Summary :
Uzumaki Naruto. Anak yang dicintai oleh alam semesta tetapi di benci oleh penduduk desanya sendiri walaupun itu bukanlah hal yang pantas ia tanggung. Bersama hewan kuchiyose yang malah memilih untuk desegel dalam tubuhnya mampukah Naruto mencapai impiannya? Warn. Taijutsu Naru, SageMode Naru, Smart Naru.
Desclaimer : Naruto bukan punya ane. Naruto kepunyaannya Masashi-sensei.
Warning : OOC Naru, OOC Minato, Typo bertebaran, Bahasa berantakan, Iritasi berlebihan. Mata merah, hidung tersumbat, sesak nafas, bibir pecah - pecah dan gangguan kesehatan lainnya.
Rating : M
Pair : Naruto x ? ()
"Aku Uzumaki Naruto" -Normal
'aku uzumaki naruto' -Inner
"aku uzumaki naruto" -Monster/Angry
'aku uzumaki naruto' - Mindscape/Dream
Jikukan Kekkai -Jutsu
Ane saranin kalau gak suka mending langsung di tutup aja ya!
Yosh… selamat membaca
V
V
v
~~Emperor of The World~~
~~Sebelumnya
"ano….. Gai-san. Bisakah kau melatihku menjdi lebih kuat lagi?"
"emm…. Kenapa kau ingin menjadi kua Naruto?"
"aku ingin melindungi semua orang yang kupercayai melindungimu dan pemilik kedai ini"
"….."
Ucap naruto dengan sorot mata penuh keyakinan. Sedangkan Gai tertegun dengan pernyataan Naruto.
"tentu saja aku akan melatihmu. Jadi makanlah yang banyak dan jaga semangat masa mudamu tetap membara naruto"
"Yosh… Ayo makan Gai-san… eh.. Ayo makan Gai-sensei"
"Ayo….. kita akan bertanding siapa yang bisa makan ramen paling banyak"
"Ayo!"
"yang kalah harus mengelilingi konoha dengan menggunakan tangan"
"yosh….. Itadakimasu!"
"Oi….. kau curang Naruto…. Kau mencuri Start dariku!"
"eh…. Aku tidak melakukannya"
Dengan kegembiraan di kedai itu mendakan terbentuknya suatu ikatan dan janji yang akan menentukan masa depan Naruto di masa yang akan datang.
V
V
v
~~Emperor of The World~~
~~Hokage Office
Dua pemimpin desa terlihat tengah tenggelam dalam kesibukannya masing – masing. Satu hokage dengan rambut kuning tengah sibuk dengan dokumen – dokumennya. Dia adalah Yondaime Hokage, Namikaze Minato.
Sedangkan hokage lain yang berumur lebih tua kini tengah sibung dengan cerutunya. Sandaime Hokage, Hiruzen Sarutobi.
Tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Mereka hanya diam tanpa suara sibuk dengan kesibukannya masing – masing. Hanya keheningan yang memenuhi ruangan itu. Hingga sebuah suara ketokan pintu mengalihkan perhatian mereka ke arah satu – satunya pintu masuk dalam ruangan itu.
"Masuk!"
Respon Minato pada ketukan pintu tadi. Pintu tersebut perlahan – lahan terbuka menanpilkan seorang pria dengan pakaian hijau ketat yang menempel di tubuhnya. Rambut hitam model bob dan alis mata super tebal. Dia adalah seorang ninja dengan peringkat Jounin dilihat dari rompi yang digunakannya.
Pria itu adalah Maito Gai, atau lebih di kenal dengan gelar Konoha no Kadekaki Aoi Moju. Pria penuh semangat masa muda yang selalu menebarkan senyuman dan pose nice guy pada siapapun. Tapi yang terjadi sekarang benbanding terbalik dengan Gai yang biasanya.
Pasalanya Gai masuk dalam ruangan hokage dengan langkahpasti dan tatapan serius yang apabila orang lain yang sudah mengenal baik Gai pasti akan mengira bahwa Gai saat ini adalah orang lain yang sedang menggunakan Henge. Tapi itu tidaklah benar. Dia adalah Gai, seratus persen seorang Maito Gai.
Melihat gai yang masuk kedalam kantor hokage dengn pandangan serius membuat kedua hokege yang tadinya tengah sibuk dengan kegiatannya masing – masing sontak mengalihkan perhatiannya pada Gai dengan pandangan serius juga.
"Sandaime-sama, Yondaime-sama. Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan kalian"
Suara yang di buat oleh Gai kembali memecahkan keheningan di ruangan itu.
"Ada apa Gai?"
Jawab Minato. Sedangkan sandaime memilih untuk diam dan mendengarkan.
"Ini masalah anak bernama Uzumaki Naruto"
"Ada lagi yang dilakukan anak itu? Apa dia membuat ulah lagi dengan membuat keributan di desa?"
Jawaban keras bernada sinislah yang menjawab pernyataan serius Gai. Kata – kata pedas yang keluar dari mulut Minato. Tapi itu bukanlah masalah. Gai adalah seorang ninja dengan penringkat Jounin. Dia masih bisa mengontrol emosinya agar tidak meledak saat mendengar jawaban dari Minato.
"Tidak….. bukan masalah itu."
"Lalu apa?"
"Aku ingin mengambil alih untuk merawat dan mendidik Naruto"
"Kenapa kau ingin merawat anak sialan itu? Anak sepertinya lebih baik tinggal dan mati di jalanan"
Kemabil kalimat bernada sinis yang lebih menyakitkan dari yang sebulumnya menjadi jawaban untuk Gai. Dan kembali keprofesionalitasannya di uji. Diuji untuk hanya mendengarkan dan tidak menggunakan tinjunya untuk menjawab pertanyaan dari Minato.
"tidak ada alasan khusus! Tapi aku akan merawatnya dengan atau tanpa persetujuan kalian"
"APA MAKSUDMU HAH?"
"Seperti yang aku katakan tadi…. Tidak ada alasan khusus"
"…."
Jawaban dengan nada datar dari Gai seketika membungkam Minato. Sepertinya menahan emosinya dari tadi membuah kan hasil bagi Gai.
"Baiklah…. Hanya itu yang ingin aku sampaikan pada kalian. Kalau begitu aku permisi"
Dengan itu Gai berbalik meninggalkan ruangan hokage. Meninggalkan kedua hokage itu dalam keheningan.
'BRAAK'
"SIALAN!"
Oh….. sepertinya tidak benar benar hening, karena setelah kepergian Gai. Minato langsung menggebrak meja dihadapannya.
"Aku juga mau pergi sebentar Minato. Aku ingin mencari udara segar."
Suara itu berasal dari Hiruzen. Orang yang sedari tadi memilih untuk diam dan hanya memperhatikan. Tanpa menunggu jawaban dari Minato, Hiruzen langsung meninggalkan Minato sendirian dalam ruangan Hokage.
~~Gai POV
Dasar Hokage sialan. Kau masih berani menyebut dirimu hokage setelah apa yang kau lakukan. Heh….. memuakkan. Dan apa katanya tadi. 'apa anak itu membuat keributan lagi di desa?'….. heh….. kau fikir siapa yang membuat keributan dan siapa yang jadi korban keributan.
Benar – benar memuakan. Aku sudah mulai merasakan kalau Hokage sekrang memuakan. Tapi aku spertinya baru saja sadar kalau hokage sekarang benar – benar memuakan.
Dia fikir gelar hokage untuk apa? Orang yang tidak memeiliki tekad api sepertinya tidaklah pantas mendapatkan pengakuaan dariku. Untung saja aku masih bisa mengontol emosi ku sehingga tidak menghajar hokage itu di kantornya sendiri.
"Keluarlah…. Aku tau kau di sana."
Ucapku sembari menoleh kebelakang. Aku menyadari seseorang mengikutiku sejak aku keluar dari kantor hokage. Bukan karena aku adalah seorang ninja sensor. Tapi karena insting dan indraku yang telah dilatih ribuan kali.
Aku bisa melihat seorang pria tua dengan cerutu di sela bibirnya. Keluar dari balik banyangan gang kecil dibelakangku.
"memang sulit bersembunyi dari ninja sepertimu Gai. Kau bahkan bisa mengetahui ku sedang mengikutimu. Bahkan ninja sensor akan sangat kesulitan untuk menemukannku."
"itu bukan jawaban yang aku inginkan…. Sandaime-sama"
Ya orang ini adalah Sandaime Hokage, Hiruzen Sarutobi. Aku merasakannya mengikutiku sejak aku keluar dari kantor hokage. Menjawab dengan nada datar akibat masih menahan kekesalan dari kejadian di ruangan hokage tadi.
"Yang aku tanya kenapa anda mengikutiku?"
"Uzumaki Naruto….."
"Hmm?"
"Apa dia baik – baik saja?"
"Itu bukanlah urusan anda sandaime-sama. Akulah yang bertanggung jawab merawat Naruto sekarang"
"Maafkan aku tidak bisa membantumu Gai. Tapi setidaknya terimalah ini."
Ucap Sandaime sembari mengeluarkan sesuatu. Sebuah amplop tebal dari kantongnya.
"Ini ada sedikit uang untuk merawat Naruto"
Aku hanya menatap pada Sandaime dan amplop ditagannya dengan pandangan datar.
"… Aku tidak memerlukannya. Aku bisa menghidupi Naruto tanpa bantuan anda"
"Tapi sepertinya Minato akan membekukan misi mu untuk beberapa bulan. Itu pasti akan mempersulit keuanganmu"
"Itu bukanlah masalah. Aku masih memiliki sedikit tabungan. Setidaknya bisa membuat naruto merasakan hidup. Walaupun tak seindah yang anak – anak lain rasakan"
"….."
"lagi pula aku merawatnya bukanlah untuk memebuatnya menjadi anak manja dan lembek"
Setelah mengucapkan kata – kata tadi aku segera berbalik meninggalkan Sandaime tanpa berbalik kembali. Meninggalkan sang Professor untuk menyesali semua perbuatannya.
V
V
v
~~Emperor of The World~~
~~Hutan Kematian
Normal POV
Hutan kematian tetaplah terlihat sangat mengerikan bahkan saat matahari berada di puncaknya. Daun rimbun yang menghalangi cahaya menembus kedalam hutan. Suara – suara aneh nan mengerikan yang terdengar saling sahut – menyahut.
Tapi spertinya lagi – lagi seorang anak tampak tak memperdulikannya. Dia terlihat tengah berbaring dengan menggunakan rerumputan sebagai alasnya. Anak dengan rambut kuning kemerahan dengan pakaian hijau ketat tanpa lengan yang mempertontonkan otot yang ada didalamnya.
Nafas anak itu terdengar memburu akibat latihan ekstrimnya yang baru saja selesai. Sesekali menggunakan tangan kanannya untuk menghapus keringat yang terus – menerus mengalir dari dahinya.
Terus dalam posisi itu hingga sebuah suara mengintrupsi istirahatnya.
"YOOO….. NARUTO!"
Mendengar suara dari arah depan, Naruto nama anak itu langsung mengambil posisi duduk. Melihat pada seorang pria dengan pakaian hijau ketat, rambut bob, dan alis mata tebal. Senyum lebar dan menyilaukan mengiasai wajahnya. Pria yang kini sedang dalam posisi nice guy.
"YOO….. GAI-SENSEI"
Balas Naruto. Ya….. dia adalah Maito Gai. Pria yang kini sudah mulai menjalin hubungan sebagai guru dan murid dengan anak paling di benci oleh seluruh warga desa.
"Latihan keras seperti biasa ya?"
"Emmp… Aku harus menjadi semakin kuat untuk melindungi orang – orang yang penting bagiku."
"HOHOHO… SEMANGAT YANG BAGUS NARUTO. UNTUK MENGHARGAI SEMANGAT MASA MUDAMU AKU AKAN MENEGLILINGI KONOHA BERJALAN DENGAN KAKI"
Sedangkan Naruto hanya bisa meneteskan keringatnya menghadapi respon berlebihan yang diberikan senseinya itu.
"Kau tak perlu melakukan itu Gai-sensei"
"Oi… Naruto."
"hmm?"
"Apa kau tidak bosan tinggal di hutan ini terus menerus?"
Mendengar pertanyaan Sensei-nya naruto seketika bungkan dan menundukkan kepalanya. Walupun tidak berselang lama tapi sepertinya hal itu tidak lepas dari pengamatan Gai.
"Tentu saja tidak….. lagi pula hutan ini adalah rumahku"
"tapi jika kau disini terus…. Kau tidak bisa bergaul dengan anak – anak sebayamu. Kau tidak bisa membuat teman jika kau terus tinggal di hutan ini"
"… ta,tapi aku….."
Kepala Naruto semakin menunduk tidak ingin menunjukan wajah menyedihkannya pada sang Sensei. Sedangkan Gai hanya bisa tersenyun sedih melihat Naruto. Meletakkan tangannya di atas kepala kuning kemerahan itu dan mengusapnya pelan., Gai mulai bicara.
"Apa kau mau tinggal bersama denganku Naruto?"
"….."
Mendengar pertanyaan Gai. Naruto seketika mengangkat wajahnya melihat sang Sensei seperti mencari sebuah kepastian.
"Be, benarkah? Apa boleh?"
"Tentu saja. Lagi pula apartemenku terlalu besar unutk kutinggali sendiri"
"ta, tapi jika aku tingga bersamamu….. warga desa akan…..?"
Kepala Naruto kembali menunduk menyembunyikan ekspresi di wajahnya. Gai bukalah orang bodoh yag tidak mengerti apa yang dimaksud Naruto. Naruto mengkhawatirkannya, khawatir jika ia juga akan dibenci oleh warga konoha. Secara otomatis Gai langsung memeluk Naruto dengan lembut. Mencoba memberi ketenangan pada bocah yang ada di depannya.
"Jangan khawatir Naruto! Kau aman tinggal bersamaku. Aku akan menjagamu, merawatmu dan mendidikmu."
Naruto kembali mengangkat kepalanya. Melihat pada wajah yang dihisai senyuman yang berbeda itu. Bukan senyum lebar menyilaukan seperti biasanya, tetapi senyuman simple namun mengandung kehangatan.
"Kau tidak perlu khawatir padaku. Lagi pula aku adalah seorang Jounin."
"…. Apakah tidak apa – apa?"
"Tentu!"
"Kalau begitu tolong izinkan aku untuk tinggal bersamamu. Izinkan aku menjadi muridmu. Izinkan aku melindungimu…. Izinkan aku….. hiks….. izi… hiks…"
Ucap Naruto dengan air mata yang terus enerus mengalir dari kedua bola matanya. Sedangkan Gai hanya bisa mengeratkan pelukannya pada Naruto.
"Kau ku izinkan Naruto…. Bahkan sebelum kau meminta izin sekalipun"
"Emmp!... a,aku bahagia. Gai-sensei"
"Ya Naruto….. mulai sekarang kau harus bahagia"
"….."
"…."
Gai hanya membiarkan naruto terus menangis di pelukannya. Menunggu hingga tangisan itu mereda. Setelah ini ia berjanji. Seorang Maito Gai, tidak akan membiarkan bocah bernama Uzumaki Naruto menangis dalam kesedihan lagi.
Mereka terus diam dalam posisi itu. Tanpa menyadari bahwa matahari perlahan lahan mulai turun dari puncaknya. Dan mulai memerah di arah barat.
V
V
v
~~Emperor of The World~~
Terlihat dua orang kini tengah berjalan keluar dari hutan kematian. Mereka adalah pasangan guru dan murid, Maito Gai dan Uzumaki Naruto. Mereka terus berjalan menuju ke arah desa.
Naruto yang berjalan di samping Gai nampak berjalan dalam keraguan. Ragu karena kembali harus memasuki wilayah desa. Wilayah yang paling ingin dihindarinya. Namun ia terus berjalan, tak mau mengecewakan harapan gurunya.
Saat mereka memasuki desa. Naruto seketika langsung di serang dengan tatapan benci dari para penduduk. Namun berhasil diacuhkannya. Namun sepertinya semua tak berjalan sesuai rencananya.
Ketika ia sampai di tengah desa seorang pria seketika berlari kearahnya. Berniat memeberikan pukulan kepada Naruto.
"APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI BOCAH SIALAN?"
'bruak'
Namun sebelum pukulan itu mengenai Naruto, orang itu terlebih dahulu terhempas oleh sebuah tendangan keras sehingga menghancurkan dinding pembatas di seberang jalan. Pelakunya adalah sang sensei. Gai memberikan tendangan ketika melihat pria tadi berniat menyerang Naruto.
Berjalan mendekati pria yang di tendangnya tadi, lalu menarik kerahnya. Mengangkat pria tadi hingga kakanya tidak lagi menyentuh tanah.
"Aku peringatkan padamu….. Jika kau memperlakukan muridku seperti itu lagi. Aku pastikan semua tulang yang kau punya akan menjadi bubur… KAU MENGERTI?"
Ucap Gai dengan nada berat yang menyimpan emosi kemarah yang luar biasa. Di akhir kalimatnya Gai seketika mengaktifkan gerbang ketiga dari Teknik Hchimon tonko miliknya membuat tekanan yang berat bagi semua orang yang kini tengah berda di sekitarnya.
"INI JUGA BERLAKU UNTUK KALIAN SEMUA. MULAI SAAT INI SIAPAPUN YANG MENYAKITI ANAK BERNAMA UZUMAKI NARUTO AKAN MENDAPATKAN PELAJARAN DARIKU"
Wajah – wajah shok mendominasi wilayah itu. Semua terdiam dengan kaki yang bergetar ketakukan. Bergetar akan tatapan dan aura membunuh dari ninja yang selama ini mereka pandang dengan sebelah mata. Membuat mereka mengukir sesuatu dalam otak mereka. Bahwa jangan pernah bermain – main dengan ucapan seorang Maito Gai.
Melepaskan cengkaraman tangannya dari kerah baju orang yang ditendangnya tadi lalu menatap sekilas ke sekitar tanpa sedikitpun mengubah ekspresinya. Memastikan tidak ada lagi orang yang cukup bodoh untuk berusaha melawannya.
Merasa sudah cukup. Gai segera menonaktifkan tekniknya. Lalu berbalik dan berjalan ke arah Naruto.
"Ayo Naruto. Masih banyak yang harus kau lakukan setelah ini"
"U,umm..."
Mereka berjalan meninggalkan ketegangan didalam desa tersebut. Berjalan menuju rumah yang akan menjadi tempat Naruto untuk tinggal.
Pejalanan mereka hanya diisi oleh keheningan. Tidak ada satu orang pun yang memulai pembicaraan. Gai hanya menatap kedepan sedangkan naruto hanya menundukan kepalanya.
Berulang kali melirik ke arah Sensei-nya, membuka mulut namun keudian kembali menutupnya. Hal itu terjadi berulang kali hingga naruto berhasil mengumpulkan seluruh keberaniannya.
"Sensei!"
"Hmm?"
"A,anoo..."
"Katakan Naruto!"
"Kau tidak serarusnya melakukan hal tadi. Itu hanya akan membuat penduduk desa malah berbalik membencimu."
"..."
"Biar hanya aku yang dibenci. Aku tidak mau jika kau ikut dibenci karena aku"
Gai hanya bisa terhenyak akan apa yang dikatakan oleh Naruto. Sebegitu muliannya pemikiran anak ini. Tidak bisakah ia membiarkan aku membantuknya. Kau begitu mulia Naruto, tapi kau terlalu polos di dunia ninja ini. Begitulah kira – kira apa yang dirasakan oleh Gai.
"Lalu apa yang akan kau lakukan agar penduduk desa tidak membencimu lagi?"
"Aku akan membuat mereka mengakui keberadaanku!"
"Dengan apa?"
"Eeehh... itu..."
"Dengar Naruto! Di dunia ninja untuk mencapai sesuatu kita kadang harus memilih jalan yang lurus dan penuh rintangan dari pada jalan memutar yang aman"
"..."
"Kadang kau harus bersikap keras untuk sebuah kebiakan. Kau harus ingat itu Naruto. Dunia ninja tidak seindah yang kau bayangkan"
"Hai... aku akan mengingatnya mulai sekarang Gai-sensei"
Sebuah doktrin baru yang diterima oleh Naruto. Mengukir dalam otaknya. Hal yang akan selalu diingat olehnya. Mereka kembali berjalan dalalam keheningan hingga Gai berbelok dan menghadap ke sebuah rumah. Rumah sederhana yang dengan model sangat minimalis. Bisa dibayangkan bahwa orang yang bia tinggal didalamnya hanya muat untuk satu orang.
"Nah... selamat datang di rumah barumu Naruto"
"Eehhhh... Gai-sensei... Ini rumahmu?"
"Ya... rumah ini terlalu besar untuk ku tinggali sendiri"
"Eehh..."
~~Naruto POV
Kini aku berdiri di depan sebuah apartemen. Apartemen kecil yang bahkan cukup sesak untuk satu orang. Dan mulai sekarang aku akan tinggal di sini.
"Nah... selamat datang di rumah barumu Naruto"
Suara dari Gai-sensei seketika menarikku dari dalamnya lamunanku tadi. Menanggapi suara tadi aku memilih bertanya untuk memastikan sesuatu.
"Eehhhh... Gai-sensei... Ini rumahmu?"
"Ya... rumah ini terlalu besar untuk ku tinggali sendiri"
Terlalu besar? Apa kau yakin dengan ucapanmu Gai-sensei. Bahkan aku rasa rumah ini akan meledak jika di isi oleh dua orang dan semua kegilaannya. Semua pemikiranku hanya membuatku tertawa garing.
"Eehhe he he..."
"SUDAHLAH NARUTOO... KAU AKAN SEGERA TERBIASA DENGAN RUMAH BARUMU. AYO BAKAR LAGI SEMANGAT MASA MUDAMU"
Aahh... ini lah yang aku sukai dari guruku. Sosok yang sangat menyenangkan dan penuh semangat. Sosok yang selalu bisa menarikku dari gelapnya kesendirian.
"AAH... GAI-SENSEI..."
Sosok yang saat ini hanya bisa kuberikan senyum lebar dan semangat masa muda sebagai balasan akan semua kebaikannya.
"Ayo kita masuk... Kau harus terbiasa dengan rumah barumu"
"Hai!"
"Kau juga harus terbiasa dengan hadiah yang akan ku berikan kepadamu."
"Hadiah?... Apa kau bilang hadiah Sensei?"
"Aaa... Bersiaplah untuk hadiahmu Naruto?"
"Eh... HAI GAI-SENSEI"
V
V
v
~~Emperor of The World~~
Semua tampak biasa di dalam sebuah rumah atau lebih tepatnya disebut sebagai apartemen kecil sempit dan minimalis. Kecuali teiakan – teriakan keras penuh semangat yang dikeluarkan Gai-sensei. Aku kini sudah menata semua keperluanku selama tinggal di apartemen ini.
Gai-sensei memberikaku pengarahan unutk setip hal yang yang harus ku lakukan selama tinggal bersamanya.
Kini aku dihadapkan dengan Gai-sensei yang kini tengah menjulurkan sebuah kotak kecil berwarna krem polos kepadaku. Sementara aku hanya bisa memiringkan kepalaku kebingungan.
"Terimalah Naruto"
"Eeeto... ini apa Sensei?"
"Apa yang kau katakan? Ini hadiahmu, bukankah aku sudah bilang kalu aku akan memberikanmu hadiah"
Mendengar jawaban dari Gai-sensei membuat mataku seketika berbinar akan kebahgiaan dan rasa penasasaran. Sebuah benda yang selama ini ku impikan, benda yang ku fikir tidak akan pernah bisa ku dapatkan. Sebuah benda yang ku fikir tidaklah pantas untuk orang sepertiku.
"A,apakah aku boleh menerimanya?"
"Apa lagi yang kau tanyakan Naruto? Ini adalah hadiahmu. Jadi ini adalah milikmu mulai dari sekarang."
Mendengar jawaban yang berupa sebuah kepastian aku segera mengambil kotak tadi dari tangan Gai-sensei lalu bergegas membukanya. Setelah kotak itu terbuka kini aku bisa melihat sebuah kertas tipis dengan huruf – huruf aneh yang telukis di atasnya.
"Terimasih Gai-sensei. Aku akan menjaganya baik – baik mulai dari sekarang.
"Naruto..."
"Mungkin aku harus membingkainya"
"Naruto..."
"Aku akan memajangnya di dinding lalu mengiasnya"
Begitu banyak rencana begitu saja meluncur dari mulutku. Wlaupu sebenarnya aku tidak tahu kertas apa yang kini aku pegang sembari memutar – mutar tubuhku. Menghiraukan panggilan Gai-sensei yang seprtinya ingin mengatakan sesuatu. Tapi semua itu tidak ku hiraukan. Yang ada difikiranku kini hanyalah kebahagiaan tidak ad lagi yang lain.
Hal itu terus berulang hingga tangan Gai-sensei memegang pundakku mebuatku berhenti berputar. Membuatku menatap kearahnya.
"Dengarkan aku dulu Naruto"
"Hai!"
"Kau tahu kertas apa itu?"
"Errmm... tidak..."
"Perhatikan kertas itu Naruto. Apa yang kau lihat?"
"eee... tulisan aneh"
"Itu bukan tulisan aneh. Tulisan itu disebut Fuinjutsu. Kertas itu adalah salah satu varian jutsu penyegelan."
"...Fuin?"
"Aah... Ini adalah fuin gravitasi. Ini adalah salah satu sarana latihanmu"
"Latihan?"
"Fuin ini berfungsi untuk menambah beban pada seluruh tubuhmu."
"Kenapa tidak memakai pemberat biasa?"
"Fuin ini spesial. Beban yang ditambahkan akan terus menerus meningkat mngikuti perkembangan orang yang dipasangi fuin ini."
"... Apa Gai-sensei juga memakainya?"
"Aku tidak bisa memakainya Naruto. Seperti yang ku katakan. Fuin ini spesial. Fuin ini hanya berkerja pada seorang yang berdarah Uzumaki bukan yang lain"
"..."
"Jadi ayo pasang Fuin itu padamu. Sekarang oleskan darahmu pada kertas itu"
Mendengar perintah Gai-sensei, aku sekgera menggigit ibu jari ku hingga membuat darah keluar dari luka yang baru saja ku buat. Mengoleskan darah itu ke permukaan kertas.
"Sekarang tempelkan kertas itu di perutmu"
Sesuai intruksinya. Aku segera menempelkan kertas itu di perutku. Sua detik tanpa reaksi hiinga aksara diatas kertas itu bersinar merah lalu bergerak merambat ke seluruh tubuhku, lalu kembali memadat dan berpusat di perut menempel langsung pada kulit ku. Sementara kertas tadi kini hanya menjadi kertas biasa dan jatuh melayang ke bawah.
"Tidak terjadi a... Ugh!"
Sebelum aku berhasil menyelesaikan kata – kataku. Aku terlebih darul terjatuh tengkurap diatas lantai. Tubuhku terasa menjadi bertambah berat puluhan kali lipat. Nafasku terasa sangat sesak. Bahkan untuk menggerakkan mulutku saja sangat sulit.
Kini aku hanya bisa hanya bisa melirik ke arah Gai-sensei mencoba mencari bantuan. Namun yang ku lihat hanyalah pandangan datar darinya.
"Mulai hari ini kau akan berlatih bersamaku Naruto. Satu hal yang perlu kau tahu. Aku tidak akan penah melatihmu setengah – setengah. Kau akan terus menemui neraka selama latihanmu bersamaku. Jadi pacu semangat masa mudamu hingga puncaknya jika kau tidak ingin berakhir menyedihkan."
Kini aku telah mendengar sebuah pernyaaan dimulainya pelatihan neraka ku. Pelatihan yang mungkin akan meamatahkan setiap tulang – tulang di tubuhku. Pelatihan yang akan menguas setiap titik keringat dalam tubuhku.
Tapi aku tidak akan dan tidak akan pernah menyerah. Ini adalahjalan yang ku pilih. Jalan yang akan membuatku memiliki kekuatan unutk melindungi apa yang kupercaya.
V
V
v
~~Emperor of The World~~
~~Skip Time : 6 Tahun
Kini 6 tahun sudah aku menjalani latihan yangn kulakukan bersama dengan Gai-sensei. Selama eman tahun ini hampir semua kegiatan yang aku lakukan adalah berlatih. Tapi bukan berarti aku sudah menjadi sangat kuat.
Jangan pernah lupakan sesuatu yang sangat krusial tentang tubuhku. Tanpa cakra, kosong tanpa ada bantuan dari energi bentukan dari energi fisik dan spiritual itu.
Semua latihan yang kulakukan selama enam tahun ini hanyalah mengenai fisik tanpa ada sedikitpun tentang latihan spiritual karena itu tidak akan ada gunanya. Tapi lagi – lagi bukan berarti aku sudah sangat kuat. Tiga tahun pertama dari latihanku selalu diisi dengan latihan fisik nan ektrim yang sebelumnya tidak pernha kubayangkan.
Berlatih dengan cara biasa saja sudah terasa menghancurkan semua tulang – tulang di tubuhku. Ditambah lagi dengan Gravitation seal yang tertanam di tubuhku. Membuat latihan yang ku jalani menjadi berkali – kali lipat lebih menyikssa.
Melewati tahun ketiga, Gai sensei mulai mengajarkan tentang Taijutsu. Tapi gai sensei mengatakan bahwa aku harus mencari jalan taijutsu ku sendiri. Tapi aku rasa dia benar. Jika aku ingin melindungi Gai-sensei suatu saat nanti, maka aku harus bisa melampaui jalan taijutsu-nya.
Selama dua tahun aku belajar tentang dasar taijutsu. Tidak ada teknik spesial yang diajarkan padaku. Lagi – lagi dengan alasan untuk mecari jalan Taijutsu ku sendiri.
Memasuki tahun ke enam aku mulai mengembangkan sebuah jalan Taijutsu ku sendiri. Walaupun harus ku akui bahwa mengikuti jalan Taijutsu yang sudah ada lebih mudah dar pada membuat jalan Taijutsu ku sendiri.
Saat membuat jalan taijutsu ku itu hampir membuatku menyerah. Aku bahkan merasa bahwa latihan ekstrim yang selama ini ku lakukan tidak ada gunanya sama sekali.
Tapi lagi – lagi senyum dan semangat yang diberikan Gai-sensei bisa memompa semnagtku lagi. Memberikaku semangat masa muda yang selalu menjadi pegangannya. Dan mungkin juga kini sudah menjadi penganganku.
Satu kegiatan lagi yang menjadi kegiatan tambahanku yaitu berkerja paruh waktu sebagai kuli panggul. Sebenarnya Gai-sensei sudah melarangku untuk mengambil pekerjan. Tetapi aku tetap memaksa dengan alasan untuk latihan tambhan yang produktif.
Alasan sebenarnya yaitu untuk meambah keunangan yang aku dan Gai-sensei perlukan untuk terus hidup. Walaupun Gai-sesei selalu berusaha untuk menutupinya. Tapi aku tahu, Yondaime Hokage membekukan hampir semua misinya.
Dia hanya bisa mendapatakan penghasilan dari misi rank D yang bernilai rendah. Namun dia selalu mengatakan bahwa dai masih memiliki cukup tabungan untuk hidup hingga usia tua.
Tapi walau bagaimanapun aku tahu bahwa Gai-sensei berbohong. Hidup bersama selama enam tahun membuatku bisa membedakan saat Gai-sensei bicara jujur dan tidak. Dan saat ia mengatakan kalau ia masaih memilliki tabungan untuk masa tuanya. Itu hanyalah kebohongan belaka.
Hingga aku memutuskan untuk bekerja sebagai kuli panggul. Memang tidak mendapatkan bayaran yang setimpal dengan apa yang dikerjakan. Tetapi seteidaknya aku bisa meringankan beban yang ditanggung oleh Gai – sensei.
Sempat terfikir untuk bekerja pada paman Ichiraku. Tapi segera ku buang niatan itu jauh – jauh. Aku bisa membayangakan apa yang akan terjadi jika aku bekerja di Ichiraku ramen. Penduduk yang tidak menyukaiku pasti akan menyebarkan gosip – gosip buruk tentang Ichiraku ramen. Dan aku tidang menginginkanya.
Saat ini aku sedang berada di taman Konoha. Hari ini adalah hari liburku. Libur dari rutinitas harianku baik dari latihan maupun kerja sambilanku. Duduk memandang ke arah bunga – bunga taman yang kini telah bermekaran.
Memandang birunya langit yang dihiasai oleh awan tipis yang bergerak perlahan. Menikmati suara merdu burung yang salaing bersahut – sahutan. Semilir angin yang mebuat rambut kuning kemerahanku bergerak seirama dengan hembusan angin.
Merasa cukup puas unutuk menikmati keikamatan yang diberikan alam aku segera beranjak dari tempat itu. Karena sebentar lagi taman itu akan dipenuhi oleh anak – anak yang baru pulang dari akademi.
Bicara tentang akademi. Sebenarnya Gai-sensei pernah menyarankanku untuk mendaftar sebagai murid akademi. Tapi aku menolak. Walau aku ingin, aku menolak. Walau jiwa kanak – kanakku ingin untuk berinteraksi dengan anak – anak sebayaku. Tapi aku berusa untuk menolak. Karena jika aku mengikuti akademi maka waktu yang ku miliki akan berkurang. Dan jika waktuku berkurang otomatis aku tidak bias mencari pekerjaan tambahan.
Saat aku sadar dari segala fikirnaku tadi, aku telah berada di sebuah hutan. Bukan hutan kematian, ini hanyalah hutan biasa di pinggiran desa.
Tanpa menghentikan langkahku, kau terus berjalan menyusuri hutan tersebut ketika mendengar suara terikan berulang kali. Bukan teriakan ketatukan. Tetapi sebuah teriakan semangat yang tercampur kesedihan.
Ku alihkan langkahku menuju sumber suara tersebut. Mengarahkanku pada sebuah tanah lapang yang cukup luas dengan seorang anak yang berulang kali memukul batang pohon hingga mengelupas kulit pohon tersebut sembari berteriak. Tanganya pun tidak terelak dari efek samping dari memukul pohon berulang kali.
Kulit tanganya yang berbenturan langsung dengan batang pohon terkelupas. Mebuat dara mendesak keluar dari luka yang ditimbulkan. Luka yang ditimbulkan jika terus menerus memukul batang pohon tanpa melapisinya dengan cakra. Hal yang aku sadari bahwa anak yang sedang ku perhatikan itu memiliki sangat sedikit kapasitas cakra.
Ninja sesor? Jangan bercanda aku bukanlah anak spesial seperti itu. Lagi pula jika dibandingkan dengan anak itu. Anak itu sedikit lebih beruntung. Setidaknya anak itu bisa mempraktekkan jurus dasar ninja. Sedangkan aku, Aku bahkan terlahir tanpa ada sedikitpun cakra yang mengalir dalam tubuhku.
Ini adalah keterampilan yang diajarkan oleh Gai-sensei. Gai-sensei menyebutnya mendeteksi aura. Dan pada umumnya aura yang ditimbulkan oleh seorang ninja adalah hasil dai pembakaran cakra. Jadi bukanlah hal yang sulit untuk menyimpulkan hal itu.
Terus menerus memukul tanpa memperdulikan tangannya yang terluka. Hingga aku mengitrupsi apa yang anak itu lakukan.
"Hey... Apa yang kau lakukan?"
"..."
Mendengar suaraku seketika anak itu mengalihkan pandangannya ke arahku. Mebuatku bisa melihatnya dengan jelas. Seorang anak seusiaku dengan model rambut bob, alis tebal dan mata lebar yang mengingtakannya dengan sang sensei. Minus pakaian yang dikenakannya.
"Apa yang kau lakukan?"
Tanyaku kembali karena anak yang kutanyai masih diam sembari mandagku dengan penasaran
"A,aku... Aku sedang berlatih"
"Heee... Lalu apa jenis latihanmu?"
"A,kau sedang latihan Taijutsu?"
"Kenapa kau berlatih sendiri. Bukankan kau murid akademi? Serahurnya kau sudah diajari ninjutsu dasar dari akademi bukan."
"Aku... Aku ingin menjadi lebih kuat. Aku ingin menjadi seorang master Taijutsu"
"Impianmu terlalu dangkal. Dan lagi yang kau lakukan bukalah sebuah latihan kau hanya mencoba mneghancurkan tubuhmu tanpa hasil"
"..."
"Menjadi master Taijutsu? Lalu saat kau mencapainya apa yang akan kau lakuakan?"
"..."
"Dengarkan ini... Jika kau hanya ingin menjadi yang terkuat untuk dirimu sendiri kau tidak akan pernah bisa berkembang"
"..."
Aku sadar bahwa telah mengucapkan kata yang kejam kepada anak itu. Tapi seperti kataku. Jika dia hanya ingin menjadi kuat untuk diri sendiri. Maka dia tidak akan pernah berhasil. Setidaknya aku akan melihat bagaimana anak itu menganggapi perkataanku.
Kejam memang. Salah satu sifat yang diwariskan Gai – sensei. Selain sifat eksentriknya.
Meninggalkan anak itu dalam keheningan. Berjalan hingga keluar dari hutan tadi tanpa lagi mengucap kata.
Sesekali melirik pada anak tadi yang kini tengah menundukan kepalanya dan mengepalkan tangannya. Membuat tangan yang sebelumnya terluka kembali mengucurkan darah.
"Kita lihat nanti...!"
Ucapku ketika benar – benar keluar dari hutan. Berharap menemukan sesutau yang menarik.
V
V
v
~~Emperor of The World~~
Seminggu sudah belalu sejak kejadian di hutan. Kehidupanku masih berjalan seperti biasa. Latihan, bekerja, latihan, bekerja begitulah seterusnya. Tidak ada waktu bermain. Bermian hanyalah unutk anak dengan masa kecil yang bahagia, sedangkan aku berbeda. Tidak perlu aku jelaskan aku rasa kalian sudah mengerti.
Latihanku mulai mengalami kemajuan, walau tidak secepat yang kubayangkan. Taijutsu yang ku kembangkan sedikit demi sedikit mulai menjadi satu kesatuan, terstruktur dan cocok untuk ku.
Memang hal yang paling ditekankan oleh Gai-sensei tentang taijutsu adalah kecocokan pengguna dan taijutsu yang digunakannya. Contohnya seperti pengguna pedang tidak akan dapat mengeluarkan potensi maksimalnya jika ia menggunakan tombak.
Pernah Gai sensei menjarkanku aliran Taijutsunya, Gentle Fist. Tapi seminggu kemudian Gai sensei langsung menghentikan latihannya, dan memintaku membuat aliaran Taijutsu ku sendiri. Tentunya dengan pengawasan dari Gai-sensei.
Walaupun begitu tetap saja aku bisa menggunakan tenik Rengge seperti Gai sensei. Tapi seperti kataku tadi. Aku tidak bisa memaksimalkan tenik itu hingga potensi terbesarnya.
Melupakan segala hal itu, Kini kembali aku bisa kembali merasakan liburan. Dan taman konoha lagi – lagi menjadi tempatku untuk menikamati liburanku.
Teringat akan sesuatu aku segera beranjak dari taman dan berjalan ke arah pinggir desa. Ke sebuah tempat dimana aku bertemu seorang anak.
Terus menelursuri jalan menuju ke hutan di pinggir desa. Bukan karena apa. Aku hanya sedikit berharap jika anak itu tidak menyerah hanya dengan kata – kataku tempo hari.
Walaupun menyakitkan, tapi apa yang ku katakan padaya bukanlah sebuah kebohongan. Itu adalah sebuah fakta yang harus dia tahu cepat atau lambat. Dan aku rasa dengan mengetahuinya lebih cepat maka dia bisa memiliki cukup kesempatan untuk memperbaiki dirinya.
Teriakan – teriakan semangat mulai memasuki indra pendengaranku. Hee... sepertinya anak ini tidak mengecewakanku. Berjalan lebih cepat menuju tempat itu. Mengarah ke sebuah tanah lapang yang dulu enjadi tempat pertemuanku dengan anak itu.
Walaupun ada sedikit kekecewaan yang timbul pada anak itu ketika melihatnya sedang memukul – mukul batang pohon sama seperti seminggu yang lalu.
"Masih melakukan hal bodoh itu?"
"..."
Kalimat yang meluncur dari mulutku dengan sukses mengalihkan pandanganny padaku.
"Masih melakukan hal bodoh itu?"
"Aku sedang berlatih. Aku tidak sedang melakukan hal bodoh."
Hoo... nampaknya anak ini sudah mendapatkan kepercayaan dirinya lagi. Tidak seperti saat aku menemuinya minggu lalu. Saat dia terlihat seperti anak yang mengalami krisis mental.
"Lalu apa yang kau lakukan? Melukai diri sendiri tanpa manfaat seperti itu bukanlah latihan"
"..."
"Dan bukankah sudah ku katakan. Kau tidak memiliki tujuan yang cukup untuk menjadi lebih kuat"
Ku lihat anak itu kembali menundukan kepalanya. Terasa seperti deja vu, kejadian yang persis sama seperti minggu lalu. Sepertinya aku harus menelan pil kekecewaan.
"Pulanglah! Lakukanlah hal yang lebih berguna!"
Setelah mengatakan itu segera ku balikkan tubuhku, berniat meninggalkanya. Tapi sebelum aku berhasil mengambil langkah pertamaku, aku langsug terhenti karena sebuah teriakan"
"AKU MEMILIKI TUJUAN"
"..."
"AKU HARUS MENJADI LEBIH KUAT UNTUK MENCAPAI TUJUANKU"
"Hee... Lalu apa tujuanmu? Menjadi master Taijutsu seperti yang kau katakan minggu lalu? Kheh... Tidak berguna!"
"YA AKU INGIN MENJADI MASTER TAIJUTSU. AKU INGIN MENJADI LEBIH KUAT AGAR AKU MAMPU MELINDUNGI YANG LEMAH"
"Ha... ha... hahaHAHAHAHAHA"
"... APANYA YANG LUCU HA?"
"Omoshiroi... Tujuanmu sebenarnya terlalu klise. Tapi aku juga tidak menyaalahkannya."
"..."
"Tapi tetap saja cara yang kau gunakan untuk mencapainya tidaklah tepat."
"I,Itu karena aku tidak punya mentor yang bisa ku mintai saran"
"..."
"Hampir semua palajaran di akademi hanya menyangkut tentang cakra."
"hmm... lalu?"
"A,aku... tidak memiliki cukup cakra. Jadi jalan satu – satunya bagiku adalah Taijutsu"
Aku tertegun mendengar perkataan anak di depanku. Dia sama sepertiku dulu sebelum bertemu dengan Gai-sensei. Mungkin lebih baik aku mengambil bagian dalam kisah anak ini. Haaah... biarlah setidaknya aku ingin meneruskan kebaikan dari Gai-sensei.
"Jadi kau ingin menjadi kuat?"
"Iya... Aku ingin!"
"Kalau begitu perkenalkan, namaku Uzumaki Naruto. Aku akan memberikanku beberapa saran dan tips untuk latihanmu."
"..."
"Maa... walaupun aku juga dalam proses belajar. Tapi setidaknya lebih baik dari pada membiarkanmu menghancurkan tubuhmu tanpa tujuan yang jelas seperti itu"
"A...Apa kau sungguh – sunggguh? Eeehhh... Errr... Salam kenal, namaku Rock Lee"
"Ya... aku serius. Lagi pula aku juga bisa mendapatkan teman sparing yang seumuran denganku."
"A...ARIGATOU UZUMAKI-SAN! HUEEE... AKU SENANG. AKU SANGAT SENANG"
"Maa, maa... sekarang kita mulai latihannya. Sekarang aku akan mengajarimu bagaimana cara menghancurkan tubuh untuk mendapatkan hasil latihan yang maksimal."
Ucapku dengan penuh nada horor yang ku buat semenakutkan mungkin. Sedangkan Lee hanya bisa menelan ludahnya dengan paksa dengan tampang ketakutan.
"..."
"Sebaiknya kau bersiap"
Hahaha... sepertinya aku akan betah melatih anak ini. Haahaha... selamat datang di neraka Lee... hahhaha...
Shimata... Sifat sadisku kumat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Hai... minna! Ane muncul lagi. Maaf karena gak ada kabar dua minggu ini. Soalnya tugas kuliahan ane udah gak tanggung – tanggung sadisnya. Dalam 1 minggu aja tidur gue udah bisa di hitung jari...
Udah deh... waktu buat nulis jadi kesita buat tidur.
Maaf ya lambat update...
Maaf ya kalau gak bagus...
Ane juga gak pernah bosen – bosenya terimakasi sama reader yang udah nge-review, follow dan favorite fic ane...
Udah gitu aja kali ya!
..
.
.
.
Wisesa Kazehaya
Log Out
