Aku ingin merakasan yang dinamakan 'ciuman' denganmu...
Dan aku ingin menciummu karena cinta..
.
.
.
.
"eeeh?! Kagura-chan dan Okita-san belum pernah ciuman?! Serius, nih?"
"aku serius, Soyo-chan. Dan bisakah kau jangan bicara terlalu keras?"
"a-ah, maaf! Tapi... bukannya kalian bersama saat malam tahun baru? Kenapa tidak memanfaatkan momen yang bagus seperti itu?", tanya Soyo—sahabat Kagura.
"huuh, Sougo datang bersama Kakaknya, dan saat itu kami tidak bisa melakukannya karena Sougo yang terlalu menjaga kakaknya, haah...",ucap Kagura lesu saat memikirkan 'kencan' nya di malam tahun baru. Mendengar penjelasan Kagura, Soyo langsung tertawa.
"hahahaha, ya ampun! Jangan-jangan dia adalah siscon?!"
"Sssst! Soyo-chan pelankan suaramu!", tegur Kagura sebal.
Alih-alih mendengarkan permintaan maaf sahabatnya, Kagura memusatkan segala perhatiannya pada sosok sang kekasih yang sibuk mengobrol dengan temannya yang lain.
'Si Sadis itu terlalu cuek!'—umpatnya.
Mungkin karena adanya aura 'tidak menyenangkan' yang menatapnya, membuat Sougo berbalik dan bertemu pandang pada Kagura yang masih memperhatikannya. Sontak Kagura mengalihkan pandangannya. Dan Sougo hanya mengendikkan bahunya tak peduli.
"Oh ya, apa Okita-san romantis?", tanya Soyo.
"hah? Dia? Ummm.. mungkin."
"kok mungkin? Pft, jawaban macam apa itu?"
"ya bagaimana aku harus menjawab, dia memang kadang kala romantis, tapi dia tetap menyelipkan ledekkan untukku, dan itu menyebalkan sekali, tau'!", jelas Kagura. Soyo yang mendengarnya hanya manggut-manggut.
"tapi, gimana kalau Kagura-chan saja yang mencium Okita-san duluan?", usul Soyo.
"ogah", Kagura memasang tampang cemberutnya, "kalau aku berniat melakukannya, sudah dari dulu kulakukan.", sambil berkata begitu, Kagura menyandarkan kepalanya pada meja. Dia terlihat sangat memikirkan hal ini.
"Umm, mungkin 'pangeran sadis' mu menunggu suasana yang mendukung dan waktu yang tepat. Jadi, kusarankan agar kau membuat peluang itu", usul Soyo.
"mou! Soyo-chan, jangan berkata 'pangeran sadis mu'! Itu seakan membuatku adalah masokis, tau'!", ujar Kagura sebal.
Uhm, akan kubuat peluang! Tunggu saja, do-S sialan!
"hatchi!"
"oi, kau flu, Sougo?"
"ah, tidak, Kondou-san, aku hanya merasa ada yang merencanakan hal buruk"
.
.
.
.
"ne, Sougo..", Kagura menghampiri Sougo yang masih duduk dibangkunya sambil merapikan alat tulisnya sebelum pulang,
"apa?", jawab Sougo singkat. Tanpa mengalihkan pandangannya.
"ba-ba ba ba ...", ucapan Kagura tersendat, dia berusaha sekuat tenaga untuk mengemukakan rencananya, namun itu memalukan.
"ba? Babi? Ya, apa akhirnya kau sadar kalau penampilanmu seperti babi?", tanya Sougo dengan nada meledek sekaligus jengkel. Mendengar tanggapan Sougo membuat Kagura refleks menghajarnya.
"bukan, sialan! Aku hanya.. um, bukan. Begini... bagaimana kalau kita belajar bareng?", tanya Kagura dengan nada pelan.
Sougo melirik Kagura sekilas. "baiklah.", jawabnya setuju. Mendengar itu, Kagura langsung memasang tampang berjayanya. "dimana?", tanya Sougo sambil melangkahkan kakinya keluar kelas.
"di.. dirumahmu..."
"hah?!"
"ke kenapa?! Nggak boleh?!", pekik Kagura sebal melihat reaksi Sougo.
"bukan begitu. Aneue ku sedang dirumah. Kau tidak akan bisa melakukan hal yang mesum padaku loh—ittai!", tepat setelah Sougo menyelesaikan kalimatnya. Kagura langsung menonjok mulut sang kekasih.
"apa maksudmu, aru?! Sejak kapan aku mesum padamu, hah?! Bukannya itu kau?!", tanya Kagura sambil mencengkram kerah baju Sougo jengkel.
"dasar kasar", gumam Sougo sambil menyingkirkan tangan Kagura yang mencengkram bajunya. Lalu mengambil ponsel nya dari dalam saku. Kagura yang melihatnya hanya diam. Biasanya Sougo akan membalasnya, tapi dia hanya mengabaikan ucapan Kagura barusan. Dan sepertinya harus menelpon seseorang dulu.
"Moshi moshi?
(Moshi moshi. Okita—)
"maaf, hari ini aku ada urusan. Aku akan datang besok, aku janji. Untuk hari ini, maaf melanggar janjiku"
(Eh... um, begitu kah? Baiklah)
"Jaa"—
"siapa yang kau telpon itu?", tanya Kagura seraya memperdekat jarak dirinya dengan Sougo. Ia benar-benar penasaran dengan siapa Sougo berbicara dengan nada lembut begitu bahkan wajahnya tersirat rasa bersalah—hal yang tak pernah sekalipun Sougo tunjukkan ke dirinya. Apa itu kakaknya? Tapi tidak mungkin. Sougo biasanya akan terdengar seperti anak kecil, dan yang tadi... benar-benar dewasa.
"bukan siapa-siapa", jawab Sougo anteng sambil melanjutkan jalannya. "yuk kerumahku. Kakak ku sedang pergi ke rumah sakit dengan suaminya, jadi kau bebas melakukan hal yang mesum padaku"
"siapa yang pernah berlaku mesum padamu, sialan?!"
.
.
.
.
Yak untuk chapter duanya cukup sampai disini. Dikarenakan otak sya lagi buntu. Maaf maksa dan gaje.
