INNOCENT FEELING
Jeon Wonwoo – Kim MIngyu
Meanie Couple
Seventeen members
"Mingyu" suara Wonwoo membuat Mingyu tersadar dari lamunannya. "ya hyung?" Mingyu menatap laki-laki yang saat ini sedang memunggunginya."bisakah kau menyembunyikan pernikahan ini dari teman-temanmu?" Wonwoo mengucapkan pertanyaan itu dengan pelan, pandangannya lurus kedepan menatap tembok kamar mingyu. Mingyu yang mendengarnya tersentak kaget, alisnya bertaut. "maksud hyung?"
Mingyu membalik tubuhnya dan duduk menatap Wonwoo. Mingyu cukup terkejut dengan permintaan Wonwoo, dan ia juga tidak mengerti kenapa harus disembunyikan? Apakah menikah dengan lelaki setampan dirinya itu memalukan?. Wonwoo ikut duduk diatas ranjang dan membalas tatapan Mingyu dengan matanya yang terkesan datar.
"aku … aku tidak siap dengan pernikahan seperti ini. Aku juga bukan gay jadi aku tidak ingin orang lain menganggapku gay karena aku menikah denganmu. Dan juga …."
Perkataan Wonwoo terputus, lelaki itu menundukan wajahnya dan mengambil nafas dalam. Mingyu menaikkan sebelah alisnya, menunggu perkataan Wonwoo selanjutnya.
"ada gadis yang kusukai" Wonwoo menundukan kepalanya, menanti reaksi Mingyu. Dalam hati ia sedang berusaha menguatkan mentalnya kalau-kalau Mingyu akan marah dan mengamuk.
Mingyu terdiam mendengar perkataan Wonwoo barusan. Dirinya cukup terkejut dengan pengakuan Wonwoo bahwa pria itu memiliki seseorang yang disukai, seorang gadis kah?
"ah begitu, baiklah tidak masalah. Asalkan hyung bisa menjaga kepercayaan orang tua kita. Aku tidak ingin mengecewakan mereka terutama ayah hyung sendiri beliau bisa jatuh sakit lagi"
Wonwoo mengangguk menyetujui persyaratan tidak langsung dari Mingyu. Wonwoo dan Mingyu kembali berbaring dan berusaha pergi tidur. Wonwoo yang merasa sedikit lega bisa langsung tidur dengan nyenyak semantara Mingyu disampingnya masih terjaga. Pria tinggi tersebut masih memikirkan perkataan Wonwoo, sebenarny dia tidak masalah dengan Wonwoo yang menyukai orang lain karena dia juga tidak mencintai Mingyu. Dia juga merasa sedikit senang dengan hal itu karena secara otomatis Wonwoo juga tidak akan marah bila ia masih bermain-main dengan kehidupan bebasnya, dan jujur saja Mingyu memang masih belum siap terikat seperti ini.
Tapi yang membuat pria tampan itu tidak bisa tidur adalah kalau-kalau orang tua mereka tau tentang masalah iini. Mingyu tidak ingin mertuanya itu jatuh sakit lagi, penyakitnya bukan penyakit main-main dia tidak ingin dinggap menantu durhaka jika terjadi apa-apa dengan ayah mertua nya itu.
Tidak ingin ambil pusing Mingyu memilih memejamkan mata , ia harus berangkat kuliah besok pagi. Karena dia masih mahasisiwa yang baru masuk satu bulan ia tidak bisa mengambil cuti terlalu lama. Oleh sebab itu ayah dan ibunya merencanakan pernikahan sederhana yang hanya berselang satu hari tanpa pesta dan hanya perayaan kecil dengan anggota keluarga.
Wonwoo terbangun karena terusik dengan bunyi-bunyi benda yang bergesekan. Laki-laki dengan kulit putih susu tersebut duduk dari baringnya, mengucek mtanya pelan.
"oh, apa aku membangunkanmu hyung?" Tanya minggyu.
Wonwoo mengangguk pelan sebagai respon, Mingyu terkikik pelan karena sifat jujur Wonwoo.
"hyung ada kuliah pagi?" Tanya mingyu sambil terus mengobrak-abrik lagi meja rias dikamarnya, sedang mencari jam tangan yang diinginkan untuk memadukan penampilannya. Mingyu menoleh karena tidak mendapat respon apapun dari Wonwoo. Pria yang lebih pendek beberapa centi meter dari nya itu hanya diam menatapnya membuat Mingyu mengangkat alisnya bingung. Ah iya, Wonwoo itu sangat hemat bicara mungkin pria itu mengangguk atau menggeleng tadinya hanya ia yang tidak mengetahuinya.
Mingyu berdiri tegak setelah mendapatkan jam tangan yang diinginkannya kemudian memkainya. Mengambil tasnya dan memutar tubuhnya menghadap Wonwoo.
"aku ada kelas pagi, aku berangkat dulu ya hyung."
Wonwoo mengangguk kecil, melihat respon Wonwoo lelaki tersebut meninggalkan kamar dan segera berlari keluar rumah tanpa menghiraukan teriakan ibunya yang bertanya dimana Wonwoo. Dia sudah terlambat asal tahu saja, dia terlalu sibuk mencari jam tangannya dan lupa waktu.
Mingyu segera menaiki mobil dan menjalankannya dengan kecepatan sedikit tinggi. Pria yang baru mendapat surat izin mengemudinya dua bulan lalu itumenyetir dengan was-was karena takut tertinggal mata kuliah pertamanya.
Sementara Wonwoo di dalam kamar Mingyu masih duduk diatas ranjang dan sesekali menghela nafasnya. Merasa sedikit frustasi dengan kehidupannya, menikah dengan orang yang tidak dicintai dan lebih parah lagi orang itu laki-laki sama seperti dirinya. Bayangan-bayangan manis tentang kehidupan pernikahan yang dibayangkannya selama ini serasa hanya sebuah dongeng fiksi semata.
Tidak ada kecupan selamat pagi, tidak ada keromantisan dimeja makan, tidak ada bulan madu menyenangkan dan lebih parahnya tidak ada malam pertama dengan istri nya yang cantik dan sexy. Memikirkannya membuat Wonwoo membuang nafas dengan keras. Yang benar saja? Dia menikah dengan laki-laki padahal dia sendiri sedikit homophobic.
Wonwoo tidak habis piker dengan Mingyu. Ia tahu Mingyu adalah type anak berbakti yang akan menuruti segala perkataan orangtuanya tapi kalau permintaannya semengerikan ini kenapa bocah itu masih menurut? Atau jangan-jangan Mingyu itu gay jadi ia menerima saja dengan senang hati dijodohkan dengannya. Memikirkan itu Wonwoo merasa bulu kuduknya merinding membuatnya bergidik.
Tidak terasa pernikahan mereka telah berjalan selama satu bulan. Berada dikamar yang sama tapi seperti saling menganggap tidak ada hanya Mingyu yang sesekali bertanya pada Wonwoo sementara Wonwoo hanya merespon dengan anggukan dan gelengan kepala saja. Sedikit membuat Mingyu jengah tapi mereka harus tetap berakting seperti suami istri yang baik-baik saja.
Seperti tuhan sedang menolong mereka ayah ibu dan juga meretuanya membelikan mereka rumah sendiri sehingga mereka berdua bisa bebas dengan kehidupannya sendiri tanpa baying-bayang takut kethuan. Terutama Mingyu yang sering berbohong pada orang tuanya sedang ada tugas padahal sedang bersenang-senang dengan teman-temannya.
Hari ini adalah hari kepindahan mereka kerumah baru yang sudah disediakan. Mingyu beserta Wonwoo sedang duduk menghadap kedua orang tua dan juga mertua masing-masing.
"wonu-ya jadilah istri yang baik untuk Mingyu, jangan biarkan Mingyu makan diluar rumah jadi kau harus belajar memasak arra?" kata Jeon eommo-nim. Wonwoo hanya mengangguk dengan malas.
"kau juga Mingyu, jadilah suami yang baik jangan suka keluyuran sampe larut malam dan membuat Wonu menunggumu pulang. Eomma harap kalian bisa memegang tanggung jawab kalian masing-masing." Tambah Kim Eommo-nim.
"iya eomma, aku mengerti"
"baiklah eomma percayakan pada kalian berdua, gunakan uang dengan bijak ne, jangan sering memesan makanan cepat saji belilah bahan-bahan pokok dan masak sendiri. Eomma dan appa akan sering berkunjung" kata eomma kim sambil berdiri dari dudknya diikuti oleh appa kim dan juga eomma appa Wonwoo.
Dua keluarga yang sudah menjadi besan itu akhirnya keluar dari rumah minimalis namun cukup mewah tersebut. Dua lelaki muda yang berdiri didepan pintu melambai pada mobil hitam yang melaju menjauhi rumah tersebut. Akhirnya Wonwoo dan Mingyu tinggal dirumah mereka sendiri tanpa pengawasan orangtua mereka. Dengan itu Mingyu bisa bernafas lega dan merasa hidup bebasnya kembali lagi. Bahkan lebih bebas daripada hidupnya yang dulu.
Keesokan harinya Mingyu pergi kekampusnya terlebih dahulu tanpa Wonwoo. Putra sulung keluarga Jeon tersebut menolak berangkat bersama seperti biasanya yang ia lakukan ketika tinggal dirumah mertuanya dan berakhir dia turun jauh sebelum sampai dikampusnya karena tidak ingin menimbulkan kecurigaan teman-temannya.
Wonwoo sampai dikampus 25 menit setelah Mingyu sampai karena Wonwoo naik kendaraan umum. Dua temannya yang bernama Jihoon dan Soonyoung telah menunggunya seperti biasa di tangga menuju lantai tiga kelas mereka berada.
"selamat pagi Wonu-ya" sapa soonyoung dengan ceria. Pria yang fasih berbahasa jepang tersebut menggandeng tangan kiri Wonwoo.
Wonwoo mengangguk pelan sebagai jawaban atas sapaan Sooyoung. Kemudia mereka berjalan bersama menuju kelas mereka. Didepan pintu kelas mereka berdiri dua orang gadis cantik yang sedang mengobrol dengan asyik.
"pagi gadis-gadisku yang cantik" sapa Soonyoung dengan genit sambil mengedipkan sebelah matanya yang sipit.
"pagi soonyoungie ku yang manis" balas salah satu dari gadis tersebut dengan senyum manisnya.
"eiii ~ jiho-ya aku ini tampan bukan manis. Benarkan Wonu-ya?"
Soonyoung bertanya pada Wonwoo dengan maksud meminta pembelaan tapi Wonwoo malah menggeleng dengan semangat membuat teman-temannya tertawa. Wonwoo menatap Jiho yang tertawa lepas gadis itu terlihat sangat cantik dimatanya dan hal itu membuat pipi Wonwoo memerah perlahan.
Karena takut ketahuan telah merona hanya dengan melihat Jiho tertawa dan takut diejek oleh Soonyoung dan berakhir Jiho mengetahui perasaannya Wonwoo memilih masuk kedalam kelasnya tanpa berkata apa-apa.
"wonu-ya tunggu aku" itu suara Jihoon. Pria mungil tersebut berlari kecil mengikutinya masuk kedalam kelas. Duduk disamping Wonwoo dan disusul Soonyoung yang duduk didepan mereka dengan wajah cemberut, merajuk karena Wonwoo tidak membelanya.
Sementara dilain sisi Mingyu sedang duduk didalam kelasnya bersama Seokmin teman sepermainan Mingyu. Mereka sedang bercanda dengan beberapa teman perempuan mereka yang berdiri mengelilingi Seokmin dan Mingyu.
"Mingyu-ya nanti malam ada pesta dirumah ku, mau datang?" tawar seorang gadis mungil yang berdiri didepan Mingyu.
"tentu" jawab Mingyu dengan senyuman manisnya.
"seokmin juga, apa kau ingin ikut?" kali ini gadis tersebut m,engalihkan perhatiannya pada Seokmin.
"tentu, asal kamu mau menciumku" ujar seokmin sambil menunjuk pipi kirinya. Gadis itu dengan malu-malu mengecup pipi kiri Seokmin pelan membuat siempu yang dicium menyeringai kecil. Sementara Mingyu disampingnya hanya mendecih pelan melihat kelakuan teman seperjuangannya tersebut.
Malam itu Mingyu menghabiskan malamnya bersama Seokmin dipesta teman perempuan mereka. Mingyu pulang kerumahnya pada jam 2 dini hari dengan keadaan sedikit mabuk. Pemuda tersebut membuka pintu rumahnya pelan dan berjalan dengan sedikit sempoyongan berjalan menuju ruag tengan rumah mereka. Mingyu dapat melihat Wonwoo yang masih terjaga sedang menonton televisi.
"wonwoo hyung~" panggilan Mingyu membuat Wonwoo terkejut dan menoleh dengan cepat kearah mingyu. Wonwoo menghela nafas lega mengetahui orang yang baru saja masuk rumahnya adalah Mingyu. Wonwoo berdiri hendak masuk kekamarnya namun tangan ditahan oleh Mingyu membuat Wonwoo berbalik menatap Mingyu dengan alis terangkat bingung.
Wonwoo mendelik kaget saat merasakan hidung dan bibir mingyu menempel dihidung dan bibirnya. Ia dapat merasakan Mingyu melumat bibirnya pelan. Seakan mendapat tamparan Wonwoo kembali tersadar dari keterkejutannya mendorong tubuh Mingyu menjauh dari tubuhnya kemudian menonjok wajah tampan mingyu hingga membuat Mingyu tersugkur dengan hidung berdarah.
"Gay brengsek sialan!" ucap Wonwoo murka, kemudian masuk kekamarnya.
Mingyu menutupi hidung dan mulutnya yang terluka dengan tangannya. Seakan tersadar Mingyu tidak habis piker dengan apa yang ia lakukan pada Wonwoo dia dibawah pengaruh alkohol. Mingyu berdiri dan menyusul Wonwoo masuk kedalam kamar mereka. Mingyu bisa melihat Wonwoo memasukkan beberapa pakaiannya kedalam tas ranselnya.
"Hyung mau kemana?" ucap Mingyu panic.
Wonwoo tidak menggubrisnya dan melangkah menuju pintu kamar.
"aku tidak mau tinggal bersama gay sialan sepertimu" ucapan Wonwoo membuat Mingyu tersinggung tapi dia tau bahwa ia yang salah disini. Mingyu membiarkan Wonwoo pergi untuk menenangkan diri setidaknya pakaian dan barang-barangnya yang lain masih tertinggal disini.
TBC
Gimana? Udah panjangkah? Atau kurang panjang? Hehehe
Bisa dimengertikah? Atau malah bikin Reader-nim bingung sendiri? Author nulisnya ngebut sih soalnya mau udik takut gaada sinyal dikampung wkwkw bercanda.
Untuk yang chapter 1 itu emang bener-bener chapter 1 bukan prolog. Sengaja dibikin pendek biar Reader-nim
Author mikirnya kan itu episode pertama jadi mau bikin TBC nya semenarik dan semengejutkan mungkin dan adegan yang pas ada di situ jadi author potong aja.
Dan untuk alur yang kecepetan maaf ya, author takut kalo ditulis rinci Reader-nim bakal males baca dan satulagi maafkan typo author gak sempet ngeditnya:')
Btw, please review nya, mau saran mau kritik bolehlaaaahhh asal jangan omelin author ya nanti author mellow ;')
Thank sudah mau meluangkan waktu Reader-nim : *
