Exclusive Terror
Disclaimer: Naruto bukan punya saya, Genocide punya saya, plot buatan saya maksudnya. Saya sangat menentang genocide sesungguhnya.
Warnings: Homophobes, OOC, no girly man.
Because you're dead already!
SiM – Who's Next
28 Agustus
Suasana pagi itu sangatlah damai. Musik klasik kesukaan Sasuke mengalun melalui alarm, memberikan efek tenang pada hati. Naruto, yang walaupun masih sangat mengantuk, bisa merasakan gerakan di tempat tidurnya, menandakan Sasuke mulai bangun dan akan segera mandi. Ia meninggalkan alarmnya terus mengalunkan "Moonlight" karya Beethoven untuk mengisi suasana. Suhu masih sangat rendah dan Naruto menarik selimut tebalnya hingga menutupi telinganya. Lembutnya seprai dan bantalnya ditambah hangatnya dilingkupi oleh selimut membuatnya semakin malas untuk bangun.
Matanya masih sangat berat untuk dibuka hingga rasanya sedikit sakit. Tangannya bergerak ke atas untuk menarik bantalnya dan memeluknya erat. Kepalanya ia tekan hingga permukaan bantal yang lembut menekan mata kirinya, meredakan sedikit rasa sakitnya. Telinganya mendengar suara deras air dan gumaman Sasuke yang mengikuti nada piano yang mengalun. Pikirannya kembali berkabut dan ia tahu sebentar lagi ia akan kembali terlelap.
Naruto tidak tahu kapan ia telah kembali tak sadarkan diri dalam tidurnya dan seberapa lama ia berada dalam mimpinya hingga sesuatu membangunkannya. Sebuah tangan menarik sedikit selimut tebalnya hingga udara dingin menyapa wajahnya. Moonlight telah berhenti mengalun namun seseorang masih mengalunkan nada sedih itu di telinganya. Nafas hangat menggelitik telinga Naruto dan jari-jari dingin menyentuh pipinya lembut. Ia menyerah dan mulai berguling sedikit hingga wajahnya menghadap ke atas, menunggu ritual sehari-harinya.
Sepasang bibir menyentuh bibirnya, lembut dan penuh kasih. Ia menikmati betapa lembutnya daging yang menggoda bibirnya hingga ia membiarkan sebuah lidah memasuki mulutnnya. Nafas hangat menggelitiki wajahnya dan sebuah tangan mengacak-acak rambutnya semetara ia sendiri hanya berbaring dalam diam. Setelah bibir lembut itu puas dan menjauh dari mulutnya, jilatan terakhir menjadi penutup, membasahi bibir Naruto yang kering.
Sambil sadar tidak sadar Naruto berbisik pada pemilik bibir itu, "Aku mencintaimu."
Dan sang pemilik bibir hanya membalas, "Hn." Kemudian meninggalkan Naruto sendiri lagi.
Kini suasana kamar kembali hening. Naruto menarik kembali selimutnya dan berusaha tidur kembali. Kepalanya masih sakit dan tenggorokannya masih terasa sangat kering. Ia akan bangun jika ia sudah merasa lebih baik. Namun diatas segala ini, Naruto merasa sangat damai.
Ketika ia bangun kembali, hari sudah siang menjelang sore. Kepalanya masih sakit karena tidur di pagi hari (dimana seharusnya seorang manusia beraktivitas). Suhu saat itu mulai sedikit panas tapi tubuhnya tidak berkeringat setelah melewati puncak dari siang hari dalam selimut. Mungkin siang tadi hujan atau apa. Ia menggosok matanya dan segera mengecek HPnya agar ia tidak tertidur kembali. Jam 15:22 dan ada 5 pesan baru.
Pesan 1: Shikamaru, jam 11:02. "Hoi. Bagaimana keadaanmu, Naruto? Konser kemarin gila segila-gilanya. Sukses. Hari ini seperti biasa beristirahatlah setelah konser segila kemarin. Besok datanglah ke studio jam 9 pagi. Kita akan latihan lagi untuk konser selanjutnya. Oh ya, jangan lupa Sabtu ini kita akan menemui Sai di bar yang biasa. Ajak Sasuke kalau dia mau ikut. Jangan sampai lupa selalu beri kabar ke pacarmu itu. Aku capek diteleponin setiap kau hilang."
Pesan 2: Sasuke, jam 12:07. "Dobe, jangan tidur terlalu lama, nanti kepalamu sakit lagi. Jangan makan ramen, aku sudah siapkan nasi goreng. Hangatkan di microwave."
Pesan 3: Sasuke, jam 12:31. "Dobe, tolong ambil laundry kalau kau sudah bangun."
Pesan 4: Neji, jam 13:55. "Naruto, kau sudah bangun? Aku butuh bantuanmu. Kakak Yume datang dan mengamuk lagi di depan pintu rumahku. Sekarang jendela depanku pecah. Aku butuh teman untuk mengangkut kaca. Beri kabar kalau kau bisa."
Pesan 5: Neji, jam 14:00. "Tidak jadi, Shikamaru sudah janji akan datang dan membantuku. Oh, dan aku baik-baik saja. Kalau bangsat itu datang lagi untuk menyalahkanku tentang Yume, aku akan telepon polisi."
Naruto hanya mengeleng-gelengkan kepalanya sedikit ketika mendengar berita dari Neji. Karena sepertinya itu yang paling penting, ia balas pesan Neji duluan,
"Neji, pasang alarm atau pelihara anjing besar supaya kakak Yume tidak datang lagi. Besok sehabis kerja kita pergi ke petshop. Itu juga kalau kau mau…"
Setelah itu Naruto bangun dari tempat tidurnya tanpa membereskannya dahulu. Ia tahu Sasuke pasti akan marah kalau pulang ke rumah dan tempat tidur mereka berantakan. Tapi ia benar-benar tidak niat membereskan tempat tidur. Sebenarnya ia tidak pernah niat. Nanti saja kalau sudah jam pulang kantor Sasuke ia bereskan, seperti biasa. Omong-omong soal Sasuke, ia membalas segera pesan Sasuke,
"Iya-iya, teme. Aku baru bangun. Setelah makan aku ambil laundrynya. Jangan selingkuh dengan sekretarismu."
Sambil menahan tawa ia kemudian membalas pesan Shikamaru,
"Kepalaku masih sakit. Besok aku pasti akan datang, leader. Kecuali ada hal menakjubkan seperti alien datang ke bumi aku baru bolos kerja. Omong-omong bujuk Neji untuk beli anjing. Aku bosan main dengan Akamaru terus, aku mau anjing baru."
Ping! Ada balasan dari Sasuke. Naruto tersenyum-senyum sendiri melihat pesan barunya.
Sasuke, jam 15:30. "Ada obat sakit kepala di rak obat. Di sebelahnya ada obat tidur, jangan sampai tertukar. Yang obat sakit kepala tutup botolnya warna merah, obat tidur warna putih. Kalau aku pulang sampai menemukan kau overdosis, aku selingkuh saja dengan sekretarisku. Selama kau masih hidup aku tidak akan main dengan orang lain, makanya jaga baik-baik hidupmu itu. Dobe."
Naruto langsung tertawa sejadi-jadinya setelah membaca pesan Sasuke,
"Tenang saja! Aku akan hidup sampai 1000 tahun ke depan, kau harus tahan hidup denganku sampai 1000 tahun!"
What if our days run short?
Time is so hard to know.
Nine Lashes – Galaxy
Rasanya lidah Naruto ingin dilepas saja. Nasi goreng yang dimasak Sasuke penuh dengan potongan kecil paprika yang rasanya pahit sekali. Dari kecil Naruto tidak pernah suka sayuran yang satu itu sampai ia sering dihukum ibunya (dan itu membuatnya semakin membenci paprika). Namun saat ini bukan hanya rasa pahit paprika yang ia benci, melainkan ingatan segar tentang orangtuanya juga. Mata Naruto memandang sendu ke arah langit berawan.
Ia sedang dalam perjalanan mengambil laundry. Karena jaraknya dekat ia memilih jalan kaki saja daripada memakai motornya. Toh sekali-kali olahraga ini. Ia harus menjaga bentuk badannya selama ia masih manggung. Memang sih stereotype sekali untuk seorang lelaki harus memiliki bentuk badan yang berotot, sama seperti stereotype perempuan harus langsing. Namun Naruto sendiri suka memiliki badan yang sehat dan bugar. Ia kembali teringat akan kedua orangtuanya sendiri yang selalu memaksanya untuk selalu aktif berolahraga.
Ia teringat ayahnya selalu berkata kalau anak laki-laki harus tahan udara dingin sehingga ia harus mengikuti ayahnya setiap pagi buta untuk menggosok punggung mereka dengan handuk kecil. Ayahnya juga selalu menegaskan kalau anak laki-laki harus aktif bergerak sehingga Naruto jarang sekali diam di satu tempat, ia harus bolak-balik melakukan banyak tugas rumah. Ibunya juga sama, berkata kalau anak laki-laki harus selalu gentle dan mengalah pada perempuan sehingga ia harus selalu mengalah pada adik perempuannya, Naruko.
Ia teringat ketika orangtuanya membentakinya ketika ia baru lulus SMA saat ia mengaku kalau ia menyukai laki-laki lagi. Ia teringat orangtuanya mengusirnya dari rumah dan ia sendiri kemudian bersikeras kalau ia tidak diusir; Ia keluar, kabur, minggat. Apapun selain dusir karena baginya ia tidak diusir, ia pergi. Ia ingat ia harus menginap di rumah Neji di Tokyo sampai ia bisa menyewa apartemen murah. Ia ingat ia tidak pernah lagi berhubungan dengan orangtuanya.
Karena itu ia tidak suka paprika.
Ia sudah bilang pada Sasuke kalau ia tidak pernah lagi mau makan paprika dalam bentuk apapun karena ingatan akan masa lalunya. Namun Sasuke selalu memarahinya balik, berkata,
"Kau senang pada dirimu saat ini? Kau bangga pada dirimu yang saat ini?"
"Apa maksudmu?"
"Apa kau mencintai dirimu sendiri? Mencintai dan menerima Naruto sebagaimana Naruto apa adanya?"
"I-iya. Tentu saja, aku adalah aku dan aku bangga dengan diriku saat ini!"
"Kalau begitu jangan benci masa lalumu lagi, dobe."
"Hah?"
"Dirimu saat ini terbentuk oleh apapun yang terjadi di masa lalu. Kalau kau mencintai dirimu saat ini, bersyukurlah pada masa lalumu karena itulah yang membuatmu menjadi seperti sekarang. Menjadi Naruto yang selalu kau banggakan. Menjadi Naruto yang sangat peduli karena mengerti rasanya terbuang dan kesepian. Kau adalah hasil dari masa lalumu, jadi terimalah masa lalumu dengan lapang dada sebagaimana seharusnya seorang manusia lakukan."
Naruto menghela nafas panjang dan membiarkan kabut berbentuk dari nafasnya. Udara mulai semakin dingin dan kepalanya masih sakit.
Jalan yang ia ambil sangat sepi, mungkin karena saat itu belum jam pulang kantor. Jalan itu melewati lapangan rumput yang tidak terurus dan melalui sungai kecil. Naruto muak dengan keheningan yang malah membuatnya semakin pusing dengan ingatan akan orang tuanya dan nasihat Sasuke. Ia berhenti di tengah jebatan kecil untuk memasang handsfreenya. Ia ingin rock membawanya lari dari semua ini, seperti biasa. Ia ingin perasaan yang sulit dijelaskan ini dapat tersampaikan setidaknya kepada dirinya sendiri melalui rock. Namun gerakan dan keinginannya terhenti ketika ia melihat sesuatu yang mengapung diam di pinggir sungai.
Sebuah mayat.
Can you see?
Evidences are perfection
Look past the circumstances
And find some meaning
Ivoryline – The Last Words
30 Agustus
Suasana di klub tempat Naruto dan Shikamaru biasa singgah berjalan seperti biasa. Lagu-lagu remix Queens sedang dilantunkan oleh DJ dan lampu dinyalakan berkerlap-kerlip membutakan mata. Beberapa pria bermain bilyar dan bermesraan. Beberapa saling menggoda dan beberapa saling berciuman. Naruto selalu teringat perkataan Shikamaru setiap mereka masuk ke klub ini,
"Selamat datang di Sodom dan Gomora! Dimana orang-orang menanti untuk dihancurkan dan dibunuh!"
Heh, di saat-saat seperti ini Naruto memang tidak bisa membela perlakuan orang-orang ini. Kadang ada saja yang bertransaksi obat-obatan dan kadang bisa saja ada pelacuran. Tapi itu bukan urusan Naruto dan teman-temannya, mereka datang hanya untuk menikmati suasana klub tanpa dipandang aneh. Tidak semua gay pelacur dan tidak semua gay pemakai obat. Lagipula para kaum hetero juga ada yang pemakai dan ada yang tidak kok.
Malam itu Shikamaru dan Sai bersamanya, dengan rencana untuk melihat 'Yuuki' ini. Shikamaru sedang bermain bilyar dengan Sai sambil menunggu kedatangan 'Madonna' milik Sai. Sementara itu dia duduk di bar, minum coke (Naruto akan pulang dengan motor, dia tidak boleh mabuk). Sasuke ikut, tapi dia akan menyusul. Masih ada laporan yang harus dikerjakan katanya.
Sayang sekali Sasuke tidak bisa datang bersama mereka. Kalau saja Sasuke sudah bersamanya saat ini, mereka akan menari bersama dan mungkin minum alkohol bersama. Tingkat ketahanan Sasuke terhadap alkohol lumayan bagus dibanding Naruto. Lagipula, Sasukelah yang akan menyetir mobil dalam perjalanan pulang. Sudah lama Naruto tidak mabuk, Sasuke tidak pernah suka melihat keadaan Naruto setelah mabuk (muntah-muntah, rewel seperti anak kecil, sakit kepala) sehingga Naruto membatasi kegiatan minumnya. Apapun yang Sasuke inginkan darinya akan ia kabulkan.
"Hoi, Uzumaki Naruto!" sebuah tangan tiba-tiba menepuk pundaknya.
Naruto segera berbalik untuk menemui siapa kira-kira yang menyapanya. Mata birunya bertemu dengan mata biru lagi. Si pemilik mata biru itu berambut pirang juga seperti Naruto, namun rambutnya lebih panjang dan lebih pucat. Ujung rambutnya sudah mencapai pundaknya dan rambutnya diikat setengah. Cengiran sombong milik si mata biru itu mirip dengan cengiran Sasuke, tapi lebih licik dibandingkan sombong. Naruto tersenyum lebar ketika ia kembali teringat pada teman lamanya itu.
"Matsumoto Shiroi-san? Astaga! Sudah lama kita tidak bertemu! Aih, wajahmu masih sama seperti 2 tahun lalu!" ucap Naruto, menyaingi musik keras dari speaker klub, sambil meraih tangan si mata biru itu. Tangannya terasa lembut dan licin seperti biasa, entah kenapa. Mereka berjabat tangan dan berpelukan sebentar. Shiroi pemilik sekaligus koki dari restoran kecil tempat Naruto dulu sambilan sambil memulai debutnya. Pria itu sudah banyak membantunya dalam mencarikan apartemen murah dan dalam hal-hal lain. Naruto banyak berhutang budi padanya.
"Shiroi-san? Hey, aku hanya lebih tua… Berapa? Tunggu… Hm, mungkin hanya lebih tua 5 tahun darimu! Sekarang aku masih 26! Panggil saja aku Shiroi-kun! Bagaimana bandmu hm? Victims Tryin' to Kill? Sudah berhasil membunuh siapapun?"
Naruto tidak menyangka ia akan bertemu mantan bossnya di klub ini. Ia tahu kalau Shiroi juga gay tapi ia tahu pria itu punya klub langganannya sendiri. Hari-hari ini ia benar-benar kebanjiran kejutan.
"Victims masih jalan, malah kami tambah banyak fans! Kami masih belum buat album atau single, tapi kami sudah jarang mengcover lagu band rock lain! Shiroi-kun, aku pikir kau biasanya ke klub Nirvana! Ada urusan apa ke sini?"
"Hmph! Nanti aku ceritakan. Saat ini aku penasaran denganmu, Naruto!"
"Hah? Ada apa memangnya?"
"2 hari yang lalu, kau yang menemukan mayat Higurashi Endo, kan? Kau menemukannya mengambang di sungai?"
Naruto langsung teringat kejadian tidak mengenakan itu. Karena kejadian itu dia harus diam di kantor polisi hingga larut malam untuk menjelaskan penemuannya dan dia juga tidak berhasil mengambil laundry. Besok paginya dia terlambat sampai di studio, harus menjelaskan penemuannya lagi pada Shikamaru, Sai dan Neji sampai dia sendiri bosan mendengar suaranya. Tentunya berita itu muncul di TV. Pagi dan sorenya dia diwawancarai oleh beberapa stasiun TV serta wartawan koran. Karena wawancara itulah ia terlambat ke studio dan terlambat pulang. Padahal Sasuke sudah menjanjikan makan malam bersama. Sialan…
"Ah… Itu…" Naruto menghela nafas panjang, "Memang benar aku yang menemukannya… Sedang sial aku saat itu…"
Shiroi langsung tertawa terbahak-bahak, membuat Naruto terbingung-bingung sendiri, "Hahahaha! Naruto-kun! Justru kau beruntung sekali bisa menemukan mayat itu! Dia itu pembunuh dari kaum kita kau tahu!"
"Kaum… Kita…?" tanya Naruto tidak mengerti.
"Kaum kita, gay." Jawab Shiroi setengah berbisik seperti memberitahukan sebuah rahasia. "Kau tidak memperhatikan berita apa? Sudah banyak kaum kita yang terenggut nyawanya oleh orang-orang semacam itu!"
"Orang-orang…?"
"Mereka, kaum homophobic. Mereka yang benar-benar benci pada gay dan lesbi. Kau tidak punya TV apa setelah pindah ke apartemen pacarmu itu?"
"Eh?! Kami punya TV kok! Tapi maksudku, itu kan masih rumor! Kau tahu sendiri kita tidka bisa langsung percaya perkataan polis-"
"Aku serius, Naruto..!" Wajah panjang Shiroi langsung dimajukan dengan ekspresi serius, ekspresi yang jarang Naruto lihat dari mantan bossnya ini. "Kau harus berhati-hati. Rumor tentang pembantaian kaum gay itu benar..! Kau harus memperhatikan sekelilingmu lebih teliti lagi. Jangan tunjukan kalau kau gay di depan umum! Kalau bisa, sanggah jika ada teman yang menanyakan soal orientasi seksualmu! Mereka terus merekrut pembunuh, Naruto! Pembunuh yang hanya masyarakat awam..! Orang-orang di sekitarmu!"
Kini Naruto langsung menegakan punggungnya. Keringat dingin muncul di lehernya. Ekspresi Shiroi terlihat sangat meyakinkan hingga rasanya ia langsung curiga akan rumor itu. Jika rumor itu benar maka keberadaannya, Sasuke, dan teman-temannya tentunya terancam.
"Ma-masa sih? Maksudku, Jepang sudah mulai menerima kaum kita di sini!" ucap Naruto dengan mata terbelalak.
"Yang menerima itu hanya beda tipis dengan yang tidak menerima. Tidak, jangan lihat kuantitas! Lihat kualitas, Naruto! Kalau yang menerima kita hanya sekedar menerima dan yang menolak kita termasuk kaum ekstrem, tentunya kita masih belum bisa bernafas lega!"
"Tapi, fujoshi dan fudan-"
"Persetan mereka! Mereka bisa jadi hanya suka manseks untuk libido mereka saja! Sama seperti kebanyakan pria di Amerika terangsang setiap melihat 2 gadis cantik lesbian! Kadang mereka hanya ingin menaruh seorang pria girly yang manis untuk dimacam-macami tubuhnya atau melihat betapa seksinya 2 pria rupawan bersetubuh! Aku tidak bermaksud menjelek-jelekan mereka, aku sendiri fudanshi. Tentu saja. Tapi maksudku, mereka tidak peduli pada kita, Naruto. Jika kita banci seperti Grell Sutcliff, mereka tidak suka dan tidak akan mendukung. Jika kita berperawakan indah mereka akan menyukai kita dan membela kita! Tapi untuk kaum gay yang gemuk atau jelek? Yang banci dan transgender? Apa mereka masih mau membela?
"Begini saja, Naruto. Fujoshi dan fudanshi memang semakin banyak di Jepang, tapi mereka tidak berada di perahu yang sama dengan kita! Mereka masih hetero! Untuk apa mereka bertarung untuk kita? Ini bukan masalah mereka! Ini bukan masalah para pro LGBT yang hetero, bukan masalah fujoshi dan fudanshi, terlebih lagi bukan masalah siapapun yang heteroseksual! Bahkan hal ini masih belum menjalar menjadi masalah kaum lesbi. Belum ada kaum lesbi yang dibunuh oleh mereka. Setidaknya untuk saat ini… Namun saat ini kita, kaum gay, ini adalah masalah serius kau dengar aku, Naruto?!"
Mendengar peringatan Shiroi mulut Naruto langsung mengap-mengap seperti ikan. Ia sendiri tidak curiga sama sekali kalau ini merupakan hal serius. Lagipula, TV memang sering mencari-cari sensasi, mengubah kenyataan menjadi kebohongan dan menyembunyikan hal penting dengan hal lain yang lebih populer. Namun, jika hal ini benar-benar serius? Apa yang harus dia lakukan?
Apa yang harus mereka lakukan?
Sebuah tepukan lembut tiba di pundaknya, menenangkannya dari kondisi kagetnya,
"Jangan setakut itu, Naruto. Selagi kau tidak terang-terangan menunjukan orientasi seksualmu di depan umum, kau masih aman-aman saja. Tapi ingat, ini bukan hal main-main!" Shiroi kembali menegakan punggungnya dan membuat dirinya nyaman kembali, "Sekarang ceritakan, bagaimana keadaan mayat Endo-san yang kau temukan itu?"
Naruto meneguk air liurnya sedikit untuk meredakan rasa tegang yang menjalar tubuhnya, "I-itu, aku sudah jelaskan di TV kan? Polisi juga sudah melakukan autopsi. Mayat itu meninggal karena ditembak. Ada luka tembakan di dahinya, tepat diantara kedua matanya… Dia tidak meninggal karena tenggelam atau apa, dia ditembak…" bulu kuduk Naruto bergidik ketika ia kembali mengingat keadaan tubuh bengkak biru itu.
Shiroi mengangguk-angguk kecil, "Hm… Begitu…" kemudian dia kembali tersenyum dengan senyuman liciknya (yang naruto pikir tidak pernah bisa diubah. Tidak peduli Shiroi sedang menipu atau tidak). "Hanya itu saja info yang aku butuhkan. Hahaha! Terima kasih, Naruto!" Shiroi menepuk-nepuk pundak Naruto yang masih tegang, "Kau mau minum apa? Aku traktir!"
Naruto langsung mengerjap, "Ah! Aku pulang naik motor, aku tidak bisa minum!" namun dalam hatinya ia mengumpat. Saat-saat seperti inilah ia butuh minum. Untuk menenangkan syarafnya dan melupakan hal-hal yang tidak enak. Tapi tidak! Ketahanannya terhadap alkohol sangat rendah dan dia masih sayang nyawanya!
"Hmph! Sayang sekali…" kata Shiroi dengan nada yang disedih-sedihkan. Dia kemudian memanggil pelayan bar untuk memesan minumannya dan kembali kepada Naruto. Saat itu pikiran Naruto sedang penuh sehingga rasanya ia sendiri tidak tahu apa yang harus ia pikirkan. Ia pandangi Shiroi yang lebih terlihat seperti rubah baginya. Pertanyaan muncul di kepalanya, bagaimana Shiroi bisa yakin tentang pembunuhan ini? Ataukah mungkin pembunuhan ini bisa dibilang pembantaian?
"Apa itu teman-temanmu?" tanya Shiroi sambil mengangkat wajahnya ke atas, memandang ke belakang Naruto. Naruto sendiri menjadi terkaget-kaget dan langsung berbalik.
Shikamaru dengan wajah malasnya terlihat semakin muram. Dia memakai jaket kulit hitam dan kaus putih polos dengan jeans abu. Sepatu sneakers kesayangannya yang sudah robek-robek masih dipakainya, namun tali sneakers itu selalu terikat rapi seperti biasa; panjang 'telinga kelinci' satu dengan yang lainnya selalu sama. Gaya jalannya kembali santai, lebih seperti hidup tidak hidup. Shikamaru selalu terlihat tidak niat hidup jika tidak sedang mempersiapkan konser atau sedang manggung.
Sai terlihat semakin dan semakin sombong, mungkin lebih terlihat bahagia. Naruto belum pernah melihat Sai penuh dengan emosi sebelumnya. Dia berjalan seperti melompat-lompat, mungkin dia memenangkan permainan bilyar tadi. Tumben, karena Shikmaru biasanya selalu menang. Gaya pakaian Sai juga semakin berubah, berubah menjadi semakin 'gay'; kaus abu v-neck ketat dengan lengan semi-long yang memperlihatkan sedikit pusarnya dan celana skinny abu ngatung. Anting di telinga kirinya juga berganti menjadi bulatan berwarna pink stabilo (yang Naruto dan Shikamaru sendiri jijik melihatnya). Sebenarnya Naruto bingung, dia sendiri yang gay tidak pernah berpakaian seperti itu. Apa selama ini dia salah berpakaian sebagai gay atau semua itu hanya stereotype?
"i-iya, mereka rekan bandku…" jawab Naruto ragu-ragu. Ia masih memikirkan kemungkinan bahwa rumor tersebut benar, namun hatinya masih menentangnya. Ia tidak ingin percaya karena ia tahu, jika rumor itu benar maka hari-hari bahagia ini akan segera berakhir. Ia tidak takut mati, ia yakin ia bisa bertahan hidup. Ia juga yakin, meyakinkan dirinya, kalau Shikamaru dan Kiba dapat melindungi diri mereka sendiri. Sedangkan Sasuke? Ia akan menjaganya. Mereka akan saling menjaga. Ya…
Naruto membuang jauh-jauh rasa takutnya dan tersenyum kembali, membiarkan pandangan positif menguasai kepalanya lagi. Lagipula, hal yang belum terjadi lebih baik jangan dipikirkan terlalu serius kan? Ya kan?
"Hoi, Naruto, siapa temanmu ini?" tanya Sai dengan senyum absurdnya lagi. Naruto bisa merasakan pandangan curiga Shiroi pada Sai.
"Ini Matsumoto Shiroi, mantan bossku waktu aku masih kerja part-time di restoran. Waktu kita masih debut, ingat?" Naruto kemudian beralih kembali ke Shiroi, "Shiroi-kun, ini rekan bandku, Sai di bass (Sai mengangkat tangannya) dan Shikamaru di vokal sekaligus penulis lirik kami (Shikamaru hanya menguap dan menggosok leher belakangnya)."
Shiroi tersenyum hingga gigi putihnya (yang entah kenapa taringnya menonjol sekali) terlihat, "Aku Matsumoto Shiroi." Dia mengeluarkan selembar kertas dari kantung T-shirtnya, "Ini kartu namaku."
Mereka mengobrol sebentar sambil menikmati sedikit alkohol (kecuali Naruto, yang ngiler setiap melihat gelas teman-temannya). Shiroi adalah orang yang unik di mata Naruto, dia selalu berhasil bersosialisasi dengan orang lain (sekaligus membuat orang lain takut terhadapnya). Jarang ada orang yang selalu berhasil berteman dengan semua orang, mungkin mantan bossnya ini sangat ekstrovert. Malah, Sai yang seringnya salah paham dalam berbagai macam langsung mengerti apapun yang dikatakan Shiroi. Lebih lagi Shiroi yang mengubah dirinya sendiri seperti bunglon dan menyesuaikan otaknya sesuai otak Sai. Shikamaru yang tadinya malas juga mulai bersemangat untuk membicarakan hal-hal remeh yang penting seperti penggunaan tabung gas dan kompor elektrik.
Saat mereka tengah asiknya mengobrol, Shiroi mengecek HPnya dan warna matanya menjadi semakin bersinar. Naruto tidak tahu kenapa, tapi ada rasa takut setiap ia melihat mata biru itu bersinar.
"Hah! Akhirnya Yuuki-chan datang~" nyanyi Shiroi dengan nada main-main. Tangannya mengoyang-goyangkan HPnya. Naruto, Shikamaru dan Sai (terutama Sai) langsung terkaget-kaget. Namun mereka segera menyingkirkan pemikiran itu dan mengingatkan diri mereka kalau Yuuki milik Sai dan Yuuki yang Shiroi sebutkan mungkin saja berbeda. Akan tetapi semua itu langsung hilang ketika seorang pria mendatangi mereka.
Pria itu memakai kemeja putih tidak berlengan dengan gelang platinum di kedua lengannya. Celananya Jeans hitam yang sedikit gombrang dan kepanjangan, menutupi kedua sisi sneakers putihnya. Naruto akui tubuh pria itu lumayan bagus, seksi malah. Tangannya langsing dan panjang, dengan jari lentik dan kuku yang bagus pula. Namun wajahnya terlihat ketakutan dan sedikit tegang. Rambut hitamnya bergelombang panjang hingga melewati bahu, menutupi satu matanya dan sebagian wajahnya. Matanya menyipit tanda bahwa dia merasa terancam dan berusaha terlihat marah, tapi sebenarnya tidak. Dia seperti kelinci yang selalu siap untuk disantap sekumpulan rubah lapar.
Rubah seperti Shiroi kalau Naruto melihat caranya memandang pria itu.
"Naruto… Shikamaru… Itu Yuuki yang tidur denganku…" ucap Sai seperti sedang mengawang-awang di alam mimpi.
"Hah?" sahut baik Naruto maupun Shikamaru.
"Oh? Jadi dia sudah tidur denganmu?" tanya Shiroi. Senyumnya semakin misterius.
"Iya… Apa kau juga pernah tidur dengannya, Shiroi-kun?" jawab Sai. Naruto ingin sekali menabok kepala ngaco Sai ini.
"Hah, aku lebih spesial dari kalian yang hanya melakukan one-night stand dengannya…" jawab Shiroi dengan nada main-main.
"Apa maksudmu?" tanya Sai penasaran.
Tepat sebelum Yuuki sampai di hadapan mereka, Shiroi memberitahu mereka dengan nada rendah, "Aku adalah sex friend pria ini. Itu berarti aku bisa tidur dengannya kapanpun aku mau jika dia sedang mau juga." Senyumnya semakin licik dan matanya menusuk tajam ke Sai. Naruto bisa melihat rasa kaget sekaligus marah muncul di wajah pucat Sai.
"Shiroi, maaf aku baru datang sekarang. Kau sudah lama menunggu?" kata Yuuki. Bagi Naruto suara Yuuki terlalu halus dan pengucapannya terlalu kaku. Memang terbaca kalau dia pintar dan dia seorang guru, tapi dia terlalu serius dan kaku. Pastinya tidak akan menyenangkan jika mereka bermain dengan pria ini.
"Jangan khawatir. Setidaknya aku bertemu dengan salah satu fansmu, Yuu-chan~" jawab Shiroi sambil menunjuk Sai dengan jempolnya.
Yuuki segera memandang ke Sai dengan pandangan bertanya-tanya. Naruto pikir dia pasti tidak mengenali Sai, orang yang sudah tidur dengannya. Juga mendengar penjelasan Shiroi tentang Yuuki, pria serius ini pasti sudah banyak tidur dengan pria lain. Dalam hati, Naruto mengejeknya sebagai gigolo dan memandangnya rendah.
"Y-Yuuki! Aku Sai, orang yang tidur denganmu Rabu 2 minggu yang lalu. Kau pasti ingat karena biasanya kau hanya datang Sabtu malam tapi malam itu kau bilang kau datang karena sedang mengalami hari buruk!" sahut Sai hampir berteriak, membuat wajah Yuuki menampakan serabut merah muda di pipinya.
Shikamaru menggeplak kepala Sai, "Si bodoh ini! Jangan seenaknya mengumumkan kalau kau tidur dengan seseorang di depan umum!"
"Tapi kalau begitu mana mungkin dia mengenaliku? Kenyataannya kami memang tidur-"
Plak! Shikamaru menggeplak kepala Sai lagi, "Sudah! Jangan bahas tidur meniduri lagi!" Kemudian dia beralih ke Yuuki yang memandangi mereka dengan pandangan bingung dan curiga. Ketika Shikamaru hendak mengulurkan tangannya ke Yuuki, hendak memperkenalkan diri, Yuuki langsung melompat kaget ke belakang. Shikamaru kembali memandang aneh ke Yuuki. Naruto yakin Shikamaru sama tidak sukanya dengan pria itu seperti Naruto sendiri.
"Jangan takut, Yuu-chan. Mungkin fansmu ini hanya mau tidur denganmu lagi." Kata Shiroi, wajahnya terlalu dekat dengan tubuh Yuuki.
"Tidak! Aku hendak memintamu untuk menjadi pacarku! Yuuki-san!" sahut Sai tanpa malu-malu. Naruto dan Shikamaru langsung memandang kesal pada Sai, mereka jelas-jelas tidak menyetujui hal itu, tapi mau apa? Mereka sudah dewasa dan ini keputusan Sai.
Yuuki kini memandang Sai dengan pandangan bersalah. Wajahnya kini terlihat memelas hingga Naruto tidak jadi benci padanya.
"Maafkan aku… Aku tidak mau memiliki hubungan romantis dengan laki-laki lain…" jawab Yuuki sambil menundukan kepalanya.
"Apa maksudmu kau tidak mau memiliki hubungan dengan laki-laki lain?! Lalu apa hubunganmu dengan Shiroi-kun ini?! Kalau kau memang tidak suka pada temanku katakan saja!" bentak Naruto galak. Ia merasa tidak nyaman diaduk-aduk perasaannya oleh pria satu ini. Pertama ia tidak suka pada Yuuki karena pria itu bertingkah seperti lelaki gampangan. Kemudian ia merasa kasihan pada wajah memelasnya. Setelah itu dia mengagetkan Naruto dengan pernyataannya yang tidak masuk akal.
"Tenang Naruto!" bentak Shikamaru sambil menahan pundaknya diam di tempat.
"A-aku dan Shiroi teman sekampus dulu. Kami tidak memiliki hubungan romantis apapun!" jawab Yuuki dengan wajah merah. Naruto semakin marah padanya, pria ini bermain-main dengan banyak lelaki tapi masih bisa malu?
"Sialan! Tapi kau tidur dengannya kan?!" bentak Naruto lagi. Shikamaru langsung menarik pundaknya ke belakang dan meraih lengan kanannya yang siap meninju. Shikamaru selalu bertindak sebagai garis pengaman terhadapnya.
"Aku..! Aku..! Shiroi!" Yuuki langsung membentak Shiroi. Yang dibentak malah tersenyum sombong.
"Yuuki-san! Kenapa kau tidak mau memiliki hubungan romantis denganku? Kita bisa coba dulu kan? Kalau kau tidak nyaman kita bisa berpisah! Ini yang dilakukan oleh semua pasangan di dunia ini!" pinta Sai dengan nada memaksa.
"Aku tetap tidak bisa, maafkan aku.." jawab Yuuki lagi.
"Kenapa?" tanya Shikamaru dengan nada bingung, "Maksudku, kau tidur dengan banyak lelaki tapi tidak mau memiliki hubungan apapun dengan mereka? Kau bahkan tidur dengan Shiroi beberapa kali. Apa kau memiliki rasa takut terhadap komitmen-"
"Tidakkah kalian sadar kalau kita, kaum gay, ini berdosa?! Aku sudah cukup berdosa dengan terangsang oleh sesama jenisku, tapi dengan memiliki hubungan romantis dengan lelaki lain? Aku tidak bisa!"
Jawaban Yuuki membuat baik Naruto, Sai maupun Shikamaru melongo seperti orang bodoh.
"Tunggu dulu… Siapa yang bilang ini dosa?" tanya Naruto tidak percaya.
Yuuki terlihat sedikit sungkan. Matanya tertuju ke lantai dan mulutnya terbuka-tertutup seakan bingung mencari jawaban. Naruto sudah berpikir kalau dia tidak akan menjawab dan bersiap membentak lagi, namun Yuuki segera menjawab, "Kepercayaanku."
"Apa maksudmu? Kepercayaan?" tanya Sai.
"Orang ini beragama dan dia percaya kalau homoseksual itu dosa, puh." Jawab Shiroi dengan gampangnya.
"Apa maksudmu orang beragama tidak boleh menjadi gay?! Aku juga memiliki agama, Shikamaru juga! Sai atheis tapi aku tidak peduli. Menjadi gay bukan pilihan kami dan bukan juga pilihanmu! Hal itu terjadi begitu saja! Kau tidak memutuskan menjadi gay suatu pagi kan?! Lalu kenapa kau menyanggah identitasmu yang sesungguhnya seakan-akan itu merupakan hal yang buruk?!" bentak Naruto. Shikamaru langsung memanggil namanya dengan nada keras, menyuruhnya tenang dan diam. Namun matanya masih bergerak liar kepada Yuuki yang semakin lama semakin menyebalkan. Sok suci, padahal dia sama saja dengan mereka!
Yuuki terlihat terancam dan mulai mundur secara perlahan, tapi Shiroi meraih pinggangnya dan menahannya di tempat. Naruto menyumpahi Yuuki dalam hatinya, pengecut!
"Aku sendiri tidak bisa menjelaskannya… Tapi aku tidak bisa lari dari kenyataan… Aku gay, aku tidak tertarik pada perempuan. Aku bahkan bisa muntah jika melihat seorang wanita telanjang bulat… Tapi aku masih punya kebutuhan seksual. Karena itu aku tidur dengan laki-laki lain tanpa memiliki hubungan romantis dengan mereka. Mengertilah, aku selalu merasa bersalah setiap kali aku bangun dan menyadari aku sudah tidur dengan sesama laki-laki. Aku selalu meminta pengampunan tehadap Tuhan setiap menitnya karena aku tidak bisa berhenti menjadi gay! Dengan tidak memiliki hubungan romantis dan tidak mencintai pria lain aku bisa mengurangi perasaan bersalahku ini! Kalian juga pasti akan bersikap seperti ini jika kalian adalah aku!"
"Tidak!" jawab Naruto tegas. "Aku akan menerima diriku apa adanya! Dengan aku menjadi gay apakah aku berbuat jahat pada orang lain? Dengan aku menjadi gay apa aku menyakiti orang lain? Dengan aku menjadi gay apa aku menghancurkan orang lain?!"
Yuuki memandangi Naruto dengan pandangan tidak percaya, "Tapi aku menyakiti hati Tuha-"
"Persetan! Jawablah pertanyaanku! Apa Tuhan membenci kita karena kita gay atau Tuhan membenci kita karena kita sudah membunuh seseorang? Kalau aku, aku lebih memilih menjadi gay daripada membunuh seseorang! Aku tidak akan pernah mau menikah dengan seorang wanita tanpa mencintainya dan menyiksanya dengan seumur hidup tidak mencintainya! Aku lebih memilih mencintai seorang pria dan membuatnya bahagia daripada 'bertobat' dan merusak kehidupan pernikahan seorang wanita!"
Yuuki memandang Naruto dengan pandangan dingin. Kelinci yang tidak berdaya kini berubah menjadi kucing yang penuh harga diri, "Kau tidak mengerti… Kau sama sekali tidak mengerti…"
Cukup sudah, pikir Naruto. Ia melepaskan cengraman Shikamaru dan langsung keluar dari klub.
"Sasuke, aku pulang sekarang, kau tidak usah menyusulku ke klub." emailnya pada Sasuke.
What are you thinking about when you are coming back home with the still distant sky above your head?
Take a deep breath and give it a thought:
Which way should you take?
MERRY – Oriental BL Circus
Ketika Naruto sampai di apartemen, Sasuke sudah menunggunya di sofa sambil minum kopi dan membaca novel. Naruto langsung berbaring di sofa dan menyenderkan kepalanya di paha Sasuke. Sasuke mengelus-elus rambut Naruto lembut sambil meneruskan bacaannya. Naruto sejenak melihat halaman buku yang Sasuke baca. Tulisannya dari bahasa Inggris dan hurufnya kecil-kecil. Namun novel itu tipis, tidak seperti yang biasanya Sasuke baca.
"Sasuke."
"Hn."
"Apa yang kau baca itu?"
"Of Mice and Men."
Naruto pernah mendengar judul buku itu entah dimana. Pikirannya membayangkan tikus dan manusia berdiri berdampingan untuk dibandingkan. Atau mungkin tentang orang yang ingin berubah menjadi tikus, atau sebaliknya. Naruto kembali teringat dengan Yuuki. Pria itu sangat cocok jika ia berubah menjadi tikus. Pengecut, lari dari kenyataan, lemah. Hidupnya setengah-setengah, tidak bisa menjadi hetero juga tidak mau menjadi homo. Menyalahkan kaum gay yang lain sementara dirinya sendiri tidak berbeda. Apa dia tidak lebih jijik dengan dirinya sendiri yang tidur dengan banyak lelaki? Itu jauh lebih menjijikan daripada sepasang gay yang setia satu sama lain! Tikus… Ya, Yuuki adalah tikus…
Namun kenapa pria itu bisa dengan begitu percaya dirinya mengatakan kalau gay itu dosa? Tahu darimana dia? Mengapa dia begitu percaya pada pandangan itu? Pemikiran itu sangat bodoh di mata Naruto. Mereka tidak pernah menyakiti orang lain, ia sendiri tidak pernah memaksa pria hetero untuk masuk ke kelompok gay. Lagipula, untuk apa? Kenapa Yuuki bisa begitu benci dengan orientasi seksualnya sendiri? Kalau diingat-ingat, orangtuanya juga benci dengan orientasi seksual anak mereka ini. Lalu kenapa? Kenapa banyak orang yang membenci gay? Ia menghela nafas sejenak.
"Sasuke."
"Hn."
"Apa menurutmu yang kita lakukan ini dosa?"
Sasuke langsung menghentikan bacaannya dan memandang ke wajah Naruto di pahanya, "Apa maksudmu?"
"Hubungan kita. Apa ini dosa?" tanya Naruto.
Sasuke memutar matanya sebentar dan menghela nafas seakan pertanyaan yang Naruto lontarkan adalah pertanyaan bodoh, "Apa dengan kita memiliki hubungan kita menyakiti orang lain?"
Naruto menyipitkan matanya, berpikir sejenak, "Aku menyakiti orangtuaku dengan menjadi gay…" ujarnya setengah berbisik.
"Kalau orangtuamu mau kau menjadi akuntan sementara kau mau bermain musik bagaimana?"
"Tentu saja aku memilih musik! Sampai matipun aku tidak mau jadi akuntan!" jawab Naruto sambil kembali duduk tegak di sofa.
"Kau akan menyakiti orangtuamu jika mereka mau kau menjadi akuntan walau sebenarnya tujuan hidupmu adalah menjadi musisi. Sama saja dengan homoseksual. Orangtuamu ingin kau jadi hetero namun kau tidak bisa, kau adalah homo. Kau tidak menyakiti mereka. Merekalah yang menyakiti diri mereka sendiri dengan berekspektasi terlalu tinggi." Jelas Sasuke yang kemudian kembali membaca novelnya.
Naruto tersenyum lebar kepada pasangannya itu. Sasuke selalu berhasil membuat perasaannya tenang kembali.
"Sasuke."
"Hn."
"Aku mencintaimu."
Sasuke melirik Naruto yang kini sedang tersenyum lebar. Tanpa aba-aba Sasuke langsung mencium Naruto dan melupakan novelnya yang jatuh ke lantai.
Bibir Sasuke terasa sangat hangat dan lembut di bibirnya yang kering dan dingin. Selalu seperti itu. Tangan Sasuke selalu terasa hangat dan halus, mengelus perut Naruto hingga ia merasa panas. Tangannya sendiri yang kasar langsung mengacak-acak rambut Sasuke dan mengelus leher belakang pasangannya, membuat Sasuke mendengkur seperti kucing. Tanpa ia sadari Sasuke sudah melepas bajunya dan mengangkatnya ke kamar.
Mereka bercinta hingga malam. Setiap sentuhannya tidak lagi dikuasai oleh nafsu seperti ketika mereka masih muda. Mereka saling menyentuh dengan perasaan kasih dan lembut. Mereka seakan ingin saling membuktikan perasaan cinta mereka melalui perbuatan. Karena setiap gerakan yang mereka lakukan menjadi semacam tarian dalam upacara bagi mereka. Mereka menikmati persatuan mereka dan keduanya tersenyum.
Di mata Naruto Sasuke adalah orang paling sempurna yang pernah ia temui. Wajahnya bercahaya bagai malaikat dan matanya penuh dengan keagungan seperti seekor singa. Ia mengelus pipi Sasuke yang sudah memerah dan pipi itu terasa hangat. Segala sesuatu dari dalam diri Sasuke selalu hangat, lembut dan indah. Ia ingin selalu menyenangkan dan melindungi Sasuke, selalu bersama Sasuke dan hadir dalam setiap peristiwa dalam hidupnya. Apakah ini yang dinamakan cinta?
Ia menggenggam tangan Sasuke erat ketika pria itu memasukinya. Matanya mulai buram dan ia sudah tak bisa berpikir jelas lagi. Yang ia lihat hanya Sasuke, Sasuke, Sasuke. Ia tidak sadar suara siapa yang tengah mengerang seperti perempuan ini. Mungkin bukan Sasuke, karena Sasuke terus menjilati lehernya, menggigitinya dan menghisapnya. Nafas Sasuke terasa hangat di kulitnya dan ia sendiri seperti tidak bernafas.
Ia memaksakan mulutnya untuk membentuk satu kalimat, "Aku mencintaimu." Dan Sasuke semakin menggila di atasnya.
Tengah malam Naruto yang tengah tertidur karena kegiatannya tadi dengan Sasuke kembali terbangun oleh ringtone HPnya. Sambil setengah tertidur ia melepaskan diri dari pelukan Sasuke tanpa membangunkan pasangannya itu dan menjawab panggilannya.
"Halo?" jawab Naruto dengan nada mengawang-awang.
"Na-Naruto? Naruto! Naruto!" suara Shikamaru yang histeris membuat rasa ngantuk Naruto hilang dalam sekejap.
"Shikamaru?! Ada apa?!" Naruto segera mendudukan dirinya di ranjang dan melupakan rasa pegal tubuhnya. Ia bisa merasakan gerakan dan gerutuan Sasuke karena terbangun oleh suaranya yang keras.
"Naruto! Uhuk! Naruto..! Kau , kau ada dimana?!" seru Shikamaru, suaranya serak seakan-akan dia sedang menangis. Ataukah dia MEMANG sedang menangis? Naruto kemudian bisa mendengar suara sirene ambulans dan polisi mendekat dan mendekat hingga menulikan telinganya dan meredam suara Shikamaru.
"Shikamaru?! Ada apa?! Apa yang terjadi?! Aku ada di rumah dengan Sasuke! Apa kau mengalami kecelakaan?! Kenapa ada suara sirene?!" teriak Naruto yang mencoba mengalahkan suara sirene yang menulikan. Ia bisa merasakan tangan Sasuke yang hangat mengelus-elus lengan telanjangnya, menenangkannya.
"Naruto! Kau tidak akan percaya ini..! NARUTO..! Uhuk..! KAU TIDAK, KAU TIDAK AKAN PERCAYA APA YANG TELAH TERJADI! BRENGSEK! SIALAN!" suara sesegukan Shikamaru semakin meyakinkannya bahwa rekan satu bandnya itu yang paling kalem sedang panik hingga menangis. Suara sirene dan mikrofon dengan suara seseorang memerintahkan sesuatu mulai terdengar semakin jelas di telinga Naruto, membuat jantung Naruto berdetak semakin kencang.
"Ada apa?! ADA APA?! CERITAKAN PADAKU, SHIKAMARU! APA KAU MENANGIS?! ADA APA SIALAN?!" teriak Naruto yang mulai histeris juga. Jantungnya terus berdetak semakin kencang hingga rasanya sakit sekali, seperti hendak pecah. Kepalanya pusing dan tangannya berkeringat. Tubuhnya gemetaran dan ia menggenggam HPnya seakan itu adalah tali yang menahannya untuk tidak jatuh ke dalam jurang.
"Ada apa Naruto?" tanya Sasuke sedikit ngantuk. Naruto mengacuhkan pertanyaan pasangannya, karena jawaban Shikamaru menghancurkan hatinya hingga remuk tak bersisa.
"NARUTO! SAI MENINGGAL! SESEORANG MEMBUNUHNYA!"
Who's fucking next one?
SiM – Who's Next
To be continue…
Halo, akhirnya saya ngerti kesalahan saya selama ini saat menulis. Terlalu bertele-tele, terlalu detail dalam rangkaian kejadian, dan terlalu robot. Readers yang terhormat, bantu saya cari kesalahan lain, saya pusing memperbaiki cara menulis saya yang absurd ini Omong-omong, ada beberapa hal yang pengen saya sampaikan:
1 . Rocker nggak semuanya sangar dan liar. Saya pecinta rock dan teman saya bilang saya orang yang sangat lemah lembut. Rock lebih ke arah kritis dan memberontak terhadap hal yang memang harus dilawan, menurut saya. Lagipula, sesangar-sangarnya rocker, mereka masih kalah dengan orang militer dan polisi.
2 . Hari-hari ini saya semakin seperti robot. Maaf saya jadi sulit menulis tentang SasuNaru atau kalimat puitis yang menyentuh. Tapi fic ini utamanya tentang hubungan mereka di tengah terror ini kok.
3 . Banyak yang bilang fic saya banyak typo. Saya cek lagi dan mata silinder ini nggak bisa nemu kalau di layar. Mungkin udah waktunya saya punya beta-reader…
Begitulah. Terima kasih sudah baca dan God bless. Kalau ada review dan kritik, silahkan review atau PM~
