Summary :

Uzumaki Naruto. Anak yang dicintai oleh alam semesta tetapi di benci oleh penduduk desanya sendiri walaupun itu bukanlah hal yang pantas ia tanggung. Bersama hewan kuchiyose yang malah memilih untuk desegel dalam tubuhnya mampukah Naruto mencapai impiannya? Warn. Taijutsu Naru, SageMode Naru, Smart Naru.

Desclaimer : Naruto bukan punya ane. Naruto kepunyaannya Masashi-sensei.

Warning : OOC Naru, OOC Minato, Typo bertebaran, Bahasa berantakan, Iritasi berlebihan. Mata merah, hidung tersumbat, sesak nafas, bibir pecah - pecah dan gangguan kesehatan lainnya.

Rating : M

Pair : Naruto x ? ()

"Aku Uzumaki Naruto" -Normal

'aku uzumaki naruto' -Inner

"aku uzumaki naruto" -Monster/Angry

'aku uzumaki naruto' - Mindscape/Dream

Jikukan Kekkai -Jutsu

Ane saranin kalau gak suka mending langsung di tutup aja ya!

Yosh… selamat membaca

V

V

v

~~Emperor of The World~~

~~Sebelumnya

Jadi Naruto mulai hari ini juga akan menjadi bagian dari tim 9. Dia akan ikut berlatih dan melaksanakan misi bersama kita"

Setelah menyelesaikan kalimatnya, semua mata langsung menuju kearah Gai termasuk Naruto.

"Maa... Naruto memang bukan seorang genin. Tapi dia akan menajdi suport tim kita. Hingga bisa diputuskan apakah ia akan diangkat menjadi ninja atau tidak. Ini sudah disetujui oleh Sandaime Hokage."

Mendengar penjelasan singkat dari Gai semua mengangguk paham kecuali Naruto yang kini tengah berekspresi bingung dengan mulut menganga tidak percaya.

"Dan besok kita akan mengadakan survival test"

"Eeh... bukannya kami sudah lulus tes di akademi sensei?"

"Maa... test ini untuk menguji apakah kalian sudah layak menjadi Genin atau tidak. Semua bergantung pada hasil test besok. Jadi siapkan diri kalian masing masing. Kau juga Naruto"

"..."

"Kalau begitu aku pergi dulu"

'Boft'

Sedangkan Naruto yang masih dalam proses loading akahirnya berhasil mendapatkan kemabali kesadarannya.

"E... EEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEHHHHHHH APA MAKSUDNYA INI GAI-SENSEEEEIIIIII"

V

V

v

~~Emperor of The World~~

Saat ini aku tengah berada di sebuah tempat yang gelap. Tempat yang bahkan tidak bisa ku lihat dimana ujungnya. Tempat yang hanya berisi kegelapan semata. Sensor aura yang selama ini kulatih serasa menjerit – jerit dalam otakku, menyuruhku untuk segera melarikan diri dari tempat itu.

Tapi sayangnya kakiku seperti sudah terpaku pada tempatku berdiri sekarang tanpa bisa sedikitpun bisa digerakan apalagi untuk digunakan berlari.

"Uzumaki Naruto!"

Sebuah suara bariton yang entah kenapa membutku merinding seperti tiba – tiba masuk kedalam telingaku. Suara yang seolah – olah dikeluarkan hanya untuk bisa didengarkan olehku seorang.

Ingin rasanya menjawab panggilan itu dan bertanya dimana aku sekarang. Tapi lagi – lagi aku harus menelan pil kekecewaan. Lidah dan bibirku juga tidak bisa bergerak.

"Bersiaplah... hari kebangkitan akan segera tiba"

Hari kebangkitan? Apa maksudnya hari kebangkitan? Apa atau siapa yang akan bangkit?

"Sedikit lagi... Sedikit lagi..."

Perlahan – lahan suara itu menghilang. Dan bersamaan dengan hilangnya suara itu tubuhku kembali bisa digerakkan.

"Siapa disana? Apa itu hari kebangkitan? Siapa yang akan bangkit? Oiiii... Seseorang...?"

Pertanyaan yang akhirnya bisa keluar dari mulutku. Tapi sayangnya tidak ada yang menjawab pertanyaan itu. Hanya gema suaraku yang menjadi jawaban akan pertanyaan – pertanyaan tadi. Ketika ingin kembali meneriakkan pertanyaan yang sama tiba – tiba sebuah cahaya putih terang membutakan pengelihatanku.

V

V

v

~~Emperor of The World~~

'krinnnngggggg...'

Bunyi alarm membangunkanku dari tidur. Membangunkanku dari sebuah mimpi yang sama sekali tidak bisa ku pahami. Kini bisa kulihat pantulan diriku dari sebuah cermin yang tepat berada di depanku. Wajah kusam khas orang yang baru saja bangun tidur, rambut pirang kemerahan ku yang terhilat acak – acakan. Sebuah garis lurus kebawah yang bermula dari sudut bibirku. Oh great... kebiasaan ngilerku kumat.

"Sebenarnya apa maksunya mimpi itu?"

Pertanyaan yang tidak ditujukan kepada siapa – siapa, pertanyaan yang ku tujukan pada seseorang yang menjadi refleksi dari cermin dihadapanku. Dan tentunya itu adalah diriku sendiri.

Memang mimpi yang ku alami itu bukan kali pertama ini. Mimpi seperti itu sudah ku alami sejak aku masih tinggal di Shi no mori. Tapi akhir – akhir ini mimpi itu semakin sering ku alami.

"Dunia ini kejam Naruto. Kau tidak bisa berhenti hanya karena sebuah mimpi buruk"

Ucapku berusaha melupakan mimpi tadi. Kalimat yang selalu dikatakan Gai–sensei ketika aku mengalami mimpi yang sama.

"Hmm... sedikit pemanasan mungkin cukup sebelum membuat sarapan"

Mengambil posisi di sebelah tempat tidurku yang cukup lapang. Aku segera memulai pemanasanku. Memulai dengan lari – lari kecil sembari melemaskan semua otot – otot tubuhku. Melakukan push up, sit up, dan squat jump masing – masing sebanyak 100 kali. Bukan angka yang banyak memang. Tetapi setidaknya cukup untuk membuat tubuhku tidak kaku.

Setelah melakukan sedikit pemanasan aku segera beranjak ke dapur untuk segera membuat sarapan untukku dan Gai-sensei. Sebuah kebiasaan bagi kami. Yaitu jadwal memasak dilakukan bergiliran.

Sebenarnya Gai-sensei melarangku untuk memasak. Tapi karena pada dasarnya aku adalah orang yang keras kepala, jadi Gai-sensei harus mengalah dan jadilah peraturan seperti ini.

Sedikit memakan waktu untuk memasak, kini semua masakanku sudah ku hidangkan di atas meja makan.

"Sepertinya Gai-sensei masih berlatih. Lebih baik aku makan duluan lalu mandi"

.

.

.

.

Bersiap memanggil Gai-sensei. Disaat seperti ini biasanya dia ada di halaman belakang untuk melakukan latihan. Dan benar saja, dia kini sedang berada di halaman belakang dengan posisi push up satu tangan.

"Sensei... Sarapannya sudah siap. Cepatlah mandi dan makan. Aku akan berangkat duluan. Neji bilang ada yang harus dibahas"

"OK NARUTO... BERJUANGLAH! TUNJUKAN SEMANGAT MASA MUDAMU DAN TIM KITA PADA SEMUA ORANG"

"HAI"

.

.

.

.

.

Kini tujuanku adalah training ground 21. Tempat yang sudah kami janjikan untuk lokasi berkumpul. Dalam perjalanan banyak orang yang melihatku, tapi bukan dalam artian apa. Dari sekian banyak pendangan sebagian besar melihatku dengan pandangan benci dan remeh, lalu ada beberapa yang memandangku dengan pandangan aneh.

Maa... mungkin karena pakaian yang ku kenakan. Baju tanpa lengan dengan kerah tinggi yang menempel ketat ditubuhku. Lalu celana pendek dan pelindung tulang kering dan sendal shinobi serta Hitai-Ate yang terikat di keningku. Terdengar biasa memang, tapi saat ini pakaian yang ku kenakan didominasi oleh warna hijau kecuali tali pengikat kepala yang berwarna merah, pelindung tulang kering yang berwarna kuning dan sandal shinobi yang berwarna biru.

Bukan karena apa. Walaupun aku sendiri yang membuat baju ini tapi Gai-sensei lah memberikan bahannya. Dan semua bahan yang diberikannya berwarna hijau. Oh... sebuah informasi pakaian yang dikenakan oleh Gai-sensei juga adalah buatanku tentunya dengan fashion sense dari Gai–sensei sendiri.

Dan mengenai Hitai-ate, aku kini sudah menjadi seorang Gennin Konoha. Itu setelah menjadi suport untuk tim 9 selama delapan bulan.

~~Flashback~~

Kini aku dan Gai-sensei sedang berada didalam ruangan Hokage. Berdiri dihadapan dua orang paling top di desa, Sandaime-sama dan Yondaime-sama.

"Kalian tahu kenapa kalian dipanggil?"

Tanya Sandaime-sama kepada kami.

"Tidak Sandaime-sama"

"Baiklah, aku langsung saja pada intinya. Uzumaki Naruto..."

Mendengar namaku dipanggil aku segera memfokuskan konsentrasiku dan menjawab.

"Hai'..."

"Berdasarkan catatan misi dan pencapaian yang telah kau lakukan selama delapan bulan ini maka aku sebagai Sandaime Hokage mengangkatmu Uzumaki Naruto sebagai Gennin Konoha dan seterusnya akan bergabung bersama tim 9."

Pernyataan yang diberikan oleh Sandaime-sama membuatku hanya bisa mangap – mangap tidak percaya. Tapi ketika melihat Sandaime-sama dan Gai-sensei tersenyum kepadaku membuatku tidak bisa menahan teriakan semangatku.

"YOSHAAAA... Arigatou Sandaime-sama, Yondaime-sama"

"Emm..."

Walaupun respon yang ku terima dari Yondaime-sama yang sama sekali tidak menujukan raut wajah senang dan bahkan sebaliknya, tidak membuat kebahagianku hilang begitu saja. Lagi pula entah kenapa Hokage yang satu ini selalu terlihat tidak suka padaku, jadi terserahnya saja.

"Arigatou GAI-SENSEI, Sandaime-sama, Yondaime-sama"

~~End Flashback~~

Mengingat kembali hal itu membuatku tidak bisa membuatku menahan senyum. Kini aku sudah sampai di Training Ground 21. Bisa ku lihat Lee dan Neji juga sudah sampai. Lee yang tengah melakukan push up dan Neji yang kini tengah bersandar di sebuah batang pohon.

Dan jika diperhatikan Lee saat ini sudah seperti copy paste dari Gai-sensei. Mulai dari gaya rambut dan bahkan pakaiannya. Maa... itu mungkin suatu bentuk penghormatan. Dan sekedar informasi, baju yang digunakan oleh Lee juga adalah buatanku.

"Ohayou Lee... Ohayou mata keranjang"

"Ohayou Naruto-senpai"

"Sudah ku katakan berkali – kali kepadamu Naruto. Byakugan bukan mata seperti itu... arrggh... berdebat denganmu tidak akan menghasilkan apa – apa"

"Hahaha... jadi dimana Tenten...?"

"Dia sepertinya belum datang"

"Naruto-senpai... sparinglah denganku"

Melihat Lee yang sudah siap dengan posisi bertarungnya, langsung membuat adrenalinku ikut naik. Lalu ikut memasang kuda – kuda.

"Ok... majulah Lee"

Niat awal untuk melakukan sparing dengan Lee harus terhenti ketika Neji menyela.

"Sebaiknya kalian hentikan itu hari ini kita akan mengikuti ujian Chunin. Jadi lebih baik kalian simpan tenaga kalian untuk ujian nanti. Kita sudah melewatkan ujian Chunin satu kali, jadi aku tidak ingin gagal pada kesempatan ini walaupun ini kali pertama untuk tim kita. Lagi pula aku tidak mau Tim ini terlihat memalukan dihadapan para Rookie tahun ini"

"Hai... hai..."

Membatalkan niatan untuk melakukan sparing dengan Lee lalu mengambil posisi duduk di sebelah Neji. Memandang kepada Lee yang kini tengah melakukan push up. Terus dalam posisi itu hingga dari kejauhan seorang gadis bercepol dua dengan gaya pakaian cina, berlari sembari melambaikan tangannya.

"Haaa... haa... Maaf... Aku tidak terlambat kan?"

"Hmm... kau tepat waktu"

Gadis yang baru saja datang dengan nafas yang memburu itu adalah Tenten satu – satunya gadis dalam tim ini. Melihat semua orang di dalam tim telah berkumpul, aku langsung angkat bicara.

"Jadi apa yang ingin kau katakan, Neji?"

"Baiklah... Aku tidak ingin menyampaikan banyak hal. Mengingat kita hari ini akan mengikuti ujian chunin untuk pertama kalinya. Aku ingin kalian ingat beberapa hal"

"..."

Itu benar. Ini adalah kali pertama kami mengikuti ujian chunin. Melewatkan satu kesempatan untuk mengikutinya bukan berarti kami tidak mendapakan informasi tentang ujian chunin.

"Pertama, jangan tunjukan kemampuan kalian pada musuh. Baik itu dari musuh luar maupun dalam desa"

"..."

"Kau dengar itu Lee?!"

"HAII!"

"Kedua, Keluarkan semua kemampuan yang kalian miliki jika sudah di perlukan"

"..."

"Kau dengar itu Naruto?!"

"Hai... Hai..."

"Dan Ketiga, Aku ingin tim ini bisa melaju sampai final"

Begitulah Neji. Secara tidak langsung Neji sudah diangkat menjadi pimpinan tim ini jika Gai-sensei tidak ada. Neji adalah sosok yang bertanggung jawab dan berpotensi menjadi seorang pemimpin yang baik. Ya... berpotensi menjadi seorang pemimpin jika dia tidak memiliki kebencian kepada anggota klan utama Hyuga dan kalimatnya yang selalu mengatakan tentang takdir.

"Itulah semua hal yang ingin ku katakan. Sekarang ayo kita menuju ke lokasi ujian"

Tanpa mengucapkan apa – apa kami langsung bergegas untuk menuju ke lokasi ujian.

"Ini juga hal yang harus kau ingat Hyuga... Jangan jadikan ujian chunin ini sebagai ajang saling memebunuh antara sesama klan"

"...Aku akan berusaha mengingatnya"

.

.

.

.

.

Kini kami sudah berada dalam ruangan akademi. Lokasi dimana ujian chunin tahap pertama diadakan. Melihat tim – tim lain yang mulai berdatangan sembari mengeluarkan aura seakan mereka adalah sosok yang superior membuatku harus kuat untuk menahan senyumanku. Maa... walaupun ada beberapa orang yang benar – benar bisa disebut sebagai superior.

"Kemana perginya Lee? Bukankah dia mengatakan hanya ingin pergi ke toilet? Lalu kenapa dia belum kembali?"

"Sabarlah Tenten. Marah tidak akan membuat Lee kembali. Aku akan pergi mencarinya"

Berjalan meninggalkan ruangan itu. Lebih tepatnya meninggalakan gadis bercepol dua yang selalu siap dengan senjatanya apabila sedang marah itu.

Kini tujuanku adalah mencari Lee yang sepertinya pergi entah kemana dan terbawa suasana. Terus melangkah melewati koridor hingga aku kini melihat Lee sedang bertarung dengan seorang genin Konoha.

Melihat lambang kipas pada pakaian yang di kenakan oleh lawan Lee membuatku bisa menyimpulkan bahwa lawannya adalah Uchiha Sasuke. Cukup mudah untuk menarik kesimpulan seperti itu, mengingat hanya ada satu Uchiha yang tersisa di konoha setelah tragedi pembantaian klan Uchiha.

Ku lihat Lee lebih unggul dalam pertarungan Taijutsu dan berhasil memojokkan Uchiha itu dengan menggunakan Renge. Tapi sayangnya itu bukan lagi sebuah duel saat melihat seorang anak berambut hitam jabrik melesat ke arah Lee yang sedang kehilangan keseimbangannya.

.

.

.

.

~~Normal POV

Setelah berhasil mendaratkan serangan beruntun pada tubuh Uchiha, membuat Lee kehilangan keseimbangan dan fokus akan sekitarnya. Sehingga Membuat seorang anak yang sepertinya adalah anggota Tim dari Sasuke langsung melesat ke arah Lee.

Seorang anak yang bagaikan duplikat dari Yondaime Hogake kecuali rambut hitam dan tubuh anak – anaknya. Sehingga semua orang pasti bisa langsung menebak bahwa anak itu adalah Namikaze Menma, putra dari Yondaime Hokage.

Melesat kearah Lee dengan kecepatan sembari menyiapkan kepalan tangannya. Setelah berada tepat di depan Lee, anak itu langsung mengarahkan kepalan tangannya tepat ke arah wajah Lee. Melihat serangannya tidak bisa lagi dihindari membuat anak itu menampilkan seringai di wajahnya.

Namun pada akhirnya seringaian itu harus luntur tatkala pukulannya itu terhenti tepat beberapa mili dari permukaan wajah Lee. Pukulan itu tertahan oleh sebuah tangan yang saat ini mencengkram pergelangan tangannya. Tangan yang berasal dari seorang anak dengan pakaian serba hijau seperti Lee, walaupun tidak sememalukan yang dipakai oleh Lee.

"Na... Naruto-senpai?!"

Melihat sosok yang tengah menghentikan serangan yang mengarah padanya membuat Lee membelakkan matanya. Orang yang pernah menjadi tutor latihan pertamanya dan saat ini menjadi rekan setimnya. Uzumaki Naruto.

"Apa yang terjadi dengan 'buang air kecil' yang kau katakan tadi Lee?"

Mendapatkan pertanyaan seperti itu Lee langsung menundukan kepalanya menyesal. Sebenarnya saat kembali dari toilet Lee bertemu dengan pasangan Uchiha dan Namikaze yang terkenal karena menjadi Rookie Of The Year tahun ini. Niat awalnya yang hanya untuk sedikit menyapa harus berujung pada perkelahian akibat Lee yang tidak bisa mengontrol emosinya.

Sebenarnya Lee masih sanggup mengontrol emosinya saat dua orang dari tim yang ditemuinya itu menjelek – jelekan cara berpakaiannya lagi pula ia masih tetap merasa keren dengan pakaian itu. Tapi semua berubah saat kedua anak itu mulai menjelek – jelekan siapa yang menurunkan cara berpakaian itu. Dan tentu saja itu berarti menjelek – jelekan senseinya, Maito Gai.

"Jadi bisa kau jelaskan apa yang sedang terjadi di sini Lee?"

Sebuah suara yang sangat dikenalinya itu langsung membangunkannya dari lamumannya. Suara yang berasal dari rekan se-timnya, Uzumaki Naruto. Masih dilihatnya Naruto mencengkram tangan Menma dengan tampang tak acuh, walaupun sang empunya tangan sudah mulai risih akan posisi itu.

"Hey... Siapa kau haa? Dan lepaskan tanganku!"

"Ah maafkan aku... anda pasti Menma Namikaze?!"

Naruto yang sedari tadi memegang erat pergelangan tangan Menma akhirnya melepaskan cengkraman itu setelah mendengar kalimat sinis dari sang pemilik tangan.

"Cck... Itu benar! Lalu siapa kau? Kenapa kau berani - beraninya menahan pukulanku?"

"Ahh... Namaku Naruto Uzumaki. Aku adalah rekan se-tim anak ini"

"Kheh... rekan aneh untuk orang yang aneh. Aku yakin kalian adalah tim teraneh di konoha. Dan tim aneh pastinya dibimbing oleh pembimbing yang aneh. Dasar kumpulan orang aneh"

"..."

Ucapan sinis lagi – lagi keluar dari Menma. Lee yang mendengar kalimat itu menatap nyalang pada Menma sembari mengepalkan kedua tangannya dengan keras. Sedangkan Naruto hanya diam dalam ekspresi datarnya.

"Hee... tidak ku sangka seorang anak Hokage yang terhormat memiliki mulut yang kotor sepertimu"

Kali ini ucapan sinis meluncur dengan mulusnya dari mulut Naruto. Sepertinya dia bisa menyimpulkan apa yang menjadi penyebab dari perkelahian ini dari sikap yang ditunjukan Lee ketika mendengar kalimat dari Menma.

"Apa katamu haa?"

"Bukan suatu yang spesial... lagi pula bisa kita hentikan perkelahian ini. Jika panitia ujian melihat kita bertarung di sini. Tim kita hanya akan berakhir dengan didiskulaifikasi. Walaupun ada anak seorang Hokage yang terlibat di dalamnya"

Tanpa menunggu respon dari pernyataanya, Naruto langsung pergi dari sana bersama Lee, meninggalkan lawan biacaranya.

V

V

v

~~Emperor of The World~~

~~Naruto POV

Ujian Chunin tahap pertama kini sudah kami lalui tanpa adanya kesuliatan berarti. Ujian yang sebenarnya bertujuan untuk mengetes kemampuan setiap tim untuk mendapatkan informasi tanpa bisa dideteksi.

Tim 9 berhasil lolos dengan cara kami masing – masing. Neji dengan menggunakan Byakugan, Tenten dan Lee yang bekerja sama, sedangkan aku... menjawab soalnya sendiri. Soal seperti itu tidak akan bisa membuatku gentar. Memiliki otak jenius memang sangat bisa diandalkan di saat – saat seperti ini.

Walaupun tim kami berhasil lolos, tidak sedikit juga tim yang gagal. Dan sekarang 20 tim yang tersisa sedang berdiri di depan hutan kematian untuk mendengarkan instruksi yang diberikan oleh seorang jounin wanita bernama Anko Mitarashi.

Intruski untuk mendapatkan pasangan gulungan dari tim lawan dengan cara apapun dan membawanya hingga ke menara di tengah - tengah hutan. Hanya itu informasi penting yang perlu ku ingat selebihnya aku tidak memperhatikan instruksi dari jounin itu lagi.

Memilih untuk melihat kearah hutan kematian. Hutan yang menjadi taman bermainku sebelum bertemu dengan Gai – sensei. Kenangan yang membuatku tak kuasa untuk menahan senyum. Hingga sebuah suara membangunkanku dari lamunan. Suara yang menjadi pertanda bahwa ujian chunin tahap kedua dimulai.

"Ambil posisi kalian masing – masing. Setalah ku beri tanda, masuk ke dalam hutan dan bersenang – senanglah"

"..."

Mengiraukan berbagai ekspresi dari semua peserta ujian. Anko-sensei hanya menyeringai sebelum berteriak.

"Ujian Chunin Tahap Kedua... Mulai!"

.

.

.

.

.

Ujian tahap kedua telah dimulai. Membuat semua tim langsung melesat dari poisisinya masing masing, termasuk tim kami.

"Pelan – pelan Lee... Kita baru saja mulai"

Suara Neji memecahkan kebisuan dalam hutan kematian. Memperingatkan Lee untuk tetap bersikap tenang dan menyimpan tenaganya.

"Aku tahu, tapi... Aku tidak bisa tinggal diam! Siapa tahu musuh kuat sedang menunggu kita"

"heh... bersemangat sekali"

Begitulah percakapan singkat yang menjadi pemecah kebisuan. Maa... walaupun mungkin sebentar lagi akan ada banyak teriakan dan sebagainya, sebelum kebisuan itu datang lagi. Sedangkan aku hanya diam walaupun tidak bisa dipungkiri kalau akau juga berkeinginan yang sama dengan Lee.

.

.

.

.

"Kita hanya menghabiskan waktu setengah hari untuk mencari makanan dan air berkat Naruto yang entah bagaimana mengetahui cukup banyak tentang hutan kematian. Dan sekarang ini sebagian tim pasti sedang beristirahat"

"..."

"Sesuai rencana, waktunya mengincar mereka. Kita berempat berpencar sambil mengawasi daerah sekitar. Walaupun bertemu tim lain atau tidak kita harus kembali ke tempat ini."

"..."

Kini kami sedang mendengarkan Neji memberikan instruksi sembari beristirahat di pinggir sungai yang ku temukan. Maa... walaupun ini sebenarnya adalah sungai yang biasa ku tempati mandi dulu.

Walaupun setiap orang dalam tim ini memiliki kemampuan yang mumpuni untuk sebuah tim genin tapi kami tidak bisa berbuat ceroboh mengingat minimnya informasi yang kami ketahui mengenai tim lawan.

Berdasarkan semua aspek itu maka terciptalah rencana ini. Rencana dimana kami menunggu semua tim lawan kelelahan akibat langsung bertarung setelah memasuki hutan kematian selagi kami mengumpulkan makanan dan minuman.

Lalu setelah semua persiapan siap, kami akan berpencar untuk mencari tim genin dengan kondisi yang sedang kelelahan dan sangat tidak mungkin untuk bertarung. Licik?... ayolah ini adalah dunia shinobi. Jika kau tidak memanfaatkan otakmu dengan baik maka nyawamu yang akan melayang.

"Kalian Mengerti?"

"Ok"

"Roger"

"Hai"

"Yosh... Berpencar!"

.

.

.

.

.

Menyusuri hutan dalam jangkauan yang sudah kami tetapkan. Kini aku sudah menemukan sebuah tim yang sedang kelelahan, bahkan dua diantaranya sedang pingsan. Jika ku lihat lebih teliliti itu adalah tim dari Konoha. Tim yang ku temui sebelum ujian tahap pertama. Uchiha Sasuke, Namikaze Menma, dan seorang gadis yang jika aku tidak salah ingat bernama Haruno Sakura.

"apa yang terjadi hingga membuat dua prodigi itu menjadi tak berdaya seperti itu?"

Gumamku pada kesunyian. Namun ketika berniat untuk beranjak dari tempat itu aku melihat tiga orang muncul tepat di hadapan gadis Haruno itu. Terlihat mereka melakukan pembicaraan yang sayangnya tidak bisa ku dengar mengingat jarak mereka dari tempatku yang cukup jauh.

Tapi seketika ketiga orang itu langsung berlari menyerang gadis Haruno itu. Sebuah pertarungan yang sangat tidak seimbang antara satu tim penuh melawan seorang gadis yang kelelahan dengan pengalaman bertarung yang bisa dikatakan sangat kurang. Bahkan gadis Haruno itu harus merelakan rambutnya terpotong untuk lepas dari kekangan dari satu – satunya gadis dari tim yang menyerangnya.

"haahhh... meninggalkan seorang gadis dalam bahaya memang bukan gayaku"

Setelah bergumam seperti itu aku langsung menghilang dalam kecepatan lalu muncul tepat diantara mereka bertiga. Bisa ku lihat ekspresi terkejut dari semua orang melihat kemunculanku. Tidak ingin menyia – nyiakan momentum aku langsung menghadiahkan tendangan putar kepada mereka bertiga. Tapi sayangnya tendanganku berhasil dihindari oleh mereka dengan melompat kebelakang.

Kini aku bisa melihat dengan jelas orang – orang yang menyerang gadis Haruno itu. Seorang laki – laki bertubuh bungkuk dengan perban yang menutupi hampir semua bagian kepalanya kecuali mata kirinya. Seorang laki – laki dengan tubuh kurus dengan rambut hitam yang berdiri melawan gravitasi. Dan yang terakhir adalah seorang perempuan berambut hitam lurus. Ketiga orang itu berasal dari Otogakure, dilihat dari ikat kepalanya.

Serta melihat dari bagaimana mereka bisa menghindari tendanganku tadi, bisa kupastikan bahwa orang – orang ini berada pada level Chunin. Haaah... Ada apa sebenarnya dengan ujian ini?

Melirikan mataku sedikit pada gadis Haruno yang berada di belakangku. Wajah yang menunjukan sebuah tekad baru masih terpampang di sana. Walaupun ekspresi terkejut lebih dominan. Sepertinya kehilangan rambutnya tidak membuat gadis ini putus asa. Heh... cukup menjanjikan untuk kunoichi konoha.

"Namamu Haruno Sakura bukan?!"

"Ha,,Hai..."

"Tekad yang bagus! Pertahankan dan jadilah ninja yang baik!"

"..."

"Istirahatlah! Biar disini aku yang urus"

Ketika kalimat itu meluncur dari mulutku, bisa ku lihat ekspresi keraguan muncul di wajahnya. Tapi walaupun begitu dia tetap bergerak menjauh dari tempatku berdiri.

Kini pandangaku ku arahkan pada orang – orang yang berada di depanku. Tiga orang dari desa lindungan bunyi. Seorang Laki – laki bertubuh kurus, seorang laki – laki bertubuh bungkuk dan seorang wanita. Tidak ada yang membuka pembicaraan diantara kami. Hanya saling menatap tanpa ada suara. Merasa bosan dengan keadaan itu aku akhirnya mulai membuka pembicaraan.

"Jadi ada angin apa hingga sekelompok chunin mengikuti ujian yang dikhususkan untuk genin, dan mengeroyok seorang gadis?"

Ekspresi kaget bisa ku lihat ketika kalimat itu meluncur dengan bebasnya dari mulutku. Namun ekspresi terkejut itu kemudian kembali ditutupi dengan wajah datar mereka.

"Terlalu banyak tahu untuk ukuran Ninja pengganggu sepertimu"

Ucap seorang berbadan bungkuk yang bisa ku perkirakan merupakan ketua dari kelompok mereka.

"Heee... maaf karena aku suka ikut campur. Maa... setidaknya aku bukanlah seorang pengecut yang menyerang seorang gadis yang tidak berdaya secara beramai – ramai"

Taktik dasar ninja. Buatlah lawanmu marah dan kehilangan kendali akibat kemarahannya, lalu serang dan lumpuhkan. Maa... menggunakan cara licik untuk melawan orang licik, memangnya apa yang kau harapkan dari kehidupan seorang ninja?

"Ku,Kurag ajar! KUBUNUH KAU SIALAN"

Yaa... sepertinya lawanya juga cukup panas hanya untuk berfikir jernih. Bergerak merangsek kearahku. Laki – laki berbadan kurus dari kelompok itu berlari kerahku sembari merentangan kedua tangan kananya kesamping. Setelah berjarak dua meter didepanku laki – laki itu seketika berhenti, menarik kedua tangannya kebelakang lalu kemudian mendorongnya kedepan.

Tidak ingin bermain – main dengan keberuntungan aku segera melompat kerah samping. Mengindari apapun yang hendak dilakukan oleh laki – laki yang menyerangku itu. Menoleh kearah tempatku berdiri telah terbentuk sebuah cekuangan seperti telah terkikis.

Karena terlalu larut dalam fikiranku mengenai jenis serangan apa yang hampir saja mengenaiku barusan, membuatku melupakan kewaspadaan tentang daerah sekitarku. Tiba – tiba laki – laki bertubuh bungkuk mengarahkan tangannya yang terbungkus perban kerahku. Namun berkat refleks yang telah ku latih selama ini, aku berhasil menghindari pukulan itu dengan memiringkan kepalaku.

Namun suatu gelombang tak kasat mata mulai keluar dari perban yang melilit tangannya. Gelombang itu entah kenapa memberikan tekanan yang yang berat di dalam kepalaku. Tak ingin berlama – lama menerima gelombang itu, aku segera melompat jauh kebelakang menghindari kedua laki – laki yang menyerangku itu.

"Hee... masih bisa berdiri setelah menerima serangan kami. Maa... walaupun kau akan tumbang beberapa detik lagi. Ternyata kau juga bukan genin sembarangan."

Menghiraukan ucapan dari laki – laki bertubuh bungkuk di depanku. Kini kepalaku terasa sangat sakit. Telingaku berdengung dengan kuatnya. Tubuhku terasa bisa tumbang kapan saja. Memaksakan jari telunjuk ke arah telinga untuk mengecek cairan apa yang kini tengah mengalir darinya. Dan yang ku temukan adalah cairan merah kental berbau amis, darah.

Perlahan ku atur pernapasan ku yang tadi sempat memburu. Mengerak – gerakkan persendian ku yang sempat membeku. Mengecek setip bagian tubuhku yang bisa membuatku mendapatkan persentasi kekalahan yang lebih tinggi. Dan apa yang ku dapatkan adalah sepertinya ada masalah dengan telingaku.

Mataku bisa melihat kalau orang orang di depanku sepertinya tengah berbicara kepadaku, tapi telingaku tidak bisa mendengarkan apa yang mereka katakan. Sebuah kerugian yang cukup besar untuk bertarung dalam keadaan seperti ini. Tapi juga bukanlah hal yang mustahil untuk dilakukan.

"Serangan berbasis suara. Hmm... cukup mengejutkan dari kumpulan ninja pengecut seperti kalian."

"Ba,Bagaimana kau...?"

"Baik – baik saja? Haha... aku tidak cukup baik – baik saja. Serangan kalian cukup mematikan. Tapi kalian bisa berterimakasih pada tubuhku yang sudah kulatih dengan keras ini"

"sialan... akan ku bu-"

Tidak memeberi kesempatan padanya untuk menyelesaikan ucapannya. Aku segera menghilang dalam kecepatan dan muncul tepat di tengah - tengah tim otogakure. Melayangkan tendangan putar kearah mereka. Semua laki – laki dalam tim itu berhasil menghindar dengan melompat mundur. Tapi satu – satunya wanita dalam tim itu tidak bernasib baik karena terlambat menyadari keberadaanku. Alhasil tendanganku berhasil bersarang tepat di pipinya.

Kembali menghilang dalam kecepatan. Muncul tepat dihadapan laki – laki bertubuh bungkuk yang kehilangan fokusnya karena pandangannya teralihkan kearah wanita yang baru saja kutendang. Memberikan tendangan kearah dagunya, membuat si bungkuk itu melesat ketas.

Tidak ingin kehilangan momentum, aku segera melompat melebihi ketinggian si bungkuk. Memberikan sebuah tendangan keras kebawah dengan memanfaatkan momentum yang dihasilkan oleh putaran tubuhku. Si bungkuk yang melesat kebawah dengan cepat membuat suara debuman keras.

Saat berhasil mendarat, aku kembali menghilang dalam kecepatan lalu muncul tepat di belakang satu – satunya musuhku yang masih berdiri.

"Apa yang dari tadi kau lihat?"

"!"

Belum sempat si kurus menolehkan kepalanya. Sebuah tendangan kini telah bersarang di kepalanya membuatnya melayang hingga berhenti setelah menghantam batang pohon hingga tumbang.

Melihat ke sekitar untuk memastikan tidak ada lagi musuh yang bepotensial memberikan serangan balasan. Hingga pandanganku terhenti pada si kurus. Walaupun terlihat kesuliatan, ia berusaha mengarahkan telapak tangannya kearahku.

Tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan mengingat dampak dari serangan yang di hasilkan oleh telapak tangan itu, aku kembali menghilang dalam kecepatan dan muncul di samping tubuh tengkurap si kurus. Menginjakkan kaki kananku diatas punggungnya sementara kedua tanganku menarik kedua tangan si kurus ke atas.

"AAARRRGGHHH!"

Dan dalam satu hentakan menariknya dengan keras. Jika telinga ku dalam keadaan normal bisa ku pastikan saat ini aku pasti sudah mendengar suara patah dari orang yang kini sedang ku injak ini. Tapi sepertinya aku tidak bisa mendengarkan melody indah itu. Sayang sekali.

Kembali melihat ke sekitar ku. Melihat tidak ada lagi ancaman dari tim otogakure ini aku mengehela nafas panjang dan langsung berjalan kearah gadis Haruno yang terlihat masih berekspresi terkejut. Bahkan aku belum melihatnya berkedip dari tadi.

"Bagaimana keadaanmu?"

"..."

Ok... ini bukan lagi hanya ekspresi tekejut. Dia bahkan tidak menjawab pertanyaanku. Mulutnya telihat seperti ikan yang dikeluarkan dari dalam air. Ingin bicara tapi tidak bisa. Atau mungkin pendengaranku yang masih bermasalah. Haah... menjengkelkan.

Menghiraukan gadis Haruno di depanku, kini aku mengarahkan pandanganku ke kiri, ke arah pepohonan lebat hutan kematian. Menghela nafas sejenak lalu mengalihkan pandanganku pada wanita dari otogakure yang masih terlihat terbaring di seberangku.

"Haaah... masalah sepertinya datang silih berganti. Kau! Aku tahu kau masih sadar. Berhentilah berpura – pura pingsan. Aku tidak bisa menjamin nyawa kalian setelah ini. Jadi bangunlah dan bawa teman – temanmu pergi dari sini."

Setelah menyelesaikan kalimatku, wanita yang ku maksud langung berdiri lalu menghampiri kedua rekanya itu. Merangkulnya di masing – masing tangannya. Melirik sekilas kerahku lalu melompat pergi tanpa mengatakan apa – apa. Kheh... setidaknya berterima kasihlah padaku karena menjauhkanmu dari masalah yang lebih besar, bodoh.

Tak berselang lama setelah kepergian tim otogakure. Munculah tiga orang dihadapanku. Bukan musuh, mereka adalah rekan satu tim ku. Hyuga Neji, Rock Lee dan Tenten. Sepertinya mereka mencariku karena tidak muncul setelah batas waktu yang ditentukan sesuai rencana sebelumnya. Mereka bahkan tampak marah padaku. Bahkan Neji yang selalu berwajah datar saja sampai mengerutkan dahinya.

Kami hanya saling pandang selama beberapa saat hingga Neji mulai membuka suara.

"Apa yang kau lakukan di sini Naruto? Kenapa kau tidak kembali sesuai waktu yang kita tentukan?"

Maa... sepertinya telingaku belum benar – benar pulih. Suara Neji bahkan masih terdengar seperti radio rusak. Walaupun aku masih belum bisa mendengarkan apa yang dikatakan oleh Neji. Setidaknya aku masih bisa membaca gerak bibirnya.

"Aaa... aku masih belum bisa mendengarkan apa yang kau katakan dengan jelas karena tadi ada orang usil yang merusak telinga ku. Tapi jika kau bertanya kenapa aku tidak kembali... jawabanya ada pada mereka dibelakangku"

Menunjuk ke arah Tim 7 Konohagakure di belakangku. Ketiga rekan se-Tim ku itu lantas mengarahkan pandangannya mengikuti arah tunjukanku.

"Uchiha, Namikaze, dan Haruno. Apa yang terjadi hingga membuat duo anak manja itu pingsan seperti itu? Dan lagi apa yang kau lakukan sehingga terlibat dengan masalah mereka."

"Maa... sebelum itu. Tenten... bisa kau rapikan rambut gadis Haruno di sana"

Melihat kearah Tenten yang mengangguk lalu melangkah kerah gadis Haruno di belakangku dan merapikan rambutnya. Setelah itu kembali mengalihkan pandanganku pada Neji dan Lee lalu menceritakan tentang apa yang terjadi dan tentang tim Otogakure.

Bisa ku lihat Neji yang telah mengerti titik permasalahan menganguk atas jawabanku. Sedangkan Tenten sepertinya telah selesai merapikan rambut gadis Haruno.

"Haaah... bisakah kita pergi ke menara pusat? Aku sudah sangat lelah"

"Apa yang kau katakan. Kita belum menemukan pasangan gulungan kita, jadi kita belum bisa pergi ke menara pusat"

"Masalah itu kalian tenang saja..."

Ucapku menggantung sembari tanganku merogoh kedalam kantung celanaku. Lalu mengeluarkan sebuah gulungan.

"Orang usil yang merusak telingaku sepertinya menjatuhkan gulangannya sebelum melarikan diri"

"Haaah... kau benar – benar. Lee, Tenten, kita akan menuju ke menara pusat. Jangan turunkan sedikitpun kewaspadaan kalian"

"Roger!"

"Hai!"

Menolehkan kepalaku kearah gadis Haruno dibelakang ku.

"Jaga dirimu. Aku akan menunggumu di menara pusat"

Setelah mengatakan itu padanya, kualihkan pandangaku kembali kerah Neji. Mengangguk singkat sebagai kode untuk segera berangkat.

"Ikuzo!"

Dan dengan perintah itu kami akhirnya berangkat menuju ke menara pusat meninggalkan tim 7. Menuju ke arah pertempuran kami yang lebih hebat.

V

V

v

~~Emperor of The World~~

Dua hari kami sudah menunggu di dalam menara pusat. Dan hari ini adalah hari terakhir dari pelaksanaan ujian Chunin tahap kedua. Banyak tim – tim yang bermunculan termasuk tim 7 yang kami tinggalkan.

Dan saat ini semua tim yang lolos pada tahap kedua sedang berkumpul di aula menara pusat untuk mendengarkan instruksi lebih lanjut mengenai ujian Chunin selanjutnya. Tapi saat ini kami hanya sedang mendengarkan sambutan dari para Hokage mengenai ujian Chunin. Mulai dari apa itu ujian Chunin, mengapa ujian ini diadakan, dan hal – hal yang bersangkutan mengenai ujian Chunin.

Maa... bukan suatu hal penting yang harus aku dengarkan. Lagi pula semua informasi itu sudah aku kumpulkan jauh sebelum ujian ini dimulai. Bosan dengan sambutan dari Hokage, kini aku mengalihkan pandanganku ke sekitar. Melihat ke arah tim – tim yang berhasil lolos tahap kedua. Dari konoha ada lima tim Genin yang berhasil lolos, Tim 7, Tim 8, Tim 9, Tim 10, dan sebuah Tim Genin veteran dimana seorang bernama Yakushi Kabuto berada.

Selain itu ada juga Tim – tim dari desa lain seperti Tim dari desa Sunagakure, Tim dari Otogakure yang kemarin ku tendang bokongnya sepertinya juga berhasil lolos. Kirigakure sepertinya tidak berhasil meloloskan satu tim pun. Untuk kumogakure dan Iwagakure, mereka memang tidak mengikutkan tim Geninnya ke ujian ini. Maa... mengingat masalah yang dimiliki para kagenya dengan Yondaime Hokage membuat alasan mereka tidak mengikutkan tim Genin mereka menjadi masuk akal.

Kini mata ku berhenti pada seorang genin, Uchiha Sasuke. Bukan pada orangnya tapi tepat pada lehernya. Sebuah tanda unik yang belum pernah ku lihat sebelumnya. Tapi melalui sensor aura yang kumiliki, aku bisa merasakan tanda itu sepertinya memiliki cakra gelap yang sangat kuat.

'Dulu ku temukan sedang pingsan di dalam hutan kematian. Lalu sekarang di lehernya ada simbol aneh dengan cakra gelap. Hmm... sepertinya aku pernah mengetahui sesuatu seperti ini entah dimana'

Terlalu lama tenggelam dalam spekulasiku membuat aku melewatkan semua sambutan yang dikatakan oleh para Hokage. Dan kali ini seorang Jounin konoha terlihat mengambil alih komando. Seorang pria yang telihat sangat tidak dalam kondisi sehat. Siapa pun bisa melihat dari bagaimana penampilan pria itu. Kulit pucat, kantong mata yang menghitam, dan jangan lupakan batuknya yang belum berhenti.

"Perkenalkan, aku Gekko Hayate yang diberi tugas sebagai hakim untuk berbicara terlebih dahulu"

"..."

"Ada sesuatu... Ukh ukgh...yang aku ingin kalian lakukan.. Ukh ukgh... sebelum ujian Chunin tahap ketiga"

Oi... oi... bisakah seseorang menggantikan orang ini. orang ini terhiat bisa jatuh kapan saja. Setidaknya carilah orang yang cukup sehat untuk melakukan hal ini.

"Dan itu merupakan persiapan untuk ujian ketiga bersama keikutsertaan kalian dalam pertempuran utama tersebut."

Ok... aku tidak mengerti apa yang kini dikatakan oleh orang di depanku ini. Namun ketika ingin menyuarakan ketidak mengertianku seorang berambut nanas sudah mempertanyakanya terlebih dahulu.

"Persiapan... Apa maksudmu?! Kenapa kita tidak melakukan ujian berikutnya dengan perserta ujian yang tersisa?"

"Hmmm... kali ini mungkin ujian yang pertama dan kedua itu mudah, sehingga banyak yang tersisa. Dan sesuai aturan ujian Chunin, sebuah persiapan akan diselenggarakan dalam rangka untuk menguarangi jumlah peserta"

"T-Tidak mungkin"

"Sebagaimana yang dikatakan Hokage-sama sebelumnya. Banyak tamu yang akan datang pada ujian ketiga. Jadi jangan sampai kita melakuakan pertarungan yang tidak berguna dan menghabiskan waktu kita yang terbatas"

"..."

"Dan bagi kalian yang kondisi fisiknya kurang maksimal...Ukhk... ukhk"

Ok... seseorang harus benar – benar membawa orang ini ke rumah sakit. Dia sepertinya sudah sangat... tidak sehat.

"Maaf... bagi kalian yang ingin mengundurkan diri, dimohon bicara sekarang. Persiapan tersebut akan segera dimulai"

"..."

"Jadi... ah... aku lupa memeberitahu hal ini. Mulai sekarang ini kan menjadi pertempuran individu. Ini merupakan keputusan kalian, jadi jangan ragu mengangkat tangan kalian dan keluar."

"..."

Keluar? Kheh... siapa juga yang akan keluar setelah sampai sejuh ini. Hanya orang bodoh yang akan melakukan hal seperti itu.

"Anoo... aku mau keluar"

Ok... sepertinya orang berkacamata itu adalah jajaran orang bodoh yang ku maksud.

"Coba kita lihat... Yakushi Kabuto dari Konoha. Benar begitu?"

"Hai'!"

"Baiklah! Kau boleh keluar"

"..."

"Selanjutnya... apa masih ada yang ingin keluar?"

"..."

"Sekarang kita akan mulai persiapannya. Persiapan ini adalah pertempuran individu satu lawan satu. Dengan kata lain, ini adalah bentuk pertarungan yang sesungguhnya. Sekarang tepatnya ada duapuluh dua orang, jadi kami akan mengadakan sebelas pertandingan."

"..."

"Para pemenang bisa melanjutkan ke ujian tahap ketiga... sama sekali tidak ada peraturan. Kalian akan bertarung sampai lawan kalian menyerah, pingsan, atau... mati. Dan silahkan mengaku kalah jika tidak ingin mati"

"..."

"Namun dalam kasus ini aku yang memustuskan kalau pertarungan sudah berakhir... dan yang akan menentukan nasib kalian adalah..."

Ucapan Hayate-sensei berhenti selagi menunjuk pada sebuah layar elektronik di dinding aula dengan tangannya sebelum melanjutkan.

"Nama kedua lawan akan dipilih secara acak dan ditampilkan pada papan elektronik itu. Sekarang mari kita mulai..."

Setelah kalimat itu, semua perhatian langsung tertuju pada layar elektronik yang mulai mengacak nama peserta yang akan melakukan pertandingan pertama. Terus menunggu hingga tampilan layar itu berhenti dan menujukan nama Uchiha Sasuke dan Yoroi Akado.

"Untuk pertandingan pertama, Uchiha Sasuke dan Yoroi Akado telah terpilih. Selain kedua peserta, dipersilahkan menuju ke tempat atas."

Hah... jadi aku dari tadi mendengarkan semua ocehan itu hanya untuk disuruh kembali ke balkon dan menonton pertarungan orang? Maa... setidaknya ini bisa menjadi tambang informasi mengenai kemampuan lawan. Jadi tidak ada salahnya untuk tetap tinggal.

Setelah semua peserta sampai di balkon, kini aku bisa melihat Uchiha dan laki – laki aneh yang menggunakan kaca mata hitam dan eee... cadar? Aku bahkan tidak yakin dia laki – laki tulen atau bukan. Setidaknya gunakanlan masker jika kau tidak ingin orang lain melihat mulutmu bodoh. Jangan buat orang jadi salah sangka.

Kini pertandingan telah dimulai, tapi sepertinya bocah Uchiha itu terlihat sudah kesakitan bahkan sebelum bertarung. Sedangkan lawannya bahkan tidak memberikan jeda dalam setiap serangannya. Laki – laki bercadar itu berhasil memojokkan bocah Uchiha dengan teknik yang akan menyerap cakra jika dia berhasil menyentuhmu. Teknik yang merepoykan untuk pengguna cakra. Namun bocah Uchiha itu berhasil membalikan keadaan dengan menggunakan taijutsu Lee.

"Apakah klan Uchiha selalu seperti itu? Maksudku bukankah Uchiha adalah klan terkenal, bahkan kudengar Uchiha Madara mampu bertarung imbang melawan Shodaime Hokage. Lalu kenapa bocah itu bertingkah seperti pencuri?"

Ucapku sembari menolehkan kepala ku ke kanan, tempat dimana Gai-sensei berdiri.

"Maa... tidak di pungkiri lagi bahwa klan Uchiha adalah klan yang kuat seperti katamu. Sharingan, kemampuan Kekkei Genkai mereka memiliki kemampuan yang sangat mengerikan. Salah satunya adalah kemapauan untuk meniru teknik yang kau miliki. Itu juga salah satu alasan yang membuatku tidak menyukai klan ini"

"Aaa... sepertinya aku juga. Menjiplak hasil kerja keras orang lain bukanlah tindakan yang terpuji"

Kali ini kulirikkan mataku ke arah kiri tempat dimana Lee berdiri. Bisa ku lihat tangannya tekepal dengan kuat menandakan gejolak emosi yang di tahannya.

"Tenanglah Lee! Dia mungkin bisa meniru teknik mu, tapi dia tidak akan pernah bisa menguasainya. Karena apa yang dibutuhkan oleh teknik itu adalah sebuah kerja keras dan bukan suatu hal yang bisa kau dapatkan dengan instan"

"Aku mengerti... Hanya saja aku merasa semua latihanku selama ini belumlah cukup"

"Apa yang kau katakan? Tentu saja latihanmu belum cukup. Taijutsu berbeda dengan ninjutsu. Jika kau berhenti melatihnya kau hanya akan berakhir menjadi besi yang berkarat. Dan lagi aku bangga padamu Lee, kau kini sudah bisa mengendalikan emosi mu lebih baik dari sebelumnya"

"Ini juga berkat saran dari Naruto-senpai dan Gai-sensei. Ini juga untuk melatih Semangat masa mudaku!"

Mendengar semua yang dikatakan oleh Lee membuatku tidak bisa menahan senyumanku, begitu pula Gai-sensei. Senyum yang penuh akan rasa bangga.

"ITU BARU SEMANGAT MASA MUDA LEE!"

"GAI-SENSEI"

"LEE"

"GAI-SENSEI"

"LEE"

Ok... kita tinggalkan mereka yang sepertinya overdosis semangat masa muda itu. Kini kembali ku alihkan direksiku ke arah arena. Melihat pertandingan berlangsung.

Pertandingan demi pertandingan telah berlangsung. Aku melihat banyak sekali potensi – potensi mengagumkan dari para genin konoha. Walaupun aku juga harus menghela nafas berkali – kali ketika melihat pertarungan antara duo fangirls. Sedangkan Tenten berakhir kalah di tangan Kunoichi Sunagakure. Namikaze Menma berhasil mengalahkan Inuzuka Kiba. Pertandingan yang cukup mengagumkan minus sikap arogannya.

Dan kali ini aku sedang menyaksikan pertarungan antara sesama Hyuga, Hyuga Neji dan Hyuga Hinata. Pertarungan taijutsu klan Hyuga kini tersaji di depan mataku. Taijutsu dimana fokus serangan adalah mematikan titik cakra pada tubuh lawanya. Taijutsu yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Karena jika kau melakukannya maka kematianlah yang kan menghampirimu.

Pertandingan berlangsung dengan sengit. Maa... pertarungan yang dihiasi dengan kalimat kasar dari Neji. Aku tidak bisa menyalahkan sikap Neji yang seperti itu, mengingat apa yang dialaminya sebagai keluarga cabang. Adu taijutsu terus berlangsung hingga Neji berhasil memberikan serangan telak ke perut Hinata. Pukulan yang harusnya mengakhiri pertandingan itu, jika saja tidak ada teriakan bodoh seperti ini.

"Jangan menyerah Hinata! Tutup mulut Hyuga sombong itu! Aku yakin kau bisa melakukannya!"

Teriakan yang berasal dari bocah Namikaze itu entah kenapa malah langsung mebuat Hinata yang sebelumnya terlihat akan menyerah langsung berdiri dan kembali memompa semangatnya. Hal yang tentu saja membuat Neji langsung naik pitam dan malah semakin genjar memeberikan serangan.

Tapi kali ini serangan yang diberikan Neji bukan lagi untuk melumpuhkan. Serangannya kini mulai berubah tujuan menjadi membunuh. Pukulan demi pukulan yang membuat Hinata semakin tak berdaya.

"Namikaze Menma, lain kali lihatlah siapa yang akan kau berikan semangat. Tidak semua orang memiliki apa yang kau miliki. Suatu saat teriakan semangatmu bisa saja malah membunuh orang yang kau berikan semangat"

Kalimat bernada sinis itu berhasil meluncur kepada bocah Namikaze. Bahkan aku mengatakannya tanpa menoleh kearahnya. Pandanganku sekarang malah menoleh ke arah Gai-sensei. Sedangkan Gai-sensei yang mengerti maksud padanganku hanya menganggukan kepalanya.

"Apa maksudmu haa?"

Ck... inilah kenapa aku mebenci orang arogan. Selalu menganggap dirinya benar. Tidak menghiraukan kalimat itu, kini semua fokus ku arahkan ke arena. Ku lihat Hinata sudah tidak bisa lagi melawan. Bahkan untuk berdiri saja membuat kedua lututnya bergetar.

Aku tidak mengerti jalan fikiran dari Hyuga yang satu ini. Apa untungnya kau mempertaruhkan nyawamu di pertandingan ini. Jika kau kalah di sini kau masih bisa melakukannya di ujian berikutnya.

Sedangkan Neji yang sudah benar – benar dikuasai emosinya berniat memberikan serangan akhir. Jyuken yang mengarah tepat ke jantung Hinata. Serangan yang jika mengenainya pasti akan berakhir pada kematian. Tidak membiarkan hal itu terjadi aku segera melompat kedalam arena.

Bahkan aku harus membuka gerbang kedua untuk bisa sampai tepat waktu sebelum serangan itu mengenai Hinata. Muncul tepat di samping Neji dan mencengkram pergelangan tangannya yang hanya tersisa beberapa centi dari Hinata. Untung saja aku tepat waktu.

"Apa kau lupa dengan yang ku katakan sebelum ujian ini dimulai?"

Kalimat yang pertama kali ku keluarkan, sembari menatap tajam Neji yang masih mengaktifkan Byakugan tepat di matanya.

"Cih... Ini bukan urusanmu!"

Menarik kasar tangannya dari cengkramanku. Tidak menghiraukan Neji yang masih mengatur emosinya, kualihkan pandanganku ke arah Hinata. Kakinya yang sudah tidak lagi bisa menopang berat tubuhnya sendiri membuatnya roboh. Tidak ingin membuat Hinata menerima rasa sakit akibat benturan dengan lantai, aku segera menangkap tubuhnya lalu membaringkannya secara perlahan.

Setalah tubuhnya berhasil ku baringkan. Seorang Jounin wanita berambut hitam dengan mata ruby langsung menghampirinya. Melirik sekilas kearahku lalu mengangguk, setelah itu direksinya diarahkan sepenuhnya pada Hinata. Sedangkan aku kembali menoleh ke arah Neji.

"Bisa kau jelaskan apa yang terjadi disini, Neji?"

"Ck... sudah ku bilang ini bukan urusanmu. Lagi pula berhentilah mengkhawatirkan orang lain"

Ucap neji sembari menunjuk ke arah papan elektrik. Mengikuti arah pandangan itu, mataku seketika membulat. Disana terpampang dua buah nama, Uzumaki Naruto dan... Sabaku no Gara.

"Kau masih berhutang penjelasan padaku setelah ini"

"Aku tidak pernah berjanji"

Kini semua orang sudah meninggalkan arena pertandingan. Neji yang telah kembali ke balkon dan Hinata yang sudah diantarkan ke ruangan medis. Kini di arena ini hanya menyisakan aku, dan sang juri. Namun seketika semua pandangan beralih ke sebuah gumpalan pasir yang tiba – tiba muncul tepat di hadapanku. Memunculkan seorang laki – laki berambut merah kecoklatan dengan sebuah... labu dipunggungnya.

"Uzumaki Naruto... Ibu menginginkan darahmu!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Hai... minna! Ane muncul lagi. Maaf karena gak ada kabar selama ini... ane banyak kegiatan di dunia nyata...

Maaf ya lambat update...

Maaf ya kalau gak bagus...

Semoga ini chapter bisa memuaskan para reader...

Dan juga Ane juga gak pernah bosen – bosennya terimakasi sama reader yang udah nge-review, follow dan favorite fic ane...

Jadi bagi reader yang belum review... luangkanlah waktu kalian untuk sekedar mereviw fic ane ini... karena review kalian adalah bahan bakar untuk jari – jari ane...

Udah gitu aja kali ya!

..

.

.

.

Wisesa Kazehaya

Log Out