I Want U (Back)
.
.
.
Chapter 10
.
.
.
Author : chochopanda99
Disclaimer : Saya hanya meminjam nama cerita murni 100% milik Saya.
Cast :
Nakamoto Yuta
Lee Taeyong
Jung Jaehyun
Kid!Winwin
And Other
Genre : Romance, Hurt/Comfort, Family.
Length : Multichap
Rated : M
Warning : AU, Yaoi, Mpreg, Typo(s), Cerita Pasaran.
Summary : "Lee Taeyong yang menyesal sudah melepas Nakamoto Yuta, namun saat ia memintanya kembali ternyata Yuta sudah melupakannya dan ia merupakan tunangan sekaligus 'calon istri' adik sepupunya sendiri, Jung Jaehyun. Apa yang akan dilakukan Taeyong selanjutnya?" Seme!Jaehyun. Uke!Yuta. Seme!Taeyong. JaeYu. TaeYu. Mpreg. DLDR. .
.
.
Happy Reading
.
.
.
Jaehyun kini duduk di sebuah cafe dengan latte dihadapannya juga pandangan yang mengarah kesana kemari untuk memastikan orang yang sedari tadi ditunggunya datang. Kim Doyoung. Iya, dia harus bertemu orang itu sekarang, karena ia harus tahu, siapa yang menyuruh Doyoung melakukan hal itu padanya dan Yuta.
"Maaf, aku terlambat." Suara seseorang di depannya, menyadarkan Jaehyun dari lamunannya. Mengerjap beberapa kali, Jaehyun pun mengangguk mengerti.
"Bukan masalah. Duduklah." Jaehyun tersenyum tipis yang membuat Doyoung membalasnya seraya mendudukkan dirinya di kursi hadapan Jaehyun.
"Mau pesan sesuatu?" Jaehyun bertanya basa basi. Doyoung menggeleng sebelum membasahi bibirnya yang entah kenapa terasa kering.
"Tidak Jaehyun-ssi. Aku rasa, kita kesini untuk berbicara bukan untuk minum. Lagi pula, aku sedang terburu-buru."
Jaehyun meminum lattenya -yang mulai mendingin- dengan santai.
"Kau buru-buru sekali? Memangnya mau kemana?" Mata Jaehyun menyipit, menatap curiga pada lelaki di hadapannya.
"Aku akan kembali ke Guri sore ini." Doyoung menjawab sambil memainkan jarinya, yang mana menandakkan jika dirinya sedang dalam keadaan gugup.
Jaehyun mengatur nafasnya, guna meredakan amarahnya yang mulai naik.
"Setelah kau hampir menghancurkan hubunganku dan Yuta hyung, kau bisa dengan mudahnya pergi begitu saja?" Jaehyun menaikkan sudut bibirnya -menyeringai- dengan mata menatap penuh intimidasi pada Doyoung.
Doyoung balas menatap setelah menelan ludahnya gugup. Matanya bergulir kesana kemari guna mencari jawaban yang seharusnya bisa ia gunakan untuk pertanyaan Jaehyun itu.
"Siapa?" Jaehyun menyangga kepalanya dengan sebelah tangannya diatas meja, tanpa mengalihkan tatapannya dari Doyoung.
"A-Apa maksudmu?" Doyoung terlihat tidak tenang dalam duduknya.
"Kau tau apa maksudku Kim Doyoung. Cepat katakan, atau kau tak akan bisa pergi kemana-mana, selain penjara." Ancaman Jaehyun berhasil membuat Doyoung terbelalak.
"Kau-"
"Dengan tuntutan pencemaran nama baik, aku rasa itu cukup untuk membuatmu di penjara." Jaehyun menegakkan duduknya dan memanggil seorang pelayan.
"Cappuchino dan Lattenya satu." Pelayan itu mencatat pesanan Jaehyun sebelum mengulangnya lagi dan berjalan kembali ke belakang setelah mendapat kata 'Cukup, itu saja' dari Jaehyun.
Jaehyun kembali menatap wajah Doyoung dengan tatapan mata dingin yang belum pernah ia perlihatkan kepada siapapun sebelumnya.
"Dengar Doyoung-ssi, aku tahu, kau pasti di suruh oleh Yunho appa ataupun Taeyong hyung. Jadi, tinggal kau katakan saja, siapa yang menyuruhmu. Aku janji, setelah ini, aku tak akan mengganggumu lagi. Termasuk dua orang itu juga." Jaehyun menghela nafasnya, entah kenapa, lelaki dihadapannya ini susah sekali untuk mengucapkan nama orang itu.
"Jika kau mengucapkannya sekarang juga, maka kau juga akan kembali ke Guri lebih cepat." Jaehyun tersenyum ketika pelayan tadi kembali dan mengantarkan pesanannya. Setelah mengucapkan 'Terima kasih' pelayan itu pun pergi meninggalkan dua orang itu.
"Kim Doyoung." Jaehyun kembali memanggil Doyoung. Doyoung menghela nafasnya berat dan kembali menatap Jaehyun, setelah sebelumnya menunduk untuk memikirkan jawabannya.
"Tuan Jung Yunho." Jaehyun akan menyela jika saja Doyoung tidak melanjutkan ucapannya.
"Dia yang menyuruhku untuk melakukan hal itu. Dia menyuruhku untuk menjauhkanmu dari Yuta-ssi, agar Yuta-ssi bisa kembali bersama Taeyong-ssi dan mereka bisa hidup bahagia bersama keluarga kecil mereka." Doyoung menjeda kalimatnya sebelum melanjutkannya lagi. Tanpa mempedulikan Jaehyun yang menatapnya penuh arti.
"Aku sebagai seorang anak, hanya bisa menurut ketika orangtuaku menyuruhku ke Seoul dan menemui kakakku. Mereka bilang, jika kakakku membutuhkan pertolonganku. Dan ternyata benar, dia membutuhkan pertolonganku untuk membantunya menjalankan misinya yang ia buat bersama Tuan Jung. Orangtuaku tahu itu, tapi mereka tak bisa menolak. Karena, usaha mereka di Guri, dibantu oleh Tuan Jung. Jadi, sebagai ucapan terima kasih, mereka menyuruh kedua anaknya menjadi anak buah Tuan Jung." Doyoung terkikik geli dengan ceritanya sendiri. Ia meraih cappuchinonya -yang dipesankan Jaehyun tadi- lalu diminumnya perlahan.
"Pada dasarnya Jaehyun-ssi, orangtuamu ingin anaknya bahagia. Kau harusnya tahu itu. Kau tahu jika Taeyong-ssi meninggalkan Yuta-ssi karena sesuatu. Dan kau malah mengambil kesempatan dalam kesempitan." Doyoung menyeringai tipis melihat wajah Jaehyun yang kini memerah menahan amarahnya.
"Kau tidak tahu Doyoung-ssi. Jika kau mencintai seseorang, maka kau akan melakukan apa pun untuk mendapatkan orang itu." Jaehyun menatap dingin Doyoung seraya meraih lattenya dan menyesapnya.
"Aku tahu. Karena cinta bisa membuat seseorang yang lembut menjadi kasar, seorang yang pintar menjadi bodoh, dan yang bodoh menjadi lebih bodoh lagi. Memangnya kau yakin jika Yuta-ssi mencintaimu?"
"Aku yakin."
"Apa yang membuatmu yakin begitu?"
"Kebersamaan kami dan janji kami."
"Janji apa? Janji untuk tidak meninggalkanmu? Menikah saja kalian belum. Dan bahkan sekarang mungkin terancam pembatalan."
Jaehyun mengepalkan tangannya dan berdiri dari duduknya. Doyoung melebarkan seringaiannya dan ikut berdiri.
"Dengar Jung Jaehyun yang terhormat. Kau harusnya sadar, bahwa selama ini, Yuta-ssi hanya mencintai Taeyong-ssi saja. Kau memang selalu disampingnya, tapi apa iya, kau ada dihati dan fikirannya? Fikirkan itu baik-baik Jung Jaehyun." Doyoung merapihkan pakaiannya seraya melirik jam tangan miliknya.
"Sudah waktunya aku pergi. Senang berbicara denganmu, semoga kita bisa bertemu lagi. Sampai jumpa, Jaehyun-ah." Doyoung mengerling untuk terakhir kalinya sebelum meninggalkan cafe itu dan juga Jaehyun yang menatap penuh amarah pada punggung lelaki yang baru saja meninggalkannya itu.
.
.
Yuta menatap sepasang ayah dan anak di depan sana dengan pandangan haru. Pemandangan yang sedari dulu ingin ia lihat dan ia mimpikan selama ini ternyata terkabul hari ini. Di depan sana, ada Taeyong dan Winwin yang sedang bermain bola bersama. Tadi, Yuta sempat ikut, namun karena ia kelelahan, jadi Yuta memutuskan untuk istirahat sebentar sambil memandangi sepasang ayah dan anak itu.
Hati Yuta menghangat, melihat Taeyong yang sedang tertawa lepas karena Winwin yang merengut disebabkan Taeyong yang lagi-lagi memasukkan bola ke dalam gawang anaknya yang masih berusia 5 tahun itu. Yuta mendesah pelan mengingat hubungannya dengan Taeyong sekarang. Yuta masih takut sebenarnya untuk bertemu dengan lelaki tampan itu, hanya saja suara memohon dari Taeyong tadi pagi di telfon, membuat Yuta mau tak mau menuruti keinginan pemuda itu untuk bertemu sambil mengajak anak mereka.
Tadinya, Yuta sedikit parno mengingat apa yang pernah Taeyong lakukan padanya juga anaknya. Takutnya, Taeyong akan melakukan hal itu lagi -menculik Winwin- dan tak akan mengembalikan Winwin padanya. Namun, Yuta mendesah lega ketika mereka bertemu di taman dekat apartemennya, Taeyong ternyata membawa beberapa mainan dan mengajak anaknya bermain hingga sekarang. Dan Yuta, belum sempat berbicara serius dengan lelaki tampan itu.
"Yuta." Yuta berjengit kaget ketika pipinya ditepuk seseorang dari sampingnya. Orang itu mendudukkan dirinya disamping Yuta sebelum mengambil minuman -yang ia sengaja beli- dan meminumnya.
"Tae-Taeyong." Yuta mengerjap pelan sebelum menatap Taeyong kemudian beralih mencari keberadaan anaknya. Dan dilihatnya, anaknya itu sedang bermain bersama Mark juga kedua orangtuanya. Yuta tak sadar sejak kapan Keluarga Oh itu datang?
"Tadi Minseok hyung memanggilmu beberapa kali, tapi kau tak menyahut." Taeyong sepertinya mengerti apa yang difikirkan Yuta. Yuta mengangguk mengerti sebelum mengalihkan pandangannya lagi untuk melihat anaknya.
"Maaf." Taeyong berujar lirih seraya menundukkan kepalanya. Yuta melirik sekilas sebelum menghela nafasnya.
Taeyong mengangkat kepalanya dan menatap Yuta yang kini juga menatapnya. Taeyong menampilkan senyum tipisnya yang membuat lelaki tampan itu semakin terlihat tampan.
"Aku tahu, mungkin ini sudah terlambat. Tapi, banyak orang bilang, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali kan?" Yuta mengangguk mengiyakan, mulutnya masih diam menunggu apa sambungan dari perkataan Taeyong.
"Kepergianku dulu itu karena paksaan Jessica eomma." Taeyong mulai menceritakan tentang masa lalunya yang didengarkan dengan baik oleh Yuta.
"Kau tahu kan, jika hubungan kita dulu tak disetujui oleh Jessica eomma?" Yuta sekali lagi mengangguk, memang dulu, banyak orang yang menentang hubungan mereka. Terlebih orangtua Taeyong. Jangan bertanya tentang orangtua Yuta. Mereka bahkan tak menganggap Yuta sebagai anak mereka lagi saat mengetahui anak mereka 'berbeda' dari orang lain. Mengingat hal itu, membuat mata Yuta memanas.
"Eomma bilang, jika aku ingin hubungan kita direstui, aku harus mengambil S2 ku di New York juga harus menjalankan perusahaan Donghae appa disana." Taeyong menghela nafas sebentar sebelum melanjutkan.
"Tapi nyatanya, bukan eomma melarang hubungan kita Yuta. Eomma hanya ingin melihat jika aku bisa sukses dan membahagiakan dirimu juga anak kita nantinya. Dan yang bodoh disini adalah aku Yuta. Aku tak bilang pada eomma jika dulu kau sedang mengandung. Mungkin jika dulu aku bilang, semuanya tak akan pernah menjadi sulit seperti sekarang." Taeyong meraih sebelah tangan Yuta yang menganggur. Yuta terkejut dan reflek akan menarik tangannya, namun tangan Taeyong menggenggam tangannya lebih kuat.
"Semua sudah masa lalu, Taeyong." Ucap Yuta lirih sambil menundukkan wajahnya. Matanya sudah mengalirkan air mata yang sedari tadi ditahannya. Dirinya juga merasa bodoh, bukankah dia sudah sering bilang begitu?
"Maka dari itu, aku ingin mengulang semuanya dari awal lagi Yuta. Ayo, raih kebahagiaan bersamaku." Taeyong mengelus tangan Yuta yang berada dalam genggamannya.
Yuta menggeleng, kemudian ia menarik tangannya dan menatap mata Taeyong.
"Aku sudah berjanji pada Jaehyun."
"Tapi kau tidak mencintainya Yuta." Taeyong menggeram rendah, entah kenapa emosinya tersulut sekarang. Dalam hati, ia berusaha untuk mengendalikan emosinya. Ingat, ia harus berubah jika ingin Yuta kembali padanya.
"Tapi Jaehyun yang selalu menemaniku saat aku kesepian, menghapus air mata ku ketika aku menangis, membuatku tersenyum ketika aku bersedih, juga yang membantuku untuk merawat Winwin. Cara dia memang salah untuk membuatku jatuh cinta padanya, tapi dia juga tulus ketika melakukan itu semua Tae. Jadi, aku tidak bisa jika harus meninggalkannya." Yuta menghela nafasnya dan tersenyum pada Taeyong.
"Tidakkah kau memikirkan Winwin?"
"Harusnya aku yang bertanya begitu. Ini sudah lebih dari 5 tahun dan kau baru menemuiku ketika aku akan mengikat hubungan suci dengan Jaehyun. Tidakkah kau memikirkan bagaimana perasaan kami? Tidakkah kau berfikir, dulu saat sebelum kau meninggalkan kami, kau memikirkan perasaan anakmu yang harus tumbuh tanpa seorang ayah. Apakah kau memikirkan itu semua, Taeyong?"
Taeyong terdiam. Matanya meredup ketika menatap mata Yuta yang memancarkan rasa kecewa yang begitu besar ketika menatapnya.
"Maka dari itu, aku kembali Yuta. Aku ingin memperbaiki semuanya. Aku lebih dari tahu jika apa yang ku lakukan selama ini adalah salah. Tidak seharusnya aku memaksamu waktu itu, tidak seharusnya aku memanfaatkan anak kita untuk melakukan hal seperti itu padamu. Tapi sungguh Yuta, saat itu aku berfikir jika aku melakukan hal itu padamu, Jaehyun akan melepaskanmu."
"Nyatanya aku bukan orang yang serendah itu hyung." Suara Jaehyun dari belakang mereka terdengar. Reflek, Yuta dan Taeyong berdiri. Jaehyun melangkah mendekati Yuta dan menarik tangan kanan Yuta, namun tangan kiri Yuta ditahan oleh Taeyong.
"Lepaskan Yuta hyung." Jaehyun menatap tajam Taeyong yang dibalas tatapan datar dari Taeyong.
"Tidak." Ucap Taeyong datar.
Jaehyun menggeram rendah dan hendak menghadiahkan pukulan 'cantik' untuk Taeyong namun terhenti ketika Winwin menghampiri mereka.
"Appa." Winwin berhenti dihadapan Jaehyun dan menatap polos lelaki dewasa dihadapannya itu. Jaehyun mengatur nafasnya guna meredakan emosinya. Setelah dirasanya stabil, ia pun menyamakan tingginya dengan Winwin tanpa melepas tangan Yuta.
"Apa Winwinie?" Jaehyun tersenyum manis seraya mengacak gemas rambut anak itu.
"Ayo main!" Winwin menarik tangan Jaehyun yang tadi mengacak rambutnya. Jaehyun melirik ke samping, memperhatikan Yuta dan Taeyong.
"Tapi, appa sedang bicara dengan eommamu juga ahjussi, Winwinie." Jaehyun mencoba memberi pengertian pada Winwin. Winwin mengerjap pelan sebelum memperhatikan tiga lelaki dewasa dihadapannya. Dan matanya tertuju pada tangan sang ibu yang dipegang oleh dua orang lelaki yang berada disamping ibunya itu.
"Kenapa appa dan daddy memegang tangan eomma?" Pertanyaan itu tidak membuat Yuta maupun Jaehyun terkejut, mereka terkejut karena Winwin yang memanggil Taeyong dengan sebutan 'daddy'.
"Karena mereka ingin segera memberikan adik pada Winwin. Jadi, sekarang Winwin kembali bermain bersama Minhyung ya. Winwin anak baik kan?" Sehun pun menghampiri mereka berempat dan membantu meyakinkan Winwin agar bisa pergi dari mereka.
"Adik? Woahh, Winwin mau adik samchon. Kalau begitu, Winwin main dulu. Bye appa, eomma, daddy." Winwin pun meninggalkan mereka dengan langkah yang semangat juga senyum yang lebar. Ia menghampiri Mark yang sedang bermain pasir dan bergabung dengannya.
"Kalian dengar itu?" Sehun menatap datar pada ketiga adiknya itu. Yuta sendiri, ia sudah melepaskan tangan Taeyong dan Jaehyun yang menggenggam tangannya.
"Kalian tidak bisa egois. Yuta, sekarang, kau harus memilih. Taeyong atau Jaehyun." Yuta menggigit bibir bawahnya. Kepalanya menunduk, ia tak tahu harus bagaimana sekarang. Satu sisi, ia tak mungkin untuk meninggalkan Jaehyun yang sudah berjasa begitu banyak bagi hidupnya juga bagi sang anak. Namun disisi lain, ia juga tak menampik bahwa masih ada perasaan tersisa dari dirinya untuk Taeyong.
"Bagaimana kalau kalian threesome saja?" Suara dari belakang mereka semua sontak membuat semua yang ada disitu terkejut. Mereka menoleh dan menatap Heechul yang menatap mereka dengan seringai yang tersungging dibibirnya.
"Aku tahu, jika Yuta tak mungkin bisa memilih diantara kalian berdua. Yuta akan sangat merasa bersalah pada Jaehyun jika ia memilih untuk meninggalkannya karena Jaehyun selama ini selalu baik pada Yuta juga Winwin. Yuta juga tak mengelak jika ia masih mencintai Taeyong dan ingin bersamanya. Terlebih, dengan adanya Winwin, akan lengkap Keluarga kecil mereka." Heechul menghela nafasnya seraya tersenyum lebar.
"Kalau begitu, sudah bisa dipastikan kan samchon, jika Jaehyun bisa saja mengalah dan membiarkanku bersama Yuta dan Winwin hidup bahagia." Taeyong melirik sinis Jaehyun yang hanya ditanggapi dengusan oleh lelaki itu.
"Sudah ku bilang tadi Taeyong. Yuta akan sangat merasa bersalah jika ia meninggalkan Jaehyun. Lagi pun, mereka sudah lama tinggal bersama. Pasti akan susah untuk memulai hidup baru. Harusnya kalian singkirkan ego kalian masing-masing. Tujuan kalian sama kan? Membahagiakan Yuta dan Winwin? Lalu apa yang salah jika kalian menikah bertiga?" Heechul melipat tangannya didepan dada dan menatap keponakannya satu persatu.
Jaehyun dan Taeyong memejamkan mata mereka memikirkan kata-kata Heechul. Yuta sendiri, ia merasa bingung sekarang. Yang benar saja, menikah dengan dua orang sekaligus? Oh! Yuta tak pernah memikirkan hal ini sebelumnya.
"Aku setuju." Suara datar Sehun terdengar.
"Aku juga setuju." Itu suara Minseok.
"Kami setuju." Suara dua orang yang langsung membuat Jaehyun dan Taeyong membuka mata mereka. Menemukan Yunho dan Jaejoong yang tengah berjalan menghampiri mereka dengan senyum lebar di bibir mereka.
Winwin dan Mark berlari menghampiri kerumunan orang dewasa itu. Winwin kemudian menarik-narik baju Yuta yang membuat Yuta reflek menoleh dan menyamakan tingginya dengan sang anak.
Mark sendiri, ia sudah berada dalam gendongan sang ayah -Sehun.
"Ada apa Winwinie?" Yuta bertanya dengan nada lembut.
"Kenapa semua orang disini, eomma?" Winwin bukannya menjawab, malah kembali melemparkan pertanyaan.
"Begini Winwin, eommamu ingin menikah dengan appa dan daddy, apa kau setuju?" Heechul yang kini bersuara. Membuat Winwin mendongak dan menatap polos pada sang kakek.
"Menikah?" Winwin memiringkan kepalanya pertanda bingung.
"Iya, bukankah Winwin ingin punya adik? Kalau eomma menikah, nanti Winwin bisa punya adik." Jawaban dari Heechul, membuat beberapa orang mengutuknya.
"Kalau begitu, Winwin setuju!" Winwin berseru keras membuat Heechul menyeringai sambil menatap para korbannya.
"Dengarkan? Anak kalian sendiri saja setuju."
Taeyong dan Jaehyun sama-sama menatap Yuta yang juga menatap mereka berdua.
"Baiklah." Ucap mereka bertiga bersamaan dengan nada pasrah.
.
.
Yuta tersenyum bahagia menatap anak-anak yang sedang bermain bersama di taman itu. Disana ada Winwin, Mark, Haechan -anak Johnny dan Ten-, juga ada Kun -anak Hansol dan Taeil, seniornya dulu di kampus-. Mereka berkumpul hari ini, dimana hari ini adalah hari paling bersejarah baginya. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari pernikahannya bersama dua orang lelaki tampan yang sangat berarti bagi hidupnya.
Janji suci sudah diucapkan beberapa puluh menit lalu. Taeyong dan Jaehyun, pergi berkumpul bersama teman-teman lama mereka juga Keluarga besar mereka. Yuta memilih untuk menyendiri sambil memperhatikan anak-anak yang sedang sibuk bermain di depan sana. Meskipun hatinya juga ikut merasa sedih mengetahui bahwa tak ada satupun dari keluarganya, yang ikut merasakan kebahagiaannya saat ini.
"Melamun saja hyung." Suara berat juga pelukan dari belakang membuat Yuta kaget. Namun, wajahnya seketika menampilkan raut bahagia dengan wajah yang bersemu merah.
"Tidak Jaehyunie. Aku hanya melihat mereka." Yuta melirik Jaehyun dan tangannya menunjuk ke anak-anak yang sedang bermain.
Jaehyun bergumam tak jelas seraya mengeratkan pelukannya pada pinggang Yuta.
"Apa kau mau mempunyai anak lagi, hyung?" Jaehyun berbisik ditelinga Yuta, yang mana membuat wajah Yuta memerah hingga ke telinga.
"Bukankah Winwin bilang ingin punya adik?" Yuta mencicit pelan, sementara Jaehyun dibelakangnya menyeringai mendengar ucapan Yuta. Bukankah itu sebuah kode?
"Baiklah hyung. Nanti malam, bersiaplah." Bisik Jaehyun dengan nada seduktif yang membuat Yuta merinding.
PLETAK
"Aww! Yakk!" Jaehyun reflek menolehkan kepalanya ke belakang ketika merasakan kepala bagian belakangnya di pukul dengan sangat keras oleh seseorang.
"Taeyong hyung!"
"Jangan bermimpi Jaehyun. Malam ini, Yuta milikku." Taeyong berujar datar. Jaehyun kemudian melepaskan pelukannya pada Yuta untuk menghadap Taeyong.
"Dengar hyung, kau dan Yuta hyung sudah punya Winwin. Sekarang, izinkan aku untuk punya anak juga dengan Yuta hyung."
"Tidak malam ini Jaehyun!"
"Lalu kapan?"
"Nanti."
Yuta menggeleng melihat kedua suaminya yang tengah berdebat tak penting itu. Tapi, ia merasa bahagia sekarang. Orang dari masa lalunya berani untuk berubah dan bertanggung jawab demi dirinya dan anaknya. Sementara orang yang selalu menemani dirinya, akan selalu berdiri disampingnya dan menjaga dirinya dan anaknya. Berusaha menepati janji mereka dulu, dan janji suci mereka yang mereka ucapkan tadi.
Yuta meraih satu tangan dari masing-masing suaminya dan mengapit tangan mereka.
"Kalian ini. Belum apa-apa sudah ribut. Kalian mau jadi contoh buruk untuk anak-anak kalian?" Jaehyun dan Taeyong langsung saja menggeleng.
"Nah kalau begitu, berbaikanlah. Lagi pula, ini kan malam pertama kita. Kenapa tak kita coba bersama-sama saja?" Yuta mengedipkan sebelah matanya secara bergantian pada Jaehyun dan Taeyong.
Jaehyun dan Taeyong tak lama menampilkan senyum -seringai- lebar mereka. Sepertinya, mereka harus berterima kasih pada Ten karena sudah mengajari Yuta hingga bisa begini.
"Kalau begitu, jangan salahkan kami jika kau tak bisa jalan dengan baik besok." Jaehyun dan Taeyong berujar serentak yang ditanggapi kekehan kecil oleh Yuta.
"Siapa takut."
Karena Yuta sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia akan membahagiakan Keluarga kecilnya ini. Meskipun banyak rintangan yang sudah dan akan menerjang mereka lagi suatu hari nanti, Yuta meyakini ia pasti akan kembali bersama Keluarga kecilnya ini.
.
.
.
END
.
.
.
Note :
Ambisiku buat nyelesaiin ff ini minggu ini itu begitu kuat, jadi ku memaksa diri buat lanjutin ff ini dan mengabaikan perkataan ku kemarin yg bilang mau lanjut setelah UTS.
Dan sesuai sama janji, ini adalah Chap inti terakhir dari ff ini. Karena masih ada epilogue untuk minggu depan -itu pun kalau ada yg mau *bercanda-.
Maaf jika ini tidak sesuai dengan apa yg kalian harapkan dari ff ini. Karena sesungguhnya ff ini sudah banyak perubahan plot sana-sini, dan aku pun hanya membatasi sampai 10 Chap untuk ff ini.
Menurutku ini ending terbaik, karena aku tak bisa memilih JaeYu ataupun TaeYu.
Untuk kalian semua, terima kasih banyak sudah mau review, favorit, dan follow ini. Ku sangat berterimakasih dengan dukungan kalian juga selama ini.
Makadariituku bakal buat epiloguenya untuk kalian haha XD.
Sekali lagi, terima kasih banyak!
Big Thanks To:
Yuta Noona, guest, BlueBerry Jung, Min Milly, 2113, Unnayus, nadifarhhs, Park RinHyun-Uchiha, ti. tokk. 7.
See you in epilogue? *wink
