I Want U (Back)
.
.
.
Chapter 8
.
.
.
Author : chochopanda99
Disclaimer : Saya hanya meminjam nama. Dan cerita murni 100% milik Saya.
Cast : Nakamoto Yuta
Lee Taeyong
Jung Jaehyun
Kid!Winwin
And Other
Genre : Romance, Hurt/Comfort, Family.
Length : Multichap
Rated : M
Warning : AU, Yaoi, Mpreg, Typo(s), Cerita Pasaran.
Summary : "Lee Taeyong yang menyesal sudah melepas Nakamoto Yuta, namun saat ia memintanya kembali ternyata Yuta sudah melupakannya dan ia merupakan tunangan sekaligus 'calon istri' adik sepupunya sendiri, Jung Jaehyun. Apa yang akan dilakukan Taeyong selanjutnya?" Seme!Jaehyun. Uke!Yuta. Seme!Taeyong. JaeYu. TaeYu. Mpreg. DLDR.
.
.
.
Happy Reading
.
.
.
Doyoung berhenti berjalan ketika anak kecil dihadapannya itu berhenti berjalan juga. Winwin kini membalikkan badannya dan menatap Doyoung dengan mata bulatnya.
"Ahjussi benar-benar teman appa kan?" Winwin bertanya dengan nada polosnya. Doyoung tersenyum sebelum berjongkok, menyamakan tingginya dengan Winwin.
"Iya, ahjussi teman lama appamu." Doyoung mengusap lembut rambut Winwin. Winwin mengangguk mengerti sebelum membuka pintu kamar sang ibu. Namun, belum sempat pintu terbuka, suara seseorang dari belakang mereka, menghentikan niat Winwin.
"Kau siapa?" Pertanyaan itu jelas tertuju untuk Doyoung yang kini sudah berdiri dengan tegak.
Doyoung melihat seorang lelaki paruh baya yang sedang menatap tajam dirinya. Dibelakang lelaki itu juga ada lelaki yang sepertinya seumuran dengan lelaki paruh baya itu dengan seorang anak kecil disampingnya.
"Eungg, aku Doyoung. Annyeong ahjussi." Doyoung membungkukkan badannya sopan menyapa orang-orang didepannya itu.
Heechul dan Jungsoo -dua orang lelaki paruh baya itu- hanya balas mengangguk.
"Aku belum pernah melihatmu sebelumnya, apa kau salah satu dari teman Jaehyun atau Yuta?" Heechul kembali bertanya yang membuat Doyoung sedikit gelagapan.
"Hmm ya ahjussi. Saya teman lama Jaehyun." Doyoung sedikit menunduk untuk menghindari kontak mata dengan Heechul.
"Winwinie, ayo ikut halmeoni, kita pergi beli ice cream bersama Minhyung." Jungsoo menarik pelan tangan Winwin untuk pergi bersamanya juga Mark -yang memang sedari tadi ada disampingnya- meninggalkan Doyoung dan Heechul.
"Duduklah dulu. Sepertinya kita harus bicara." Heechul berjalan terlebih dahulu menuju sofa dekat mereka. Doyoung mengikutinya, dalam hati, ia berdoa semoga ia diberi kelancaran untuk 'berbohong'.
Setelah mendudukkan dirinya disebuah sofa panjang, Heechul kembali menatap Doyoung yang sudah duduk disofa single dekat dengannya.
"Kalian teman lama? Tapi sepertinya aku tak pernah mendengar Jaehyun bicara apa-apa tentangmu ya." Heechul kembali membuka suaranya disertai tatapan tajam yang mengarah pada Doyoung. Membuat Doyoung menelan ludahnya gugup.
"Eungg itu, mungkin saja Jaehyun sudah lupa ahjussi. Aku dan dia bersahabat sewaktu sekolah menengah pertama, jadi aku rasa itu hal wajar jika ia melupakanku."
Heechul mengangguk mengerti namun tak bisa berhenti untuk menatap tajam lelaki manis dihadapannya itu, entahlah, hatinya merasa ada yang tak beres dengan lelaki manis satu ini.
"Samchon." Suara Yuta terdengar dari arah belakang Heechul. Membuat Heechul sontak menoleh dan terkejut melihat Yuta ada dibelakangnya.
"Aigoo Yuta! Kenapa kau disini? Ayo kembali ke kamar." Heechul berdiri dan segera mendekati Yuta.
"Tidak samchon, aku mau ambil minum." Yuta menggeleng pelan sembari melirik Doyoung yang masih duduk.
"Dia siapa samchon?" Yuta bertanya pada Heechul. Heechul melirik Doyoung dan merangkul bahu Yuta.
"Dia Doyoung, teman lama Jaehyun. Kau duduklah disini dulu, biar samchon yang ambilkan minum." Heechul menuntun Yuta dan mendudukkan Yuta disofa.
"Baiklah, maaf merepotkan samchon." Yuta tersenyum tipis yang dibalas senyuman lebar dari Heechul.
"Bukan masalah Yuta-chan." Heechul terkekeh pelan sebelum meninggalkan Yuta bersama dengan Doyoung.
Yuta menatap Doyoung yang kini sedang menundukkan kepalanya.
"Aku Yuta." Yuta membuka suaranya setelah beberapa detik berlalu. Doyoung mendongak, menatap mata bulat Yuta yang entah mengapa membuat rasa bersalahnya semakin tinggi saja.
"A-aku Doyoung." Doyoung sedikit tergagap saat mengucapkan namanya. Doyoung sedang berfikir, haruskah ia memberikan foto-foto itu langsung pada Yuta sekarang atau nanti saja. Karena dapat Doyoung lihat, wajah Yuta teramat pucat sekarang, membuat hati Doyoung sedikit sakit melihatnya -dan Doyoung tak tau alasannya apa-.
"Emm begini, Yuta-ssi, aku ingin menitipkan sesuatu untuk Jaehyun, bisakah aku memberikannya padamu?" Tapi Doyoung sudah bertekad, demi orangtua juga kakaknya, ia akan melakukan rencana ini.
"Tentu saja. Memangnya apa?" Yuta kembali menatap Doyoung setelah beberapa saat lalu pandangannya ia fokuskan untuk melihat-lihat apartemennya yang menurutnya sudah berantakan.
"Ini." Doyoung memberikan sebuah map coklat -yang kemarin ia berikan pada Yunho- kepada Yuta. Yuta menerima map coklat itu dan sedikit menimangnya.
"Baiklah, hanya itu saja Yuta-ssi. Jadi, aku pergi dulu ya." Doyoung merapikan penampilannya sebelum berdiri dari duduknya.
"Kenapa terburu-buru sekali Doyoung-ssi. Bahkan kau belum minum apa-apa." Yuta menatap tak mengerti melihat Doyoung yang terlihat begitu terburu-buru.
"Hmm, aku ada urusan lain, makanya aku harus segera pergi. Kalau begitu, aku pergi dulu Yuta-ssi. Semoga cepat sembuh."
"Terima kasih Doyoung-ssi. Baiklah, aku antar ke depan." Yuta ikut berdiri sebelum suara Heechul menginterupsinya.
"Tak perlu Yuta-chan, kau kembali saja ke kamarmu. Biarkan samchon yang mengantar Doyoung ke depan." Heechul menyerahkan gelas yang berisi air minum itu pada Yuta. Yuta mengangguk mengerti sebelum menerimanya.
"Baiklah samchon." Yuta kembali ke kamarnya dengan segelas air ditangan kanannya dan sebuah map coklat ditangan kirinya.
Heechul kembali menatap tajam Doyoung yang membuat Doyoung reflek menunduk.
"Silahkan, Doyoung-ssi." Heechul kembali bersuara seraya berjalan menuju pintu depan, membuat Doyoung reflek mendongak dan mengikuti langkah Heechul.
Heechul membuka pintu depan dan mempersilahkan Doyoung untuk keluar. Sebelum Doyoung benar-benar pergi, Heechul sempat berbicara beberapa patah kata yang sialnya, membuat Doyoung membeku ditempat.
"Hati-hati dijalan Doyoung-ssi. Aku tau siapa kau dan apa maksudmu datang kesini. Jadi, jika terjadi sesuatu pada Yuta, bersiap-siaplah kau dan keluargamu itu."
.
.
.
Taeyong menatap tak minat pada seorang Jung Yunho yang duduk dihadapannya sekarang. Taeyong sempat tak ingin bertemu dengan ayah kandungnya itu kalau tak mengingat ada banyak hal yang ingin Taeyong bicarakan dengan ayahnya itu.
"Sebentar lagi tujuanmu akan tercapai Taeyong. Bersabarlah sedikit lagi." Yunho tersenyum sembari menatap Taeyong.
Taeyong berdecih pelan sebelum membalas tatapan sang ayah dengan tatapan dinginnya.
"Aku rasa kau bisa hentikan rencana murahanmu ini sekarang, ahjussi."
"Apa maksudmu Taeyong?"
"Apa dengan rencana menjebak anakmu sendiri untuk tidur dengan orang lain lalu kau memfotonya itu tak bisa dikatakan murahan? Cihh, yang benar saja."
"Lalu, apa dengan menculik anakmu sendiri lalu menyetubuhi mantan kekasihmu dan kemudian meninggalkannya lagi, bisa dikatakan tak murahan juga?"
"Kau!"
"Aku tau apa yang sudah kau lakukan, begitu pun sebaliknya Taeyong. Karena sama apa yang pernah kau katakan pada Yuta, kau dan anakmu ada ikatan batin yang menyatukan, begitu pula dengan kita."
"Kita? Kau kemana saja selama ini Tuan Jung yang terhormat? Tidakkah kau memikirkan perasaanku selama ini?"
"Maafkan aku Taeyong. Appa mengaku bersalah."
"Jangan mengatakan kau adalah appa ku! Appa ku adalah Lee Donghae. Bukan kau!"
"Bagaimana pun kami adalah orangtua kandungmu Taeyong!"
Suara dari arah pintu membuat Taeyong dan Yunho reflek menoleh. Mereka melihat Jaejoong yang tengah berjalan menuju mereka dengan raut wajah sedih yang begitu kentara.
Jaejoong berjalan mendekati Taeyong dan memeluknya begitu erat. Taeyong terdiam, ia merasakan kehangatan yang belum pernah ia rasakan beberapa tahun belakang ini. Setelah mengetahui semua tentang keluarganya juga adanya masalah ia dan Yuta, membuat hubungannya juga Jaejoong semakin jauh. Padahal dulu, ia sangat sering dipeluk oleh Jaejoong begini, dan ia mengakui, bahwa pelukan Jaejoong adalah pelukan terhangat yang pernah ia rasakan.
"Maaf." Taeyong sedikit mendorong bahu Jaejoong untuk melepaskan pelukannya. Membuat Jaejoong menatap kecewa kearahnya.
"Aku rasa, sudah cukup pertemuan kita. Aku harus pergi." Dengan suara yang datar, Taeyong berucap. Namun, belum selangkah ia pergi, tangannya sudah ditahan oleh Jaejoong.
"Tidakkah kau merindukan kami Taeyong?" Jaejoong menatap penuh harap pada anak kandungnya itu. Membuat Taeyong sontak mengalihkan pandangannya kemana saja, asalkan jangan pada mata ibunya itu.
"Aku rasa, itu yang harus ku pertanyakan sejak dulu. Tidakkah kalian merindukanku sebagai anak kalian? Bukan sebagai keponakan kalian?"
"Taeyong, kau tau benar bahwa-"
"Ya aku tau dan aku mengerti. Aku tak pernah keberatan jika kalian memberikanku pada Jessica eomma untuk ia rawat karena waktu itu ia sangat terpukul dengan kematian anaknya. Tapi, yang aku sayangkan adalah, sikap kalian yang bahkan menatap ku pun seperti tak mau."
"Taeyong itu semua karena appa tak mau jika sisi egois appa muncul dan merebutmu kembali."
"Cihh, itu hanya alasan kalian. Kalian fikir aku lupa bagaimana cara kalian merawat Jaehyun? Kalian harusnya sadar bahwa saat aku melihatnya, aku merasa cemburu. Terlebih saat Jessica eomma sedang mengandung Koeun, hatiku sakit saat Jessica eomma tak mau bermain denganku dan kalian yang begitu sangat memanjakan Jaehyun. Untung saja masih ada Keluarga Kim yang mau merawatku."
Taeyong menutup matanya seraya mengatur nafasnya pelan. Sungguh, mengingat masa lalunya ia merasa sakit hati. Taeyong merasa semenjak ia dilahirkan, ia seperti tak diharapkan. Sudah di 'buang' oleh orangtua kandungmu sendiri ditambah ditelantarkan oleh orangtua asuhmu.
Taeyong kini merasa tak jauh beda dengan orangtuanya sendiri mengingat perlakuannya pada Winwin, ia sudah menelantarkan Winwin juga Yuta, beruntung Yuta masih mau merawat Winwin saat Taeyong meninggalkannya. Jika tidak, Taeyong tak tau harus berbuat apa lagi, dan lagi ini semua juga kan berkat Jaehyun. Jika Jaehyun tak ada disamping Yuta waktu itu, mungkin saja apa yang difikirkannya bakal terjadi. Dan sekarang, apa kah ia benar-benar harus merelakan Yuta untuk Jaehyun? Karena sungguh, sudut hatinya belum rela jika Yuta bersama Jaehyun.
Taeyong membuka matanya dan menatap bergantian kedua orangtuanya itu.
"Aku minta sebagai seorang anak, hentikan semua rencanamu appa. Jaehyun juga anakmu, meskipun ia bukan anak kandungmu, tapi ia adalah anak yang kalian rawat semenjak bayi. Tidak kah kalian juga sayang padanya? Kalian juga harus memikirkan kebahagiannya eomma, appa. Aku pergi dulu."
Taeyong melepaskan tangan Jaejoong yang masih menahan tangannya. Sebelum benar-benar keluar, Taeyong menyempatkan dirinya untuk mengecup pipi sang ibu. Jaejoong tersentak kaget dan sontak menatap Taeyong yang sudah berdiri diambang pintu dengan senyum tampannya. Membuat Jaejoong dan Yunho yang melihat itu, reflek membalas senyumnya.
"Dia sudah dewasa Yunho-ya."
"Kau benar."
.
.
.
Yuta terbangun dari tidurnya ketika matahari sudah sepenuhnya terbenam. Ia mengucek matanya sebelum mendudukkan dirinya diatas ranjang. Tangannya terulur untuk meraih segelas air diatas nakas, tapi, tangannya malah menyenggol map coklat yang diberikan Doyoung tadi dan membuat map itu terjatuh. Setelah meminum beberapa teguk air, Yuta pun menaruh kembali gelasnya. Kemudian Yuta sedikit menundukkan tubuhnya untuk mengambil map yang terjatuh tadi.
Plukk
Karena -mungkin- map itu terbuka, beberapa 'kertas' dari map coklat itu terjatuh membuat Yuta sedikit menggerutu sambil mengambil 'kertas-kertas' itu. Niatnya, Yuta ingin segera memasukkan 'kertas-kertas' tadi pada tempatnya, namun matanya melihat ada yang tak beres dengan 'kertas-kertas' yang ada dipangkuannya sekarang.
Yuta pun membalik salah satu 'kertas' yang ia pegang, dan matanya membelalak terkejut saat dilihatnya ini bukanlah kertas biasa. Melainkan foto Jaehyun bersama orang yang bernama Doyoung tadi. Bukan masalah sebenarnya jika itu foto-foto masa lalu mereka saat disekolah dulu mungkin, tapi ini adalah foto-foto keduanya yang sedang tidur bersama dan dalam keadaan telanjang.
Mata Yuta memanas melihat foto-foto yang sedang ia lihat-lihat itu. Sungguh, apa kah ini nyata? Kenapa Jaehyun melakukan hal ini padanya? Dan kenapa pula Doyoung ingin memberikan hal ini pada Jaehyun? Atau jangan-jangan Doyoung sebenarnya ingin memberikan ini padanya dan memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang salah dengannya sebenarnya?
Baiklah, Yuta sadar jika dirinya memang tak sebaik orang lain -bahkan dirinya merasa sangat kotor-, tapi Yuta pasti akan menerima dengan hati yang lapang jika Jaehyun mengaku sudah bosan dengan dirinya. Bukan dengan seperti ini, Yuta merasa dikhianati sekarang. Meskipun faktanya, Yuta juga sempat melakukan hal ini dengan orang lain -Taeyong- tapi itu kan karena terpaksa, Yuta dipaksa melakukannya waktu itu.
Dan lagi, kapan Jaehyun melakukan hal ini dengan Doyoung? Apa mereka sering bertemu? Apa mereka juga sering melakukannya? Apa sebenarnya Doyoung itu kekasih Jaehyun?
Yuta tak tau, banyak pertanyaan yang bersarang dikepalanya. Terlebih, kini ia sedang sakit, matanya juga sudah mengeluarkan air mata sejak tadi. Beruntung Winwin sedang menginap di rumah Heechul -yang awalnya Heechul yang ingin menginap, namun ditolak secara halus oleh Yuta-, jadilah ia tak perlu repot jika Winwin menemukannya dalam keadaan begini.
Cklek
Pintu terbuka dan menampilkan sosok Jaehyun yang berjalan mendekati Yuta. Membuat Yuta reflek menoleh kearahnya dan menatapnya penuh arti.
"Jae-Jaehyun."
.
.
.
TBC
.
.
.
Note :
Ready to say goodbye for this fic? XD
Big Thanks To :
2113, Nadifarhhs, Min Milly, guest, Blueberry Jung, Unnayus, kiyo, Park RinHyun-Uchiha, liaoktaviani. joaseo, lix, and RezaHanTa.
See you next chap? *wink
