Summary :

Uzumaki Naruto. Anak yang dicintai oleh alam semesta tetapi di benci oleh penduduk desanya sendiri walaupun itu bukanlah hal yang pantas ia tanggung. Bersama hewan kuchiyose yang malah memilih untuk desegel dalam tubuhnya mampukah Naruto mencapai impiannya? Warn. Taijutsu Naru, SageMode Naru, Smart Naru.

Desclaimer : Naruto bukan punya ane. Naruto kepunyaannya Masashi-sensei.

Warning : OOC Naru, OOC Minato, Typo bertebaran, Bahasa berantakan, Iritasi berlebihan. Mata merah, hidung tersumbat, sesak nafas, bibir pecah - pecah dan gangguan kesehatan lainnya.

Rating : M

Pair : Naruto x ? ()

"Aku Uzumaki Naruto" -Normal

'aku uzumaki naruto' -Inner

"aku uzumaki naruto" -Monster/Angry

'aku uzumaki naruto' - Mindscape/Dream

Jikukan Kekkai -Jutsu

Ane saranin kalau gak suka mending langsung di tutup aja ya!

Yosh… selamat membaca

V

V

v

~~Emperor of The World~~

~~Sebelumnya

"Bisa kau jelaskan apa yang terjadi disini, Neji?"

"Ck... sudah ku bilang ini bukan urusanmu. Lagi pula berhentilah mengkhawatirkan orang lain"

Ucap neji sembari menunjuk ke arah papan elektrik. Mengikuti arah pandangan itu, mataku seketika membulat. Disana terpampang dua buah nama, Uzumaki Naruto dan... Sabaku no Gara.

"Kau masih berhutang penjelasan padaku setelah ini"

"Aku tidak pernah berjanji"

Kini semua orang sudah meninggalkan arena pertandingan. Neji yang telah kembali ke balkon dan Hinata yang sudah diantarkan ke ruangan medis. Kini di arena ini hanya menyisakan aku, dan sang juri. Namun seketika semua pandangan beralih ke sebuah gumpalan pasir yang tiba – tiba muncul tepat di hadapanku. Memunculkan seorang laki – laki berambut merah kecoklatan dengan sebuah... labu dipunggungnya.

"Uzumaki Naruto... Ibu menginginkan darahmu!"

V

V

v

~~Emperor of The World~~

~~Normal POV

Ujian Chunin. Sebuah ujian yang harus di lalui para Genin untuk bisa menaikkan status mereka menjadi Chunin. Tentunya ujian ini bukanlah sebuah ujian biasa dimana kau harus duduk di dalam ruangan sempit penuh ketegangan dengan beberapa lembar soal yang harus kau jawab dan kumpulkan sebelum waktu yang di berikan habis.

Ujian Chunin adalah ujian yang menuntut setiap pesertanya menunjukan semua kemampuan yang dimiliki. Dan tentunya kau harus memiliki kemampuan yang mumpuni untuk ikut dalan ujian ini. Karena jika tidak, nyawamu bisa saja menjadi bayarannya.

Seperti saat ini, dua orang Genin tengah berdiri berhadap – hadapan. Seorang anak laki - laki dengan rambut pirang dan merah pada bagian ujungnya, pakaian hijau ketat yang membuat otot tubunya tercetak dengan jelas. Genin Konohagakure, Uzumaki Naruto.

Lalu dihadapannya berdiri seorang anak laki – laki dengan rambut merah kecokalatan dengan sebuah labu di punggungnya. Genin Sunagakure, Sabaku no Gara.

Kedua orang itu hanya berdiri saling berhadapan tanpa ada seorangpun yang memulai pembicaraan. Hanya diam untu saling mengobservasi lawannya masing – masing. Terus seperti itu hingga sebuah suara seketika langsung membuat mereka menaikkan kewaspadaannya.

"Uzumaki Naruto melawan Sabaku no Gara... Hajime!"

Setelah kalimat itu, kumpulan pasir langsung keluar dari dalam labu yang tengah di gendong oleh Gara. Sedangkan Naruto yang melihat kumpulan pasir yang keluar itu hanya bisa melompat mundur dan menjaga jarak antara dirinya dan Gara.

"Ada apa Uzumaki?! Kemarilah dan biarakan aku membasahi pasirku dengan darahmu!"

"Cih... dalam mimpimu"

Balas Naruto akan pernyataan Gara yang dihiasi dengan wajah psikopatnya.

'Pengendali pasir kah? Aku tidak punya informasi apapun mengenai kemapuannya. Cih pertarungan yang merepotkan. Aku tidak bisa mengambil resiko dengan menyerangnya tanpa sebuah rencana'

Batin Naruto sembari merogoh katung senjatanya dan mengeluarkan tiga buah kunai. Melemparkan sebuah kunai secara frontal ke arah kepala Gara. Namun sebelum kunai itu mengenai sasarannya. Kunai itu sudah terhenti akibat kumpulan pasir yang membentuk dinding yang menghalangi laju kunai tersebut.

Tidak ingin terlarut dalam keterkejutan Naruto langsung berlari memutari Gara. Lalu setelah tepat berada di belakang Gara, Naruto langsung melemparkan sebuah kunai lainnya. Namun kunai tersebut kembali terhenti akibat sebuah dinding pasir.

Sedangkan di balkon penonton, terlihat seorang gadis berambut merah muda terlihat kebingungan dengan apa yang dilakukan oleh Naruto di arena. Dia adalah Haruno Sakura, salah satu anggota dari tim 7 Konohagakure. Tidak ingin perasaan penasaran mengganggunya lebih lama ia segera menyuarakan kebingungannya pada sang sensei.

"Anoo... Kakashi-sensei! Kenapa Naruto hanya berlarian dan melempar kunai saja. Kenapa dia tidak langsung menyerang?"

Sedangkan Jounin sensei dengan rambut silver dan masker menutupi mulutnya yang menjadi tujuan dari pertanyaan itu melirik sekilas ke arah Sakura lalu kembali mengalihkan pandangannya kearah buku yang dipegangnya.

"Aaahhh... dia sedang mengumpulkan informasi mengenai lawannya"

"informasi?"

"Naruto saat ini sedang mengumpulkan informasi tentang pola serangan dan kelemahan lawannya"

Terang Kakashi tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang ia pegang.

"Kheh... dia hanya terlalu lemah untuk menyerang!"

Sebuah suara bernada sinis yang berasal dari kali ini berasal dari seorang anak yang terlihat seperti copy paste dari sosok Yondaime Hokage berhasil mengalihkan pandangan dari dua orang yang sedari tadi tengah berbincang.

"Dia tidak lemah Menma! Dia cepat dan juga kuat!"

"Kenapa kau berpendapat seperti itu Sakura?"

Tanya heran Kakashi. Mengingat sifat Sakura yang sangat mengidolakan Uchiha Sasuke. Ini merupakan kali pertama Sakura memuji laki – laki lain, bahkan dia tidak pernah memuji Menma walaupun mereka berada dalam satu tim yang sama.

"Eetoo... Naruto pernah menolongku. Sewaktu Menma dan Sasuke-kun pingsan di hutan kematian, kami diserang oleh tim Otogakure. Tapi Naruto datang menolong kami"

"..."

"Pada awalnya dia berhasil didesak oleh lawannya. Aku bahkan mulai berfikir bahwa dia adalah orang yang sangat lemah. Tapi semua fikiranku langsung terbantahkan ketika dia membalikan keadaan dan mengalahkan semua lawannya dengan sangat cepat bahkan tanpa keringat yang jatuh darinya"

"Kheh... dia hanya beruntung melawan tim yang lemah"

Kembali nada sinis bercampur perasaan tidak terima langsung keluar dari Menma. Sedangkan Sakura hanya diam tidak berkeinginan membenarkan ataupun membantah pernyataan itu. Kini pandangannya hanya mengarah ke arena, tempat dimana Naruto masih terlihat diam dengan sebuah kunai di tangannya.

Sedangkan Kakashi kembali diam dan melanjutkan membaca buku yang ada di tangannya. Tetapi sebuah pernyataan keluar pada seorang yang berdiri tepat di sebelahnya.

"Kau memiliki murid yang menarik... Gai"

"Kau hanya belum tahu semangat masa muda murid – muridku Kakashi"

Kembali ke arena dimana dua orang genin yang tengah saling berhadapan. Dimana gara yang masih setia dengan posisi tangan yang bersilang didepan dada. Sedangkan naruto yang masih diam sembari memutar – mutar sebuah kunai di tangan kanannya.

'Pasir itu selalu melindunginya. Selain itu pasir itu seperti bergerak secara otomatis. Dia bahkan menghentikan kunai yang ku lempar bahkan tanpa melihatnya. Tapi coba kita lihat seberapa cepat pasir itu bisa bergerak'

Batin Naruto setelah semua kunainya berhasil dihentikan. Menyiapkan sebuah kuda – kuda menyerang dengan sebuah kunai di tangan. Menarik nafas pelan dari hidungnya dan memenuhi seluruh rongga paru – parunya dengan oksigen, lalu menghebuskannya melalui mulut.

Semua penonton masih setia melihat apa yang akan dilakukan oleh Naruto. Tapi dalam satu kedipan, orang yang dari tadi mereka lihat sudah menghilang dan tidak lagi berada di arah pandangan mereka. Gara yang melihat lawannya tiba – tiba menghilang langsung meningkatkan kewaspadaanya.

Hingga semua mata harus terbelalak kaget ketika Naruto tiba – tiba sudah berdiri tepat di samping Gara untuk melemparkan kunai yang dipegangnya. Melihat sebuah kunai yang sedang mengarah ke arahnya, Gara berhasil menggerakan pasir untuk membuat pertahanan di saat – saat terakhir. Tapi saat pasir itu kembali turun dia harus kembali membelalakan matanya karena tidak lagi melihat Naruto.

"Apa yang kau cari, Panda?"

Sebuah suara bernada berat dari arah berlawanan langsung menyadarkannya dari kekagetan. Tapi sebelum Gara berhasil melihat ke arah datangnya suara, sebuah pukulan sudah mendarat dengan mulus di pipinya. Membuatnya terlempar beberapa meter. Pertahanan pasir yang sejak awal pertandingan terus menerus melindunginya kini seakan tidak lagi berguna menghadapi kecepatan yang digunakan Naruto.

Sedangkan semua orang yang menonton pertandingan itu lagi – lagi harus dibuat membelalakan matanya. Ketika Naruto berhasilkan mendaratkan pukulan ke lawanya dan akan kecepatan yang dimiliki oleh Naruto. Terlebih tim dari sunagakure yang saat ini sangat terkejut. Karena ini adalah kali pertama mereka melihat ada orang yang berhasil mendaratkan sebuah pukulan kepada Gara.

Naruto yang berhasil mendaratkan pukulan ke arah Gara saat ini hanya berdiri dan melihat Gara yang masih terbaring dengan tatapan datar. Tidak ada sedikitpun ekspresi kebahagiaan yang terlihat diwajahnya.

'apa itu? Perasaan ini... yang kupukul tadi bukanlah sebuah kulit... apa yang sebe-... mungkinkah?'

Memfokuskan padangannya ke arah Gara yang mulai berdiri, hingga menampakan retakan pada pipinya.

'Cih... pertahanan dua lapis. Pasir dari labu yang bergerak secara otomatis untuk melindungi pemiliknya dan pasir yang melindungi tubuhnya dalam bentuk armor. Benar – benar merepotkan'

"Uzumaki Naruto! Berhentilah bermain – main dan buatlah aku merasa lebih hidup"

Setelah mengatakan itu, Gara langsung menggerakan tangannya. Seakan merespon sang pemilik pasir – pasir di sekitar Gara langsung meresat ke arah Naruto. Sedangkan Naruto yang tidak ingin mencoba merasakan kekuatan serangan lawan segera melompat menghindar. Namun pasir – pasir itu terus - menerus mengikuti setiap pergerakan Naruto.

"Cih Sialan!"

Muak dengan pasir – pasir yang terus menerus mengejarnya. Naruto langsung menghilang dalam kecepatan dan muncul tepat di depan Gara lalu memukulnya dengan kuat. Tapi kejadian yang sama kembali terjadi. Pukulan itu hanya menghancurkan armor pasir yang ada pada tubuh Gara.

'Cih ini hanya akan jadi sia – sia. Tenagaku hanya akan terkuras tanpa ada hasil yang berarti. Apa aku harus menggunakannya?'

Terlalu lama larut dalam fikirannya, Naruto harus merelakan tubuhnya dihantam oleh kumpulan pasir yang dikendalikan oleh Gara. Membuat tubuhnya terlempar jauh hingga menabrak dinding arena. Tidak ingin merasakan serangan lainnya Naruto langsung melompat jauh kebelakang hingga berdiri membelakangi patung berbentuk segel tangan yang ada di arena pertandingan itu.

"HAHAHA... KENAPA UZUMAKI? SERANGLAH! BUAT AKU MERASA LEBIH HIDUP"

'Cih... Serangan tunggal tidak akan berpengaruh padanya. Dan lagi aku hanya akan kalah dengan kondisi kehabisan tenaga. Untuk mengalahkannya aku harus melakukan serangan beruntun untuk mengahancurkan armornya lalu sebuah serangan kuat untuk mengakhiri. Tapi masalahnya-'

"NARUTOO! GUNAKANLAH! TUNJUKAN SEMUA SEMANGAT MASA MUDAMU... AKU MENGIZINKANMU!"

Sebuah teriakan langsung menyadarkan Naruto dari fikirannya. Menolehkan kepalanya ke sumber suara. Bisa dilihatnya seorang Jounin dengan pakaian hijau ketat dan rambut bob hitam tengah mengacungkan tangannya dengan posisi nice guy. Dia adalah sang sensei, Maito Gai.

Mengerti apa yang dimaksudkan oleh sang sensei Naruto langsung tersenyum lebar lalu membalas dengan pose niice guy. Mengalihkan pandangannya kearah Gara yang masih menunjukan wajah psikopatnya lalu mengacungkan jari telunjuknya ke arah Gara lalu berbicara.

"Ooi... Mata Panda! Kali ini aku benar – benar akan membuatmu hidup. HIDUP DALAM RASA SAKIT"

Ucap Naruto sembari menunjukan wajah psikopat yang bisa bersaing dengan Gara. Kini Naruto menggunkan posisi menyerang dari taijutshu Guren dimana kedua kakinya ditekuk hingga rata – rata air dengan kepalan tangan kanannya menyentuh permukaan tanah sedangkan tangan kirinya mencengkram lutut. (Bayangin Luffy pake Gear Second) Selanjutnya aura kekuatan segera mengguar dari tubuh. Aura yang membuat kerikil yang berada di sekitar kami perlahan – lahan mulai terangkat.

"Guren Hachimon Tonko: Seimon... Kai"

Setelah meneriakan tekniknya, hempasan aura berwarna merah seketika memenuhi arena pertarungan. Semua Jounin sensei yang melihat apa yang dilakukan oleh Naruto langsung membelalakan matanya.

"APA YANG DILAKUKAN OLEH MURIDMU GAI? KENAPA KAU MENGAJARKANNYA HACHIMON TONKO. BAHKAN SAMPAI MEMBUKA GERBANG KEDELAPAN"

Seorang Jounin dengan dengan sebatang rokok di sela bibirnya seketika berteriak kepada Gai. Sedangkan Gai yang mendengarkan protes bernada keras dari rekan Jouninnya hanya bisa terkekeh.

"Teknik itu memang terlihat seperti Gerbang ke delapan Hachimon Tonko, tapi itu bukanlah apa yang sama dengan teknik yang aku gunakan. Itu adalah versi lain dari teknik ku, teknik yang hanya bisa digunakan oleh Naruto seorang. Dan apa kau tidak mendengar dia hanya membuka gerbang ketiga"

"Tapi tetap saja membiarkan Naruto menggunakannya, hanya akan menghancurkan tubuhnya"

Ucap Kakashi dengan nada kecewa dalam kalimatnya.

"Kau tidak tau apa – apa Kakashi! Aku bahkan berani bertaruh kalau kau tidak tau siapa Naruto di masa lalu. Jadi DIAMLAH DAN BIARKAN NARUTO BERTARUNG!"

Semua orang yang mendengar suara bernada keras dari Gai langsung bungkam dan kembali mengalihakan perhatiannya ke arah arena dimana Naruto yang kini tengah terselimuti oleh aura merah.

Kini terlihat Naruto sedang menggigit ibu jari tangan kananya hingga mengeluarkan darah, lalu kemudian melumuri darahnya di ujung – ujung jari lainnya. Sementara tangannya yang bebas mengangkat ujung baju yang dikenakannya hingga menunjukan aksara aneh yang tercetak diatas perutnya.

Menempelkan ujung – ujung jari yang telah dilumuri darah tadi diatas rangkaian tulisan – tulisan aneh ditas perutnya. Lalu kemudian memutarnya layaknya memutar toples.

"Gravitation Seal: Kai"

Bersamaan dengan itu, tanah yang menjadi tempat berpijak Naruto seketika amblas membentuk kawah dengan Naruto sebagai pusatnya. Aura kemerahan yang keluar dalam tubuhnya mengguar dengan lebih liar dari sebelumnya.

Sedangkan tubuhnya sendiri terlihat memerah seperti baru saja di rebus dalam air mendidih, dengan asap putih yang terlihat menguap dari kulitnya.

Sekali lagi mengambil kuda - kuda Guren, dimana kedua kakinya di tekuk hingga rata – rata air, kepalan tangan kanan yang disentuhkan di permukaan tanah dan tangan kiri yang mencengkram lututnya. Wajahnya tertunduk sehingga ekspresinya tidak terlihat.

"Guren Hachimon Tonko: Seimon..."

Mengangkat wajahnya, menampilakan ekspresi keseriusan yang luar biasa. Matanya menajam bagaikan elang yang sedang menggunci targetnya.

"Second Liberation"

Tidak ingin membuang terlalu banyak waktu, Naruto tiba – tiba langsung menghilang dari pandangan semua orang. Sedangkan Gara yang melihat lawannya menghilang langsung melihat ke sekeliling mencari keberadaan Naruto.

"Sesuai permintaanmu... Akan ku buat kau merasa lebih hidup"

Sebuah kalimat bernada berat tiba - tiba langsung masuk ke dalam indra pendengarannya. Bahkan sebelum dapat memberikan sebuah reaksi yang berarti Gara harus rela mersakan rasa sakit di dagunya ketika Naruto tiba – tiba muncul tepat di hadapannya dan menyangkan sebuah pukulan uppercut. Membuat gara melayang ke udara tanpa hambatan berarti. Pasir – pasir yang sedari awal terus melindunginya tidak bisa merespon gerakan Naruto yang di luar akal sehat.

"Guren : Akai Kiba"

Sebuah bisikan langsung menyadarkan Gara dari keterkejutannya. Melirikan matanya ke bawah. Lantai menjadi tempat pijakan Naruto kembali amblas. Kembali menghilang dalam kecepatan, Naruto tiba – tiba muncul tepat dihadapan gara dengan posisi telapak tangan kiri yang direntangkan kedepan dan tangan kanan yang terkepal tepat di samping pipinya.

Dan lagi – lagi sebelum Gara berhasil bereaksi, tubuhnya terlebih dahulu harus merasakan sakit yang luar biasa di perutnya lalu kemudian melesat mengikuti arah pukulan yang diterimanya. Namun belum selesai dengan rasa sakit sebelumnya, Gara harus kembali merasakan rasa sakit di bagian tubuh lainnya.

Terus menerus seperti itu, serangan demi serangan yang bahkan tidak bisa ia lihat sumbernya terus menerus memberikan rasa sakit di tubuhnya. Menghancurkan armor pasir yang melekat di kulitnya hingga tidak bersisa. Membuat rasa sakit dari serangan yang diterimanya semakin menyiksa.

Sedangkan semua penonton yang ada di balkon hanya bisa membulatkan matanya ketika menyaksikan serangan yang sangat cepat dan tanpa henti yang dilancarkan oleh Naruto pada Gara. Bahkan Kakashi harus menggunakan Sharingan-nya untuk bisa melihat jalannya pertandingan. Serangan beruntun itu terus berlangsung selama beberapa menit tanpa henti. Hingga tubuh Gara terlihat naik pelan ke udara dengan posisi terlentang. Semua orang yang mengira semua serangan beruntun tadi sudah berakhir lagi – lagi harus membulatkan matanya ketika Naruto muncul tepat di atas Gara dengan kaki kanan yang diangkat tinggi – tinggi.

Gara yang melihat serangan itu bahkan tidak bisa melakukan apa - apa tubuhnya terlalu sakit untuk bisa merespon serangan dengan kecepatan seperti itu. Melihat tidak lagi ada perlawanan dari Gara, langsung menurunkan kaki kanannya dengan kecepatan di luar nalar. Tubuh Gara yang mejadi sasaran serangan itu langsung melesat bagaikan roket kebawah, menghancurkan lantai arena hingga hancur berkeping – keping.

Saat ini semua penonton hanya bisa bungkam sembari menatap arena yang kini dipenuhi dengan debu akibat dari lesatan tubuh Gara yang menghancurkan lantai arena. Dan ketika debu itu mulai menipis mereka lagi – lagi harus mebulatkan matanya melihat kondisi gara yang sangat memprihatinkan. Amor yang menutupi kulitnya sudah hancur berkeping keping menyisakan kulit aslinya yang terlihat banyak luka lebam yang tak terhitung jumlahnnya serta sudut bibirnya yang masih mengalirkan darah.

Dan pandangan kembali teralih ketika melihat Naruto tiba – tiba muncul dua puluh meter dari tubuh Gara. Kondisinya juga tidak bisa dikatakan baik, melihat dari nafasnya yang sangat memburu dan keringat yang terus menetes dari seluruh tubuhnya.

Semua orang hanya bungkam dan tidak bisa mengeruarkan satupun kalimat, masih shock akan pertarungan gila yang seharusnya tidak mungkin terjadi pada tingkat Genin. Seakan belum cukup mereka membulatkan matanya, sebuah kejadian aneh terjadi di arena tepatnya pada Gara.

"Aaarrrgggggghhhh... Tenanglah ibu! Aku akan menumpahkan darahnya untukmu"

Mulai bangkit dari posisi terbaringnya, Gara mulai meraung – ranung kesakitan. Mencengkram wajahnya sendiri lalu berbicar entah pada siapa. Bahkan seluruh anggota tim Sunagakure membulatkan matanya melihat kondisi Gara saat ini. sedangkan pasir yang berada di sekeliling Gara yang asih meraung mulai terangkat keudara lalu bergerak membentuk sebuah bola dengan Gara yang berada di tengahnya.

Pasir tersebut terus bergerak dan memadat sehingga hanya dengan melihatnya saja sudah membuat semua orang yakin akan kekerasan dari lapisan pasir tersebut. Setelah membentuk bola pasir padat yang melindungi Gara di tengahnya, butiran – butiran pasir lainnya bergerak lalu membentuk sebuah mata.

"Kau terlihat seperti anak kecil yang sedag mengambek lalu mengurung diri di kamarnya, Panda. Bukankah kau yang menyuruhku untuk membuatmu merasa lebih hidup?"

Kalimat yang keluar dari Naruto yang telah berhasil mengatur nafas yang sebelumnya begitu memburu. Namun tidak ada balasan apapun yang diterimanya dari Gara yang sudah tertutup sepenuhnya dengan pasir padat.

"..."

"Cih... jika kau tidak mau keluar... maka akan ku paksa kau keluar"

Setelah mengucapkan kalimat itu Naruto kembali memasang kuda – kuda standar Guren. Aura merah kembali mengguar dari tubuhnya mengangkat puing – puing sisa kehancuran akibat serangan beruntunya tadi.

"Kita lihat mana yang lebih kuat... Pertahananmu? Atau seranganku?"

Kembali menghilang dalam kecepatan, Naruto tiba – tiba sudah berada di depan bola pasir Gara. Tangan kanan yang direntangkan jauh kebelakang sedangkan tangan kirinya mecengkram bahu kanannya. Menghindari tombak – tombak pasir yang kali ini berhasil mengimbangi kecepatan Naruto. Tapi sayangnya tida semua tombah tersebut berhasil di hindari. Naruto harus menggerang tertahan ketika bahu kiri dan paha kanannya tertusuk tombak pasir. Tidak ingin kehilangan momentum dan menghentikan serangannya, Naruto kembali memusatkan seluruh tenaganya yang tersisa pada tangan kanannya.

"Guren : Red Hawk"

Bersamaan dengan teriakan itu Naruto langsung menarik tanga kanannya kedepan dengan kecepatan gila sehingga menyebabkan percikan – percikan api akibat gesekan antara tangannya dengan udara. Menghantamkan tangannya ke arah bola pasir di depannya. Hempasan udara seketika terjadi ketika pukulan Naruto bertemu dengan permukaan bola pasir Gara. Pukulan itu kemudian menghancurkannya hingga berkeping - keping, hingga menampakan Gara yang terlihat sangat terkejut.

Belum selesai dengan keterkejutannya Gara lagi – lagi harus merasakan sakit yang luar biasa ketika pukulan naruto terus melaju menghantam perutnya. Membuat Gara melesat bagaikan roket hingga harus terhenti ketika menghancurkan patung Handseal dan tembok di belakangnya.

Kembali arena tertutupi oleh debu kehancuran berpasang – pasang mata hanya bisa menatap ke arah kepulan debu dengan penasaran. Dan setelah kepeulan debu itu mulai menipis, terlihatlah kehancurna yang melebihi kehancuran yang sebelumnya. Sedangkan kondisi dari kedua orang yang bertarung sudah sangat memperihatinkan. Naruto yang terlihat sangat kelelahan bahkan terlihat bisa tumbang kapan saja selain itu Guren : Hachimon Tonko juga sudah nonaktif. Sedangkan Gara berada pada posisi paling memprihatinkan. Tubuhnya saat ini masih menempel di dinding pembatas arena. Dengan berbagai luka lebam di tubuhnya, dan yang terparah adalah bagian perutnya yang terlihat menghitam seperti terbakar sedangkan pakaian yang digunakannya telah robek di sana sini.

"Ukhuk!"

"Ukhuk!"

Kini bahkan keduanya memuntahkan darah dalam jumlah besar bersamaan. Tidak terlihat lagi wajah psikopat di wajah Gara saat ini. Hanya ada ekspresi meringis karena menahan rasa sakit yang luar biasa. Sedangkan Naruto yang melihat lawnnya masih sadar memaksa lagi semua otot-otot dalam tubuhnya untuk bergerak. Bergerak ke arah Gara yang juga saat ini memaksakan tubuhnya untuk bisa berdiri.

Tapi Naruto lah yang menang dalam hal ini. Saat ini Naruto mulai mengangkat kepalan tangannya dan siap mengarahkan pukulannya pada Gara. Gara yang melihat serangan itu hanya bisa menutup mata dan mengeraskan rahangnya. Berharap pukulan itu tidak memberikan terlalu banyak rasa sakit pada tubuhnya.

Lama menunggu pukulan Naruto yang tidak kunjung datang membuat Gara penasaran. Membuka matanya perlahan, hal yang pertama kali menjadi objek pengelihatannya yaitu Naruto yang mulai jatuh kehilangan kesadarannya. Jatuh tepat kearahnya. Namun sebelum Naruto benar-benar terjatuh, Gara berani bersumpah mendengar Naruto mengatkan seseuatu.

"Aku yang menang... Panda. Katakan pada ibumu kalau aku bilang hai!"

Kalimat yang dikeluarkan Naruto sebelum kehilangan kesadarannya terasa langsung masuk dalam otak Gara. Kalimat yang bahkan diucapkan dalam keadaan tersenyum. Tapi sebelum sempat memikirkannya pandangannya mulai mengabur dan akhirnya jatuh kehilangan kesadaran.

Semua orang yang melihat jalannya pertarungan hanya bisa terus terdiam bahkan sampai kedua peserta yang sudah menghancurkan keseluruhan arena terjatuh tak berdaya di sisi lapangan. Otak mereka masih belum selesai memproses apa yang sedang terjadi saat ini. semua terus berlangsung seperti itu hingga Gai mengeluarkan suaranya.

"Hayate... cepat umumkan hasil pertandingannya. Kita harus mengobati kedua Gennin itu secepatnya!"

Sedangakan Hayate yang baru saja tersadar dari keterkejutannya harus dibuat bingung menentukan pemenang dari pertarungan antara Gara dan Naruto.

"e...e...ma-masalah itu..."

"Biarakan aku yang menentukannya..."

Ucapan dari seseorang di belakang Hayate sukses membuatnya menghela nafas lega.

"Silahkan Sandaime Hokage-sama!"

.

.

.

.

.

.

~Naruto POV~

Di sinilah kau berdiri. Di tempat gelap yang selalu ku mimpikan. Sepertinya saat melawan Gara, aku kehilangan kesadaranku sebelum menyelesaikan serangan terakhir. Aku bahkan tidak bisa mengingat pukulan terakhirku sempat menegenainnya atau tidak. Hah... pasti aku sedang terbaring di rumah sakit saat ini. Sepertinya aku harus meminta maaf lagi pada tabunganku. Kau harus digunakan untuk biaya rumah sakit... lagi.

Tidak bisa ku pungkiri bahwa menjadi murid dari laki-laki yang memegang julukan sebagai monster biru Konoha, juga harus dibayar dengan diriku yang selalu keluar masuk rumah sakit. Tapi itu bukan masalah saat ini. Yang saat jadi masalah adalah dimana aku berada? Menolehkan kepalaku ke kiri dan ke kanan, mencari sesuatu yang mungkin bisa ku jadikan petunjuk.

"Eh... aku bisa menggerakkan tubuhku. Hmmm... biasanya di tempat ini aku hanya akan berakhir dengan tidak bisa menggerakkan tubuhku"

"Uzumaki Naruto!"

Semua lamunan dan argumenku seketika sirna ketika suara bernada berat yang menyeramkan masuk dalam telingaku.

"Siapa kau? Tunjukkan dirimu!"

"Kami sudah ada di sini sejak tadi, Uzumaki Naruto!"

Setelah pertanyaan dan penyataanku di jawab seketika cahaya merah darah bersinar di sekitarku. Bersinar dari kanji-kanji rumit yang mulai bergerak menjalar disekitarku. Setelah semua kanji-kanjii yang bergerak tadi saling menyambung dengan sempurna, sinar yang dipancarkan menjadi sangat laur biasa, membuatku hharus menutup mataku untuk menghindari cahayanya. Ketika merasa cahaya tadi sudah kembali meredup, ku buka mataku perlahan-lahan.

Saat ini aku tengah berdiri di tengah susunan kanji-kanji yang bersinar merah redup yang membentuk pola yin-yang. Dan saat aku melihat kesekelilingku, aku harus dibuat menganga lebar penuh ketidak percayaan. Pasalnya apa yang saat ini berdiri mengitariku adalah eksistensi yang hanya dianggap sebagai legenda.

"Sh...Shijin! Empat dewa gerbang langit"

"Hooo... ternyata masih ada manusia yang mengetahui siapa kami"

"Te-tentu saja aku tahu... aku sering membaca buku-buku tentang legenda dan kehebatan kalian. Suzaku, Burung api Phoenix penjaga gerbang selatan, Gerbang Api. Genbu, Kura-Kura Hitam dengan ekor ular penjaga gerbang utara, Gerbang Tanah. Seiryuu, Azure Dragon penjaga gerbang timur, Gerbang Air. Dan Byakko, Harimau putih penjaga gerbang barat, Gerbang Angin."

"Hahaha... kau benar-banar tahu banyak tentang kami Uzumaki Naruto!"

Menolehkan kepalaku kearah kanan dimana asal suara tersebut. Aku bisa melihat Genbu tersenyum ke arahku.

"Ya... untuk ukuran anak sepertimu kau tahu cukup banyak."

Kali ini giliran Byakko yang berbicara.

"Tentu saja! Aku adalah penggemar berat kalian"

"Hmmm... Lupakan dulu semua hal itu Uzumaki Naruto! Kau memang punya cukup pengetahuan tentang kami... tapi masih ada sesuatu yang kurang dari penjelasanmu"

"Apa maksudnya Suzaku-sama?"

"Ada satu lagi Dewa Penjaga Gerbang Langit yang kau lewatkan, juga jangan paggil aku dengan tambahan –sama."

"Benarkah? Tapi aku hanya punya informasi tentang kalian. Lalu siapa Dewa Penjaga itu?"

"Dia adalah Kirin, Dewa pejaga Gebang tengah, Gerbang Petir"

"Waaaahhh... Gerbang tengah ya!"

"Haha... kau terkejut bukan?"

"Tentu saja! Selama ini kupikir Shijin hanya beranggotakan kalian berempat"

"Lalu bagaimana jika ku katakan kalau Kirin adalah manusia."

"Ma-manusiaaAAAA?"

"Baiklah langsung saja ku katakan sebuah hal penting padamu. Mengingat waktu kami yang juga semakin menipis."

"..."

"Kau adalah Penjaga Gerbang Langit selanjutnya. dengan kata lain kau adalah Kirin"

"APAAAAAA?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

..

.

.

TBC

Hai minna... ane muncul lagi setelah sekian lama hilang. Lagi – lagi ane nyangkut di problematika kehidupan di dunia nyata. Ane terjebak sama dalam sebuah kegiatan dimana ada sekelompok orang dengan bahasa planet selama sebulan terakhir ini. Dan pas kegiatannya selesai ane keinget fi ane yang gak pernah update. Jadi deh ane ketik dulu. Ini aja ketik kilat... mudah mudahan masih ada yang nungguin ni fic update...

Masalah pertanyaan. Mudah-mudahan semua sudah terjawab dari cerita diatas. Ane juga lahi – lagi mau bilang terimakasih sama semua pihak yang sudah review, fav, dan follow fic ini... yang SR juga terimakasi... lain kali review ya XD...

Sekian aja ya dari ane... klw ada pertanyaan, bantahan, cacian, makian, bisa dilakukan di kolom review... yang penting sesuai dengan tata krama XD...

Oke kalau gitu... sampai jumpa di chap selanjutnya

.

.

..

.

.

.

Wisesa Kazehaya

Ngacir...