Chapter 1
Suara musik bergema dalam ruangan yang dindingnya terlapisi oleh kaca-kaca besar. Tungkai kaki seorang pemuda bergerak lincah menyatu seirama aliran musik.
Sesekali mulutnya melantunkan lirik lagu yang sudah dihafalnya di luar kepala.
Lirik lagu yang dia buat dari hasil otak cerdasnya.
Semua menggambarkan dirinya sendiri.
Jiwa muda penuh gairah dan berkarakter keras. Dengan segala pesona yang dia punya. Memberikan segala yang dia miliki demi orang-orang yang berteriak nyaring di bawah panggung.
Namun bukan itu yang dia harapkan dari apa yang sudah dia ciptakan. Melainkan kepuasan sendiri yang merambat naik ke dadanya ketika bisa melihat berjuta-juta pasang mata menikmati penampilannya.
Bukannya haus pujian, dia hanya merasa puas jika bisa memberikan sebait lirik penyemangat untuk para penikmatnya.
Namanya Chwe Hansol, lebih dikenal dengan nama Vernon. Tapi orang-orang dekatnya lebih nyaman memanggil nama koreanya.
Paras Hansol terpahat dengan sangat sempurna. Wajah asianya di padu dengan paras khas orang barat yang menakjubkan, bahkan dalam sekali lirik sepuluh gadis bisa dibuat berteriak hingga pingsan.
Skillnya tak perlu di ragukan. Dari sekian banyak lagunya yang melejit, banyak diantaranya meruapakan hasil tangan dingin Hansol sendiri.
Awal mula karir Hansol dimulai saat dia pindah dari Amerika ke kampung halaman Ayahnya. Lalu dipertemukan oleh salah satu kerabat ayahnya pada CEO Pledis Ent.
Beliau sangat tertarik pada bakat yang Hansol miliki. Awalnya Hansol tak pernah berniat menerima tawaran tersebut. Tapi mengingat Hansol pun perlu wadah untuk bakat yang dimilikinya, dia pun akhirnya bergabung.
Sekarang sudah hampir satu tahun setelah debutnya. Hansol telah mengantongi berbagai penghargaan di tahun pertamanya. Sedikit banyak dia bangga akan hal itu.
Tapi lama kelamaan dia juga lelah, tak ada yang istimewa di hidupnya saat ini.
"Berhentilah sejenak Hansol. Kau bisa mati." ucap seorang pemuda berkulit tan yang tengah merebahkan kepalanya di atas paha pemuda lain.
"Biarkan saja, toh kalau dia mati banyak yang menangisi." Sahut pemuda lain yang masih fokus pada ponselnya, mengabaikan pemuda tan yang mulai menggodanya dengan mengusak-usakkan kepala pada paha kurang berisi si pemuda berwajah datar.
Bruk
Hansol tiba tiba terduduk. Membuat kedua pemuda yang tadi mengoloknya melirik penuh minat.
"Kau tidak akan mati kan?" Tanya si pemuda datar. Walau tak bergerak dari tempat duduknya, tatapan matanya sarat akan kekhawatiran.
"Aku hanya lelah."
"Tangkap!" Seru si tan sambil melemparkan sebotol air mineral ke arah Hansol. Hampir saja mengenai kepalanya, tapi pemuda sembilan belas tahun itu terlalu sigap.
"Sialan kau Gyu. Wonwoo Hyung, harusnya kau putuskan mahluk hitam itu."
Wonwoo, si pemuda dengan wajah poker face itu hanya menyunggingkan senyum tipis pada Hansol. Sedangkan Mingyu sudah sia-siap melemparkan botol mineral lain sebelum tangan Wonwoo menahannya.
Mereka berdua adalah sahabat kental Hansol sejak kecil. Walau Hansol tinggal lebih lama di Amerika tapi karena Ayahnya sering membawa Hansol berlibur ke Korea jadi Hansol pun mendapatkan teman sepermainan di sini.
Tapi yang bertahan sampai saat ini hanya Mingyu dan Wonwoo. Mereka dengan setia selalu menemani Hansol kemana pun anak itu pergi. Lagipula, rumah mereka dari dulu berada di satu area perkompleksan mewah.
Diantara ketiganya, Hansol merupakan yang paling muda. Maka dari itu Mingyu dan Wonwoo selalu menjaga Hansol, walau nyatanya Hansol tak pernah mau dianggap anak kecil apa lagi oleh Mingyu, yang nyatanya masih sangat kekanakan.
Sedangkan Wonwoo adalah sosok kakak yang pengertian dan perhatian. Walau memang tak jarang Wonwoo bersikap dingin di depannya, tapi Hansol tau kalau di balik sikap dinginnya itu Wonwoo adalah kakak idaman.
Mereka berdua adalah sepasang kekasih. Itu fakta yang sedikit mengesalkan. Pasalnya jika Mingyu atau Wonwoo sudah menyebarkan virus-virus merah jambu ke sekeliling mereka, Hansol hanya bisa gigit jari. Dia hanya akan berakhir sebagai debu di sudut ruangan.
Mereka akan melupakan Hansol.
"Kudengar kau dapat job mengisi acara di festival sekolah?" tanya Wonwoo.
"Yaah kudengar dari presdir begitu. Tapi masih menunggu kesepakatan agensi dan pihak sekolah. Masih belum deal juga dari pihak sekolahnya."
"Waaah kau menang banyak kalau begitu. Murid murid SMA biasanya masih sangat segar!"
Puk,
Kepala Mingyu tertimpuk sebuah handuk basah. Bukan Wonwoo, kekasihnya, tapi Hansol.
"Anak SMA itu lebih ganas dari Noona-Noona, asal kau tahu saja."
Wonwoo tersenyum kecil. Hansol memang sedikit takut pada fans-fans nya yang kadang terlalu liar. Dia ingat bagaimana pipi Hansol yang terlihat memerah karena mendapatkan cubitan sayang dari fansnya. Entah itu wanita atau pria.
Tok tok tok.
Suara ketukan mengalihkan atensi ketiganya.
Hansol dengan malas membukakan pintu practice roomnya. Setelah sebelumnya beradu pandangan dengan Mingyu.
"Seungcheol-sunbae?"
Seorang pria dengan tinggi seratus tujuh puluh delapan itu berdiri tegak di depan pintu.
Seungcheol namanya. Dia salah satu senior Hansol di Pledis. Berada di genre musik yang sama membuat Seungcheol menjadi salah satu panutannya.
Mereka sebenarnya hanya berjarak dua tahun, namun karena Hansol begitu menghormati Seungcheol, dia jadi sedikit canggung di depan seniornya ini.
Hal itu membuat mereka jadi kurang sering berinteraksi.
"Ada apa sunbaenim?"
Seungcheol terlihat sedikit gelisah. Apalagi saat sadar ada Mingyu dan Wonwoo di dalam.
"Eum tidak, hanya ingin memastikan kalau kau yang menggantikan aku siaran v app hari ini."
"Oh itu, sudah kuatur."
" syukurlah. Aku berterimakasih banyak."
Setelah itu Seungcheol pun pergi begitu saja.
"Jadi kau menggantikannya siaran hari ini? Memangnya dia kenapa?" tanya Mingyu penasran.
"Yaaa, dia ada urusan katanya."
"Urusan dengan pacarnya itu."
"Hus Mingyu, kalau ada yang dengar itu akan jadi skandal untuk Seungcheol-hyung!"
Wonwoo mencoba mengingatkan. Dia memang bukan bagian dari dunia entertainment. Tapi selama dia menemani Hansol, Wonwoo jadi tau betapa kejamnya para netizen pada para pelaku seni. Dia jadi sedikit khawatir kalau sewaktu-waktu Hansol mengalaminya.
"Betul itu, tapi kalau Seungcheol sunbae terus seperti ini. Lambat laun media akan menyadarinya."
Yaaa memang sudah cukup lama kabar tentang percintaan seniornya dengan salah satu mahasiswa kedokteran di Seoul berhembus kencang. Tapi selalu agensi tampik dengan alasan karir Seungcheol sendiri.
"Aah sudahlah. Dari pada mengurusinya, lebih baik kau segera siap-siap Sol-ah." ucap Mingyu.
"Ah benar juga."
Maka, dengan itu Hansol berjalan menuju ke arah sebuah kamera yang siap menyala.
"Ok... Hana.. Dul.. Set
Hallo everyone..."
.
.
Pukul 19.20. Seungkwan melihat Minghao yang menatap ponsel pintar yang dia letakkan pada tripod mini di atas meja belajarnya sambil tersenyum-senyum. Melirik sedikit, akhirnya dia menghela nafas kasar.
Ponsel itu menampilkan acara dari sebuah aplikasi secara live. Dan di dalam acara itu ada Hansol yang mengenakan baju basket berwarna merah dan topi hitam yang sengaja dipakai terbalik.
Lagi, dia menghela nafas sepanjang yang dia bisa dan mengeluarkannya dalam sekali hentakan.
"HAH!"
Dan Minghao berjengit, refleks menoleh ke belakangnya dan mendapati buntalan kapuk busuk yang sedang berkacak pinggang. Menatapnya dengan pandangan kelewat kesal.
"Apa?" Tanyanya dibarengi kerutan yang begitu kentara di dahi.
Seungkwan mendelik, "'Apa?' Kau bertanya 'apa?'"
Minghao mengalihkan pandangannya untuk kembali pada siaran langsung Hansol, mengabaikan Seungkwan yang pastinya kesal. Minghao tidak ada waktu meladeni ocehan membosankan Seungkwan tentang opini sebelah pihaknya tentang Hansol. Minghao sudah bosan.
Vernon-oppa saranghae...
Suara Hansol terdengar sedang menirukan suara perempuan, pasalnya barusan dia mendapatkan begitu banyak live chat yang mengatakan hal itu.
"Huwekkkkkk!" Seungkwan menepuk punggung Minghao lumayan keras, sambil memperagakan gaya muntah dengan semaksimal mungkin. "Najis, aku jijik sekali pada orang itu."
Minghao masih tidak peduli, anggap saja tidak ada makhluk apapun di dekatnya sekarang.
Minghao tertawa terbahak ketika Hansol melontarkan salah satu guyonan khas remaja yang justru membuat Seungkwan mengernyit.
Pasalnya Hansol itu melawak, tapi wajahnya datar, tak beriak.
"Apanya yang lucu, sih?"
Minghao berdiri dari bangku, serta-merta mengambil tripodnya dan berjalan menuju pintu kamar Seungkwan.
"Heh, mau ke mana kau, Hao?!" Kesal Seungkwan yang mendapati pertanyaannya tidak dijawab dan justru diabaikan.
"Ke kamar Noona-mu, kau berisik, aku malas." Minghao meleletkan lidahnya, kemudian menghilang di balik pintu yang tertutup.
"Dasar teman kurang ajar kau, Hao!"
Dengan kasar, Seungkwan menghempaskan diri ke kasur double empuknya. Menenggelamkan wajahnya pada guling berbaju gambar spongebob kesukaannya.
"Kali ini aku lagi yang harus menyelesaikan tugas? Ah, dasar sialan kau, Hao!" Gerutunya. Terus-menerus seperti itu sampai pintu kamarnya kembali terdengar berdecit, kali ini terlalu kasar untuk ukuran orang biasa membuka pintu.
Seungkwan tentu saja terkejut, biasanya kalau di film-film, suara pintu yang terdengar seperti ditendang itu saat ada penjahat masuk ke rumah sambil marah-marah.
"Kwan-ieeeeeeeee,"
Belum sempat dia menengok, badan berisinya sudah ditindih terlebih dahulu oleh badan kurus seperti lidi—yang tetap saja membuatnya kesakitan— Minghao.
Iya, yang tadi menindihnya adalah Minghao.
Ah, rupanya Minghao masih tahu diri untuk mengerjakan tugas, pikir Seungkwan.
"Kenapa kau? Kalau merasa tidak enak karena tugasmu yang belum selesai, sana kerjakan. Halaman 250 sampai 265, itu essay semua. Kalau keberatan, bagi dua saja. Tapi aku jangan banyak-banyak, pilihan ganda yang semalam sudah membuat otakku mau meledak. Sana Hao, mumpung malam ini masih bisa begadang!" Ujar Seungkwan panjang lebar sambil berusaha menyingkirkan badan tidak berlemak di atas punggungnya.
"Tidak, siapa bilang." Minghao menguselkan dahinya pada bahu Seungkwan, membuat Seungkwan kegelian dan ingin sekali menghajar pemuda mengesalkan di atasnya.
"Lalu apa? Kenapa kau kembali sambil memasang wajah mengerikan seperti itu?!" Seungkwan tahu bagaimana wajah Minghao sekarang walaupun tanpa melihatnya. Suara dan tingkahnya sudah jelas, dia sedang memaju-majukan bibirnya.
"Kau kenapa tidak bilang padaku kalau panitia festival kesenian sekolah berencana mengundang Vernon?"
Telak.
Dan Seungkwan diam.
Ini topik yang sangat-amat dia hindari, dari siapapun apalagi dari Minghao yang merupakan fans berat Vernon.
Dia tidak mau membahas hal itu dengan siapapun, termasuk anggota panitia yang lainnya karena, serius, apa masih kurang jelas kalau dia begitu membenci Rapper bermuka songong itu? Ha?
"Tidak tahu. Jangan tanya aku." Dengan begitu, Seungkwan menggelindingkan badannya. Minghao menjerit karena tertimpa badan besar Seungkwan, sangat berat.
"Kwannnn, jangan seperti ituuuuu! Ayo beri tahu akuuuuu, ayoooooooo!" Minghao menarik ujung kaos warna kuning sahabatnya, menggoyang-goyangnya dengan ekspresi ingin menangis.
"Ih, aku tidah tahu!" Seungkwan berdiri dari kasur, Minghao ikut berdiri dengan lututnya di atas kasur.
"Kau kan bendahara organisasi kesiswaan! Masa tidak tahu, sih?!" Dan Minghao naik pitam, memberengutkan wajah pada Seungkwan yang sudah menatapnya dengan kesal juga.
"Lalu kau berharap aku bagaimana?! Bahagia dengan rencana itu, begitu?! Lalu menyebarkan berita burungnya ke murid-murid dan mengatakan 'si Rapper terhebat versi orang buta akan datang ke sekolah kita! Ayo kita dukung!' begitu?!
Teriaknya, lalu nafasnya berantakan. Berteriak pada Minghao memang selalu berhasil membuat Seungkwan lelah bahkan di awal-awal.
"Iya harusnya kau ikut anggotamu mempromosikan bintang tamu, dong! Supaya murid-murid juga mau dengan mudah membayar iuran festival! Kau bodoh atau bagaimana, sih, gunakan otak bisnismu Kwan. Kau mau kan festivalnya sukses?!" Minghao akan balas berteriak jika Seungkwan berteriak. Dua-duanya kepala batu.
"Begitu ya?! Bahkan untuk anggota kesiswaan yang sangat-amat-very-very-much membenci bule songong-tidak punya muka-minim bakat itu?! Tentu saja aku menolak!"
Minghao membelokan matanya, tidak tahu jika Seungkwan akan sebegini kasarnya pada Hansol.
"DASAR ANGGOTA KESISWAAN PAYAH!" Dan Minghao bergerak turun dari kasur, menghentakkan kaki sekali, lalu berbalik menuju Seungkwan. "Aku malas padamu."
Kepala bagian belakang Seungkwan jadi sasaran geplakan Minghao. Sudah biasa sebebarnya, tapi kali ini terasa lebih sakit seperti biasanya. Emosi Seungkwan pun meledak lebih besar dari biasanya.
Duar!
Pintu kamar dibantik oleh Minghao, sudah seperti pintu kamarnya sendiri. Kalau pintu itu rusak, pastinya Seungkwan yang akan kena marah oleh Ibu dan Ayahnya. Pikiran itu membuat Seungkwan semakin kesal.
"LIHAT SAJA TUAN MINGHAO YANG TIDAK TAHU DIRI! BENDAHARA ORGANISASI KESISWAAN INI AKAN MENENTANG HABIS-HABISAN SI VERNON-JELEK ITU KE FESTIVAL! LIHAT SAJA! LIHAT!"
Nafasnya memburu. Lagi, dia merebahkan diri dengan kasar di atas kasur.
"Haaaah, kenapa aku emosi sekali. Ck!" Suaranya masih terdengar menghentak, walaupun sudah dia usahakan untuk kembali normal.
Seungkwan mengambil nafas panjang-panjang, dan mengeluarkannya panjang-panjang juga.
Serius, dia merasa kebenciannya pada Hansol sudah sampai di ubun-ubun sampai topik tidak penting tentang Hansol pun sudah bisa membuatnya emosi.
"Haaaaah, aku kesal sekali."
Terus saja menggerutu seperti itu sampai Hansol jadi Suamimu, Kwan!
Tidak-tidak, itu bukan hatinya yang bilang. Tapi yang menulis. Ikutan kesal juga karena Seungkwan terus-terusan mengulang kalimat seperti itu selama sepuluh menit sampai dia jatuh tertidur.
Tbc.
Haiiiiii, ini Gasuga dan Ugii. Yeay, akhirnya kami berhasil bikin chapter 1. Kami mau ngucapin makasih banyak sama semua readers yang udah baca, follow, favorite, dan reviews cerita ini. Semoga untuk ke depannya, makin banyak yang bisa menikmati cerita ini ya. Yah, walaupun kami berdua bukan penulis yang jago, tapi setidaknya kami berusaha buat menghibur pada verkwan shipper yang kehausan baca ceritaverkwanceritaverkwan /tunjuk gasuga/
Jadi, atas voting—sebenernya gak bisa dibilang voting juga sih— kemarin, akhirnya kami memutuskan buat jadiin cerita ini yaoi. Lebih banyak peminat yaoi soalnya, apalagi, Gasuga dan Ujii sendiri susah untuk bikin GS. Makanya kami yang...seneng aja gitu banyak yg mau yaoi wkwk.
Dan, sekali lagi. Terima kasih banyak. Semoga kalian suka dengan apa yang kami tulis, semoga terhibur, dan bisa memberi pencerahan untuk hati kalian yang gersang butuh moment.
Btw guys, please don't ask another couple bcs this story is basically we made with love for Chwe Hansol and Boo Seungkwan, not others. Hehe.
Dan untuk yang mau nanya apapun, bisa tulis di kolom review ya.
Terima kasih banyak sekali~
Regards,
Gasuga - Ugii
