Summary :

Uzumaki Naruto. Anak yang dicintai oleh alam semesta tetapi di benci oleh penduduk desanya sendiri walaupun itu bukanlah hal yang pantas ia tanggung. Bersama hewan kuchiyose yang malah memilih untuk desegel dalam tubuhnya mampukah Naruto mencapai impiannya? Warn. Taijutsu Naru, SageMode Naru, Smart Naru.

Desclaimer : Naruto bukan punya ane. Naruto kepunyaannya Masashi-sensei.

Warning : OOC Naru, OOC Minato, Typo bertebaran, Bahasa berantakan, Iritasi berlebihan. Mata merah, hidung tersumbat, sesak nafas, bibir pecah - pecah dan gangguan kesehatan lainnya.

Rating : M

Pair : Naruto x ? ()

"Aku Uzumaki Naruto" -Normal

'aku uzumaki naruto' -Inner

"aku uzumaki naruto" -Monster/Angry

'aku uzumaki naruto' - Mindscape/Dream

Jikukan Kekkai -Jutsu

Ane saranin kalau gak suka mending langsung di tutup aja ya!

Yosh… selamat membaca

V

V

v

~~Emperor of The World~~

~~Sebelumnya

"Maa... walaupun aku juga dalam proses belajar. Tapi setidaknya lebih baik dari pada membiarkanmu menghancurkan tubuhmu tanpa tujuan yang jelas seperti itu"

"A...Apa kau sungguh – sunggguh? Eeehhh... Errr... Salam kenal, namaku Rock Lee"

"Ya... aku serius. Lagi pula aku juga bisa mendapatkan teman sparing yang seumuran denganku."

"A...ARIGATOU UZUMAKI-SAN! HUEEE... AKU SENANG. AKU SANGAT SENANG"

"Maa, maa... sekarang kita mulai latihannya. Sekarang aku akan mengajarimu bagaimana cara menghancurkan tubuh untuk mendapatkan hasil latihan yang maksimal."

Ucapku dengan penuh nada horor yang ku buat semenakutkan mungkin. Sedangkan Lee hanya bisa menelan ludahnya dengan paksa dengan tampang ketakutan.

"..."

"Sebaiknya kau bersiap"

Hahaha... sepertinya aku akan betah melatih anak ini. Haahaha... selamat datang di neraka Lee... hahhaha...

Shimata... Sifat sadisku kumat.

V

V

v

~~Emperor of The World~~

Pertemuanku dengan Lee kemarin memberikan dampak yang luar biasa. Bukan hanya pada Lee, tapi juga padaku. Setelah memberikan beberapa tips latihan kepada Lee, aku sadar bahwa aku masih sangat lemah.

Aku bahkan merasa Lee bisa mengejar ku dengan mudah. Memang yang ku ajarkan padanya hanya teknik – teknik dasar. Tapi dia bisa menguasainya dengan cepat. Bukan karena Lee adalah seorang jenius. Tapi karena ia adalah seorang pekerja keras.

Dia mencurahkan semua hal yang dimilikinya. Pikiran, tenaga, usaha, dan semangatnya hanya untuk menguasai satu gerakan. Dia tidak pernah berhenti sebelum mengusainya dengan sempurna.

Walaupun tidak berbeda jauh dengan caraku. Tapi tetap saja, saat ini aku seperti sedang berjalan ditempat tanpa ada perkembangan.

Maka dari pada itu hari ini kuhabiskan hanya dengan duduk berkonsentrasi untuk menyempurnakan jalan Taijutsu ku.

Menyusun gerakan demi gerakan, pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan dalam otakku. Mensimulasikannya, memperbaikinya, lalu kembali mensimulasikannya.

Jika di lihat dari sudut pandang orang lain maka aku saat ini hanya duduk diam di atas sebuah batu besar di pinggir sungai.

Hal ini terus ku lakukan hingga tanpa ku sadari matahari sudah hampir bersembunyi dibalik gelapnya malam. Tapi tetap saja aku sangat puas dengan pencapaian hari ini.

Tapi belum sempat aku untuk setidaknya merayakan keberhasilanku hari ini intingku sudah berteriak untuk menghindar. Dan benar saja batu yang sudah ku dudukki sepanjang hari itu sudah hancur berkeping – keping. Dan Pelakunya adalah Gai-sensei.

"Apa kau berniat membunuhku Gai-sensei?"

Ya... pelaku pengahancuran batu itu adalah Sensei ku, Maito Gai. Dia melihatku dengan pandangan datar. Oohhh... sepertinya dia salah paham.

"Kenapa kau malah bersantai disaat kau harusnya berlatih NARUTO?"

"Anoo... Sensei ak-"

"Aku tidak terima"

Gai sensei berucap sembari menundukan keplanya membuatku sulit untuk melihta bagaimana ekspresinya saat ini.

"..."

"Dan lagi aku tidak bisa terima... KAU MENGHABISKAN PUDING YANG KU SIMPAN SEORANG DIRI!"

Eeeee... aku sepertinya dapat karma dari apa yang kulakukan. Aku lupa mengganti puding milik Gai-sensei yang kumakan tanpa sepengetahuannya. Astaga... aku spertinya akan terlibat sparing dengan alasan super bodoh.

"AWAS KAU NARUTO"

Dengan teriakan itu Gai-sensei langsung melesat ke arahku dengan kecepatannya. Seperti yang diharapkan dari soerang master taijutsu dan orang yang menyandang gelar sebagai orang tercepat kedua di konoha setelah Yondaime Hokage.

Kecepatan yang ditunjukannya tidak main – main. Gerakan yang dilakukannya seperti sebuh lintasan hijau yang sesekali berubah layaknya sebuah blur.

Tiba – tiba sebuah kepalan tangan sudah berada tepat di sudut mataku. Seperti yang diharapan dari Gai – Sensei.

Tidak ingin mencoba merasakan tinju itu segera ku gerakan kepalaku kebelakang sehingga pukulan itu hanya melintas tepat di depan hidungku. Mengambil lompatan jauh kebelakang.

Tubuhku bergerak otomatis membentuk kuda – kuda dimana aku melebarkan kaki ku lalu menekuknya hingga rata – rata air. Kedua tanganku membentuk kepalan kemudian ku rentangkan miring kedepan sedikit ditekuk dan satunya lagi ku tekuk di pinggang. Itu adalah kuda – kuda dari gerakan dasar Tijutsu yang aku kembangkan. Taijutsu yang kuberi nama Guren.

Sebuah Taijutsu yang original dariku yang masih dalam tahap pengembangan. Tijutsu yang ku buat dengan beberapa tingkatan. Dan saat ini aku tengah memasang posisi awal dari tingkat pertama.

Tingkat dimana aku mengutamakan pertahanan. Tapi bukan hanya pertahanan biasa. Pertahanan dimana semakin kuat kau menyerang maka semakin kuat pula balasan yang kau dapatkan.

"Sekarang kita lihat sejauh mana perkembangan Taijutsu mu Naruto"

Kembali Gai-sensei menghilang dalam kecepatan setelah menyelesaikan kalimatnya, lalu tiba – tiba muncul tepat di hadapanku dengan posisi sudah siap memberikan tendangan padaku.

Memeringkan sedikit tubuhku, membiarkan tendangan itu mengikis sedikit pakaian yang ku kenakan. Tidak ingin membuang kesempatan, aku segera menangkap kaki itu lalu memutarnya beberapa kali. Melepaskan penganganku hingga momontum dari putaran itu membuat kaki yang ku putar bersama dengan pemiliknya itu terlempar jauh.

Tanpa membuang kesempatan aku segera beralih pada posisi menyerang lalu melesat kearah jatuhnya Gai-sensei. Memberikan tendangan kapak padanya. Namun Gai-sensei lagi – lagi menunjukan keahliannya. Dalam posisi melayang terbalik, Gai-sensei menggunakan kakinya untuk menahan tendanganku sedangkan tangannya dijadikan tumpuan di tanah.

Menggunkan tangannya untuk memutar tubuhnya, Gai-sensei menggunakan kakinya yang bebas untuk mengirimkan tendangan kearahku. Tidak ingin menerima tendangan dengan tenaga monster dari Gai-sensei, aku segera memposisikan sisi tanganku sebagai pelindung. Waaupun berhasil melindungi tubuhku dari serangan langsung. Tetap saja tendangan itu berhasil membuatku terpental menjauh.

Tidak lama memang, tapi cukup untuk membuat Gai-sensei berhasil mengambil posisi seimbangnya lagi.

"AYO KITA TINGKATKAN LAGI NARUTO"

"HAI... GAI-SENSEI"

Dengan pembicaraan atau lebih tepat jika disebut teriakan kami langsung membuat kuda – kuda masing – masing. Gai sensei dengan kuda kuda Gentle Fist, sedangkan aku menggunkan posisi menyerang dari Guren dimana kedua kaki ku tekuk hingga rata – rata air dengan kepalan tangan kanan ku menyentuh permukaan tanah sedangkan tangan kiri ku mencengkram lutut. Selanjutnya aura kekuatan segera mengguar dari tubuh kami. Aura yang membuat kerikil yang berada di sekitar kami perlahan – lahan mulai terangkat.

Merasa semua persiapan yang dibutuhkan telah siap, kami langsung saja meneriakan nama teknik kami.

"Hachimon Tonko: Seimon Kai"

Dengan teriakan itu ledakan cakra hijau dan merah meletup letup dari tubuh kami. Sebenarnya teknik yang sedang kami gunakan ini sama - sama Hachimon Tonko. Tapi yang saat ini ku gunakan bukanlah teknik original. Tapi sebuah teknik yang ku salin dari Hachimon tonko. Itulah yang membuat aura yang dikeluarkannya berbeda dengan hachimon yang original.

"IKUSO"

~~Normal POV

Training ground 21 saat ini menjadi saksi dari sebuah pertarungan antara pasangan guru dan murid penuh semangat masa muda konoha. Dua aura berbeda warna kini tengah beradu dengan kecepatan yang bahkan sangat sulit untuk di lihat dengan mata telanjang.

Mereka adalah Monster Hijau Konoha, Maito Gai dan Anak Terkutuk, Uzumaki Naruto. Sebuah pertarungan yang berlangsung karena alasan yang sangat arbsurb bagi kebanyakan orang. Tidak kebagian puding, mungkin adalah kalimat tersimple yang bisa disimpulkan. Kita lupakan sejenak tentang alasan dari pertarungan ini dan kembali pada pertarungan yang sedang berlangsung.

Pertarungan berkecepatan tinggi itu membuat training ground yang menjadi lokasi pertarungan mejadi tidak berbentuk lagi. Lubang di sana sini, pepohonan yang tumbang, dan batu - batu besar yang hancur berkeping – keping telah menjadi saksi dari pertarungan yang mereka lakukan.

Pertarungan berkecepatan tinggi itu terus berlangsung hingga pada akhirnya Gai berhasil mendaratkan tendangan supernya tepat ke perut Naruto. Membuat Naruto seketika melesat dengan cepat hingga akhirnya berhenti setelah menumbangkan tiga pohon besar dengan punggungnya.

"NARUTO... AYO KITA TINGKATKAN LAGI PERTARUNGAN INI"

Teriakan itu seketika membuat naruto harus bersusah payah mengalihkan perhatiannya ke arah sang Sensei. Walaupun Seluruh tubuhnya berteriak kesakitan, terutama pada bagian punggungnya.

"KAU BERCANDA GAI-SENSEI? TUBUHKU BELUM CUKUP KUAT UNTUK MENAHAN BEBAN YANG DIBERIKAN AKIBAT PENGGUNAAN GERBANG SELAnJUTNYA"

"MEH... BERHENTI MEMBUAT ALASAN NARUTOO! TUBUH UZUMAKI YANG KAU MILIKI SUDAH CUKUP UNTUK MEREDAM SEMUA EFEKNYA"

"SUDAH KU TAKAN BERULANG KALI... WALAUPUN AKU ADALAH SEORANG UZUMAKI, TETAP SAJA AKU BARU BERUMUR DUABELAS TAHUN"

"..."

Usaha Naruto untuk menjelsakan situasinya pada Gai sepertinya tidak berhasil. Memang Naruto akui butuh lebih dari itu untuk membuat sang Sensei mendengarkan apa yang ia katakan.

"OOOIIII... APA KAU MENDENGARKU BAKA SENSEI?"

"Hachimon Tonko: Gomon"

"Shimata... Ano baka Sensei"

"Kai"

Sekali lagi ledakan aura hijau meledak di atas Training Ground 21. Tapi kali ini aura hijau yang bersumber dari pria yang di sebut Monter Hijau Konoha itu terasa lebih pekat, sarat akan kekuatan. Urat –urat mulai bermunculan di keningnya menandakan darahnya yang terpompa dengan sangat kuat.

Sedangkan naruto hanya bisa merelakan tubuhnya kembali menerima rasa sakit dari akibat hembasan kekuatan dari penggunaan gerbang kelima yang digunaka oleh sang sensei. Hempasan yang membuatnya lagi lagi merasakan tekstur bebatuan di punggunya.

"Cih... kalau begini sudah tidak ada jalan lain. Tapi jika aku menggunakan tingkatan selanjutnya, sudah bisa dipastikan aku tidak akan bisa bergerak selama tiga hari. Dan lagi durasi penggunaanya... cih benar – benar sial"

Berbicara pada dirinya sendiri. Hal yang cukup gila tapi tidaklah aneh mengingat bagaimana tingkah sang Sensei. Terdiam sebentar memikirkan akibat yang akan muncul jika ia mengikutihasrat bertarung yang dimiliki sang sensei.

Bukanya apa, jika dia menggunakan tingkat selanjutnya dari teknik copy-an yang ia beri nama Guren Hachimon Tonko itu, berarti dia harus membuat sang sensei bekerja sendiri sembari merawatnya yang tidak bisa bergerak.

Dan jika dia tidak melakukan apa – apa maka hasilnya akan sama saja. Dia hanya akan berakhir dengan dihajar oleh sang sensei dengan tenaga monsternya yang sedang dalam mode gerbang kelima yang terbuka.

"Aaaa... Aku bisa menggunkaan itu"

Berhasil menemukan solusi yang tepat untuk masalah yang kini dihadapinya, Naruto segera berdiri dari posisi duduknya. Meningkatkan kembali aura kemerahan dari penggunaan gerbang ketiga dari Guren Hachimon Tonko.

Menggigit ibu jari tangan kananya hingga mengeluarkan darah, lalu kemudian melumuri darahnya di ujung – ujung jari lainnya. Sementara tangannya yang bebas ujung baju yang dikenakannya hingga menunjukakan tulisan - tulisan aneh yang tercetak diatas perutnya.

"Semoga dengan ini bisa..."

Menempelkan ujung – ujung jari yang telah dilumuri darah tadi diatas rangkaian tulisan – tulisan aneh ditas perutnya. Lalu kemudian memutarnya layaknya memutar toples.

"Gravitation Seal: Kai"

Bersamaan dengan itu, tanah yang menjadi tempat berpijak Naruto seketika amblas membentuk kawah dengan Naruto sebagai pusatnya. Aura kemerahan yang keluar dalam tubuhnya mengguar dengan lebih liar dari sebelumnya.

Sedangkan tubuhnya sendiri terlihat memerah seperti baru saja di rebus dalam air mendidih, dengan asap putih yang terlihat menguap dari kulitnya.

Sekali lagi mengambil kuda - kuda Guren, dimana kedua kakinya di tekuk hingga rata – rata air, kepalan tangan kanan yang disentuhkan di permukaan tanah dan tangan kiri yang mencengkram lututnya. Wajahnya tertunduk sehingga ekspresinya tidak terlihat.

"Guren Hachimon Tonko: Seimon..."

Mengangkat wajahnya, menampilakan ekspresi keseriusan yang luar biasa. Matanya menajam bagaikan elang yang sedang menggunci targetnya.

"Second Liberation"

Sedangkan Gai yang melihat muridnya lagi – lagi menunjukan teknik baru kepadanya benar – benar membuatnya merasa bangga karena menjadi orang yang dipanggil Sensei oleh anak jenius di depannya itu.

Dia bahkan tidak pernah menyangka jika kata – kata yang dulu dia ucapkan bisa membuat anak didiknya itu berkembang sepesat ini. kalimat yang masih ia ingat dengan baik.

'Jalan taijutsu kita berbeda Naruto. Cari jalanmu sendiri dan jadilah kuat dengan jalan yang kau pilih'

Kalimat itulah yang mulai membawa perubahan pada anak didiknya. Mulai dari Taijusu original yang dibuat sendiri oleh Naruto dengan mempertimbangkan semua aspek yang dimilikinya. Selanjutnya merekontruksi teknik Hachimon Tonko-nya sehingga sesuai dengan tubuh Uzumaki yang dimilikinya. Teknik yang kemudian ia tahu bernama Guren Hachimon Tonko.

Tapi sepertinya rasa bangga yang dirasakan oleh Gai harus disimpanya hingga pertarungan ini berakhir setelah melihat Naruto tiba – tiba menghilang dari posisinya, dan muncul di sudut matanya dengan posisi telapak tangan kiri yang direntangan ke arahnya sedangka tangan kanannya terkepal tetap di samping pipinya sediri.

Dan hal yang berikutnya dirasakan oleh Gai adalah rasa sakit di perutnya. Rasa sakit yang berhasil membuatnya terseret sejauh lima meter dari posisi awalnya. Tapi Gai sangat yakin Naruto sama sekali belum menggerakan tangan ataupun kakinya. Lalu dari mana serangan itu?

Tidak ingin ketinggalan momentum pertarungan Gai langsung melesat ke arah Naruto sembari menyiapkan pukulannya. Ketika posisinya tepat berada di depan Naruto Gai langsung melancarkan pukulannya tepat ke arah Naruto. Tapi saat pukulan itu hanya tersisa beberapa senti sebelum mengenai sasaranya, Naruto sudah menghilang dari posisinya dan tiba – tiba muncul tepat di belakang Gai.

Muncul kembali dengan posisi yang sama, dimana telapak tangan kiri di arahkan kedepan dan tangan kanan terkepal tepat di samping pipinya. Dan rasa sakit lagi – lagi rasa sakit kembali harus diarasakan oleh Gai dan kali ini dari punggungnya. Membunya terlempar kembali.

Dua serangan yang tidak bisa diprediksi sudah berhasil mendarat di tubuhnya. Jelas itu bukanlah kebetulan. Tidak ingin mengalami hal yang sama Gai melompat mundur menjaga jarak dari Naruto. Mengobservasi semua kejadian yang tadi dialaminya. Hingga ia bisa menarik sebuah kesimpulan.

"OI NARUTO... GUREN HACHIMON TONKO: SEIMON SECOND LIBERATION MU ITU MEMBUATMU BISA MEMILIKI KECEPATAN YANG SAMA BAHKAN MELEBIHI KECEPATAN HACHIMON TONKO: GOMON KAN..."

"..."

"TETAPI KEKUATANNYA MASIH BERADA PADA LEVEL HACHIMON TONKO: SEIMON KU KAN..."

"..."

Mendengar kesimpulan yang diucapkan oleh Gai tidak membuat Narutomerubah ekspresi ataupun posisinya. Naruto masih tetap memasang ekspresi serius sama seperti sebelumnya. Tidak membenarkan ataupun menyalahkan pendapat dari sang Sensei.

"SOU KA... NO COMENT KA..."

"..."

"KALAU BEGITU..."

Tanpa menyelesaikan kalimatnya Gai langsung melompat tinggi dengan kedua tangannya di kepal di pinggang.

"KITA LIHAT BAGAIMANA KAU MENGHINDARI INI"

Memukulkan tangannya ke udara silih berganti menciptakan ratusan bahkan ribuan pukulan - pukulan api tercipta dari udara dan mengarah pada Naruto.

"Asa Kujaku"

Melihat ribuan serangan mengarah padanya tidak membuat Naruto mengubah ekspresinya. Menatap tajam pada hujan api di depannya itu Naruto bergerka dengan kecepatannya menghindari serangan demi serangan muncul dari satu tempat ke tempat lain tanpa meninggalkan jejak ataupun bayangan layaknya teleportasi.

Terus menghindari seranga demi serangan api membuatnya lalai mengawasi si pembuat serangan dan terbukti setelah menghindari serangan api yang terakhir Gai tiba - tiba sudah muncul tepat di hadapannya, memberikan pukulan dengan kekeuatan monster yang sukses mendarat di perutnya tanpa bisa ditangkis lagi.

Pukulan bertenaga monterius itu sukses mengirim Naruto menghancurkan pohon dan batu yang menghalangi jalur hempasannya. Hinga akhirnya dihentikan oleh tebing batu yang bahkan sudah berhasil di buat bermotif retakan laba – laba dengan punggungnya. Memuntahkan darah dari mulutnya.

Menonaktifkan teknik Guren Hachimon Tonko nya sebelum tubuhnya jatuh tengkurap di tanah. Kini Maruto sudah tidak bisa lagi menggerakkan tubuhnya. Otot dan tulang – tulang dalam tubuhnya terasa terbakar. Efek dari penggunaan Second Liberation. Dengan susah payah Naruto akhinya bisa membalikkan tubuhnya menghadap ke langit yang sudah memerah menandakan matahari sudah hampir menyelesaikan tugasnya hari ini.

Tidak berselang lama Gai tiba di tempat terbaringnya Naruto. Langkahnya masih terlihat santai bahkan nafasnya tetap tenang seperti biasanya, tidak terlihat bahwa ia barus aja melakukan pertarungan dan menghancurkan training ground dengan jurusnya. Seperti yang diharapkan dari orang yang menyandang gelar monter hjau dari konoha. Untungnya lagi lokasi training ground dengan desa cukup jauh dan training ground itu sangat jarang di gunakan sebagai tempat latihan.

Berjalan mendekati Naruto dengan grin lebar di wajahnya sembari menepuk – nepuk bajunya yang kotor oleh debu.

"Yaaa... Benar – benar pertarungan penuh semngat. Aku benar – benar membara... HAHAHAHAHA"

Sedangkan Naruto hanya bisa memberengut mendengarkan monolog dari sensei-nya itu.

"Ya... itu menyenangkan hanya untukmu Baka-Sensei"

"Apa maksudmu Naruto. Apakah pertarungan itu tidak membuatmu merasa terbakar semnagt masa muda?"

"Ya... terbakar semangat masa muda yang sangat panas sampai – sampai membuat semua tubuhku terasa terbakar dan tak bisa digerakan"

"HAHAHAHA... itu baru muridku. Saa... ayo kita pulang. Malam ini biar aku yang masak"

Setelah menyelesaikan kalimatnya Gai langsung berbalik dan berjalan, namun kemudian kembali berbalik.

"Apa yang kau tunggu di sana Naruto? Apa kau tidak mau pulang?"

"Aku hanya menunggu ada kumpulan semut yang mau menyeretku kembali ke rumah"

"Hmmm... kalu begitu aku pulang duluan"

Ucap Gai kembali berjalan meninggalkan Naruto dibelakangnya. Sedangkan Naruto hanya bisa kembali mengumpat kerasa akan tinggakh sensei-nya itu.

"OOOOIIII... MATTE BAKA-SENSEEEEEEEEEI"

.

.

~~Naruto POV

Melintasi jalanan konoha dengan Gai-sensei yang menggendongku. Untung saja Gai-sensei tidak benar – benar pulang sendiri meninggalkanku di hutan dengan keadaan tubuh yang yang tidak bisa digerakkan.

Malam kini sudah menyelimuti desa Konoha. Desa yang sudah menjadi tanah kelahiranku. Maa... walaupun aku tidak pernah tahu dimana dan kapan aku tepatnya lahir. Siapa orang tuaku pun aku tidak tahu.

Bukan tidak ingin untuk bertanya pada warga desa tapi...errr... kalian pasti tahu kenapa. Pernah aku bertanya pada Gai-sensei tapi jawabannya malah membuatmu seperti berhenti untuk mencari tahu.

"Aku sama sekali tidak tahu tentang siapa orang tuamu, dimana dan kapankau lahir. Tapi walau bagaimanapun kau saat ini masih punya tujuan bukan."

"Jadi jika kau terus menerus berpaku pada masa lalu kau tidak akan pernah maju. Lagi pula sekarang kau sudah memeliki orang yang penting bagimu kan. Teruslah maju dan kobarkan semangat masa mudamu, lalu biarkan semuanya terjawab seiring berjalannya waktu"

Jawaban yang semakin memantapkan tujuanku. Jawaban yang memebuatku bisa benar – benar menatap ke depan tanpa khawatir lagi tentang apa yang terjadi dibelakang.

"Naruto..."

Pangglan itu seketika membangunkanku dari lamunanku tadi. Panggilan yang berasal dari Gai-sensei.

"Hmmm... Kenapa sensei?"

"Sudah sejauh mana latihanmu?"

"Latihan fisik ku masih berjalan dan masih terus ku tingkatkan. Dan kini aku berhasil mengembangkan Guren sampai pada tahap penyempurnaan."

"hmmm... Lalu bagaimana dengan Guren Hachimon Tonko milikmu?"

"Mengenai itu... tubuhku belum siap untuk menerima beban penggunaan gerbang ke empat dan kelima. Batasku saat ini hanya pada gerbang ketiga dan Second Liberation. Tapi setelah itu pun aku tidak akan bisa menggerakkan tubuhku selama satu hari"

"Aah... teknik baru yang kau gunakan barusan ya?"

"Hai... saat aku membaca tentang fuinjutsu. Aku menemukan hal yang menarik pada fuin yang kau tanam pada tubuhku. Fuin itu memiliki dua tinggkat. Normalnya tingkat pertama akan otomatis terlepas saat aku memasuki gerbang pertama Guren Hachimon Tonko, namun tidak dengan tingkat kedua."

"..."

"Tingkat kedua hanya bisa ku lepas saat memasuki gerbang ketiga. Dan efeknya akan meningkatkan kecepatanku merivali kecepatan pada gerbang kelima mu. Tapi kekuatannya hanya pada level gerbang ketiga."

"Hahahaha... kau benar – benar jenius Naruto. Mengembangkan semuanya sampai pada tingat itu sendirian."

"Itu juga berkat saran dan latihan dirimu Gai-sensei. Tapi aku tetap saja tidak bisa mengembangkan Guren Hchimon Tonko melebihi gerbang kelima. Saat aku ingin memaksimalkannya lebih dari itu, semua energi dalam tubuhku terasa seperti menghilang begitu saja"

"..."

"Mungkin karena tubuhku benar – benar tidak memiliki cakra"

"Naruto..."

"hai..."

"menurutmu siapa yang akan menang dalam pertarungan antara shinobi yang menggunakan katana dengan shinobi yang hanya menggunkan sebilah kunai?"

"Eeeee... secara teknis shinobi yang menggunakan katana yang akan menang"

"yare yare... seperti biasa jawaban dari seorang jenius. Memang secara teknis shinobi yang menggunakan katana yang akan unggul. Tapi bukan berarti yang menggunakan kunai akan kalah"

"eh... kenapa?"

"Memiliki senjata yang lebih bagus memang membuat kita memeiliki peluang menang yang lebih tinggi. Tapi tidak akan membuat kita tak terkalahkan... karena pada akhirnya semua tergantung pada sebesar apa ekad yang kau miliki."

"Tekad?"

"Aaa... tekadlah yang menentukan hasil pertarungan. Semakin kuat tekad yang kau miliki maka semakin kuat dirimu."

"Tekad kah?"

"..."

"Saaa... kalau begitu besok pagi kita akan berlari mengelilingi konoha hanya dengan tangan untuk membakar semangat masa muda kita. APA KAU SIAP NARUTO"

"HAI GAI-SENSEI"

Begitulah terus pebiacaraan berlangsung, hingga membuatku lupa akan kesedihan yang sempat aku rasakan. Tanpa sadar kami sudah sampai di gubuk yang kami sebut sebagai rumah. Melanjutkan hari dengan pembicaraan yang kadang serius dan kadang hanya candaan atau teriakan semangat masa muda. Tapi lagi –lagi itulah yang aku sukai dari Sensei ku ini.

~~Skip Time

Kembali menikmati hariliburku yang singkat, dan kembali pada tempat yang sama ketika kau pertama kalu menemui anak yang bernama Rock Lee. Anak yang mulai bisa ku anggap sebagai teman. Anak yang saat pertama kali ku lihat sedang berlatih menghancurkan tubuhnya.

Kini kami sedang melakukan push up sembari meghitung secara bersama – sama. Sebenarnya disini aku hanya memberikan saran – saran dalam latihannya. Tapi melihatnya berusaha keras untuk berlatih membuatku juga ingin sedikit pemanasan, dan akhirnya aku malah ikut – ikutan berlatih bersamanya.

"tujuh ratus delapan puluh tiga..."

"tujuh ratus delapan puluh empat..."

"tujuh ratus delapan puluh lima..."

"tujuh ratus delapan pu... akh... aku tidak sanggup lagi Naruto-senpai"

"yosh kalau begitu kita ulangi hitungannya kembali dari nol"

"Eeeeeeeehhhhh... Tapi Naruto-senpai..."

"Berhentilah mengeluh Lee. Kau punya tujuan menjadi master Taijutsu bukan. Jika angka seribu adalah tujuan yang ingin kau capai apa kau benar – benar ingin berhenti pada hitungan ke tujuh ratus."

"..."

"Begini saja. Coba kau gerakan tanganku ini"

Ucapku sembari mengangkat tangan kiriku lurus kedepan.

"Ehh..."

"Jika kau bisa menggerakkannya. Kau bisa langsung istirahat. Tidak ada peraturan atau syarat apapun. Kau bebas menggunakan cara apapun"

Lee terlihat bimbang pada awalny, tapi kemudian terlihat memantapkan tekadnya untuk mencoba tantangan yang aku berikan. Berjalan mendekat ke arahku lalu memegang tanganku dengan dengan kedua tangannya lalu kemudian menariknya kebawah.

Raut wajahnya sangat mencerminkan bahwa dia sedang bersusah payah untuk menggerakkan tanganku. Menyerah untuk menggerkakan tanganku hanya dengan menariknya Lee kemudian memasang kuda kuda khas akademi. Lalau emebrikan tendangan pada tanganku. Tapi lagi – lagi dia harus menelan pil kekecewaan karena tanganku bahkan belumbergerak seinchipun dari tempatnya.

"Menyerahlah... dengan kemampuanmu yang sekarang, kau tidak akan bisa mengalahkanku. Bukan karena apa. Telah menggunakan Grafitation Seal sejak aku berumur lima tahun, dan beratnya akan terus meningkat sesuai dengan perkembangan tubuhku"

"..."

"Aku bahkan sudah lupa hitungan beratnya sekarang"

"..."

"Jika kau sudah menyerah hanya dengan melakukan push up. Apa yang akan kau lakukan jika kau dalam posisiku?"

Ku lihat Lee menundukan kepalanya. Kedua tangannya mengepal dengan kuat.

"kenapa kau begitu kuat Naruto-senpai?"

"Tekad Lee... tekadlah yang membuat segalanya mejadi meungkin. Karena kau memeiliki tekad yang kuat lah yang membuatku bisa sampai pada tingkat ini."

"..."

"Lagi pula aku tidaklah kuat. Jika dibandingkan dengan dirimu kau sedikit lebih beruntung. Kau memilki cakra walaupun dengan porsi yang sedikit. Sedangkan aku terlahir tanpa memiliki sedikitpun cakra di tubuhku"

"Apa aku juga bisa menjadi sepertimu Naruto-senpai?"

"Kau tidak harus menjadi seperti ku Lee. Kau harus menjadi kuat sebagai dirimu sendiri. Jika kau menjadikanku sebagai patokanmu kau tidak akan pernah berkembang. Apa kau mengerti Lee?"

"Hai... Naruto-senpai"

"Yosh... Ayo lanjutkan latihanmu"

Begitulah percakapan singkat yang tanpa ku sadari mula merubah pandangan hidup seorang Rock Lee.

.

.

.

.

.

~~Normal POV

Hari – hari pun terus berlalu seperti biasanya. Latihan, bekerja paruh waktu, latihan dan sesekali berlatih bersama Lee. Terus menerus berlangsung.

Dan hari ini adalah hari terakhir Naruto akan berlatih bersama dengan Lee. Bukan karena bosan ataupun tidak ingin. Tapi sepertinya posisinya akan segera digantingkan. Digantikan oleh orang – orang yang akan menjadi rekan se-team dan senseinya nanti.

Perasaan iri tidak bisa ia pungkiri ketika membayangkan bagaimana memiliki rekan – rekan sebayanya. Tapi itu bukanlah masalah. Dialah yang memutuskan untuk tidak mengikuti sistem akademi, dan tidak akan ada penyesalaan akan pilihannya itu.

Hari ini pun Naruto sudah berjanji untuk melakukan sparing. Berdiri saling berhadapan di tempat mereka biasanya berlatih bersama. Lee saat ini tengah memasang kuda – kuda taijutsu akademi. Sedangkan naruto hanya diam berdiri dihadapan Lee.

"Kau siap Lee?"

"Hai... Naruto-senpai"

"Hm... Majulah dengan semua yang kau pelajari selama ini"

Mendengar perintah dari lawannya, Lee langsung melesat maju dengan kecepatan chunin. Kecepatan yang berhasil ia raih berkat latuahnnya. Melesat hingga berjarak satu meter dari posisi Naruto, lalu tiba tiba berbelok sehingga posisinya berada persis di sebelah kiri Naruto. Memberikan sebuah tendangan dengan kaki kanannya tepat mengarah ke wajah Naruto.

Sedangkan Naruto masih diam melihat sebuah tendangan mengarah kepannya. Namun saat serangan itu berjarak beberapa senti lagi dari wajahnya. Secepat kilat jari telunjuknya sudah ada di ujung kaki Lee. Memberikan sebuah dorongan hingga mengubah arah serangan itu, membuat serangan itu hanya menendang angin.

Melihat serangannya gagal, Lee langsung melompat mundur. Mengambil jarak kemudian kembali melesat. Memberikan pukulan dan tendangan ke arah Naruto secara terus menerus. Sesekali melompat mundur untuk sekadar mngambil nafas.

Sedangkan Naruto yang terus – menerus diserang masih tetap tenang, membelokkan serangan dan sesekali menangkapnya. Terus menerus seperti itu hingga Lee mulai terlihat sangat kelelahan.

"Seranganmu sudah cukup bagus untuk ukuran fresh gennin, begitu pula kecepatanmu. Tapi kau masih kurang di bidang fisik. Kau terlalu cepat lelah"

"... Sumimasen Naruto-senpai"

"Ayo kita akhiri sparing hari ini"

Bersamaan dengan kalimat itu, Naruto langsung memasanng kuda-kuda dasar Guren. Sedangkan Lee yang melihat Naruto serius, kembali memasang kuda-kuda taijutsu akademinya dan langung melesat ke arah Naruto.

Melihat Lee yang melesat ke arahnya tak sedikitpun membuat Naruto mengubah ekspresinya.

Lee kali ini mencoba dengan serangan fontal. Memeberikan pukulan tepat ke arah wajah Naruto. Dan sialnya Naruto kembali bisa menghindar dengan menundukan kepalanya. Merendahkan tubuhnya hingga tepat berada di bawah kepalan tangan Lee.

Mengangkat telapak tangannya, Naruto mengarahkan telapak tangan itu mencengkram wajah Lee lalu mendorongnya ke tanah. Sedangkan Lee tidak bisa berbuat apa apa, hanya bisa pasrah ketika tangan itu membawanya semakin dekat menyentuh tanah.

Menciptakan retakan kemudian kawah yang cukup dalam dengan kepala Lee sebagai perantara, membuat Lee seketika langsung pingsan karenanya.

"Haaah... sepertinya aku terlalu berlebihan"

Melepaskan cengkaraman tangannya pada wajah Lee. Naruto kemudian mengambil posisi duduk di sebelah tubuh Lee. Duduk untuk menunggu Lee kembali mengumpulkan kesadarannya yang sepertinya telah melarikan diri akibat benturan yang disebabkan oleh serangan Naruto.

Terus menunggu hingga tanpa ia sadari matahari telah berada pada puncaknya. Dan sepertinya ia akan menajadi alasan Lee tidak bisa menghadiri hari dimana Lee seharusnya mengetahui siapa teman setim dan sensei pembimbingnya.

"Ugh... Dimana ini?"

"Kau sudah sadar Lee?"

"Ugh... Naruto-senpai? Ya... aku suda... Shimata. Berapa lama aku pingsan?"

"Emm... mengingat ini sudah tengah hari, kau sudah pingsan selama empat jam"

"EEEEEHHHH... aku melewatkan pembagian team. Bagaimana ini?"

Naruto yang melihat Naruto panik hanya bisa mengehela nafasnya. Sepertinya ia harus bertanggung jawab akan masalah ini.

"Jadi kau yang bernama Rock Lee?"

Sebuah suara mengalihkan perhatian dua anak itu. Mengalihkannya pada seorang pria yang kini tengah berdiri di atas dahan sebuah pohon besar. Pria yang menggunakan setelan hijau ketat dan rambut model bob. Dia adalah sang onter hijau konoha, Maito Gai.

"Kau ikut aku!"

"Ehhh... aku?"

Lee yang dipanggil hanya bisa melongo sambil menunjuk dirinya sediri. Sedangkan Naruto sudah bisa menyimpulkan apa maksud dari kemunuclan Senseinya itu.

"Sudahlah Lee. Ikuti saja perkataannya. Ku rasa dia adalah sensei pembimbingmu"

"Ehh... tapi bagaimana dnegan senpai?"

"Tidak apa... aku juga mau pulang"

"Kau juga ikut dengan kami Naruto"

Kembali pandangan kedua anak itu mengarah ke Gai setelah kalimatnya yang mehyela percakapan antara Naruto dan Lee.

"Ada yang harus ku bicarakan denganmu"

.

.

.

.

.

.

.

Kini Naruto sudah berada di taman konoha. Tempat dimana ia biasa menghabiska hari liburnya. Tapi sekrang ada yang berbeda dari biasanya. Kini ia tidak sendirian. Saat ini ia ditemani beberapa orang. Dia ditemani oleh senseinya, Maito Gai. Teman latihannya dikala libur, Rock Lee. Dan dua orang yang tidak ia kenali.

Yang pertama laki – laki dengan rambut hitam panjang dengan mata yang berbeda dengan warna mata pada umumnya, mata yang dia kenali sebagai Byakugan. Jadi bisa dipastikan anak laki – laki itu adalah bagian dali clan Hyuga.

Yang kedua adalah seorang perempuan dengan rambut hitam bercepol dua dengn pakaian khas cina berwarna merah muda. Tidak ada tanda bahwa perempuan itu berasal dari sebuah klan besar. Jadi Naruto tidak bisa menarik kesimpulan yang tepat.

Puas dengan hasil observasinya, Naruto menutup matanya. Menunggu apa yang ingin didkatakan oleh senseinya. Tapi sepertinya ia harus bersabar karena yang kini dia tidak menjadi fokus dari sang sensei. Sensei-nya kini sedang memberikan pengarahan kepada anak – anak yang sepertinya akan menjadi murid bimbingannya.

"Baiklah anak – anak. mulai hari ini kalian adalah anggota dari Tim 9. Kali ini kita hanya kan melakukan perkenalan diri"

"..."

"Namaku Maito Gai. Hal yang kusukai adalah berlatih. Hal yang tidak ku sukai adalah pengecut. Dan cita – citaku adalah menjadi mater Taijutsu terkuat di seluruh negara lemental."

"..."

"Sekarang giliran kalian. Dimulai dari kau"

Ucapnya sembari menunjuk ke arah Lee.

"Hai... Namaku Rock Lee. Hal yang kusukai juga berlatih sepertimu sensei. Hal yang tidak ku sukai adalah kalah. Dan cita – citaku juga menjadi seorang master taijutsu"

"hooo... Selanjutnya kau rambut cepol"

"Namaku Tenten. Hal yang aku sukai membantu Tou-san menjaga toko. Hal yang tidak ku sukai adalah orang yang menghutang saat belanja di tokoku. Dan cita – citaku menjadi kunoichi yang kuat seperti Tsunade Senju."

"Selanjutnya kau rambut panjang"

"Namaku Hyuga Neji. Hal yang aku sukai tidak ada. Hal yang tidak aku sukai adalah keluarga utama dan cita – citaku tidak ada"

'Sepertiya aku punya anak bermasalh dalam tim ku'

"Yosh... sekarang kita sudah saling mengenal satu sama lain. Sakarang aku ingin mengenalkan satu orang lagi pada kalian"

"..."

"Naruto... Kesini"

Merasa namanya dipangging Naruto membuka matanya kemudian berjalan medekati Gai.

"Perkenalkan dirimu"

"Namaku Uzumaki Naruto. Hal yang kusuka dan yang tidak ku suka serta cita – citaku sepertinya tidak cukup menarik untuk ku ceritakan kepada kalian jadi aku akan melewatkannya"

'Haaaaaahhhh... apa apaan sikap dinginnya itu?'

"Jadi Naruto mulai hari ini juga akan menjadi bagian dari tim 9. Dia akan ikut berlatih dan melaksanakan misi bersama kita"

Setelah menyelesaikan kalimatnya, semua mata langsung menuju kearahnya termasuk Naruto.

"Maa... Naruto memang buka seorang genin. Tapi dia akan menajdi suport tim kita. Higga bisa diputuskan apakh ia kan diangkat menjadi ninja atau tidak. Ini sudah disetujui oleh Sandaime Hokage."

Mendengar penjelasan singkat dari Gai semua mengangguk paham kecuali Naruto yang kini tengah berekspresi bingung dengan mulut menganga tidak percaya.

"Dan besok kita akan mengadakan survival test"

"Eeh... bukannya kami sudah lulus tes di akademi sensei?"

"Maa... test ini untuk menguji apakah kalian sudah layak menjadi Genin atau tidak. Semua bergantung pada hasil test besok. Jadi siapkan diri kalian masing masing. Kau juga Naruto"

"..."

"Kalau begitu aku pergi dulu"

'Boft'

Sedangkan Naruto yang masih dalam proses loading akahirnya berhasil mendapatkan kemabali kesadarannya.

"E... EEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEHHHHHHH APA MAKSUNYA INI GAI-SENSEEEEIIIIII"

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Dan itu chapter selanjutnya. baru sempat upload... banyak kerjaan dan banyak fikiran bikin ane jadi sempat ngeblank and ga ada ide. semua pertanyaan reviewers semoga bisa terjawab di chapter ini. Naruto benar - benar gak punya cakra. tapi masih ada kekuatan lain kok. masalah mau bales dendam. tunggu alur aja deh. and tentang kuchiyosenya ane udah tentuin jadi agak susah buat masukin yang lain.

semoga chapter ini bisa memuaskan pembaca sekalian. jika suka tolong tinggalkan review dan jika tidak suka, ukapkanlah dengan baik dan benar.

terimakasi juga ane ucapin buat yang review, follow and favorite fic ane...

sekian aja dari ane, ane mau balik ke duania nyata yang kejam dulu.

v

v

v

v

v

~~Wisesa Kazehaya~~

Log Out