Apa yang Luhan sarankan kepada Kai kemarin di cafe ia laksanakan ke-esokan harinya. Pagi-pagi sekali ia ke kuil yang dikatakan oleh Kai, kemarin. Baekhyun sang adik melihat sang kakak pagi-pagi sekali telah menyeretnya untuk segera berangkat ke sekolah merasa bingung. Padahal masih ada waktu kurang lebih 25 menit lagi, tapi sang kakak tidak sabaran malah menyeretnya berangkat bersama. Terpaksa ia menuruti sang kakak yang kelewat sensi itu.
"Hyung, mengapa kau berjalan kearah sini? Bukan kan kita harusnya berbelog ditikungan itu?" Tunjuk Baekhyun mengarahkan tangannya ke arah dimana seharusnya mereka berjalan.
"Berisik, ini hanya sebentar dan kau cukup diam saja. Tidak usah banyak bicara." Hardik sang kakak.
Baekhyun mencibir, dipoutkan-nya bibirnya maju kedepan tanda ia kesal pada sang kakak yang kelewat dingin.
Mereka menuju ke kuil. Tepat di tangga hendak menuju kuil, kedua bersaudara ini berhenti.
"Jadi disini Jimin curhat pada Kai soal dirinya yang tak ingin jadi pemeran utama dalam cerita." Kata Luhan dalam hati.
"Hyung, mengapa kita berhenti disini, ditangga kuil?" Tanya Baekhyun tidak mengerti.
"Baekhyun-ah, apa kau memiliki permohonan? Jika ada buatlah permohonan disini?" Pinta Luhan.
Alis Baekhyun terangkat, dan kerutan dikeningnya muncul. Ia tak mengerti maksud tujuan hyung-nya tsb.
"Hyung, jika kau ingin membuat permohonan, bukannya kita mesti keatas?" Tanya Baekhyun sekali lagi.
"Aniya, kita bisa membuat permohonan disini, di bawah tangga ini?" Terang Luhan.
"Benarkan Itu? Hms... permohonanku ingin ketemu mama, aku sangat merindukan mama hyung." Terang Baekhyun.
Luhan diam, tidak bisa menjawab. Permohonan Baekhyun sang adik yang sangat konyol. Bertemu mamanya yang sudah tiada itu mustahil. Tidak akan bisa.
"Jangan bodoh kau! Permohonanmu itu tidak akan pernah terwujud Baek. Terima kenyataan." Balas Luhan sarkas. Baekhyun sedih atas ucapan sang kakak yang kelewat dingin itu. Bahkan jika tidak ia tahan, mungkin airmatanya sudah menetes.
"Mengapa kalian berdiri disini?" Tanya sosok yang ada didepan mereka berdua.
"Ah, Yixing-ah, kau juga kenapa disini?" Balas Luhan balik bertanya.
"Aku memang setiap hari lewat disini?" Balas Yixing bingung atas ucapan Luhan.
"Ah, aku sedang mengejar kucing abu-abu sialan itu. Pagi-pagi kucing itu sudah membuatku darah tinggi. Rasa-rasanya aku ingin menghajarnya. Kemana ya... kucing sialan itu... menghilang kemana dia ya... awas jika ketemu akan aku cincang kau!"
Baekhyun bingung dengan perubahan sikap hyung-nya ini. Bukankah Luhan kemari mengajaknya untuk meminta permohonan, tapi kenapa sekarang malah si embul yang dibawa-bawa?" Batin-nya.
"Hyung bukankah kau ingin.. ehmmpph..." Luhan membekap mulut adiknya dengan tangannya.
"Loh Han, kau kenapa membekap mulut adikmu?" Tanya Yixing tak mengerti.
"Ah, tidak apa-apa. Ayo kita menuju sekolah, nanti kita terlambat." Alih Luhan, mengalihkan pembicaraan.
"Diam kau Baek, jangan kau coba-coba mengatakan pada oranglain." Ancam Luhan sambil berbisik ditelinga adiknya dan sang adik hanya bisa menganggukan kepalanya mengerti.
Yixing melihat tingkah dua bersaudara ini merasa aneh. Seperti tengah menyembunyikan sesuatu. Ia tahu, jika putra sulung keluarga Xi yang bernama Luhan sangat dingin, bahkan cenderung misterius. Berbeda sekali dengan Baekhyun sang adik yang lebih terbuka, serta ramah jika dibandingkan dengan sang kakak.
Sring!
Eh!
Yixing sekilas berhenti, lalu memandang sekeliling. Ia manatap di atas kuil, dimana kuilnya berada diatas. "Hms, mungkin hanya perasaanku saja." Monolog Yixing berjalan mengikuti dua bersaudara tak lain adalah Luhan dan Baekhyun.
Skip.
Jam istirahat telah berbunyi, entah sudah menjadi kebiasaan atau ketidak sengajaan, mereka yaitu, Yixing, Luhan, Baekhyun, Chanyeol, Kyungsoo, Jongin/Kai, dan juga Xiumin berkumpul disatu meja dikantin sekolah.
Jongin yang duduk disebalah Chanyeol tak pernah bosan memandang paras Luhan yang Jongin akui, jika Luhan ternyata memiliki wajah yang cantik, tak kalah dari wanita.
Luhan memiliki kontur wajah yang bagus, mata, hidung, dagu, semuanya terlihat indah. Kejadian kemarin entah mengapa membekas didiri pria yang sering kali dicap hitam oleh kawan-kawannya.
"Wae?" Tanya Luhan kepada pria yang sedari tadi menatapnya tanpa berkedip, tepat didepannya. Saat ini, Luhan duduk didepan sosok pria bernama Kim Jongin yang suka dipanggil Kai.
"Tidak ada, bagaimana? Apa kau sudah kesana?" Bisik Jongin pada Luhan.
"Sudah tapi gagal. Aku tidak tidak jadi memohon." Saut Luhan.
"Bagimana jika nanti kita kesana." Tawar Jongin.
"Kalian tampak intens sekali, apa kalian merencanakan sesuatu? Atau jangan-jangan diam-diam kalian menjalin hubungan?" Mendadak Kyungsoo yang pendiam tiba-tiba angkat bicara.
Luhan tidak suka melihat nada bicara serta tatapan Kyungsoo yang dingin seperti itu. "Aku tidak memiliki hubungan apapun, dan kau!" Tunjuk Luhan kearah Kyungsoo. "Berhenti menatapku dengan tatapan seperti itu." Luhan kesal, lalu tanpa menunggu yang lainnya selesai makan ia pun pergi dari sana, meninggalkan yang lainnya.
Baekhyun ingin menyusul sang kakak. Tapi tangannya segera ditahan oleh Chanyeol. "Sudah jangan kau kejar, biarkan dia pergi. Aku tidak mau kau yang jadi pelampiasan hyung-mu."
Ta-tapi Yeol..."
"Chanyeol benar Baek, biarkan Luhan sendiri." Kali ini Yixing yang angkat bicara. Sedangkan pria benama Kai, dia malah pergi mengikuti Luhan.
Luhan berjalan menuju atap gedung, disanalah tempat yang pas untuk menenangkan pikiran-nya. Ia merasa tinggal disini sama saja dineraka. Banyak kejanggalan dan hal aneh yang ia temui, bahkan diluar nalar manusia.
"Apa kau sedang ada masalah, aku lihat wajahmu tidak enak begitu." Tanya Sehun sang Amanojaku yang tiba-tiba muncul. Pasalnya kucing itu tiba-tiba muncul dihadapan-nya, membuat pemilik mata rusa itu kaget.
Luhan menatap kearah si kucing. Dilihatnya sang Amanojaku dengan tatapan yang aneh. Ia bahkan mengeryit melihat penampilan Sehun tampak berantakan. Bahkan ia melihat terdapat bekas darah yang mengering.
"Tubuhmu, ada apa dengan tubuhmu? Bukannya aku sudah mengobati luka-lukamu? Tapi itu, mengapa tubuhmu tanpak tak baik, eoh?!" Tanya Luhan ingin tahu.
"Kau tak usah tahu, anggap saja ada kucing liar yang iri dengan ku." Balas Sehun si kucing beralasan.
"Hai, hai, mau apa kau! Lepaskan aku! Jangan berbuat macam-macam padaku! Apa kau akan menjatuhkan aku dari atap gedung ini! Panik Sehun, karena ia tengah diangkat oleh Luhan dengan tidak elitnya.
"Greb!"
"Eh!" Sehun terkejut, pasalnya Luhan tengah menggendongnya seperti bayi. Sehun dapat melihat wajah dingin Luhan yang tengah menggendongnya.
"Aku tidak akan menjatuhkanmu. Aku akan mengobati lukamu. Jadi kau tidak usah cemas." Balas Luhan, dan Sehun si kucing hanya terdiam namun semburat pink menghiasi wajahnya.
Entah mengapa melihat paras ayu Luhan dadanya berdesir. Luhan sangat cantik, mata rusa itu walaupun redup tapi memancarkan kecantikan yang alami.
"Indah." Gumam Sehun tanpa sadar.
"Apa, kau mengatakan apa tadi?" Tanya Luhan seperti mendengar jika Sehun mengatakan sesuatu.
"Tidak, tidak ada. Mungkin hanya perasaanmu saja." Balas Sehun mengalihkan debaran di dadanya.
Dan Luhan hanya mengangkat bahunya tanda tak peduli.
"Luhan!" Panggil Kai pada sosok mungil yang berjalan di depannya.
Luhan berbalik menghadap Kai. "Hn, wae?" Tanya Luhan.
"Apa kau baik-baik saja? Jangan kau dengarkan ucapan Kyungsoo yang telah membuatmu marah." Ucap pemuda berkulit agak gelap dari masyarakat korea pada umumnya.
"Oh, masalah itu. Aku juga sudah melupakan-nya. Jika tidak ada kepentingan lain aku permisi dulu ingin mengobati luka embul yang entahlah dia dapat luka ini darimana." Balas Luhan.
"Kau mau mengobati kucing setan ini?" Tanya Kai tak percaya pasalnya kucing tersebut adalah jelmaan iblis Sehun sang Amanojaku.
"Wae, aku merasa berhutang budi pada kucing ini, jika bukan karena kucing ini mungkin Baekhyun adikku sudah meninggal." Ungkap Luhan, dan Sehun diam mendengar ucapan Luhan yang terkesan tulus, sedangkan Kai tak mengerti dan merasa tak suka dengan sikap Luhan yang tampak peduli dengan si kucing.
Luhan membawa Sehun ke UKS disana ia merawat luka Sehun dengan penuh perhatian walaupun ia memasang wajah tanpa ekspresi.
"Apa yang kau katakan pada Kai itu benar atau hanya omong kosong belaka?"
"Jadi kau tidak percaya padaku?" Tanya Luhan balik bertanya.
"Iya, mana mungkin aku percaya pada manusia dan ingat bangsa kita berbeda, serta kita hidup didunia yang berbeda pula." Tegas Sehun pada Luhan.
"AU!" Jerit Sehun karena Luhan menekan lukanya dengan kencang. "Mengapa kau menekan lukaku?!" Marah Sehun tidak terima.
"Dasar kucing setan! Tidak tahu berterimakasih! Menyesal aku menolongmu jika sikapmu pada manusia sangat kejam! Kau kan yang menyuruh para hantu menyerang kami! Dan kau juga kan yang melukai Jimin! KAU INGIN MENGHANCURKAN MANUSIA DISINI, IYA KAN!" Luhan marah, kesal dan tak dapat membendung emosinya lagi. Percuma mencoba percaya pada Sehun sang Amanojaku yang pada akhirnya ia juga yang dikianati.
"Jika persepsimu begitu tentangku, itu adalah hakmu. Tapi satu yang ingin ku katakan padamu. Tidak semua yang kau lihat itu benar adalah benar dan tidak semua yang kau lihat itu salah, adalah salah. Terimakasih sudah menolongku dan merawatku. Aku yakin, dibalik sikap acuh tak acuhmu itu kau sebenarnya sangat perhatian pada oranglain, bahkan pada makhluk sepertiku, yakni musuhmu." Dan Wus... Sehun sang Amanojaku tiba-tiba menghilang, kucing itu telah pergi memanjat, melompat dari jendela kaca ruang UKS. "Dasar kucing bodoh." Tanpa sadar pemilik mata rusa itu tersenyum melihat tingkah laku si kucing bernama Sehun.
Deg!
Eh!
Luhan seakan tertegun mengingat ucapan Sehun yang kelewat bijak, kucing itu seperti menamparnya. Luhan ingat kala ia melihat wujud asli Sehun sang Amanojaku. Tubuhnya putih seperti vampire, ditambah ia tak memakai atasan, kulit putih serta Abs-nya terlihat. Mata merah memancarkan amarah, benci dan kerinduan.
Tunggu, rindu?
Luhan tak percaya, ia tepis pikiran terakhirnya. Rindu? Monolognya. Tapi ia yakin, apa yang dirinya lihat tidak mungkin salah. Luhan merasa jika Sehun Amanojaku menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang tak ia ketahui. Masalalu, masalalu yang tak ia ketahui dari pangeran Iblis tersebut.
Dan entah dapat dorongan darimana, ia merasa jika dirinya harus mencari tahu, kebenaran yang disimpan oleh Sehun sang Amanojaku. Mungkin jika ia tahu kebenaran itu, ia akan mengetahui fakta yang ada. Yang tersimpan bahkan telah lama terkubur, tanpa diketahui oleh siapa pun.
.
.
.
.
.
Pada akhirnya semua orang pun tahu, tentang rencana Luhan dengan Kai.
"Apa! Jadi kau tidak percaya padaku Jongin!" Marah Chanyeol pada Jongin karena menganggap peran yang Chanyeol dapatkan sebagai pemeran utama dalam drama musikal yang akan mereka mainkan adalah permohonan Jimin di tangga Kuil.
"Bukan begitu, aku hanya takut jika kau kenapa-napa Chanyeol. Kita kan sahabat. Aku tidak ingin kejadian yang dialami kita terulang kembali. Kau ingatkan, kejadian beberapa hari yang lalu. Bangkitnya Amanojaku, lalu hantu piano, itu semua masih membekas dibenak kita, bahkan mengakibatkan kita trauma." Terang Kai.
Mendengar penjelasan Jongin, Chanyeol melepaskan cengkraman di kerah baju Jongin. Chanyeol berpikir, lalu ia berniat membuktikan pada mereka semua jika apa yang Kai dan Luhan katakan tidak benar.
Dan disinilah mereka semua. Dibawah tangga kuil mereka berdiri, Ada Kaisoo, ChanBaek, XingMin dan Luhan.
Yixing paham sekarang, jika alasan Luhan kemari ternyata untuk menyelidiki kasus yang Kai ceritakan.
"Ayo kita mulai permohonan-nya, aku yang terlebih dahulu." Kata Chanyeol memulai. "Aku ingin koleksi rilakumaku bertambah." Mohon Chanyeol dan semua yang ada disana bertuing ria.
"Aku ingin orang yang kusuka juga menyukaiku." Itu ungkapan permohonan milik Jongin, dan semua mata mengarah padanya.
"Jadi kau tengah menyukai seseorang saat ini?" Tanya Chanyeol, sedangkan yang ditanyai hanya bisa tersenyum. Jongin enggan mengatakan siapa orang yang tengah ia sukai.
"Ya sudah jika kau tidak ingin mengatakannya. Aku harap orang itu peka." Balas Chanyeol. "Kau Kyung, giliranmu." Suruh Chanyeol.
"Aku, aku ingin dibelikan peralatan memasak yang baru." Mohon Kyungsoo.
"Aku, aku ingin agar ingatanku semakin kuat dan tidak pikun lagi." Kali ini giliran Yixing yang memohon.
"Kalau aku, aku ingin uang jajanku ditambah agar dapat membeli bakpow yang banyak." Giliran Xiumin yang memohon.
"Semoga aku mendapatkan eyeliner yang baru." Mohon Baekhyun.
Dan terakhir adalah Luhan, ia orang terakhir yang mendapatkan giliran. "AKu ingin, aku ingin tetap manly." Mohon Luhan dan semuanya speechless mendengar permintaan Luhan. Menurut mereka Luhan itu cantik, manis, tidak manly. Walaupun sikap pemuda itu terkesan dingin tetapi kontur wajah Luhan terbilang feminim.
Sepasang mata yang dari tadi mengawasi mereka mengejek melihat tingkah konyol ke enam anak manusia tersebut.
"Cih, bodoh!" Dan sosok itu pun menghilang dari sana.
.
.
.
.
.
.
.
Pentas seni yang diadakan oleh sekolah tiba. Para peserta menampilkan pertunjukan yang terbaik dari kelas mereka masing-masing.
"Hai, hai, apa yang kau lakukan! Mengapa kau mengurung Sehun sang Amanojaku dikandang hina seperti ini! BUKAN AKU YANG MELAKUKANNYA! PERCAYALAH PADAKU LUHAN! KAU JANGAN MELAKUKAN INI PADAKU! PERCAYALAH AKU BUKAN PELAKUNYA!" Teriak Sehun tidak terima.
"Aku juga tidak ingin mengurungmu seperti ini Sehun, tapi mereka, mereka tidak percaya padamu. AKu tidak mau terjadi keributan makanya untuk saat ini aku mengurungmu. Tunggu sampai pertunjukan selesai, oke." Terang Luhan.
"Bodoh! Kau lebih percaya mereka atau aku! Tantang Sehun.
Batin Luhan gusar, ia merasa bimbang. Disatu sisi hatinya mengatakan jika pelakunya bukan Sehun, tapi disisi lain iya tidak tahu hantu apa yang sedang mengintai mereka.
Dilain tempat pertunjukan dari kelas Chanyeol dan Kai telah dimulai. Para peserta merasa kagum dengan suguhan yang dibawakan dari kelas ChanKai.
"Wahai kegelapan, datanglah padaku! Aku akan mengutuk semua orang yang menentangku, akan kubawa kalian menuju jurang tak terbatas!" Ucap Chanyeol mengucapkan dialog yang telah ia hafal.
.
.
Lu... percayalah padaku.. aku tidak melakukan-nya... " Mohon Sehun. Dan Sehun melihat bayangan hitam menjalar diruang auditorium.
LUHAN! AKU MOHON! PERCAYALAH PADAKU! JIKA KAU TIDAK MEMBEBASKANKU, HANTU ITU AKAN MEBINASAKAN KITA SEMUA!" Kali ini Sehun berteriak kencang.
Luhan menatap mata kucing milik Sehun yang memperlihatkan keseriusan, tak ada kebohongan dari matanya.
"BAIKLAH! AKU AKAN MEMBEBASKANMU TAPI AKU MOHON BERITAHU AKU NAMA HANTU ITU!"
Kali ini giliran Sehun yang diam, tapi ia berpikir tak ada waktu lagi. Mereka haruslah cepat jika tidak, nyawa Luhan dan yang lainnya dalam bahaya.
"Kutabe!"
"Kutabe." Dengan lekas, Luhan membuka kitab hantu dari mamanya. "Kutabe ini dia. Kutabe, hantu anak tangga ke-empat. Jika memohon dianak tangga ke-empat permohonan-nya akan dikabulkan, tapi setelahnya, malapetakalah yang akan didapat. Anak tangga ke-empat, pantas saja tidak ada yang terkabul permohonan kami semua karena kami memohon tidak dianak tangga ke-empat." Terang Luhan.
"LUHAN..."
"HYUNG... "
Xiumin, Lay, Baekhyun berteriak dengan panik menuju kearahnya. "Ada apa? Mengapa kalian panik seperti itu?" Tanya Luhan tidak mengerti.
Chan-Chanyeol, me-melayang." Terang Baekhyun terbata-bata dan diangguki oleh semuanya.
"Padahal tidak memakai tali, tapi Chanyeol dapat melayang." Saut Kyungsoo yang paling tenang diantara mereka.
"APA!" Luhan kaget, ia lalu menatap Sehun, Sehun yang ditatap mengerti Hantu kutabe mulai bertindak.
"Lu, cepat lepaskan aku. Tidak ada banyak waktu kita harus cepat!" Pinta Sehun pada Luhan. Luhan mengangguk setuju, ia pun membuka kandang kucing tersebut. Segera Sehun si kucing berlari dan mereka pun mengikuti kemana si kucing itu pergi
"Lu, kau sudah membaca cara menidurkannya?!" Tanya Sehun memastikan.
"Hms, aku sudah membacanya. Kita butuh patung budha kecil lalu meletakkannya dianak tangga ke-empat sambil membacakan mantranya." Jawab Luhan.
"Mengapa kita harus mengikuti kucing setan itu?" Tanya Kyungsoo tidak mengerti.
"Entahlah, aku juga tidak tahu Kyung, aku rasa Luhan hyung dan si embul telah mengetahui hantunya." Balas Baekhyun.
"Sudahlah, kita ikuti mereka. Walaupun aku juga belum tahu. Tapi yang terpenting saat ini kita harus menyelamatkan Chanyeol dan Kai." Kali ini Yixing yang menyaut.
Deg!
Semua terkejut pasalnya tangga kuil itu rusak parah bahkan rata oleh tanah. "Ada apa ini? Mengapa tangganya hancur begini?!" Tanya Luhan bingung tidak mengerti.
"Ini pasti perbuatan kutabe, hantu itulah yang merusaknya. Ia tahu jika kita akan menghalanginya." Terang Sehun menjelaskan.
"Lihat ini, aku menemukan patung budha kecil, tapi kepalanya patah!" Saut Baekhyun, menunjukan patung budha kecil pada mereka.
"Pantas hantu itu bangkit karena patung budhanya patah." Luhan geram atas kejadian ini. Ia kesal, jadian ini seperti kejadian aneh yang ia alami akhir-akhir ini.
"Kita harus menyambungkannya, agar bisa digunakan untuk menyegel kembali hantu itu." Kali ini Yixing yang angkat bicara.
"Oh, kurasa aku membawa lem. Apakah ini bisa?" Kyungsoo mengambil lem yang ada disaku celananya, ia lalu menyerahkan lem tersebut ketangan Luhan. Luhan lalu menyambungkan kembali kepala dan badan patung budha kecil yang terdapat kertas segel diatas kepalanya.
"Sudah! Lalu tangganya? Tangga kuilnya sudah hancur." Kata Luhan bingung.
"Jika tangga, didekat anak itu juga ada kan?" Kali ini Sehun sang Amanojaku-lah yang menjawab.
"Betul, ayo kita kesana!" Ajak Luhan pada mereka semua. Luhan dan yang lainnya bergegas menuju gedung auditorium. Mereka terkejut pasalnya, apa yang dikatakan Baekhyun benar. Chanyeol tanpa ditarik oleh tali melayang-layang, bahkan salah satu teman sekelas Chanyeol mengatakan, ia belum memberikan alat tetes darah tapi tangan Chanyeol mengeluarkan darah. Seperti apa yang dikatakan didalam naskah itu terjadi.
Diatas panggung Chanyeol seakan mati kutu. Ia seolah-olah tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri. Apa yang ia lakukan saat ini seperti dikendalikan oleh sesuatu yang tak kasat mata. Bahkan ia tadi lupa tidak memakai alat penetes darah, tapi jari-jarinya mengeluarkan darah.
"Ap-apakah aku telah dikutuk?" Batin-nya.
"Oh Tuhan... tolong aku, seseorang selamatkan aku... Luhan... selamatkan aku..." Chanyeol menjerit didalam hati, saat ini ia tidak bisa berbuat apapun. Bahkan apa yang diucapkan dari mulutnya bukan kehendaknya. Melainkam ada sosok lain yang sedang mengendalikannya.
"Itu, itukah sosok kutabe. Ia berada dianak tangga ke-empat dibelakang tubuh Chanyeol." Tunjuk Luhan pada bayangan lidah api ditangga yang ada dibelakang Chanyeol. "Tapi bagaimana kita kesana? Kita bukan dari kelas Chanyeol." Tanya Luhan pada mereka.
"Selimut, kita memakai selimut UKS saja, untuk menutupi tubuh kita." Terang Xiumin kepada mereka semua.
"Iya, itu bisa kita pergunakan. Cepat kita ambil! Sebentar lagi acaranya akan selesai." Perintah Luhan.
Merekapun mengambil selimut yang ada UKS dan menyelimuti tubuh mereka, merekapun berjalan tepat di bawah tangga. Sosok Chanyeol yang terus mengucapkan naskah dramanya tak membuat mereka semua gentar, bahkan para penonton pun dibuat kagum.
Ayah Luhan dan Baekhyun, diam-diam menonton pertunjukan tersebut dengan selembar foto sang mama. Tiba-tiba dari foto sang mama keluar cahaya tanpa ada oranglain yang menyadarinya.
"Ayo Baek, letakan patung budha kecil dianak tangga ke-empat." Perintah Luhan sambil berbisik. Baekhyun mengerti dan ia meletakan patung budha kecil dianak tangga ke-empat sesuai perintah sang kakak.
Mereka pun saling berdiri dan mengucapkan mantranya.
"KUTABE MENYINGKIRLAH, PERGILAH KEDUNIA SANA! KUTABE MENYINGKIRLAH PERGILAH KEDUNIA SANA!"
Sosok hantu Kutabe yang bersemayam di anak tangga ke-empat muncul. Sosok hantu mengerikan itu muncul. Para penonton yang melihat terpukau, mereka berpikir itu teknik kamera dan pencahayaan yang bagus. Sosok tikus, dengan mata merah, yang nyalang ingin menyerang mereka. Chanyeol yang sedari tadi digerakan oleh hantu itu, maju akan menyerang kelompok Luhan yang terus mengucapkan mantra.
Dari tangan Chanyeol keluar sinar hitam yang akan menyerang kelompok Luhan tapi sebuah cahaya pelindung seperti kekai menyelimuti tubuh mereka, sehingga mereka tidak terluka.
"KUTABE MENYINGKIRLAH, PERGILAH KEDUNIA SANA! KUTABE MENYINGKIRLAH, PERGILAH KEDUNIA SANA!"
Chanyeol berteriak kesakitan, dan meronta-ronta. DItambah sosok hantu kutabe yang perlahan-lahan tersedot kedalam patung budha kecil.
AAAAARRRRRHHHHHH!" Teriak Chanyeol histeris.
Semua penonton dibuat tegang karena akting mereka sungguh alami tanpa dibuat-buat.
"KUTABE MENYINGKIRLAH PERGILAH KEDUNIA SANA! KUTABE MENYINGKIRLAH PERGILAH KEDUNIA SANA!"
Suara teriakan Chanyeol makin meninggi seiring dengan bunyi halilintar dan kilatan cahaya menyilaukan muncul. Semua yang ada disana tercengang bahkan sampai menutup telinga karena bunyi halilintar yang memekakan telinga serta cahaya yang menyilaukan ditambah sosok makhluk mengerikan, seperti tersedot masuk kedalam patung budha kecil.
"Bruk!"
Chanyeol jatuh dari atas, tapi beruntung ia jatuh diatas matras yang sudah disediakan, sebagai antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada pertunjukan.
"Chanyeol, Chanyeol bangunlah!" Panggil Baekhyun yang cemas nnelihat Chanyeol terjatuh dari atas, lalu pingsan.
Chanyeol mengerjab-ngerjab, membuka matanya perlahan. "KALIAN, AKU SELAMAT!" OH TUHAN TERIMAKASIH!" Teriak Chanyeol histeris. Tanpa ia sadari jika para penonton masih menyaksikan mereka.
Dengan improfisasi ia mengatakan. "Oke, pertujukan yang kami bawakan telah selesai. Pada akhirnya raja iblis telah tersegel dan aku selamat, dan semuanya berakhir bahagia. Hehehe... " Ucapnya sambil tersenyum gaje.
"Prok-prok-prok-prok..." Tepukan tangan keras dari para penonton terdengar. Bahkan semua penonton yang ada disana berdiri sambil bertepuk tangan.
"Benar-benar pertunjukan yang luar biasa." Ucap salah satu penonton. Dan Chanyeol serta yang lainnya merasa senang.
"Bagus, kalian semua berhasil menampilkan pertunjukan yang spektakuler. Bapak sangat bangga pada kalian. Efek pencahayaan yang sungguh luar biasa." Puji Salah satu guru mereka. "Chanyeol, aktingmu sangat luar biasa, bapak bangga padamu. Mungkin benar, kau berbakat didunia hiburan." Puji Choi Saem.
"Hahahaha...terimakasih atas pujiannya pak." Balas Chanyeol tersanjung.
"LUHAN..." Kai berteriak kearah Luhan. Kai tidak bisa ikut dalam menidurkan hantu Kutabe karena ia ditugaskan menjadi pembaca narasi pertunjukan kelasnya.
Greb!
Kai berlari dengan wajah cemas dan ia langsung memeluk Luhan. Luhan mengerjab-ngerjab tak mengerti. Mengapa Kai memeluknya? Pikir Luhan.
"Kau tidak apa apa kan?" Tanya Kai cemas.
"Tidak, aku tidak apa-apa kami semua baik-baik saja." Jawab Luhan masih tidak mengerti. Wajah Kai masih tampak cemas.
"Cih, dasar manusia merepotkan! Au-au-au tubuhku rasanya sakit semua. Sial gara-gara melawan hantu sialan itu aku jadi begini. Tubuh kucing ini sungguh tidak nyaman." Monolog Sehun.
FLASBACK.
Sehun melihat bayangan hitam berkilat-kilat layaknya lidah api yang berkobar-kobar.
Ia melompat-lompat dari satu dahan kedahan yang lain. Berjalan, berlari untuk menemui hantu itu.
Sehun telah sampai di tempat dimana hantu itu muncul. Semua insting, dan intra kucingnya ia pertajam guna—untuk mencari keberadaan si hantu yang cukup menggangunya. Eksistensi keberadaan si hantu dapat mengganggu kedamaian manusia bahkan dapat menghancurkan kaum manusia.
"KELUARLAH HAI KAU HANTU KUTABE!" Panggil Sehun dengan berang.
Sosok bayangan hitam bagai lidah api itu keluar menampakan wujudnya seperti hewan menjijikan layaknya tikus, tapi ini tikus yang besar.
"Kau memanggilku pangeran Sehun sang Amanojaku. Cih, atau aku panggil kau pangeran yang terbuang oleh rakyatmu sendiri. Kau adalah penghianat kaum kami. Demi cintamu pada manusia, kau mengorbankan kaum-mu, sungguh memalukan.
Sehun mengeram. Ia mengeluarkan kuku-kuku kucingnya, dan bulu kucingnya pun berdiri. Tanda siap bertempur. "TUTUP MULUTMU HANTU RENDAHAN! HANTU RENDAHAN SEPERTIMU TIDAK PANTAS MENGHINA SEHUN AMANOJAKU."
Sehun maju menyerang terlebih dahulu sosok tikus yang sangat menggelikan untuknya. Tapi sayang, karena ia terjebak didalam tubuh kucing, ia tidak dapat mengerahkan seluruh kekuatan-nya. Hanya Luhanlah yang dapat melepaskan segel tersebut, namun — karena Luhan tidak memiliki kekuatan supranatural yang besar seperti Lee Yoona, maka itu sangat sulit.
Bisa, ia bisa melepaskan dirinya tapi itu sangat beresiko. Apakah Luhan mau melakukan ritual itu, demi membebaskannya? Sehun merasa ragu.
Sehun menyerang dari berbagai sudut tapi dengan mudahnya hantu itu mampu menampik serangannya dengan mudah.
"Cih! Dasar hantu buangan yang lemah. Bahkan kau saat ini tidak mampu menyerangku yang notabene hantu hina."
Sehun merasa marah, ia tersinggung. Kutabe melihat, dari tubuh kucing Sehun keluar pusaran angin berwarna hitam menyelubungi tubuh si kucing, Sehun dengan kekuatan telekinesisnya mengendalikan pusaran angin itu. Makin lama pusaran angin itu makin membesar menyelimuti tubuhnya. Sehun dengan geram mengangkat pohon menggunakan kekuatan pikirannya.
Pohon yang sudah tercabut dari tanah segera ia lemparkan kearah Hantu Kutabe. Dengan mudah Kutabe menepisnya, tapi Sehun tidak menyerah. Ia bahkan menyerang lagi hantu itu dengan cara menyekek hantu tersebut dengan kekuatan pikirannya.
Sang hantu merasa nafasnya mulai melemah. Jika ia menyerah ia akan mati. Benar-benar, golongan ningrat tidak bisa diremahkan. Bahkan tubuh Sehun sudah disegel tapi masih bisa menggunakan kekuatan yang dapat membunuh hantu seperti Kutabe. Kutabe tahu jika Sehun—Amanojaku belum mengeluarkan seluruh kekuatannya.
"BLANG!"
Sebuah ledakan hebat menghentikan aksi membunuh yang dilakukan oleh Sehun. Mata Sehun semakin menajam kala melihat pengganggu yang menggangu aksi membunuh Kutabe.
"Akhirnya kau datang juga teman lama yang busuk!" Ucap Sehun menatap sinis sosok yang tengah berdiri di depan hantu tersebut —melindungi. Sosok itu berniat melindungi hantu bernama Kutabe.
"Cih! Lama tak bertemu pangeran. Jika kau berani membunuhnya, kau akan berhadapan denganku." Tantang sosok itu.
"Cih, merepotkan sekali bertarung denganmu tapi jika ingin, aku akan meladenimu." Balas Sehun tanpa takut dengan sosok itu.
Sosok itu menyeringai kearah Sehun, sosok itu merencanakan sesuatu yang cukup menarik. "Bertarung mengakibatkan kita rugi. Bagaimana jika kita bertaruh." Ucapnya.
"Bertaruh, apa yang kau inginkan!" Tantang Sehun.
"Kitab! Jika kau kalah, kau harus menyerahkan kitab hantu milik Keluarga Lee kepadaku." Ucap Sosok itu pada Sehun.
"Baiklah, tapi jika kau kalah, jangan pernah usik kehidupan manusia. Bahkan aku tidak mau melihat wajahmu lagi. Tapi jika kau melanggarnya, aku tak segan-segan membunuhmu." Balas Sehun menatap kearah sosok itu sengit.
"Hms, baiklah. Kita lihat saja aku atau kau yang akan menang." Dan sosok hantu kutabe beserta sosok misterius itu pun menghilangkan, meninggalkan Sehun seorang diri.
FLASBACK OF.
.
.
.
.
Dirumah Luhan tidak lagi membentak si kucing abu-abu jelmaan dari Sehun. Dilihatnya tubuh kucing si Sehun terbaring dibawah tempat tidurnya beralaskan lantai yang dingin.
"Cih! Kucing yang keras kepala." Ucapnya. Senyuman kecil tersungging diwajahnya. Kucing itu tertidur, tapi ia melihat jika si kucing kurang nyaman tidur di lantai yang dingin.
Luhan tidak tega melihat si Kucing Sehun kedinginan. Ia pun mengangkat tubuh si kucing abu-abu itu keatas ranjangnya. "Mungkin untuk malam ini, kau bisa tidur di sini. Terimakasih kau mau menolongku. Ngomong-ngomong jika dilihat kau tampak imut. Benar apa yang Baekhyun katakan, kau tidak buruk. Selamat malam Sehun-ah, terimakasih. Cup !" Luhan mengecup hidung si kucing Sehun yang tengah tertidur. Ia juga mengelus bulu si kucing yang terasa lembut dan hangat ditangan-nya.
"Jaljayo."
Dan malam hari ini meraka tidur berdua diranjang yang sama dalam satu selimut yang hangat.
.
.
.
.
.
.
Dilain tempat sosok berwajah tegas, nan tajam menatap pemuda dihadapannya dengan garang.
"Jadi kau kalah dalam bertaruh eoh?!" Tanya sosok itu.
"Maafkan aku master, aku tak tahu jika dia sangat kuat. Anak bernama Luhan itu, dia seperti ibunya, tapi kekuatannya tidak sebesar Lee Yoona yang telah menyegel kita bertahun-tahun lamanya." Terang abdi dalem dari sosok yang disebut Master.
"Cih! Ini semua karena adikku, pangeran bodoh itu membelanya. Dia telah menyukai sosok bernama Luhan. Brengsek! Jika seperti ini rencanaku bisa gagal." Awasi terus pergerakan mereka. Dan setiap kegiatan dari mereka tolong laporkan padaku." Perintah sosok yang dipanggil master.
"Siap Master, ucapanmu adalah perintah untuk hamba."
.
.
.
.
.
TBC.
Yehet! Akhirnya chap ini kelar juga. Elap keringat. Ya ampun... udah panjang kan... klo belum #mati seketika. -_-"
Maaf jika kata-katanya typo, gaje dan bahasa lebay banget.
Dan untuk info, jika dichap ini alurnya sedikit sama dengan di anime. Jadi jika ada readers yang udah nonton animenya pasti tahu. Hehehehe. Namun disini agak sedikit berbeda dengan di anime. Tidak seluruhnya sama, ada yang dikurangi dan ada juga yang ditambahi sesuai selera author lah... #Nepuk jidat.
Maaf ya... kalau lama banget upadate-nya. Karena aku juga harus menyelesaikan ff yang lainnya. Baik disini maupun di akun sebelah. Hehehehe...
Untuk pertanyaan apakah sehun akan tetap jadi kucing atau dia bisa berubah wujud, ikuti terus ceritanya. Masih disimpan di next-next chap berikutnya.
Sama, siapakah kakak Sehun itu? Itu juga masih dirahasiakan. Tapi aku yakin kalian pasti bisa menebaknya. Dan Yixing itu sebenarnya siapa? Itu juga masih jadi rahasia. Hehehe...
Pokoknya ikuti terus kisah ini. Siapa tahu tebakan kalian benar. Hehehe...
Oke terimakasih untuk;
Hunhan/ Daebaektaeluv/ ori aurel/ DeerYehet/ Bijin YJS/ MidoriYumi7/ AlexandraLexa/ Vietrona Chan/ Karinaalysia2047/ SehunieHunHAN/ Arifahohse/ OH7/ SilentB/ Siska 10/ HUNHAN Armycouple/ Oh Hyuna/ ChaniXianHunHan/ Julie Cutie/ Mr Albino/ Sherli898/
Terimakasih yang telah memberikan review kalian. Dan saya juga terimakasih banyak untuk follow, favorit, sider yang udah mampir kemari. Saya ucapkan terimakasih. Oke akhir kata bye, pyong! ^^
