Disclaimer: Masashi Kishimoto

Main pairing: SasuHina

Genre: Romance, Hurt

Rated : M


3

Vacation


Tidak semua wanita di Konoha mengenakan wafuku, apalagi yang berprofesi sebagai shinobi, mereka lebih memilih pakaian yang lebih pendek dan ketat. Jika kau adalah seorang kunoichi, jangan gunakan pakaian dari bahan tebal, itu akan menyulitkanmu ketika melaksanakan misi, pilihlah pakaian dari bahan katun tipis yang mudah menyerap air. Sesuatu yang lebih simpel akan lebih baik untuk wanita yang sering melaksanakan kegiatan luar, kecuali jika kau adalah seorang Hime dari clan ternama.

wafuku bukan hal yang asing bagi Hyuuga, para pria identik dengan hakama sementara wanitanya identik dengan kimono. Bagi yang belum menikah, homongi dan furisode adalah pilihan yang tepat, sedangkan mereka para gadis muda, diwajibkan mengenakan yukata.

Hime Hyuuga mengenakan homongi di hari pertama, ia yakin betul bahwa pakaian terbaik adalah pakaian tersopan. Kali ini homongi miliknya terbuat dari bahan lebih tipis, bukan katun, tapi nyaman juga. Warnanya putih tulang dihiasi motif anggrek ungu, ia menawan dipandang mata.

Itu jika kau ingin menghadiri sebuah pesta, sementara ini adalah sebuah bimbingan khusus. Dalam artian, kau akan belajar banyak hal dari sang pembimbing, setidaknya akan ada beberapa teknik ninjutsu. Sementara pembimbingmu adalah seorang pria yang tidak mau tahu masalah pakaian. Mengenakan sesuatu atau tidak mengenakan sesuatu, intinya kau harus mampu menyerap materi yang ia berikan.

Muncul satu pertanyaan, pantaskah homongi dikenakan untuk berlatih? Iya wajar saja, wanita Hyuuga selalu setia dengan wafuku, itu bagi mereka yang terbiasa. Lalu muncul pertanyaan lainnya, apakah Hime Hyuuga pernah mengikuti bimbingan sebelumnya? Tentu tidak, hanya Hiashi-sama dan Neji niisan yang melatihnya selama ini.

Ia tidak pernah sekolah di Akademi Ninja, ia tidak pernah mengikuti ujian genin apalagi chunin. Statusnya sebagai souke yang memaksa Hokage ke lima menandatangani surat keputusan tentang lulus paksaan sang Hime malang.

Sebagai seorang kunoichi yang tidak pernah berlatih, wajar jika Hinata tidak mengerti aturan. Shinobi genin maupun chunin wajib mengenakan pakaian simpel dan ringan, itu akan memudahkanmu dalam pergerakan. Contohnya saja Sakura-san dan Ino-san, pakaiannya lebih minim, bukan untuk mempertontonkan paha mulus mereka, melainkan untuk kenyaman kala bertugas.


Seorang pemilik mata putih berjalan ke arah Uchiha Sasuke, wanita itu nampak kesulitan dengan langkahnya. Homongi miliknya kontras dengan hijau daun pepohonan. Warna kulit pucat semakin pucat kala berpadu dengan warna pucat homongi. Si gadis kuncir poni rata, sharingan menangkap aura samar ketakutan, raut wajah itu menggambarkan sunkan, segan dan malu-malu.

Langit belum menampakkan apapun, hanya beberapa awan kecil yang setia di sana. Burung pipit saling bersahutan, sesekali terdengar suara ternak warga yang sengaja di lepas ke hutan. Tanah di sekitar tidak lembab dan tidak kering, menandakan cuaca sangat bagus untuk memulai sebuah bimbingan bagi seorang Hime bertubuh mungil.

Di jamin ini adalah setengah tujuh pagi, awal yang bagus untuk pelajaran pertama. Tidak akan ada hukuman seperti yang dijanjikan, mengingat si iris amethyst sukses menepati janjinya. Sasuke berdiri di tengah jalan setapak, ia tak akan bersandar atau bersembunyi di salah satu pohon, berjaga kalau-kalau Hime tidak dapat melihatnya dan meneruskan perjalanan hingga ke Desa Kumogakure.

Sasuke meneliti penampilan anak didiknya yang hendak ke pesta pagi, jarak mereka sepuluh meter—ketika ia menyimpulkan betapa si gadis mirip seperti hantu kesiangan.

"Anoo…."

"…."

"Maa…," si gadis ragu-ragu dengan kalimatnya.

"Hn? Kalimat ambigu Sasuke.

"Matahari…," jemari itu bertautan, kebiasaan sejak kecil sang Hime, "matahari belum nampak," suaranya lembut.

"Lalu?"

"Syukurlah…."

"Hn, lalu?"

"Gomennasai, a-aku menunggu Sasuke-san di dekat lapangan,"ada jeda, ia maju dua langkah, "ku-ku pikir itu adalah arah utara, ta-tapi Sasuke-san tidak muncul juga, ja-jadi—"

"Arah utara sampai kau menemukanku," Sasuke memotong kalimatnya.

"Aah…souka," ia tertunduk malu, "gomennasai," dua kali mengulang kata maaf.

"Malah ku pikir kau telah melewatiku," well, candaan yang bagus untuk pria berwajah dingin.

Arah utara tempat pertemuan di hari pertama, maksudnya hutan utara di balik gunung, bukan arah utara di dekat lapangan para genin. Tidak mungkin Sasuke melatih seorang pemula berusia dua puluh dua tahun di tengah-tengah para genin yang sedang bermain bola, Hinata akan sukses ditertawakan.

Gerak tubuhnya memberi isyarat agar Hime mengikuti langkahnya, jalan setapa bukan tempat yang baik untuk memulai bimbingan. Ini adalah jalan utama bagi para skuad anbu ketika hendak melaksanakan misi atau kembali dari misi, terkadang juga digunakan oleh beberapa jounin untuk berlatih jutsu terbaru.

Termasuk dia dan Itachi-nii, hutan ini adalah tempat favorit dua bersaudara Uchiha. Teknik melempar kunai dan shuriken, hange no jutsu, ki no bori no shugyo, suimen hoko no gyo dan masih banyak lagi, seolah bau keringat itachi-nii masih menempel erat, banyak kenangan banyak kesedihan maka dari itu jangan buat kenangan apapun.

Sasuke melamun dalam langkahnya, Hinata setia mengekor. Dipandangnya sisi kiri dan kanan, hanya hutan melompong. Karena ia adalah Hime yang terbatas ruang geraknya, hutan utara terasa sangat asing.

Bersyukurlah mereka—para shinobi tangguh, mampu melakukan apapun dan pergi dimanapun. Banyak yang tewas dalam misi, tak jarang mereka saling bunuh satu sama lain demi keuntungan sendiri.

Terbayang jelas tumpukan mayat shinobi, perang dunia ninja menjadi momen yang sangat menakutkan, dan beberapa dari orang yang pernah berlatih di hutan ini adalah beberapa orang dari tumpukan mayat itu.

Yang berjalan di depan adalah seorang mantan nuke-nin, pertanyaan muncul di benak Hinata, berapa jumlah shinobi yang pernah di bunuh Sasuke-san? Hitunglah Uchiha Itachi, sannin Orochimaru, danzo-sama ketua anbu-nee dan masih banyak lagi. Apakah ia nyeyak di dalam tidurnya setelah melakukan itu semua? Pada orang-orang yang ia kenal? Tentu saja, seorang pengguna genjutsu selalu tidur pulas di alam bawah sadarnya.

"Ano…"alih-alih memulai pembicaraan.

"Delapan ratus dua puluh enam."

"Eh?"

"orang yang pernah ku bunuh," Sasuke menghentikan langkahnya, "shinobi yang ku habisi berjumlah delapan ratus dua puluh enam," sebuah pocket kecil diserahkan pada Hinata, "sampai dua hari yang lalu," dipandangnya wajah tertunduk itu, "dan kau benar, termasuk Kakak dan sensei pribadiku."

Jemari si mungil bergetar, kalimat terakhir Uchiha Sasuke telah sukses menekan urat takutnya. Jika perawakan Sasuke membuatnya takut, kini pemilihan kata pria itu membuatnya takut setengah mati. Pocket kecil itu di genggam erat-erat, "ma-maaf," ini kata maaf yang ke tiga sejak lima belas menit yang lalu.

Iya tentu saja, sharingan dan rinnegan mampu merasakan apapun disekitarnya…apapun, termasuk ungkapan isi hati Hinata no Hime. Jangan main-main dengan orang ini, ia mampu membaca isi kepala dan pergerakan lawan dan kawan,

"Kenapa?" Sasuke mendelik.

Walau hanya 'kenapa' tapi bisa diartikan Hime sebagai, 'ingin menjadi korban selanjutnya?'

"Ti-tidak—" suaranya bergetar.

"Ingin menjadi korban selanjutnya?" Demi Kami-sama, Sasuke membaca Hinata seperti koran pagi hari.

"A-aku…harus pulang."

"Hm?" alis sasuke bertautan, mereka belum memulai apapun dan anak didiknya sudah minta pulang.

"A-aku—"

"Bercanda," dipandangnya Hime malang itu, "Ayahmu membayarku untuk bimbingan ini," Hinata dibiarkan melangkah lebih dulu, alih-alih bertukar posisi, "jadi tidak mungkin aku membunuhmu, jalanlah lurus ke depan, di dekat pohon besar itu belok kiri."

Hinata Hime menangis dalam langkahnya, ia takut dan malu layaknya pencuri yang kedapatan mencuri, ia tak menyangka Sasuke akan membaca pikirannya semudah itu, "gomennasai…" suaranya lirih, well—maaf yang ke empat.


Tidak, Hatake Kakashi bukan orang yang kolot, ia adalah tipe shinobi yang tak segan-segan mengakui kesalahan jika memang terbukti bersalah.

Kemarin, ia kurang teliti dan memberikan misi sia-sia pada jounin rank A, maka sebagai gantinya, ia memberi jatah libur sehari penuh pada ke tiga jounin tersebut.

Lee lebih memilih untuk berlatih, tentunya setelah menjenguk Guy-sensei, guru malang yang tengah terbaring sakit. Lari seribu putaran, push up delapan ratus kali, berjalan di atas tangan lima ratus kali, semua itu mampu ia lakukan dalam sehari full tanpa lelah.

Berbeda dengan si gadis cepol, Tenten lebih memilih pulang ke rumah orang tuanya. Perlu diketahui, Tenten adalah gadis paling beruntung di Konoha. Ia lahir dari keluarga Daimyou, sejak kecil ia di didik sebagai Nona besar. Tapi bukan itu intinya, si cantik berambut cokelat itu lebih suka hidup sebagai kunoichi dengan fasilitas rumah susun seadanya.

Bersama kakak sepupunya Lee, Tenten hidup di Konoha layaknya manusia biasa. Terkadang bantuan sang Ayah ragu ia tolak—emas, berlian, sandang pangan, pakaian mewah, dan berbagai keperluan ninja—semua itu tertampung rapi dilemarinya.

Pemandangan lain datang dari Uchiha Sasuke, pria itu sibuk mengurusi seorang Hime. Tapi Naruto tidak akan mengolok-ngoloknya seperti kemarin, karena ini bukanlah Akane no Hime, melainkan Hinata no Hime, puteri sulung Hyuuga Hiashi, teman Ayahnya.

Hinata belok ke kiri di dekat pohon besar, "lurus ke depan," perintah Sasuke.

Dalam hati ia mengutuk homongi miliknya, betapa sulit mengenakan wafuku di tengah hutan. Samar terdengar suara air, aroma dedaaunan fresh menyeruak, lumut di atas bebatuan mengisyaratkan betapa lembab udara di sekitar, kelinci lompat ke sana kemari kala menyadari kehadiran dua manusia Konoha, bunga-bunga liar berbagai macam bentuk menarik perhatiah Hime untuk menyentuhnya, tapi suara berat Uchiha Sasuke membatalkan niatnya, "jangan sentuh, itu beracun."

Hutan seperti taman, sungai di tengah hutan, siapa sangka Konoha memiliki aset sebagus ini. Para shinobi terlalu sibuk melaksanakan misi sehingga lupa betapa indahnya taman hutan di dekat rumah mereka. Kelak Ayah dan Hanabi harus melihat ini, atau mereka telah mengetahuinya tapi tidak peduli dan lebih peduli pada hal-hal yang berbau shinobi.

Sasuke mengambil beberapa lembar daun yang bentuknya agak lebar, ditaruh di atas batu lalu dia duduk diatasnya, Hinata pun melakukan hal yang sama.

Dua hal yang sangat mengganggu, jari-jemari yang selalu bertautan dan wajah tertunduk lesu seperti orang sakit.

"Pelajaran pertama," suaranya agak lantang, "sopan santun dan saling menghargai."

"…."

"Seperti itukah sopan santun ketika berbicara dengan seseorang?"

"Eh?"

"Ketika berhadapan dengan seseorang, tataplah wajah orang itu."

Spontan White eyes memamerkan freckle faced, dipandangnya wajah stoic yang berbicara, "gomennasai…a-aku—"

"seorang pemimpin harus lantang dan tegas," Sasuke menyilang kakinya, "berwibawa, berani mengambil keputusan, dan menghargai kawan dan lawannya."

Hinata memperhatikan dengan seksama, "—dan berani menatap lawan bicaranya," ada jeda, "jangan tunjukkan gerak ragu-ragu, karena bawahanmu akan lebih ragu lagi."

"Sebagai manusia biasa, seorang pemimpin wajar takut, tapi pemimpin yang baik tidak akan menampakkan ketakutannya di depan para bawahannya," Sasuke memperhatikan pocket kecil di pangkuan Hime, "karena bawahan selalu percaya pada pemimpinnya, begitu pula sebaliknya."

"Ketika dalam keadaan terdesak, seorang pemimpin harus berani mengambil keputusan," dipandangnya white eyes itu, "memutar otaknya, mencurahkan semua kemampuannya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kalimat ini berlaku untuk urusan administrasi shinobi maupun ketika dalam keadaan perang."

"Pemimpin yang baik akan merasa sedih ketika ia gagal mempertahankan bawahannya, dalam artian di sini, bawahannya tewas dalam perang atau lari sebagai pengkhianat," ada jeda, "tapi dia tidak akan bersedih dalam jangka waktu lama, karena seorang pemimpin selalu punya seribu cara untuk membalikkan keadaan agar keuntungan berpihak padanya."

"Seorang pemimpin harus punya prinsip satu di bayar dua, jika satu orang bawahannya tewas, maka ia harus mampu menewaskan musuhya sebanyak dua," ada jeda, Kami-sama—Sasuke banyak bicara hari ini, "pemimpin tidak akan meninggalkan bawahannya dalam situasi apapun, itu intinya."

Hinata diam membeku, mulutnya membentuk huruf O. Manusia yang sedang berbicara ini adalah seorang mantan penjahat, tapi dari nada bicara dan pemilihan kata, seolah ia adalah pemimpin terhormat dari suatu Negara.

"Kau mengerti bahasaku?"

"…," masih setia dengan O ria.

"Ingin menanyakan sesuatu?" dipikirnya Hinata bingung, "maksudku, bawahan di sni adalah para bunke Hyuuga" jelasnya.

"…,"

"Haruskah ku ulang dari awal?"

"Ie' saya mengerti maksud Sasuke-san."

"Jangan tunduk ketika berbicara, pandanglah lawan bicaramu untuk menghargainya, biarpun yang dia ucapkan itu salah atau benar."

"Hai'…."

"Seorang pemimpin tidak hanya harus pintar, tapi juga cerdas."

"Hai'…."

"Seorang pemimpin tidak hanya cerdas, tapi juga kuat," ada jeda, "setidaknya ia harus menguasai satu jenis kekkei genkai dan satu jutsu rank A, akan lebih baik jika ia mampu menciptakan sebuah jutsu."

"…."

"Elemen dasar terbagi atas lima, katon, suiton, futon, doton, dan raiton," ada jeda, "jika menguasai elemen katon, biasanya seorang shinobi akan menguasai juga elemen raiton."

"…."

"Klan Hyuuga memilikin kekkei genkei mata putih, tapi sejauh mana seorang Hyuuga mampu menguasai teknik byakugan, tergantung dari cara ia berlatih," Sasuke berdehem, suaranya serak karena terlalu banyak bicara, "seorang Hyuuga yang tidak mampu memanfaatkan kekkei genkai, sama halnya ia tidak menguasai apapun."

"A-ano ne—"

"Iya, ada pertanyaan?"

"Chakra…."

"Iya, ada apa dengan chakra?"

"A-aku tidak mampu mengontrol chakra…," suaranya lirih.

Sasuke diam sesaat, rugi rasanya bicara panjang lebar tapi anak didikmu malah berkata, aku tidak bisa mengontrol chakra. Jika Hinata harus memulai pelajaran dari yang paling sangat dasar, bisa-bisa ini berlanjut hingga dua puluh tahun, "lebih tepatnya kau tidak mampu menciptakan chakra di dalam titik chakra tubuhmu."

"I-iya…."

1 menit

2 menit

3 menit

"Baiklah, kita mulai dari dasar saja, makanya kusiapkan pocket itu untuk berjaga-jaga," Sasuke bangkit berdiri, "anggaplah kau memiliki chakra, apa yang akan kau lakukan dengan chakra itu?"

"Mengaktifkan byakugan."

"pernah menggunakan kekkei genkai sebelumnya?"

"Ketika perang ninja ke empat."

"Bagaimana kau bisa melakukan itu, sementara menurutmu kau tidak mampu menciptakan chakra pada titik chakra?"

"A-aku—"

"Sistem kerja byakugan sama dengan sharingan, butuh chakra dalam jumlah besar untuk mengaktifkannya," Sasuke mengaktifkan sharingan "seorang genin butuh lima tahun untuk mengaktifkan kekkei genkai itu—dan hanya tingkat dasarnya saja."

"…."

"Bagaimana kau bisa mengaktifkannya dalam waktu sesingkat itu, dan bagaimana kau bisa mempertahankan konsistensi byakugan selama bertarung sementara kontrol chakra milikmu sangat buruk."

"…."

"Bagaimana?"

"Berlatih…," jawabnya lirih, "Neji niisan melatihku untuk mengaktifkan dan mempertahankannya."

"Dia memberimu chakra miliknya?"

Si gadis bergeleng, "chakra milikku sendiri, tapi chakra itu akan cepat habis, sifatnya hanya sementara."

"Jadi kau ingin bilang chakra milikmu hanya bisa terpacu dalam keadaan genting saja?"

" Iya…mungkin," suaranya pelan dan ragu-ragu.

"Itu artinya kau tidak baik dalam kontrol dan manipulasi chakra."

"Mungkin begitu…," masih ragu-ragu.

"Baiklah, aku akan memberimu chakra dalam jumlah kecil," ada jeda, "jika mengaku sudah pernah menggunakan byakugan, artinya kita tidak perlu khawatir dengan itu, yang menjadi masalah adalah kontrol dan manipulasi chakra."

"Sasuke-san akan memberiku chakra?"

"Iya, aku ingin melihat kemampuanmu."

"Ja-jangan…."

"Kenapa?"

"Aku ma-malu…."

"Kenapa harus malu, aku pernah memberikan chakra pada orang—itu hal biasa bagi shinobi," ada jeda, "aku ingin kau mengaktifkan byakugan ketika melempar shuriken yang ada di dalam pocket itu."


Sharingan, rinnegan dan byakugan adalah jenis kekkei genkai varian unik, kekkei tota. Tidak semua shinobi memiliki kekkei tota, hanya orang-orang tertentu dari clan tertentu. Maksudnya, Hinata memiliki kelebihan itu, dan ia masih berani bilang tidak mampu mempertahankan chakra dalam waktu lama.

Sasuke gemas bukan main, bukan apa-apa, ini adalah momen dimana ia bertemu seorang pengguna mata tanpa mampu memanfaatkan mata itu sendiri. Sama halnya kau mempunyai harta yang sangat banyak tapi bingung harta itu akan digunakan untuk apa.

Rasanya tidak mengapa memberi sedikit chakra, ia benar-benar penasaran dengan kekuatan si Hime.

"Ulurkan tanganmu," katanya.

Ragu-ragu si gadis, tangan putih mulus ia pamerkan. Sasuke melakukan hal yang sama, "sentuh tanganku," perintahnya.

"Tapi—"

Ya ampun, gadis ini hanya akan mempertontonkan aksi melempar shuriken tapi takutnya luar biasa. disambarnya tangan mulus itu, "seperti ini!" ia kesal, "genggam tanganku kuat-kuat."

Seperti tersambar kilat, tapi getarannya lebih ringan. Aura chakra Uchiha terasa hangat berwarna biru keunguan, Hinata bisa merasakan titik-titik chakra ditubuhnya mulai terisi.

Seharusnya ini akan mudah, Uchiha dan Hyuuga adalah pewaris langsung chakra Otsutsuki. Bagai dua pion yang dipertemukan sesuai dengan pasangannya, Hinata tidak akan kesulitan mengimbangi kekuatan chakra itu.

Byakugan adalah jenis doujutsu mode, seorang pengguna byakugan mampu melihat hingga sudut 360 derajat. Mata jenis ini ahli melihat benda padat dalam radius tertentu, pengguna byakugan ibarat teleskop, jarak dan tingkat teleskopnya bervariasi dari orang ke orang.

Tiga shuriken di apit oleh jemari mungil itu, ia menunggu aba-aba dari sang pembimbing.

Jadi begini, Sasuke sengaja melepas tiga bunshin. Byakugan akan mencari bunshin itu dalam lingkup 360 derajat lalu menyerangnya dengan shuriken. Ini sangat dasar untuk ukuran shinobi se-usia Hinata, well—hanya tiga bunshin dan Hime mungil itu pasti bisa melakukannya.

Original Sasuke berdiri dihadapan Hinata, ia berharap si gadis berkonsentrasi penuh agar tepat sasaran. Titik buta byakugan berada di punggung leher, Sasuke paham betul, dan ia yakin Hinata belum menguasai titik itu.

"Aktifkan," perintahnya.

Seketika urat-urat di sekitar white eyes itu bangkit, Hinata mulai melakukan pencarian disekitarnya.

"Anggap aku musuh!"

Jika kau melihat Hinata sekarang, kau tidak akan percaya jika ia adalah Hinata yang kemarin. Tatapan mata tajam berwarna putih, urat chakra berkedut menghiasi pipi chuby, jemarinya mengapit tiga senjata ninja, waspada luar biasa, super serius—oh Kami-sama inilah calon Hairees kebanggaan Hyuuga yang sebenarnya.

Pria itu memperhatikan lekat-lekat, kunoichi rank C cenderung mengemban misi-misi gampang. Jika level rank C seperti ini, seharusnya Hinata mendampingi para shinobi rank A, atau setidaknya ia bergabung di skuad anbu.

Tiga bunshin tersebar, jarak semuanya di atas sepuluh meter. Chakra sharingan terasa di jarak dua puluh meter, yang lainnya berada di jarak empat puluh meter, lalu sisanya berada di samping kiri jarak dua puluh tujuh meter.

Lihai dan gesit, dilemparnya shuriken itu berbarengan. Melewati sejuknya hutan, memecah udara pagi, melintasi ranting-ranting, taman hutan menjadi saksi bisu kala tiga buah shuriken mencari sasaran seorang jounin berwajah Uchiha.

Sasuke bertolak pinggang, sesaat ia seperti memikirkan sesuatu, "boleh juga," katanya.

"A-apakah berhasil?" Tanya Hime ragu-ragu.

"Menurutmu?"

"Entahlah…," nada suaranya mengisyaratkan kekecewaan.

"Kau tidak bisa merasakannya?"

"Tidak…," ia tertunduk lesuh.

"Kau mengenai bunshin tepat sasaran."

"Benarkah?"

"Kau membunuh bunshin ku dalam waktu sepuluh detik."

Kedua tangannya mengepal, "yatta! Ho! Kami-sama syukurah…" Hinata bersorak gembira.

1 menit

2 menit

3 menit

Suara serak nan seksi, ternyata seindah itu suara si gadis pemalu. Sadar akan sharingan yang terus memandang, ia tertunduk layaknya gadis manis yang sedang malu-malu.

"Gomennasai…."

Uchiha Sasuke diam tanpa kata, atau lebih tepatnya melongo pasca mendengar suara serak Hime Hyuuga, "tenggorokanmu sakit setelah melempar shuriken?"

Ia bergeleng, "memang seperti ini suaraku, Hanabi-chan juga memiliki suara seperti ini, Neji-niisan juga."

"…," Uchiha semakin melongo.

"A-aku juga mampu melihat titik buta seperti Neji-niisan," jemarinya bertautan di depan homongi warna putih tulang, "ku pikir bunshin Sasuke-san berada di sana juga."


Seperti kata Hime Hyuuga, ia pandai menyerang seseorang pada titik buta byakugan. Tidak semua pengguna byakugan mampu melakukan itu, setidaknya butuh latihan panjang dan menguras banyak chakra.

Sasuke menarik sebuah kesimpulan bahwa gadis muda dihadapannya memiliki potensi yang sangat bagus, jika Hinata lebih sering berlatih, mengikuti beberapa misi, dan lebih berani dalam bertindak, ia yakin sang calon Hairees akan menyaingi si bunke Neji.

Latihan terus berlanjut hingga matahari berada di atas ubun-ubun, untuk setengah hari ini, Sasuke lebih fokus pada kecepatan serang. Empat bunshin pada titik buta byakugan, dan Hinata mampu menyerang semuanya hanya dengan dua shuriken.

Teringat masa-masa dulu ketika ia berlatih bersama Neji niisan, ketika itu usianya masih delapan tahun dan ia sangat mahir menggunakan shuriken.

Menurut Sasuke, masalah utama Hinata hanya kontrol chakra saja. Jika dikuasainya teknik dasar itu, jangankan misi rank C, misi rank A dan S mampu ia laksanakan tanpa kesulitan berarti.

Rekan sesama tim tujuh, Haruno sakura. Sasuke ingat betul, si gadis berambut pink adalah genin yang paling penakut di antara semua genin. Tapi dengan berlatih keras selama bertahun-tahun, ia berhasil menjadi iryo-nin terbaik.

Yamanaka Ino, terkenal paling malas berlatih ninjutsu, bahkan ia pernah melarikan diri dari Ayahnya ketika hendak di latih shintenshin tahap ke dua. Setelah di beri pencerahan oleh Hokage ke lima, ia berjanji akan berlatih sungguh-sungguh—dan lihatah Ino sekarang, ia berhasil menguasai shintenshin mode hingga tahap terakhir.

Tenten, awalnya Hokage ke tiga meragukan kemampuannya. Mengingat statusnya sebagai bangsawan kelas atas, rasanya tidak mungkin si cepol mampu melakukan fuinjutsu dengan sempurna. Berlatih diam-diam di luar jam latihan, diawasi langsung oleh Guy-sensei, ia mampu melakukan funyu no jutsu high class kapanpun dan dimanapun.

Rasanya tidak terlalu sulit, Hinata akan mampu mengungguli mereka jika berlatih dengan giat—dan Sasuke optimis, kontrol chakra akan dikuasai seorang shinobi paling lambat tujuh hari.

"A-apakah kita tidak akan pulang untuk makan siang?" Hinata sebenarnya ragu bertanya, tapi ia benar-benar lapar kali ini. Bayangkan saja, latihan di mulai setengah delapan dan sekarang ini adalah pukul satu siang.

"Tidak."

"Sasuke-san ti-tidak lapar?"

"Tidak."

"Ta-tapi Sasuke-san banyak terkena shuriken hari ini—" jari-jemarinya membentuk angka tujuh.

"Tidak ada hubungannya," pria itu melemparkan sebuah apel, Hinata tidak siap dan apel itu hampir terlepas dari tangkapannya, "seorang shinobi tidak terlalu mementingkan hal-hal seperti itu."

"…."

"Buah ini," Sasuke menggenggam apel lainnya, "mengandung lebih banyak vitamin dibandingkan gandum dan beras."

"…," si gadis mengangguk tanda ia paham bahwa seorang shinobi hanya maka satu apel selama setengah hari.

Satu gigitan dua gigitan, buah apel berukuran kepal tangan orang dewasa dilahap habis. Dahulu kala, ketika tim Hebi bertahan hidup dalam pelarian, ia dan nakama hanya memakan satu buah apel sehari. Sulit rasanya memasuk sebuah Desa hanya untuk sekedar menyantap udon, sementara poster wajahmu terpampang rapi di pintu masuk desa sebagai nuke.

Tentu berbeda dengan Hyuuga Hinata, makanan mewah selalu tersedia di saat pagi, siang dan malam. Belum lagi cemilan seperti kue bulan dan kue mochi—ditemani ocha high class bernama gyokuro, benar-benar para bunke paham betul selera para souke.

Apel itu diam membeku, pemiliknya sedang asyik memandang seorang Uchiha. Lahap dan lancar, Sasuke telah menghabiskan tiga buah apel dalam kurun waktu tujuh menit.

Wajah tampan di sana sedang kelaparan hebat, tiga buah apel saja tidak cukup untuk memenuhi nafsu makannya. Sasuke termasuk shinobi berukuran besar, sudah pasti makannya juga banyak. Deretan gigi putih nan rapi itu sedang berkonsentrasi melahap buah ke empat, satu gigitan, dua gigitan, ia bahkan tidak berusaha menghilangkan biji apelnya.

Hinata terkekeh, menurutnya ini seperti pertandingan memakan apel, satu gigitan, dua gigitan, tiga gigitan selesai, lanjut buah berikutnya dan begitu seterusnya.

Betapa kuat rahang Sasuke, apel sekeras ini mampu ia lahap secepat kilat, "kami biasa melahap ini di hutan,"

"Aa…souka," Hime menahan senyumnya.


Acara makan apel selesai pukul setengah dua siang, Hinata siap memulai latihan selanjutnya. Well, satu banding lima, Hinata makan satu Sasuke makan lima. Gadis itu membutuhkan waktu tiga puluh menit melahap satu apel dan Sasuke melahap lima apel dalam waktu sepuluh menit.

"Aku ingin kau menunjukkan sebuah jutsu dasar," pria itu berjalan ke arah aliran sungai, "perhatikan ini, kontrol chakra," ia berdiri di atas air, "seorang shinobi bertarung dimana saja," lumayan dalam di sana, "kontrol chakra yang baik akan mengurangi berat badanmu menjadi nol, sehingga kau dapat terapung seperti ini,"Sasuke melangkah ke kiri dan ke kanan tanpa khawatir tenggelam, "lihat, tubuhmu akan berkompromi dengan benda cair, kontrol chakra berada di bawah telapak kaki."

"…." Hinata mengangguk.

"Pernah menggunakan cara ini?"

Suimen hoko no gyo adalah sebuah jutsu dasar yang hampir dikuasai oleh semua shinobi. Pengguna elemen apapun dan pengguna kekkei genkai apapun wajib menguasai jutsu ini. Seperti kata Sasuke, seorang shinobi bertarung dimana saja, termasuk di air—bagaimana kau akan bertarung jika kontrol chakra milikmu tidak baik untuk suimen hoko no gyo.

"Sedikit," lirih kalimatnya.

"Baiklah, sekarang dengar aba-abaku," ada jeda, "mendekatlah kemari, ke arah air terjun ini."

Hinata melangkah pasti, seperti teknik shuriken tadi, ia yakin mampu melakukan suimen hoko no gyo dengan mudah.

"Biasanya seorang genin akan melepas sepatunya, kontrol chakra akan lebih mudah."

Mengikuti kata-kata sang pembimbing, Hinata melepas sepatunya, "konsentrasi penuh, alirkan chakra pada telapak kaki."

1 menit

2 menit

"Sudah?"

"Hm, ku rasa begitu," si gadis ragu.

"Jika ragu, kau akan tenggelam—di sini sangat dalam."

"A-aku yakin…."

"melangkah pelan-pelan," perintahnya.

"A-aku pernah melakukannya bersama Neji niisan—"

"Ck, aku ingin melihatmu sekarang, bukan bersama kakakmu."

"A-aku—"

"Jika ragu jangan melangkah!"

"…."

"Buka bajumu!"

1 menit

2 menit

3 menit

Tertegun sesaat, Hinata berharap telinganya salah. Mana mungkin Sasuke menyuruhnya melepaskan wafuku. mereka hanya akan melakukan teknik suimen hoko no gyo dan homongi cantik miliknya tidak ada hubungannya dengan itu.

"Ya?" Otak kecilnya berusaha berpikir positif.

"Tanggalkan pakaianmu!" Kini bahasanya lebih sopan tapi tetap saja artinya sama.

"A—aku—"

"Baju itu akan menyulitkanmu!"

"Ti-tidak…," tangannya menyilang di depandada.

"Ya! Terserah saja, cepat melangkah kemari! Jangan lupa kontrol chakra pada telapak kaki," sekilas terlihat roll eyes style, ini siang bolong dan Hinata terlalu manja.

Ia memejamkan matanya, terasa dingin kala air sungai menyentuh telapak kaki. Demi Kami-sama, gadis macam apa yang akan melepas homongi di depan seorang pria dewasa, Hinata lebih baik tenggelam dari pada harus mempertontonkan lekuk tubuhnya.

"Lumayan, tetap konsentrasi!"

"A-apa seperti ini?"

"Melangkah kearahku, pelan-pelan," sementara ia mengucapkan kalimat itu, Sasuke sengaja memperpanjang jarak antara keduanya.

"Sasuke-san jangan mundur, a-aku akan ke tempatmu."

"Bodoh, semakin aku mundur maka langkahmu akan semakin panjang! Gapai aku!"

"Ta-tapi aku belum mahir Sasuke-san," Hinata panik.

"Tidak, lakukan!"

"Tapi Sasuke-san di sini arusnya sangat deras," ia mulai terisak.

"Konsentrasi penuh, kau akan tenggelam jika konsentrasimu buyar!"

Langkah demi langkah, Hinata melakukannya dengan sangat hati-hati. Terdengar samar isak tangis, Hime cengeng ini sungguh merepotkan, "percepat langkahmu!" Sasuke tegas.

"Di-di tempat Sasuke-san lebih dalam—a-aku—"

"Aku tidak akan membiarkanmu tenggelam, kau hanya perlu konsentrasi dan melangkah, jangan menangis!"

Lagi, langkah demi langkah, Hinata mengulurkan tangannya, berharap Sasuke akan menggapainya—tapi jarak mereka masih sepuluh meter lagi.

"Teknik ini adalah jutsu umum dan wajib dikuasai semua shinobi, mau tidak mau kau harus bisa!"

Sesaat Hinata merasa berat, seperti sesuatu menariknya ke bawah, "Sasuke-san, aku merasa berat di sini"

"Melangkah saja, itu karena pakaianmu menyerap air dan membuat bebanmu lebih berat, kalahkan beban itu! Chakra milikmu jauh lebih kuat!"

1 menit

2 menit

3 menit

"Sasuke-san—a-aku benar-benar tidak bisa bergerak—terlalu berat."

"Ano baka...,"entah Hime mendengarnya atau tidak, Sasuke benar-benar kesal kali ini.

Ia terisak, "chakraku…."

1 menit

2 menit

"AAAAHH! Suara serak Hime menggema di sekitar taman hutan.

"Sial!" Sasuke memaki.

Homongi tetaplah homongi, wafuku khas Negara Api itu selalu terbuat dari bahan tebal. Kita ketahui bersama bahwa kain tebal sangat mudah menyerap air dan tentu membuat beban menjadi semakin berat.

"Sialan!" Hanya dalam hitungan detik si gadis manja hilang di telah air, dengan gerakan yang super cepat—Sasuke melepaskan pakaiannya dan melesat ke dalam air.

Segampang itukah homongi putih tulang menenggelamkan seseorang? Padahal itu hanya sebuah pakaian tradisional.

Bersyukur tubuh si malang belum terlalu jauh, Sasuke segera meraih tangannya. Seorang kunoichi rank C tenggelam di sungai, maksudnya benar-benar tenggelam. Bukan dikalahkan musuh—tapi tenggelam dalam keadaan konyol karena gagal mempraktekkan suimen hoko no gyo. Sungguh malang, ia hanya sedang berlatih ninjutsu dasar tapi harus menerima resiko meregang nyawa.

Kedua kaki Sasuke mengunci tubuh si mungil, 'sangat berat' batinnya. Homongi Hinata menggembung dipenuhi air, dan ia benar-benar tidak punya pilihan selain melepas homongi itu.

Sangat sulit menolong seseorang hanya dengan satu tangan, dengan sigap ia memotong tali pengikat obi, datejime—lalu menarik obi. Bahkan ia harus merobek homongi karena merasa terlalu sulit jika harus melepasnya melalui kedua tangan Hinata.

Hanya tertinggal sepasang underwear berwarna ungu, ditariknya tubuh itu menjauh dari air. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri, atau lebih tepatnya mengutuk Hime, shinobi macam apa yang tidak mampu mempraktekkan suimen hoko no gyo, "baka!" lagi-lagi ia memaki dalam batinnya.


Underwear warna ungu basah kuyup, pemiliknya tergeletak pingsan di atas rumput hijau musim semi.

Sasuke Uchiha bukan seorang iryo-nin, tentunya ia tak paham mengobati orang sakit. Pipi gemuk Hinata ditampar berulang kali tapi ia tak menunjukkan tanda-tanda kesadasan.

Selemah itu kah? Batin Sasuke.

Sharingan tidak merasakan aura chakra dari tubuh pingsan itu, lalu harus diapakan?

Dirangkumnya wajah Hinata, yang menjadi sasaran adalah bibir mungil di sana.

Sasuke POV

Lima jemariku memegang wajah Hime Hyuuga, jika para nakama berada di sini, aku pasti sukes ditertawakan.

Perlahan-lahan wajahku mendekati wajahnya, ku tatap lekat-lekat, wajah itu pucat dan dipenuhi bintik, lugu dan sempurna, 'sial, kenapa jadi seperti ini?' Batinku.

Sesaat aku merasa canggung, harus kulakukan atau tidak kulakukan. Aku ragu tapi harus, perlahan-lahan ku kecup bibir kecil itu. Saking kecilnya, bibirku sukses merangkum semua bagian dari bibirnya.

Lidahku masuk lebih dalam, berusaha menggapai deretan gigi putih. Ku tekan dagunya agar lidahku bebas melakukan tugasnya. Aroma apel segar ku kecap, hangat dan basah. Kumainkan lidahnya sesekali, dalam hati aku mengutuk diriku sendiri, 'ini bukan untuk dinikmati Sasuke," kuperingatkan diriku.

Ku beri dia nafas buatan, ini akan membantunya untuk bertahan, 'sadarlah, aku bertanggung jawab pada Ayahmu,' batinku lagi.

"Hime sadarlah," kubisikkan di telinganya.

Indah, seksi dan menggoda, iya—aku adalah seorang pria normal. Entah ini dikatakan sial atau beruntung, tubuhnya basah kuyup dan ia hanya mengenakan pakaian dalam.

Tanganku ingin menyentuhnya, tapi batinku menolak mati-matian. Ayolah Sasuke, dia hanya gadis kecil nan lugu, tak pantas seorang shinobi berlaku tak senonoh pada seorang gadis.

Ku buat beberapa jarak, khawatir jikalau jemariku mempengaruhi batinku. Tapi mataku berkata lain, rinnegan dan sharingan terus penasaran dengan apa yang ada dibalik pakaian dalam itu.

Aku bukan pria nakal, tapi yang ku pandang saat ini mampu membuatku nakal secara instan, 'Oh Kami, cepat sadarkan dia.'

Ia melenguh beberapa saat, lalu mengigau—entah apa yang ia katakan, "Hime, sadarlah," ku tepuk lagi pipinya.

"Sasuke-san…," suaranya lirih.

Iris amethyst menatapku sendu, mata itu basah oleh air mata, "aku gagal melakukannya."

"Kau berhasil," kataku.

Kala menyadariku bertelanjang dada, dan tubuhnya hanya mengenakan pakaian dalam, ia panik tak karuan. Spontan kedua tanganya menutupi area dadanya. Kuambilkan jubahku yang tergeletak di rumput lalu ku tutupi tubuh itu. Hime Hyuuga sesengukan, tubuhnya bergetar diiringi tangis.

"Aku harus merobek bajumu," jelasku.

Ia mengangguk, "gomennasai…," ada jeda isak tangis, "aku gagal melakukannya," jeda tangis lagi, "suimen hoko no gyo, aku gagal melakukannya."

Sasuke End POV

"Kau berhasil melakukannya."

"Ta-tapi tubuhku tenggelam ke dalam air."

"Karena kau kehabisan chakra."

"…," hanya terdengar isak tangis.

"Jumlah chakra yang sama pernah kuberikan pada salah satu temanku, Jugo," ada jeda, "dia menggunakan chakra itu selama satu minggu."

"…."

"Dan kau menghabiskannya dalam waktu setengah hari."

"Gomennasai…," suaranya parau.

"Sampai kapan kau ingin merahasiakan ini?" ada jeda, Sasuke menekan salah satu titik chakra di tangan Hinata lalu mengalirkan chakra di sana, "apa yang membuat chakra di tubuhmu habis terkuras?"

"Sasuke-san…"

"Apa yang kau sembunyikan, Hime?"


Prince of Sharingan, 12 Maret 2017.