membaik karena ia hanya bersama Baekhyun, namun sekarang kegiatan olimpiade ini akan menghancurkan semuanya.

Jika Chanyeol bisa, ia ingin angkat kaki dari ruangan itu dan mengundurkan diri dari tim olimpiadenya. Namun ia tidak bisa, olimpiade ini adalah kegiatan yang dinanti-nantinya, bahkan Chanyeol bermaksud mendaftar seorang diri sebelumnya. Inilah waktunya Chanyeol untuk semakin bersinar, membuat keluarga, teman-teman, dan Baekhyun bangga atas jerih payahnya.

Ia tidak ingin seorang perempuan menghalangi langkahnya dan membuat dirinya seperti seorang pecundang. Chanyeol tidak ingin kalah sebelum berperang lantaran masalah percintaannya.

"Kalau begitu kita sudahi pertemuan kali ini. Pelatihan pertama akan dilaksanakan hari Rabu sepulang sekolah."

Semua siswa mengangguk dan beranjak sambil membereskan beberapa perlengkapan mereka. Chanyeol masih terpaku di tempatnya, belum dapat menerima kenyataan di hadapannya. Ia seperti manusia yang nyawanya diambil paksa oleh malaikat pencabut nyawa.

Bagaimana caranya ia memberi tahu Baekhyun tentang tim olimpiadenya ini? Chanyeol tidak ingin membuat Baekhyun sedih dan takut, ia tidak ingin kehilangan kepercayaan Baekhyun lagi. Namun mau tidak mau ia harus mengatakan yang sebenarnya agar tidak terjadi kesalah pahaman yang berujung pada masalah yang semakin rumit.

Chanyeol menghela napasnya berat, dengan langkah yang lunglai ia berjalan keluar ruangan guru muda itu. Setidak nya saat ia pulang nanti, senyuman Baekhyun bisa mengobati kegelisahannya dan pelukan laki-laki mungil itu bisa menenangkan perasaannya.

"Park Chanyeol.."

Sebuah tangan menahan lengannya. Chanyeol membalikkan badannya dan mendapati perempuan itu, Sohyun, berdiri menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Chanyeol melirik ke arah tangan perempuan itu dan Sohyun yang mengerti maksud dari laki-laki jangkung itu hanya bisa menarik tangannya kembali.

"Mohon bantuan untuk ke depannya."

.

.

.

.

to be continued


Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Chanyeol akan memberi tahu Baekhyun atau justru menyembunyikannya?

Yaelah sohyun ga aus apa bolak balik di idup orang :((((( /ggg

btw maafkeun si orang baru belum mau nongol di chapter ini, dia masih sibuk menghindari netizen(?) MAKASIH BUAT YANG MASIH NUNGGU DAN BACA FF BURUK RUPA INI, GA NYANGKA BISA NYARIS 1000 REVIEWNYA GILAAAAAK :'''))) saya ga ngangka banyak yang nangis, ketawa, sampe guling2 tengah malem baca ff ini... saya seneng bgt sumpah baca revew2 kalian wkwkkwk

oiya Something's Going On Us nya lagi proses ya buat yang baca tetep tungguin ceritanya ya!

Saya bikin ff chanbaek pwp gaje, yang suka chanbaek GS! bisa dicek yaaaaa :3333

jangan lupa review ya saya mau tahu pendapat2 kalian tentang chapter ini, dan masukan2 buat ke depannya!^^

DON'T FORGET TO REVIEW, FOLLOW, AND FAV! :333