Harry Potter, The Boy Who Sassed

Harry Potter © J.K. Rowling

Warn : AU, slight boyxboy, OOC, Sass(?)

Genre : Friendship & Humor

Enjoy!

Theo point of view

Hello! Theo sudah kembali dari liburan natal. Dan ya, seperti yang aku bilang kemarin, ada banyak orang yang kena semprot oleh The boy who sassed yang tak lain adalah Harry Potter. tapi aku harus berbicara pelan kali ini, karena Draco masih ada di sini dan aku tidak tahu bagaimana mengusirnya.

"Asal kau tahu aku masih mendengarmu dari sini, Theo."

Uh, oh. Itu dia.

"Kau ini kenapa bicara sendiri sih? Dasar aneh."

Terserah. bicara soal Draco, dia juga termasuk korban yang sering dijuteki Harry. Draco Malfoy, Tukang bully yang tetap suka mem-bully Harry walau sekarang sudah berganti status menjadi sepasang kekasih.

Bisa dibilang Draco adalah korban yang paling banyak terkena kejutekan Harry. dan tampaknya si pirang ini sama sekali tidak peduli akan hal itu. ada kesenangan tersendiri baginya saat melihat Harry marah. Dia bilang, The Sassy Harry is the Sexy Harry.

Saat mereka pertama kali berkenalan, Harry sudah menunjukkan kejutekannya pada Draco saat ia menolak uluran tangan itu.

"...Ini Crabbe dan Goyle. Dan aku Malfoy." dan dengan dagu yang terangkat tinggi ia menghampiri Harry.

"Draco Malfoy."

Kita bisa melihat sendiri di mata Draco ia memiliki ketertarikan lebih pada Harry. tapi momen tatap-tatapan mata itu terinterupsi oleh tawa Ron yang sukses membuat Draco tersinggung. Dan dari sinilah Harry mulai menilai apakah Draco pantas menjadi temannya atau tidak.

"Kau pikir namaku lucu?" oh, the rude boy is coming at you, Ron. "Aku tak perlu menanyakan namamu, rambut merah dan jubah bekas. Kau pasti seorang Weasley." Draco si mulut tajam adalah julukan tepat untukmu Draco.

Aku bisa melihat Harry memiringkan kepalanya sedikit, mengobservasi Draco lebih jauh lagi. Mungkin dipikiran Harry, 'Cowok ini anak siapa sih? Sombong sekali.'

Kemudian Draco berkata, "Kau akan tahu bahwa keluarga penyihir tentu lebih baik dari yang lainnya, Potter. kau pasti tidak ingin berteman dengan orang yang salah. Dalam hal ini aku bisa membantumu."

Harry memperhatikan tangan Draco yang terulur di hadapannya sebelum matanya beralih menatap Draco.

"Kurasa aku bisa membedakan sendiri siapa orang yang salah untuk diajak berteman, thanks."

Dan itulah awal dari peperangan antara Sassy Harry dan Rude Draco. Pasangan yang serasi.

Bukan hanya itu, di tahun kedua Draco menunjukkan rasa cemburunya untuk pertama kalinya.

Saat itu kebetulan aku bertemu Draco di toko buku Flourish & Blotts pagi itu. dan aku memperhatikan Draco yang terus menatap Harry dari lantai atas.

"Mengagumi Potter, Draco?"

Draco merengut, "Aku masih tidak terima ia menolakku mentah-mentah di tahun pertama."

"Sudahlah, Draco. Itukan sudah berlalu." Ujarku.

"Tapi aku lebih tidak terima lagi ia tidak membalas suratku!"

Aku terkejut, "Kau menulis surat untuknya?"

Draco tampaknya tak berniat menjawab pertanyaanku dan buru-buru turun dari tangga. Ia mengambil sebuah buku dan membolak-balik halaman buku tersebut dengan bosan.

"Draco, kalau kau tidak berniat untuk membaca setidaknya jangan bersikap seolah kau ingin membaca." Ujarku.

Draco mendengus, "Gadis tahun ketiga-yang aku tidak tahu namanya- bilang aku terlihat keren saat membaca. Aku ingin Potter berpikir demikian."

Aku hanya memutar bola mata mendengar itu. tiba-tiba mataku menangkap sebuah foto di buku yang tengah dipegang oleh Draco.

"Itu kan foto Harry." tunjukku.

Draco menatap buku itu dan tiba-tiba merobek satu halaman foto Harry dan menyimpan halaman itu di sakunya.

Obsesi berat, Draco?

Dan sebelum aku sempat bicara, Draco sudah turun dan menyegat Harry.

"Kau sangat senang kan, Potter?" Draco pun mulai lagi.

"Draco apa kau akan bayar buku yang kau robek tadi?" tanyaku.

"Diam, Theo! Harry Potter yang terkenal. Tidak bisa pergi ke toko buku tanpa masuk halaman pertama!"

Draco bodoh! bukan begitu caranya kalau kau ingin Harry menyukaimu.

"Suaramu terdengar lebih dalam, Malfoy."

Dan tak pernah ada yang tahu apa isi kepala Harry Potter. Draco tampak tersipu. Ia kelihatan senang Harry ternyata memperhatikan perubahan yang ada di dirinya. Aku bahkan tidak sadar suara Draco terdengar lebih dalam dari sebelumnya. Bisa dibilang tahun ini Draco mengalami pubertas yang luar biasa.

"Jangan mengalihkan pembicaraan, Potter."

"Jangan ganggu Harry." desis Ginny.

Uh, oh Draco kau dapat saingan.

"Oh Potter, kau dapat pacar." Walau tertawa mengejek, kau bisa mendengar nada cemburu di setiap perkataan Draco.

Apa? Aku hanya pengamat yang baik, kau tahu? Makanya aku tahu semua hal tentang semua orang. Jadi jangan heran.

"Cemburu? " balas Harry. tetaplah Harry yang jutek. Itu jutekan kedua untukmu Draco.

"Kenapa kau tidak membalas suratku?" tanya Draco frustasi.

Harry mengrenyit, "Kau menulis surat untukku? Kenapa kau menulis surat untukku? Dan asal kau tahu, suratmu dan surat yang lainnya tidak sampai ketanganku karena suatu hal yang tidak bisa kujelaskan."

Apa maksudnya?

"Aku tidak peduli. Saat sampai dirumah, aku akan menulis surat untukmu dan kau harus membalasnya." Tegas Draco.

Draco, kau makin bossy saja.

Ditahun ketiga, aku sukses mengecap Hermione sebagai ratunya Bitch Face. Karena se-bossy apapun Hermione, ia tidak akan bisa mengalahkan kejutekan Harry. dan tahun ketiga ini adalah tahun di mana Harry dan Draco resmi menyandang status sebagai sepasang kekasih.

Dan ingat saat Draco mengejek Harry di aula besar?

"Potter!"

Satu kali tidak dihiraukan. Aku tahu Harry mendengar panggilan Draco dari punggungnya yang tiba-tiba tegang.

"Potter!"

Dan Harry berbalik menampilkan wajahnya yang bosan.

"Apa benar kau pingsan?" tanya Draco. Dan Crabbe mengolok Harry dengan gaya pura-pura pingsan yang sukses membuat Harry makin bete, "Maksudku, apa kau benar-benar pingsan?"

"Diamlah, Malfoy!" hardik Ron.

Draco tampak tak terima dan membalas, "Hey! aku mengkhawatirkan kekasihku, Weasel! Harry, aku serius. Apa kau baik-baik saja, sayang?"

Harry menghela nafas, "Jangan tersinggung, Sayang. Tapi pertanyaanmu membuat kepalaku pusing."

Ouch, kau dengar itu? walau saling 'sayang-sayangan' Harry tetap jutek seperti biasanya.

"Aku khawatir, Babe!" protes Draco yang tentunya dibalas Harry dengan senyuman lelah.

Lalu di tahun yang sama, saat Draco mengolok Hagrid yang menjadi pengajar Satwa Liar.

"Kasihan sekali. Lihat tempat ini makin hancur! Tunggu sampai ayahku tahu si bodoh ini menjadi pengajar!"

Crabbe dan Goyle tertawa seakan mereka mengerti apa yang Draco bicarakan.

Dan siapa sangka sang kekasihlah yang berani mendiamkan Draco.

"Diamlah, Malfoy."

Draco bersiul dan berjalan mendekati Harry. ia tahu betul kelemahan Harry yaitu jika seseorang memperhatikannya dari atas kebawah. Itulah yang Draco lakukan saat itu. Harry berusaha mundur dan tiba-tiba dikejutkan oleh Draco yang berteriak sambil menunjuk ke atas langit.

"Dementor! Dementor!"

Sontak Harry terpucat dan menoleh ke arah yang Draco tunjuk dan tidak melihat apapun di sana.

Tawa Draco pun menyadarkan Harry yang kini sudah memasang wajah bitch face andalan Hermione.

Dan Draco yang masih tertawa langsung merangkul Harry dengan erat.

"Tenang, sayang. Aku akan melindungimu."

Harry melepas rangkulan Draco, "Kurasa Cedric adalah orang yang tepat untuk melindungiku ketimbang kekasihku sendiri yang mungkin akan menangis jika bertemu Dementor!"

Strike, Draco. Kau kena untuk kesekian kalinya.

Dan saat itu pula Harry memberi Draco silent treatment. Kurasa Draco kapok.

Di tahun kelima adalah tahun di mana pasangan ini sempat putus. Hubungan keduanya pun tampak lebih buruk dari sebelumnya. Mereka seolah saling bersaing untuk menunjukkan bahwa siapa yang lebih cepat move on walau kita tahu tak ada satupun dari mereka yang move on.

Dan ada kejadian di mana mereka saling ejek saat perjalanan menuju Hogwarts. Draco yang katanya sudah move on tapi tidak pernah mau menjauh dari Harry pun dengan isengnya mendatangi kompartemen Harry dan teman-temannya.

Harry tahu betul Draco tengah menyeringai di pintu masuk tapi memilih untuk melihat ke arah lain. dan saat suasana makin canggung dan Harry mulai tidak nyaman, ia pun berkata dengan agresif,

"Apa maumu?"

"Jaga sikapmu, Potter atau aku akan memberimu detensi." Aku yang saat itu di belakang Draco hanya geleng-geleng kepala.

"Kau lihat, aku, tidak sepertimu, sekarang jadi prefek. Yang itu artinya aku, tidak sepertimu, punya kuasa untuk memberi hukuman pada orang sepertimu." Ujar Draco dengan songongnya.

"Ya terserah, tapi kau, tidak sepertiku, adalah orang paling menyebalkan dan brengsek yang pernah singgah di hidupku. Jadi, pergilah dari sini, cepatlah move on, dan jangan ganggu aku!"

Entah kenapa aku kadang merindukan sikap Harry yang jutek. Dan mau tak mau aku tertawa mendengar Draco kena semprot oleh mantan kekasihnya.

"Nice one, Harry!" pujiku yang dibalas Harry dengan anggukan.

Jangan lupa di tahun ke empat Draco sempat mengejek sang kekasih yang saat itu lagi kesal karena semua orang memakai pin yang menghinanya. Tapi aku tidak pakai itu karena takut di marahi Harry. dan Draco juga tidak pakai pin itu. tapi tetap saja si tukang bully satu itu suka mengejek Harry.

"Kenapa tegang begitu, babe?"

Harry melirik Draco yang duduk santai di atas pohon.

"Father dan aku bertaruh, kau tahu. Aku bilang kau hanya bisa bertahan 10 menit di turnamen."

Dan dengan epicnya si bad boy ini turun dari pohon. Diikuti oleh pengikutnya yang lain, termasuk aku. tapi aku Cuma ikut-ikutan, percayalah.

"Tapi father tidak setuju. Ia bertaruh kau hanya bertahan 5 menit."

PLAK!

Draco menatap Harry tak percaya sambil menyentuh pipinya yang merah.

"Aku tidak peduli apa yang ayahmu katakan, Malfoy! Dia jahat dan kejam. Dan kau menyedihkan." Harry kembali mengeluarkan kata-kata kejamnya yang sukses membuat Draco panik.

"Sayang, aku Cuma bercanda, kau tahu itu." bujuk Draco yang tidak dihiraukan Harry.

Dan aku tidak mendengar apapun selanjutnya karena jarak mereka begitu jauh. Tapi yang kulihat Draco sudah memeluk Harry erat sambil membisikkan sesuatu di telinganya. Dasar pasangan aneh.

Ya kita tahu betul seberapa sayangnya Draco pada Harry. dari setiap orang yang menonton turnamen saat giliran Harry, Draco lah yang paling panik dan khawatir. walau ia yang menulis nama KRUM di dahi Crabbe, kita tahu nama POTTER lah yang ada di hatinya. Ah, mereka adalah pasangan favoritku di Hogwarts.

Lanjut ke Rita Skeeter yang juga terkena kejutekan Harry.

Selesai dari tantangan pertama. Rita dengan santainya mendekati Harry, berusaha mencari gosip terbaru yang bisa menjadi berita hangat di Daily Prophet. Dan Rita adalah orang kedua yang paling Harry hindari sesudah Dolores Umbridge sendiri.

"Harus kukatakan, Selamat atas keberhasilanmu di tantangan pertama, Harry." ujar Rita dengan nada genit. Harry yang mulai menampakkan wajah bete terus berjalan bersama Ron seakan wanita itu tidak ada di sekitar mereka. "Aku berpikir jika kau bisa memberi kesan singkat atas kemenangan ini?"

"Ya, Kesan singkat dariku adalah SELAMAT TINGGAL."

Dengan itu Harry menarik Ron pergi menjauh dari Rita yang kini megap-megap bagai ikan.

Jujur, itu adalah jutek yang paling aku favoritkan. Benar-benar savage, kalau muggle bilang.

Harry dan segala kespontananya memang membuat Hogwarts lebih menarik dari yang kau bayangkan.

Siapa lagi yang kena jutek oleh Harry? oh ya! Profesor Slughorn.

Sewaktu Harry tidak mendapatkan ingatan asli milik Slughorn. Ia yang putus asa memilih untuk minum ramuan keberuntungan yang diberikan oleh Slughorn sendiri sebagai hadiah untuknya. Harry yang minum ramuan itu jelas tampak lebih bersemangat dan tak henti-hentinya tersenyum. Sukses membuat orang-orang yang disapanya kebingungan.

Termasuk Draco yang saat itu berpikir kalau Harry menjauhinya tapi malah mendapati sang kekasihnya menyapanya.

"Hai, sayang! Kau makin tampan, kau tahu itu? aku sangat sayang padamu." dan kemudian pergi meninggalkan Draco yang kebingungan.

Dan sesampainya ia bertemu Slughorn, ia berusaha memancing profesor itu untuk ikut bersamanya mengunjungi Hagrid.

"Kalau tidak ada keperluan lain, aku harus menemui teman baikku dulu, Profesor."

Slughorn memandang Harry dengan heran, "Harry!"

Harry tersenyum aneh dan balas menyapa, "Sir!"

"Kau tahu sebentar lagi jam malam. Aku tidak boleh membiarkanmu berkeliaran."

"Kalau begitu ikut saja aku." ajak Harry.

Slughorn tampak ragu dan berkata, "Harry aku tidak bis-"

"Mau ikut atau tidak!" potong Harry dengan nada tinggi dan sedikit pemaksaan. Tidak sopan memang, tapi dia seorang Harry Potter. dia bisa lakukan apapun yang ia mau. Termasuk memaksa gurunya sendiri.

"Demi Janggut Merlin, Harry. baiklah aku ikut. Jantungku mau copot rasanya. Kau bisa mengajakku secara baik-baik kau tahu."

"Baiklah, ingatkan aku hal itu saat aku mengajakmu kencan makan malam romantis lain kali, Profesor."

Ya, Sassy Harry kembali berbicara.

Selanjutnya ada Ronald Weasley.

Ingat saat di tahun ketiga Draco di serang Buckbeak yang sukses membuat Harry panik. Ron mendengar Draco yang tengah membicarakan luka yang ia dapat kepada Harry.

"Apa masih sakit, Draco?"

"Kadang-kadang. Bisa dibilang aku beruntung, kata Madam Promfey. Terlambat semenit saja, aku bisa kehilangan lenganku." Cerita Draco.

"Separah itukah? Kupikir kau hanya kena cakar saja." ujar Harry.

"Aku tidak bisa mengerjakan tugas seminggu kedepan, babe." Lanjut Draco yang membuat Ron mendengus.

"Berlebihan sekali, Malfoy." Ejek Ron yang membuat Draco geram.

"Ron, dia sedang sakit. Jangan mengoloknya seperti itu." bela Harry yang membuat Draco menyenderkan kepalanya ke bahu Harry, dan sempat menjulurkan lidahnya pada Ron.

"Jujur saja, Harry. dia sangat berlebihan. Baru kena cakar saja."

Dan keadaan berbalik saat Ron terkena gigitan Sirius-yang tidak sengaja- dan harus dibopong oleh Sirius sendiri hingga mereka keluar dari pohon whomping willow.

Hermione mengecek luka Ron, "Kelihatannya sakit."

"Sangat sakit." Jawab Ron, "Mungkin kakiku harus dipotong."

Baik Harry maupun Hermione hanya memutar bola mata mereka mendengar betapa berlebihannya Ron. Padahal itu hanya luka gigitan.

"Kuyakin Madam Pomfrey bisa menyembuhkannya dalam sekejap." Ujar Hermione.

"Sudah terlambat. Kakiku sudah lumpuh. Harus diamputasi." Dan ucapan Ron membuat Harry menggelengkan kepalanya.

"Kau serius? Kemarin kau bilang kekasihku berlebihan. Dan lihat siapa yang berlebihan."

"Malfoy hanya terkena cakaran, Harry. lihat aku, aku terkena gigitan." Bela Ron.

"Mau aku tambah cakaran biar kakimu benar-benar diamputasi?" tambah Harry yang sukses membuat Ron memucat.

Lalu kita punya siapa? Oh jangan lupakan saudara muggle Harry. keluarga Dursley yang subur. Dalam artian benar-benar subur, kecuali Petunia yang tampak kurus seperti biasa.

Di tahun yang sama, di mana bibi Marge mengunjungi keluarga Dursley dan seenaknya mengejek keluarga Harry. Harry tak segan-segan menjuteki Marge atas perkataannya yang semena-mena. Coba kita hitung.

"Paman Vernon, bisa kau tanda tangani ini?" tanya Harry yang tengah memegang sebbuah kertas.

"Apa itu?"

"Keperluan sekolah yang harus kau tanda tangani."

"Nanti saja kalau kau bisa jaga sikap." Ujar Vernon acuh tak acuh.

"Aku akan jaga sikap kalau dia menjaga mulutnya."

Satu! Dari Harry.

Marge memandang Harry dengan sinis, "Kau masih di sini?"

Harry balas memandang Marge dengan bosan dan menjawab dengan singkat dan ketus, "Ya."

Dua!

"Jangan berkata Ya dengan nada tidak berterima kasih begitu. Beruntung saudaraku mau menampungmu di sini. Anak itu akan langsung aku beri ke panti asuhan jika ia ditinggalkan di depan rumahku." Kata Marge yang sukses membuat Harry memutar bola mata.

Tiga! Lanjutkan terus kesassyanmu, Harry. aku juga tidak suka wanita itu!

Dan saat makan malam, si gendut Marge mencicipkan minumannya pada sang anjing peliharaan.

Ugh! Menjijikkan. Mungkin itu yang ada di pikiran Harry.

"Kau mau mencoba brandy? Sedikit brandy untuk anjing kesayanganku." Senandung Marge yang kemudian mengangkat kepalanya dan menatap Harry.

"Apa yang kau lihat?" tanyanya pada Harry.

Harry hanya mengedik bahunya tak peduli sambil terus memasang ekspresi bitch face.

Empat!

"Dimana kau sekolahkan anak itu, Vernon?" tanya Marge lagi. Jelas ia berusaha mencari masalah dengan Harry.

"St. Brutus. Sekolah untuk anak-anak yang kehilangan harapan." Jawab Vernon cepat.

"Apa mereka menggunakan tongkat pemukul untuk menghukummu, nak?" Tanya Marge.

"Oh ya, aku sudah sering di pukul dengan tongkat. Sering sekali, hm!" jawab Harry dengan sarkastik. Berharap Marge puas dengan jawabannya dan memilih untuk diam.

Lima! Wow!

"Bagus sekali. Kau pantas mendapatkannya. Jangan menyalahkan dirimu tentang anak ini, Vernon. Semua karena keturunannya yang buruk. Darah keturunan yang jelek. Apa kerja ayah anak itu, Petunia?"

"Tidak ada. Ayahnya pengangguran." Jawab Petunia dengan pelan. Jelas ia tidak berani menyinggung Harry. takut kalau anak itu diluar kendali.

"Pasti pemabuk juga kan?" tambah Marge.

"Itu bohong." Tandas Harry. "Ayahku bukan pemabuk."

Dan tiba-tiba gelas yang dipegang Marge pecah begitu saja. jelas itu salah satu alasan untuk jangan membuat Harry Potter marah.

Apakah aku harus menghitung enam? Kurasa tidak.

Vernon dan Petunia memandang Harry takut jikalau Marge tahu bahwa Harry adalah penyihir.

"Kupikir ini saatnya kau pergi ke kamarmu." Ujar Vernon yang tidak disetujui Marge. Jelas wanita ini belum puas menghina Harry.

"Diam, Vernon. Kau, bersihkan ini." Suruhnya.

Dengan terpaksa Harry mengambil lap dan berjalan ke meja makan untuk membersihkan pecahan gelas.

"Sebenarnya, tidak ada hubungan dengan ayahnya. Semua ini karena ibunya." Lanjutnya lagi, "Sama seperti anjing peliharaan. Jika ada yang salah dengan induknya maka anak-anaknya pun juga bermasala-"

"SHUT UP! SHUT UP!" bentak Harry.

Ini dia, Enam!

Dan kejadian selanjutnya adalah scene di mana Marge menggelembung dan terbang begitu saja entah kemana.

Di waktu yang bersamaan, Vernon juga kena.

"KAU KEMBALIKAN DIA! KAU KEMBALIKAN DIA SEKARANG!" teriak Vernon murka.

"Tidak mau! Dia pantas mendapatkannya!" Harry buru-buru mengacungkan tongkatnya pada Vernon yang mundur ketakutan.

"Menjauh. Dariku." Ujar Harry.

"Kau tidak boleh menggunakan sihir di luar sekolah, nak." Kata Vernon.

Harry tersenyum dan menjawab, "Yeah? Coba saja."

Satu untuk mu, Vernon.

Oh jangan lupakan, Dolores Umbridge!

Saat pelajaran wanita itu, Harry dan Umbridge memperdebatkan cara mengajarnya yang aneh.

"...Bahwa beberapa penyihir hitam sedang dalam pengejaran. Ini adalah kebohongan."

Harry pun protes, "Tidak. Aku melihatnya. Aku melawan Voldemort!"

"Detensi, mr. Potter!" kata Umbridge memotong ucapan Harry.

"Jadi menurutmu Cedric Diggory mati tanpa ada alasan yang jelas?" balas Harry.

"Kematian Cedric Diggory adalah kecelakaan tragis."

"Kecelakaan tragis? Terdengar seperti kelahiranmu!" tandas sassy Harry yang nyaris membuatku tepuk tangan kalau saja keadaan tidak canggung seperti ini. Tapi aku sempat mendengar Draco berbisik,

"That's my babe."

Dan begitulah. Kini kalian tahu kenapa Harry dijuluki sebagai The Boy who Sassed. Bagaimana ia bisa mendapatkan ke-Sassy-an yang luar biasa itu? tidak ada yang tahu. Coba tanyakan pada alis Hermione yang bergoyang.

Tapi bagaimana pun juga, Harry tetaplah Harry yang kita kenal.

Draco, apa kau mau menambahkan sesuatu?

"Haruskah?"

Tidak juga, tapi kurasa fansmu ingin kau berkata sesuatu sebelum fic ini selesai.

"Oke, baiklah. Pertama, aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi sungguh, kejutekan Harry membuatku semakin cinta padanya. Kurasa kalian juga menyukai sisi lain kekasihku itu. Oh, Harry dan segala kejutekanmu. Jangan pernah berubah, sayang. jangan pernah berubah."

Awww, itu manis sekali! Baiklah, kurasa itu cukup untuk kali ini. Sampai jumpa semua! Draco! Katakan sampai jumpa.

"Bye, guys!"


END

A/N

Yap, penutup yang bagus Theo dan Draco. Terima kasih atas review sebelumnya I love it! dan semoga kalian puas dengan chapter yang ini. gak banyak yang bisa aku sampaikan. Terima kasih sudah membaca. Dan sampai jumpa di fic yang lainnya. Bye bye!

Veelove.