Luhan merasakan sakit dikepalanya. Ia terbangun diruangan yang ia tahu jika ini adalah kamarnya. Ia memijat keningnya yang pusing, tapi matanya melihat sesuatu yang bersinar terkena pantulan cahaya lampu yang ada dikamarnya. Sebuah cincin putih tersemat dijari manis tangan kanannya. "Cincin? Darimana aku mendapatkannya?" Batinnya.
"Kau sudah bangun?" Tanya sosok asing berdiri di samping ranjangnya. Ia ingat semalam ia telah melepaskan segel sosok ini dari tubuh kucingnya — si embul.
"Dimana yang lain?" Tanya Luhan kepada sosok Sehun - Amanojaku.
"Mereka selamat, dan aku telah menghilangkan ingatan mereka tentang gedung apartemen itu. Aku, hanya tidak ingin mereka tahu jika aku telah bebas." Jawab Sehun.
"Oh... bagus jika begitu. Ngomong-ngomong apa kau tahu soal cincin ditanganku ini? Aku merasa, aku tidak pernah memiliki cincin ini sebelumnya dan aku tidak pernah memakai benda seperti ini." Tanya Luhan.
"Itu cincin ikatan kita. Kau ingat tentang perjanjian itu? Penyatuan darah yang kita lakukan untuk melepaskan segel ini, dan sekarang kau adalah milikku Lu. Kau telah menjadi pengantinku. Kau tidak bisa melepaskan ikatan ini, kau sendiri yang meminta, dan jika kau menyesal, maaf. Ikatan ini tidak bisa terlepas begitu saja. Sebelumnya aku sudah memperingatkanmu, kan? Dan kau memilih poin ke-2." Kata Sehun panjang lebar.
"Iya, aku tahu. Dan aku sudah menerimanya, jika diriku sekarang adalah milikmu. Aku telah terikat denganmu. Ngomong-ngomong apakah kau juga menggunakannya?" Tanya Luhan.
"Iya, ini. Lihatlah cincin kita sama." Kata Sehun sambil menunjukan cincin di jari manisnya. Walaupun bentuknya sama, tapi warna cincinnya berbeda. Luhan putih sedang Sehun hitam. Putih adalah simbul jika Luhan adalah Omega pihak bawah, sedangkan Sehun adalah sang Alpa, pihak atas.
"Tidurlah, besok kau harus kesekolah." Perintah Sehun.
"Lalu, kau bagaimana? Kau bukan lagi Embul si kucing." Tanya Luhan.
"Aku bisa tidur dimana aja, aku ini hantu jadi kau tenang saja." Saut Sehun dan pria itu pun keluar dari kamar Luhan.
•
•
•
•
Sehun menatap bangunan yang ada didepannya, layaknya puri istana era lampau. Memang puri ini sudah sangat lama sekali. Bahkan tempatnya pun tidak bisa dilihat dengan mata biasa.
Sehun, pria ini sudah bebas. Kini ia bisa melakukan apapun, bahkan ia bisa membuat perhitungan dengan orang itu. Ia lalu melangkahkan kakinya. Ia tidak masuk ke gerbang utama melainkan melompat menuju tempat kediaman orang itu.
BRAK!
Pintu dibuka dengan kasar. Sosok pria yang tengah berdiri di jendela besar sambil menatap ke arah bulan, tak lupa segelas anggur merah berada di tangan kanan-nya.
"Selamat datang dirumah Sehun adikku." Sapa sosok itu menyeringai.
"Cih, tak sudi aku memiliki kakak sepertimu Kris. Kau bukan lagi kakakku, setelah apa yang kau lakukan padaku dulu!" Geram Sehun menatap kakaknya muak.
"OH SEHUN! BERANI KAU MASUK KE RUANGAN SANG MASTER!" Ucap sosok bernama Tao.
"Cih! Dasar pria jalang! Aku berhak masuk ke sini. Karena ini dulunya adalah rumahku juga, dan kau!" Sehun menatap sosok yang bernama Tao tajam. "Kau hanya bawahan, kelas rendah sepertimu tidak pantas memanggilku dengan nada tinggi seperti itu. Bagaimanapun juga aku adalah bangsawan. Camkan itu!" Tegas Sehun.
Tao seakan tertohok. Memang ada peraturan dan tingkatannya. Jika memanggil kaum bangsawan haruslah lebih sopan.
"Cih! Tapi kau bangsawan yang terbuang. Tuanku hanya Kris saja, bukan dirimu!"
"Walaupun aku terbuang. Tapi darahku ini, adalah darah bangsawan. Dan jika aku mau, aku bisa membunuhmu, kasta rendah!" Kata Sehun sarkas.
Tao marah, pria ini akan mengacungkan pedangnya tapi suara Kris menghadangnya.
"Cukup Tao! Apa yang Sehun katakan itu benar. Kau hanya bawahan dan Sehun adalah bangsawan. Walaupun dulu kau pernah dekat dengannya, tapi kau harus ingat statusmu. Kau pergilah, biarkan aku berbicara dengan adikku ini." Perintah Kris.
Hati Tao seakan teriris. Tidak ia sangka, Kris mampu berkata kasar kepadanya. Bawahan, kata itu seakan menamparnya. Ia, walaupun ia bukan kelas bangsawan namun ia punya perasaan. Selama ini ia setia kepada Kris, bahkan sampai melayani nafsu pria itu. Tapi apa yang ia dapatkan, hanya cacian. Dan perkataan Sehun seakan menusuknya. Jalang! Apakah iya, dimana mereka ia hanya jalang? "Sialan" Umpatnya. Tapi bagaimanapun juga ia tidak bisa berkianat. Karena Kris sudah menandainya. Terdapat tato di lehernya. Tato kesetiaan. Jika ia berkianat maka Tato ini akan membakarnya sampai ia jadi abu. Dengan kata lain ia akan binasa.
•
Seperginya Tao, tinggal-lah Sehun dengan Kris. "Apa maksud kedatanganmu ini Sehun."
"Aku peringatkan kepadamu, jangan lagi mengganggu mereka. Aku tahu kau dendam kepada Yoona, orang yang telah menyegel kita berdua. Aku camkan padamu, jangan pernah kau mengusik mereka jika kau masih menyuruh bawahan cecurutmu untuk mengganggu mereka, aku tidak akan tinggal diam." Ancam Sehun.
"Cih! Tidak kusangka, cintamu kepada manusia cukup besar juga. Dulu kau jatuh cinta kepada ibunya. Tapi kini kau jatuh cinta kepada anaknya? Ditambah sang anak adalah pria. Apa kau sudah hilang akal?!" Ucap Kris, masih membelakangi Sehun.
"AKU TIDAK PEDULI! JIKA KAU MENGANGGAPKU PENGKIANAT AKU TIDAK PEDULI! Bagiku kau salah. Kau ingin membinasakan seluruh manusia dimuka bumi ini. Tapi tidak semua manusia jahat, ada manusia yang baik." Terang Sehun.
"CIH! Bagiku manusia itu sama saja! Hanya karena harta, nafsu. Manusia sampai memperbudak kita! Dengan akal yang tamak, manusia meminta kepada kita untuk membantu mereka memperkaya diri, tanpa mau berusaha keras. Banyak kaum kita yang diperbudak, karena ketamakan manusia." Ujar Kris.
"Aku tahu, tapi kelak jika manusia itu mati. Jiwa para manusia itu nanti akan menjadi budak kita. Mereka akan menjadi hantu kelas bawah." Balas Sehun.
"CUKUP SEHUN! AKU SUDAH BOSAN MELIHAT KETAMAKAN MANUSIA. DENGAN CARAKU INI, AKU INGIN MENGHANCURKAN MANUSIA. AKU MUAK DENGAN MANUSIA ITU!"
PRANG!
Kris muak pada adiknya ini. Ia menghancurkan gelas yang berisikan wine sampai pecah.
"Jika kau memang pro dengan manusia maka kau akan menjadi musuhku. Tidak peduli jika kau adalah adikku. Bela-lah mereka, dan jika kelak kita bertemu lagi. Aku akan menghabisimu adikku yang manis. Pergilah dari hadapanku. Jangan pernah muncul dihadapanku lagi." Ancam Kris pada adiknya.
Sehun tersenyum mengejek. Ia tidak takut dengan ancaman Kris kakaknya. Memang ikatan mereka telah rusak sejak dulu. Ia kesini hanya ingin memperingatkan kakaknya itu. Tapi sayang, mereka sama-sama kuat pendirian dan Sehun pun menerima tantangan dari kakaknya. Jika kelak mereka bertemu lagi, mereka akan berkelahi, mungkin sampai mati. Dan Sehun pun pergi, menghilang dari hadapan kakaknya.
•
•
•
•
Pagi menjemput, bunyi teriakan Baekhyun menggema dari dalam rumah keluarga Lee.
"HYUNG...!"
Semua yang ada di rumah sontak terkejut dengan suara menggelegar milik Baekhyun. Sampai kakek dan neneknya bertanya ada apa dengan cucu mereka Baekhyun.
"Ada apa Baekhyunnie... mengapa pagi-pagi kau berteriak seperti itu?" Tanya neneknya.
"Nenek, si embul nek... si embul tidak bisa bicara nek... si embul nek..."
"Apanya yang aneh. Kucingkan tidak bisa bicara. Dasar kau ini mengagetkan semua penghuni rumah." Kesal neneknya.
"Ada apa sayangku, kenapa dengan Baekhyun?" Tanya kakeknya.
"Itu Baekhyun, ia kaget kucingnya tidak bisa bicara. Bukankah kucing itu tidak bisa bicara. Ada apa dengannya, apa dia bermimpi kucingnya bisa bicara, eoh... ada-ada saja." Terang sang nenek.
"Hahaha... namanya saja anak muda. Banyak imajinasi dikepalanya. Hahaha..." Balas sang kakek tertawa.
Tiba-tiba Luhan muncul dan menatap kearah adiknya. "Ada apa Baek, kau ini berisik sekali." Tanya Luhan.
"Hyung, embul hyung. Embul tidak bisa bicara lagi. Ada apa dengan embul. Bukankah ada sosok Amanojaku di tubuh embul."
"Amanojaku sudah tidak ada. Dia sudah pergi dari tubuh Embul." Jawab Luhan.
"Kok bisa hyung, bagaimana bisa Amanojaku lepas hyung?"
"Itu bisa saja terjadi. Amanojaku adalah salah satu penguasa kaum mereka. Ia ternyata memiliki kekuatan yang besar. Kau tahu segelku dalam menyengel-Nya tidak cukup kuat. Alhasil dia lepas begitu saja." Luhan mengarang cerita agar terkesan masuk akal.
"Oh begitu hyung. Hyung, jika segelnya lepas dan Amanojaku kembali menyerang kita bagaimana?" Takut Baekhyun.
"Tidak akan terjadi. Amanojaku tidak akan menyerang kita lagi." Terang Luhan.
"Kenapa hyung?" Cecar Baekhyun.
"Hah, sudahlah. Amanojaku tidak akan pernah menyerang kita. Ia sudah tidak ada." Kesal Luhan pada sang adik. Lalu ia pergi meninggalkan sang adik yang masih bingung dengan Embul-Amanojaku.
Apa yang Sehun, si Amanojaku katakan jika sosok itu telah menghapus ingatan mereka tentang gedung apartemen itu benar. Bahkan gedung apartemen itu sekarang tampak laku, terlihat pembelinya semakin banyak. Tidak ada lagi orang yang bunuhdiri disana. Tampaknya gedung itu sudah aman. Gerbang dimensinya sudah tertutup, tidak rusak lagi.
•
•
•
•
Disekolah, entah mengapa ada yang aneh. Banyak para siswa berbisik-bisik membicarakan sesuatu. Luhan jujur tidak ambil pusing, tapi berbeda dengan sang adik yang suka ingin tahu tentang oranglain ataupun sekitar. Ia mendengar dari Baekhyun si adik, jika ada siswa baru yang berasal dari kota. Bahkan bisa dikatakan pria ini keturunan bule.
"Hyung, aku dengar ada siswa pindahan hyung. Dan orang ini tingkatannya sama sepertimu." Celoteh Baekhyun.
"Aha, lalu apa masalahnya denganku Baek. Aku tidak peduli." Balas Luhan malas.
"Katanya ia tampan hyung. Tadi ku dengar namanya siapa ya? Wil, Wildan, William, atau siapa ya... lupa aku hyung." Kata Baekhyun sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aish, hentikan aksi konyolmu itu Baek. Sudahlah, nanti juga kita akan tahu sendiri." Ujar Luhan berjalan meninggalkan sang adik, berjalan menuju kelasnya.
•
•
Sungguh Luhan shock dengan apa yang ia lihat saat ini. Sosok Sehun yang ada didepan kelasnya. Yang membuatnya ingin tertawa adalah Sehun memperkenalkan dirinya dengan nama Oh Willis. Yang benar saja, itu konyol untuk Luhan. Dan pria itu bilang jika ia berasal dari LA, USA. Oh Tidak! Semakin tertawa saja ia dalam hati. Dan parahnya pria itu duduk dibelakangnya saat ini.
Entah perasaannya atau tidak. Pada saat jam pelajaran ia merasakan jika ada yang menyentuhnya. Ia merasakan sesuatu bergerak-gerak membelai paha, bahkan tangannya. Jujur, saja Luhan yang notabenya adalah seorang pria merasa terangsang. Ia merasa jika ada seseorang yang mengganggunya. Ia tolehkan wajahnya ke belakang.
Melihat Luhan memandangnya, Sehun menatap Luhan, seolah-olah bertanya 'kenapa?'
"Jangan menggodaku Sehun, aku tahu kau yang melakukannya. Walaupun saat ini aku adalah pengantinmu, tapi aku masih normal. Aku tidak akan semudah itu memberikan tubuh ini untukmu" Batin Luhan. Tapi Sehun dapat membaca isi pikiran Luhan. Pria itu pun menyeringai. Sehun menyobek kertas, lalu menuliskan sesuatu diatasnya. Luhan menyergit bingung. "Apa yang ditulis Sehun?" Tanyanya dalam hati.
Setelah Sehun selesai menulis, ia memberikan kertas yang telah ia lipat kecil-kecil kepada Luhan. Luhan menerimanya lalu membacanya. Ia sungguh terkejut dengan tulisan tangan Sehun dikertas ini.
"Ayo kita bertaruh. Jika kau sampai tidak horny dengan sentuhanku. Kau yang menang, dan aku tidak akan pernah menyentuhmu lagi. Tapi jika kau kalah, aku akan menyentuhmu sesukaku."
Luhan berpikir, apa dia akan menerima tantangan Sehun atau tidak. Jika ia tidak menerima tantangan Sehun, ia akan dicap pria lemah, cemen, tidak manly. Tapi jika ia kalah, iblis itu akan menyentuhnya. HELL! Ia ini masih normal. Bahkan posisinya adalah omega, pihak yang dibawah. Entah mengapa ia menyesal mempertahankan embul hidup. Lebih baik ia memilih poin pertama saja, jika nasipnya seperti ini. Menjadi budak nafsu iblis bernama Oh Sehun sang Amanojaku. Tapi jika tidak dicoba, ia tidak tahu menang atau kalah.
"SHIT!" Umpatnya dalam hati. Dengan terpaksa, ia menerima tantangan Sehun. Dan tanpa Luhan tahu, pria itu menyeringai kearahnya.
Walaupun Sehun tidak menyentuh Luhan secara langsung. Tapi dengan kekuatannya ia dapat menyentuh Luhan. Luhan merasakan ada tangan seolah-olah menyentuh paha dalamnya yang berbalut celana panjang. Jujur, baru pertama kali ini ia disentuh seperti ini.
Luhan menahan desahannya. Tidak mungkin ia mendesah, jika ia berada didalam kelas, bahkan ada guru didepan sana tengah menuliskan sesuatu.
Tidak hanya itu, sentuhannya lalu beralih ke daerah privasinya. Tiba-tiba miliknya diremas kencang, ia ingin mendesah namun ditahan. Luhan menggigit bibirnya keras untuk menahan desahannya. Tidak hanya area privasinya melainkan punggung, dada, lebih tepatnya puting pinknya. Ia merasakan sentuhan memabukan diarea sana. Sampai-sampai Xiumin teman satu mejanya melihat Luhan tampak tidak baik-baik saja.
"Lu, apa kau baik-baik saja. Kau tampak tidak sehat, apa perlu antar kau ke ruang kesehatan?" Tanya pria itu kerena melihat muka Luhan memerah, bahkan keringat sebiji jagung keluar membasahi keningnya.
Sehun menghentikan sejenak aksi menggoda Luhan. Terdengar nafas ngos-ngosan dari mulut pengantinnya ini.
"A -aku... hah... baik-baik saja... hah-hah-hah..." Jawab Luhan. Tapi Xiumin tidak percaya, pria itu meminta izin kepada gurunya untuk membawa Luhan keruang kesehatan. "Sial! Tampaknya aku akan kalah ditangan Oh Sehun." Keluh Luhan dalam hati.
Setelah Xiumin membaringkan Luhan di ruang kesehatan. Xiumin melihat Sehun juga datang kesana. Xiumin bertanya kepada pria itu. Sedang apa dirinya disini. Dan dirinya hanya menjawab jika ia butuh obat flu. Ia merasa jika ia terkena flu. Dan ia mengatakan kepada Xiumin untuk tidak usah kuatir tenang Luhan. Karena ia bisa menjaga pria itu. Xiumin awalnya ragu, tapi melihat sorot mata onix kelam itu. Seakan mengatakan kepadanya untuk jangan ragu meninggalkan Luhan dengan pria bernama Willis. Alhasil ia akhirnya menyetujuinya. Xiumin kembali ke kelasnya.
Krekkk...
Sehun membuka kerai pembatas kamar tidur pasien. Ia melihat keadaan Luhan telah kacau, bahkan mulut Luhan terbuka, pakaiannya tampak berantakan. Sepertinya ia sudah horny. Disentuhnya milik Luhan dengan lembut, keluarlah desahan dari bibir Luhan.
Sehun menyeringai kearah Luhan. "Kau kalah Lu, dan mulai sekarang aku dengan bebas menyentuhmu sesukaku." Bisik Sehun tepat ditelinga Luhan. Luhan mengumpat, memaki Sehun dengan sebutan brengsek, keparat! Dan umpatan-umpatan kasar lainnya.
Sehun membungkam mulut Luhan dengan mulutnya. Sehun mencium bibir Luhan ganas. Ia menghisap bibir bawah dan atas Luhan. Luhan meronta-ronta, berusaha mendorong tubuh Sehun. Tapi sayang kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan yang dimiliki oleh pria ini.
Luhan marah, ia menangis, diperlakukan hina seperti ini. Bahkan dengan kasarnya Sehun merobek pakaiannya. Saat ini terpangpang jelas tubuh telanjangnya, Sehun telah dibutakan oleh nafsu sehingga ia tidak memperdulikan tangisan Luhan. Bahkan ia menilai jika tangisan Luhan sangat seksi. Luhan sudah sangat berantakan, tubuhnya telah ternoda. Bahkan Sehun telah menjilat, menghisap, menandai setiap inchi tubuhnya. Seakan-akan ia adalah miliknya. Memang benar, saat ini ia adalah milik Sehun. Bahkan mereka telah terikat, terbukti dari cincin yang tersemat dijari manisnya. Ikatan yang sakral yang ia pilih sendiri. Bukan Sehun yang memaksa, tidak ada yang memaksanya memilih poin kedua yang sangat beresiko.
Sampai pada dimana milik Sehun tertanam, masuk di man hole-nya.
"Aaarrgghhh... ssa-sakit... hiks... ini sakit... arghh... hiks!" Luhan menangis mengeluarkan airmatanya, seakan-akan tubuhnya terbelah jadi dua. Sehun melihat pengantinnya kesakitan merasa iba. Ia membelai pipi halus Luhan. Ia tidak langsung menggenjotnya. Ia diam, Luhan membuka matanya dan menatap Sehun, sang pengantin-nya. Melihat wajah Sehun yang jujur ia akui sangat tampan, mata onix - hitam kelam pria itu bagai membuatnya seakan masuk kedimensi lain. Tanpa ia sadari, hatinya berdesir. "Apa kau sudah merasa lebih baik, Lu?" Tanya Sehun memastikan. Dan tanpa sadar Luhan mengangguk, mengiyakan.
Dan setelah itu, Sehun mulai bergerak. Dan desahan lolos dari mulut Luhan. Sehun langsung menemukan titik kenikmatan Luhan. Luhan mendesah, bahkan menggelinjang keenakan.
"Aahhhnnn... oooohhhh... aahhh... oh yeah... oh yeah... Sehunna... aaahhhnnnn... faster please ... aahh..."
Luhan mendesah, bahkan ia meremas punggung putih Sehun. Sehun bahkan tidak tinggal diam hanya berpusat pada tubuh bawah mereka. Ia melahap dada Luhan. Mempermainkan tonjolan pink yang ada didada Luhan. Sungguh tubuh Luhan saat ini merasakan kenikmatan tiada tara. Bahkan ia sudah berkali-kali klimak, tapi Sehun belum sekalipun. Suaranya bahkan mulai serak akibat mendesah keenakan.
Posisi mereka saat ini berubah tidak lagi gaya klasik melainkan doggy style. Dimana Luhan membungkuk dan Sehun menumbuknya dibelakang. Luhan meremas bantalnya. Tumbukan Sehun diarea sensitifnya sangatlah kuat, cepat, dan tentu saja nikmat. Ia seakan terbang melayang.
"Aahhh... aaahhh... ooohh... nnnnhhhh... Sehun... aaah... tampaknya... aahh... aku ... akan.. keluar... aahh... lagi... aahh.." Ucap Luhan.
"Tahan dulu Lu... sssshhhh... bersama... ssshhh... sama..." Jawab Sehun terus menumbuk.
"Cepatlah... aaahh... aku... aaahh... lelah... tidak tahan lagi... aaahhh..."
Dan pada hitungan ketiga, mereka meledakkan sperma mereka secara bersamaan. Sehun meledakan miliknya didalam diri Luhan, sedangkan Luhan menumpahkan miliknya ditangan Sehun. Karena pria itu juga mengocok miliknya. Spermanya membasahi milik Sehun, dan menetes mengenai seprei .
Luhan ambruk. Sehun membalik tubuh Luhan menjadi menghadapnya dan ia kembali menatap wajah lelah Luhan sehabis bercinta dengannya. Ini adalah kegiatan bercinta mereka yang pertama. Sehun menyibak poni rambut Luhan. Ia memeluk tubuh sang pangantin yang baginya sangat manis serta cantik ini. Sedangkan Luhan ia membalas tatapan mata Sehun. Dilihatnya wajah Sehun sang pemiliknya dengan perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Ada rasa marah, penyesalan dan juga hina. Tapi ada rasa nyaman, kenikmatan yang ia rasakan karena pelepasan yang tadi ia dapatkan. Dan tanpa mereka sadari, seolah-olah keduanya terhipnotis oleh mata satu sama lain, dan makin lama kedua bibir semakin mendekat sampai keduanya menyatukan kembali bibir mereka, kembali berciuman. Kali ini pagutan diantara keduanya lebih lembut dari yang pertama.
•
•
•
•
Bel tanda jam istirahat berbunyi. Xiumin yang ingin melihat keadaan Luhan terhenti kala pria bernama Jongdae atau biasa di sapa Chen memanggilnya.
"Minseok-ssi." Panggil pria itu. Xiumin atau nama aslinya Kim Minseok menoleh ke sumber suara. "Ne, jongdae-ya. Ada apa?" Tanya-nya.
"Ini aku hanya ingin memberikanmu ini. Kau diundang keacara rapat OSIS. Bukannya kau masih anggota kami. Hehehe.." Cengir namja ini.
"Ta-tapi... aku kan bukan orang yang aktif Jongdae-ya." Balas Xiumin.
"Tidak masalah, datanglah hanya untuk formalitas aja." Ujar Jangdae.
"Aku usahakan, tapi aku tidak janji. Ya sudah aku pergi dulu." Jawab Xiumin berjalan pergi.
~OoOo~
Luhan merasakan bagian bawah tubuhnya sangat sakit. Bagaimana tidak sakit, jika Sehun bermain sangat kasar tadi.
"Maafkan aku Lu... kau yang mendesah memintanya, agar aku menumbuk dengam cepat, dan kuat." Ujar Sehun sambil memeluk tubuh Luhan.
"JANGAN KAU TERUSKAN! AKU MALU!" Balas Luhan menatap Sehun tajam. Sehun lalu turun. Aigoo... bajumu kancingnya ada yang lepas. Bagaimana ini?" Tanya Sehun merasa berdosa.
"ITU SALAHMU! KAU BERMAIN KASAR! LIHATKAN BAJUKU JADI RUSAK! BAGAIMANA AKU KEKELAS DAN PULANG NANTI OH SEHUN!" Amuk Luhan.
"Aku bisa mengantarmu pulang tanpa ada yang tahu." Bisik Sehun ditelinga Luhan bahkan dengan iseng Sehun menjilat telinga Luhan.
Mendapatkan ransangan dari Sehun ditelinganya, wajah Luhan memerah tapi sedetik kemudian Luhan kembali menatap wajah itu dengan kesal.
"Hentikan itu! Bagimana mungkin kau bisa membawaku tanpa ketahuan oleh oranglain?!"
"Kau tidak percaya? Aku ini hantu. Bahkan aku bisa menghilang dan berpindah tempat dengan hanya sekali kedip. Mau bukti?" Ujar Sehun.
Luhan hanya mencibir. Merasa jika Luhan tidak percaya. Ia pun menggendong Luhan ala bridal style. Benar apa yang dikatakan oleh Sehun. Hanya dalam sekali kedip, ia sudah berada dikamarnya. "Bagaimana, apa kau percaya padaku, hms?" Tanya Sehun. Dan Luhan mengangguk — iya.
"Lebih baik kau tidurlah disini. Soal seragam itu serahkan padaku. Dan tidak usah kuatir aku akan mengizinkanmu." Ujar Sehun. Luhan merasa terkejut. Ia tidak mau membolos. Tapi Sehun menyuruhnya untuk istirahat. Ia tidak mau karena sebentar lagi ujian mit-semester. Bagaimanapun juga ia harus mendapatkan nilai yang baik agar baba-nya senang.
"AKU TIDAK MAU! Biarkan aku masuk Oh Sehun." Mohon Luhan. Bahkan ia sampai merendahkan dirinya memasang jurus puppy eyes. Tapi sayang jurusnya tidak mempan, Sehun bahkan mengancamnya. Jika Luhan tidak menurut kepadanya, ia akan memperkosa Luhan kembali sampai pria itu pingsan. Mendengar ancaman serius pria ini, yang sekarang, bisa dikatakan suaminya itu, pada akhirnya ia pun menurut. Ia tidak mau jika lubangnya dijebol lagi oleh Sehun. Hell! Bagaimanapun juga lubangnya masih sakit. Bahkan saat ini ia merasa sulit untuk berjalan.
~OoOo~
Xiumin bingung, kemana Luhan pergi? Pasalnya ia melihat, hanya pria bernama Willis lah yang ada disana. Sehun yang mengaku bernama Willis manjawab pertanyaan Xiumin yang menanyakan keberadaan Luhan.
"Hai Willis, apa kau tahu, dimana Luhan?" Tanya Xiumin.
"Luhan izin pulang. Tampaknya ia benar-benar tidak enak badan." Lihatlah kertas izin itu... tadi dokter jaga yang mengizinkan Luhan pulang." Jawab Sehun.
"Oh begitu... aku harap ia cepat sembuh. Ya sudah aku akan menyuruh Baekhyun adiknya untuk membawakan tas Luhan, pulang nanti." Jawab Xiumin, lalu ia berjalan meninggalkan Sehun.
Sehun juga keluar dari ruang kesehatan. Tak ia sangka banyak sekali tatapan puja, yang dilayangkan untuknya.
"Ckckckck... tidak hanya diduniaku saja yang suka denganku. Didunia manusiapun tampaknya begitu. Banyak yang menyukaiku." Batinnya PD.
Sehun jadi ingat, kala ayahnya masih hidup dulu. Dulu ia pernah dijodohkan oleh ayahnya oleh bangsawan wanita, anak dari iblis Valak. Sehun akui anak Valak, sangat cantik bahkan sejajar dengan artis papan atas di Hollywood sana. Sehun juga bingung. Darimana kecantikan wanita itu berasal padahal jika dilihat-lihat orangtuanya seperti itu. Apakah wanita itu oplas? Seperti kaum manusia yang suka mempermak wajah dengan dana yang fantastis menurutnya. Tapi maaf saja pada saat itu ia tidak tertarik dengan wanita tersebut. Hatinya belum dimiliki oleh seseorang, sampai ia bertemu dengan Yoona, wanita yang menorehkan racun dan madu dihatinya. Tapi kini ia sudah benar-benar move on dari wanita itu. Ia sekarang menyukai Luhan, anaknya. Dan sekarang Luhan telah sah menjadi miliknya.
Ngomong-ngomong nampaknya ia memiliki saingan. Pria bernama Kai, yang ia ketahui jika pria itu menyukai Luhan. Cih! Maaf saja, Luhan adalah miliknya. Bahkan keperawanan namja itu telah dirinya renggut. Sehun tersenyum setiap kali mengingat pergumulan panas diruang kesehatan tadi. Gara-gara tantangan yang ia berikan untuk Luhan, dan dengan bodohnya Luhan termakan jebakannya. Pria itu menyetujui tantangan yang ia berikan. Dan Boom! Luhan kalah, pria itu tunduk dibawah kuasa sang dominan. Dengan kata lain, ia bisa menyetubui Luhan sesuka hatinya, kapanpun ia mau. Toh Luhan sudah menjadi pengantin-nya. Pria itu wajib melayani-nya sebagai pasangan yang sah.
•
•
•
•
Semua kawan-kawan Luhan mendengar jika pria itu tidak enak badan, merasa cemas. "Hai kawan-kawan, nanti setelah pulang dari sini bagaimana jika kita menjenguk Luhan?" Ajak Chanyeol si ketua genk."
"Ya, kami setuju." Jawab mereka serempak.
Yixing, pria berdimple ini menatap tajam kearah siswa baru bernama Oh Willis. Tanpa kawan-kawannya ketahui, pria ini diam-diam memisahkan diri dari kawannya.
Greb!
Yixing menarik tangan Sehun. Ia menatap Sehun tajam. "Apa yang telah kau lakukan terhadap Luhan, tuan Amanojaku yang agung."
DEG!
Sehun jujur terkejut kala pria yang dilihatnya seperti orang bodoh ini, berkata seperti itu kepadanya. Sorot mata Yixing tajam, serius. Sangat, amat berbeda dibanding biasanya.
"Khu-khu-khu... akhirnya kau membuka kartumu juga Zhang Yixing. Kau!" Tunjuk Sehun kepada pria itu. "Kau, juga bukan dari dunia ini, kan?!"
•
•
•
•
•
TBC.
Nah loh! Sapa itu Zhang Yixing. Jahat, atau baikah dia? Penjelasannya ada di chap depan.
Update cepat kan gue... hehehe... #nyengir kuda. #gak ada yang tanya.
Makasih bangat ya... buat yang review, follow and favorit. Lope lope dah! #dapat kiss dari HunHan... hehehe...
Oke, see you next chap. Bye pyong. ^^…
