Disclaimer: Masashi Kishimoto

Main pairing: SasuHina

Genre: Romance, Hurt

Rated : M


2

Prince of Sharingan


Sahabat kental Uzumaki Naruto bernama Uchiha Sasuke, pria terakhir dari clan Uchiha. Dia mencintai sahabatnya seperti mencintai ramen instan. Dua pria ini tak terpisahkan, dimana Sasuke pergi maka disitulah Naruto berada.

Tidak, bukan Sasuke yang mengikuti Naruto, tapi malah sebaliknya. Semenjak perang berakhir, mata biru itu tak ingin ketinggalan aksi.

Si iris onyx tampak kesal, seorang blonde terus mengikutinya sejak tiga hari belakangan, "dobe…" makinya pelan," ini adalah misi bertiga, di pimpin oleh ketua tim Uchiha Sasuke, bersama Tenten dan Rock Lee, "ie' tidak ada anggota ke empat," nada suaranya ketus.

Suara cempreng Tenten seolah mempertegas kekesalan Sasuke, "pulanglah Naruto-kun, kami janji akan menjaga Sasuke-kun dengan baik," ia terkekeh atas kalimatnya sendiri.

Semua nakama membicarakan hal itu, Naruto memperlakukan Sasuke seperti balita. Bermula dari pulihnya mereka pasca perang, pria blonde itu rutin menyuapi sahabatnya. Bukan tanpa alasan, Sasuke harus rela kehilangan tangan kirinya akibat pelepasan chakra berlebihan. Naruto merasa bersalah akan hal itu dan ia berjanji akan melakukan apapun demi kelangsungan hidup Sasuke.

Padahal maksud Sasuke tidak begitu, ia tidak merasa sedih kehilangan lengannya, justru ia bersyukur satu lengannya bisa berjasa bagi kemenangan Aliansi Shinobi.

Semua misi-misi Sasuke selalu ada Naruto didalamnya, tidak juga ikut membantu pertarungan atau pengintaian, si blonde hanya mengawasi disekitar seraya melihat aksi ninjutsu Sasuke.

Aneh memang, tapi itulah Naruto—rasa perhatiannya dituangkan dalam hal-hal bodoh. Kadang Sasuke tersenyum diam-diam, tingkah seperti ini mengingatkannya akan dua puluh dua tahun yang lalu kala mereka masih bocah.


"oee, oee…" nada suaranya malas, "sebenarnya misi apa ini?" ekspresinya bingung, "sudah tiga hari kita tidak bertemu siapapun," ia bergidik ngeri, "oh Kami, hutan ini menyeramkan," dipijaknya salah satu dahan, "teme, percaya atau tidak—hutan ini bukan daerah shinobi, tidak ada aura chakra sedikitpun."

Rock Lee berdiri disebelahnya, "sebenarnya ini adalah hutannya para hantu," pria berambut tebal itu memicingkan matanya, "mayat hidup bergentayangan di malam hari."

Tenten terkekeh, "Sasuke-kun, kedua orang bodoh itu terlihat bodoh ketika saling membodohi satu sama lain."

Tiga hari sebelumnya, Sasuke menemui Hokage ke enam, Hatake Kakashi. Mantan gurunya itu meminta satu hal yang aneh, menghadiri sebuah pesta pernikahan di sebuah Desa non-ninja.

Itu adalah salah satu keluarga Daimyo, bangsawan terpandang yang sedang menikahkan puterinya.

Hatake Kakashi adalah tamu undangan di pesta itu, tapi karena sibuk mengurusi berbagai hal, ditambah ia enggan meninggalkan Desa hanya untuk pergi berpesta, ia mengutus Sasuke, Lee, dan Tenten.

Bukan misi rank A atau S, ini hanya misi biasa mewakili ketidak-hadiran Hokage.

Pria bermata kelam itu lebih memilih diam dari pada meladeni tiga partnernya yang usil dan sok tahu. Adalah kebiasaan Sasuke menyimak berbagai hal tanpa berkomentar. Selain karena sifatnya yang memang pendiam, pria berusia dua puluh delapan tahun itu merasa tidak perlu ikut dalam kebodohan orang-orang disekitarnya.

Sepanjang perjalanan yang terdengar hanya suara Naruto melulu—dan perdebatan antara dua murid Guy-sensei tentang arah. Gadis bercepol itu berpikir jika mereka tersesat, sementara Genjimanyu berpikir itu tidak mungkin terjadi mengingat ketua tim mereka adalah Uchiha Sasuke sang pemilik mata terkuat.


Sasuke berpijak pada salah satu dahan tertinggi, "kita sudah sampai," telunjuknya mengarah pada sebuah mansion di tengah hutan, "di sana."

Menurut peta, di sekitar mansion terdapat Desa kecil, namun yang disaksikan oleh nakama hanya hutan belantara dan kawanan kera, "semoga ini hanya pemikiranku, tapi sepertinya kita salah tempat," Tenten mendelik ke arah Lee seolah mempertegas bahwa mereka memang telah tersesat.

"Tidak, ini tempatnya," Sasuke menuruni pohon.

Lee mencibir pada Tenten, ia berbisik, "dasar sok tahu."

"Hm…souka, jadi ini bukan misi—tapi pergi ke pesta," Naruto mengekor Sasuke.

Empat ninja Konoha berdiri sejajar di depan pintu gerbang kayu, ukiran di gerbang itu tertulis, 'Mata Batin.'

"Eeer, mungkin para tamu undangannya berada di dalam."

"Sudah ku bilang kita tersesat, ini bukan mansion yang dimaksud," Tenten mengambil undangan dari saku ranselnya, "di sini tertulis, jalanlah lurus ke arah barat, jangan berhenti sebelum anda menemukan sebuah Desa kecil yang dikelilingi kawanan kera, tempat resepsi: gerbang kayu dengan tulisan mata batin,"

"Sudah betul ini tempatnya," Sasuke maju beberapa langkah lalu diketuknya gerbang kayu itu.

1 menit

2 menit

3 menit

Tidak ada jawaban, hanya terdengar suara kera saling bersahutan.

"Ini hampir malam…" Lee menoleh kiri-kanan.

"Kita cari apa disini, aku jadi ngeri," Naruto bergidik, "tidak ada pesta apapun."

Mansion itu kosong melompong, sebuah pesta identik dengan keramaian, di hadapan mereka saat ini bukanlah tempat untuk berpesta melainkan tempat untuk menguji nyali.

"Seseorang menuju kemari," sharingan menangkap aura kehidupan, "dari dalam." Katanya.

Bunyi langkah kaki terdengar samar lalu semakin lama semakin jelas, pintu gerbang terbuka sedikit, seorang pria tua menengok dari baliknya, mata itu meneliti satu-persatu pemuda dan pemudi yang berdiri dihadapannya, "siapa kalian?"

"Kakek siapa? Tenten malah balik bertanya.

"Aku pengurus mansion ini, kalian siapa dan dari mana?"

Keempatnya saling tatap bergantian, mereka kikuk satu sama lain, "kami adalah shinobi dari Konohagakure, ingin menghadiri pesta pernikahan puteri Daimyo?" Lee bicara tanpa mengucapkan salam lebih dulu, "buat ini jadi cepat," bisiknya pada Sasuke.

Si kakek bingung, keningnya berkerut, "maksud kalian Akane no Hime?"

"Iya, mungkin." Kata Sasuke.

"Lalu siapa nama Daimyo yang kalian maksud?"

Untuk yang kedua kalinya, ke empat shinobi itu saling tatap-menatap. Percayalah, hanya satu di kepala mereka saat ini 'sial, kita lupa menanyakan nama Daimyo itu pada kakashi-sensei.'

Tapi berhubung karena Sasuke lebih pintar dari tiga manusia lainnya, ia berpikir bahwa yang mengundang Kakashi-sensei ini adalah orang bodoh karena tidak menuliskan identitas lengkapnya.

"Kaguya-sama?" Kakek itu menyebut satu nama.

"Iya betul, itu maksud saya," diliriknya para nakama, lirikan itu bermakna, 'buat ini jadi cepat.'

"Jika yang kalian maksud adalah Kaguya-sama dan puterinya Akane no Hime, pernikahannya sudah dilaksanakan satu bulan yang lalu, memang betul di sini tempatnya, ini adalah mansion pribadi milik Kaguya-sama," ada jeda, " rumah jabatannya berada di Desa non-ninja, sekitar delapan puluh kilo ke arah barat." jelasnya.

"Kakek, tapi di undangan ini tertulis tanggal delapan, dan hari ini tepat tanggal delapan," Tenten memberikan undangannya pada si Kakek.

Ia meneliti secara seksama, "memang betul ini undangan pernikahan milik Akane no Hime, tapi…ahhahahaha!" kalimatnya terhenti oleh tawanya.

"Apanya yang lucu Kakek?" Naruto kesal, ia sadar betul ada kesalahan disini.

"Nak, bacalah undangan ini baik-baik," si Kakek mengembalikan undangannya, "disini tertulis pernikahan Akane no Hime diadakan pada tanggal delapan Bulan ke dua, sekarang adalah tanggal delapan Bulan ke tiga."

"Waah! Sudah ku duga ini salah!" Naruto spontan mengacak-ngacak rambut Lee.

Flashback

"Anda memanggil saya?" Walau ia adalah bekas muridnya, Sasuke tetap menggunakan kata 'anda.'

"Mendekatkah Sasuke," Hatake Kakashi kini menjabat sebagai Hokage ke enam, wajar jika jonin sekelas Uchiha Sasuke tetap mengutamakan sopan santun.

Kakashi paham betul sifat Sasuke, ia adalah pria pendiam yang tidak mudah tunduk pada siapapun, "aku ingin kau menghadiri sebuah pesta," telunjuknya mengarah ke kiri, "bersama Lee dan Tenten," keduanya kompak melambai, bibir mereka membentuk kata 'hello'

Dipikirnya Sasuke tetap membangkang—mengingat dulu ia memang pembangkang, tapi ini adalah gurunya—dan Hokage pula, Kakashi sangat bersyukur muridnya itu masih memakai adat istiadat kala berbicara, "pesta?" tanyanya.

Setelah perang berakhir, Uchiha Sasuke berbaur seperti shinobi pada umumnya. Tidak satupun dari nakama yang menyinggung masa lalunya, "ini adalah pesta sahabatku dan Guy-sensei, seorang Daimyo dari Desa non-ninja."

Betapa jahatnya nakama jika menyalahkan si malang Uchiha atas kejadian di masa lampau, ia hanyalah korban dari Nenek moyangnya, "aku sangat sibuk dengan urusan administrasi, sementara kau tahu sendiri—Guy-sensei sedang terbaring sakit." disodorkannya undangan itu.

Sasuke tidak memiliki masalah apapun dengan Kakashi, baik dalam pelariannya sebagai nuke-nin maupun tentang peralihan sharingan Obito-sama. Hanya saja, beberapa keadaan mengharuskan mereka duel di beberapa pertemuan. Kini keadaan telah berubah, dan salah satu hal yang paling ia sesalkan adalah ketika harus menyerang master chidori dengan chidori, "semua petunjuk tertera di dalam gulungan undangan ini."

Setelah perang berakhir, Sasuke bersujud dihadapan Kakashi seraya meminta maaf atas kejadian-kejadian sebelumnya, "baiklah saya laksanakan."

"Kalau begitu saya juga akan laksanakan," kalimat formal yang sengaja dibuat buat, Uzumaki Natuto yengir di samping Uchiha Sasuke.

"Hoy…Naruto, sejak kapan kau berdiri di sana?"

End Flashback

Uchiha terakhir dari clan Uchiha, jonin rank-A pengguna element api dan petir—sangat mahir dalam ninjutsu, genjutsu, doujutsu, kekkei genkai, dan taijutsu.

Semua bermula ketika usianya tujuh tahun, di usia yang sangat belia ia telah mengenal makna dari balas dendam. Berlatih sekuat tenaga hingga melarikan diri dari Desa, Sasuke melalui itu semua seorang diri.

Orochimaru-sensei adalah pelariannya, bocah kecil mendatangi sang sannin legendaris agar diwariskan jutsu-jutsunya.

Sasuke tak mengenal masa remaja, masa mudanya habis digunakan untuk berlatih jutsu. Si bocah kecil menyerap apapun dari Orochimaru-sensei, ia berlatih selama dua puluh tahun tanpa henti. Otogakure adalah saksi bisu kepedihan hatinya, Desa kecil itu seolah mengerti betapa pilu hati si bocah sebatang kara.

Jika ia adalah murid dari Orochimaru-sensei, bukan berarti ia akan menceritakan segalanya. Orochimaru mengasuh Sasuke seperti anaknya sendiri tanpa tahu tujuan utama dari muridnya itu.

Layaknya peristiwa yang terulang kembali, ia akhirnya tewas di tangan Sasuke, seperti ia menewaskan Sarutobi-sama di masa lampau, gurunya sendiri. well—karma tetaplah karma.

Lepas dari jeratan Orochimaru, kehidupannya terus berlanjut. Ia mengincar Uchiha Itachi—Kakaknya, sekaligus algojo pembantai clan Uchiha.

Pertarungan sengit antar keduanya memakan waktu berhari-hari, ambisinya menggebu-gebu ingin menghabisi nyawa anggota Akatsuki itu.

Hingga ia mengetahui sebuah fakta pilu, betapa Itachi melakukan itu semua demi melindungi Adiknya, Uchiha Sasuke.

Malam pembantaian yang menewaskan seluruh anggota clan Uchiha adalah sesuatu yang telah direncanakan. Seseorang bernama Danzo-sama, ketua organisasi rahasia anbu-nee—adalah otak dibalik semua itu.

Beban Itachi lepas, perasaannya lega telah menceritakan fakta sebenarnya. Ketika ia siap tewas, sebuah jutsu high class diwariskan, amaterasu.

Dendam membara semakin menjadi-jadi, kini target utamanya adalah Danzo-sama. Tidak peduli lawan atau kawan, Sasuke membantai apapun dan siapapun. Karin si malang, seorang partner setia. Gadis cantik itu harus rela menjadi tameng. Dara manis keturunan clan Uzumaki, ciri khas berambut maroon pengguna element tumbuh-tumbuhan, penyalur energi terbaik yang pernah ada—dan Sasuke menyerangnya hanya dengan satu pukulan.

Beruntung Hatake kakashi dan Haruno Sakura datang tepat waktu, si malang hampir tewas akibat lubang besar di jantungnya.

Uchiha Sasuke resmi dinyatakan sebagai nuke gila, Persatuan Aliansi shinobi mengeluarkan perintah 'serang sampai mati' pada Uchiha Terakhir itu.

Uzumaki Naruto panas, ia percaya bahwa Sasuke melakukan itu karena sebuah alasan. Si malang itu ingin dimengerti, sesungguhnya ia tidak jahat, Sasuke hanya korban dari para pendahulunya.


Setelah kemelut berkepanjangan akhirnya diperoleh satu nama baru, Uchiha Obito. Ia adalah dalang di balik semua kekacauan di kubu Uchiha, dimana kekacauan itu berdampak pula pada keseimbangan dunia shinobi.

Uchiha Obito adalah pencetus perang dunia ninja ke empat, belakangan diketahui bahwa ia adalah sekutu utama dari nenek moyang jahat Uchiha, Uchiha Madara.

Awalnya Sasuke berada di pihak Obito-sama, tapi setelah menyaksikan satu-persatu ritme rencana pendahulunya itu, akhirnya ia mengambil suatu keputusan.

Obito mengincar jinchuriki dari kyuubi, Uzumaki Naruto—yang tidak lain dan tidak bukan adalah sahabatnya sendiri. Jika kyuubi di ambil, otomatis jinchuriki akan tewas. Iya, ini tidak baik mengingat ia dan Naruto adalah rival, setidaknya yang harus berhadapan dengan Naruto adalah Sasuke sendiri.

Jika perang besar terjadi, berapa jumlah shinobi yang akan tewas? Berapa Desa yang akan hancur akibat dampak serangan?

Korban akan berjatuhan dan banyak dari mereka yang akan kehilangan sanak keluarga. Sama seperti dirinya yang kehilangan Haha, Chichi dan Niisan, cukuplah dia saja yang merasakan penderitaan itu.

Setelah berpikir matang-matang, Uchiha Sasuke akhirnya memihak pada Aliansi Shinobi. Bersama Sahabatnya Uzumaki Naruto dan para nakama, mereka bahu-membahu mengalahkan Uchiha Madara dan para sekutunya.

Perang berlangsung selama satu musim, selama itu pula Sasuke sadar akan berbagai hal,

Bagus juga jika aku dan Naruto menyatukan chakra,

Terlihat keren jika susano'o berada di punggung Kurama,

Kakashi-sensei tidak menyinggung apapun, ia berlaku seperti biasa,

Nakama tetap konyol seperti dulu,

Naruto dan Sakura selalu bertengkar,

Dan masih banyak hal-hal lainnya,

Walau sepele, tapi itu sudah cukup menggoda hati seorang pembangkang Desa. Tanah kelahirannya, Konohagakure. Desa Daun yang selama ini berusaha dilindungi oleh Itachi-nii, sulung Uchiha itu bahkan rela bergabung dengan organisasi terlarang dan di anggap sebagai nuke.

Perjuangan belum berakhir, Sasuke siap melanjutkan impian sang Kakak. Uchiha Itachi mengorbankan segalanya demi Konohagakure, maka Uchiha Sasuke akan menjaga Konohagakure dari apapun dan siapapun.

Perang dunia ninja ke empat telah sukses merenggut lengan kirinya, tapi itu tidak sebanding dengan yang ia dapatkan saat ini. Satu tangan tidak terlalu penting jika kau bisa mendapatkan segalanya. Dalam artian segalanya, sesuatu yang pernah hilang kini seolah di susun kembali dengan rapi. Layaknya puzzle yang telah di acak, satu demi satu bagiannya di tata sedemikian rupa hingga membentuk suatu makna.

Perang berakhir dengan kemenangan Aliansi Shinobi, aktor utamanya adalah seorang Uchiha dan seorang jinchuriki kyuubi. Namun tidak semua bergembira, seperti prediksi sebelumnya, beberapa korban yang tewas adalah orang-orang yang mereka kenal.

Hyuuga Neji, bunke sekaligus pengguna kekkei genkai terbaik Hyuuga, Nara Shikaku kagemane mode kebanggaan Desa, Guy-sensei harus merelakan impiannya dari taijutsu, dan masih banyak kepedihan-kepedihan lainnya.

Tapi tidak semua kepedihan akan berakhir dengan kepedihan, seorang shinobi sejati pantang berlarut-larut dalam duka. Mereka yang mampu bertahan di dalam perang adalah shinobi terkuat, maka jangan sia-siakan pengorbanan para nakama yang telah gugur.

Masa sedih telah berlalu, kini saatnya membuka lembaran baru. Dimulai dari rekonstruksi dan perbaikan di sana-sini, para shinobi saling bantu demi tata ruang Desa.


Tiga hari terlalu lama bagi seorang Uchiha Sasuke, ia segera menghadap Hokage ke lima pasca sembuh dari luka-lukanya. Berbeda Dengan Uzumaki Naruto, si blonde itu masih betah berlama-lama. Bagaimana tidak, Suster perawatnya adalah Haruno Sakura, sang wanita pujaan hati yang setia mendampingi kapanpun dan dimanapun. Padahal semua orang tahu betul— Naruto adalah pemilik chakra terbesar seantero Negara Api, tapi ia rela bersakit-sakitan untuk menghabiskan waktu dengan kekasihnya.

Hokage ke lima tidak mempermasalahkan apapun, hal-hal yang terjadi di masa lalu biarlah berlalu. Sepaham dengan Hokage, Tetua dan Daimyo malah menganggap Uchiha sebagai clan berharga yang patut dijaga. Jika kau membuat kegaduhan, tuntaskan kegaduhan itu, perbaikilah dengan cara-cara yang baik.

Seorang pangeran sharingan dari clan Uchiha, jonin rank A yang tidak bisa dipandang sebelah mata, pemilik chakra terbesar setelah jinchuriki kyuubi, tidak—chakra miliknya setara dengan jinchuriki kyuubi, wajah tampan rupawan, dan yang paling penting, ia adalah Uchiha terakhir yang mampu bertahan di tengah konflik berkepanjangan.

Pria stoic itu digandrungi banyak wanita, bahkan ada yang datang jauh-jauh hanya untuk sekedar melihat wajah tampannya. Sasuke adalah ninja pertama yang dikejar-kejar bak selebriti, Para nakama menyadari hal itu dan mulai meneliti letak-letak kelebihannya.

Rambut hitam kelam, mata elang berwarna onyx, ukiran wajah sempurna, hidung mancung, bibir ranum yang terkatup rapat, rahang mantap khas pria sejati, kulitnya tidak halus tapi putih seperti salju, lecet disana-sini pertanda ia hobi bertarung, tinggi badan seratus delapan puluh tujuh centimeter, tubuh tegap atletis dihiasi otot, apa lagi kelebihannya? Demi Kami kau tidak akan menemukan kekurangan pada tubuh Uchiha muda itu selain satu lengannya yang hilang. Oh iya, ia sangat jarang tersenyum, tapi sekali ia tersenyum, pergerakan dunia seolah terhenti—dan yang kau dengar selanjutnya hanyalah teriakan melengking para gadis.

Sebagai spesialis misi rank A dan S, Sasuke adalah yang terbaik diantara yang terbaik. Jangan hitung Naruto, belakangan si blonde lebih banyak mengekor. Misi Naruto hanya sebulan sekali, sementara misi Sasuke, sebulan tiga kali—dalam artian, ia adalah shinobi yang aktif setiap minggu.

Sasuke jarang mengambil jatah libur, ia lebih senang keluar Desa dari pada duduk bersantai di warung ichiraku. Di saat-saat tertentu ketika para nakama membuat janji, terkadang ia ikut bergabung seraya menikmati shochu.

Bergabung dengan para nakama bukan berarti membuatnya jadi aktif, ia lebih banyak diam dari pada bercerita. Well, Sasuke adalah tipe orang yang gemar menyaksikan dari pada berkomentar, banyak bicara hanya membuat kepalanya pusing sendiri.

Sama halnya dengan saat ini, satu kesalahan kecil bisa merusak segalanya. Hanya karena salah paham dan tidak teliti, waktu tujuh hari enam malam habis terbuang sia-sia. Lagi-lagi ia hanya diam membisu seraya menyaksikan Lee dan Tenten protes panjang lebar, iris onyx itu lurus memandang Hokage ke enam yang tiga puluh menit belakangan ini menjadi super-duper menyebalkan.

Di sisi kiri Hokage, nampak Naruto tak kuasa menahan tawa. Hal yang ia tertawakan adalah misi kunjungan pesta ke mansion seorang Daimyo, "jadi begini, gulungan undangan itu sudah ada dimejaku sejak dua bulan yang lalu,"Kakashi berusaha menjelaskan kesalahpahaman.

Ia telah salah membaca isi undangan atau memang tidak membaca isi undangannya. Bermula dari pernikahan Akane no Hime yang dilaksanakn tanggal delapan, ia mengutus tiga jonin rank A melewati hutan belantara selama tiga hari hanya untuk mengetahui fakta bahwa Akane no Hime menikah tanggal delapan bulan ke dua, "intinya undangan itu sudah lama dimejaku, aku sama sekali tak tahu-menahu—"

"Jadi bukan kami yang salah?" Tenten kesal.

"Maaf, tapi ini murni kesalahanku." Kakashi tertawa di selah kalimatnya.

Saking lucunya, Naruto menghentak-hentakkan meja. Wajah kesal Uchiha Sasuke semakin menggelitik urat tawanya, "Hoi, teme—ku pikir aku yang paling bodoh, ternyata kau jauh lebih bodoh!" Dipandangnya Lee dan Tenten bergantian, "Baaakaaaa~"

Pertama kali dalam sejarah shinobi, Uchiha Sasuke terlibat dalam misi super konyol. Ia mengutuk dirinya sendiri yang tidak teliti, dipikirnya ini hanyalah undangan pesta biasa, "Aku lelah butuh istirahat," Tenten menghela nafas panjang, "Aku perlu makan sesuatu," Lee nampak kesal.

"Baiklah, sebagai permintaan maaf, ku beri kalian jatah libur selama sehari."

"Yosh! Arigatou Hokage-sama!" murid Guy-sensei bersemangat.

Mereka hendak meninggalkan ruang Hokage, tapi suara serak Naruto kembali menarik perhatian, "Hoi! Uchiha Sasuke mau kemana kau?" yang disebutkan namanya mendelik, "Akane no Hime mencarimu, ia ingin kau hadir dipestanya, jangan pulang dulu!" sontak Kakashi dan Naruto tertawa berbarengan, dan itu sangat sukses merubah wajah kesal Sasuke menjadi bengis, "sialan kau Naruto, lain kali akan ku bunuh."

Kakashi berdehem, "benar kata Naruto, Sasuke tetap tinggal, kalian berdua boleh istirahat."

Lee dan Tenten meninggalkan ruangan, "sialan, kita tertipu," kalimat Genjimanyu membuat Naruto terkikik lagi dan lagi.

"Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu," Naruto menyilangkan lengannya diperpotongan leher Sasuke, raut wajahnya serius, "ini tentang Akane no Hime."

"Dobe!" didorongnya pria blonde itu.

"Hey—Naruto pulanglah kerumahmu, kau terlalu banyak melucu disini, "Kakashi memberi isyarat agar si pirang tengik meninggalkan mereka berdua.

Ia memicingkan matanya, nada suaranya dibuat-buat, "awas kau Sasuke, Akane no Hime akan terus mengawasi pergerakanmu." ia membuat kode dengan dua jemarinya seraya meninggalkan ruang Hokage.

"Jangan hiraukan, dia sudah gila sejak dulu." Kakashi bergeleng ria.

Sasuke mengambil salah satu kursi, kini ia dan Kakashi hanya terpisah oleh meja kerja, wajah stoic itu seolah berkata, 'Aku lelah, buat ini jadi cepat.'

"Hiashi-sama mencarimu," disusunnya beberapa dokumen yang berserakan di atas meja, "ku rasa ini tentang pembicaraan minggu lalu."

"Saya akan menemui beliau malam ini." Sungguh Uchiha sempurna, biarpun di celah dan ditertawakan, ia tetap cool dan berbicara layaknya manusia normal.

"Jika kau menyetujuinya, aku juga akan setuju tapi jangan lalai dengan misi."

"Baik, saya mengerti."

"Jika Neji—"

"Saya akan membimbingnya dengan baik," Sasuke memotong kalimat Kakashi.

"Jika Neji masih hidup, ia akan menjadi Hyuuga yang hebat," ada jeda, "yang ini adalah seorang perempuan, ia baru saja kembali dari perantauan."

"Saya bukanlah seorang keturunan Hyuuga, bukan juga seorang Hairees, tapi saya akan berusaha sebaik mungkin."


Satu Minggu yang lalu Hyuuga Hiashi bertemu dengan Hatake Kakashi, mereka membahas tentang upacara pelantikan untuk Hairees generasi ke tujuh belas.

Kakashi paham betul masalahnya, ia kehilangan satu-satunya calon penerus terbaik. Ketua clan Hyuuga itu kebingungan setelah kematian Neji, ia butuh seorang Hairees tangguh dan puterinya tak bisa diandalkan.

Muncul nama Uchiha Sasuke, seorang keturunan clan Uchiha yang dipercaya pandai dalam hal didik-mendidik. Entahlah, Kakashi spontan menyebut nama itu, ia pikir Sasuke pantas mengemban tugas ini.

Singkat cerita, mereka bertiga bicara panjang lebar mengenai sang calon Hairees.

"Kau adalah shinobi yang sibuk." Hiashi menepuk punggung pemuda atletis disampingnya.

"Ie' tapi saya berjanji akan berusaha sebisa mungkin," ada jeda, "mungkin minggu depan saya akan berkunjung ke mansion anda."

Begitu ceritanya, dan disinilah dia sekarang. Setengah delapan malam, Uchiha Sasuke memasuki gerbang utama kediaman Hyuuga. Rupanya ia adalah tamu kehormatan, seorang wanita Bunke menyambutnya, "Hiashi-sama menunggu anda sejak tadi," Bunke belia itu memberi isyarat agar si tamu mengikuti langkahnya.

Sebuah taman pribadi di dekat machiya para Souke, Hyuuga Hiashi bersantai di sana sambil menikmati segelas gyokuro, "anda penggemar teh yang baik," Sasuke berjalan santai kearahnya.

Pria souke itu melepas tawa, "ini adalah hobi saya."

"Sake?"

"Ie' itu tidak baik untuk kesehatan orang tua sepertiku," Ia tertawa lagi, "tapi ketika seusiamu, saya biasa menikmati itu di luar Desa."

Seorang pria Bunke menuangkan gyokuro di gelas lainnya, "teh baik untuk anak muda sepertimu," Hiashi meneguk isi gelasnya, "temani aku minum."

Sejurus kemudian, perbincangan mereka jauh ke masa lampau. Ini tentang masa muda Hiashi dan Fugaku, Ayah Sasuke. Coba tebak, ia sama sekali tidak menyangka jika keduanya adalah sahabat karib. Pembicaraan itu semakin menarik kala Hiashi menceritakan kebiasaan-kebiasaan Fugaku di masa kecil.

Bukannya gemar bergaul dengan orang tua, hanya saja yang dibahas adalah keluarganya. Semenjak kembali ke Konoha, ini pertama kalinya seseorang menyinggung nama Uchiha Fugaku.

Menyadari aura chakra Hanabi, Hiashi melirik pada kedua gadis yang menuju kearahnya, seolah ia berkata, 'dari mana saja kalian, ini pukul delapan malam.'

Hanabi memamerkan ekspresi memelas tanda minta maaf, Hinata malah mundur beberapa langkah dan bersembunyi dibelakang Adiknya.

"Hinata," suara berat Hiashi.

"…"

"Hinata?"

"Ha-hai' Otou-sama…" Suaranya pelan hampir tak terdengar.

"Kami menunggumu sejak tadi—" Hiashi mengisyaratkan agar puteri sulungnya itu duduk disebelahnya.

"Kami dari pasar," well, Hanabi adalah pemotong kalimat yang baik.

Alih-alih mengacuhkan Hanabi, Hiashi melanjutkan kalimatnya, "masih ingat pembicaraan kita tentang bimbingan?"

Hinata hanya mengangguk pelan, sesekali Hanabi menyenggol kakinya—berharap Kakaknya itu tidak terlalu gugup ketika bertemu orang baru.

"Tuan Uchiha adalah Ketua dari clan Uchiha," ada jeda, "sejak minggu lalu kami membicarakan ini," ada jeda lagi, "Tuan Uchiha akan membimbingmu sebelum hari upacara pelantikan," Hiashi diam sejenak, menunggu respon dari Hinata.

Sesaat suasana terasa kikuk, empat orang di sana diam membisu, menyadari hal itu, Hanabi mengeluarkan jutsu basa-basinya, "waaah…keren…."

"Hinata…"

"…."

"Hinata?"

"Ha-hai'" ia gugup.

"Beri salam pada Tuan Uchiha," perintah Hiashi.

Hinata berdiri sesaat seraya membungkuk hormat, Hanabi melakukan hal yang sama diiringi nyengir lebar tanda ia sangat bersahabat. Sasuke memandang keduanya secara bergantian, bagai langit dan bumi, Hinata dan Hanabi mempunyai sifat yang berbeda.

"Saya akan memulai bimbingannya esok hari," diteguknya sisa gyokuro, "jika saya absen, itu artinya sedang ada misi ke luar Desa,"

Hiashi tersenyum, "terima kasih atas kunjungan anda, saya yakin anda sangat sibuk sekarang ini, saya telah menyita waktu anda," ia bangkit dan membungkuk hormat, "maafkan puteri saya, dia memang agak pendiam."

Hinata POV

Waktu itu, ku pikir Otou-sama tidak serius….

Oh Kami…sejak kapan Otou-sama tidak serius?

Dia memanggil seseorang untuk mendidikku sebagai Hairees, dan orang itu adalah sahabat Naruto-kun.

Aku tak mengenal baik Uchiha Sasuke, tapi tahu betul masa lalunya. Ia banyak dibicarakan orang, kejahatannya di masa lampau sungguh tak terampuni.

Jika bukan keturunan terakhir Uchiha, aku yakin ia telah di eksekusi mati oleh Persatuan Aliansi Shinobi.

Mereka punya sebutan khusus untuk shinobi yang ingkar kepada Desanya. Iya, nuke-nin…Uchiha Sasuke adalah seorang mantan nuke-nin.

Hanabi membuyarkan lamunanku, "kenapa Neechan harus di didik oleh seorang Uchiha?" Adikku ceplas-ceplos, sukses membuat Ayah mendelik kearahnya, "Sasuke Niisan sama saja dengan Neji Niisan dan Naruto Niisan, jadi ku pikir sikap kita biasa saja."

Usia pria ini sebaya dengan Naruto-kun dan Neji Niisan, tapi Ayah memperlakukannya seperti shinobi terhormat. Entahlah, mungkin karena level jutsu yang dikuasainya, jumlah chakra yang dimilikinya, atau karena ia adalah yang terakhir darikeluarganya.

"Ayah Sasuke-san adalah teman Ayah," Ayah menatapku dan Hanabi bergantian.

Setelah ini ku jamin Adikku kena semprot, "bukankah kita harus menghormati semua orang, Hanabi?" Alis Ayah bertautan.

"Dia masih muda, jalan pikirannya kritis, aura chakranya kuat, byakugan yang matang," Hanabi dibaca layaknya buku, "dia tidak bermaksud seperti itu."

Hiashi tertawa, "maafkan puteri-puteri saya, mereka selalu begitu ketika bertemu orang baru," dan ini kedua kalinya Ayah mengulang kata 'maaf'

Suasana hening seketika, kami tak saling bicara satu sama lain, hanya Ayah yang terus melotot pada Hanabi.

"Saya pamit."

"Baiklah, terima kasih atas kunjungan anda,"Aku, Ayah dan Hanabi memberi salam, "Hinata, antarlah Sasuke-san ke depan gerbang."

Hinata End POV

Langkah demi langkah dalam keheningan, seorang pria dan seorang wanita melewati washitsu utama keluarga Hyuuga. Tak satupun dari mereka yang memulai pembicaraan, si pria merasa tidak perlu dan si wanita merasa terlalu malu.

Sharingan menangkap aura ketakutan, gadis yang berjalan dibelakangnya gemetar hebat luar biasa. Seorang kunoichi rank C, jumlah chakra setara dengan gennin berusia lima tahun, byakugan lemah, dan dijamin ia tak menguasai kekkei genkai apapun.

Tidak perlu berhadapan satu lawan satu, cukup dengan melihatnya saja, Sasuke paham betul sejauh apa kelemahan calon Hairees Hyuuga itu.

Tiba di gerbang utama, sepuluh menit serasa sepuluh jam. Peluh bercucuran membasahi dahi sang Hime, jari-jemarinya saling bertautan di depan homongi warna ungu. Uchiha Sasuke sedang memandangnya lekat-lekat, tapi Wajah cantik rupawan itu tak berani melihat wajah tampan dihadapannya.

Fokus Uchiha pada jemari mungil yang bergetar, "kau sangat kecil."

"…." Tidak ada tanggapan.

"—dan pendek."

"…." Masih diam seribu bahasa.

"Besok,"

"Eh…" sedikit respon.

"Pukul tujuh pagi, luruslah ke arah utara."

"Eh?"

"Jika terlambat akan di beri hukuman."


Prince of Sharingan, 07 Maret 2017.