Suzume : Konichiwa! Konichiwa!

Kushina : Uda gak usah banyak basa basi, bilang aja ttebane

Suzume : Ya la ya la... PENTING! Author mau ganti judul cerita karna ngaur sama ending. Siap itu, author mau ganti nama jadi Yuki Suzume, kenapa? Soalnya aneh username ku hahaha

Minato : Ngomong-ngomong wa gak sabar buat chapter 5

Kushina : Tau! Senang kan kau? Suzume pun senang kali la mak comblangin kita

Suzume : Namanya juga fanfiction..

Lisa : Wih.. akhirnya aku muncul juga *mendadak muncul*

Aiko : Tapi jadi orang jahat...

Lisa : Dari pada kamu?

Suzume : Heh! Uda uda! Mendingan kita mulai!

3

2

1

MULAI!


Previous chapter

" Kita mau ke mana sih? "
Minato hanya tersenyum.
" Kita akan ke.. "

Chapter 4 : Flower For You

" Kita akan ke toko bunga sebentar "
Minato tersenyum sedih.
" Oh " Kushina menjadi penasaran untuk apa mereka ke toko bunga.

Sampai di tengah jalan, poni Kushina jatuh ke wajahnya. Ia merapikan kembali rambutnya dan itu terjadi berulang-ulang kali.

" Argh! Rambut jelek! Rambut bodoh! Benci rambutku! " Seru Kushina.
Minato tertawa.
" Jangan begitu, tanpa rambutmu kamu akan terlihat mengerikan "
Minato kembali tertawa sedangkan Kushina melihat ke Minato sambil cemberut.

" Emangnya siapa yang suka sama rambut merah? Gak ada kan? " Kushina melipat tangannya dan melihat ke arah jendela.
" Aku suka, mereka terlihat cantik. Pas sekali untukmu " jawab Minato dengan santainya. Kushina melihat ke arahnya yang ternyata sedang melihatnya.

Kushina mengalihkan pandangan lagi.
" Lihat jalan! Kalo kecelakaan macam mana? " Kushina berusaha mengahlikan pembicaraan.
Minato kembali melihat ke arah jalan dan membelokan mobilnya untuk berhenti di depan toko bunga.

" Kamu tunggu saja di mobil ya, aku akan segera kembali "
Minato wink ke arah Kushina. Kushina melihat ke arah lain yang sebenarnya menyembunyikan rona merah yang sekarang sudah ada di wajahnya.

" Minato.. Sudah lama tidak melihatmu " Seorang perempuan tua berambut coklat muncul. (Name:anon:/)
" Iya.. Bunga biasa ya.. Untuk.. " Minato melirik ke arah bunga berwarna kuning yang jumlahnya 3 di setiap ikatan.

" Baiklah. Ini " Perempuan itu memberikan bunga berwarna kuning itu kepadanya.
" Berapa harganya? " Tanya Minato sambil hendak mengeluarkan dompetnya.
" Jangan khawatirkan itu. Khawatirkan saja pacar mu " perempuan itu melihat ke arah mobil Minato yang di dalamnya ada Kushina sedang melihat ke arah mereka berdua.

" Uh.. Dia bukan pacarku.. Dia hanya teman baikku saja " Minato tersenyum gugup.
" Hah? Sangat menyayangkan, ku kira kamu akhirnya memutuskan untuk mempunyai pacar. Lagi pula dia sangat cocok untuk mu. " Perempuan tua itu sedikit kecewa.
" Aku tidak mau tau! Pokoknya kalau kamu akan punya pacar, tidak boleh yang lain selain dia " perempuan tua itu mendelik ke arah Minato.

" A-a-aku usahakan? " Minato tidak tau apa lagi yang harus di jawab. Sedangkan, Kushina yang menunggu di mobil merasa sangat curiga.
'Apa yang mereka bicarakan?'
Kushina menyipitkan matanya mencoba untuk melihat lebih jelas.

" Baiklah aku pergi dulu ya " Minato tersenyum kepadanya, perempuan itu hanya tersenyum.
" Ingat apa yang ku katakan ya " perempuan itu tersenyum kembali. Minato sedikit sweatdrop dan mengangguk. Sekarang ia merasa kikuk + gaje

Minato membuka pintu mobil dan tersenyum ke Kushina.
" Akhirnya kembali juga ya kamu jelek(saket) " Kushina cemberut.
" Maaf membuat mu menunggu yang mulia " Minato membungkukkan badan berlagak seperti Kushina adalah sang putri.

" Blablabla " Kushina mengejek Minato.
Minato menjalankan mobilnya dan mereka berdua terdiam, tidak tau apa yang harus mereka bicarakan.

Tiba-tiba Minato menghentikan mobilnya.
" Kita sampai.. " Wajah Minato terlihat serius dan ia turun di ikuti oleh Kushina.
'Tempat ini..' Kushina sedikit terkejut karena Minato telah membawanya kemari.

Sekarang mereka berdiri di depan 2 buah batu nisan. Di sana tertera nama orang tua Minato.
'Namikaze? Jangan-jangan..'

Minato menaruh 1 kuntum bunga dan menaruhnya ke salah satu batu nisan.
Lalu berjalan ke satu lagi batu nisan dan menaruh satu lagi kuntum bungu, satu lagi hanya ia pegang.

" Eto.. Minato.. "
" Mereka orang tuaku " Minato tersenyum miris.
Kushina melihat raut wajah Minato. Ia dapat melihat kesedihan di balik senyumannya.

'Wakata.. Dia berkelakuan aneh karena ia mengingat tentang orang tuanya'
Kushina juga ikut sedih.
" Minato-kun. Eto.. Bolehkah aku menanyakan bagaimana kematian mereka? " Kushina sedikit ragu dengan pertanyaannya, ia takut di bentak lagi.

Minato mengangguk.
" Hai.. "

" 3 orang pria dewasa datang memasuki rumah ku dengan paksa dan mengikat kedua orang tuaku. Aku di paksa untuk mengambil semua harta di rumahku karena orang tuaku tidak mau menunjukkannya, jika aku tidak kembali dalam waktu 15 menit.. Kedua orang tuaku akan meninggal.. Aku berlari ke kamar kita dan berusaha membuka sebuah berkas berpassword. Aku berusaha membukanya tapi aku tidak bisa. Aku hendak kembali untuk menanyai orang tuaku passwordnya. Tapi saat aku kembali mereka sudah tergeletak dengan punggung penuh dengan tusukan pisau dan darah di mana-mana. Ke-tiga orang tua itu sudah menghilang "

Tiba-tiba hujan mulai turun cukup deras.

Minato meremas rambutnya kuat-kuat dan terjongkok ke tanah.
" Baka.. Watashi no baka.. Baka! "
Minato mulai menangis, sekarang ia merasa seperti pengecut karena terus mengangis.
Kushina membelalakkan matanya, ia merasa bersalah karena telah menanyakan hal ini kepadanya. Sekarang Minato tersakiti.

Tetapi, Kushina berjalan ke Minato dan ikut kongkok di sampingnya dan tersenyum.
" Itukah yang kau rasakan? "
" Kau tidak mengerti.. " Minato membantah.
" Percayahlah.. Aku tau bagaimana rasanya. Percayalah, aku tau bagaimana rasanya.
Aku tau rasanya menangis di saat kau mandi agar tidak ada yang mendengarmu dan menunggu semua orang untuk tidur agar kau bisa berantakan dan menyakiti dirimu sendiri lebih dalam. Aku tau bagaimana rasanya.. "

Minato mengangkat kepalanya untuk melihatnya dengan mata yang penuh dengan air mata. Kushina tersenyum dengan lembut ke arahnya, itulah senyuman terlembut yang pernah di lihat Minato selama ini.

'Wakata.. Wakata.. Kushina, wakata! Aku sangat buta. Aku selalu memikirkan diriku sendiri sampai aku tidak menyadari kalau selama ini kau juga merasakan hal yang sama. Kushina wakata'
Minato menunjukkan raut wajah sedih.

" Berhentilah menyalakan dirimu sendiri..
Cintailah dirimu sendiri dan banggalah dengan semua yang telah kau lakukan. Bahkan kesalahan, berarti kau mencoba " Kushina tersenyum kepadanya. Dengan perlahan-lahan hujan mulai redah dan matahari kembali menyinari bumi.

Mata Kushina tampak berkilauan dan terlihat sangan cantik di matanya.

Kushina berdiri dan menjulurkan tangannya kepada Minato.
Minato melihatnya dengan mata terbuka lebar.

" Oi! setiap hari adalah awalan yang baru. Cobalah untuk menjauh dari apa yang telah terjadi dan mulailah yang baru.
Putuskanlah bahwa mulai hari ini dan seterusnya akan.. menjadi hari-hari yang indah " Kushina memiringkan kepalanya dan tersenyum dengan mata tertutup.

Minato mengambil tangannya dan berdiri, ia tidak mengatakan apa-apa. Kushina berjalan meninggalkan Minato.

Grep!

Kushina merasakan 2 tangan yang kuat merangkulnya dari belakang. Ia membelalak matanya dan terdiam, ia terkejut dengan kelakuan Minato yang tiba-tiba itu.

Minato menguburkan wajahnya di rambut Kushina.
" Arigatou, Kushina "

Minato menyukai aroma dari rambutnya Kushina, itu membuatnya merasa tenang. Minato juga menganggap rambutnya itu sangat cantik meskipun tidak ada yang pernah suka dengan rambutnya.

Kushina tersenyum.
Pelukan Minato memang kuat tetapi terasa lembut. Kushina merasa segala kesedihannya pergi begitu saja.

Keesokan pagi..

Kushina dan Minato sedang berjalan menuju ke kelas. Fugaku sudah berangkat duluan.
Hari ini tampilan Kushina sedikit berbeda, ada jepit rambut yang menjepit poni Kushina dengan rapi.
Jepit rambut itu di berikan oleh Minato kemarin saat mereka perjalanan pulang.

Kushina ingat saat ia mengkomplain rambutnya yang terus menutupi matanya. Jadi, Minato membawanya ke sebuah toko dan membelikannya jepit rambut itu. Warnanya hitam, cocok untuknya.

Minato membuka pintu kelas, semua orang sedang sibuk mengobrol dan melakukan kegiatan yang lain. Kecuali Fugaku yang duduk diam seperti biasa.

" Ohayo Fugaku " Minato tersenyum kepada temannya.
" Hn " jawaban Fugaku yang memang sudah menjadi ciri khasnya(?)

Kushina melihat ke arah jendela, tidak pasti apa yang sedang ia lihat.
Ia mengingat kembali apa yang terjadi semalam, ia benar-benar bertindak aneh semalam.

Minato menepuk pelan pundaknya.
" Oi "
Kushina berbalik dengan wajah yang agak memerah.
" N-nani ttebane?! " Seru Kushina dengan sedikit gelagapan.

Minato mengangkat satu alis, aneh dengan sikap Kushina.

Tidak lama kemudian, dosen mereka masuk ke kelas..
" Baiklah buka buku hala- "

Kret!

Pintu tiba-tiba terbuka, semua murid melihat ke pintu.

Seorang perempuan dengan rambut kuning dan rok yang menurut Kushina super pendek(?) berdiri di sana.

Ia adalah anak yang tidak kalah terkenal di banding Minato.
Namanya, Lisa.

" Eh? Lisa? Kamu sudah kembali? " Dosen terlihat sedikit terkejut.
" Aku tidak bisa berlama-lamaan tanpa Minato-kun " Perempuan itu tersenyum ke arah Minato.

Minato memasang wajah dingin. Sekarang, Kushina mengerti kenapa tidak ada yang duduk di sebelah Minato. Karena itu sebenarnya tempat duduk Lisa.

" Minato-kun! Tidakkah kau rindu dengan ku? " Lisa memeluk lengan Minato dengan manja. Minato menarik tangannya.
" Untuk apa? " Jawabnya dingin.
" Aku ini kan pacar mu! Seharusnya kamu lebih perhatian kepadaku! "
Kushina membuka matanya lebar, ia tidak percaya kalau Minato sudah mempunyai pacar.
" Aku tidak pernah mengatakan kalau kita itu pacar " Minato memalingkan muka dan berjalan pergi sambil menarik Kushina.

Kushina hanya diam dan membiarkan Minato menariknya.

Skip time~

Lonceng istirahat berbunyi..
Kushina pergi ke kamar mandi.

Ia berjalan ke cuci tangan. Ia membungkuk dan mencuci wajahnya.
Saat ia melihat ke kaca, ia melihat seseorang lewat pantulan kaca yang sedang melihatnya.

Ia menoleh ke belakang dan langsung melihat 2 orang, ia mengenali salah satu dari mereka, yaitu Lisa. Di sebelahnya ada seorang perempuan yang lebih rendah darinya, berambut coklat di kepang 1 dan berkaca mata, Aiko namanya.

" Oh lihat siapa ini " Lisa tersenyum ke arah Aiko.
" Entahlah. Siapa kau? " Tanya Aiko tersenyum.
Lisa memukul kepalanya.
" Baka! Dia Kushina, perempuan centil yang berusaha untuk mendekati Minato " Lisa kembali tersenyum.

Tetapi Kushina tidak menyukai senyumannya.
" Kelihatannya kau dan Minato dekat juga ya "
" Cuman teman baik kok " Kushina memaksakan untuk tetap tersenyum.
'Apa-apaan itu?! Pergi kau sana cewek centil!' Batin Kushina mengamuk.

" Haha! Teman baik! Aku hanya ingin kau tau.. "
" Hm? tau apa? "
Lisa tersenyum bangga.
" Kau tidak punya peluang. Aku adalah perempuan yang paling terkenal di universitas ini dan kau! Hanyalah perempuan aneh yang berpura-pura baik di depannya " Lisa mendelik Kushina.

" A-apa yang kau maksud? Tidak ada peluang? Aku sama sekali tidak mau.. " Kushina membantah.
" Jangan pura-pura. Lebih baik kau menjauh saja dari Minato. Dia milikku! " Mereka berdua berjalan keluar toilet dan dengan sengaja menyenggolnya hingga Kushina terjatuh.

'Peluang? Pura-pura?! Apa maksud semua itu?! Aku tidak mengerti ttebane!' Batin Kushina terus bertanya-tanya.

" Jadi kalian tinggal menambahkan yang ini.. (Blablabla) " dosen mereka mengajar panjang lebar. Semua murid memperhatikan kecuali Kushina. Ia hanya melihat bukunya yang kosong, dari tadi ia tidak tulis apa-apa.

" Kushina "
Kushina tetap melihat ke bukunya.
" Kushina! "
Kushina terkejut sampai ia berdiri.
" Aku tidak iri ttebane! " Seru Kushina tiba-tiba. Semua murid tertawa, suara tertawa Lisa yang paling terdengar.

" Apa yang sedang kau pikirkan Uzumaki-san? " Dosen mereka sampai sweatdrop.
Kushina kembali duduk.
" Maaf, aku hanya gak enak badan. Aku pulang duluan ya " Kushina berdiri dan berjalan melewati dosen mereka.

" O-oh.. Baiklah Kushina.. Pastikan kau beristirahat di rumah " Dosen memperingatkan.
" Tentu " Kushina tersenyum sebelum membuka pintu dan keluar.
Minato merasa ada yang aneh dengan Kushina. Ia tidak seheboh biasanya dan tidak mengatakan kata 'ttebane' di kalimat yang ia katakan.

'Ada apa dengannya?' Pikir Minato.
Sedangkan Lisa sedah tersenyum puas.

Sementara Kushina..

Sekarang ia sudah sampai rumah(nani?)
Ia langsung berjalan menuju ke kamarnya. Kyuubi ternyata sedang tidur di samping ranjang Kushina yang memang besar. Ia langsung merebahkan tubuhnya ke ranjang sambil melihat ke langit-langit lalu ke jam dinding. Jam menunjukkan pukul 3:30.

'Aku ini kenapa sih? Masak aku iri? Mana mungkin! Aku cuman marah aja gara-gara perempuan centil itu bilang-bilang kalo Minato miliknya. Eh, tapi itu artinya aku jealous dong? Udahlah! Mendingan tidur!'
Kushina berbicara dengan innernya(kek sakura aja)

Ia menarik selimut sampai menutupi kepalanya dan memejamkan matanya untuk segera tidur. Tak lama kemudian ia sudah tertidur(yang cepetan?_?")

Satu setengah jam kemudian..

'Shina kenapa sih? Jangan-jangan dia iri? Hahaha seru juga nih. Nanti sampek rumah ku garain dulu ah' Minato senyum-senyum sendiri jalan menuju rumah(Ih ngeri)

'Ngomong-ngomong panggilan shina cocok juga untuknya. Tapi dia pasti marah-marah kalau ku panggil itu terus. Tapi dia juga manggil aku durian jelek' Minato membayangkan wajah Kushina saat berubah menjadi habanero mood.

" Heh Minato. Jangan senyum-senyum sendiri. Nanti di kirain orang kesurupan lagi " " hahaha, biarin! Yang penting happy "
Fugaku menggeleng-geleng melihat Minato yang berubah menjadi OOC (gaje)

" Kamu mikirin si merah itu ya? " Tanya Fugaku. Wajah Minato memerah.
" A-apa? Tidak! N-ngapain aku mikirin dia? " Minato gelagapan.
" Faktor pertama karena dia bertingkah aneh hari ini. Faktor kedua ada kemungkinan kalo kamu suka sama dia " Ucap Fugaku panjang lebar.

" Faktor pertama, aku masih bisa setuju. Faktor kedua, itu mah.. Tidak boleh! " Pria bermata biru itu menutup matanya dan berjalan pergi dengan cuek.

Fugaku memutar bolah matanya 360 derajat dan menyusuli Minato.

Akhirnya mereka sampai di rumah..

" Tadaima.. " Minato berkata saat ia membuka pintu.
" Okaerinasai " Hikaru membungkukkan badan ke arah Minato.
" Hn " Fugaku langsung berjalan ke kamarnya.

" Kushina mana? "
" Tadi dia ke atas, sepertinya sekarang dia di kamar, Minato-sama "
" Baiklah terima kasih "
Hikaru membungkukkan badan dan menyambung pekerjaannya yang tertunda sebentar.

Minato membuka pintu kamarnya dan langsung di sambut Kiiroi, anjing kesayangannya.
Kiiroi menggong-gong riang, ia sangat senang majikannya sudah kembali.

" Sudah.. Sudah.. Aku mau mandi " Minato berjalan ke kamar mandi.

Kushina membuka matanya perlahan dan sekali-kali mengedipkan matanya untuk membiasakan diri dengan cahaya.
Ia mengucek matanya lalu melihat ke arah jam dinding di kamarnya. Jam 5.00.

'Astaga tidur ku lama juga ttebane'

Tok!
Tok!
Tok!

" KYA! "

Gubrak!

Kushina terjatuh dari ranjangnya karena terkejut.
" Siapa ttebane?! " Seru Kushina dengan penuh emosi.

" Boleh aku buka pintunya? "
Suara yang tidak asing bagi Kushina.
" Tidak! " Seru Kushina.
Minato tersenyum miring.
" Kamu marah ya? "

Kushina berjalan ke pintu tetapi tidak membukanya.
" Enggak! " Kata Kushina.
Minato tetap ingin menggodanya.
" Atau mungkin kamu cemburu? "
" Cemburu apa?! " Jerit Kushina lantang.

" Mungkin kamu cemburu gara-gara Lisa tiba-tiba memeluk lenganku " Minato menyeringai.
" Ngapain aku cemburu?! "
" Mana tau.. Asal kamu tau aja ya, gak ada perempuan yang lebih dekat dengan ku selain kau "

Wajah Kushina memerah.
" Diam ttebane! "
Minato terkekeh karena membayangkan wajah Kushina sekarang.
" Okok, gini aja, aku traktir kamu makan mau gak? Sekarang kamu tukar baju dulu, kau pasti belum tukar baju kan? "

Kushina mendengar kata di traktir ia langsung mau, tapi masih gengsi untuk menerimanya begitu saja.
" Hmph! Dasar kau tukang paksa! Sepertinya aku tidak memiliki pilihan lain ttebane "
'Sial! Dari mana dia tau aku belum tukar baju?'

Minato tersenyum puas dan berjalan ke kamarnya untuk menukar baju sekolahnya.

Minato menunggu Kushina di depan kamarnya. Ia sudah tidak sabar untuk melihat bagaimana penampilan Kushina.

Akhirnya, yang di tunggu-tunggu keluar juga.

Minato tersenyum. Memang pakaian Kushina simple tapi terkesan cantik.
Tampaknya Kushina masih terlihat cuek.

" Kita makan di mana? "
" Ada deh. Kamu ikut aja dulu " Minato mengedipkan sebelah matanya.
" Dasar kau ttebane " Kushina melipat tangan di depan dada.
Minato hanya terkekeh geli melihat kelakuan lucu Kushina.

Mata Kushina melihat ke kiri lalu ke kanan berkali-kali.
Terakhir kali ia pergi ke mall adalah saat dia masih kecil, sudah lama ia tidak pergi ke tempat luas itu.
Apa lagi orang-orang terus melihat mereka berdua karena mereka hanya datang berdua dan itu membuat mereka terlihat seperti berkencan.

Minato yang melihat keadaan itu menjadi tambah ingin menjahili Kushina.
Tangannya bergerak lalu menggenggam tangan Kushina, sekarang mereka tampak bergandengan.

" O-oi! Kamu ngapain ttebane?! " Wajah Kushina sedikit merona.
" Jelas kan? Gandeng tangan mu " jawab Minato enteng.
" Bukan itu! Ngapain kamu gandeng-gandeng tanganku? "
'Dasar kau bodoh!' Batin Kushina geram.

" Jaga-jaga. Mana tau nanti kamu hilang? " Minato memasang muka polos.
" Astaga, aku bukan anak 6 tahun! Aku bisa jalan sendiri. L-lepasin! Semua orang lihatin t-ttebane.. " Kushina melihat ke orang-orang yang terus melihat ke arah mereka.

Minato tidak berkata apa-apa dan terus berjalan dengan senyuman di wajahnya.
Kushina pasrah dan membiarkan tangan Minato terus memegang tangannya.

Kushina baru selesai memakan makan siangnya tadi. Tampaknya ia gelisah, seperti sedang memikirkan sesuatu.
" Shina " panggil Minato.

" ... "

" Oi " ia melambaikan tangan di depan wajahnya.
Kushina tersadar dari pikirannya.
" E-eh? Iya? "

" Kamu mikirin apa sih? "
Dari tadi sejak mereka datang Kushina terus melamun.
" Aku gak mikirin apa-apa ttebane " Kushina memalingkan wajah, sepertinya dia masih merajuk.

Kushina melirik ke penjuru cafe tersebut.
Yang datang semuanya itu keluarga, hanya Minato dan dirinya yang datangnya berdua.

'Ya ampun! Kenapa tadi Minato gak ngajak Fugaku sih?! Kalo kek gini kan kita jadi kek pacaran ttebane!' Batinnya heboh.

" Jadi kau masih merajuk? Kalo gak gini aja, aku punya bukti kalo kamu jauh lebih penting dari pada dia "

Ia mengeluarkan sebuah kotak yang berisi handphone mewah di dalamnya.

" Ha? Kamu beli hp?! Ngapain?! Ya ampun aku sudah bilang aku gak merajuk ataupun iri ttebane! "
Kushina bukan perempuan yang mau menyusahkan orang apalagi minta-minta. Lagi pula ia tidak tau cara memakai handphone mewah seperti itu.

" Ow gak mau? Kalo gitu aku buang aja ya "
Katanya dengan enteng. Kebetulan di dekat mereka duduk ada tempat sampah.
Ia hendak memasukkan kotak hp itu ke dalam tapi di hentikan Kushina.

Sebenarnya kalo soal memaafkan, Kushina itu tidak marah dengannya. Tapi rasa gengsinya tidak bisa di lawan. (Author juga sering rasain gitu)

Tapi bagi Minato di balik ke gengsiannya selama ini itu menyimpan perbuatan yang sangat baik, Kushina hanya bersembunyi di balik topeng.

Perempuan seperti Kushina tidak mudah di temukan (Limited Edition lol).
Kebanyakan perempuan kalo di kasih hp pasti langsung nerima. Sedangkan Kushina, malah marah-marah. Benar-benar beda dari yang lain.

(Skip time yo? Peace yo :D)

Kushina berada di atas tempat tidurnya, lampu kamar tertutup tetapi Kushina masih belum tidur.
Dia masih mengutak-atik handphone barunya, tampaknya ia sedikit kesulitan menggunakan benda canggih itu.

Ia menyentuh-nyentuh layarnya, ia membuka app yang berisi gambar-gambar yang gak jelas. Lebih tepatnya diambil Kushina sepanjang jalan tadi sore saat di mobil karena ingin mencoba-coba.

Lalu sampai ke sebuah foto di mana Minato sedang menyetir dengan pandangan lurus ke depan, wajahnya terlihat serius dan terkesan tampan baginya, sama seperti model.

Tok
Tok
Tok

" AKU AKAN MENGHAPUSNYA TTEBANE! " Kushina terjatuh untuk kedua kali dari tempat tidurnya.

Ia berjalan ke arah pintu dan membukanya, ternyata Minato.

" Menghapus apa? " Tanyanya sambil memasang tampang polos.

" Pokoknya gak ada hubungan dengan kau ttebane! " Seru Kushina tiba-tiba padahal semua orang sudah tidur.

Minato hanya terkekeh pelan.
Kushina menyadari kalau ada yang aneh dengan Minato.
Ia memegang bunga berwarna kuning sekalian dengan pot.

Kushina memiringkan kepala.

" Hehehe.. Kushina, bungamu ini untukmu saja ya.. " Minato menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal.

Saat Kushina kembali melihat ke arah bunga yang di pegangnya, ia menjadi teringat kalau bunga itu terlihat serupya dengan bunga yang Minato beli saat mereka hendak pergi ke tempat orang tuanya di semayamkan.

" Aku ini tidak baik dalam menjaga bunga. Setiap kali, semua bunga yang berusaha ku rawat itu selalu saja layu " Tambah Minato agar kata-kata yang di katakannya lebih jelas.

" Jadi kamu mengira kalau aku bisa merawat bunga ini dengan baik ttebane? " Tanya Kushina sambil mengambil bunga itu dari tangan Minato.

" Aku tidak mengira. Aku tau " kata Minato pasti.

" Kalau begitu ya sudah " kata Kushina pasrah.

" Jaga bunga itu baik-baik! Anggap saja kalau ini adalah janji kita " Pesan Minato sebelum berjalan pergi.

" Aku berjanji kalau aku akan menjaga bunga ini sampai kapan pun ttebane! " Jawab Kushina dengan cengkringan khasnya.

Kushina menutup pintu di belakangnya dan menghidupkan lampunya.
Ia lalu meletakkan bunga itu di jendela kamarnya.

Kushina kembali menutup lampunya dan berbaring ke kasurnya. Ia mematikan handphonenya dan meletakkannya di atas meja lalu menutup matanya.


Suzume : Akhirnya...

Lisa : Kok gua nyebelin kali sih di sini?

Suzume : Suka hati saya la mau gimana

Aiko : Aku ma.. kek orang bego *sweatdrop*

Kushina : Hahaha.. bego si bego, tetap aja jahat ttebane

Minato : Chapter 5 yang gimana, Suzume?

Suzume : Makanya ini mau aku kasih sedikit (anggap saja spoiler).

Kushina : Ya uda mana?

/" Seminggu lagi?! "/" Apa aku benar-benar harus memakai itu? "/" Hancur semuanya! "/" Aku sama sekali tidak setuju "/" Hahaha! Itu sangat cocok untukmu! "/" Kau lupa sepatumu! "/" Aku mencari adikku, Kushina Uzumaki "/

Next Chapter : Stage Disaster

Kushina : Gantung amat. Siapa yang nyari gue? Cewek? Cowok?

Minato: Cewok kali ya?

Lisa : Pasti cowok!

Aiko : Tebakan gue si cewek!

Suzume : Kok jadi pada tebak-menebak? Tidur we tidur!

Minato : Ok. Mimpi indah ya Kushina *cium kepala Kushina*

Kushina : *muka semerah tomat*

Suzume : Tukan mesrahan lagi-" #jomblo

Suzume, Kushina, Minato : Oyasuminasai minna.. *nutup lampu*

Review
Please :)