I SEE FIRE
BTS Fanfiction
Kim Taehyung X Park Jimin
Cast : All BTS member and Black Pink
Rating : T-M
Warning : Boys Love, Real life, Typo
Kim Taehyung
Kami duduk berhadapan di kantin, semua benar-benar sepi karena semua orang telah kembali ke ruangan. Aku tidak tahu alasan Jimin membawaku ke tempat ini, sebenarnya aku tidak lapar. Berada di wilayah ini dengan ajaib menguras seluruh napsu makanku yang biasanya luar biasa. Jimin sibuk dengan camilannya, aku juga. Sesekali aku memerhatikannya. Dia tidak berniat mengobrol dan aku tidak tahu harus memulai topik obrolan apa.
"Sejak kapan suka menulis?" pada akhirnya topik standar yang bisa aku utarakan, otakku selalu berhasil mengecewakan aku ketika aku membutuhkan gagasan cerdas.
"Lama, SD kurasa."
"Oh." Kujawab singkat, dia mulai jauh lebih awal dariku. Aku baru tertarik menulis ketika tahun pertama SMP. "Biologi itu memusingkan?"
Jimin menatapku cukup lama kemudian menggeleng pelan. "Mudah." Aku tersentak, menurutku sesuatu yang berhubungan dengan angka dan rumus itu sulit, membingungkan, dan membosankan. Setauku, Biologi masuk ilmu pasti. Dan aku sudah mual membayangkannya. "Bagaimana dengan sastra? Kau belajar apa di sana?"
Aku tersenyum, lebih kepada bingung harus menjelaskan dari mana. Tidak ada yang menarik di dalam kelas sepanjang ingatanku. Aku tidak menginginkan jurusan itu, orangtuaku yang menginginkannya, aku belajar keras demi nilai, tanpa menikmati setiap proses pembelajaran. "Teori sastra dan itu membosankan."
"Teori?" Jimin menatapku bingung. "Maksudku sastra memiliki teori?"
Sekarang aku yang merasa bingung. "Tentu saja ada teori."
"Kupikir hanya ilmu pasti yang memiliki teori. Bagaimana teori sastra itu? Aku tidak mengerti."
Park Jimin benar-benar kritis, otakku bekerja keras untuk menjawab pertanyaannya, entahlah dia melakukan hal itu sengaja atau tidak. Aku tidak tahu. "Aku tidak bisa menjelaskannya, aku bingung."
Kukira Jimin akan menertawai kebodohanku, namun dia menatapku serius. "Aku juga tidak habis pikir, bagaimana sastra memiliki teori. Menurutku sebuah tulisan tidak diatur oleh sebuah konsep-konsep dan batasan, sebuah seni itu bebas. Bebas untuk diutarakan dan bebas untuk diartikan. Konsep itu pembodohan."
"Ya." Aku hanya bisa menjawab singkat, Park Jimin, dia jauh lebih cerdas dibanding semua teman sekelas yang aku miliki di jurusan sastra. "Sastra itu bebas." Ulangku.
Kupalingkan pandanganku ke arah lapangan basket. Ada satu kelas yang memiliki jam olahraga hari ini. Jungkook menatap ke arah kami, tersenyum singkat sebelum perhatiannya kembali tersita oleh siswa-siswa remaja putri yang begitu mengidolakan Jungkook.
"Jadi kau menginginkan cerita yang seperti apa?"
Pertanyaan Jimin membuatku gelagapan, aku bahkan belum bisa meraba-raba cerita seperti apa yang aku inginkan. Apa seorang Park Jimin adalah tipe manusia tak sabaran? "Kisah cinta manis ala remaja." Usulku.
"Itu sudah biasa. Kita beri bumbu tragedi supaya lebih menarik."
Tragedi? Aku belum pernah menulis yang seperti itu. Sebenarnya aku tidak yakin akan seperti apa kerjasama kami nantinya. Aku tahu kami tidak akan cocok menulis bersama, tapi entahlah, aku tidak bisa memberi alasan yang kuat. Sejauh ini Jimin bukan sosok yang hangat dan menyenangkan, kami benar-benar berbeda, tapi aku tidak ingin menjauhinya. Aku ingin bersamanya.
Park Jimin menarikku ke dalam dunianya dengan cara yang misterius. Aku tidak pernah memiliki teman seperti Park Jimin sebelumnya. Teman-teman yang dekat denganku, yang bisa aku hitung dengan jari. Mereka selalu mengalah untukku. Park Jimin aku yakin dia tidak akan bisa mengalah untukku. Tapi tetap saja aku tertarik untuk terus mendekatinya.
Jimin terlihat ingin mengatakan hal lain ketika pandangannya teralihkan dariku. Aku menoleh ke belakang untuk mendapati Jennie, Jisoo, dan Lisa berjalan memasuki kantin. Tergesa kuluruskan pandanganku, Lisa membuat jantungku berdetak lebih cepat. Aku tidak ingin tampak bodoh di hadapannya. Mereka bertiga dengan cepat bergabung denganku dan Jimin.
"Taehyung, kenapa tidak ikut Hoseok dan Yoongi ke kantin?" Jennie mengajakku ngobrol, dengan topik tak terduga apa hubunganku dengan Hoseok dan Yoongi terlihat begitu jelas?
"Tidak." Balasku.
"Kalian punya masalah?"
"Tidak." Aku tersenyum diakhir kalimat, sebenarnya aku tidak memiliki masalah apapun dengan Hoseok dan Yoongi. Hanya saja secara alami kami tidak bisa bersama seperti air dan minyak. "Hai." Kusapa Lisa, dia tersenyum. Jisoo juga tersenyum padaku, aku tidak ingin mengobrol banyak dengan Jennie karena wajah Jimin terlihat tidak enak dipandang.
Jimin berdiri dari duduknya, dia menatapku. Dan aku merasa benar-benar tidak enak. "Taehyung." Jimin memanggil namaku, aku mendongak menatapnya. "Ayo."
Aku tidak tahu apa yang terjadi? Apa Jimin marah? Maksudku—mengapa dia harus pergi ketika kekasihnya bergabung, aku tidak mengobrol banyak dengan Jennie apa Jimin seorang pencemburu berat? Kuuikuti langkah kaki Jimin menuju kasir, aku bersiap merogoh saku almamaterku ketika Jimin menghentikanku.
Dia tidak mengatakan apapun dan membayar seluruh makanan yang kami makan. Aku terkejut, tentu saja. Di awal pertemuan dia sudah melakukan sesuatu yang untuk sebagian orang, termasuk aku, membutuhkan waktu. Membayarkan makanan orang asing. Tunggu! Apa aku nampak menyedihkan dan tak mampu membayar makananku?
Aku tidak sempat berpikir banyak hal lagi ketika Jimin mengisyaratkan aku untuk mengikutinya. Kami kembali ke ruangan. Aku meliriknya, aku ingin tahu mengapa dia pergi begitu saja meninggalkan kekasihnya. Apa mereka sedang bertengkar? Semua orang memerhatikan kami. Aku tebak mereka pasti memerhatikan Jimin.
Seorang Park Jimin memang menarik secara alami tanpa dia harus berusaha keras, kurasa sifat dinginnya justru menambah daya tarik. Berkebalikan denganku, seseorang akan langsung menjauhiku sebelum mereka benar-benar mengenalku. Semua karena kesalahanku sendiri, rasa tidak sukaku akan nampak jelas di wajahku ketika aku membenci sesuatu atau seseorang.
"Di sini." Ucap Jimin padaku dan aku langsung duduk di sampingnya.
Jimin membuka laptopnya tidak peduli dengan sekeliling, sementara aku. Aku masih menyempatkan diri untuk memerhatikan keadaan. Hoseok dan Yoongi nampak heran, Seokjin menatap ke arah kami tidak percaya, Namjoon dan Jungkook hanya tersenyum. "Kita buat pembagian kerja, siapa yang mencari latar tempat, lalu membuat plot, kita buat sudut pandang orang pertama, satu kejadian dengan dua gaya penceritaan."
Ucapan Jimin terdengar seperti racauan, aku tidak terbiasa bekerja dengan ritme cepat. Dan Jimin bertingkah seperti seorang diktator. Biasanya aku akan langsung pergi jika orang lain yang memerintahku, tapi sekarang aku tidak ingin pergi. Aku tidak mengerti. "Aku lemah dalam detail." Ucapku, mengakui kelemahanku.
"Kita pikirkan saja nanti, sekarang kita buat pembagian kerja, semua harus jelas berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai target-target."
"Ya." Aku hanya menjawab lemah dan membiarkan Jimin mengatur semuanya. Aku tidak tahu apa ini hal yang tepat. Berikutnya Jimin sudah sibuk dengan laptopnya, mencari apapun yang dia butuhkan untuk tulisan kami. Aku hanya terkesima, aku benar-benar terkejut dengan ritme bekerja yang cepat. Kurasa aku tidak akan bisa mengimbangi Jimin.
Tak lama Jennie, Lisa, dan Jisoo memasuki ruangan. Jennie duduk di samping Jimin dan mulai penasaran dengan apa yang Jimin kerjakan. Jennie tersenyum padaku sebelum memilih untuk duduk di kursi lain. Jennie tidak ingin mengganggu Jimin dan dunianya, kurasa itulah yang bisa aku simpulkan dari sikapnya.
"Besok kita matangkan semua lalu mulai membuat plot cerita, bagaimana?"
"Tentu." Jawabku pura-pura tertarik dengan pertanyaan Jimin. Pikiran tentang apa ini sesuatu yang benar kembali menggangguku. Tapi, aku tidak bisa mundur.
Setelah urusan kami selesai, aku berpindah kursi dan kembali terjebak bersama Hoseok dan Yoongi. Sedang Jimin, dia duduk bersama Namjoon. Mereka mengobrol akrab, kurasa penilaianku tentang Jimin yang pendiam itu salah. Dia bisa mengobrol akrab dengan Namjoon.
Lalu aku siapa? Hanya seseorang yang tidak nyaman dengan lingkungan baru dan masuk ke kehidupan Jimin. Mungkin Jimin mengasihaniku dan menerimaku. Aku tersenyum perih melirik jam dinding, berharap detik bisa bergerak lebih cepat dan aku bisa segera keluar dari tempat terkutuk ini. Kulirik Lisa yang mengobrol dengan Jisoo, aku tanpa sadar tersenyum. Setidaknya masih ada hal baik yang terjadi di sini.
Dan aku tidak suka ketika Jimin berbicara dengan Hoseok dan Yoongi. Bukan apa-apa tapi aku yakin mereka berdua akan berbicara hal buruk tentangku di depan Jimin. Aku tahu sifat Hoseok dan Yoongi, mereka menyebalkan. Aku membenci mereka jika aku harus mengatakannya secara langsung. Hoseok dan Yoongi, mereka adalah tipe orang yang akan tersenyum di depan lalu menusuk di belakang. Mereka busuk.
.
.
.
Sisa hari praktik lapangan, aku dan Jimin kembali mengobrol. Tentu saja obrolan kami masih kaku hanya seputar tulisan. Lalu, aku tidak tahu mulai kapan itu terjadi. Ketika Jimin mengobrol lebih banyak topik denganku, kami pergi ke kantin bersama, kami duduk bersama, kami saling membantu pada ujian praktik. Dan setiap pagi aku menantikan kedatangannya. Kami membuat plot cerita di sela-sela pergantian pelajaran. Praktik lapangan ini akan segera berakhir dan kami bahkan belum melengkapi plot cerita.
"Ayah dan ibuku tidak tinggal bersama."
Aku tidak tahu bagaimana Jimin bisa mengatakan hal itu padaku, sungguh, aku tidak memancingnya. Kami sedang membicarakan plot cerita dan dia mengatakan sesuatu yang seharusnya menjadi rahasia. Kutatap wajah Jimin, dia terlihat tidak terbebani dengan ucapannya.
"Mereka bercerai?" tanyaku.
Jimin menggeleng. "Ceritanya rumit."
Tanpa sadar aku mengerutkan kening, serumit apakah keluarganya? Serumit apakah kehidupan seorang Park Jimin. Aku tidak tahu apa Jimin adalah orang yang dengan entengnya mengatakan semua yang terjadi padanya, pada keluarganya, mengatakan rahasia dengan mudah, aku tidak tahu. Aku juga tidak tahu apa Jimin mengatakannya dengan sengaja untuk menarikku lebih dalam terlibat dalam kehidupannya.
Aku diam tak mengatakan apapun. Aku tidak masalah dengan semua itu, prinsipku sederhana ketika seseorang mulai berhubungan denganku jika dia baik padaku, maka aku akan melakukan hal yang sama. Masalah di balik punggung orang itu, bukan urusanku.
"Kita sudah memiliki nomor kontak masing-masing kan?"
"Ya. Semua orang bertukar nomor kontak sehari sebelum praktik lapangan dimulai."
"Berarti kita bisa saling menghubungi dan membicarakan tulisan." Aku hanya mengangguk sambil memperhatikan Jimin yang menulis pada lembaran kertas buku tulis. Menuliskan nama tokoh yang akan kami buat cerita, menuliskan plot-plot cerita dengan rapi, plot hasil diskusi kami.
"Jika praktik lapangan ini berakhir proyek kita masih berjalan?" tiba-tiba aku merasa cemas tentan semua ini.
"Apa yang kau inginkan? Lanjut atau berhenti?"
Berhenti mungkin jawaban yang tepat mengingat tulisan kami tidak akan cocok satu sama lain. Bahwa akan ada pihak yang harus mengalah untuk bisa imbang. Aku dan Jimin, salah satu dari kami harus mengalah. Kujilat singkat bibir bawahku, aku tidak mungkin mengalah dan mengikuti gaya menulis Jimin. Aku bahkan tidak bisa membayangkannya.
"Lanjut." Namun jawaban itu meluncur begitu saja dari bibirku. Aku tidak tahu apa otakku benar-benar sedang bekerja ketika memberi Jimin jawaban.
"Kita bisa bertemu setelah praktik lapangan selesai. Kita masih sering berada di kampus, aku masih ada mata kuliah."
"Aku juga." Jawabku. "Kita bertemu dimana?"
"Kita pilih tempat yang jaraknya netral. Perpustakaan?"
"Ya, kurasa tidak masalah."
"Hmm." Jimin menggumam kemudian dia meneruskan kesibukannya menulis plot dan aku memerhatikannya. "Selesai." Ucap Jimin sambil tersenyum dia menyobek kasar kertas buku tulisnya. Membagi kertas itu menjadi dua bagian. "Itu plot bagianmu."
"Tentu."
Kudengar derap langkah kaki kemudian pintu ruangan terdorong ke dalam. Lisa masuk dengan tergopoh-gopoh. "Hai." Dia menyapa kami. "Aku meninggalkan sesuatu. Kalian tidak ada kelas?"
"Aku di jam terakhir." Jawab Jimin.
"Aku setelah istirahat."
Lisa menghembuskan napas kasar, kedua tangannya memeluk buku tebal yang dia tinggalkan. "Kalian beruntung, aku pergi dulu!" pamitnya nyaris berteriak.
"Hei." Sayup-sayup terdengar suara Jimin. Atau itu memang suara Jimin karena dia menyikut rusukku. "Kau menyukai Lisa."
Seharusnya aku mengelak dan menyangkal, tapi dengan mudahnya aku mengangguk dan tersenyum pada Jimin. "Apa kau tidak menyukai Lisa? Dia menarik, ah tentu saja kau tidak tertarik. Kau sudah punya Jennie."
"Tidak. Dia bukan tipeku."
"Hah!" aku mendengus. "Tidak mungkin kau tidak tertarik pada gadis seperti Lisa."
"Aku serius." Jimin menatapku tajam dan aku ingin sekali menggodanya seperti menjulurkan lidahku padanya. "Tulis bagianmu." Tangan kanan Jimin menunjuk sobekan kertas di tanganku.
"Hmmm." Aku membalas malas.
"Dua hari kuharap kau sudah menyelesaikan plot bagianmu."
"Hei, tidak secepat itu."
"Dua hari jangan lebih, aku tidak suka seseorang yang ingkar janji."
"Aku tidak pernah berjanji apa-apa!" protesku tapi Jimin sudah pergi ke kursi lain meninggalkan aku, sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang menarik perhatiannya.
Suara pintu kembali terdengar, kali ini Jisoo dan Jennie masuk. Jennie langsung duduk di dekat Jimin. Mereka mengobrol, aku memerhatikan mereka selama beberapa saat. Dan aku menginginkan hal yang sama. Aku ingin memiliki kekasih. Tidak ingin melihat interaksi antara Jimin dan Jennie lebih jauh, kuputuskan untuk berdiri dan mendekati Jisoo. Kami duduk berhadapan. Tak benar-benar dekat.
"Kupikir kau ada kelas dengan Lisa?"
"Tidak."
"Biasanya kalian saling bantu."
"Aku ingin Lisa belajar mandiri."
Jawaban Jisoo membuatku tertawa, Jisoo melirikku dia ingin mengatakan sesuatu. Aku yakin itu tentang Lisa, dia ingin menggodaku. Tidak, aku tidak ingin perasaanku diketahui oleh orang lain kecuali Jisoo dan Jimin. Karena mereka berdua dengan sialnya bisa membaca diriku dengan mudah.
"Ada banyak orang yang menginginkan Lisa." Gumamku pelan.
"Siapa?"
"Ayolah, orang buta saja tahu jika Jungkook menginginkan Lisa." Balasku.
"Lisa belum memiliki kekasih, kesempatanmu terbuka lebar."
Aku hanya tersenyum, kurasa Lisa tidak akan pernah tertarik padaku. Lisa baik pada semua orang, dan mungkin aku hanya salah mengartikan kebaikannya. Aku tidak bisa menahan diri untuk menoleh ke belakang. Jimin dan Jennie mengobrol akrab, duduk berdekatan, Jennie tersenyum, mereka terlihat bahagia. Bisakah mereka melakukannya dengan cara yang tak terlalu jelas? Atau hanya aku yang merasa iri di sini. Aku benar-benar ingin memiliki kekasih secepat mungkin. Demi Tuhan, otakku tidak berfungsi dengan baik sekarang.
"Taehyung."
"Ya?" perhatianku kembali pada Jisoo.
"Kelasmu?"
"Setelah istirahat."
"Kau lapar?"
"Tidak."
"Mau menemaniku ke kantin?"
Aku ingin menolak, tapi aku pikir ini kesempatan bagus untuk mengenal Lisa lebih baik lewat Jisoo. Akupun berdiri dari kursi dan mengikuti Jisoo keluar ruangan. Kulihat Jisoo tersenyum pada Jimin dan Jennie. Aku melakukan hal yang sama, Jimin menatapku tanpa tersenyum. Aku tidak tahu mengapa.
TBC
