Jimin kembali menjalankan sapunya, memutari lapangan, ketika sebuah bludger berdesing di sampingnya. "Sorry, Jimin." Jimin mengangguk pada Hoseok, salah satu Beater Gryffindor yang dikenal sebagai beater terkuat Hogwarts menggantikan Seuncheol mengejar bludger yang lagi-lagi mengarah ke penonton. Jimin hendak kembali ke atas, ketika sebuah derakan disusul pekikan histeris berasal dari arah penonton. "Jimin!" teriak Hoseok. "Bludger itu disihir." Hoseok berada di sampingnya kini, nafasnya terengah.
"Apa?"
"Dan bludger itu selalu mengarah kepada Min Yoongi." tepat setelah Hoseok mengatakannya, Jimin mendengar pekikan Alicia di bawah sana. Ia melihatnya, sang bludger melaju dengan cepat ke arah—
"Min Yoongi, awas!"
.
.
a Collab project by Glowrie and peachpeach
Based on JK Rowling's amazing novel "Harry Potter"
FELIX FELICIS (CHAPT 2)
A MinYoon/MinGa Fanfiction
Jimin x Yoongi ; BTS
Romance, Friendship, BL, Hogwarts!AU
Twoshoot
ALL CASTS BELONG TO THEMSELVES, BUT THIS STORYLINE IS OURS, DLDR!
.
Happy Reading~
.
.
Yoongi mendengus kesal ketika ia harus terjebak diantara kerumunan para siswa yang berisik mengelu-elukan nama idola mereka masing-masing dari bangku penonton. Belum lagi udara musim gugur yang terasa menusuk sampai tulang meskipun ia memakai coat dan berlapis-lapis sweater di baliknya. Jika bukan karena ancaman Taehyung yang akan menghabiskan seluruh persediaan permennya, Yoongi tidak akan sudi menonton pertandingan Quidditch. Ia lebih suka menghabiskan waktu di ruang rekreasi asrama mereka, atau berdiam diri di perpustakaan untuk membaca beberapa ramuan langka yang sulit dibuat. Selama enam tahun menuntut ilmu di Hogwarts, Yoongi baru tiga kali menonton pertandingan Quidditch dan itu semua karena paksaan Taehyung.
Pernah satu kali ia tidak menonton pertandingan dan gelagapan ketika Taehyung memintanya berkomentar mengenai aksinya mengejar golden snitch, setelah itu permen-pemennya hilang. Lenyap tak berbekas karena dibagikan secara suka rela oleh Taehyung kepada anggota tim Quidditch Slytherin sebelum Yoongi sempat merapalkan Sectumsempra.
Yoongi menopang dagunya dengan malas ketika netranya mengikuti pergerakan Vernon—chaser baru Slytherin yang berada di tingkat satu. Ia juga menatap tanpa minat ke arah Taehyung dan Jimin yang dengan heboh menabrakkan sapu mereka masing-masing demi golden snitch yang sama sekali tidak bisa Yoongi lihat. Bodoh, batin pemuda pucat itu. Memang apa serunya berteriak-teriak bar-bar demi melihat pertandingan seperti ini? Mengapa pula mereka harus berebut bola? Mengapa tidak memberikan bola satu persatu saja? Yoongi berdecak, pun ia mengeratkan lilitan syal hijau-peraknya, guna menghalau angin musim gugur yang beku.
Ia mengamati bagaimana Jimin dan Taehyung terbang dengan cepat, memutari seluruh lapangan, tribun penonton, menukik, melakukan beberapa gerakan salto, hingga saling menabrak satu sama lain di atas sana. Terkadang mereka berdua tak terlihat, karena terbang di bawah tribun.
Yoongi mendengus, ia masih bertanya dalam hati, apa guna pertandingan ini sebenarnya. Ia masih tak mengerti mengapa orang rela keluar di cuaca yang sedingin ini hanya untuk bersorak hingga suara mereka parau, Yoongi juga tak mengerti mengapa—
DAK
WUSH
Tiba-tiba pandangannya tertutup oleh punggung dengan jubah berwarna merah dan emas. "Maaf Yoongi, kuharap kau tak terluka." Yoongi hanya bisa mengerjap ketika Hoseok meminta maaf padanya, sebelum kembali melesat terbang. Apa yang terjadi? Apa baru saja bola hitam itu menuju ke arahnya?
Yoongi memicingkan matanya, berusaha untuk mencari-cari si hitam yang akan mencelakainya lagi, ketika ia kembali terkejut oleh derakan dan goncangan yang terjadi di tribunnya. Bola besi hitam itu menghancurkan bagian bawah tribun, membuat kerumunan siswa yang ada di sana menjerit histeris.
Sesaat Yoongi disorientasi ketika tubuhnya dihimpit dan didorong oleh tubuh-tubuh yang lebih tinggi darinya. Ia masih berada di sana, ketika sebuah pekikan menyapa inderanya.
"Min Yoongi, awas!"
Yoongi tak sempat bereaksi, yang ia ingat Jimin meluncur dengan cepat, kemudian membentur tanah di bawah sana. Jantung Yoongi berdebar dengan kencang ketika dilihatnya seluruh pemain menukik turun dengan cepat. Berkerumun di satu titik, kemudian peluit Madam Hooch ditiup tanda pertandingan tepaksa dihentikan karena insiden.
Disana, Jimin terkapar tak sadarkan diri dengan Nimbus 2701 miliknya yang rusak parah. Yoongi bahkan ikut memekik kaget bersama para siswa lainnya ketika Minho dan Jaehyun membopong Jimin dengan berlumuran darah pada pelipisnya menuju rumah sakit Hogwarts. Bahkan dari jarak setinggi itu, Yoongi tahu jika Jimin tengah berlumuran darah.
Yoongi tertegun di tempatnya, maniknya mengikuti segerombolan orang yang mulai menjauh dari tribun dan menghilang satu persatu di balik pintu ganda yang menghubungkan lapangan dengan kastil. Yoongi bahkan melihat Jeon Jungkook yang berlari dengan kecepatan penuh menyusul Minho dan Jaehyun yang membopong Jimin.
"Apa yang kau lakukan disini, Hyung?! Ayo cepat pergi, seseorang yang berniat menyerangmu mungkin masih ada di sekitar sini!" Kesadaran Yoongi ditarik kembali ketika Taehyung datang dengan seragam Quidditch-nya dan beberapa luka lebam di wajah tampannya. Ia menggamit lengan Yoongi, mengajak figur yang lebih tua darinya itu untuk menjauh dari area tribun, tanpa menyadari jika seseorang mengamati keduanya dengan rahang mengerat dan siap merapalkan salah satu dari Kutukan Terlarang kepada Yoongi.
Felix Felicis©Glow&peach
Jam malam sebenarnya sudah diberlakukan beberapa jam yang lalu, tapi Min Yoongi yang gelisah berhasil diam-diam pergi keluar dari asramanya dengan bantuan Taehyung.
"Dengar Hyung, berhati-hatilah menuju bangsal. Para Prefek akan senantiasa berkeliaran untuk patroli malam. Jangan sampai kau tertangkap dan mendapatkan detensi hanya karena mengunjungi si sialan Park Jimin." Yoongi tertawa pelan mendengar Taehyung yang begitu khawatir ketika mengantarnya menuju pintu yang menghubungkan asrama mereka dengan bangunan utama kastil.
"Si sialan itu yang menyelamatkanku dari serangan bola hitam—"
"Bludger." potong Taehyung.
"—bludger? Menyelamatkanku dari bludger, kalau kau lupa." Yoongi tertawa pelan sekali lagi, sedangkan Taehyung membuang muka tanda tak suka Yoongi menemui Jimin untuk sekedar ucapan 'Terima kasih'. Pemuda itu hanya tak rela, namun ia pun tak menampik jika Jimin berjasa. Jadi apa salahnya jika ia sedikit memberikan keringanan pada mereka? Jimin memang tidak memenangkan pertandingan mereka, tetapi Taehyung tahu ia bisa sedikit percaya pada Jimin.
"Aku akan berhati-hati, terima kasih sudah membantuku Taehyung-ah. Pastikan Daehyun tidak mengetahui jika aku kabur dari asrama." Taehyung mengangguk, kemudian mengikuti Yoongi dengan pandangannya sampai figur yang lebih tua menghilang di balik dinding kastil.
Yoongi mengendap-ngendap sepanjang koridor, terkadang ia harus menempel pada dinding kastil saat mendengar langkah kaki Prefek yang sedang berpatroli. Ia terus berjalan dengan langkah kaki teredam dan ujung cahaya pada tongkatnya, sesekali matanya dengan awas mengamati sekitarnya. Menghitung tangga yang dinaikinya menuju lantai satu, melompati tangga yang tiba-tiba hilang, atau menunggu tangga lain yang sedang berubah arah. Beberapa kali ia berpapasan dengan hantu-hantu penghuni Hogwarts, yang membuatnya harus bersembunyi di balik bayang-bayang agar tak telihat.
Ia baru mendesah lega ketika kakinya menginjak lantai bangsal rumah sakit dengan aman. Perlahan, ia membuka pintu, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apapun dari pergerakannya. Berdoa dalam hati semoga Madam Pomfrey sedang tidak berada di dalam.
"Argh!" Yoongi terkejut setengah mati, ia terlonjak di tempat ketika mendengar seseorang memekik sakit dari arah bangsal. Ia menarik napas sejenak sebelum memberanikan diri mengintip lewat celah pintu yang ia buka tadi.
Disana ada Jimin, terbaring dengan kondisi mengenaskan di atas ranjang. Kepalanya terlilit perban, sementara lengan kanan sampai bahunya terlapisi gips yang membuat Jimin sulit bergerak. Pekikan sakit dari Jimin mungkin efek dari ramuan penumbuh tulang yang diberikan oleh Madam Pomfrey. Yoongi juga melihat luka robek pada betis Jimin yang telah dijahit dan bersih dari darah. Di samping ranjangnya ada Seungcheol yang terlelap dan sama sekali tidak terganggu dengan pekikan sakit dari Jimin.
Yoongi mendorong pelan pintu bangsal, melangkah dengan hati-hati mendekati ranjang Jimin dengan raut cemas luar biasa.
"Argh!" Jimin berteriak lagi, dan spontan membuat Yoongi memejamkan matanya. Segalak apapun dia kepada Jimin, ia tetap tidak tega melihat figur yang telah menolongnya mengerang sakit di atas ranjang bangsal perawatan.
"Jimin..." Yoongi menyentuh perlahan punggung tangan kanan Jimin yang tidak terlapisi oleh gips, membuat figur di atas ranjang tersebut membuka matanya. Yoongi tahu jika pemuda itu terkejut akan kehadirannya, pun begitu Jimin masih tersenyum lemah kepada Yoongi.
"Hai, Yoongi… ini sudah jam malam, kenapa masih disini? Kau bisa kena detensi nanti," suara Jimin terdengar serak, tapi wajah tampannya yang lebam sana-sini masih melukiskan sebuah senyum hangat yang membuat sentakan asing di dalam diri Yoongi. "Kembalilah ke asrama." Kening Jimin mengerut menahan sakit ketika ia menyuruh Yoongi untuk segera kembali. Yoongi ikut mendesis, ia tahu jika Jimin tengah menahan teriakan karena dirinya. Terlihat dari pemuda itu yang menggigit bibir bawahnya dengan keras.
"A-aku akan kembali setelah ini," Yoongi merogoh saku celananya, mengeluarkan beberapa butir permen dan secarik robekan perkamen. Kemudian, ia menyelipkannya di sela-sela tangan Jimin yang bebas, "A-Aku pergi dulu. Cepat sembuh, Jimin-ah."
Jimin tertegun di atas ranjangnya, iris biru safirnya mengikuti langkah hati-hati Yoongi sampai hilang di balik pintu ganda bangsal perawatan. Tidak ada senyuman ketika Yoongi berharap ia cepat sembuh, tapi hati Jimin otomatis menghangat dan sakit pada tubuhnya tak terasa lagi. Yoongi yang sudah rela diam-diam kemari dan berusaha menghindari para Prefek yang sedang berpatroli itu terasa sangat luar biasa bagi Jimin. Yoongi bisa saja menunggu besok pagi untuk sekedar menjenguknya karena rasa bersalah dan hutang budi padanya. Tapi nyatanya, pemuda Veela tersebut mengunjungi Jimin diluar ekspektasinya. Ah, boleh kah Jimin sedikit berharap jika Yoongi mulai membuka hatinya? Ngomong-ngomong, lengannya benar-benar sakit.
Felix Felicis©Glow&peach
"Morning, ."
"Morning, Madam Pomfrey." Jimin sedikit mengerutkan keningnya ketika Madam Pomfrey memeriksa keadaan tulang-tulangnya yang telah tersambung dengan sempurna. Ramuan penumbuh tulang itu memang benar-benar efektif. "Kau boleh keluar besok pagi," Jimin mengangguk. "Dan berhati-hatilah lain kali, Mr. Park."
"Baik Madam Pomfrey. Terima kasih."
Wanita itu beranjak meninggalkan Jimin sembari menggerutu tentang betapa berbahayanya Quidditch, atau mengapa permainan itu diadakan, atau betapa tidak faedahnya permainan Quidditch, dan lainnya. Jimin mendesah, ia bersandar pada bed rest, mengerling pada nakas yang kini penuh dengan berbagai macam makanan dan beberapa hadiah berbungkus kertas warna warni, yang mengucapkan 'semoga cepat sembuh'. Ia mendesah, tangannya meraih sherbet lemon di samping tempat tidurnya, membukanya dengan cepat, sebelum memasukkannya ke dalam mulut.
Jimin tersenyum ketika rasa lemon yang sedikit asam dan manis memenuhi rongga mulutnya, tangannya meraih sepotong perkamen mungil yang semalam dilesakkan Yoongi di tangannya sebelum pemuda itu pergi dengan terburu-buru.
'Semoga cepat sembuh, dan terima kasih'
Ini sudah ke enam puluh-tidak, keenam puluh lima kalinya, Jimin membaca kalimat singkat itu berulang-ulang, namun, berapa kalipun ia membacanya, ia tetap merasakan letupan-letupan menyenangkan di dalam dadanya.
Ia melipat kembali kertas itu dan diletakkannya di atas nakas, di dekat hadiah-hadiah yang berserakan di sana. Jimin hendak membuka salah satunya ketika sepupunya masuk ke dalam bangsal. "Jimin Hyuuuunnngggg."
Jimin mengerang, ketika Jungkook memeluknya dengan erat. Jika Jungkook lupa, ia baru saja jatuh dari ketinggian beberapa ratus meter, dan kekuatan Jungkook tidak main-main. Jimin tak mengerti bagaimana pemuda itu memiliki kekuatan tubuh di atas rata-rata. "Kookie, lepaskan. Kau ingin membunuhku, bocah?"
"Ehe, maaf." Jungkook menjauhkan dirinya dari Jimin, memamerkan sebuah cengiran lucu dengan sepasang gigi kelinci imut, yang ingin sekali Jimin congkel karena terlalu gemas. Jungkook mendudukkan dirinya di kursi samping Jimin. "Waaaahhh, kacang segala rasa!" Jimin membiarkan saja Jungkook mencomot satu bungkus kacang segala rasa. Jungkook itu tak pernah tahan dengan makanan dalam bentuk apapun. Mau makanan manis, pahit atau makanan aneh seperti kacang segala rasa bertie bott, atau cokelat kodok yang benar-benar melompat.
Jimin memutar netranya jengah, kemudian mendengus. "Jadi kau kesini hanya untuk makan?" tanyanya pada Jungkook yang masih setia dengan berbagai makanan di pangkuannya.
"Ehe." Cengiran lagi. Yang membuat Jimin tak bisa marah pada adik sepupunya itu.
"Sekali lagi kau nyengir, aku akan mencongkel gigi kelincimu."
"Ih, jahat sekali sih, Hyung? Aku kan jadi tidak imut lagi. Nanti kalo Taetae tidak suka lagi bagaimana?"
"Taetae?"
"Taehyung."
"Kau punya gigi kelinci saja, belum tentu dia suka."
"Ih, Hyung jahat. Kudoakan Yoongi ditikung oleh orang lain, baru tahu rasa." rajuk pemuda kelinci itu.
"Jika kau besok berubah menjadi troll, berarti aku yang melakukannya."
Jungkook mengerucutkan bibirnya imut. Sebelum kemudian kembali mengunyah. "Kau tidak ada kelas?"
"Tidak. Hanya ramalan. Dan aku malas. Lebih baik ikut pemeliharaan satwa gaib saja, aku bisa main bersama Hippo, daripada memandangi cangkir teh." Hippo adalah seekor Hippogriff—makhluk setengah kuda setengah elang—yang menjadi favorit Jungkook.
Jimin terkekeh. Bagaimanapun darah yang sama mengalir dalam diri mereka berdua. Jadi tidak heran jika terkadang sifat mereka mirip. Lagipula siapa yang betah ada di dalam menara pengap itu selama beberapa jam ke depan? "Jadi bocah, mengapa kau kemari?"
Jungkook menelan makanannya, "Ewh, rasa keju basi!" Sebelum kemudian membuka kemasan cokelat kodok, dan segera memasukkan ke dalam mulut. "Lebih baik," Jungkook mengarahkan atensinya pada Jimin, kini. "Hyung, bagaimana keadaanmu?"
"Kau baru bertanya sekarang? Kemana kau sepuluh menit yang lalu?"
"Makan." Manik cemerlang Jungkook mengerjap tanpa dosa.
"Ish, bocah ini."
"Ah, Hyung. Kau tidak penasaran mengapa bludger itu bisa menggila? Hyung tahu kan, bludger adalah benda sihir yang telah diproteksi agar tak mudah terpengaruh sihir apapun. Well, kecuali jika sihirnya begitu kuat sih."
Jimin mengerutkan keningnya. "Tentu saja penasaran, tetapi apa yang bisa kulakukan dengan seluruh luka ini, hmm? Aku hanya penasaran siapa yang ingin mencelakai Yoongi."
"Yoongi?"
"Ya, bludger itu selalu menuju ke arah Yoongi. Maka dari itu—"
"Kau menyelamatkannya bak pahlawan. Bagus sekali. Aku jadi sebal pada Yoongi." potong Jungkook ketus.
"Kenapa?"
"Kau jadi terluka."
Jimin mendesah. Sepupunya ini memang sedikit brother complex. Bagaimana tidak, jika sedari kecil Jungkook hanya bermain dengannya. "Kau tak mengatakan apapun 'kan pada Mom?"
Jungkook menggeleng, "Sumpah, aku tak mengatakan apapun. Mulutku terkunci." jemarinya membentuk tanda V untuk menegaskan pernyataannya. Tangan Jungkook sudah akan mengambil sebuah sherbet lemon ketika Jimin memukul punggungnya, sembari menggumam, "Jangan yang itu." yang ditanggapi pelototan imut dari Jungkook. "Jangan katakan apapun pada mereka."
"Hyung, mungkin tidak sih jika salah satu fansmu yang melakukannya? Kau tahu kan, fansmu itu ganas." Jimin mengangguk, bisa jadi. Ia pun tak buta jika para penggemarnya terkadang melakukan apapun di luar akal sehat agar mendapatkan perhatian Jimin. Menjadi rumpun berbunga misalnya. Yang tentu saja Jimin memilih mengabaikannya. Memangnya siapa yang tertarik dengan seseorang yang ditumbuhi bunga warna warni di tubuhnya?
Pernah sekali ada yang berusaha memberikan jus labu yang telah ditetesi Amortentia padanya, beruntung Jungkook menghentikannya meminum jus itu. Dan sekarang setelah seluruh orang tahu jika ia menyukai Yoongi setengah mati, bukan tak mungkin jika mereka akan mencelakai Yoongi. Tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak.
"Jungkook."
"Eoh?" Kini Jungkook tengah sibuk membuka sebungkus rock cake.
"Bisakah kau jaga Yoongi untukku?"
"Tidak mau."
"Kenapa?"
"Aku tak menyukainya. Ih, dia itu dingin, cuek, jutek, judes."
"Kook—"
"Tidak, tidak." Jungkook menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Bahkan jika kau bisa dekat dengan Taehyung sebagai bonusnya?"
"Eh? Hah? Apa? Coba ulangi?"
"Kau bisa dekat dengan Taehyung. Taehyung itu sangat dekat dengan Yoongi. Mungkin saja jika kau bisa mendekati Yoongi kau juga akan bisa mendekati Taehyung."
"Eh, benarkah?" Jimin mendengus ketika ekspresi Jungkook bersri-seri.
"Bagaimana?"
"Call. Aku akan melindungi Yoongi." balas Jungkook cepat nyaris tanpa berpikir. Sepupunya ini benar-benar menyukai Taehyung ya?
Jimin tersenyum, meskipun baru tingkat dua tetapi Jungkook telah menguasai beberapa mantra efektif, dan bisa diandalkan. Jadi Jimin menjadi sedikit lega sekarang. "Lagipula, Yoongi tak sejahat itu. Dia hanya kesepian. Dia sangat baik jika kau sudah mengenalnya."
"Ya, ya, pernyataan yang keluar dari orang yang tergila-gila padanya, jadi aku bisa apa?"
"Eii, aku serius."
Jungkook mengedikkan bahu. "Wajar sih, dia itu Veela. Laki-laki lagi. Seluruh yang ada di dalam dirinya memiliki fungsi dan khasiat. Terutama rambutnya. Wajar saja dia tertutup begitu. Siapa yang tidak takut, bisa saja kan tiba-tiba ada yang mencabut helaian rambutmu?"
"Maksudmu?"
"Hyung, tak tahu? Rambut Veela itu bisa digunakan untuk macam-macam. Sebagai intisari tongkat sihir, dan juga beberapa ramuan. Tetapi, sehelai rambutnya saja tercabut, maka Veela itu akan tewas."
Jimin membelalakkan matanya. "Kau serius?!"
"Serius."
"Jika begitu bisakah aku mempercayakan Yoongi padamu?"
"Call, aku akan menjaganya, dan juga menangkap pelaku yang mencelakakanmu seperti ini. Mereka akan mati di tanganku."
Felix Felicis©Glow&peach
Jimin benar-benar keluar dari rumah sakit pada sore hari, tentu saja setelah berjanji ini-itu pada Madam Pomfrey. Ia berjalan gontai di temani Jungkook yang muncul dihadapannya dengan jubah berbau hangus. Menghalangi kutukan pada Yoongi, kata pemuda itu. Jungkook bercerita jika serangan pada Yoongi semakin menjadi setelah kejadian Jimin menghalangi si bludger gila.
"Aku tak mengerti mengapa gadis-gadis itu begitu gila." desah Jungkook.
"Dimana dia sekarang?" tanya Jimin.
"Siapa?"
"Yoongi. Aku tak mungkin menanyakan penjaga sekolah kan?"
Jungkook mendengus. "Kurasa dia tadi berlari, melewati pondok penjaga sekolah, menuju Hutan Terlarang. Aku tak bisa mengikutinya lagi, aku tak mau mengambil resiko diketahui oleh guru."
"Hutan Terlarang, kau bilang?" Jimin mengerutkan keningnya, "Hari apa ini?"
Jungkook menautkan alisnya. "Kamis?"
"Oh shit!" Jimin berbalik, ia segera berlari, mengabaikan teriakan Jungkook di belakangnya. Ini hari Kamis, bukan jadwal Yoongi pergi ke hutan itu, dan lagi Yoongi pergi ke Hutan Terlarang sendirian? Jimin tahu ada yang tidak beres di sini. Ia tak boleh terlambat, firasatnya mengatakan jika akan terjadi apa-apa pada Yoongi.
. . .
Yoongi melewati jalan setapak menuju danau yang biasa ia kunjungi sembari mengeratkan syal serta jubah yang dipakainya. Pagi tadi ada seekor burung hantu yang mengantarkan surat kepadanya, memintanya untuk bertemu di Hutan Terlarang. Awalnya Yoongi tak ingin menuruti tetapi, pengirim itu berkata jika ia tahu tentang bludger gila yang mencelakai Jimin.
Sejak hari itu, Yoongi memang terus penasaran dan mencari-cari siapa yang mencelakai pemuda Park itu. Tidak, bukan ia terlalu peduli, hanya saja ia merasa bersalah pada pemuda yang menyelamatkan nyawanya. Jadi, ia memutuskan mengendap-ngendap dan pergi ke Hutan Terlarang sendirian untuk memastikan hal tersebut.
Yoongi menggenggam tongkat berwarna light brown dengan inti sari rambut Veela neneknya itu. Ia menghentikan langkah ketika dirinya sampai di tepi danau. Melongokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Tongkatnya telah terangkat dalam posisi siap.
"Protego." Pekik Yoongi tiba-tiba. Beruntung ia bereaksi dengan cepat sebelum mantra yang dilancarkan seseorang itu mengenai tubuhnya. Meskipun kini tubuhnya sedikit terpelanting ke belakang. Yoongi mengerang ketika ngilu dirasakannya di bagian punggung yang membentur pohon.
Pemuda itu segera menegakkan tubuh, ketika salah seorang siswi berbalut jubah Ravenclaw berada di hadapannya. "Apa yang kau inginkan, Seulgi?" tanya Yoongi. Yoongi mengenal gadis berambut biru elektrikdi hadapannya. Seulgi Kang. Siswi tingkat empat. Salah satu murid kebanggan Ravenclaw.
"Memusnahkanmu, Min."
"Crucio."
Serangan dadakan yang berhasil Yoongi hindari dengan berguling ke samping. Ia beruntung karena refleksnya bagus. "Mengapa?" Nafas Yoongi menderu, ia masih setia memasang raut datar di wajahnya, meskipun jantungnya tengah berdentam menyakitkan di dalam sana.
"Kau masih bertanya? Dasar Veela tak tahu diri. Kau mencelakai Jimin!"
"Tidak. Kau yang mencelakainya!" balas Yoongi sengit.
"Itu untukmu, seharusnya bludger itu mengenaimu. Apa yang kau lakukan padanya, Min Yoongi?"
Yoongi terdiam, enggan menanggapi. Ia hendak menyerang, "Expelliarmus." ketika Seulgi kembali mengayunkan tongkat, menyerangnya.
"Sialan!" umpat Yoongi, tongkatnya terlempar sejauh lima meter, dan ia tak mungkin mengambilnya. "Apa yang kau mau?" Geligi Yoongi bergemeretak.
"Membunuhmu." Kelopak mata Yoongi menyipit. "Tidakkah kau berpikir jika kau lahir karena kesalahan? Tak ada Veela berjenis kelamin laki-laki kecuali kau, Min Yoongi." Yoongi tersentak, ia mengeratkan genggaman tangannya. Pikirannya berkecamuk, bayangan-bayangan masa kecilnya bergantian memenuhi benaknya, membuatnya sesak. Ini, yang ia benci dari orang-orang ini. Selalu merendahkan dirinya, pun ia tak mau terlahir seperti ini. "Kau adalah kesalahan!" Genggaman tangan Yoongi mengerat, namun ia bergeming. "Dan kau memalukan, makhluk sepertimu tak pantas hidup. Crucio."
"ARRRRGHHHHH!" Tubuh Yoongi ambruk, ia tak lagi sempat menghindar, tubuhnya mengeliat. Rasa sakit yang luar biasa menghantamnya telak, Yoongi memejamkan mata, kepalanya terasa dihunjam beribu jarum secara bersamaan. Tubuhnya bak di sayat oleh ribuan pisau tak kasat mata. Membuatnya ingin mengakhiri hidup saat itu juga.
Ia terengah, ketika efek kutukan itu mulai lenyap, namun Yoongi tak lagi mampu menegakkan tubuhnya. Ia memejamkan mata ketika Seulgi mendekat, mulai mengangkat tongkatnya lagi. "Avada—"
"Expelliarmus. Stupefy!" Seulgi menjerit, pekikan gadis itu membuat Yoongi membuka mata. Samar, ia melihat seseorang berlari ke arahnya, kemudian tubuhnya disentak hingga berada dalam rengkuhan seseorang.
"Yoongi, Yoongi. Sadarlah."
Yoongi mengerjap cengan cepat, berusaha melihat sang penyelamat. "J-Jimin?"
"Maaf, maafkan aku. Karenaku. Ini semua karenaku. Bertahanlah, tolong."
Nafas Yoongi menderu, tangan Jimin yang menggenggam tangannya terasa hangat, entah mengapa mengetahui Jimin berada di sana membuat rasa sakit di sekujur tubuhnya menghilang perlahan. Mengetahui jika Jimin menyelamatkannya, menyebabkan debaran asing di dalam dadanya, dan menyebabkan euphoria bak kembang api di dalam dirinya. Aroma tubuh Jimin, membuat perasaan Yoongi perlahan tenang. Ia membiarkan saja tubuhnya direngkuh oleh pemuda itu, membiarkan tubuhnya diangkat dengan mudah oleh pemuda yang lebih muda.
"Aku berjanji takkan meninggalkanmu lagi, Min Yoongi." Satu kalimat terakhir yang Yoongi dengar sebelum kegelapan benar-benar menelannya.
Felix Felicis©Glow&peach
Jimin berlari dengan kencang, mengabaikan beberapa siswa yang ditabrak olehnya. "Taehyung!" panggilnya pada pemuda Slytherin yang sedang menaiki tangga. Tampaknya pemuda itu baru saja keluar dari asramanya di bawah tanah.
"Apa?"
"D-dimana Yoongi?" tanya Jimin, ia ingin memastikan jika yang dilihat Jungkook salah.
"Dia belum kembali ke asrama. Yoongi—"
"Oh sialan!" Jimin berbalik, mengabaikan Taehyung yang berteriak di belakangnya. Ia tahu jika Taehyung kini mengikutinya, namun ia tak memiliki waktu untuk menjelaskan pada pemuda Slytherin itu.
Jimin melesat, melalui pepohonan yang tumbuh rapat, langit mulai gelap, namun ia masih dapat melihat jalan setapak yang menuju ke danau. Entah mengapa, firasatnya berkata jika Yoongi berada di sana.
Jimin mendengarnya, sebuah ledakan. Jimin kembali mengumpat, memacu dirinya untuk berlari lebih cepat, hingga bagian dalam dadanya terasa terbakar. Ia benar-benar takkan memaafkan dirinya jika terjadi apa-apa pada pemuda Veela itu. Samar-samar ia mendengar seorang gadis berteriak. "Itu untukmu, seharusnya bludger itu mengenaimu. Apa yang kau lakukan padanya, Min Yoongi?"
Jimin semakin dekat, ia melihat tongkat Yoongi terpelanting beberapa meter darinya dari sela pepohonan. Menggeram marah ketika sebuah kutukan terlarang menghantam tubuh ringkih Yoongi. Tidak, tidak ada yang bisa menyakiti Yoonginya. Tidak ada. Maka Jimin segera menarik tongkatnya dari dalam jubah.
Sembari berlari ia berteriak. "Expelliarmus!" tongkat gadis itu terpelanting menjauh. Tanpa membuang waktu Jimin merapalkan mantera selanjutnya. "Stupefy!" teriaknya dengan amarah yang menggelegak dalam dirinya. Ia mengabaikan saja gadis yang diserangnya ambruk, dengan tubuh menghantam tanah.
"Yoongi, Yoongi, sadarlah." Jimin segera merengkuh tubuh pemuda Veela itu. Yoongi menatapnya sayu. Jimin menggenggam tangan Yoongi yang terasa dingin. Ketakutan menyergapnya.
"J-Jimin?" lirih, tetapi Jimin mendengarnya.
"Maaf, maafkan aku. Karenaku. Ini semua karenaku. Bertahanlah, tolong." ujar Jimin parau. Ia benar-benar ketakutan setengah mati. Ia tahu jika kini Taehyung berada di belakangnya, namun pemuda itu memilih menghampiri gadis yang tengah tak sadarkan diri tak jauh dari mereka.
Dengan sigap Jimin menyelipkan tangannya di bawah lutut Yoongi dan leher pemuda manis itu. Ia mengerling ke arah Taehyung, yang dijawab anggukan oleh pemuda itu. Sebelum kemudian ia segera berjalan dengan cepat menuju rumah sakit.
"Aku berjanji takkan meninggalkanmu, Min Yoongi." bisikan Jimin diiringi oleh desauan angin musim gugur yang berhembus di sekitar mereka. Ya, ia telah berjanji takkan pernah lagi meninggalkan Yoonginya.
Felix Felicis©Glow&peach
"Kau sadar?" Sudut bibir tertarik membentuk sebuah kurva, membuat sosoknya menjadi semakin rupawan. "Kau di rumah sakit." Jimin terkekeh saja, ketika Yoongi mengernyitkan keningnya, kemudian memijat pelipisnya pelan.
"Oh, ." Madam Pomfrey memasuki bangsal Yoongi, sembari membawa sebuah ramuan di dalam genggamannya. "Bagaimana kau bisa terjatuh di tangga?" Yoongi mengernyitkan keningnya. "Mr. Park berkata jika ia menemukanmu pingsan karena terjatuh dari tangga."
"Terpeleset." Jimin diam saja ketika Yoongi mengerling ke arahnya.
"Baiklah, jangan suka berkeliaran di cuaca sebeku ini, hujan turun terus menerus. Kau akan terpeleset dan melukai dirimu sendiri nantinya. Aku heran, mengapa murid-murid di sekolah ini suka sekali melukai dirinya sendiri." gerutu Madam Pomfrey, sebelum menyodorkan sebuah piala berisi ramuan yang menggelegak. "Minum, kau akan lebih baik setelahnya."
Jimin menahan diri untuk tak tergelak, ketika wajah Yoongi pias. Pemuda Park itu tahu jika Yoongi tak suka meminum ramuan apapun. Namun, beberapa menit yang menyiksa, ramuan itu pada akhirnya masuk ke dalam kerongkongan Yoongi. "Istirahatlah, dan Mr. Park."
"Ya, Madam?"
"Kembali ke kelasmu. Kau tak kuijinkan membolos lagi hari ini."
"Tapi Madam—"
"Tidak ada bantahan, atau aku akan mengurangi poinmu."
"Baiklah, tetapi bisakah aku berbicara pada Yoongi lima menit?"
Madam Pomfrey memandang ke arah Yoongi yang mengangguk. "Baiklah, lima menit, atau aku akan benar-benar melemparmu keluar, ."
Jimin mengangguk. "Terima kasih, Madam." Jimin tersenyum, ia menunggu hingga Madam Pomfrey benar-benar meninggalkan mereka.
"Berapa lama?"
"Apa?"
"Aku tak sadarkan diri?"
"Dua hari?"
Jimin mendengar helaan nafas dari pemuda manis itu. "Bagaimana keadaanmu? Apakah masih sakit? Maafkan aku."
Yoongi menggeleng. "Tidak, aku yang berterima kasih, bagaimana kau bisa tahu aku ada di sana?"
Jimin mengerling. "Aku hanya—tahu." jawabnya sembari mengedikkan bahu enggan menatap Yoongi. Kemudian hening menyelimuti mereka.
"Kau falcon itu kan?" lirih Yoongi membuat Jimin kembali mengarahkan atensinya pada pemuda itu. Jimin menelan salivanya, namun ia terkejut, alih-alih marah Yoongi tersenyum begitu manis ke arahnya. Memamerkan lengkungan bulan sabit yang menyembunyikan netra karamel indah Yoongi serta gusi merah jambu yang menawan. "Aku mengetahuinya. Ketika kau terjatuh, dan dirawat, aku ke hutan. Aku tak menemukan falcon itu. Kukira falcon itu sudah kembali pada keluarganya. Tapi, aku mengingat-ingatnya lagi, Taehyung pernah mencurigaiku ketika aku membawa seekor falcon ke dalam asrama. Kau tak pernah berada di sekitarku ketika aku bersama falcon itu. Pun sebaliknya. Aku meminta kakak perempuanku yang bekerja di kementerian sihir untuk mengecek animagus yang telah terdaftar di sana. Dan tentu saja keluarga Park, dan kau ada di dalamnya."
"Yoongi, a-aku—"
Yoongi menggeleng, "Tak apa, terima kasih. Karena kau tak meninggalkanku setelah mendengar setiap keluh kesahku."
Jimin menunduk, tangannya mengepal dengan erat. Ia tak lagi mampu menahan perasaannya yang membuncah. "Hei, Yoongi."
"Ya?"
"Aku tahu saatnya tak tepat, tetapi bisakah aku menanyakannya padamu?" Yoongi mengerjap, namun ia bergeming. Menunggu Jimin melanjutkan kalimatnya. Jimin meraih jemari Yoongi. "A-aku menyukaimu, sangat suka. Aku sangat ketakutan ketika kau ada di sana, terluka karena kutukan itu. Aku ingin menjagamu, Yoongi. Ingin kau selalu berada di bawah pengawasanku. Aku tak mau siapapun melakukan hal yang tak diinginkan padamu. Aku takut kehilanganmu saat itu. Karena itu semua, maukah kau jadi kekasihku? Aku tak main-main, aku benar-benar menyukai Yoongi. A-aku—" ucapannya terpotong ketika Yoongi menarik kerah jubahnya, kemudian menempelkan bibir mereka sekejap.
Jimin mengerjap dengan cepat, "B-barusan itu—" Jimin tersenyum lebar kemudian memeluk Yoongi yang tengah menunduk dengan sepuhan merah jambu di pipi pucatnya. "Astaga, terima kasih, Yoongi. Terima kasih."
Pun Yoongi membalas pelukan Jimin sama eratnya, menyurukkan kepalanya di dada Jimin. "Sama-sama, Jimin. Kau bertanggung jawab untuk menjagaku mulai sekarang."
Felix Felicis©Glow&peach
Kkeut~
Eh, ngga ding XD
EPILOG
"Apa kegunaan Veritaserum?"
"Untuk mengetahui seberapa besar cintaku padamu?"
PLAK
Satu pukulan di kening Jimin yang membuat pemuda itu terkekeh alih-alih mengaduh. Jimin dan Yoongi sedang berada di tepi danau di dalam Hutan Terlarang. Dengan Jimin yang sedang berbaring berbantalkan paha Yoongi, sementara Yoongi bersandar pada batang pohon sembari memegang sebuah buku tebal.
"Jimin serius sedikit. Sebentar lagi kau akan naik ke tingkat lima, dan itu artinya kau akan menghadapi O.W.L exam."
"Baik, baik, Yoongi-ku. Lanjutkan." Jimin mengusel pada perut Yoongi sekali sebelum kemudian kembali telentang.
"Apa kegunaan mantra Herbivicus?"
Jimin memainkan tongkat sihirnya sejenak, merapalkan mantera Orchideous, yang membuat sebuket krisan muncul di tangan Jimin. Kemudian menyodorkannya pada Yoongi yang memasang raut masam di wajahnya. "Membuat rasa cintaku tumbuh cepat pada Yoongi."
"Aishhhh." Yoongi memukulkan buket bunga yang dipegangnya tepat di muka Jimin. "Jimin, serius sedikit."
"Aku serius kok pada Yoongi."
Helaan nafas panjang terdengar dari pemuda Veela itu. Ia meletakkan buku di samping mereka, kemudian menyugar surai kelabu Jimin. Jimin membalikkan tubuhnya, menyurukkan kepalanya pada perut Yoongi sembari melingkarkan lengan pada pinggang kekasihnya. "Aku hanya tahu fungsi dari Wingardium Leviosa."
Yoongi mendengus, "Itu kan kita pelajari di tingkat satu."
"Aku tahu, karena Yoongi merapalkan mantera itu setiap hari padaku."
"Maksudnya?"
"Buktinya hatiku melayang setiap hari jika bersama Yoongi."
Yoongi kembali mendengus. "Apa guna ramuan Felix felicis?"
Alis Jimin bertaut, "Seperti Yoongi."
"Eh? Maksudnya?"
"Iya, Felix Felicis itu seperti Yoongi, pembawa keberuntungan jika dikonsumsi dengan dosis yang tepat, namun akan menimbulkan efek pusing, ceroboh dan terlalu percaya diri jika di konsumsi berlebihan," Jimin menarik tengkuk Yoongi agar mendekat ke arahnya, sebelum melanjutkan. "Bersama dengan Yoongi, seperti menegak ramuan itu, karena aku merasa beruntung mendapatkanmu." bisik Jimin sebelum menautkan belah bibir keduanya. Ingatkan Yoongi untuk mencampurkan sari pati troll pada jus labu Jimin besok pagi karena membuatnya kembali merona.
. . .
-GLOSARIUM-
1. Amortentia : Ramuan cinta, efeknya bisa sampai tergila-gila jika Amortentia diberikan terus menerus.
2. Avada Kedavra : Kutukan pembunuh;kutukan penyebab kematian yang cepat pada korban.
3. Crucio : Kutukan Cruciatus;menimbulkan sakit yang tak tertahankan pada penerima kutukan.
4. Expelliarmus : Mantera Pelucut;mantra ini digunakan untuk melucuti penyihir lain, biasanya dengan menyebabkan tongkat korban terbang di luar jangkauan.
5. Felix Felicis : Ramuan keberuntungan.
6. O.W.L : Ordinary Wizarding Level. Ujian untuk para murid tingkat lima.
7. Protego : Mantera Pelindung;mantera pelindung efek yang tidak terlalu besar pada jenis kutukan yang kuat, rebound pada penyerang, atau paling tidak mencegah mereka dari resiko terluka lebih parah.
8. Sectumsempra : Mantera untuk melukai target.
9. Veritaserum : Ramuan kejujuran, berwarna bening dan tidak berasa.
10. Wingardium Leviosa : Mantera Penerbang;objek yang dikenai mantera akan melayang di udara.
*FIN*
a/n : Selesai, yeay! ^^
Semoga memenuhi ekspetasi kalian /grin/
Bunch of love for :
HelloItsAYP│hopeissue│hlyeyenpls│serenade senja│Guest [1]│Kim Hyomi│Guest [2]│ │boobeepboo│Kazuma B'tomat│94shidae│missright38│ara'seo│Jeonna│SKYLINE98│dsamly│eunwoo│mochijm│xtharep│Dororong│peachpetals│Guest [Syupit]
26 favourites/24 followers/viewers
The last,
Review, bae? ^^
Regards,
Glowrie and peachpeach
