Author : Hehehe.. hallo *ngelak dari pisau yang di lempar readers* Gomenasai! Author betul-betul sibuk.. Soalnya hari itu pindah rumah..
Kushina : Jadi curhat -"
Minato : *baca skrip* Wow.. menarik..
Kushina : *ikut baca skrip* Kok ada scene yang kek gitu?!
Author : Kek gitu apanya? Sudah jangan banyak komentar! Mulai saja! Oh iya tapi sebelum mulai..
Kai-Chan! (Semoga Kai-chan ada baca ini)
Entah kenapa author gak bisa jawab review mu, gak ada tombol replay..
Jadi jawaban untuk pertanyaan mu itu.. Memang gak ada tertulis di cerita mereka masih mengira dia menghamilkan kushina atau gak. Sebenarnya author mau buat Kushina sama minato membabarkan kertas yang tertulis kalau itu semua salah paham, tapi rasanya salah tempat kali di cerita.. Jadi engak aku tulis deh hehehe...
Ok sekarang..
1
2
3
Mulai!
Kushina berjalan ke arah lokernya. Ia akan membukanya, tetapi ia melihat beberapa kertas yang terjepit di pintu lokernya. Saat ia membukanya, surat-surat langsung berjatuhan dari lokernya.
" Eh? " Kushina melihat surat yang berjatuhan di lantai.
Chapter 7 : Kushina's Day
Waktu sudah berjalan satu minggu setelah Kushina mengikuti ujian remedial. Besok adalah hari yang paling tidak di sukai Kushina yaitu hari..
" Tadaima.. "
Hari ini mereka pulang lebih cepat, mereka pulang jam 12:00 karena guru mereka harus pulang karena masalah keluarga. Seperti biasa Minato pulang membawa seplastik besar surat-surat.
" Aku benci hari Valentine dattebane "
Ya, itulah hari yang paling tidak di sukai Kushina. Bukan hanya karena ia akan melihat warna pink menghiasi seluruh jalan, tetapi ia juga akan melihat orang berpacaran dan berbicara dengan lebaynya. Dan hari ini alasan kenapa ia tidak suka Valentine sudah bertambah, yaitu..
" Kushina juga dapat? " Tanya Mikoto tiba-tiba.
Kushina membalikkan tasnya dan surat-surat yang tidak kalah banyaknya dengan milik Minato. Memang Minato selalu mendapat surat bahkan sebelum hari Valentine saja lokernya sudah banyak di selipkan surat.
Wajah Kushina gelap.
" Bagaimana cara aku membaca ini semua dattebane? " Tanya Kushina.
" Baca saja beberapa surat dengan acak dan membacanya " Tsunade berjalan ke meja makan membawa makanan.
Kushina menghela nafas.
" Jangan khawatir.. Kita baca sama-sama surat-surat itu " Mikoto tersenyum.
Fugaku berjalan ke kamarnya membawa tasnya. Mikoto membantu Kushina memindahkan surat-surat itu ke meja di ruang tamu. Mereka berempat (tsunade, kushina, mikoto, minato) duduk di sofa.
" Ok.. Aku duluan! " Mikoto mengambil salah satu surat itu.
" Dari Takashi. Uumm... Aku mohon nikahi aku? Apa ini? " Mikoto meletakkan surat itu ke sisi meja lain.
" Giliran ku. Dari Mitsuo. Aku tahu setiap detail dirimu, aku mengikutimu kemana pun kamu pergi, aku mencintaimu! Tolong jadilah pacarku? Astaga itu mengerikan dattebane " Kushina meletakkan surat-surat itu di sisi meja lainnya.
" Sekarang bibi. Dari Sichiro. Aku tau aku baru pindah kemarin ke universitas ini, tapi aku sudah langsung menyukaimu! Aku mohon jadilah pacarku. Kenapa isi surat-surat ini aneh-aneh semua? " Tsunade meletaknya surat itu ke kumpulan surat lainnya yg sudah di baca.
" Minato, kamu kenapa? Dari tadi kamu diam terus, kamu gak mau coba baca juga? " Tanya Mikoto. Minato memang diam sejak mereka membaca surat-surat itu tadi.
" Tidak kenapa-kenapa " jawab Minato singkat. Ia langsung mengambil tas dan seplastik surat-surat itu ke kamarnya. Mereka semua hanya melihatnya dengan bingung.
" Aww.. Bukan itu manis Kushina? Dia cemburu " Mikoto tersenyum ke Kushina.
" Hah? Apa iya dattebane? " Tanya Kushina dengan wajah polos yang kebingungan.
" Kamu memang tidak peka " Tsunade memukul kepalanya sendiri.
~Di kamar Minato
Minato merebahkan dirinya ke ranjang. Kiiroi melompat ke ranjang dan juga ikut merebahkan diri di sebelah Minato. Ia mengelus kepala Kiiroi perlahan.
Lalu ia mengubah posisinya menjadi posisi duduk menghadap anjingnya yang juga sudah mengubah posisi menjadi posisi duduk.
" Menurutmu Kushina akan menuliskan aku sesuatu? Atau mungkin membuatkan aku sesuatu? " Minato sekarang menjadi berbicara dengan anjingnya.
Kiiroi hanya melihatnya terus.
" Aku meragukan itu.. Dia tidak terlihat tipe perempuan yang seperti itu, lagi pula dia mungkin tidak menyukaiku.. Argh! Kenapa dia harus sangat menarik?! " Ia mengacak-acak rambutnya frustasi.
" Apa harus aku yang menuliskan dia surat? " katanya lagi. Kiiroi hanya menguap.
Tok!
Tok!
Tok!
" Siapa? " Tanya Minato.
" The Red Habanero dattebane " terdengar jawaban dari pintu.
" Berhenti memanggil dirimu dengan nama itu " Minato sweatdrop.
Kushina membuka pintu lalu mengintip ke dalam sambil tersenyum menampakkan giginya.
" Kenapa? Bukannya itu cocok untuknya? Oh iya, cepat kebawa, makanan sudah siap " kata Kushina sambil langsung menutup pintu kamar Minato.
Setelah selesai makan, Minato langsung pergi ke kamarnya, itu bukan sikap biasanya.
" Dia kenapa sih dattebane? " Tanya Kushina sambil melihat ke arah Minato.
" Kan aku sudah bilang! Dia itu cemburu.. Pokoknya kamu tidak boleh diam saja, kamu harus melakukan sesuatu " jawab Mikoto.
" Hm? " Kushina memiringkan kepala.
Mikoto menghela nafas.
" Apa yang biasa di kasih perempuan ke laki-laki saat hari valentine? " Tanya Mikoto berusaha sabar dengan adiknya.
" Umm... Jus lemon? " Kushina tersenyum gugup.
" Bukan! Perempuan memberikan coklat " jawab Mikoto.
" Ooohh! Itu tidak masuk akal " Kushina melihat Mikoto dengan tatapan bosan.
Mikoto menghela nafas lagi.
" Baiklah.. Ikut aku ke market, beli perlangkapan untuk membuat coklat, pulang ke rumah dan segera membuat coklat itu ke dia "
" Sekarang? "
" Sekarang "
Mikoto menyeretnya sampai ke market dan mereka membeli bahan-bahan yang di perlukan. Setelah selesai, Mikoto langsung menyeret Kushina keluar dari market itu.
" Tunggu dulu, aku- "
" Pokoknya kamu harus membuatnya " potong Mikoto.
Saat mereka sampai di depan pintu rumah.
" Tapi- "
" Gak ada tapi Kushina, Minato itu orang yang special untukmu iya kan? Aku yakin dia juga berpikiran yang sama " Mikoto tersenyum.
Mikoto mengintip ke dalam sekilas untuk mengecek apa ada orang atau tidak. Saat memastikan tidak ada Minato di sana, ia membawa masuk bahan-bahan itu.
" Kau tidak mengerti, aku- "
" Aku mengerti Kushina, kau hanya gugup. Kau tidak perlu gugup, Kushina " potong Mikoto lagi.
Ia meletakkan semua bahan-bahan itu ke dapur.
" Sekarang kita bisa mulai membuat coklat-coklatnya. Kushina kau buat saja untuk Minato, aku akan buat un..tuk.. " Senyum Mikoto memudar saat melihat tatapan datar Kushina.
" K-kenapa? K-kamu tidak enak badan? " Tanya Mikoto sambil tersenyum gugup.
" Aku berusaha mengatakan. Aku tidak bisa membuat coklat dattebane! " Jawab Kushina agak kuat dengan frustasi.
" O-oh.. Begitu ya.. Kalau begitu aku akan mengajari mu! " Mikoto berkata dengan bersugguh-sungguh.
" Um.. Apa kau yakin? Aku itu sama sekali tidak bisa memasak ttebane " Jawab Kushina. Mikoto bisa mendengar nada tidak kepastian dari Kushina.
" Tentu saja! Ikut saja apa yang aku katakan. Pertama parut setengah gelas mentega coklat lalu di lelehkan "
" Kenapa harus di parut dulu? Kenapa gak langsung di lelehkan saja ttebane? " Tanya Kushina.
" Kalau kamu melelehkannya dulu, nanti akan lebih mudah di lelehkan " jelas Mikoto. Mikoto tersentak karena baru teringat sesuatu.
" Kushina! Minato tidak boleh tau kalau kita sedang membuat coklat! "
" Serahkan saja itu ke aku. Kyuubi! " Panggil Kushina. Kyuubi langsung turun dari lantai dua ke arahnya.
" Bisa tolong jaga Minato agar tidak keluar dari kamarnya? " Tanya Kushina. Kyuubi menggonggong sebagai jawaban 'ya'. Mikoto hanya tersenyum melihat kelucuan Kyuubi yang langsung berlari ke atas. Ia langsung duduk di depan pintu kamar Minato.
" Baiklah kita sambung! "
Minato duduk di mejanya, di depannya terdapat buku pelajaran yang sebenarnya sudah di pelajari berkali-kali. Habisnya, ia tidak tau harus melakukan apa.
" Gula! Bukan itu! Jangan masukkan! "
" Aaa! Terlambat dattebane! "
Minato menoleh ke arah pintu. Ia bisa mendengar suara Mikoto dan Kushina. Karena merasa penasaran, ia berjalan ke arah pintu dan membukanya. Saat ia akan berjalan keluar, Kyuubi menyerangnya entah dari mana. Minato terjatuh ke belakang dengan keras dan Kyuubi berada di atasnya.
Minato bangkit dan terduduk di lantai sambil memegang kepalanya yang terbentur ke lantai. Lalu ia menyadari Kyuubi berjalan keluar dari kamarnya dan menutup pintunya.
Minato melihatnya dengan aneh. Ia berdiri dan berjalan ke arah pintu. Saat ia akan membukanya, ternyata Kyuubi mengunci pintu dari luar.
" Kyuubi buka pintunya! "
Kembali ke Mikoto dan Kushina..
" Yang kau ambil tadi itu garam bukan gula " Mikoto mengambil sendok dan mencoba sedikit lelehan coklat itu. Ia langsung memuntahkannya lalu berlari mengambil gelas untuk meminum air.
" Demi tuhan. Aku bersumpah, aku gak pernah makan coklat seaneh itu selama hidup ku " Mikoto bergumam.
" Jadi ulangi dari awal dattebane? " Tanya Kushina.
" Tentu saja! Kau akan berikan coklat asin itu ke dia? " Tanya Mikoto. Ia langsung memusnakan (baca:membuang) coklat itu.
Setelah mengulangi semua tahap-tahap membuat coklat itu dan tentu saja kali ini Kushina menaruh gula di dalamnya. Coklat itu akhirnya jadi juga, tinggal di bekukan.
Setelah selesai di bekukan. Kushina mengeluarkan mengumpulkan coklat-coklat itu dan di taruh ke plastik kecil. Ia melihat sisa coklat yang masih ada di cetakan.
" Mikoto, masih ada sisa coklat ttebane "
" Tidak apa-apa. Aku sengaja membuat lebih "
Kushina memiringkan kepala.
" Kenapa? "
" Untuk Fugaku "
" F-fugaku?! " Kushina melihat ke kiri dan ke kanan lalu berbisik Mikoto.
" Kau yakin orang sepertinya suka coklat? " Tanya Kushina dengan wajah gelap.
" Jangan khawatir. Lagi pula.. " Mikoto juga melihat ke kiri dan ke kanan lalu membisikkan sesuatu ke Kushina dengan suara yang kecil bahkan Author juga tidak bisa mendengar apa yang di bilang Mikoto (?)
Kushina tersentak.
" Kamu serius dattebane?! " Kushina tersenyum ke Mikoto.
Mikoto mengangguk.
" Sungguh tidak di percaya. Siapa sangka orang sepertinya suka 'itu' " Ia tersenyum miring ke Mikoto, Mikoto ikut tersenyum miring. #evilgrinmania
" Baiklah, sekarang ikat plastik itu pakai pita. Suka hati sih warna apa.. "
" Apapun yang bukan pink dattebane " Kushina merinding membayangkan pita berwarna pink.
" Aku pikirkan saja nanti " Jawab Kushina.
" Ya sudah kalau begitu " Mikoto sudah selesai memasukan sisa coklat itu ke dalam plastic kecil.
" Aku tidak sabar besok.. " Mikoto tersenyum.
Meanwhile in Minato's room
" Seseorang buka pintunya " Minato menangis secara mental sambil memegang knop pintu kamarnya.
Kiiroi hanya berlari di sekeliling ruangan dengan riangnya.
Keesokan harinya mereka berangkat ke sekolah, Kushina tidak membawa coklatnya, dia berakting aneh di sekeliling Minato. Saat Kushina akan memberikan Minato coklatnya, Minato ternyata sudah memiliki beratus-ratusan (baca:puluhan) coklat.
Kushina memutuskannya untuk memberikan coklat itu ke Minato saat mereka pulang sampai ke rumah. (Maaf author skip semua yang di sekolah #plak)
Sekarang Kushina berpikir.
'Baiklah.. Apa yang sedang ku pikirkan?! Dia akan mengira kalau aku menyukainya iya kan? Ugh! Ini semua gara-gara Mikoto dattebane! Dan.. Aku juga mendapatkan surat aneh itu, tidak ada nama pengirimnya lagi..' Pikir Kushina sambil menghela nafas.
" Hei, kamu kenapa sih? " Tanya Minato melihat tingkah laku Kushina yang aneh sejak pagi tadi.
" Tidak apa-apa, aku hanya- " kata-katanya terputus saat ia mendengar handphonenya berbunyi. Mikoto, Ia mengangkatnya sambil terus berjalan menuju ke rumah.
" Moshi moshi "
" Kushina! Aku mohon! Cepat kemari! Aku perlu kamu dan Minato! "
" Nani?! Sekarang kamu di mana dattebane! "
" Di Studio Konoho! Hayaku! "
Kushina menutup handphonenya.
" Mikoto butuh kita! Kita harus ke Studio Konoha sekarang dattebane! " Seru Kushina.
" Kalau begitu kita naik mobil saja supaya lebih cepat " Ujar Minato. Mereka segera berlari pulang, lagi pula mereka juga sudah dekat dari rumah. Minato dan Kushina langsung masuk ke mobilnya. Minato segera menjalankan mobilnya.
(Readers : Tanpa menghidupkan nya dulu?
Author: He's a wizard harry)
Sesampainya mereka di sana. Mereka segera belari menuju ke pintu Studio tapi di cegat salah satu security. Mikoto muncul dari pintu Studio.
" Biarkan mereka masuk, mereka temanku "
Dengan itu Security membiarkan kita masuk.
" Ada apa?! " Tanya Kushina dan Minato sekaligus.
" Aku perlu kalian.. "
" Ya? "
" Untuk.. "
" Untuk apa?! " Kushina mengguncang Mikoto.
" Aku perlu kalian untuk menjadi foto model tema valentine ini " jawab Mikoto dengan cepat.
" Onegai! " Rengek Mikoto.
" Tunggu, apa maksudmu foto model.. "
" Mereka datang sendiri, aku tidak menyuruh mereka datang " jawab Mikoto.
" Ah! Jadi orang yang menelepon mu hari itu ph- " Mulut Kushina di tutup Minato.
" Mikoto! Berapa lama kamu akan mencari- oh! " Seorang perempuan berambut coklat panjang muncul entah dari mana. Perempuan itu melihat Minato dan Kushina.
" Mereka sempurna! " Ia menepuk tangannya dan 4 orang lainnya muncul di belakang Minato dan Kushina. Mereka membawa mereka berdua masuk ke 2 ruang rias yang berbeda.
" Terima kasih, Mikoto. Maaf kamu tidak jadi model di tema ini "
" Tidak apa-apa. Aku senang mereka bisa jadi model "
" Apa mereka berpacaran? "
" Aku tidak akan bilang tidak tapi.. Mari bilang belum, Eko-san "
" Baiklah.. "
Beberapa menit kemudian Kushina dan Minato keluar dari dalam ruang rias itu.
Kushina tampak memakai baju putih polos dengan jaket berwarna hijau mudah dan rok pendek berwarna coklat, ia juga tampak menggunakan stocking berwarna hitam dan sepatu boots hitam yang terlihat seperti sepatu sekolah.
Sedangkan Minato, ia tampak menggunakan ia tampak menggunakan jaket putih dengan garis biru (sungguh ironic). Ia juga tampak menggunakan celana panjang berwarna hijau dan sepatu berwarna coklat.
" Sempurna! Sekarang kalian berdua berdiri lah di sana " Eko tersenyum sambil berdiri di belakang kameranya.
Dengan ragu Minato dan Kushina berjalan ke depan kamera dan hanya berdiri dengan aneh. Eko tampak berpikir sejenak.
" Duduk " perintah Eko.
Mereka berdua duduk di sana dengan posisi agak jauh dan tidak melihat ke satu sama lain.
" Ayoklah.. Lebih dekat " mereka hanya bergerak mendekat mungkin tidak lebih dari 1 cm.
" Yang benar saja? " Bisik Eko ke Mikoto yang berdiri di sebelahnya.
" Jangan khawatir. Akan aku urus.. " Mikoto berjalan ke ruang rias dan membawa keluar sebuah syal berwarna coklat yang panjang.
" Untuk apa itu? " Tanya Eko.
Mikoto tidak berbicara, ia langsung berjalan ke arah Kushina dan memakaikan syal itu ke Kushina. Lalu mengikatkan sisanya lagi ke Minato.
" H-hey kamu ngapain dattebane?! " Tanya Kushina karena dia terpansa bersandar ke Minato. Wajar saja, Kushina tidak mau tercekek. Minato hanya terdiam dengan wajah merah.
" Ide yang bagus Mikoto " Eko tersenyum dan Mikoto kembali berdiri di sebelah Eko agar ia bisa mengambil gambar Kushina dan Minato.
Walaupun posisinya sudah sempurnah, mereka masih tetap terlihat kaku.
" Ayok, lihatlah ke satu sama lain dan tersenyum, seperti pasangan yang asli "
" Argh.. Aku akan membunuh Mikoto ttebane.. " Gumam Kushina.
" Apa boleh buat, dia itu kakakmu, sebagai adiknya kamu harus menolongnya " guman Minato.
Minato menghela nafas.
" Baiklah, mari selesaikan ini " Minato memeluk Kushina membuat Kushina ngeblush
Jebret!
" Itu sudah bagus! Kita hanya perlu beberapa lagi, lakukan pose yang lain " kata Eko. Mikoto hanya tersenyum menampakkan deretan giginya dan memberi dua thumbs up.
Kushina men deathglare Minato yang hanya tersenyum innocent. Lalu ide yang bagus terlintas di pikirannya, ia langsung sengaja bersandar ke Minato sambil tersenyum. Kali ini Minato yang ngeblush.
Jebret!
Sekali lagi foto yang sempurna :D
Kushina tersenyum iblis ke Minato.
'Fufufu. Kena kan kau? Mana ada yang bisa melawan Red Haba-' Kushina terlalu sibuk berpikir sampai tidak sadar kalau Minato tiba-tiba mencium keningnya. Dia diam di sana sebentar.
Jebret!
Wajah Kushina langsung semerah tomat akibat perlakuan Minato. Kushina menggembungkan pipinya. Minato tersenyum. Tiba-tiba Kushina mendekatkan wajahnya ke Minato, ehem.. Sangat dekat sampai hidung mereka bersentuhan.
Seluruh pekerja di studio itu menatap mereka dengan terkejut, terutama Eko.
Jebret!
Eko melihat tangan Mikoto yang menekan tombol di cameranya. Mikoto melongo tapi dengan ekspresi melongo.
" Kita tidak boleh menyia-nyiakan pose yang bagus kan? " Tanya Mikoto.
Kushina tersenyum mengejek.
" Aku menang ttebane "
" Ok. Kalian berdua, terima kasih! Aku gak tau harus gimana kalau gak ada kalian! " Eko tersenyum dengan ceria.
" Hei Kushina.. Kamu sudah kasih coklatnya? " Bisik Mikoto.
" Tidak bisa.. Tadi banyak orang yang kasih dia coklat. Jadi ku pikir aku kasih aja pas sampai ke rumah, tapi belum sempat sampai ke rumah aku sudah dapat panggilan 'darurat' dari kamu dattebane " Kushina berbicara dengan suara yang sedikit di tekan pada saat mengatakan kata darurat.
" Ya sudah, kenapa gak kamu kasih saja sekarang? " Tanya Mikoto.
" Entahlah.. Di sini banyak orang.. Lebih baik aku kasih saja waktu sampai ke rumah dattebane. Hehehe " Kushina menggaruk belakang kepalanya.
" Bilang saja kamu gak berani kasih ke dia secara langsung.. " Mikoto melihatnya dengan wajah datar.
" Baiklah.. Akan aku kasih waktu kita sudah sampai rumah.. " Jawab Kushina dengan malas.
Mikoto terkekeh.
" Ayok kita pulang sekarang " Mikoto menarik-narik tangan Kushina.
Tiba-tiba mereka berdua mendengar handphone Minato yang berbunyi. Minato menggangkatnya.
" Halo? "
" Minato! Cepat ke rumah sakit! Fugaku tidak sadar diri! "
" Nani?! Baiklah! Aku segera pulang! " Minato langsung menutup handphonenya dan mengisyaratkan Kushina dan Mikoto untuk mengikutinya.
Saat mereka semua sudah masuk ke dalam mobil, Kushina mulai bertanya.
" Minato, kenapa sebenarnya dattebane? " Tanya Kushina.
" Fugaku. Dia tidak sadarkan diri " Jawab Minato sambil menghidupkan mobilnya dan dengan segera menjalankannya.
Mikoto terlihat khawatir.
Saat mereka sampai ke rumah sakit, mereka segera menanya salah satu suster di rumah sakit itu di mana kamar Fugaku. Setelah bertanya mereka langsung berlari ke kamarnya.
Di depan kamarnya sudah ada Tsunade. Jiraiya masih di tempat kerjanya. (Kurang ajar...)
" Bagaimana keadaannya? " Tanya Minato.
" Sedang di cek " Jawab Tsunade.
" Bagaimana bisa.. " Mikoto terlihat khawatir.
" Tadi Fugaku tidak turun untuk makan siang, jadi aku tadi mau membawakan makanannya ke kamarnya. Tadinya aku kira dia tidur, tapi saat berusaha ku bangunkan dia tidak bangun-bangun " Jawab Tsunade.
Seorang dokter keluar dari kamar yang mereka tunggu.
" Bagaimana keadaannya? " Tanya Tsunade.
" Aneh sekali. Setelah kita cek dia baik-baik saja. Apa ibu sudah yakin kalau dia tidak bangun? " Tanya dokter.
" Yakin " jawab Tsunade.
" Kalau begitu apa yang dia makan sebelum dia tertidur? " Tanya dokter.
Lalu Tsunade teringat sesuatu.
" Aku melihat coklat di sebelahnya tadi " Kata Tsunade.
" Coklat? Kalau ibu membawanya sekarang, bisa kita lihat sebentar? " Tanya dokter.
Tsunade mengeluarkan sebuah bungkusan yang terlihat seperti coklat di tasnya dan memberikannya ke Tsunade.
Dokter kembali masuk untuk memeriksa coklat itu. (Ya.. di cek detak jantungnya, di cek kesehatannya #plak)
Setelah beberapa menit menunggu, dokter keluar.
" Apa anda tau siapa yang memberikan coklat ini ke dia? " Tanya dokter.
Tsunade menggelengkan kepala.
" Emangnya kenapa? "
" Setelah kita cek, coklat ini mengandung obat bius yang lumayan kuat " Jawab dokter.
" Obat bius? Jadi kapan baru dia bangun lagi? " Tanya Minato.
" Mungkin 2 atau 3 jam lagi " Jawab dokter.
Mereka semua menghela nafas mendengar perkataan dokter, artinya dia baik-baik saja.
«±2 jam kemudian»
Mikoto duduk di sebelah Fugaku yang masih tertidur. Walaupun Mikoto tau kalau Fugaku hanya di bius, entah kenapa ia tetap khawatir. Tsunade pergi untuk membeli minuman sebentar, sedangkan Minato dan Kushina sudah pingsan(baca:tidur) di sofa di kamar Fugaku yang lumayan besar.
Kelopak mata Fugaku sedikit bergerak dan tampaknya Mikoto menyadarinya. Ia melihat Fugaku yang akhirnya sepenuhnya membuka matanya dan mengubah posisi menjadi posisi duduk.
Mikoto reflek memeluk Fugaku dengan erat.
" Hm? Di mana aku? " Tanya Fugaku melihat ke sekeliling ruangan rumah sakit yang ia tempati sekarang.
" Coklat yang tadi kamu makan.. Dokter bilang ada obat bius di dalam coklat itu " Jawab Mikoto.
Akhirnya Fugaku teringat kembali tentang coklat yang di berikan seseorang dengan tidak secara langsung melainkan orang itu menaruh coklat. Itu di lacinya.
Fugaku mengehela nafas.
" Aku hanya tertidur sebentar, kamu tidak perlu sampai dramatis begitu " Kata Fugaku dengan dingin tapi tidak berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Mikoto.
Mikoto terkekeh.
" Hm? Di mana Minato sama Kushina? " Tanya Fugaku.
Mikoto melepaskan pelukannya dan menunjuk ke arah pojok ruangan di mana Kushina dan Minato dengan posisi Kushina bersandar ke pundak Minato. Wajah mereka terlihat sangat polos.
Mikoto dan Fugaku tertawa kecil, mereka mengeluarkan handphone mereka yang kebetulan ada di kantung celana mereka. Mereka mengambil beberapa foto dari kedua orang teman mereka itu tanpa di ketahui Kushina dan Minato.
Setelah mereka puas mengambil gambar Minato dan Kushina, Mikoto membangunkan mereka berdua. Bahkan setelah bangun mereka tidak sadar apa yang terjadi, mereka hanya duduk di sana dengan pandangan mengantuk.
Lagi-lagi Mikoto tertawa di ikuti oleh tawaan kecil dari Fugaku.
" Hm? " Kushina dan Minato hanya bisa melihat mereka berdua dengan aneh.
Akhirnya, Tsunade memasuki ruangan, lalu ia mandapati Mikoto yang tengah tertawa dan Fugaku yang sudah bangun sambil tersenyum tipis.
" Aku melewatkan sesuatu? " Tanya Tsunade menaikkan satu alis.
Mikoto mengangguk sambil tersenyum.
«Skip Time»
'Siapa yang menaruh obat bius ke coklat Fugaku? Tidak ada nama pengirim di coklat itu..' Minato terus berpikir di sepanjang jalan menuju ke kamarnya.
Saat ia akan membuka pintunya, tiba-tiba Kushina keluar dari dalam kamarnya.
" Apa yang kamu lakukan di kamarku? Kamu tidak mencuri sesuatu kan, Kushina? " Tanya Minato sambil tersenyum miring.
" T-tentu saja tidak! Aku tidak akan pernah melakukan hal konyol seperti itu kan? Karna aku ini Red Habanero, Haha! " Kushina tertawa dengan nada mencurigakan dan segera berjalan pergi.
Dengan cepat Minato menarik tangan Kushina dan menahan kedua tangannya ke dinding, seringai muncul di wajah Minato.
(Baiklah! Kau bisa melakukan ini.. Author akan berusaha semampu author untuk gak mengigil nulis ini)
Kushina mencoba untuk melepaskan dirinya tapi tidak ada gunanya, tenaga Minato terlalu kuat untuknya.
" Kamu kira aku akan percaya dengan ucapanmu semudah itu? " Tanya Minato.
Wajah Kushina sedikit memerah akibat rasa marah dan malu, bagaimana kalau seseorang melihat mereka dengan posisi seperti itu?
" Hanase dattebane! Hentai! "
(A/N : Untuk readers yang MUNGKIN gak tau, ttu artinya " Lepaskan aku! Mesum! ")
Minato tidak mendengarnya dan justru memperdekat jarak antara dirinya dan Kushina. Jarak wajahnya dari Kushina hanya tinggal 3 cm lagi.
" Y-yamete! " Seru Kushina lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk..
" KYUUBI! " Panggilnya Kushina. Dan di detik itu juga ia tau kalau ia tidak akan selamat lagi. Dari sebelah kanan Kyuubi langsung meloncat ke arah Minato membuatnya terjatuh ke lantai.
(Akhirnya! Siksaan di hidup author berakhir juga!)
Kushina melipat tangannya.
" Hmph! Kamu tidak bisa melawab Red Habanero dattebane! " Kushina langsung berjalan ke kamarnya dan mengunci pintunya.
Minato memegang kepalanya yang sakit.
" Ha.. Padahal aku hanya main-main.. " Keluhnya. Akhirnya ia berjalan ke dalam kamarnya dan mendapati sesuatu di meja belajarnya. Lalu, ia menyadari kalau itu adalah coklat. Di sebelahnya ada surat kecil, ia membukanya dan mulai membaca.
Itu coklat untukmu
Makan saja jangan banyak tanya
Aku melakukan ini karna di paksa Mikoto bukan karna aku suka kamu bodoh!
Kamu tetap orang yang paling bodoh!
Aku gak peduli coklat ini enak atau tidak!
Dari Kushina
Minato tersenyum. Saat ia melihat kartunya lebih dekat, ternyata ada tulisan kecil di ujung kartu.
Selamat Hari Valentine yang ku benci
Minato langsung terkekeh membacanya. Rasanya ia senang kali bisa mendapatkan surat ini dari Kushina.
~Di kamar Kushina
Kushina sedang berbaring di kasurnya. Ia memeluk bantalnya erat. Yang baru terjadi tadi itu terlintas lagi di pikirannya. Ia langsung berdiri dan melempar bantal itu ke sembarang arah.
" Baka! "
Ia memutuskan untuk membuka surat yang dia dapat tadi pagi. Di surat itu tidak tertulis nama siapapun. Tadi pagi ia tidak mau membukanya karna malas.
Warna amplop suratnya sedikit berbeda, berwarna jingga. Karena tidak mau berpikir panjang lagi, Kushina langsung membuka surat itu dan mulai membacanya.
Aku melihatmu setiap hari, tapi I tidak bisa memiliki mu
Aku suka segalanya tentangmu
Rambutmu
Matamu
Senyumanmu
Sifatmu
Sebelum aku melihatmu, aku kira perasaan itu tidak pernah ada
Tapi sekarang kamu sudah mengajarkanku untuk merasakannya
Kalau kamu benar-benar masih membaca..
Arigatou..
Suki deshita
Dari seseorang yang mengagumimu.
Kushina menutup surat itu.
'Siapa? Teman ku di kelas kan hanya Minato sama Fugaku. Jadi siapa? Fugaku? Gak mungkin! Minato?'
" Tidak mungkin! " Serunya.
'Orang yang menulis surat itu pasti orang yang baik bukan si mesum seperti Minato dattebane!'
Kushina menyimpan surat itu di laci lemarinya, ia tidak mau memikirkan hal itu lagi. Sekarang ia berbaring di kasurnya yang empuk. Tiba-tiba, sesuatu terlintas di pikirannya.
'Apa benar yang di katakan Mikoto tadi? Fugaku suka..'
~yang terjadi dengan fugamiko :D
" Ayoklah biarkan aku masuk "
" Tidak! Pergi saja! "
" Kalau begitu terima hadiahku saja "
" Tidak "
Mikoto tersenyum miring.
" Yakin? Ini bukan coklat biasa.. "
Tidak ada jawaban.
" Aku menaruh susu di dalamnya "
Di detik kemudian pintu kamar Fugaku terbuka sedikit.
" Susu? "
" Ya "
'Yosh!' Mikoto berhasil :D
~Di luar kediam Namikaze
" Tch! Kita menaruh obatnya ke coklat yang salah! "
" Apa hal seperti ini tidak apa-apa? "
" Kalau kau memang temanku diam saja! "
/" Minato, daijoubu desuka? "/" Nani?! "/" Maaf Minato.. Tapi aku harus melakukan ini untuk membuat kamu menjadi milikku! "/" Yamero! Minato! "/" Kamu kenapa? "/" Berhenti mengikutiku! Kau bukan temanku! "/" Arigatou.. "/
Next Chapter : Arigatou..
Author : Selesai juga akhirnya..Oh iya..
Kushina : Kenapa kamu harus nulis scene seperti itu!
Author : Jujur author sendiri juga jijik nulisnya..
Minato : Ya sudah gak apa-apa.. Kan sekali-sekali saja..
Kushina : Sekali-sekali saja! Setauku di chapter 8, nanti ada-
Author : *nutup mulut Kushina* Gak boleh ada spoiler! Ok.. terima kasih untuk para readers yang sudah membaca cerita Flower For you dan untuk semua yang sudah bantu review, author berterima kasih banyak sekali!
Instagram : fluttercrown
Quotev : Saki Aomaru
Review Please :)
