Fall To Deep 'Sequel'
AU, Yaoi, Boys Love, Angst, Romance, Marriage Life
Main Cast : Kris, Yixing, Luhan, Baekhyun, Jongin
Rated : T
N/A : Sengaja gak KraYeol pisahin ff ini sama ff 'Fall To Deep' LuMin Version. Sebab terkendala pada beberapa hal yakni, boros tempat, mengingat jumlah review yang semakin hari semakin menipis-digabung rasanya lebih baik-, juga pemilihan judul yang ruwet (sebenernya KraYeol yang ga mau repot-repot). Toh, ff nya juga saling terhubung satu sama lain jadi apa salahnya.
Khusus buat pembaca yang kemaren bingung sama 'kasus penjebakan' yang menimpa Luhan di 'Fall To Deep' LuMin Version, nah, disini udah KraYeol tulis sedikit keterangan agar menunjang ff menjadi masuk akal dan tidak asal.
S/A : Buat yang mau baca ff ini berhubung karena menyukai Kray, disarankan buat baca Versi LuMin juga meski di skip-skip (KraYeol ngerti kalo semisal ada Kray Shipper yang ga suka Lumin), biar gak bingung aja sih, soalnya ini cerita berhubungan banget. Oke?!
Happy Reading For…
Fall To Deep (Sequel)
'Part 1'
Present..
.
.
.
"Nama Kim Daehee (33 th), Tinggal dikawasan Namyangju, tidak memiliki orang tua, hanya seorang kakak perempuan bernama Kim Dana (38 th) yang menetap di Australia bersama suaminya_"
"Cukup."
Lelaki yang memakai pakaian formal layaknya pekerja kantoran itu menyudahi keterangan yang ia baca pada selembar kertas ditangannya. Kedua matanya kembali menatap sang atasan. Menunggu.
"..Sekarang, bacakan apa yang menjadi motif penjebakan yang ia lakukan dikalangan para pria."
"Baik_" Ia mengangkat kertasnya kembali. Mulai berkonsentrasi. "_Sebelum kasus ini, Kim Daehee pernah mendekam dipenjara selama lima belas tahun karena diduga kuat telah membunuh kedua orang tuanya demi seorang perempuan yang dicintainya. Lantaran tidak mendapat restu, ia rela melakukan hal keji tersebut_" Secara alami, alis lelaki itu naik setengah. "_Namun ia menerima kabar bahwa perempuan yang ia cintai memilih menikah dengan orang lain ditahun kelima ia menjalani hidup sebagai tahanan_wow~_" Dan sekarang, ia berdecak kecil. Dramatis sekali, fikirnya.
"Lanjutkan."
"_Dibuang oleh satu-satunya saudara yang ia punya, Kim dana, Daehee mulai menjalani bisnis gelap bersama sekelompok prostitusi gay yang berasal dari Amerika Serikat. Prostitusi ini mengacu kepada praktik ilegal yang menghasilkan komisi luar biasa dari rumah 'pelacuran laki-laki' yang berada di Paresis Hall di distrik Bowery New York, dengan cara menjebak kliennya. Biasanya, para lelaki pekerja kantoran yang menjadi korban. Motif utamanya belum diketahui pasti, masih dalam proses penyelidikan. Karena sejak penangkapan dilakukan, Daehee lebih banyak bungkam dan_"
"Menurutmu, tindakan Daehee lebih kepada mencari uang atau…. pembunuhan rasa terhadap perempuan?"
"Hmmm…Dua-duanya..mungkin."
"Oke, cukup! Sekarang tentang korban… Apa ada hubungannya dengan kematian seorang lelaki asal korea di China seminggu yang lalu?"
Menggaruk tengkuknya, lelaki yang bertugas sebagai pemberi keterangan membolak balik beberapa lembar kertas ditangannya. "Sedikit yang saya ketahui Sajangnim."
"Katakan."
"Dari informasi mentah yang saya dapat, sebelum korban terakhir bernama Park Chanyeol (25 th), ada seorang korban lagi bernama Xi Luhan (27 th), ia merupakan mantan suami dari Alm. Kim Minseok (28 th) korban kecelakaan lalu lintas di kawasan Taoyuan, China, seminggu yang lalu. Sekarang, Xi Luhan menetap bersama keluarga barunya di kota Guangzhou, China."
"Lalu, apa hubungannya dengan orang yang sedang kau selidiki sekarang?"
"Hanya mengorek sedikit informasi Sajangnim. Aku tidak menyelidikinya, dia jelas tidak bersalah."
"Apa yang membuatmu begitu yakin?"
Lagi, kertas lain yang berada ditangan lelaki itu terangkat. "Namanya Kris Wu (27 th), tinggal di kawasan Sacheon, merupakan satu-satunya keluarga yang ditinggal Minseok pasca kecelakaan maut yang merenggut nyawanya. Hanya itu."
"Suaminya?"
"Anda benar Sajangnim."
"Baiklah, Yixing-ssi. Kau boleh melanjutkan pekerjaanmu."
Membungkuk hormat. Lelaki yang dipanggil dengan sebutan Yixing itu pamit pergi dari ruang atasannya.
Dia adalah Zhang Yixing (20 th). Dia bukan aparat maupun detektif. Hanya seorang mahasiswa akademi kepolisian Korea Selatan yang sedang menjalani praktek lapangan. Ditempatkan dibagian penyelidik, membuat ia merasa ini suatu kebetulan yang baik, ia mendapat banyak pengalaman ditahunnnya. Meski sebenarnya ia tidak memiliki cita-cita menjadi seorang polisi sedikitpun. Namun kasus Kim Daehee dirasa cukup membantunya.
.
.
.
Seoul, minggu pagi..
Jalan setapak yang Yixing lewati terasa begitu lengang. Kali ini bukan setelan kemeja dan celana goyang yang ia kenakan, melainkan hanya pakaian casual khas sehari-hari. Ditangan kanannya ada sebuah note kecil yang baru ia beli disupermarket, sementara tangan kirinya sibuk mendial sebuah nomor yang baru-baru ini mengisi daftar kontaknya.
"Hallo.."
"Hallo Kris-ssi. Ini aku, Yixing. Anda ingat?"
"Iya. Ada apa?"
"Sesuai dengan perjanjian kita tempo hari. Saya segera menuju kerumah anda."
Ada helaan nafas yang terdengar oleh Yixing. Sangat pelan namun berat. Lalu pemilik suara baritone itu kembali terdengar, membuat Yixing menghentikan langkahnya sejenak.
"..Maaf, aku tidak bisa hari ini."
Yixing agak kaget. "Tapi saya sudah sampai didepan rumah anda."
"Pulanglah, aku sedang tidak enak badan."
"Jadi anda dirumah?" Reflek Yixing menjulur-julurkan kepalanya kearah gerbang rumah Kris.
"Hm."
"Bukakan saya pintu, Kris-ssi."
"Kau_"
"Akan sangat tidak sopan jika anda membiarkan saya diluar sementara anda menyetujui janji pertemuan yang telah dibuat. Seharusnya anda menghubungi saya dan memberikan pernyataan tidak dapat memenuhi_"
"Baik. Baik."
Kemudian diam..
Yixing diam, Kris pun diam. Tak ada suara setelahnya. Namun setelah sekitar satu menit_
"Kau hanya akan berdiri disitu?"
"Oh?"
"Masuklah."
Dan dengan begitu, Yixing pun melenggang masuk mengikuti langkah si pemilik rumah yang semula membuka pintu gerbang untuknya.
.
.
.
"Minum apa?"
"Terserah."
Kris pamit sebentar untuk mengambil minuman kedapur. Namun belum sampai beberapa langkah, suara Yixing terdengar lagi.
"_Tapi akan lebih baik jika anda menyediakan es lemon dicuaca yang panas ini."
Sempat berhenti dan berdecih sedikit, Kris pun melanjutkan langkahnya, pertanda ia telah mendengar permintaan yang berawal dari kata 'terserah' oleh tamunya yang tengah duduk tenang diruang depan.
.
.
.
Tidak ingin banyak basa-basi, apalagi dengan keadaan Kris yang memang terlihat kurang baik, Yixing berniat untuk mengakhiri 'wawancaranya' secara cepat. Namun belum sempat ia mengucapkan satu patah kata pun, Kris mengambil kesempatan terlebih dahulu.
"Kau, mahasiswa akademi kepolisian, berumur 20 th, dan sedang menjalani praktek lapangan. Benar?" Kris menyesap kopi hangatnya setelah mengeluarkan sebuah pernyataan yang cukup mengejutkan Yixing.
"Bagaimana anda tahu?"
"Lebih baik kau memanggil namaku saja, atau jika kau bersedia, panggil aku Hyung."
"Tidak_" Yixing menggeleng singkat. "_Saya tidak berhak melakukan itu kepada anda_"
Mau tak mau alis Kris terangkat sedikit.
"…Dari yang kupelajari, jika kita melakukan_"
"Kau bukan polisi maupun detektif asli. Jangan tanya darimana aku mengetahuinya. Kau hanya mahasiswa praktek yang sedang menggunakan keteranganku untuk laporan kerjamu bukan?"
Kali ini Yixing sungguh terdiam. Ia merasa sangat 'sok' sekarang.
"Katakan apa yang ingin kau tanyakan. Cukup dua pertanyaan, lalu pulanglah." Usir Kris secara halus.
"Emm.." Dengan hati yang tidak enak, Yixing mengantongi note mungilnya kedalam saku jaket. Selanjutnya yang dia lakukan adalah meminum lemon suguhan sang tuang rumah, lalu menatap lelaki tinggi itu sejenak. "Maafkan aku." Ungkapnya.
Mendengar itu, Kris menegakkan tubuhnya yang semula bersandar malas disofa. "Tidak, tidak. Aku tidak bermaksud_"
"Kau pasti sangat tertekan akhir-akhir ini. Seharusnya aku faham situasi."
Dengan segala kecanggungan yang melingkupi disekeliling mereka, Kris berkata lagi. "Kuharap kau tidak tersinggung. Aku hanya sedang butuh istirahat." Jujurnya.
"Oh? Tidak sama sekali_"
Melihat senyuman lebar Yixing yang hanya sekilas, ditambah dengan gerakan anak itu yang segera berdiri dari duduknya membuat Kris semakin tak enak hati. Sebagai seorang manusia, tentu dia tidak seharusnya berbicara seperti tadi.
"…Sepertinya kita lanjutkan lain waktu saja, eng_Hyung.."
Ikut berdiri, Kris menyentuh tengkuknya mendengar panggilan itu. Terasa asing namun cukup bagus.
"…Baiklah. Saya pamit_"
"Tunggu."
"Ya?"
"Setidaknya. Tanyakan sesuatu agar kau tidak pulang dengan tangan kosong. Aku sama sekali tidak keberatan kali ini." Sebagai bentuk formalitas, Kris terpaksa melakukan ini. Karena dia yakin meskipun Yixing berkata tidak, usiran halusnya tadi akan tinggal dibenak anak itu.
Well, itu terdengar tidak baik.
"Baiklah_" Yixing mengeluarkan notenya kembali. Kris terlihat menunggunya.
Selesai dengan note dan pena ditangan, Yixing menatap Kris mantap. "_Emm, Hyung, aku akan melakukannya dengan cepat."
"Baiklah."
"Apa hal pertama yang kau lakukan ketika mendengar, maaf, kabar duka dari 'suamimu'? Lalu, proses apa yang kau jalani sebagai pengalihan atau bentuk penerimaanmu terhadap apa yang menimpa keluargamu?"
Cukup terdiam. Kris lantas menggulirkan tatapannya kearah foto Minseok yang terbingkai indah didinding ruangan. Perlahan, hatinya kembali hanyut dalam kesedihan.
Jujur, pertanyaan Yixing cukup membuat hatinya berduka lagi. Mengingat betapa Minseok rela menghabisi nyawanya demi membunuh perasaannya terhadap Luhan sudah cukup menyadarkan ia tentang bagaimana keberadaannya dihati Minseok. Itu menyedihkan.
Minseok-nya mencintai Luhan. Itu sudah jelas..
Diam-diam, Yixing ikut menatap apa yang Kris tatap. Dan didetik yang hampir bersamaan, keduanya sama-sama mengalihkan tatapan satu sama lain, hingga kedua pasang bola mata itu bertemu.
Hening masih mendominasi..
Yixing menunggu. Memberikan Kris waktu untuk memilih kata-katanya. Namun karena tak kunjung mendapat jawaban, Yixing mencoba maklum.
"Kurasa. Pertanyaanku terlalu berat. Hyung bisa menjawabnya kapan_"
"Aku mencintainya lebih dari diriku.."
Dentingan jarum jam kembali menjadi penguasa.
Menunduk sejenak, lalu setelah menguatkan hatinya, Kris mengangkat kepalanya lagi. Mendekati Yixing selangkah. Dan dengan kedua matanya yang berkaca-kaca ia bergumam_
"..Tapi dia mencintai orang lain."
Memang bukan jawaban yang sesuai dengan pertanyaan Yixing. Namun bagaimana tatapan itu seolah mengadu kepadanya membuat hati Yixing ikut merasakan nyeri.
Mata bertemu mata. Yixing sedang mencoba memahami dirinya dan juga detak jantungnya yang berdentum abstrak.
Sebuah keanehan bagi Yixing yang belum pernah ditatap sedalam ini sebelumnya. Cinta Kris untuk 'suaminya' terlihat begitu besar. Yixing merasakannya.
"Aku tahu kau kuat, Hyung.."
.
.
.
Hari-hari pun berlalu..
Yixing tidak lagi menjalani aktifitas sebagai mahasiswa praktek. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan hanya belajar dan bermain seperti remaja seusianya. Umurnya semakin matang, Yixing tahu persis itu. Makanya, demi menambah pengalaman, Yixing mencoba-coba mengisi waktu libur dihari sabtu minggu dengan bekerja di toko pamannya. Satu lagi, Yixing juga memiliki hobi baru sekarang, yaitu mengoleksi novel romansa.
Pernah terlintas dibenak Yixing untuk bertukar sapa dengan lelaki yang pernah menjadi objek wawancaranya. Namun ia urungkan niat itu karena, ayolah.. Yixing tidak boleh bertindak sok akrab lagi!
Sebenarnya Yixing hanya ingin menambah teman, tapi… ide menjadikan lelaki duda dengan umur yang cukup matang juga merupakan pilihan yang kurang tepat, sepertinya.
"Paman, aku izin libur hari minggu ya?"
Sadar ini bukan pertama kalinya Yixing meminta jadwal libur, sang Paman mendecak malas. "Dalam sebulan seharusnya kau bekerja selama delapan hari, tapi dengan seribu satu alasanmu itu kau hanya bekerja padaku menjadi 4 hari, kau ingin makan gaji buta ya?"
"Ayolah paman, aku ini kan keponakanmu."
"Sekarang apa alasanmu, huh?!"
Tersenyum bak orang aneh, Yixing kemudian mengambil sesuatu dari saku tasnya kemudian menggoyang-goyang benda berupa buku itu kedepan muka pamannya. "Paman tahu apa maksudnya?" Tanya Yixing antusias.
"Jangan membuatku pusing."
"Astaga Paman! Baca ini, baca! Ini Novel Best Seller edisi terbaru dan ini tiket Fansign! Aku akan bertemu dengan penulisnya hari minggu nanti! Lihat, betapa beruntungnya aku bukan?!"
Nada riang yang keluar dari mulut Yixing berhasil membuat Donghae-nama sang Paman- ikut tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Hoby baru, heh?"
Yixing mengangguk. "Aku memulainya sejak liburan musim panas kemaren. Kufikir membaca itu membosankan, ternyata tidak juga. Apa lagi dikali pertama aku membaca aku menemukan buku yang begitu menarik. Kisahnya terasa nyata dan menyentuh. Paman juga harus membacanya."
"Malas sekali."
Yixing mencibir.
"..Lebih baik aku mengurusi anak dan istriku, atau tokoku, atau membuka usaha baru dari pada membuang-buang waktuku dengan hanya membaca novel picisan."
"Astaga! Paman membuatku sakit hati."
"Terserah. Pokoknya jangan lupa membawa pulang dua tanda tangan_"
"YAK! KATANYA PAMAN TIDAK SUKA_"
"Ini untuk anakku!"
"Anak Paman?! Maksudnya Kyungsso?! Kyungsoo juga menyukainya?! Jadi paman sudah tau dengan novel ini?!"
Donghae mengangguk malas. "Aku hanya tahu, karena Kyungsoo juga memiliki beberapa koleksi. Tapi jangan cerita tentang kau yang pergi hari minggu atau Kyungsoo akan merengek untuk ikut dan menghabiskan uangku."
"Oke. Siap Boss!"
"Satu lagi. Jangan lupa juga meminta penulisnya menulis nama aslinya disamping nama Kyungsoo."
"Sip, Pamanku yang baik hati!"
.
.
.
Minggu..
Yixing tidak tahu, apakah penulisnya mau membubuhkan nama aslinya untuk novel Kyungsoo atau tidak, tapi yang pasti, ia tak boleh bersifat tidak baik saat fansign nanti. Ah, mengapa ia malah memikirkan si Kyungsoo!
Ada sekitar dua ratus tiket yang dijual, dan kini penggemar novel yang datang juga setara dengan jumlah tiket. Dikarenakan keterbatasan tempat, tiket dibatasi dan beruntung Yixing tidak kehabisan.
Menunggu bukan hobinya, makanya Yixing mengambil kesempatan jeda lima belas menit yang diumumkan panitia untuk membeli minuman. Tak disangka, disaat itulah dia bertemu kembali dengan seorang lelaki tinggi berambut pirang pemilik nama Kris Wu.
"Hyung?! Astaga.. Kau semakin tinggi!" Serunya kelewat jujur.
Kedua alis Kris yang beradu ketika menoleh kearahnya membuat Yixing lagi-lagi tersenyum canggung. Apa-apaan sikapnya!
"Eng..hehe..Maaf. Hyung pasti tidak ingat_"
"Yixing?"
"Eoh?!"
Ada perasaan lega yang Yixing rasakan ketika Kris mengingat namanya. Dan tanpa Yixing ketahui, Kris pun merasakan hal yang sama. Dalam artian umum, yaitu senang ketika orang lain tidak cepat melupakan kita.
.
.
.
Kris bukan penggemar yang mau-maunya menghabiskan uang untuk membeli tiket agar bisa bertemu dengan penulis kesukaannya, bukan. Dia datang untuk alasan yang cukup sederhana. Yaitu_
"Hyung mengenal Deer Lu_7_M?"
_Penulisnya adalah Xi Luhan. Ya benar. Dan dia ingin bertemu lelaki itu.
"Apa kau pernah mendengar nama Xi Luhan?"
Mengeryit, Yixing yang saat itu duduk tepat disebelah Kris pun mulai memikirkan nama yang terasa familiar itu.
"…Mengingat kau pernah membuat laporan tentang penangkapan Kim Daehee juga menyelidiki segala hal yang berhubungan dengan kasusnya, kurasa_"
"O?! Tunggu. Hyung, jangan bilang_"
Dengan dagunya Kris menunjuk. "Iya, dia adalah Xi Luhan yang itu."
Yixing ikut menoleh dengan kaget. Mendapati seorang lelaki tampan namun tidak setinggi Kris berjalan dan menduduki sebuah bangku pers untuk menyambut fans-fansnya. Lelaki berwajah kecil dan memiliki kharisma yang kuat itu tersenyum tipis, kemudian tanpa diduga ketika kedua matanya bersirobok pandang dengan Kris, senyuman pria itu menghilang.
Yixing menyaksikan semuanya.
Bagaimana tatapan dingin itu saling mengunci satu sama lain. Dan bagaimana perasaan tidak enak mulai melingkupi disekitar Kris maupun Luhan. Tidak tahu pasti, namun juga tersirat luka yang mendalam dikedua pasang mata itu.
Iya, saat itu… Yixing melihatnya..
.
.
.
Tidak ingat sudah berapa kali Yixing bertanya kepada Kris tentang apa hubungan keduanya-Kris dan Luhan-, namun Yixing tak mendapat jawaban yang diinginkan. Justru yang ia dengar hanyalah_
"Aku suami Minseok dan Luhan 'hanya' mantan suaminya. Apa itu kurang jelas?"
Minseok?
Bagaimana Yixing mengatakan ini, Minseok itu sudah meninggal dan mengapa pula Kris dan Luhan seolah masih memperebutkannya?! Sebenarnya apa yang terjadi Yixing pun tak faham. Dan dia juga tidak mengerti mengapa dirinya malah terseret kedalam masalah yang tidak ia ketahui alurnya sama sekali. Dia berperan sebagai apa pun tak jelas. Yang dia tahu adalah, Kris menyuruhnya 'menunggu' dia selesai dengan Luhan.
Menunggu yang artinya, dia akan pulang bersama dengan lelaki tinggi itu nanti?
Haah, entahlah. Sekali lagi Yixing katakan, ia tidak mengerti apa-apa dan dia bukan 'pemerannya' disini.
.
.
.
Dua buah kursi yang saling berhadap-hadapan, hanya dibatasi sebuah meja ukuran medium, disanalah Kris dan Luhan duduk. Tak lupa ditemani dua cangkir americano hangat.
Ingin mengakhiri pertemuan ini secepat mungkin, Kris mulai membuka percakapan.
"Ketika pertama kali aku melihatmu datang kerumahku dan Minseok, kufikir kau lelaki yang baik."
Hening..
Luhan memilih diam untuk beberapa detik, dan didetik selanjutnya ia tersenyum tipis. "Aku tidak mengerti maksudmu, Kriss-ssi."
Senyuman miring juga Kris keluarkan. "Aku tidak tahu apa yang telah kau lakukan terhadap Minseok-ku_"
Mendengar itu Luhan mendecih didalam hatinya.
"..Tapi yang kutahu, kedatanganmu membawa dampak yang buruk bagi Minseok!"
Menyesap americano bagiannya sedikit, Luhan lantas menatap Yifan. "Minseok-mu? Tak sadarkah anda bahwa orang yang anda bicarakan sudah meninggal, Kris-ssi?"
"Apa?!"
"Jangan memperkeruh keadaan. Jika kau memintaku datang hanya untuk membicarakan hal ini, lebih baik kita akhiri saja_"
"Bedebah! Kau mungkin mengenalnya lebih dulu! Tapi sikapmu sekarang membuatku kembali bertanya-tanya tentang ketulusanmu, Luhan-ssi! Minseok datang padamu, mengakhiri nyawanya setelah pertemuan kalian! Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan dengannya tapi yang pasti apa yang kalian lakukan saat itu sudah jelas menjadi alasan Minseok mengakiri hidupnya! Dan sekarang hanya begini tanggapanmu?! Kau menekannya, aku yakin!"
Amarah yang terpancar dari seluruh kata-kata Kris, juga dari kedua sorot matanya yang tajam, membuat Luhan mau tak mau memilih untuk melewati ini dengan tenang. Api tidak akan pernah padam jika dilawan dengan api juga.
"Aku tidak pernah menekannya. Minseok yang memintaku berbicara dengannya."
Jawaban tenang Luhan membuat emosi Kris kian tersulut. Dia hanya sedang menyelamatkan itensitasnya sebagai lelaki dewasa sekarang. Ketahuilah, keinginan dirinya untuk memukul wajah Luhan begitu besar saat ini.
"Dan sekarang kau menyalahkan dia?"
Luhan menggeleng, wajahnya terlihat begitu sendu. "Waktu itu aku hanya berkata kalau aku mencintainya.."
"Setelahnya kau menikah dengan orang lain_" Sindir Kris. "_Jelas, kau memberinya harapan palsu."
"Minseok menginginkanku untuk jujur. Aku bisa apa?"
"Cih!"
Luhan maupun Kris sama-sama menghela nafas. Ada beban berat yang terasa dikerongkongan mereka. Ingin rasanya mengungkapkan segala kebencian yang terpendam, namun keduanya memilih untuk tak terlalu tersulut.
Sementara Luhan, jika boleh dikatakan, ia juga pernah melewati hal yang lebih pahit dari Kris. Kris bahkan sudah mulai mencuri hati Minseok disaat mereka masih terikat status pernikahan kala itu. Lihat, bukankah Luhan juga berhak marah?
"Kuharap kau tidak melupakan fakta bahwa akulah yang lebih dulu mendapatkan hatinya, Kriss-ssi."
Sinis, Kris kembali melayangkan tatapan tak suka kearah Luhan. "Lantas, dengan alasan itu kau bisa mempermainkan hati Minseok?"
"Minseok sudah mati Kris!"
"Kau membunuhnya! Kau yang membuatnya mati!"
Gemuruh didada Kris sama kencangnya dengan apa yang Luhan rasakan. Melihat Kris mendorong meja dan berdiri dengan suara bentakannya yang keras, membuat Luhan tidak ingin disalahkan lebih lanjut.
"Aku tidak membunuhnya!"
"Kau membunuhnya! Jika bukan karena kau_" Kris dengan lantang menunjuk Luhan. "_Maka Minseok akan pulang dan kembali padaku!" Nafas Kris berhembus dengan cepat.
"Aku tidak membunuhnya!"
"Kau..Membunuhnya!"
"Itu karena Minseok hanya mencintaiku! Dia tidak rela aku bersama orang lain! Kau puas?!" Luhan ikut berdiri ketika mengatakan itu.
Aura membunuh semakin menguat.
Kris merasa hatinya begitu terpukul mendengar pernyataan Luhan. Lelaki itu benar! Minseok-nya mencintai Luhan, itu sudah begitu jelas. Kris hanya belum bisa menerimanya. Karena sebelum Luhan datang, ia sudah mendapatkan hati Minseok dengan utuh. Maka bukan tanpa alasan juga ia menyalahkan Luhan saat ini. Mengapa Luhan harus datang?! Mengapa Luhan kembali saat itu?! Yifan merasa hatinya begitu kesal dan sakit jika mengingat semuanya. Sakit sekali hingga rasanya mau mati!
Namun kenyataan tetaplah kenyataan.
Yang mana, pelabuhan terakhir hati Minseok benar-benar untuk Luhan. Luhan, untuk cinta pertama, juga terakhirnya. Semuanya jelas, sangat jelas!
Kris tidak dapat membendungnya. Ia menunduk dengan nafas yang tersengal. Kedua matanya memerah, tapi ia tak akan menjadi lemah secepat itu. Mendengar pernyataan Luhan sekali lagi, membuat hatinya kian sedih.
"Aku juga merasa sangat kehilangan Kris.."
Suasana kembali terkontrol. Ketegangan yang semula menguasa perlahan mengendur.
"..Aku tahu kau telah mencintainya begitu besar. Tak ubahnya dengan perasaanku, aku juga begitu mencintainya. Kita sama-sama mencintainya hingga detik ini_" Luhan mengeluarkan segala kata-kata yang tersusun dibenaknya. "_Aku sangat bersyukur dan berterima kasih karena Minseok telah bertemu dengan lelaki sebaik kau. Hanya yang perlu kau sadari Kris.._" Luhan meneguhkan dirinya yang merasa begitu ingin menjatuhkan air mata. "_Apa yang kita lakukan sekarang tak ubahnya dengan menyakiti diri masing-masing."
Kris masih mempertahankan keterdiamannya.
"..Apa yang terjadi dengan Minseok, adalah pilihannya sendiri. Siapapun tidak berhak untuk disalahkan. Itu keinginan Minseok. Dia melakukan semuanya hanya karena tak ingin menyakiti siapapun lagi, baik itu aku, Baekhyun…maupun Kau."
Sekali lagi. Sebuah kenyataan yang begitu mutlak. Bahwa jika Minseok terus hidup bersama dengan Kris, namun hatinya ia serahkan kepada orang lain, maka itu sama saja dengan Minseok menyakiti Kris secara diam-diam.
'Sadarlah Kris, Minseok hanya pernah singgah dihatimu..'
Dan pertemuan singkat itu berakhir dengan segala luka yang kembali terkuak..
.
.
.
Memiliki perasaan yang begitu halus, Yixing sempat mendapati kedua matanya berkaca-kaca mendengar percakapan itu. Namun ia buru-buru menyekanya karena itu terlihat terlalu cengeng. Satu hal, ia semakin faham dengan masalah Kris dan Luhan meski tak mengenal betul titik permasalahannya.
"Ah, ini sperti di drama.." Monolognya.
Tidak banyak hal yang Yixing lakukan diluar ruangan. Hanya menunggu, menunggu Kris keluar. Tidak tahu, mengapa sekarang ia malah terlihat betah mengingat biasanya dia begitu benci dengan yang namanya menunggu.
Namun apa yang ia dapat ketika Kris keluar sedikit tidak mengenakkan.
Saat itu, ketika melihat pintu terbuka, Yixing segera berdiri. Kris keluar dengan penampilan yang sama-bukti bahwa tidak terjadi kekerasan sedikitpun didalam-, hanya wajahnya terlihat begitu muram.
"Hyung."
"Masih disini rupanya."
Kening Yixing sedikit berkerut. Namun ia memilih tak memikirkan ucapan Kris. "Hyung baik-baik saja?"
"Pulanglah. Aku sedang tidak baik."
"Uh?"
Tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi, bahkan melihat Yixing pun hanya sekilas, Kris berlalu dari hadapan Yixing. Membuat Yixing juga tidak dapat berkata apapun.
Dia yang disuruh menunggu, namun dia pula yang diusir-lagi- secara terang-terangan oleh orang yang menyuruhnya menunggu.
Dengan perasaan aneh, antara tak berhak namun juga sedih karena diabaikan, Yixing memungut dua buah novel bercoretkan hasil tanda tangan Luhan yang merupakan miliknya dan Kyungsoo, lalu memeluknya sayang. Menoleh kebelakang sekali lagi, berharap Kris ingat ucapannya yang menyuruh Yixing menunggu, namun nihil. Lelaki itu bahkan sudah menghilang dari jarak pandang.
Ah, mengapa ia begitu kecewa dengan sikap Kris?
.
.
.
Kris belum pergi dari sana. Kemelut yang bersarang didadanya belum mau hilang jadi dia memilih untuk menenangkan diri sejenak. Kris menghempaskan kepalanya sandaran bangku mobil, lalu membuang nafas berat beberapa kali. Teringat akan percakapannya bersama Luhan, membuat hatinya semakin sakit.
Cukup lama terdiam, tiba-tiba Kris tersentak kecil_
"Ah, apa yang kulakukan?!" Kris teringat sesuatu. Dia ingat anak yang seharian ini bersamanya.
Sungguh suatu kebetulan. Karena ketika ia menoleh kearah pintu keluar, ia melihat Yixing disana, berdiri dengan kedua mata menyipit demi menghalau terpaan sinar matahari. Dengan sebuah ransel kecil dipunggung, dan kedua lengan yang memeluk possesive novel Luhan, anak itu terlihat begitu serius menengok kekanan dan kiri.
"Aku harus mengantarnya_" Kris buru-buru keluar dari mobil, menunggu beberapa kendaraan lewat agar ia bisa menyebrang, namun seketika umpatan tanpa direncana muncul dari bibirnya. "_Sial!" Karena ia melihat Yixing sudah lebih dulu menaiki bus kota.
"Mengapa aku begitu ceroboh?" Sesalnya kemudian.
Disitulah, terakhir kali Kris bertemu dengan Yixing, lelaki ceria pemilik lesung pipi yang masih berumur 20 tahun. Mahasiswa akademi kepolisian tahun ketiga-meski anak itu tidak menampakkan bakatnya dibidang itu, sedikitpun-.
.
.
.
Beberapa bulan setelahnya..
Berawal dari segala sikap sok tahunya sebagai tim penyidik, juga dari janji singkatnya bersama Luhan yang juga mempertemukannya dengan bocah itu, ada perasaan mengganjal yang selalu singgah setiap kali Kris mengingatnya.
Saat itu, lintasan jalan yang lebar dan kendaraan yang begitu padat seakan juga ikut menjadi saksi pertemuan terakhir mereka.
Kris tidak biasanya memperlakukan orang lain dengan tidak baik, dan tidak seharusnya anak seperti Yixing mendapati sikapnya yang seperti itu. Bahkan hingga sekarang, sulit bagi Kris untuk melupakan kesalahannya sendiri. Kesalahan terhadap Luhan, juga terhadap Yixing yang ia tinggalkan begitu saja, dengan tidak berperasaan.
Untuk Yixing, wajar saja jika seandainya Kris ingin melupakan kejadian itu. Toh, Yixing belum tentu juga mengingatnya. Tapi setiap kali Kris melihat lelaki muda berseragam polisi dijalan atau dimanapun, ia selalu teringat akan Yixing.
"Pasti sekarang dia sudah jadi polisi.." Diam-diam Kris tersenyum. Konyol memang. Dia siapa, Yixing entah siapa, dan mengapa pula ia meski menyimpan memori tidak penting-atau sedikit penting- itu dibenaknya.
…Entahlah, mungkin karena pertemuan terakhir yang begitu buruk, dan keburukan itu tercipta melalui dirinya, membuat merasa Kris tidak bisa melupakan Yixing semudah itu..
.
.
.
Ujian akhir semakin dekat. Mengingat bahwa sebentar lagi ia akan lulus, membuat Yixing semakin mantap dengan keputusannya bahwa ia tak akan lanjut didunia kepolisian. Tak peduli sebanyak apapun ayahnya mengomeli keputusan Yixing. Yixing hanya akan berkata_
"Ayah, menjadi mahasiswa akademi kepolisian itu bukan keinginanku, itu murni keinginan Ayah. Aku belajar hanya untuk mendapatkan ijazah. Nah, setelah lulus, aku akan berusaha menjadi penulis Novel terkenal."
"Anak sialan!"
"Berarti Ayah juga sialan. Aku kan anak Ayah!"
"YAK! ZHANG YIXING!"
"Apa dia benar-benar anak kita, Yeobbo?" Itu Ibu Yixing yang datang sembari geleng-geleng kepala. Melihat anaknya sudah berlari menjauh-takut mendapat jitakan-, membuat kedua orang itu hanya mendesah pasrah atas tindakan aneh anaknya.
"Entahlah, mungkin kita perlu melakukan tes DNA untuk memastikan."
Setelah sang kepala keluarga mengucapkan itu, keduanya saling bertatapan sejenak, lalu tertawa saking buruknya gurauan mereka.
Yixing, tentu adalah anak kandung yang paling mereka sayang sejak kecil.
.
.
.
Liburan musim panas berlalu begitu cepat..
Sedikit mengalami masalah mengenai tempat liburan mana yang hendak dikunjungi beberapa minggu yang lalu, membuat Yixing dan Jongin-nama sahabatnya- memilih untuk tak bertegur sapa hingga saat ini. Konflik terjadi ketika keduanya yang tengah cekcok malah dilarang liburan dimusim panas oleh kedua orang tua mereka. Tak ayal, Yixing menyalahkan Jongin dan Jongin menyalahkan Yixing.
"Masih betah diam-diaman dengan Jongin?"
Jangankan menghiraukan ucapan Ibunya, Yixing malah menyumbat kedua lubang telinganya dengan headset. Tanda protes dan tidak suka ketika sang Ibu menyakan tentang Jongin sekarang.
"Ayolah kalian sudah besar."
"Lalalala~"
Mendengus. Ibu Yixing meraih ponsel sang anak kemudian mencari kontak Jongin secepat yang ia bisa. Melihat itu, Yixing jadi gelagapan. Sunggung tidak elit jika Ibunya menghubungi Jongin lalu anak hitam itu akan mengira kalau Yixing berniat minta baikan terlebih dahulu?
MIMPI SAJA!
"Yak! Ibu! Kembalikan_"
"Eh.. Ibu salah pencet!"
"Ya Tuhan_"
Srett!
Yixing merebut ponselnya dari genggaman sang Ibu lalu bersyukur dalam hati. Untung salah pencet, fikirnya. Belum sempat melihat ponsel, ia malah menceramahi Ibunya_
"…Ibu jangan membuatku malu dengan menelfon Jongin! Lagi, siapa yang ibu telfon, Heum?"
Sementara sang Ibu hanya mengendikkan bahu dan memilih keluar dari kamar sang anak dengan tidak peduli, Yixing segera mengecek ID orang yang ditelfon ibunya.
Detik diponselnya terus berjalan, namun detik disekeliling Yixing lah yang seolah melambat ketika matanya menatap nama yang tertera diponselnya. Kontak yang masih ia simpan entah untuk apa. Dan kontak yang selalu terletak dibawah nama 'Kkamjong'-sebutan untuk Jongin-.
Dengan cepat, Yixing menempelkan ponsel ketelinga. Dan benar saja, itu masih 'dia'_
"…Hallo?"
Suara itu..
Hening..
"..Yixing?"
Dan mengapa dia masih mengingat Yixing setelah hampir setahun lamanya?
Well, Yixing harus ingat kalau dialah yang menelfon terlebih dahulu.
.
.
.
Bersambung..
Thank's For All.
AND BIG THANK'S For : M2M – shinta. lang – Anaknya Lumin – 799lumin – sukha1312 (Y) makasih buat rewiew kalian yang sangat berharga :*
See U Next Chapter..
^KraYeol^
