Kereta kuda bergerak dengan kecepatan sedang di tengah jalan sepi di hutan. Sang sais mengendalikan dua ekor kuda dengan andal. Dua orang penumpang dalam kereta dibawa menuju desa untuk beristirahat. Kebetulan perjalanan kali ini terhambat karena hari sudah gelap. Nyaris tengah malam atau bahkan sudah dini hari, mereka tak mengecek. Untuk menghindari perampok dan serangan hewan buas di hutan, mereka memutuskan menginap di desa terdekat.
Desa Konoha.
Desa kecil yang ada di ujung jalan berkelok-kelok ini. Menurut sang sais, desa itu adalah desa yang cukup aman dan nyaman. Penjagaan di depan gerbang desa lumayan ketat. Apalagi untuk para pendatang baru. Sang sais meyakinkan bahwa perhentian di Konoha adalah pilihan tepat.
Seorang pemuda pirang dalam kereta mengerucutkan bibir, "Hufft, aku ingin cepat pulang! Aku bosan ikut denganmu!"
"Diam. Kau pikir aku senang ditemani orang bawel."
"Enak saja! Siapa yang bawel saat dijodohkan dengan si kepala merah?!" protes sang pemuda pirang.
"Cih."
"Haha! Kalau kuingat lagi, rasanya sangat lucu!"
"Mati saja kau."
Teriak sang pemuda pirang, tak mengindahkan sumpah serapah majikannya, "Aku ngantuk!"
Kuda-kuda meringkik. Dua pemuda yang menumoang kereta mulai siaga. Kereta kuda kini tak bergerak. Terdiam di tempat.
Pemuda pirang yang tengah tertawa keras tiba-tiba terdiam. Orang yang duduk di depannya juga ikut diam. "Kenapa kereta ini terhenti?"
"Shh. Ada beberapa orang di luar. Mereka membawa senjata tajam."
"Naruto. Urus mereka."
"Sialan. Aku lagi?!"
Jari telunjuk menunjuk tepat di wajah Naruto. "Pergi."
Sarung pedang disambar cepat, "Ugh … kau menyebalkan."
.
.
.
Futari no Otogibanashi © Eternal Dream Chowz
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
|I don't own any chara in this fanfict. This is an unprofitable fan work.|
Pairing: Sasuke U. x Hinata H.
Genre: Romance - Friendship
Rate: T
Warning: Out of Character, Typo(s), Alternate Universe, Rush Plot
.
.
.
Chapter 2. Guard; Naruto
Berganti profesi jadi sais dadakan. Uzumaki Naruto merasa dipermainkan habis-habisan oleh majikannya yang sadis dan berdarah dingin. Singkat kata, kurang ajar. Sialnya, Naruto tidak boleh tidur seharian dan matanya sangat ingin menutup. Ini termasuk dalam hukumannya karena sang majikan nyaris terluka saat kereta mereka diserang di hutan semalam. Sial. Padahal hanya kancing bajunya saja yang terlepas. Keterlaluan.
Naruto merasa kesal! Kenyataannya, jalanan yang mereka lalui dengan sang sais bukanlah jalan menuju Konoha melainkan menuju kedalaman hutan belantara yang Naruto tak kenali. Sais sewaan mereka ternyata adalah anggota perampok juga. Mereka telah merencakan hal ini sebelum hari keberangkatan majikan Naruto. Mereka juga dengan liciknya menentukan daerah sepi di jalanan hutan saat malam hari sebagai lokasi penyerangan. Benar-benar menyebalkan.
Jam saku kesayangan Naruto juga rusak saat mereka mengacungkan pedang tepat ke dadanya. Naruto ingin minta ganti rugi! Minta ganti rugi pada perampok? Ide gila, Naruto sadar akan hal itu itu dan batal melakukannya. Dampaknya, Naruto tak tahu sudah berapa jam ia mengarungi kegelapan dan jalanan menyeramkan dengan lentera yang sudah setengah mati menemaninya di perjalanan menuju Konoha yang berada entah di mana.
Mereka, para perampok sialan itu, habis dihajar babak belur oleh Naruto. Ia sangat ingat dengan wajah licik sang sais. Naruto dengan perasaan puas menghancurkan kacamata berbingkai bundar milik sais gadungan itu. Rasakan! Biar dia tidak bisa melihat dan harus meraba-raba pohon selama berjalan menelusuri hutan.
Dan ini dia daftar penderitaan Naruto setelah penyerangan di senja hari.
Tidak tidur semalaman; jadi sais pengganti; dimarahi sepanjang jalan; kedinginan; kesepian (?); hampir jatuh dari punggung kuda.
Lengkap sudah.
Dan majikannya tertidur lelap di dalam kereta. Hangat dan nyaman. Kalau Naruto tidak bertugas sebagai pengawal sang majikan, ia pasti akan protes keras dan meninggalkannya di tengah hutan. Namun apa daya, seorang pelayan tak boleh melawan tuannya selama ia masih ingin mendapatkan makanan, uang, dan tempat tinggal yang layak. Naruto mengelus dada, sabar, sebentar lagi mereka akan pulang. Tapi sebelumnya Naruto ingin tidur dulu di penginapan desa.
Naruto melepas cravat yang ia pakai, kancing vest yang agak ketat dibuka. Angin dingin menyapa kulit lehernya. Ia merasa lelah dan lapar.
Naruto mengangkat tangannya sampai di atas mata. Melihat ke ufuk timur di mana langit mulai kelihatan. Cahaya mulai tampak. Ia perkirakan ini sekitar jam enam pagi. Naruto mempercepat gerak kuda-kuda dengan sentakan tali kekang. Kedua kuda kini berderap menelusuri jalanan yang mulai kalihatan jelas. Naruto bahkan tak sadar lagi kalau lentera yang mereka pasang di sisi kereta sudah padam karena kehabisan minyak.
"Konoha! Yeah! Itu Konoha kan?! Kita sudah hampir sampai!" teriak Naruto pada kuda-kudanya yang masih berderap.
"Hebat. Sais ternyata berbakat bicara dengan kuda."
Naruto melotot, menatap tak senang pada majikannya yang menguap sambil menjengukkan kepalanya dari jendela kecil di pintu kereta, "Sialan! Kau tidur semalaman dan aku jadi sais! Kau akan membayar mahal!"
"Ya, ya. Carikan penjahit dan tomat segar di desa itu baru kau boleh tidur seharian di penginapan."
"Sialan!"
Tapi Naruto tetap menurut juga. Fakta; kekuatan majikan ada jauh di atas pengawal. Naruto mulai mempertanyakan hukum kesamaan derajat di zaman ini. Sial.
.
.
.
Naruto menguap. Kereta mereka akhirnya diperbolehkan memasuki desa setelah dicek oleh keamanan desa. Naruto sangat mengantuk tapi tugasnya belum selesai. Penjahit dan tomat. Tomat dan penjahit. Naruto tidak kenal desa ini. Bagaimana caranya dia mencarinya?
Saat ia tanyakan pada majikannya, ia malah diberi jawaban menyebalkan. Majikan aristokrat yang minta ditendang. Naruto memutuskan bertanya pada orang lain saja. Kebetulan saja, ada seorang bapak tua berjalan melewati kereta mereka.
Naruto berteriak agak kuat, "Permisi, Pak. Di mana saya bisa mencari penjahit di desa ini?"
"Penjahit? Oh, cari saja toko Amethyst Tailor."
Naruto menatap wajah sang bapak tua dengan berbinar-binar. "Di mana letak tokonya?"
"Agak jauh dari jalan besar. Pokoknya lurus saja dari jalan ini, kalau nanti ada deretan toko roti, berbelok saja ke gang sempit. Kau akan menemukannya di sisi jalan."
"Terima kasih ya, Pak!"
Pria tua itu berlalu setelah melambaikan tangan. Naruto memberikannya sekeping uang perak sebagai ucapan terima kasih dan berlalu menuju arah yang ditunjukkan tadi.
"Hei! Aku mau beli makanan. Kau mau apa?" teriak Naruto ke belakang. Merujuk pada sang majikan.
"Tomat."
"Hei, di depan sana hanya ada toko roti. Aku mau beli roti."
"Tomat."
Naruto mendengus. Kesal luar biasa pada majikannya yang bebal dan keras kepala. Naruto menambatkan tali kekang ke tiang kayu yang ada di depan toko. Ia membiarkan majikannya memaki-maki dari kereta. Naruto lapar. Titik. Ada roti, ya, makan roti. Mau makan tomat? Beli sendiri.
Naruto juga manusia. Bisa lelah dengan majikan manja.
.
.
.
Naruto keluar dari toko dengan muffin cokelat dan sandwich isi bacon. Ia memakannya dengan lahap di atas punggung kuda. Kini matahari sudah bersinar terang. Lumayan membantu Naruto agar tidak mengantuk dan tetap fokus.
"Hmm, belok ke sini ya …" gumam Naruto sambil mengarahkan kudanya berbelok ke gang sempit yang masih bisa dilewati kereta kudanya. Naruto menatap gadis berambut pirang yang berjalan keluar gang.
"Nona, apakah di gang ini ada toko penjahit?"
Gadis itu menatapnya agak lama sebelum menjawab. "Ya, ada. Terus saja agak ke dalam. Tokonya ada di sisi jalan sebelah kiri."
"Terima kasih!"
Gadis itu tersenyum tipis dan kembali berjalan. Naruto bersenandung senang. Sebentarl agi ia akan memeluk guling dan bantal!
"Toko penjahit di sisi kiri! Ya!"
Amethyst Tailor. Open.
"Ah, ketemu!" pekik Naruto dengan semangat. Ia segera turun dari punggung kuda. Ia berjalan mendekat menuju pintu kayu yang agak kusam. Pintu itu ia buka sedikit, Naruto menjulurkan kepala ke dalam.
Seorang gadis muda berambut panjang menatapnya lamat-lamat.
"Ya, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya butuh penjahit."
Naruto menggaruk pipinya. Apa barusan ia kelihatan tolol? Bertanya butuh penjahit di toko penjahit … ah, ya sudahlah.
"Apa … yang mesti saya perbaiki?"
Naruto lupa meminta coat Sasuke yang kancingnya lepas.
"Sebentar."
Naruto bergegas menuju kereta, membuka pintu dengan cepat dan berbisik dengan suara agak keras, "Berikan baju mahalmu itu, Tuan Manja!"
Sebuah garmen dilempar telak ke wajah si pemuda pirang. Naruto sudah menduganya. Sang majikan benci diejek manja dan Naruto tetap melakukannya karena sebal. Sadar bahwa si gadis penjahit memperhatikan, Naruto berusaha tertawa natural dan mendesis, "Manja."
Sang majikan menghardik lagi, kali ini dengan makian. Naruto tertawa keras dan berlari menjauh menuju toko penjahit.
Naruto menyeletuk saat sang penjahit tampak bengong menatap kejadian barusan, "Nona?"
"Ya?" ujar gadis itu sambil menatapnya balik.
"Tolong perbaiki ini ya. Apa bisa selesai hari ini juga?"
Nona itu memperhatikan agak lama sebelum mengangguk. "Yang diperbaiki hanya jahitan kancing saja ya? Hanya perlu waktu sebentar,"
Naruto menghela napas lega.
"Ah, maaf, tapi saya tak punya benang emas untuk menggantikan jahitan ini agar serupa dengan yang lain. Apakah tidak masalah?"
"Tidak apa-apa, ini darurat. Tolong secepatnya ya," ujar Naruto. Hah, kalau pakaian itu mau digunting atau dirobek sampai rusak pun Naruto rela kok.
"Baiklah."
Naruto memutar otak. Selagi pakaian itu dijahit ada baiknya ia membelikan tomat Sasuke. Supaya pekerjaannya selesai dan ia bisa segera istirahat.
"Nona, di mana saya bisa mencari penjual sayur ya?"
"Di … pasar?"
Oh, lagi-lagi Naruto bertanya bodoh. Ini pasti efek kurang tidur.
Sang gadis agak gagap saat menjawab, "M-memangnya mau beli apa?"
"Tomat."
Nona penjahit mengangguk tanda paham, "Pasar agak jauh di depan jalan yang ramai,"
Naruto kecewa berat. Masa harus kembali lagi ke jalan depan dengan jalan kaki. Naruto sudah kehabisan energi!
"Sebentar."
Naruto memperhatikan gadis itu membawa keranjang. Keranjang itu disodorkan di depannya. Naruto agak ragu, setengah tak enak hati merepotkan.
"Silakan diambil."
Naruto tersenyum senang. Tapi ia berhenti sejenak. Teringat bahwa belum lama ini mereka diserang perampok, ia harus memastikan segalanya aman.
"Ini … aman kan?"
Gadis itu mengerutkan kening. "Aku baru saja memetiknya, Tuan."
"O-oh, baiklah," Naruto meringis.
Dua buah tomat diambil cepat. Ia berterima kasih sebelum kembali ke kereta, pintu kereta kembali dibuka dengan kasar. Naruto melempar tomat itu sambil mendengus kasar, "Ini tomatmu, Sasuke."
"Hn."
.
.
To Be Continued
A/N: Hai, hai! Terima kasih sudah review, fav dan follow ya! Saya sangat senang dengan respon kalian! Hehe, apalah saya ini, sebiji abu. Sasuke akan muncul di chap 3! Dan yeah, alur ceritanya lambat dan agak berputar-putar supaya kronologinya sinkron. Alur cerita akan bergerak setelah chapter 4 ya. Mohon sabar~~ Ada yang ingatin saya buat update juga lho~~ Makasih ya. Saya merasa femes /bukan gitu
QUIZ: Kalau ch 1 itu "Tailor;Hinata" dan ch 2 "Guard;Naruto", tebak ch 3 judulnya apa?
Thanks for reading!
Mind to RnR?
Regards,
Ether-chan
