I Want U (Back)

.

.

.

Chapter 6

.

.

.

Author : chochopanda99

Disclaimer : Semua cast punyanya Tuhan YME, Ortu mereka, SM Ent, dan kita semua xD. And this fic is original from me.

Cast :

TaeYu

JaeYu

Slight!HunMin

Slight!ChulTeuk

Slight!YunJae

Kid!Winwin

Kid!Mark

And Other cast

Rated : M (Buat jaga-jaga)

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Family.

Lenght : Multichap

Warning : AU, Shounen-Ai , Yaoi, boyxboy, OOC, Typo(s) , Cerita Pasaran, Mature Scene, Mpreg.

Summary : "Lee Taeyong yang menyesal sudah melepas Nakamoto Yuta namun saat ia akan memintanya kembali ternyata Yuta sudah melupakannya dan ia merupakan tunangan sekaligus 'calon istri' adik sepupunya sendiri, Jung Jaehyun. Apa yang akan dilakukan Taeyong selanjutnya?" Seme!Jaehyun Uke!Yuta Seme!Taeyong. JaeYu. TaeYu. NC 17. Mature Content. Mpreg. DLDR.

.

.

.

Happy Reading

.

.

.

Jaehyun berjalan memasuki gedung apartemennya dengan sesekali menghela nafasnya berat. Begitu sampai, ia membuka pintu apartemennya dan-

BUGH

-satu pukulan telak mengenai rahang Jaehyun begitu keras. Jaehyun terhuyung ke belakang sampai menyender ke pintu.

Jaehyun mendongak dan mendapati Sehun yang kini menatapnya datar.

"Baru pulang? Bagus sekali Jung. Dari mana saja kau brengsek?!" Sehun menarik kerah baju Jaehyun, membuat Jaehyun sedikit meringis karena tatapan Sehun yang kini mendingin.

"Ma-maaf hyung." cicit Jaehyun.

BUGH

BUGH

BRAKK

"YAKK OH SEHUN! SUDAH CUKUP!" Minseok berlari kearah Jaehyun yang kini sudah tersungkur dilantai akibat pukulan Sehun.

"Tidak hyung! Aku belum puas menghajarnya!" Sehun menatap tajam Jaehyun yang meringis sakit.

"Tenangkan dirimu Sehun. Ada anak-anak disini, tak baik jika mereka melihat perkelahian. Jaehyun-ah, kau tak apa?" Minseok melirik sekilas Sehun sebelum mengalihkan perhatiannya pada Jaehyun.

"Sshh, ya hyung, aku tak apa." Jaehyun meringis dan memegang wajahnya yang mendapat bogeman mentah dari Sehun.

"Sekarang ayo bangun, hyung bantu kau duduk disofa." Minseok meraih tangan Jaehyun dan membantunya berdiri.

Setelah membantu Jaehyun untuk duduk disofa, Minseok pergi untuk mengambil peralatan P3K, sebelumnya, ia melirik Sehun untuk memperingati suaminya itu. Sehun menghela nafas pelan sebelum mengangguk mengerti. Sehun kemudian mendudukkan dirinya sofa single dan menatap Jaehyun yang masih meringis sambil memegangi wajahnya yang penuh lebam itu.

"Sebenarnya ada apa hyung? Kenapa kau memukul ku tiba-tiba begini?" pertanyaan Jaehyun sontak membuat Sehun semakin ingin memukul adik sepupu iparnya itu.

"Jadi kau benar-benar tak tau apa-apa Jaehyun-ah?" suara dari Minseok menghentikan khayalan Sehun untuk membunuh Jaehyun.

"Ya hyung, aku tak tau. Memangnya kenapa?" Minseok mendudukkan dirinya disamping Jaehyun sebelum membuka kotak P3K yang dia bawa.

"Akan aku ceritakan setelah mengobatimu." Jaehyun mengangguk sembari melirik Sehun yang masih menatapnya dingin.

Setelah mengobati wajah Jaehyun, Minseok merapikan kotak P3K dan menaruhnya dimeja.

"Jadi, ada apa hyung?" Jaehyun menatap Minseok yang kini menghela nafasnya sebelum tersenyum tipis kearahnya.

"Kemarin, Winwin diculik dan-"

"A-Apa? Yang benar saja hyung? Lalu bagaimana dia sekarang?"

"Tenang Jaehyun-ah, Winwin baik-baik saja sekarang. Ta-tapi.."

"Tapi apa hyung?"

"Yuta diperkosa oleh Taeyong."

"Sehun!"

"Kenapa hyung? Itu benar kan? Gara-gara anak tak tau diri ini, Yuta jadi begini."

"Hyung,"

"Yuta dan Winwin ada dikamar sekarang. Temui mereka Jaehyun-ah, setelah itu baru kita bicara lagi."

Jaehyun mengangguk sebelum berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju kamar Yuta.

"Kau seharusnya tak berkata begitu Sehun."

"Jadi aku harus bagaimana hyung? Aku terlanjur kecewa padanya. Apa lagi dengan foto-foto itu. Itu membuatku semakin muak hyung."

"Belum tentu itu asli Sehunie."

"Itu asli hyung. Orangku sudah memeriksanya."

"Oh Tuhan, bagaimana sekarang?"

"Aku hanya berharap Jaehyun bisa menjelaskan yang sebenarnya pada kita semua."

"Kita tunggu saja nanti Sehunie."


Jaehyun membuka pintu kamar Yuta dan menyembulkan kepalanya ke dalam. Dapat Jaehyun lihat, Winwin dan Mark sedang bermain bersama, sementara Yuta, Jaehyun mengalihkan pandangannya kearah kasur dan ia melihat seseorang disana tengah duduk memperhatikan Winwin juga Mark dengan tatapan kosong.

Jaehyun dengan memberanikan dirinya melangkah masuk setelah menutup pintu kamar itu. Jaehyun melangkah mendekati Yuta, namun lelaki cantik yang menjadi tujuannya tak melirik sedikitpun kearahnya. Bahkan tau ada orang yang datang, Jaehyun pun ragu jika Yuta tau.

"Appa~" suara Winwin membuat langkah Jaehyun terhenti dan juga membuat Yuta menoleh untuk melihat Jaehyun. Dapat Jaehyun lihat, mata bulat itu melebar, seperti terkejut melihatnya datang.

"Jae-Jaehyun..." Jaehyun tersenyum sebelum melanjutkan langkahnya mendekati Yuta.

"Yuta hyung." Jaehyun memeluk Yuta setelah ia berdiri dihadapannya. Yuta sendiri, ia tak membalas pelukan Jaehyun, seperti ada sudut dalam dirinya yang menolak untuk disentuh seseorang. Jadi, Yuta sedikit mendorong bahu Jaehyun guna melepaskan pelukannya.

"Maaf Jaehyun-ah."

Jaehyun menatap tak mengerti pada Yuta. Yuta menunduk, menghindari kontak mata dengan pemuda yang lebih muda.

"Hyung~"

Jaehyun menarik dagu Yuta untuk mempertemukan kedua mata mereka. Namun, Yuta malah memilih untuk menutup kedua matanya, dan Jaehyun dapat melihat jika airmata mulai mengalir dari mata bulat itu.

"Ma-maafkan aku Jaehyunie. A-aku,"

Cup

Satu kecupan Jaehyun berikan pada bibir Yuta.

"Aku yang harusnya minta maaf hyung. Aku tak bisa menjagamu dan Winwin dengan baik."

Yuta membuka matanya, ia melihat jika Jaehyun kini tengah menatapnya dalam, juga mata pemuda dihadapannya itu kini berkaca-kaca.

"Maafkan aku hyung."

Yuta memeluk pemuda dihadapannya dengan begitu erat.

"Aku rasa, kita sudahi sampai sini saja Jaehyun-ah."

"Hyung! Jangan berkata begitu."

"Aku bukan orang yang baik untukmu Jae, aku sudah kotor. Ah sial! Dari awal aku memang sudah kotor kan Jae? Hiks."

"Tidak Hyung! Jangan bicara yang aneh-aneh lagi."

"Tapi Jae-"

"Hyung, pernikahan kita sudah tinggal menghitung hari. Aku tak peduli dengan orang-orang yang akan menentangnya. Aku mencintaimu dan kita juga memiliki Winwin, itu sudah cukup bukan?"

"Jae, tapi Taeyong-"

"Biarkan Taeyong hyung melakukan apa pun yang dia mau. Yang aku perlukan hanya, hyung percaya pada ku, karena aku percaya padamu hyung. Kau percaya padaku kan?"

Yuta mengangguk dalam pelukannya dan menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Jaehyun. Winwin dan Mark yang melihat hal itu pun hanya bisa tersenyum dan mengikuti keduanya untuk berpelukan. Meskipun mereka tak tau, apa yang sebenarnya sedang terjadi.

"Aku rasa, bagaimana pun caranya, kita harus sembunyikan foto-foto ini dari Yuta, Sehunie."

"Kau benar hyung. Mereka sudah seperti ini. Akan sangat berbahaya jika Yuta melihat foto ini."

Dan keduanya pun pergi dari depan kamar Yuta.


Taeyong sedang bermain bersama David di taman kediaman keluarga Lee. Mereka berdua, terlihat senang saat bermain bola bersama. Terlebih, keduanya memang sangat jarang bertemu.

"Oppa, minumlah dulu eoh." Koeun sedikit berteriak memanggil Taeyong. Taeyong pun membalas dengan 'Okay' sebelum berlari menghampiri Koeun, meninggalkan David yang masih sibuk dengan bola.

Taeyong duduk dibangku taman yang tersedia dan mengambil jus yang dibawa oleh Koeun.

"Bagaimana kabar Jungwoo?" Taeyong membuka percakapan setelah meminum jusnya hingga tinggal setengah.

"Jungwoo oppa seperti biasa, selalu sibuk oppa."

"Kau maklumi saja, dia kan bekerja untukmu juga David."

"Tapi tetap saja, waktunya terlalu banyak untuk bekerja. Sampai-sampai David saja memanggilmu dengan daddy, dibanding Jungwoo oppa yang notabenenya adalah daddynya."

"Kau tau sendiri kan, David memang sangat dekat denganku semenjak dia lahir. Bahkan saat aku menyuruhnya memanggilku samchon atau uncle dia tak mau dan malah memanggilku daddy."

"Dan karena hal itu pula kau dan Jungwoo oppa sering bertengkar."

"Kau dan suamimu itu kan sama saja."

"Ish oppa. Lalu, bagaimana dengan Yuta oppa?"

"Ckk. Aku bingung Koeun-ah."

"Bingung kenapa lagi oppa?"

"Kemarin aku meninggalkannya sesaat setelah aku melakukan 'itu' padanya."

"Mwo? Kau gila ya oppa? Tega sekali kau berbuat begitu?"

"Habisnya aku bingung Koeun-ah."

"Kalau begitu, aku mau bertanya, kenapa kau datang kesini oppa?"

"Tentu saja untuk merebut Yuta dari Jaehyun."

"Apa kau masih mencintai Yuta oppa?"

"Tentu."

"Kau yakin?"

"Aku yakin Koeun-ah."

"Tapi yang aku lihat, kau hanya mencintai tubuhnya saja."

"Apa yang kau katakan huh?"

"Aku benar kan? Kau waktu itu pergi setelah menikmati tubuh Yuta oppa bahkan meninggalkan benihmu dirahimnya. Sekarang, kau datang untuk merebutnya dari Jaehyun oppa, tapi kau menikmati tubuhnya lagi juga meninggalkannya lagi. Jadi Taeyong oppa, apa kau memikirkan perasaan Yuta oppa?"

"..."

"Meskipun benar jika Yuta oppa masih mencintaimu, aku yakin jika perasaan itu pasti kini berubah menjadi benci karena sikapmu yang seperti ini oppa. Pikirkanlah baik-baik oppa, aku tak mau ada yang terluka atau menyesal nantinya."

Koeun menepuk bahu Taeyong pelan sebelum berdiri dari duduknya dan menghampiri David. Meninggalkan Taeyong yang kini terdiam dengan pandangan kosong.


Yunho menatap dua orang pemuda dihadapannya dengan pandangan dinginnya. Kemudian, ia meraih satu buah amplom coklat yang dua pemuda tadi berikan padanya. Yunho kemudian mengeluarkan beberapa foto yang ada dalam amplop itu dan melihat-lihatnya, membuat wajah salah satu pemuda dihadapannya memerah.

"Apa kalian sudah mengirimnya ke alamat yang ku kasih waktu itu?" Yunho bertanya dengan sesekali melirik ke arah dua pemuda itu-Gong Myung dan Doyoung-.

"Y-ya Tuan Jung. Kami sudah mengirimnya kemarin." Gong Myung menjawab dengan nada kalemnya. Sementara Doyoung kini ia menunduk, wajahnya sudah memerah sampai telinga entah karena apa.

"Baguslah. Aku akan menunggu kabar dari mereka."

"Dan kalian, tetap lanjutkan rencana ini sampai selesai. Jika semua itu sukses, aku akan memberikan bonus pada kalian."

"Baik Tuan Jung. Kalau begitu, kami permisi dulu." Yunho mengangguk sembari memasukkan lagi foto-foto itu ke dalam amplop.

Sementara itu pasangan kakak-adik itu sudah pergi dari ruangannya.

Yunho menatap sebuah bingkai yang didalamnya terdapat foto ia dan Jaejoong juga seorang bayi dalam gendongan Jaejoong.

"Hanya ini yang bisa appa lakukan untukmu Taeyong-ah. Appa harap, kau akan bahagia kedepannya." gumamnya sembari terus menatap bingkai yang ada dimejanya itu.


Doyoung berjalan sambil menghentakkan kakinya sembari mendahului Gong Myung.

"Tuan Jung memang sudah gila." umpatnya seraya memasuki mobil sang kakak.

"Kau tak bisa mengatakan hal itu pada orang yang sudah berjasa besar pada hidup kita Doyoungie."

"Aku bisa. Kan aku sudah mengatakannya tadi."

"Aigoo, kau ini."

"Jadi, rencana apa yang dimaksud Tuan Jung hyung, aku tak tau."

"Aku akan menceritakannya saat kita sudah sampai rumah nanti."

"Kenapa tidak sekarang saja."

"Aku sedang lapar. Jadi tak mau berkata panjang lebar."

"Sialan kau hyung."

"Jangan mengumpat pada hyungmu bodoh!"

"Kau juga jangan mengatai adikmu dong hyung."

"Memangnya aku peduli."

"Hyung~"

.

.

.

TBC


.

.

Bagaimana chap ini? Pendek? Udah pasti XD

Sebenernya koeun dan david itu cuma pemanis kok ya haha XP

Big Thanks to 2113 , guest, Kim 991 , Yuta Noona, Min Milly, liaoktaviani. joaseo, Park RinHyun-Uchiha, pepibabykyu, Nadifarhhs, BlueBerry Jung, kiyo, T. a.

See you next chap? *wink