"Sesuai dugaanku," Jeno memandang buku laporan nilai milik Renjun dengan wajah puas. Semua sesuai dengan perkiraannya.

Renjun tersenyum bangga, "Memang aku ini tipe yang serius kalau sudah niat," katanya.

Jeno meletakkan buku biru itu di meja belajarnya, "Dengan begini, kau benar-benar akan menikmati liburan kali ini tanpa perlu ikut kelas tambahan," dia melirik jam tangannya, "Sebagai perayaan, bagaimana kalau kita makan malam di luar?"

"Heh?"

"Bagaimana kalau aku traktir kau makan jampong sepuasnya?"

"MAU!" jawab Renjun sepenuh hati.

Jeno nyaris tertawa melihat reaksi Renjun yang begitu jujur. Renjun jadi malu sendiri karenanya.

"Senang melihatmu semangat begitu. Ambil jaketmu dan kita pergi."

"OK!" dengan penuh semangat, Renjun pun berlari melintasi koridor antara kamar Jeno dan kamarnya. Sedikit brutal, dia pun langsung menarik jaket kesayangnnya dari dalam lemari. Begitu dia keluar kamar, dia melihat Jeno sudah berdiri di dekat tangga. Keduanya menuruni tangga dan menuju pintu depan. Saat itu Johnny keluar dari ruang tamu.

"Anda hendak pergi, tuan muda?" tanyanya.

"Ya."

"Mohon tunggu sebentar, saya akan menyuruh supir bersiap."

Jeno menggeleng pelan, "Kami keluar jalan kaki. Dan jangan merepotkan dirimu untuk mengikuti kemana kami pergi," ujar Jeno sambil memakai syal dan sarung tangannya.

Kemudian mereka berdua pun meninggalkan rumah megah itu menuju ke daerah pertokoan. Jeno membawa Renjun ke sebuah kedai di sudut perempatan jalan. Di tengah udara dingin seperti ini, mereka tidak heran kalau kedai itu penuh sesak.

"Kelihatannya tidak akan nyaman di sini," kata Jeno melihat betapa padatnya isi kedai kecil itu.

Renjun berpikir sebentar, "Aku punya kedai langganan sih. Tapi lumayan jauh dari sini. Kau mau kesana?"

"Kenapa tidak? Sekalian jalan-jalan."

Dua setengah bulan yang lalu, Renjun pasti terheran-heran dengan sikap Jeno yang cukup 'ramah' ini. Tapi sejak mengenalnya lebih dekat, Renjun tahu Jeno tidak begitu menyebalkan seperti penampilannya yang selalu perlente. Jeno cukup 'normal' untuk remaja seusia mereka. Meski memang sifat dasarnya yang pendiam itu tidak bisa diubah, terkadang mereka main game, walau tetap saja ekspresi Jeno tidak berubah, baik saat dia menang atau kalah.

Mereka juga mulai sering ngobrol, terlebih sebelum ujian –sehabis percakapan mereka antar balkon dan kolam renang, tepatnya-. Mereka sering menghabiskan sore sambil menikmati kue dan teh di bawah pohon yang ada di halaman depan rumah Jeno, atau membaca kembali bahan-bahan ujian di perpustakaan.

Dan yang paling mengejutkan untuk Renjun adalah waktu dia terbangun di suatu pagi dan mendadak teringat kalau dia pernah bertemu Jeno sebelum ini. Dia ingat pernah berjabat tangan dengan anak laki-laki yang parasnya hampir menyerupai Jeno. Tapi dia belum bisa ingat, kapan dan dimana itu terjadi.

Dipikir lagi... Renjun baru sadar kalau sikap Jeno berubah nyaris 180 derajat adalah tepat saat dia mengatakan hal itu. Mengatakan kalau dia pernah bertemu dengannya.

"Disana," Renjun menunjuk sebuah kedai di dekat taman.

"Cepat, kalau begitu, kecuali kalau kau berniat membuatku membeku di luar sini."

Renjun tertawa mendengar candaan Jeno yang sekarang sering dia dengar, "Iya iya... Ayo masuk," dan dia pun berjalan duluan memasuki kedai jampong itu.

Setelah memesan 2 porsi besar jampong, mereka duduk di meja kosong yang ada di sudut kedai itu. Mereka langsung melepas jaket dan syal karena di dalam kedai sangatlah hangat.

"Aku tidak tahu kau sering main sampai kemari," kata Jeno, "Ini kan jauh dari asrama."

Renjun cuma nyengir pamer gingsul.

Tak begitu lama, pesanan mereka datang. Kedua remaja itu pun segera menikmati santapan panas yang sangat cocok di tengah udara musim dingin seperti ini.

"Kenyaaaang!" Renjun mengusap perutnya yang terasa penuh sesak.

Jeno tersenyum simpul melihat Renjun yang tampak puas menyantap makanan kegemarannya itu, "Sebenarnya aku masih mau beli tteobokki untuk camilan di rumah, tapi sepertinya kau sudah kekenyangan."

Saat itu Renjun mengeleng keras, "Aku masih sanggup kalau cuma tambah seporsi tteobokki lagi," katanya, "Tenang saja. perutku ini kuat, kok."

"Itu sih dasarnya kau saja yang rakus," Jeno berdiri dan menuju ke konter untuk membayar apa yang mereka habiskan. Lalu bersama Renjun dia meninggalkan kedai itu dan menuju ke kedai tteobokki yang terletak tidak jauh dari tempat itu.

"Kau tunggu di luar saja, ya?! Kelihatannya sepi, jadi pasti cuma sebentar."

"Oke. Kalau begitu aku beli minuman dulu di sana," Renjun menunjuk vending machine yang ada di dekat toko rokok.

Jeno mengangguk sebelum masuk ke kedai. Seperti dugaannya, kedai itu tidak begitu ramai, maka Jeno segera menuju ke kasir untuk memesan 2 porsi tteobokki. Sambil menunggu, dia bersandar di meja konter dan melihat-lihat sekitar.

Belum lama dia melamun sampai tiba-tiba dia terhenyak oleh suara teriakan dari arah luar. Suara Renjun. Tanpa pikir dua kali, Jeno segera melesat keluar dan betapa terkejutnya dia melihat Renjun yang didesak ke vending machine oleh seorang pria gemuk paruh baya dengan kepala sedikit botak. Pria itu mencengkram pergelangan tangan Renjun dengan kasar dan dia pun memaki-maki.

"LEPASKAN DIA!" Jeno menarik bagian belakang baju pria itu dan menjauhkannya dari Renjun.

Pria tadi terhuyung dan terjatuh di trotoar. Keributan itu menarik perhatian orang yang berlalu lalang, termasuk pengunjung kedai yang kaget karena salah satu tamu tiba-tiba kabur keluar.

Jeno berdiri di depan Renjun yang gemetaran. Wajahnya pucat dan bisa Jeno rasakan kalau Renjun benar-benar ketakutan. Jeno memandang pria yang mabuk dan masih terduduk di jalan trotoar itu, barulah dia sadar siapa pria itu.

"Kau..." Jeno maju dan mencengkram kerah baju pria itu dan memaksanya berdiri, "Jangan berani kau sentuh dia, pemabuk brengsek!"

Pria itu menyeringai, "Apa urusanmu bocah? Kau berniat melindungi pelacur kecil itu?"

Kepalan tangan Jeno telak menghantam wajah pria itu, tapi Jeno tidak melepaskan cengkraman di kerah bajunya, "Sekali lagi kau hina dia, aku pastikan hidupmu menderita seumur hidup," ancam Jeno serius.

Tapi pria botak gemuk itu hanya tertawa menghina, "Hah, jadi kau sudah punya mangsa baru rupanya Renjun-ah. Apa yang sudah kau berikan padanya sampai dia membelamu begini? Pastinya lebih dari apa yang kau beri untukku kan?" dia terkekeh.

"TIDAAAAK!" Renjun menjerit dan langsung duduk meringkuk sambil meremas kepalanya.

"Kau bajingan!!" Jeno hendak menghajar pria itu lagi, namun saat itu terdengar suara peluit dan muncullah dua orang polisi.

"Hentikan keributan ini," ujar salah seorang polisi yang melepaskan cengkraman tangan Jeno. Sementara polisi yang lain membubarkan kerumunan di sana.

"Ikut kami ke pos, sekarang!" ujar polisi yang berada dekat dengan Jeno itu.

Enggan, Jeno membiarkan polisi menggiring pria gemuk itu. Jeno lalu menuju ke Renjun yang masih gemetaran sambil meringkuk di dekat vending machine.

"Renjun..." Jeno menyentuh pundak pemuda itu.

Renjun mengejang saat merasakan sentuhan Jeno, tapi perlahan dia merasa rileks lagi.

"Sudah tidak apa-apa. Semua baik-baik saja," bisik Jeno lembut, menenangkan. Dia membimbing Renjun berdiri dan berjalan mengikuti polisi yang ada di depannya.

Sesampainya di pos, polisi itu menginterogasi si pria itu dan memberi Renjun segelas teh hangat. Jeno menelepon ke rumahnya dan menyuruh Johnny menjemput mereka. Lalu dia duduk di sebelah Renjun dan merengkuh pundak pemuda itu.

Renjun menangis terisak. Wajahnya masih pucat dan bias ketakutan masih memenuhi kedua matanya. Jeno menyandarkan kepala Renjun di dadanya dan memeluk pemuda itu erat. Lalu dia mengusap-usap punggung Renjun dengan lembut, berusaha menenangkannya.

Sekitar lima belas menit kemudian, Johnny datang mengendarai sebuah mobil sedan biasa –paling biasa diantara semua mobil mewah yang ada di garasi rumah Jeno- dan masuk ke dalam pos polisi itu.

"Tuan muda Jeno, saya membawa apa yang anda minta," ujar Johnny.

"Berikan pada polisi itu. Mereka pasti tahu apa yang harus dilakukan."

Johnny pun melaksanakan perintah majikannya, dia beralih menyerahkan amplop coklat yang dia bawa pada polisi. Begitu dibaca, kedua polisi itu langsung panik dan bergegas menelepon markas pusat. Dengan sedikit kekacauan, Johnny meminta supaya dia bisa pulang membawa 2 pemuda di depan, kedua polisi itu langsung memberi izin tanpa basa-basi sementara mereka langsung menjebloskan si pria separuh botak itu dalam sel.

"Pergilah!" kata Jeno, "Aku yang akan menjaganya."

Seperti biasa, dengan patuh Johnny melaksanakan perintah, dia segera keluar dari kamar bernuansa moomin itu setelah membungkuk hormat pada salah satu pewaris seluruh kekayaan keluarga Lee itu.

Jeno duduk di samping Renjun yang berbaring. Dia pun menyelimuti tubuh pemuda itu yang kini terasa begitu rapuh.

"Jeno..."

Yang dipanggil namanya menggenggam erat jemari Renjun, meyakinkan kalau mereka bersama.

"Jeno... aku..."

"Tenanglah! Jangan pikirkan apapun. Kau aman disini, Renjun. Kau aman..."

Mendengar itu Renjun mulai menangis. Jeno membiarkannya dan malah memeluknya dengan erat, "Aku tahu apa yang terjadi. Dia sudah mendapat balasan yang setimpal, aku yakinkan kau akan hal itu."

Renjun mengangguk dalam pelukan Jeno, tak lama dia pun tertidur dengan wajah basah karena airmata yang tidak berhenti mengalir. Jeno membenahi posisi tidur Renjun dan menyelimutinya.

Diusap-usapnya kepala Renjun dengan lembut, "Maaf, aku tidak menepati janjiku padamu, tapi aku tidak akan pernah membiarkanmu menderita lagi... Aku akan menjagamu..."

OooO

"Appa, siapa dia?" Jeno kecil memandang pada seorang anak laki-laki manis yang duduk sendiri di sofa putih yang ada di ruang pesta itu.

"Oh... Itu Renjun, putra tunggal keluarga Huang."

"Putra paman Huang?"

"Iya. Bertemanlah dengannya. Tapi sebelum itu, kita harus menyapa para tamu yang lain."

Dengan patuh Jeno mengikuti langkah ayahnya. Bocah 7 tahun itu telah belajar berlaku jauh lebih dewasa dari usianya. Bukannya dia mengeluh, Jeno senang-senang saja selama itu berarti dia ada dekat dengan ayahnya. Satu-satunya orang tua yang dia miliki.

Setelah berkeliling, akhirnya Jeno 'dibebaskan' oleh ayahnya. Saat itu dia langsung menuju ke sofa putih di sisi kanan ruangan berhias mewah itu. Dan dia lihat bocah tadi masih ada di tempat yang sama. Jeno pun segera menghampirinya.

"Hai," sapa Jeno ramah.

Bocah yang sedang menikmati puding di piring kecilnya itu terkejut dan memandang Jeno dengan penuh tanda tanya.

"Namaku Jeno. Lee Jeno," dia mengulurkan tangannya.

"Aku..."

"Huang Renjun, kan? Aku pernah bertemu dengan ayahmu, dan kau mirip sekali dengannya."

Anak bernama Renjun itu kemudian tersenyum lalu dia menyambut uluran tangan itu dan menyuruh supaya Jeno duduk di sebelahnya, "Kau mau puding? Biar aku ambilkan."

Jeno menggeleng, "Gigiku sedang sakit. Appa melarangku makan apapun yang mengandung gula."

"Oh—sayang sekali. Padahal puding ini enak lho."

Jeno hanya tersenyum simpul dan membiarkan Renjun menghabiskan kudapannya. Pesta terus berlangsung, mengabaikan dua anak kecil yang duduk di sofa putih panjang itu. Jeno pun mengajak Renjun mengobrol. Seperti tentang hobi mereka. Renjun suka bermain air di musim panas. Kadang dia juga betah berlama-lama di kolam renang untuk menghindari sengatan panas.

Renjun juga bertanya hobi Jeno, dan saat dijawab, "Membaca," Renjun langsung mengatakan, "Seperti orang tua saja," dan dia tertawa dengan suara yang lucu.

Lalu mereka mengobrol tentang hal lain. Seperti Jeno yang menceritakan kalau dia punya dua orang kakak, yang malam ini tidak ikut ke pesta karena keduanya terkapar karena flu. Dan Renjun bilang kalau dia tidak punya saudara dan ingin jadi adik Jeno, yang disambut oleh senyuman Jeno.

Namun obrolan menyenangkan itu tak berlangsung lama karena Renjun mulai terlihat bosan dan menguap sesekali.

"Kalau mengantuk, tidur saja. Aku akan menjagamu."

Renjun menguap lagi, tapi dia menolak untuk tidur.

Jeno mengusap-usap kepala Renjun, "Aku tidak akan pergi, aku janji."

Senyuman kembali muncul di wajah Renjun saat bocah itu bersandar pada Jeno dan memejamkan matanya. Merasa begitu nyaman dan aman. Tanpa sadar Jeno jadi ikut mengantuk dan akhirnya mereka berdua sama-sama tertidur di sofa itu, mengundang senyum siapapun yang melihat mereka.

oOo

Jeno terbangun dan mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya dia benar-benar tidak mengantuk lagi. Perlahan dia duduk dan menoleh ke sisi kirinya dimana Renjun masih memejamkan mata dan terlelap dengan nyaman.

Jeno menyibak poni Renjun perlahan supaya tidak membangunkannya. Dia teringat kenangan masa kecilnya. Pertemuan pertamanya dengan Renjun. Dan ada jeda 7 tahun untuk pertemuan mereka yang kedua, dengan kondisi dimana Renjun lupa padanya.

Dan setelah penyelidikan, Jeno baru tahu kalau Renjun mengalami shock yang luar biasa hingga dia kehilangan beberapa ingatannya. Sejak menerima kabar tentang kebakaran yang menewaskan suami istri keluarga Huang, Jeno sudah membujuk ayahnya untuk merawat Renjun. Dikabulkan, namun saat itu hak asuh Renjun sudah jatuh ke tangan Kim Junmyeon, seorang guru musik ternama yang dikenal sebagai orang terdekat dari kedua orang tua Renjun.

Meski begitu, Jeno tak melepaskan pandangan dan terus memantau perkembangan Renjun. Tak sulit dengan jaringan koneksi dan kekuasaan ayahnya sebagai salah satu pengusaha tersukses di Korea ini.

Kelegaan karena Renjun tampak bahagia tinggal bersama 'kakek'nya musnah saat Renjun duduk di kelas 3 Junior high school. Junmyeon meninggal karena sakit dan Renjun di rawat oleh sebuah keluarga yang mengaku sebagai kerabat jauh dari ibu Renjun.

Namun dari penyelidikan Jeno, dia tahu kalau keluarga itu penipu. Mereka sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengan Renjun dan hanya mengincar harta warisan keluarga Huang saja.

Saat Jeno meminta bantuan sang ayah, dia malah mendapat tantangan dari ayahnya.

"Jika kau menginginkan sesuatu, dapatkan dengan menggunakan kemampuanmu sendiri."

Kata-kata itu menjadi motivasi Jeno untuk 'mengambil' kembali Renjun dari tangan para penipu itu. Untungnya sang ayah masih mengizinkan Jeno menggunakan seluruh akses dan aset keluarga.

Dan saat dia lulus Junior high school, Jeno mendapat kabar mengejutkan dari para 'agen intel'nya -yang bertugas mengikuti Renjun sepanjang 24 jam dalam seminggu- bahwa Renjun telah dilecehkan secara fisik dan mental oleh kepala keluarga tempatnya tinggal itu. Jeno nyaris saja hilang kendali, tapi dia beruntung karena saat kejadian itu, seluruh keluarganya –yang sebenarnya menetap di Amerika- sedang ada di Korea, hingga Jeno bisa memikirkan jalan keluar dengan kepala dingin.

Cara yang dipakai Jeno ada dengan memberikan beasiswa pada Renjun ke perguruan NCT. Perguruan yang terdiri dari Junior high school dan Senior high school dengan sistem asrama. Setidaknya itu dapat menjauhkan Renjun dari keluarga biadab itu. Sejak masuk asrama, kelakuan Renjun berubah total, tak terkendali dan lebih cepat emosi. Jeno hanya bisa memaklumi itu sebagai pelampiasan apa yang telag dirasakan oleh Renjun saat itu.

Jeno tersadar dari lamunan panjangnya saat melihat Renjun mulai terbangun. Setelah beberapa detik, akhirnya Renjun membuka matanya juga.

"Good morning," sapa Jeno pelan, tidak ingin mengejutkan Renjun.

Tampaknya berhasil, karena Renjun tersenyum, "Seperti dulu, ya? Kau tidur sambil memelukku."

Kali ini Jeno benar-benar terkejut, "Renjun... K-kau sudah ingat?"

Renjun tersenyum dan mengangguk, "Tadi aku bermimpi, saat pertemuan kita di pesta itu. Aku mengantuk dan kau memelukku, berjanji kalau kau tidak akan pergi. Saat itu rasanya nyaman sekali," dia memandang Jeno, "Dan kau menepati janjimu, kau tidak pergi."

Jeno mengusap wajah Renjun, "Aku senang kau sudah ingat padaku. Mulai sekarang, aku tidak akan melepaskanmu lagi."

Renjun memanjakan diri dalam pelukan Jeno yang sehangat pelukan ibu dan ayahnya.

Usai sarapan pagi, Jeno dan Renjun duduk dengan santai di salah satu ruang santai di rumah besar itu. Mereka berdua duduk berdampingan di sofa panjang yang menghadap ke halaman yang mulai ditutupi salju.

Jeno lalu menceritakan semua yang dia lakukan sejak menerima kabar kematian kedua orang tua Renjun. Renjun tak tahu harus mengucapkan apa pada Jeno, jelas 'terima kasih' saja tidak akan cukup membalas apa yang sudah dilakukan Jeno untuknya. Tapi Jeno hanya menjawab kalau nilai-nilai Renjun yang memuaskan sudah cukup untuk membayar semua. Renjun tertawa mendengar nada humor di suara Jeno.

Setelahnya mereka menikmati hari dengan santai, sungguh akhir pekan yang sempurna. Malam harinya Jeno dan Renjun mendapat kabar kalau keluarga penipu itu telah mendapat hukuman kurungan, kecuali anaknya –remaja berandal berumur 18 tahun- yang masuk ke instalasi khusus anak-anak yang bermasalah. Jeno mengacak rambut Renjun dengan sebuah senyuman puas menghias wajahnya. Renjun pun tampak senang karena mimpi buruknya sudah berakhir.

Saat mereka akan tidur, Renjun kembali mendapati kalau dirinya aman dalam pelukan Jeno.

"Kau akan ada disini saat aku bangun nanti 'kan?"

"Ya, Renjun. Aku akan ada disini. Aku janji."

Renjun tersenyum, "Kalau begitu aku tenang, karena kau selalu menepati janjimu."

Jeno ikut tersenyum, lalu dia mengusap pipi Renjun, kali ini dengan sengaja menyentuh bibir Renjun dengan ibu jarinya. Dia sudah mengerti benar apa yang dia rasakan terhadap Renjun saat ini. Dan pastinya dia telah terpesona oleh mata bening itu sejak pertama mereka bertemu.

Renjun sendiri langsung memejamkan mata dan membiarkan saat bibir Jeno menyentuh bibirnya dalam sentuhan yang sangat lembut, sentuhan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Seolah kini seluruh beban dalam dirinya menguap dan meninggalkannya hanya dengan seluruh kebahagiaan yang pernah dia rasakan.

"HACHHUUU!" ketiga kalinya Renjun bersin dalam dua menit ini.

Jeno menempelkan plester kompres di kening pemuda pirang itu, "Dasar kau ini. Masa begitu saja kena flu, sih?"

Renjun cemberut, "Tidak adil. Padahal kan kita tidur sama-sama gak pakai baju. Kenapa cuma aku yang kena flu?"

"Karena aku lebih tahan dingin dibandingkan denganmu," Jeno menyelipkan termometer di mulut Renjun yang membuatnya pasrah dan tidak protes lagi. Setelah bunyi 'pip' pelan dari termometer digital itu, Jeno memeriksa suhunya, "37. lumayan juga," dia menyelimuti Renjun.

"Aku lapar..."

"Sebentar lagi pelayan datang membawa sarapan untukmu," Jeno menyimpan termometer itu dalam wadahnya. Seperti kata Jeno, tak begitu lama, pelayan datang sambil membawa semangkuk bubur dan air putih untuk Renjun.

Jeno menerima mangkuk dan cangkir itu, si pelayan mengajukan diri untuk merawat Renjun tapi Jeno segera menolak. Dia pun menyuruh pelayan itu pergi.

"Aku bisa makan sendiri," kata Renjun sewot saat Jeno mengambil posisi untuk menyuapinya, pemuda itu susah payah untuk duduk dan menyambar mangkuk dari tangan Jeno.

"Kau ini sama sekali tidak manis. Padahal kalau sakit biasanya orang suka manja 'kan?"

"Dan maaf kalau aku bukan anak manja," Renjun menyendok bubur panas itu lalu meniupnya.

Jeno tersenyum tipis, "Bukan anak manja, ya? Terus yang tadi malam merengek supaya aku tidak pergi itu siapa?"

Muka Renjun berubah merah padam, "Aku tidak merengek!" serunya.

Jeno tersenyum dan mengacak rambut Renjun, "Tapi aku tidak keberatan dengan sifatmu yang seperti itu."

Renjun menggembungkan pipinya dan menghabiskan isi mangkuknya dengan cepat. Jeno lalu memberikan obat pada Renjun yang langsung meminumnya.

"Sekarang tidurlah!" Jeno menyuruh pemuda pirang itu berbaring lagi.

Renjun menurut dan membiarkan Jeno menyelimutinya, "Kau... tidak akan pergi kan?"

"Tidak akan," Jeno duduk di sisi Renjun, membiarkan pemuda itu menyandarkan kepala di dadanya, "Aku akan tetap disini. Sampai kau bosan padaku."

"Aku tidak akan bosan," Renjun bergelung nyaman dalam pelukan Jeno. Dia memejamkan mata dan segera merasa mengantuk saat Jeno mengusap punggungnya dengan begitu lembut. Tak butuh waktu lama sampai akhirnya Renjun terlelap.

Akhirnya Jeno pun ikut berbaring di sebelah Renjun, tanpa melepaskan pelukannya. Saat ini dia merasa begitu utuh. Dia telah mendapatkan kembali serpihan jiwanya yang menghilang. Saat ayah dan kedua kakaknya pulang nanti, Jeno akan memberi tahu semua yang telah terjadi. Itu membuat Jeno tersenyum puas, karena ini berarti dia menang taruhan dengan ayahnya.

Dia berhasil mendapatkan Renjun sebelum dia lulus Senior high school, itu berarti. Jeno tidak harus ikut ke Amerika dan terbebas dari kewajiban untuk meneruskan usaha keluarga. Yang mana artinya... Jeno akan selalu ada bersama dengan Renjun. Dengan itu—dia tidak membutuhkan apapun lagi di dunia ini.

"Mmm... Jeno..."

Mendengar igauan Renjun, Jeno merapatkan pelukannya pada Renjun dan dia pun ikut memejamkan matanya. Dibungkus dalam selimut hangat, kantuk pun datang membuai Jeno. Pemuda itu mencium sekilas bibir Renjun sebelum menutup matanya untuk menyambut mimpi yang pastinya akan menjadi mimpi yang sangat indah.

END

.

Selesai dengan Two shoot. Aku masih belum bisa bikin cerita multi chapter.

Maaf, kalo endingnya gak memuaskanmemuaskan :')

Dan di chap sebelumnya banyak yang nebak kalo Renjun dan Jeno itu di jodohin dari kecil. Tapi maaf, kalian belum beruntung, hehe.

Thanks to :

duabumbusayur, rainapdm13, Daaaaaaa05, oohseihan, It's YuanRenKai, dreaming813, Miss xk, xteh, nichi, Johnnyfuture, Guest, hyena lee, noren, Cheon yj, dan semua yang udah follow favorit cerita ini.

- Hehe