The Bible Of Voodoo.
Pair: HunHan Slight Chanbaek-KaiSoo
Main Cast: Luhan, Byun Baekhyun, Oh Sehun and other. (Seiring bertambahnya chap, tokoh juga akan bertambah)
This is BoyXBoy, Yaoi, Mistery-Horror-Supranatural.
Ret: M
Warning: Typo bertebaran dimana-mana, Bhs tidak baku, cerita gaje, OOC. Jangan membaca ini kala malam hari.
Summary:
Luhan dan Baekhyun adalah saudara kandung yang harus pindah ke desa tempat kakek dan neneknya tinggal. Tapi kejadian aneh perlahan muncul dan mengusik kehidupan mereka. Hidup mereka berubah kala menemukan kucing misterius yang mereka selamatkan ditambah kejadian mistis yang mereka alami ada kaitannya dengan masalalu sang mama. APA YANG SEBENARNYA TERJADI? IKUTI KISAHNYA DIBAWAH INI.
FF ini terinspirasi dari anime Ghost at School tapi alurnya mungkin akan sedikit berbeda, namun ada bagian dimana aku mengambil dari anime tersebut, dan FFku ini pure milikku, dan tokoh-tokoh yang ada disini milik keluarga mereka dan Tuhan YME.
… … … …
Kelas musik adalah kelas yang paling disukai oleh Baekhyun. Ia suka sekali dengan musik dan menyanyi. Alat musik yang Baekhyun kuasai adalah piano serta orgen. Sang mamalah yang mengajarkan ia memainkan alat musik tersebut. Luhan sang kakak juga pandai bermain piano. Tapi kakaknya itu, bisa dikatakan multi talent. Luhan juga jago memainkan piano serta orgen, namun ada beberapa alat musik yang dikuasai pemuda itu diantaranya gitar, biola, dan saxophone. Sesungguhnya jiwa seni sang mama lebih banyak diturunkan ke sang kakak — Luhan. Tapi sikap dan watak Luhan sangat berbeda dengan mamanya.
Sang mama memiliki sifat pengasih, berjiwa keibuan, tidak tegaan dan sikap mamanya juga sopan, baik pada oranglain, murah senyum. Sangat berbeda dengan Luhan. Walaupun wajah kakaknya itu lebih banyak diwariskan ke mamanya. Apalagi mata, hidung dan bibir Luhan mirip sang mama. Tapi mengenai watak dan sifat sama sekali tidak mirip dengan mamanya. Malah yang mirip sang mama dari segi sifat dan watak adalah dirinya. Namun Baekhyun akui jika hyungnya itu jauh lebih cantik dibandingkan dengannya.
"Xi Baekhyun." Panggil Jesika Saem memanggil namanya. Jesika Saem adalah guru seni musicnya. Jesika Saem menyuruhnya untuk memainkan piano dan ia memilih lagu Fur Elise. Dengan keahliannya Baekhyun menekan tuts-tuts piano dengan baik. Jari lentiknya seakan sangat lancar menekan tuts-tuts piona tsb. Membuat siapapun yang mendengarnya menjadi terhanyut.
Plok-plok-plok.
Suara tepuk tangan terdengar, dan seluruh teman sekelas Baekhyun bertepuk tangan mendengarkan alunan nada yang dimainkan oleh Baekhyun, sangat bagus. Tak lupa Jesika Saem juga bertepuk tangan mendengar serta melihat permainan piano Baekhyun yang sungguh memukau.
Baekhyun membalas dengan senyuman dan perkataan jika dirinya masih banyak kekurangan dan harus banyak belajar.
Dilain tempat, lebih tepatnya dikelas yang berbeda Luhan merasakan perasaan yang tak enak. Matanya memandang ke luar jendela. Matanya menatap dengan tatapan menusuk, dimana diatas pohon dekat jendela kelasnya kucing abu-abunya itu berdiri disana sambil merenggangkan otot-otot kucingnya, dan juga menjilat-jilat kaki-kakinya.
"Xi Luhan!" Panggil gurunya, dan sontak kepala Luhan ia tolehkan kearah gurunya.
"Ya Saem." Jawab Luhan.
"Apakah penjelasanku begitu membosankan, sampai-sampai dengan tak sopannya kau malah melamun dan menikmati pemandangan diluar sana? Kalau kau suka lebih baik kau keluar dari kelas ini, SEKARANG!" Bentak sang guru. Luhan tak ingin membantah, ia pun keluar dari kelas kemudian berjalan menuju atap sekolah.
Diatas atap, kucing yang bernama Embul namun telah diganti menjadi Sehun itu pun muncul. Luhan melirik kucing itu sengit, tatapan matanya tajam, sedangkan sang kucing merasa tidak peduli dengan tatapan menusuk Luhan.
"Mengapa kau terus mengikutiku, hah!" Tanya Luhan sengak. Kucing ini diam sambil berdecih, ditatapnya Luhan dengan mata kucingnya.
"Aku tidak mengikutimu, aku hanya ingin melihat pertunjukan yang bagus diatas sini. Khu-khu-khu..." Jawabnya tertawa mengejek. Melihat kucing itu seakan memiliki rencana, Luhan segera menyangkatnya.
"HAI-HAI-HAI LEPAS! KAU TIDAK SOPAN PADA OH SEHUN, SANG AMANOJAKU! RAJA DARI PARA SETAN." Bentak Sehun, tapi Luhan seakan tidak takut dengan gertakan Sehun. Ia merasa jika Sehun hantu yang lemah.
"Cih! Kau itu sekarang adalah kucing. Kau bisa apa dengan tubuh kecil ini, hah!" Sindir Luhan pada Sehun. Sehun marah dan ingin membalas Luhan. Berani-beraninya anak bau kencur ini menghina sang Amanojaku, ia merasa terhina.
"Cih! Kau anak bau kencur, tahu apa kau tentang diriku. Usiaku sudah ribuan tahun, dan aku adalah makhluk abadi. Sedangkan kau manusia yang menjijikan. Kau dan Mamamu sama saja MENYEBALKAN." Luhan marah. "Dasar kucing sialan!" Luhan marah sosok yang bersemayam ditubuh kucingnya ini. Sosok itu telah menghina mamanya. Ia tak suka jika oranglain mengatai mamanya, apalagi keluarganya. Dengan kasar dan sadis tanpa perasaan Luhan melempar kucing itu hingga terbentur tembok. Sang kucing tertohok, dan kesakitan.
"HAI SIALAN! JIKA KAU MENJELEKKAN MAMAKU, AKU AKAN MENGHABISIMU, AKU TIDAK PEDULI KUCING ITU MATI, DAN SETELAHNYA AKU AKAN MENYEGELMU UNTUK SELAMANYA." Ucap Luhan tegas.
Sehun menyeringai, dengan tubuh kucingnya berjalan terseok-seok kearah Luhan. "Tak kusangka kau sangat sadis. Hms.. jika aku lihat, kau tidak seperti mamamu. Mamamu tak sesadis dirimu."
"Cih! Memang! Aku sangat berbeda dengan Mama. Aku tahu, banyak yang mengagumi mama karna kebaikannya, kelembutannya-tapi aku berbeda. Aku adalah cermin dari diri mama yang lain. Banyak yang bilang jika wajahku seperti mama, namun jika menelisik watak dan sifatku-sangatlah bertolak belakang dengan dia. Yang mewarisi kebaikan hati mamaku adalah Baekhyun." Ucap Luhan menatap tajam kearah kucing itu
.
.
.
.
Karna Jesika Saem menyukai Baekhyun tak ayal, Jesika Saem menyuruh Baekhyun untuk menemaninya menaruh barang yang sudah tidak terpakai kegedung sekolah lama. Mendengar gedung sekolah lama membuat Baekhyun merinding. Ia ingin menolaknya tetapi namanya Baekhyun, ia tidak dapat menolak bantuan orang lain, apalagi itu adalah gurunya.
"Baiklah Saem." Ucapnya tersenyum. Walaupun itu senyuman terpaksa. Tapi nampaknya sang guru tidak melihatnya.
.
Jujur Baekhyun merinding sekarang, tapi ia adalah pria. Seorang pria harus manly, tidak boleh cengeng dan penakut.
Jesika dan Baekhyun hendak masuk, tapi langkah Jesika terhenti kala ia melihat ada siswanya yang diam-diam merokok di dekat semak dan pohon-pohon. Jesika yang geram ingin menghukum siswanya yang nakal tsb segera menyuruh Baekhyun memindahkan semua barang kedalam sana.
Baekhyun menelan ludah, ia benar-benar takut serta merinding. Gedung sekolah lama masih meninggalkan bekas trauma yang disebabkan bangkitnya Amanojaku. kejadian tersebut masih membekas didirinya.
Burung-burung gagak datang, lalu hinggap di atas atap, sambil berkoak-koak. Seakan-akan memberikan peringatan untuk tidak masuk kesana. Kesan suram disekitarnya membuat bulu kuduk Baekhyun meremang.
Dengan sisa keberanian ia melangkah masuk, beruntunglah cuaca masih siang, sehingga sinar matahari dapat masuk di celah-celah bobroknya bangunan ini.
Tap.
Tap.
Tap.
Langkah kakinya seakan menggema diantara keheningan sekolah tua ini. Dengan membawa 2 tumpukan kardus membuat Baekhyun menahan nafas yang disebabkan bulu kuduknya meremang. Keringat dingin mulai mengalir.
Kriet...
Brak!
Baekhyun terjengkit- Kaget, kala bunyi pintu yang tertutup dengan keras. Ia merinding, pasalnya tak ada angin dan mengapa pintu tiba-tiba tertutup? Pikirnya.
Dengan mulut komat-komit tidak jelas, ia harus segera menemukan ruang musik dan memasukkan barang-barang sialan ini kesana.
"Ruang musik, ruang musik." Monolognya. Namun dianak tangga ke 7 ia mendengar suara alunan musik piano. Baekhyun tahu betul judul apa yang tengah dimainkan oleh seseorang -yang tak ia ketahui.
Rasa takut yang tadinya ia rasakan entah mengapa perlahan menghilang, yang ada ia penasaran siapa orang yang memainkan alunan musik yang sangat bagus tersebut. FUR ELISE, judul melodi tersebut, karangan pemusik klasik bernama Ludwig Van Beethoven. Baekhyun sangat mengetahui tentang pemain musik legendaris tersebut, dan salah satu melodi yang ia sukai adalah Fur Elise.
Langkah kaki Baekhyun yang pelan mencari siapa gerangan yang memainkan alunan melodi tersebut. Dan langkah kakinya terhenti kala ia melihat sebuah plang kayu yang catnya telah memudar serta lapuk. RUANG MUSIK. Tercetak tebal, namun terkesan luntur dimakan usia.
Ia membuka pintu geser ruang bekas musik. Begitu ia membuka pintu itu, lagu yang dimainkan telah selesai. Baekhyun mengeryit kala matanya melihat ruangan itu kosong. Bangku-bangku tergeletak tak karuan, dan tirai yang berdebu, serta sebuah piano disana. Dengan perasaan takut, namun penasaran ia perlahan-lahan mendekati piano itu.
Tap-tap-tap.
3 langkah kaki, ia telah maju 3 langkah. Baru tiga langkah ia menelan ludahnya. Ia tambah menjadi 5 langkah tubuhnya meremang dadanya berdetak. Sedikit lagi, 2 langkah ia sampai ke piano. Ia tengokkan kepalanya, kosong. Tidak ada yang duduk disana.
Merinding.
Semua bulu romanya berdiri. Ia mencoba mengetes, apakah piano itu berbunyi atau tidak. Ia tekan tuts-tuts piano, bersentuhan dengan jari lentiknya, namun nihil. Tak ada nada yang keluar, semuanya tuts-tutsnya mati. Dan tubuh Baekhyun semakin menegang.
"HA-HANTU...!"
Ia lari dari tempat ini, yang ada didalam benaknya adalah ia tidak akan memasuki gedung sekolah AKAN! Baekhyun berlari sambil menangis. Jujur saja, ia paling takut dengan yang namanya hantu dan hal-hal mistis lainnya. Mengapa saat dirinya pindah ke desa tempat ibunya berasal kejadian aneh selalu menghantuinya? Ditambah kucing yang ia pungut dijalan saat ini tengah bersemayam sosok iblis atau raja setan yang bernama OH SEHUN tak lain adalah AMANOJAKU.
Sepeningkalnya Baekhyun dari sana. Sosok hantu itu muncul, dan berkata,
"Kurang 3 kali lagi." Dengan suara yang dingin, serta tawa yang menakutkan.
.
.
.
.
Luhan yang kesal karna Sehun tak lain Amanojaku si kucing iblis baru saja membuat darahnya naik. "Benar-benar kucing sialan!" Sewotnya.
Deg!
Luhan merasaka aura aneh dari gedung sekolah lama. Perasaan ini sama sewaktu Amanojaku bangkit. Mata Luhan semakin tajam menatap kucing itu.
"Apa kau merasakan ketakutan, heh?!" Sindir Sehun.
"..."
Diam, Luhan tak menjawab apa yang dikatakan oleh kucing ini. Ia malah berjalan ke dekat pagar pembatas, ia merasakan ada energi yang tak biasa di lantai dua gedung sekolah lama. Dilantai itu ia merasakan enargi yang tak biasa, serta ia melihat dibawah sana Baekhyun- berlari terbirit-birit. Ia melihat Baekhyun baru saja muncul dari gedung sekolah lama menjadi cemas. Ada apa dengan adiknya itu.
Luhan yang cemas, ia berlari turun. Ia pergi beranjak dari sana. Untung saja jam istirahat berbunyi.
Bagi Luhan, dirinya tak takut apapun. Yang paling ia takutkan adalah perpisahan. Ia takut berpisah dengan orang yang disayangi. Seperti mamanya, papa dan yang terpenting Baekhyun. Ia sangat menyayangi adiknya, baginya Baekhyun itu hal yang paling utama dan ia akan menjaga Baekhyun, bagaimanapun caranya. Katakanlah ia protektif pada adiknya, tapi dibalik sikap keras, dingin, terkesan kaku, ia adalah pribadi yang lembut, peduli dan sangat menyayangi adiknya itu.
Sehun menatap kedua bersaudara tersebut dengan seringaian. "Hn, menarik." Monolognya sambil menjilat-jilat kaki kucingnya.
.
.
.
.
Luhan langsung menghampiri Baekhyun dan memeluk tubuh Baekhyun. Ia melihat jika adiknya menangis dan ia semakin cemas. Ia menuntun adiknya ketaman, Luhan mendudukan sang adik dibangku taman. Ia menunggu sampai adiknya berhenti menangis. Setelah tangisan sang adik mulai mereda ia bertanya, mengapa adiknya ini menangis?
"Ada apa denganmu Baek? Cerita pada Hyung." Tanya Luhan sambil mengelus punggung Baekhyun, menenangkan.
"H-hyung, ge-gedung i-itu... aku takut hyung! Hiks-hiks." Luhan mengeryit melihat Baekhyun ketakutan, shock. Bahkan untuk berbicara saja sulit. Luhan langsung memeluk adiknya ini, mengelus punggungnya serta mengatakan kalimat menenangkan.
"Tenanglah Baek, hyung disini. Hyung akan menjagamu, kau tenanglah. Semua akan baik-baik saja. Ceritakanlah pada hyungmu ini." Pinta Luhan. Tapi Baekhyun hanya diam, ia semakin mengeratkan pelukannya dan terisak dibahu hyungnya.
Setelah beberapa menit kemudian Baekhyun menceritakan kronologis kejadian secara jelas dan beruntun. Mulai dia disuruh oleh Jesika Saem, sampai Jesika Saem pergi meninggalkannya karna melihat beberapa siswa merokok sampai ia mendengar alunan musik dari Beethoven yang berjudul Fur Elise, dan ternyata setelah ia masuk ternyata -kosong. Tak ada siapapun didalam ruangan dan yang membuat ia ketakutan piano yang berbunyi itu sudah rusak. Semua tutsnya tak ada yang berbunyi. Luhan mendengar penjelasan Baekhyun dengan wajah penuh perhatian namun ada keseriusan didalamnya. Ia tak ingin melewatkan hal sekecil apapun dari cerita adiknya ini.
Setelah Baekhyun selesai bercerita, Luhan berpikir. Ia memegang dagunya, seperti seorang detektif yang tengah memecahkan kasus.
"Bagiamana Hyung..." Tanya Baekhyun.
Luhan menatap sang adik. Ia tersenyum, berharap sang adik tidak panik.
"Kau tenang saja, Hyung akan menjagamu." Terang Luhan menenangkan.
Sejujurnya Luhan cemas, dan ia tak tahu hantu apa diruang musik - gedung sekolah lama. Ia tak mungkin memperlihatkan wajah paniknya, ia harus tetap tenang agar Baekhyun tidak takut.
"Sudah, kau tenang saja. Ayo kita masuk kekelas. Bel telah berbunyi." AJak Luhan. Dan Baekhyun mengikuti ajakan hyungnya ini.
.
.
.
.
Dikelas diam-diam Luhan membuka buku atau kitab leluhurnya tentang hantu, setan ataupun jin. Ia membolak-balik setiap halaman. Tapi kepalanya seakan pusing karna buku ini terlalu tebal dan sulit mencarinya jika tidak tahu namanya.
"Shit! Tidak ketemu!" Umpatnya dalam hati. Karna kesal ia langsung memasukan buku itu kedalam tasnya yang ia taruh dilaci meja.
"Kenapa Lu.. kau tampak gelisah." Tanya Minseok kepada Luhan.
"Bukan urusanmu." Balas Luhan dingin sambil melipat tangannya seperti orang berdoa tapi matanya tertuju pada meja dengan pandangan tajam.
Minseok menghembuskan nafas -maklum. Jika Luhan memasang wajah serius semacam itu, itu berarti Luhan tidak mau diganggu.
.
.
Kedua saudara ini berjalan beriringan pulang, kali ini mereka tidak berdua saja. Ditemani, Kai, Chanyeol yang sesekali menggoda Baekhyun dan ditatap membunuh oleh Luhan. Tapi dasarnya Chanyeol yang tidak peka, atau tatapan menusuk Luhan dianggap tatapan tak menakutkan untuknya, ia tetap saja mendekati Baekhyun dan selalu menggoda Baekhyun yang ujung-ujungnya membuat pemuda penyuka eyeliner ini tertawa terkadang mengerucutkan bibirnya kesal. Tidak hanya kedua orang itu saja, ada Yixing juga yang serute dengan mereka.
"Hai Lu, apa ada yang kau pikirkan? Aku lihat kau tampak tidak tenang? Tanya Yixing yang berjalan disampingnya.
"Tidak ada." Balas Luhan singkat. Tanpa menatap kearah Yixing.
"Baiklah, tapi jika kau butuh bantuan kau bisa mengatakannya padaku."
"..."
Luhan berjalan sambil melamun, atau lebih tepatnya berpikir. Tanpa terasa ia berjalan paling belakang. Biarlah ia dibelakang, karna saat ini ia butuh ketenangan untuk berpikir.
"Khu-khu-khu... apakah kau butuh bantuanku..."
Luhan melirik kucing yang ia pungut itu dengan tatapan menusuk. Pasalnya sang kucing tengah menggodanya, atau lebih tepat menyindirnya.
"Pergilah, jika kau hanya ingin membuatku kesal." Usir Luhan.
"Khu-khu-khu... apa kau tak penasaran hantu apa yang menggangu adikmu itu, hms..." Goda kucing itu lagi.
Luhan menghentikan langkahnya dan menatap tajam kearah sang kucing.
"Katakan! Hantu apa yang tengah mengganggu adikku." Tanya Luhan dengan sorot mata tajam.
"Khu-khu-khu... maaf tuan Xi Luhan, sayangnya aku tidak tahu. Jika pun aku tahu, aku tidak akan mengatakannya padamu." Luhan geram dan ingin menangkap kucing itu, tapi sang kucing dengan gesit naik keatas pohon. Ia berdiri disalah satu dahan yang cukup tinggi sambil menyeringai dan berkata.
"Hahaha... hantu ini sangat kuat, dan kuharap adikmu tidak sampai mendengarkan alunan musik itu sampai 4 kali. Jika adikmu sampai mendengarkan untuk yang ke tiga kalinya ia akan mati. Karna aku yakin adikmu sudah mendengarkan sampai habis alunan musik yang pertama. Khu-khu-khu..." Setelah mengatakan hal itu kucing tersebut pergi menjauh.
Luhan geram, disetiap perjalanan pulang ia terus mengumpat. Ia benci jika ia tak bisa berbuat apa-apa. Sesampainya dirumah ia tetap menggeram dan mencari tahu hantu apa itu.
Alunan melodi yang dimainkan adalah karangan Beethoven-Fur Elise. Luhan tahu, jika Fur Elise diawal penciptaannya masih misterius. Ada yang mangatakan jika judul Fur Elise yang artinya adalah untuk Elise masih simpang siur. Ia pernah membaca beberapa artikel jika alunan melodi itu untuk wanita yang disukai oleh Beethoven sendiri. Nama Elise ada yang bilang itu salah penulisan, ada yang mengatakan jika Elise yang dimaksud adalah Therese, bahwa pada mulanya judul lagu itu adalah Fur Therese. Dan wanita itu bernama lengkap Therese Malfater Von Rohrenbach Zu Dezza (1792-1851) Wanita yang ingin dinikahi oleh Beethoven, tapi sayangnya sebelum dirinya menyatakan cinta sang wanita telah dinikahkan oleh oranglain. Ditambah Beethoven dikenal seorang yang misterius, seperti melodi-melodi yang dimainkannya awalnya tenang, tapi juga mengadung misteri disetiap bait nadanya. Celakanya Luhan salah satu orang yang sangat mengagumi karya-karya Beethoven.
Dirumah, lebih tepatnya dikamar ia terus membuka buku kuno itu. Buku ini baginya sudah lusuh, tapi Luhan yakin jika buku ini memiliki kekuatan magis yang tidak bisa dikatakan dengan kata-kata.
.
.
Baekhyun sampai di rumah kakek dan neneknya. Tak ada yang menyambutnya kecuali para maid dirumah tradisional ini. Ia bertanya pada slah satu maid, kemana perginya kakek dan neneknya dan salah satu maid menjawab jika kakek dan neneknya sedang pergi keluar. Mendengar hal itu ia pun langsung berjalan menuju kamarnya.
Sampai dikamar Baekhyun meletakkan tasnya di meja belajar setelah itu membenamkan tubuhnya diatas tempat tidur. Hampir ia jatuh dari mimpi bunyi alunan melodi Fur Elise terdengar dari kotak musik dikamarnya. Baekhyun bangun dari tempat tidurnya. Ia berjalan mencari kotak musik yang disimpan dikamarnya. Asal suara dari lamari pakaian. Ia buka lemari tersebut. Ia buka setiap lacinya, dengan kondisi panik serta takut ia buang seluruh isi yang tersimpan disetiap laci. Dan tinggal beberapa nada lagi alunan itu akan berakhir. Baekhyun semakin gencar mencari. Bahkan pakaian yang ada didalam lemari yang dikeluarkan semua agar ia dapat menemukan kotak musik yang tak tahu berada dimana. Sampai pada akhirnya ia menemukannya bersembunyi di sudut dalam lemari. Ia lemas sebab melodi tersebut telah berakhir. Muncul suara yang mengerikan dari kotak musik berbentuk penari balet bergerak perlahan-lahan tanpa ada yang menggerakkanny memberitahukan, jika kurang dua kali lagi dan ia akan mati.
Baekhyun menangis, ia takut. Ia tak ingin mati sia-sia. Dengan derai airmata ia keluar dari kamar menuju kamar Luhan hyung.
Luhan yang masih mencari hantu apa yang menghantui sang adik, diganggu oleh bunyi pintu yang diketuk. Luhan mempersilahkan masuk karna pintu tak dikunci.
Baekhyun masuk kekamar sang kakak, dilihatnya Luhan memakai kacamata bacanya dan ia melihat sang kakak sedang membaca buku tua itu.
Luhan menengok kearah pintu dan ia melihat Baekhyun yang masuk kemarnya. Ia dapat melihat jika adiknya ini habis menangis terbukti dari wajah yang sembab dan hidung yang merah.
"Baekhyun, waeyo?" Tanya Luhan cemas. Ia langsung beranjak dari kursi dan memeluk sang adik
"Hyung, aku mendengar lagi. Aku mendengarnya hyung. Hantu itu ingin mengambil nyawaku, hiks-hiks!" Derai airmata keluar dari mata sang adik. Luhan tetap merengkuh adiknya mengatakan kata penenang walaupun ia juga takut dan cemas.
"Kau tenanglah Baek, hyung akan lakukan apapun untuk kau tetap selamat." Luhan merenggangkan pelukannya, ditatapnya penuh sayang adiknya ini, seakan tidak ada yang dapat mengganggunya.
"Dengar, hyung akan melindungimu. Bagaimana-pun caranya. Sebab kau adalah adik hyung yang paling aku sayangi. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu, ingat itu Baek." Ucap Luhan. Dan Baekhyun mengangguk paham.
Luhan menyuruh Baekhyun untuk memakai earphonenya untuk menyumbat telinga agar Baekhyun tidak mendengar suara apapun.
.
Pemuda penyuka eyeliner ini berendam di bak mandi yang berisikan air hangat. Ia melepas earphonenya, menaruh didalam kamar. Ia merasa jika dikamar mandi tak mungkin mendengar melodi sialan tersebut.
Ting!
Terdengar.
Dentingan piano itu terdengar, lebih tepatnya dijam dinding yang tergantung di tembok kamar mandi. Baekhyun keluar dari bak mandi, dengan tubuh telanjang ia berusaha meraih jam dinding itu tapi sayangnya tangannya tidak sampai. Ia ingin keluar dari tempat ini, namun pintu terkunci. Ia menutup telinganya agar tidak mendengar alunan melodi yang membuatnya kesal.
"HYUNG... HYUNG... TOLONG AKU... HYUNG... HYUNG...!"
Teriak Baekhyun minta tolong. Tapi seakan teredam oleh sesuatu. Bahkan jeritan Baekhyun tak terdengar dari luar. Baekhyun kesal, ia melepar apapun ke jam dinding yang terpasang dinding kamar mandi agar jatuh dari sana. Tapi lemparannya selalu tidak membuat jam itu jatuh.
Ting.. Ting...
Dentingan terakhir telah berakhir. Baekhyun menangis dan terisak. Ia memukul-mukul air didalam bak dan membenamkan seluruh tubuhnya didalam bak air. Ia marah, takut, frustasi.
"KURANG SATU KALI LAGI."
Baekhyun mendengar suara setan itu muncul. Acara mandinya menjadi berantakan. Bunyi bantingan pintu terdengar. Bahkan sampai membuat pintu kamar mandi rusak.
Luhan masuk kedalam dan melihat adiknya menangis didalam bak mandi. Peralatan mandi sang adikpun berserakan dilantai. Luhan segera merenguh sang adik. Ia tak mempermasalahkan jika kaosnya basah. Luhan kemari karna mendengar suara teriakan Baekhyun. Ia tangkup pipi Baekhyun, ia juga menyeka airmata yang membasahi pipi adiknya ini.
"Apa kau telah mendengarnya Baek..." Tanya Luhan hati-hati. Baekhyun mengangguk -iya- Luhan kembali memeluk Baekhyun. Dan hari ini ia harus Kembali ke gedung sekolah lama untuk menghancurkan piano sialan itu.
Dan disinilah mereka, di depan gedung sekolah lama. Tidak hanya mereka berdua, melainkan Kai, Chanyeol, Yixing, Minseok dan Kyungsoo. Sejujurnya Kyungsoo malas bergabung. Hell! Dia salah satu yang takut pada hantu. Bukan takut, tapi tidak ingin berhubungan dengan dunia mistis seperti itu.
"AYO KITA HANCURKAN PIANO ITU! Tenang Baek, aku dan yang lainnya akan melindungimu. Kita semua akan melindungimu." Ucap Chanyeol berapi-api. Baekhyun yang melihat kesungguhan Chanyeol merasa berdebar. Pemuda yang memiliki telinga peri ini baginya sungguh tampan dan juga baik.
Merekapun masuk kedalam sana. Sungguh gedung tua ini sangat mengerikan, tak ada penerang apapun kecuali senter yang mereka bawa. Baekhyun beringsut memeluk hyungnya, Luhan. Luhan berjalan memeluk adiknya sambil matanya waspada. Didepan mereka ada Chanyeol, Kai, lalu ia dan Baekhyun kemudian Yixing, Kyungsoo, Minseok.
Mereka berjalan menuju ruang musik dimana piano itu berasal. Sehun, sang Amanojaku mengawasi mereka dari jauh.
"Menarik." Gumamnya
"Bruk!"
Chanyeol terjatuh, ia geram pasalnya ada sesuatu yang menyandung kakinya. Dan ia melihat tumpukan kardus disana.
"Ini ruang musik." Kata Yixing sambil menyenter plang kayu bertuliskan RUANG MUSIK.
Dan semuanya menatap plang kayu yang sudah lapuk bertuliskan ruang musik itu. Mereka pun membuka pintunya dan dentingan melodi itu berbunyi.
Chanyeol maju kedepan. Ia hendak menghancurkan piano itu tapi seakan ada yang menghalanginya, ia malah terpental lalu jatuh.
"CHANYEOL!" Teriak Baekhyun sambil menangis dipelukam Luhan.
Chanyeol kembali bangun dan ia menoleh kearah Baekhyun. "Menangis tak bisa menyelesaikan masalah. Aku tidak akan menyerah! Aku akan melindungimu Baek."
"Eh."
Dada Baekhyun berdebar kala Chanyeol mengatakan kalimat tadi. Tak ia duga pria jangkung ini mengkuatirkan keadaannya. Berkali-kali Chanyeol maju untuk menghancurkan piano itu namun selalu gagal. Piano itu seakan dilapisi kekai sehingga tidak mudah untuk ditembus.
"Cih, SIAL!"
"Khu-khu-khu... kalian tidak mungkin bisa menghancurkan piano itu. Hahaha... kurang beberapa bait lagi dan dia akan mati." Tiba-tiba Kucing abu-abu itu datang. Luhan yang tak tahan dengan kucing sialan itu, ingin menangkap kucing tersebut namun sang kucing dengan gesit menghindar.
"Oh Sehun, aku tahu kau benci pada manusia. Tapi aku mohon padamu, selamatkanlah adikku. Aku rela mengorbankan apapun itu, asalkan kau mau menyelamatkannya." Sang kucing tak lain adalah Sehun menatap dalam mata Luhan. Ada bias keputus-asaan, kecemasan dan ketakutan. Binar mata Luhan bak mata rusa mengingatkannya pada Wanita itu. Wanita yang telah menyegelnya, dan wanita yang ia benci, namun mata rusa itu sekali lagi membuatnya tak berkutik.
"Sekali saja, sekali saja aku membantumu. Lagipula Baekhyun baik padaku." Ada gurat semu pink di wajah kucingnya.
Semua mata tertuju pada kucing itu. Semua memohon, Amanojaku-Sehun mau membantu mereka.
"LUHAN, BUKA BUKU HANTU HALAMAN 720 DISANA TERTULIS HANTU DENBO." Perintah Amanojaku. Dengan gesit, Luhan membuka buku hantu. Sedangkan Amanojaku maju kedepan dan bulu kucingnya berdiri tanda siap melawan.
"KETEMU! Denbo, hantu musik yang suka memainkan alat musik, ia akan menjelma menjadi pemusik terkenal dan akan memainkan alat musik yang ia sukai. Apabila ada yang mendengarkan alunan musiknya sampai 4 kali maka orang itu akan mati. Peringatan jangan mendengarkan alunan musiknya sampai habis. Namunhantu ini sangat kuat."
"CEPAT KAU BACA CARA MENIDURKANNYA! PENJELASAN ITU TIDAK PENTING!"
Luhan ingin protes, namun kali ini ia maklum. Karna posisi mereka sangat terjepit.
Amanojaku yang dari tadi diam, ternyata berlari tidak kearah piano, melainkan ke lukisan berbentuk Beethoven.
"Crazz!"
Dengan cakar kucingnya ia merobek lukisan tersebut. Musik sempat berhenti, dan ke-7 siswa itu seakan tercekat dengan aksi Amanojaku.
Dari lukisan itu keluarlah sosok hantu dengan rambut panjang, dan gaun putih menjuntai. Tangan sosok itu sangat panjang, dan yang paling menakutkan adalah matanya, mata sosok itu hanya satu. Tidak memiliki wajah. Hanya mata saja.
"BRENGSEK! KENAPA KAU MEMBANTU MANUSIA, HAH! KAU JUGA HANTU SAMA SEPERTIKU!"
"CIH, AKU ADALAH OH SEHUN-AMANOJAKU. AKU BUKAN HANTU RENDAHAN SEPERTIMU YANG MENGAMBIL JIWA MANUSIA SUCI."
"Cih, Amanojaku, kau adalah pangeran iblis yang dibuang kan... karna kau telah mempermalukan bangsamu. HAHAHAHA..."
Sosok mengerikan itu malah meremehkan Amanojaku. Sehun geram karna ia tersegel di tubuh hewan lemah, semacam kucing. Ia melawan sang hantu namun sosok itu cukup kuat. Bahkan beberapa kali ia terlempar dan mengeluarkan darah.
"Luhan cepat baca penjelasannya!" Tegur Kyungsoo yang geregetan melihat Luhan yang menatap sosok hantu dan Kucing berkelahi. Apalagi Luhan tampak cemas dengan kucing abu-abunya itu.
"Cara menidurkannya. Ambil metronom dan gerakkan jarumnya sambil mengatakan "Denbo tidurlah kau!" Berulang-ulang sampai hantu tersegel dan menghilang."
"Metronom, ambilkan metronom!" Perintah Luhan. Dan Baekhyun ingat, perlengkalan itu ada didalam kardus. Segera Yixing mengambilkannya lalu memberikan pada Luhan. Luhan berdiri dengan angkuhnya bagai menantang hantu yang menurutnya menjijikan ini.
Sang hantu melihat Luhan membawa metronom ditangan tampak terkejut.
"Sialan!" Umpatnya.
Sang hantu maju ingin menyerang Luhan. Amanojaku ingin menyelamatkan Luhan namun tubuhnya tak dapat digerakan.
"Sial!" Umpatnya.
Serangan itu sedikit lagi mengenai tubuh Luhan, tapi Luhan segera menggerakkan jarum metronom dan mengucapkan mantranya.
"Hantu Denbo, TIDURLAH KAU! DENBO TIDURLAH KAU!"
"TIDAK... TIDAK..." Sang hantu berteriak, tubuhnya seakan dihisap masuk kedalam metronom.
"TIDURLAH KAU!" Luhan dengan tegas mengucapkan mantranya tapi sialnya dentingan piano nista itu masih berdenting sampai didentingan-akan selasai, Luhan menghentikan jarum metronomnya dan hantu Denbo telah menghilang.
"Bruk!"
"BAEKHYUN!"
Bukan teriakan Luhan, melainkan Chanyeol pria jangkung itu. Chanyeol merengkuh tubuh Baekhyun yang pingsan. Ia menepuk-nepuk pipi Baekhyun namun pria itu tidak kunjung bangun.
"Tenang Chan, ia hanya kelelahan." Kata Kai sahabatnya.
"Hms, Baekhyun hanya kelelahan." Saut Luhan. Chanyeol lalu menggendong tubuh Baekhyun dipunggungnya.
Luhan melihat kucing abu-abu tak lain adalah Amanojaku tampak sekarat pula. Ia berbalik dan melangkah mendekati kucing malang ini.
Digendongnya kucing itu, kedalam pelukannya. "Gomawo Sehun, aku tidak tahu harus bagaimana jika tidak ada kau. Hai sadarlah bodoh! Kau jangan mati! untuk kali ini aku akan merawatmu." Ucap Luhan sarkas, namun setelahnya ia tersenyum simpul.
.
.
.
.
Baekhyun telah dibaringkan dikamarnya, sang adik telah tidur dengan pulasnya. Sedangkan Luhan dengan cekatan mengobati luka-luka si embul.
"Ssshh..."
Sehun mengaduh sakit, kala lukanya disentuh oleh sesuatu. Ia melihat tampak Luhan mengobati luka-lukanya.
"Kenapa kau repot-repot mengobatiku?!" Tanya Sehun dengan nada angkuh.
"Berisik! Terima saja. Anggap saja aku sedang gila mengobati hantu sialan macam kau." Balas Luhan sarkas. Sehun mencibir, ia menatap Luhan yang dengan telaten mengobati lukanya, tanpa Luhan tahu jika Sehun tersenyum kearahnya.
.
.
.
TbC.
.
.
.
.
Yehet!
Aku upadate...
Ditengah kesibukanku aku update. Elap keringat! Makasih buat Rydeer yang udah memberikan supportnya di PM. Sama ngingetin aku untuk update. Itu adalah penyemangat untukku. Dan tara... aku update chingu...
Untuk yang tanya ada hubungan apa Sehun ama Yoona. Hms... sebentar lagi akan terjawab. Hehehe...
Sehun apakah nanti jadi manusia atau gak... ikuti aja kisahnya. Apakah ia nanti jadi manusia atau malah disegel lagi ama Luhan.. hohoho... #ketawa nista.
Yang minta anu-anuan sabar ya... inikan baru awal. Masa ia sehun langsung nyosor Luhan, kan Sehun baru menjelma menjadi kucing. Hohoho...
Oh ya satu lagi. Semua nama-nama hantu itu karangan aku sendiri. Untuk nama Hantu Denbo itu ngarang. Nyari di google gak bakalan ketemu. #nyengir. Kalo Amanojaku aku ambil sesuai animenya. Hehehe...
Oke thx to:
Kjkknmw1831/ Cungil's/ RChasania HHS/ Guest/ Novey/ HunHanKShip/ Karinaalysia2047/ Ori. aurel/ Amalianiken safitri/ Vietrona Chan/ Daebaektaeluv/ Arifahohse/ Bijin YJS/ Avelina Lu/ Mr. Albino/ Rydeer/ Dwi Purnama/ LuHunHan/
Oh iya, untuk menunggu Holy Shit, mungkin sebentar lagi akan update. Dan tampaknya juga mau tamat. Hehe...
Maaf juga jika ada kesalahan kata, kalimat yang tidak membuat nyaman dan mohon maaf atas lamanya update.
Oke thx all for review, favorit, follow and sider. ^^
See you next chap. Bye-bye... Pyong! ^^
