I Want U (Back)

.

.

.

Chapter 5

.

.

.

Author : chochopanda99

Disclaimer : Semua cast punyanya Tuhan YME, Ortu mereka, SM Ent, dan kita semua xD. And this fic is original from me.

Cast :

TaeYu

JaeYu

Slight!HunMin

Slight!ChulTeuk

Slight!YunJae

Kid!Winwin

Kid!Mark

And Other cast

Rated : M (Buat jaga-jaga)

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Family.

Lenght : Multichap

Warning : AU, Shounen-Ai , Yaoi, boyxboy, OOC, Typo(s) , Cerita Pasaran, Mature Scene, Mpreg.

Summary : "Lee Taeyong yang menyesal sudah melepas Nakamoto Yuta namun saat ia akan memintanya kembali ternyata Yuta sudah melupakannya dan ia merupakan tunangan sekaligus 'calon istri' adik sepupunya sendiri, Jung Jaehyun. Apa yang akan dilakukan Taeyong selanjutnya?" Seme!Jaehyun Uke!Yuta Seme!Taeyong. JaeYu. TaeYu. NC 17. Mature Content. Mpreg. DLDR.

.

.

.

Happy Reading

.

.

.

Jaehyun mendudukkan dirinya pada sebuah sofa diruang keluarga entah milik siapa. Orang yang tadi tidur disampingnya kini sedang mandi setelah tadi berteriak tak jelas saat pertama bangun dan mengumpat beberapa kali ke Jaehyun sebelum akhirnya memutuskan untuk mandi.

Pintu kamar-yang kemarin malam Jaehyun tiduri-terbuka menampilkan sosok pemuda manis yang kini berjalan menghampiri Jaehyun dengan wajah cemberut. Pemuda itu kemudian mendudukkan dirinya disingle sofa yang memang berjarak jauh dari Jaehyun-sepertinya pemuda itu memang ingin menjaga jarak dari Jaehyun-membuat Jaehyun melirik kearahnya dan memainkan jarinya gugup. Ia tak tau harus memulai perbincangan bagaimana.

"Aku Doyoung." Pemuda itu membuka suaranya, membuat Jaehyun sontak menatap kearahnya. Membuat pemuda bernama Doyoung itu mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya dari Jaehyun.

"Aku Jae-"

"Aku tau. Jaehyun kan?"

"Kau tau?"

"Tentu saja."

"Jadi, bisa kau jelaskan apa yang terjadi?"

"Kau tak ingat?"

Jaehyun berfikir sebentar, sebelum membuka mulutnya lagi.

"Yang aku ingat, hanya aku datang ke bar dan minum, itu saja."

"Kau mabuk semalam."

"Benarkah? Pantas saja. Ingatan ku buruk saat habis minum. Jadi, aku tak bisa ingat apa pun."

"Hmm, bisa kau jelaskan apa yang terjadi selanjutnya?"

"Maksudmu?"

"Kau taulah, ya hmm bagaimana aku tidur disini dan ya, begitulah." Jaehyun mengusap tengkuknya gugup, entah kenapa, ia merasa malu membicarakan hal seperti itu pada Doyoung. Bukankah itu wajar? Kan mereka baru mengenal.

Sementara Doyoung, kini wajahnya sudah memerah sampai telinga. Ia merasa malu juga sebenarnya, tapi ia juga ragu mau menceritakannya pada Jaehyun.

"Kau benar ingin tau?"

"Tentu."

"Kau tidak akan menyesalkan?"

"Hmm..."

"Baiklah, dengarkan baik-baik."

Doyoung menghela nafasnya pelan sebelum bercerita.


Flashback on

.

.

Jaehyun memasuki sebuah bar mewah yang memang menjadi langganannya saat dirinya merasa bosan. Meskipun tak sering namun ia bisa memastikan bahwa sekali atau dua kali dalam sebulan, ia pasti menyempatkan diri untuk mendatangi bar itu.

Jaehyun mendudukkan dirinya di depan meja bartender dan meminta satu botol vodka yang diiyakan oleh sang bartender.

Jaehyun sengaja datang kesini hari ini karena untuk sekedar melupakan masalahnya barang sejenak. Ia tak tau harus melakukan apa lagi sekarang, satu sisi Jaehyun sangat ingin menikah dengan Yuta tapi disisi lain ada orang-orang yang menentangnya yaitu Taeyong juga ayahnya sendiri, Yunho.

Jaehyun mengambil gelas vodkanya dan menegaknya, kemudian ia menuangkan lagi vodka yang dipesannya pada gelas miliknya.

Jaehyun menoleh kebelakang saat ia merasakan ada seseorang yang datang dan sengaja-ataupun tidak-menyenggol bahunya.

"Ma-maaf maaf, aku tak sengaja." pemuda yang menyenggol bahunya kini menunduk dalam sembari memainkan ujung bajunya.

"Bukan masalah. Duduklah." Jaehyun tersenyum tipis meskipun kini matanya mulai menyayu.

Pemuda tadi mendongak dan mengangguk dengan cepat sebelum memutuskan untuk duduk dikursi samping Jaehyun.

"Mau minum?"

"Ahh tidak."

"Baiklah."

Jaehyun kembali sibuk dengan minumannya dan mengabaikan pemuda disampingnya. Sementara pemuda itu terus menatap Jaehyun dengan tatapan penuh arti.

"Aku Jaehyun."

"Ehh ya? Eungg aku Doyoung."

"Doyoung? Nama yang bagus."

"Terima kasih."

"Hmm Doyoung-ssi."

"Ya?"

"Kau punya kekasih?"

"Ti-tidak."

"Benarkah?"

"I-iya."

"Sayang sekali."

"Memangnya kenapa?"

"Begini, aku ingin bertanya. Jika kau diharuskan memilih, kau akan memilih kekasihmu atau mantan kekasihmu?"

"Ahh, itu tergantung Jaehyun-ssi."

"Maksudmu?"

"Semua orang berbeda Jaehyun-ssi, tapi menurutku jika kau benar-benar mencintai kekasihmu yang sekarang maka kau pasti memilih kekasihmu. Dan lagi menurutku mantan kekasih adalah seseorang yang memang tak berjodoh dengan kita, jadi untuk apa kita kembali padanya."

"Tapi, bagaimana jika mantanmu adalah jodohmu yang sebenarnya dan waktulah yang mempermainkan perasaan kita?"

"Ehh kalau itu, aku juga tak tau."

Jaehyun tertawa mendengar jawaban Doyoung, terlebih pemuda manis itu kini tengah mengernyit sambil menatap tajam kearah Jaehyun.

"Kenapa tertawa? Ada yang lucu?"

"Tidak juga."

"Ya sudah. Lagian, untuk apa kau menanyakan hal itu pada orang yang baru kau kenal huh?"

"Terkadang orang yang baru dikenal lebih mengerti kita dibanding orang yang sudah sangat mengenal kita."

"Kau sedang patah hati ya?"

"Tidak juga."

"Lalu kenapa kau begini?"

"Seperti yang ku tanyakan tadi, aku punya kekasih dan akan menikah dalam waktu dekat. Tapi, tiba-tiba mantan kekasihnya datang dan berencana menghancurkan semuanya."

"Wahh, benarkah?"

"Makanya aku bingung."

"Bingung kenapa Jaehyun-ssi? Bukankah kalian saling mencintai?"

"Aku tak yakin."

"Kenapa tak yakin?"

"Dulu, sebelum dia pergi, dia menitipkan kekasihnya padaku agar aku menjaganya. Dan aku menerimanya karena dia adalah kakak sepupuku yang paling dekat denganku. Saat kakakku pergi, aku mulai menemani hari-hari kekasihnya dan tanpa ku duga, perasaan itu datang. Aku tau, ini salah. Tapi, aku tak tau harus bagaimana menghentikan perasaan yang salah ini. Dan lagi kakak ku itu meninggalkan kekasihnya tanpa mengatakan hal yang sebenarnya pada sang kekasih, jadi aku berfikir kenapa tidak aku coba saja merebut posisi kakakku dari hati kekasihnya dan ternyata aku berhasil. Dan aku tak yakin jika kekasihku itu benar-benar mencintaiku."

"Ohh tunggu-tunggu aku jadi bingung. Sebentar jadi maksudmu adalah kekasihmu yang sekarang ini adalah kekasih kakakmu yang dulu begitu? Dan kau merebutnya?"

"Tidak bisa dikatakan merebut juga sebenarnya. Lagi pula, suruh siapa kakakku itu meninggalkan kekasihnya begitu lama."

"Tapi itu tidak benar Jaehyun-ssi."

"Aku tak peduli. Dan sekarang karena kau sudah mendengarkan semua ceritaku, temani aku minum."

"Tidak, aku tak mau minum."

"Aku yang traktir. Ayolah."

"Baiklah-baiklah."

Jaehyun tersenyum dan menyodorkan segelas vodka pada Doyoung yang diterima setengah hati oleh Doyoung.

Dan pada gelas ke 8 Jaehyun sudah ambruk dimeja bartender. Doyoung yang melihat hal itu pun hanya menghela nafasnya pelan, untung saja ia tak minum sebanyak Jaehyun jadi ia masih bisa sadar sampai sekarang. Doyoung mengambil ponselnya dari kantung celananya dan menempelkan ponselnya itu pada telinganya.

"Dia sudah pingsan hyung."

"..."

"Ya, aku mengerti."

Doyoung memutuskan sambungan telfon miliknya dan kembali fokus pada Jaehyun yang berada dihadapannya.

"Maafkan aku, tapi aku harus melakukan hal ini." Doyoung bergumam sembari menutup matanya dan menghela nafasnya sekali lagi. Tak lama, orang-orang suruhan kakaknya datang. Doyoung mengode lewat ekor matanya yang ditanggapi anggukan oleh orang-orang berbadan besar itu.

.

.

Doyoung menatap datar kearah Gong Myung-kakaknya-yang kini sedang berdiri dikamarnya sambil menatap Jaehyun yang kini berbaring ditempat tidurnya.

"Sesuai rencana kita, kau tidur disampingnya dan jangan lupa telanjang. Aku akan membuka pakaian Jaehyun juga nanti."

"Hyung! Kau gila ya?"

"Tidak. Aku masih waras."

"Kau benar-benar ingin aku kehilangan harga diri ya hyung?"

"Oh ayolah Doyoung, kita sudah sepakat akan hal ini. Jadi, jangan dibahas lagi, okay?"

"Tapi-"

"Cepat lakukan apa yang ku katakan jika kau tak mau menyesal nantinya Doyoungie."

Doyoung membuang nafasnya keras seraya mulai membuka pakaiannya satu-persatu, setelahnya ia berbaring disamping Jaehyun yang kini juga dalam keadaan telanjang.

"Bagus. Aku akan memotret kalian dan setelahnya langsung dikirim. Pose yang bagus adikku sayang." Doyoung merenggut kesal seraya menutup matanya namun dengan badan yang kini menempel pada tubuh Jaehyun.

.

.

Flashback off


"Setelah aku membawamu ke tempatku kau langsung menyerangku, aku ingin melakukan perlawanan tapi karena ya aku tak mau mengakuinya sih, kau terlalu kuat jadi aku tak bisa melawanmu. Dan akhirnya boom, kau keluar dengan menyebut nama kekasihmu 'Ahh Yuta hyung' selanjutnya kau ketiduran." Doyoung mengakhiri ceritanya dengan segala kekurangan dan juga tambahan yang ia masukan ke dalam ceritanya itu. Jangan lupa, pipinya kini memerah hingga ke telinga entah karena apa.

"Jadi, kita benar-benar melakukan 'itu'?"

"Tentu saja."

"Eungg.."

"Kau tak percaya?"

"Aku sulit percaya sebenarnya."

"Kalau begitu terserahmu saja. Yang pasti, aku punya buktinya."


Yuta mengerjapkan matanya beberapa kali. Yuta ingin mengucek matanya sebenarnya, tapi entah mengapa, tangannya susah untuk digerakkan. Tangannya seperti terikat, juga kakinya sangat sulit untuk digerakkan, seperti diikat juga. Yuta panik seketika dan ia langsung membuka matanya. Yuta mengedarkan pandangannya, ini masih dikamar Taeyong, kamar yang ia tiduri bersama Winwin-juga Taeyong-tadi. Lalu, Yuta mengalihkan pandangannya ke kedua tangannya yang kini sudah terikat juga kedua kakinya yang memiliki nasib sama, masing-masing terikat diujung ranjang milik Taeyong itu.

Pintu terbuka dan menampilkan Taeyong yang kini berjalan kearahnya dengan seringai terpasang di wajah tampannya.

"Akhirnya kau bangun juga Yuta-chan." Taeyong mendekati Yuta dan duduk disebelah Yuta. Taeyong kemudian mengelus pipi Yuta yang membuat Yuta menolehkan pipinya kesamping menolak sentuhan Taeyong.

"Kau ingin bermain-main rupanya Yuta-chan."

"Lepaskan aku brengsek!"

"Tidak. Sampai kapan pun aku tak akan melepaskanmu Yuta."

"Lepaskan aku! Dimana Winwin? Aku harus menemuinya."

"Kau tenang saja Yuta. Dia aman, lagi pula dia sangat senang sekarang. Karena aku bilang, bahwa dia akan segera punya adik."

"A-apa maksudmu?"

"Tentu saja maksudku adalah, kita akan membuatkan adik untuk Winwin. Kau tak kasian dia kesepian jika dirumah hmm?"

"Tidak. Jangan sentuh aku Taeyong."

"Kenapa? Bukankah dulu kau sangat menyukai sentuhanku?"

"Itu dulu Taeyong, dulu! Sebelum kau meninggalkan ku seperti seorang pengecut!"

Taeyong menggeram marah, ia kemudian mencengkram rahang Yuta membuat lelaki cantik itu meringis kesakitan.

"Lepasss."

Taeyong menyeringai sebelum akhirnya ia memutuskan tali yang mengikat kedua tangan Yuta. Taeyong berfikir sepertinya akan sangat nikmat jika sex pertama mereka setelah sekian tahun tak bertemu dibumbui dengan perlawanan Yuta.

"Aku akan melepaskanmu dari tali-tali ini. Tapi, cobalah lari dari kamar ini sebisamu." Taeyong berbisik di telinga Yuta sambil mengulum cuping telinga Yuta. Membuat Yuta menggigit bibir bawahnya untuk menahan desahan karena rasa geli.

Setelah Taeyong memutuskan tali yang mengikat kedua kakinya, Yuta pun langsung turun dari ranjang itu dan berlari menuju pintu. Yuta lalu mencoba membuka pintu itu namun nihil, pintu terkunci dan sialnya, Taeyong yang kini berdiri dibelakangnya tengah memegang kuncinya dan menyeringai kearahnya.

"Kau tak akan bisa lepas dariku sekarang Nakamoto."

Detik berikutnya, tubuh Yuta sudah terhimpit antara pintu dan juga tubuh Taeyong. Wajah mereka teramat dekat, membuat Yuta memejamkan matanya tak berani menatap mata tajam Taeyong. Sebelah tangan Taeyong, ia gunakan untuk mengelus wajah pemuda Jepang yang masih sangat ia cintai itu.

"Dengar Yuta, sampai kapanpun perasaanku padamu tak akan pernah berubah."

Selanjutnya, dapat Yuta rasakan bibir tipis pemuda dihadapannya itu kini memagut bibirnya, melumatnya pelan dan menghisap bibir atas bawahnya bergantian. Yuta mengepalkan kedua tangannya disisi tubuhnya. Tidak, ini tak boleh terjadi, bagaimana pun caranya, Yuta harus keluar dari sini, harus. Tekad Yuta dan entah mendapat kekuatan dari mana, kini Yuta dapat mendorong tubuh Taeyong dan juga-BUKK-satu tendangan berhasil Yuta daratkan pada selangkangan Taeyong yang membuat lelaki tampan itu meringis dan menatap tajam Yuta.

Yuta berusaha mengambil kunci pintu kamar Taeyong yang tak sengaja Taeyong jatuhkan ke lantai.

BUGH

BUGH

Namun belum sempat Yuta mencapai kunci itu, tubuhnya sudah didorong kelantai juga bonus hantaman keras dipipinya.

"Tadinya aku ingin bermain lembut denganmu, tapi sepertinya kau lebih suka dengan permainan yang kasar hmm Yuta?" Taeyong menyeringai seraya merobek kaos yang Yuta gunakan.

"Ja-jangan Taeyong." Yuta menggelengkan kepalanya seraya menggerakkan tangannya mencoba menghalau tangan Taeyong. Namun, Taeyong menahan tangannya dan mengambil tali yang masih berserakan dibawah ranjang dan mengikat tangannya lagi.

"Kali ini tak akan aku biarkan kau lolos lagi." Taeyong menyeringai dan kini tangannya mulai menggerayangi tubuh Yuta.

Yuta menggeleng-gelengkan kepalanya dan kakinya menendang-nendang segala arah berharap mengenai Taeyong dan membuat lelaki itu berhenti.

"Diam Yuta! Atau aku akan menyuruh orang untuk membawa Winwin kesini dan membiarkan anak itu melihat bagaimana aku memperkosamu."

"Ja-jangan, aku mohon." pupus sudah harapan Yuta untuk lari dari Taeyong. Dan kini airmata mulai menuruni pipi putihnya. Ia merasa bersalah sekarang, bersalah pada Jaehyun, Winwin juga pada orang-orang yang selama ini selalu disampingnya.

Taeyong mendekatkan wajahnya pada wajah Yuta dan mencium bibir kemerahan milik Yuta. Taeyong kembali melumat dan sesekali menghisap juga menggigiti bibir Yuta. Yuta yang masih ingin melawan pun menggigit keras bibir Taeyong membuat bibir itu berdarah. Bukannya marah, Taeyong malah menyeringai dalam ciuman mereka dan kini tangannya kembali berulah dengan tangan kirinya yang sibuk mengerjai nipple Yuta yang mulai menegang. Yuta sangat ingin menendang perut atau bahkan selangkangan Taeyong, namun sayang kakinya tertahan karena kini Taeyong sudah memposisikan dirinya untuk menindih Yuta membuat pergerakan Yuta menjadi sangat terbatas.

Setelah puas dengan bibir Yuta, bibir Taeyong turun menuju leher jenjang Yuta untuk memberikan tanda kepemilikan disana. Karena bagi Taeyong, Yuta adalah miliknya dari dulu hingga selamanya. Taeyong egois, itu memang benar. Karena hal yang paling Taeyong inginkan didunia ini hanyalah Yuta dan juga Winwin, hanya itu.

"Akhh~"

Yuta memekik kencang saat Taeyong meremas penis miliknya yang sudah menegang dibalik jeans. Taeyong lagi-lagi menyeringai mendengar pekikan Yuta.

"Setelah ini, mendesahlah terus Yuta-chan."

Taeyong kemudian membuka seluruh pakaiannya dan menatap dalam kearah Yuta. Tak lupa, ia juga membuka jeans serta dalaman Yuta. Lalu, ia mengocok pelan penis Yuta yang membuat Yuta menggigit bibir bawahnya mencoba menahan desahannya.

"Aku bilang mendesah Yuta-chan." Taeyong menatap tajam Yuta dan meningkatkan kocokan penis Yuta menjadi lebih cepat. Membuat Yuta mengerang pelan juga menutup matanya.

"Ahh~ aku mohon Tae, jangan ahhh~"

Taeyong tak mendengarkan perkataan Yuta, ia masih saja sibuk dengan penis Yuta yang berada ditangannya. Taeyong mendekatkan bibirnya pada nipple Yuta yang sudah menegang dan menjilat nipple itu. Membuat Yuta membuka matanya dan menatap tepat mata Taeyong yang terus saja menatapnya. Dapat Yuta lihat mata itu menatapnya penuh cinta juga nafsu, dan Yuta tak bisa untuk tak menyalahkan jantungnya yang terus berdebar tak karuan saat menatap mata itu.

"It's show time." Taeyong berbisik dengan suara rendah yang membuat Yuta bergidik takut.

"Akhhh sakit~" Yuta memekik saat lubangnya tiba-tiba dimasuki oleh penis Taeyong yang ereksi.

Taeyong mengecup lama bibir Yuta dan tangannya mulai bermain dengan nipple Yuta. Yuta memejamkan matanya erat, sungguh ia sangat ingin memukul Taeyong sekarang, tapi apa daya, kedua tangannya terikat dan berada diatas kepalanya. Kakinya juga tak bisa ia gerakan, terlebih lelaki diatasnya itu sudah memasukinya dengan penis besar miliknya itu.

Taeyong terus saja mengerjai tubuh lelaki yang berada dibawahnya itu. Taeyong mengulum nipple kiri Yuta dan mulai menggerakan pinggulnya membuat Yuta melenguh pelan.

Taeyong membuka ikatan tali pada tangan Yuta dan mengalungkan tangan Yuta pada lehernya sendiri. Kemudian, ia melingkarkan kaki Yuta pada pinggangnya sendiri, membuat gerakannya semakin mudah untuk menyetubuhi tubuh dibawahnya itu.

Sebenarnya, bisa saja Yuta memukul atau bahkan mencekik Taeyong saja sekalian tapi tubuh dan otaknya tak bisa diajak kerjasama sekarang. Tubuhnya menginginkan sentuhan-sentuhan Taeyong yang memang sangat ia rindukan itu namun tetap saja otaknya menolak untuk mengakuinya.

Taeyong terus menggerakkan pinggulnya maju mundur menikmati tubuh Yuta dengan sesekali menggeram saat lubang sempit Yuta seperti mencengkram kemaluannya itu. Sementara Yuta kini ia sibuk merutuk dalam hati saat desahan serta erangannya keluar dengan lancarnya dan seenak mulutnya saja.

"Ahh~ Taeyong a-aku-"

"Bersama Yuta."

"AHHH~ TAEYONG."

"AHHH~ YUTA."

Taeyong mengeluarkan benihnya didalam lubang Yuta dan ada beberapa tetes yang keluar karena cairannya teramat banyak. Sementara Yuta kini ia mengatur nafasnya setelah pelepasannya yang mengotori perutnya juga Taeyong serta lantai.

Taeyong tersenyum samar menatap Yuta dan mendekatkan wajahnya pada telinga Yuta.

"Kau bilang kau tak mencintaiku lagi. Tapi, tadi kau mendesahkan namaku begitu kencang Yuta."

Yuta menelan ludahnya gugup dan menghindari kontak mata dengan Taeyong.

"I-itu.."

"Hatimu tak akan pernah bisa berbohong Yuta."

Setelahnya, Taeyong bangkit dan mengambil pakaiannya lalu memakainya.

"Aku akan pergi sekarang. Winwin bersama Jackson, aku akan menyuruhnya kesini saat aku keluar nanti. Dan kau segeralah mandi, kau tak maukan anakmu melihatmu seperti ini?"

Taeyong menyeringai tipis dan ia mengecup kening Yuta sebelum pergi meninggalkan kamarnya.

Jadi, hanya begini? Setelah beberapa hari lalu Taeyong mengatakan cinta padanya, menculik Winwin dan memaksanya untuk bercinta, dan hasilnya tetap sama? Lagi-lagi ditinggalkan oleh orang yang sama? Yang katanya selalu mencintainya dan perasaannya tak akan pernah berubah, dan kini meninggalkannya dalam keadaan telanjang. Yuta tak bisa untuk tak merutuki dirinya yang lagi-lagi lemah karena tak bisa berbuat apa pun, airmata juga mulai mengalir membasahi pipi putihnya. Yuta hancur sekarang, harga dirinya sudah diinjak-injak oleh Taeyong. Yuta tak tau harus berbuat apa lagi sekarang.


Anak kecil itu terlihat tertawa senang saat bermain bersama dengan kakek dan neneknya.

"David-ah, kau mau kemana?" Tanya sang kakek yang melihat sang cucu keluar dari rumahnya.

Namun, tak lama seseorang masuk kedalam rumah itu dengan menggendong David.

"Daddy kemana saja? David kangen." David memeluk leher lelaki yang menggendongnya itu.

"Sorry David. Daddy sibuk." lelaki itu mengacak sayang rambut hitam milik anaknya itu.

"Taeyong, itu kau nak?"

"Ya appa. Ini aku."

.

.

.

TBC


.

.

Halo~ bagaimana dengan chap ini, memuaskan kah?

Dan chap ini spesial buat Yuta Noona yg minta adegan naena, tpi maaf ya kalo ini sangat jauh dari ekspetasi hehe, maaf. Tapi chap ini juga jadi titik balik(?) buat hubungan JaeYu kedepannya. Inget ya, JaeYu bukan TaeYu.

Dan maaf juga, karena lagi" ku menistakan bang kelinci disetiap ff ku hehe maaf. Dan awalnya sebenernya pengen bikin naena jaedo juga, tapi ga jadi hehe.

And well, Big Thanks to Mayumi Fujika, Kim991 , liaoktaviani. joaseo, BlueBerry Jung, 2113 , Park RinHyun-Uchiha, Yuta Noona, guest, kiyo, Unnayus, MinJ7, pepibabykyu, Min Milly.

Juga yg udh fav/foll ff ini serta silent reader maupun yg cuma buka thanks ya.

Review again? *wink