Disclaimer: Masashi Kishimoto

Main pairing: SasuHina

Genre: Romance, Hurt

Rated : M


4

Party


Diam-diam dalam kehehingan mansion Hyuuga, seorang gadis bertubuh mungil melintasi washitsu utama. Hanya mengenakan jubah berwarna hitam guna menutupi tubuhnya yang pucat, tampilannya sukses berantakan dengan rambut basah kuyup. Bekas-bekas tanah menodai tatami, merupakan hasil dari langkahnya dari hutan utara menuju mansion Hyuuga, dia berjalan tanpa menggunakan alas kaki, atau dia lupa menggunakan alas kaki, atau alas kakinya tertinggal di hutan utara, entahlah—si gadis benar-benar kacau di hari pertama bimbingannya.

Jubah hitam dari kain cotton berbahan ringan, kepunyaan seorang bermarga Uchiha. Jika jubah itu tidak dipinjamkan, Hinata tidak hanya akan bertelanjang kaki, tapi juga bertelanjang badan. Homongi putih tulang seharga sebuah kolam sengaja di rusak untuk menyelamatkan nyawanya, insiden yang tidak diharapkan berhasil menceburkan tubuh si mungil di sungai berkedalaman sepuluh meter.

Satu, dua bunke berpapasan, bunke itu nampak sedih melihat majikannya berantakan disertai isak tangis, mereka hendak membantu tapi Hinata tidak menjawab satu pertanyaan pun—malah ia buru-buru melangkah.

Setiap souke mempunyai machiya masing-masing, di sana terdapat tiga machiya yang mengelilingi sebuah taman utama, itu adalah milik sang ketua clan Hyuuga Hiashi, puteri pertama Hyuuga Hinata, dan puteri kedua Hyuuga Hanabi. Dua machiya lainnya gelap gulita, ini tidak biasa di waktu-waktu senggang. Entah karena sedang melaksanakan misi atau bersiap-siap melaksanakan misi, intinya Hiashi dan Hanabi tidak berada di dalam machiya miliknya.

Hanya satu machiya yang diterangi lampu berwarna kuning remang, itu adalah Hyuuga Hinata di sana. Dalam keheningan petang hari, ia menenggelamkan tubuh dan jubahnya di dalam selimut tebal di atas futon. Selimut dan bantal warna lavender nampak serasi menutupi tubuh malang yang hampir mati tenggelam, futon berukuran lebar khas milik bangsawan menyaksikan betapa sedih hati Hime Hyuuga. Tetesan air mata membasahi pipi gemuk nan berbintik, dalam keheningan ia menangis diam-diam, sengaja betul ia mengatur tempo suaranya agar tak seorangpun mendengar suara tangis pilu seorang manusia gagal.

Entah apa yang ada di pikiran Uchiha Sasuke, sikapnya dingin kala mendengar kisah pilu dari hati pilu seorang Hime yang bernasib malang. Tidak mudah menutupi sebuah rahasia dari manusia sekelas Uchiha Sasuke, pria yang telah melewati pahit manis kehidupan, pria yang memiliki mata rinnegan dan sharingan, demi Kami-sama dia mampu membaca apapun, bahkan yang sengaja disembunyikan sekalipun.

Shoji bergeser, Hanabi berdiri di depan machiya Kakaknya, "para bunke ribut-ribut membahas nama Neechan," parasnya yang manis nampak cemas, "apakah Neechan sedang sakit?"

"…."

"Apakah bimbingannya tidak berjalan lancar?" ada jeda, "Oh Kami-sama, apakah Sasuke Niisan kasar pada Neechan?"

Hinata berharap Hanabi tak menyadari jubah hitam milik Sasuke, selimut tebal warna lavender cukup lebar untuk menutupi semuanya, "a-aku baik-baik saja," ia tersenyum sebaik mungkin, "hanya sedikit kelelahan."

"Nee," mendekat ke arah futon, ia duduk di sana sembari memeluk lututnya, "ku pikir terjadi sesuatu," matanya lekat-lekat pada Hinata.

"Ku pikir kalian sedang tidak berada di mansion," Hinata mengusap-ngusap matanya, alih-alih menghapus sisa air matanya.

"Betul, aku dan Ayah sedang bersiap-siap di mansion Ayah Tenten-san."

"Ada apa? Terjadi sesuatu?" Hinata semakin merapatkan selimutnya, sementara jubah hitam itu telah sukses terselip di dekat kakinya.

Mata Putih Hanabi membelalak kala mendapati Kakaknya tak mengenakan apapun, "kami akan mengantar Paman ke Desa Kumogakure," senyumnya jahil, jemarinya berusaha menarik selimut itu, "untuk menandatangani perjanjian damai, sebenarnya hanya formalitas, mereka hanya akan memperbaharui surat perjanjiannya."

Peristiwa itu terjadi pasca perang dunia Ninja ke tiga, dunia shinobi amburadul kacau balau. Tak peduli sekutu atau musuh, shinobi akan saling bunuh satu sama lain guna mengambil keuntungan dari lawannya.

Sebuah peristiwa terjadi di kubu clan Hyuuga, kala itu empat shinobi Kumogakure menculik Anak pertama Hyuuga Hiashi, Hyuuga Hinata. Byakugan adalah asset luar biasa, shinobi mana yang tak menginginkan kekkei genkai mata putih itu, wellKumogakure sengaja mengincarnya demi memperoleh kekuatan berlebih.

Namun hal itu tidak berlangsung lama, Hiashi sukses mendapatkan kembali puterinya. Berkat bantuan Tuan ke Tiga, ditemani Namikaze Minato dan si kecil Hatake Kakashi, misi pengejaran sukses besar. Shinobi Konoha tidak hanya mendapatkan kembali Hime Hyuuga, mereka juga menjarah senjata ninja milik Kumogakure. Iya, Krisis senjata pasca perang bukan sesuatu yang tabu, saling berebut kunai satu salam lain adalah sesuatu yang wajar.

Anbu Konoha yang bertugas sebagai mata-mata melaporkan berita buruk, diketahui bahwa salah satu dari empat shinobi yang tewas merupakan anak dari pemimpin Kumogakure. Masalah mulai terjadi, perselisihan dan perdebatan membuat hubungan Hyuuga dan Hokage ke tiga memburuk. Perintah bunuh di tempat adalah perintah langsung Tuan ke Tiga, Minato dan Kakashi sebagai eksekutornya kala itu. Rasa bersalah membelit hati Minato, ia yakin masalah ini akan bertambah besar jika tidak segera dilakukan perundingan.

Tuan ke Tiga, Minato calon Hokage ke empat dan Hyuuga Hiashi menggelar rapat tertutup. Di sana mereka membahas tentang sebuah ganti rugi atau barter. jika Kumo menyerang, tidak hanya shinobi yang akan menjadi korban, melainkan warga sipil. Sejak perang dunia ninja ke tiga, hampir setengah shinobi tewas sia-sia, Tuan ke Tiga tidak ingin kehilangan shinobi lainnya, ia harus memutar otak untuk sebuah solusi.

Muncul nama Hyuuga Hizashi, seorang bunke kembaran Hyuuga Hiashi. Ia rela mati demi nama baik clan. Sebagaimana tugas utama seorang bunke adalah melindungi majikannya, Hizashi merasa perlu melakukan sesuatu demi masa depan Hyuuga.

Bunke malang itu menyerahkan diri pada pemimpin Kumogakure, dia sengaja menjadi tumbal demi mencegah invasi terhadap Desa. Sebelum tewas, ia berpesan kepada Hiashi agar menjaga putera tunggalnya, Hyuuga Neji. Sangat ditakutkan jika suatu hari terjadi kesalahpahaman antara Hiashi dan Neji, ia ingin anaknya tahu—bahwa Ayahnya mati bukan karena dikorbankan, tapi sengaja berkorban demi kepentingan clan dan Desa Daun.

Empat di bayar satu, rasanya kurang adil, tapi perjanjian tetap berlaku. Setiap sepuluh tahun sekali diadakan pertemuan damai antara Konoha dan Kumo. Daimyo sebagai pejabat pemerintah berhak menengahi antar ke dua Desa. Tepat Hari ini Hyuuga Hiashi akan memperbaharui surat perjanjian itu, maka ia dan Ayah Tenten wajib berada di sana sebagai perwakilan Desa Daun.

"Perjanjian itu masih berlaku?" Hinata menutup rapat-rapat tubuhnya dengan selimut, "a-apakah Ayah menyuruh Hanabi-chan untuk menjemputku?"

"Tidak juga, aku kemari untuk memastikan Neechan baik-baik saja," senyumnya sumringah, "bukankah Neechan sedang dalam masa bimbingan, maka dari itu aku yang akan menggantikannya."

"Hanabi-chan sudah besar rupanya, kau akan menggantikanku dalam hal apapun," Hinata mengelus rambut cokelat Adiknya.

"Sebenarnya aku lupa membawa kunai, maka dari itu aku kembali ke rumah, lalu ku dengar ribut-ribut di dapur—mereka menyebut nama Kakak—"

"Di mana Ayah sekarang?"

"Ayah dan Paman akan menungguku di kantor Hokage, jadinya aku buru-buru," ia bangkit berdiri.

"Hati-hati Hanabi-chan," tatami berguncang karena ulah Hanabi yang berlarian diatasnya, "jagalah Otou-sama" terdengar samar Hanabi berkata, 'yosh!' "—dan Paman juga."

Mansion akan sepi tanpa kehadiran Hanabi di dalamnya. Siapa yang akan menghibur Hinata? Maksudnya saat ini hatinya sedang sedih luar biasa, ia butuh seseorang, ia butuh sandaran, dan ia butuh Adiknya. Jika Neji Niisan yang menjadi pembimbingnya, tentu tidak akan seperti ini. Mereka sesama Hyuuga, setidaknya akan saling mengerti satu sama lain. Tapi ini adalah Uchiha, clan paling egois di antara semua clan, siapa yang akan mengerti jalan pikiran seorang Uchiha.

"Oh iya! Aku lupa mengatakan sesuatu," Hanabi muncul kembali di depan machiya, tiga buah kunai menggantung dijemarinya, di ujung kunai itu terdapat tiga buah boneka kecil yang di pahat sempurna, pemberian Neji niisan saat ulang tahunnya yang ke lima belas, "Tenten-san mengundang Neecan dipestanya."

Hinata tersentak, "kau mengagetkanku Adik," area dadanya di elus berulang kali, "undangan pesta?"

"Yup, Tenten-san akan merayakan dua puluh lima tahun persahabatannya dengan Lee-san dan Neji Niisan, ia berharap Neechan hadir di sana."

"Aaa…souka."

"Tenten-san akan menjemput Neechan pukul tujuh malam, "Hanabi melambaikan lima jemarinya, "esok hari," tatami kembali berderak, semakin lama suara deraknya semakin jauh.

Hinatas menjatuhkan tubuhnya di atas futon, ia masih merasakan chakra sasuke-san mengalir di setiap titik chakranya. Pria itu mengalirkan chakra dua kali dalam kurun waktu setengah hari, dan Hinata hanya akan menghabiskannya dengan sia-sia.

Flashback

"Kau berhasil melakukannya."

"Ta-tapi tubuhku tenggelam ke dalam air."

"Karena kau kehabisan chakra."

"…," hanya terdengar isak tangis.

"Jumlah chakra yang sama pernah kuberikan pada salah satu temanku, Jugo," ada jeda, "dia menggunakan chakra itu selama satu minggu."

"…."

"Dan kau menghabiskannya dalam waktu setengah hari."

"Gomennasai…," suaranya parau.

"Sampai kapan kau ingin merahasiakan ini?" ada jeda, Sasuke menekan salah satu titik chakra di tangan Hinata lalu mengalirkan chakra di sana, "apa yang membuat chakra di tubuhmu habis terkuras?"

"Sasuke-san…."

"Apa yang kau sembunyikan, Hime?"

"A-aku tidak mengerti maksud Sasuke-san—"

"Ku beri dua pilihan," tatapannya intens pada iris amethyst, "ceritakan semuanya dan akan kutentukan apakah bimbingan ini berlanjut atau tidak, atau biar aku mencari tahu sendiri dan bimbingan ini tidak akan pernah ada."

1 menit.

2 menit.

"Sasuke-san tidak akan mengerti—"

"Aku tidak perlu mengerti, aku tidak akan peduli, tapi aku perlu tahu masalahmu, kerena kapasitasku adalah sebagai shinobi yang dibayar Ayahmu untuk bimbingan ini."

"Sasuke-san akan memberitahukan ini kepada Otou-sama."

"tergantung dari masalahnya," ia memakai kembali pakaiannya.

1 menit.

2 menit.

"Baiklah, akan ku antar kau pulang, lalu kita bicarakan ini di depan Hyuuga-san."

"Aku sekarat Sasuke-san…."

"…."

"Chakraku, menutupi luka di paru-paru ku."


Istri Hyuuga Hiashi bernama Haruka-san, wanita berambut panjang dengan postur sedang itu adalah puteri sulung dari seorang Daimyo dari desa non-ninja. Berawal dari sebuah misi pengawalan, Hiashi muda jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia tak menyangka bahwa anak dari Daimyo yang dikawalnya kelak akan menjadi Ibu dari ke dua puterinya.

Pernikahan berlangsung meriah, kala itu Sarutobi-sama baru saja menjabat sebagai Tuan ke Tiga. Beliau banyak memberi hadiah pada murid pribadinya itu. Menikah di usia tiga puluh tahun, termasuk usia yang sangat tua untuk seorang shinobi. Biasanya, shinobi akan dinikahkan pada usia kepala dua atau paling cepat usia sembilan belas tahun. Sistem ini memiliki suatu tujuan, agar kelak si Ayah tidak terlalu tua untuk mendidik keturunannya. Namun hal itu tidak menjadi masalah, meskipun usia mereka terlampau jauh, Sarutobi-sama mendukung secara positif pernikahan beda profesi itu.

Haruka adalah Nona besar, sementara Hiashi adalah Ketua clan yang kolot dan disiplin. Banyak yang meragukan pernikahan mereka, namun seiring berjalannya waktu, pasangan itu mampu membina rumah tangga dengan baik. Hiashi terkadang meninggalkan sang istri untuk misi jangka panjang, terkadang pula ia sengaja berlama-lama di rumah hanya untuk sekedar menemani Haruka. Dua tahun setelah menikah, mereka dikaruniai seorang puteri cantik, Hyuuga Hinata namanya.

Keluarga besar Hyuuga menyambut bahagia Hime kecil. Wajah Hinata sangat mirip dengan Ibunya, sama sekali tak ada tanda-tanda Hiashi di sana, sehingga para bunke menjulukinya Haruka ke dua.

Tiga tahun setelah kelahiran Hime Hyuuga, Haruka mengandung puteri keduanya. Hiashi sangat gembira mengetahui hal itu, ia segera mengunjungi Tuan ke Tiga untuk meminta request nama. Jika Anaknya laki-laki maka akan di beri nama Sasuke, seperti nama mendiang Ayah Sarutobi-sama, tapi jika dia adalah perempuan, maka nama yang cocok adalah Hanabi, seperti nama Ibu Sarutobi-sama.

Tapi ada sesuatu yang salah, semenjak memasuki usia kandungan ke delapan, kesehatan Haruka menurun drastis. Berat badannya merosot, sulit bernafas, kulitnya yang pucat semakin pucat, dan wanita itu mendapat gangguan tidur setiap malam. Iryo-nin terbaik pun dikerahkan, Haruka-san adalah Nyonya besar Hyuuga, sudah sepantasnya di beri perawatan elite super high class.

Hashirama Tsunade adalah iryo-nin yang sengaja dipanggil pulang dari perantauannya, ia datang jauh-jauh hanya untuk sekedar memeriksa keadaan Haruka-san. Tsunade mencurahkan seluruh kemampuannya—ditemani partner setia Shizune-san, akhirnya sebuah kenyataan pahit harus diterima, ternyata Haruka-san menderita kelainan paru-paru.

Adalah sebuah penyakit keturunan, terdapat luka di paru-paru Haruka. Itu adalah luka permanen, jika disembuhkan akan timbul di bagian lainnya. Ini seperti kelainan genetik, misalnya ketika seorang anak didapati memiliki jari tangan berjumlah enam, atau memiliki ekor di bokongnya, atau jempol yang terlampau besar—sama halnya dengan Haruka-san, ia memiliki paru-paru yang selalu luka di sana.

Penyakit Haruka-san tidak akan pernah sembuh, itu kenyataan pahit lainnya yang harus diterima Hiashi. Salah satu cara agar wanita itu bisa selamat adalah dengan transfer chakra. Haruka bukan seorang shinobi, ia tidak bisa menciptakan titik chakra ditubuhnya. Seseorang harus rela menjadi penyokong agar si malang mampu bertahan—well, setidaknya sampai anak keduanya lahir.

Tsunade-san harus tinggal berlama-lama di Desa Konoha, iryo-nin yang dikenal sebagai pemilik chakra terbanyak itu siap melakukan apapun demi istri Hiashi-san. Di beberapa waktu, Tsunade bahkan harus menginap guna mengamati perkembangan Haruka dan janinnya.

Alhasil, wanita itu mampu bertahan. Chakra Tsunade mampu memperpanjang usianya, setidaknya sampai Hanabi lahir. Hiashi merasa bersalah, kapasitasnya sebagai suami tidak dibutuhkan di sana, ia tidak mampu memberi chakra sebanyak itu, dan ia juga bukan seorang iryo-nin.

Tidak sembarang shinobi yang dipilih sebagai penyokong, dia harus memiliki jumlah chakra di atas rata-rata. Dalam artian, ketika shinobi tersebut bertarung, ia mampu melakukan empat sampai lima kali pertarungan besar dalam sehari. Atau seorang shinobi yang memang sengaja menyimpan cadangan chakra ditubuhnya, seperti sistem chakra Tsunade. Jika Hiashi nekad memberi chakra pada Haruka—percaya saja, pria itu akan mati kering dalam tiga hari ke depan.

Hanabi lahir dengan selamat, tapi persalinan yang memakan waktu tiga hari tiga malam itu tak mampu membawa Haruka kembali. Wanita itu berjuang keras, ia pantang meninggal sebelum tubuhnya terpisah dari bayinya. Pendarahan hebat terjadi, Tsunade-san dan Shizune-san melakukan cara yang paling baik dan paling jitu. Namun takdir berkata lain—Haruka mengalami kejang sekaligus kesulitan bernafas, paru-parunya tersumbat dan meledak di dalam tubuhnya. Chakra Tsunade tidak mampu lagi menahannya, hal ini diakibatkan oleh tubuh si penderita yang terlalu lemah untuk berkuat hingga menghambat pernafasannya.

Tsunade-san meminta maaf atas ketidakmampuan dan keterbatasannya, ia bukanlah seorang Dewa, hanya utusan dari Hokage ke tiga untuk sekedar membantu. Saking merasa bersalahnya, Tsunade dan Shizune meninggalkan Konoha, ia sama sekali tidak menuntut bayaran atas bantuannya selama ini, sejujurnya wanita berambut pirang itu kecewa atas kinerjanya sendiri.

Ketika duka itu terjadi, usia Hinata genap tiga tahun, masih terlalu bocah untuk mengetahui apa yang terjadi pada Ibunya. Hiashi lama menyendiri, ke dua puterinya di asuh oleh para bunke. Pria yang terluka hatinya, pria yang kehilangan wanita yang dicintainya, pria yang kehilangan Ibu dari ke dua puterinya, pria yang sengaja mengambil cuti panjang untuk merenungkan kesalahannya. Kesalahan seperti apakah itu? hingga Kami–sama menghukumnya seberat ini.

Lama berselang, Hinata dan Hanabi tumbuh dengan baik. Hinata adalah gadis kecil yang kalem, sementara Hanabi adalah gadis kecil yang aktif. Keduanya selalu menanyakan keberadaan sang Ibu, Hiashi hanya menjawab sekenanya, otak anak kecil masih gampang dibohongi.

Hingga di usia Hinata yang ke delapan dan Hanabi yang ke lima, di hari pertama mengenal teori ninjutsu, Hiashi berterus-terang bahwa Ibu mereka telah meninggal akibat kelainan di paru-paru. Ia berharap berita itu akan memacu semangat ke dua puterinya agar menjadi gadis-gadis yang kuat.

Neji Niisan sang sepupu, genin berusia dua belas tahun di daulat untuk melatih kedua Adiknya. Tapi Hanabi tak berlangsung lama, karena gadis kecil itu lebih memilih berlatih sendiri dengan mengandalkan buku panduan ninjutsu. Hanabi adalah shinobi tanpa sensei, ia melatih kemampuan dirinya seorang diri. Terbukti hasilnya sekarang, walau tanpa bimbingan, kekuatan byakugan miliknya mampu menyetarai byakugan milik Neji.

Masalah justru datang dari Hinata, si gadis menunjukkan tanda–tanda penurunan. Suatu hari usai berlatih, Neji mendapati sepupunya sedang batuk-batuk. Ia terkejut bukan main kala melihat darah segar memenuhi telapak tangan Hinata. Awalnya Neji berpikir ini akibat serangan pasca berlatih, tapi pada kenyataannya, darah itu berasal dari paru-paru sang Adik.

Neji merangkul Hinata, memeluknya seraya menangis, ia teringat akan kematian Bibinya beberapa tahun lalu. Hinata bercerita panjang lebar mengenai awal mula kejadian batuk darah itu. Setahun yang lalu di musim dingin, ia mengalami kejang dan demam, dipikirnya ini adalah pengaruh cuaca. Beberapa hari kemudian, ia malah sulit tidur dan sesak nafas. Gejalanya tidak muncul secara terus menerus, tapi sesekali saja. Hinata tak terlalu memikirkan hal itu, hingga ia mendengar cerita dari Ayahnya—tentang bagaimana Ibunya meregang nyawa akibat kelainan di paru-paru.

Dalam keadaan apapun, dia melarang Neji Niisan untuk menceritakan hal ini pada Ayahnya. Setidaknya Ayah punya Hanabi, Hinata hanyalah penghambat. Jika Di ukur dari segi kemampuan, Hanabi jauh lebih unggul. Hanabi pun tidak menunjukkan gejala penyakit yang sama, justru gadis itu sehat sempurna berkekuatan luar biasa.

Clan Hyuuga adalah kumpulan shinobi yang sangat ahli dalam manipulasi titik chakra. Mereka mampu memindahkan titik chakra, menyumbat titik chakra atau membuat titik chakra baru. Neji Niisan menyarankan Hinata menggunakan teknik itu, membuat sebuah titik chakra di sekitar paru-parunya agar aliran chakra otomatis mengalir ke sana.

Oke, mungkin chakramu akan habis terkuras, tapi setidaknya itu akan memperpanjang usiamu. Suplay chakra akan menghambat sistem kerja penyakitnya, hal ini sama persis dengan metode Tsunade–sama. Bedanya, Hinata akan melakukan transfer chakra tunggal pada paru-parunya.

Teknik ini tidak akan membuatmu menjadi shinobi yang kuat, itu peringatan dari Neji Niisan. Chakra yang kau hasilkan akan habis percuma di serap oleh penyakit itu, anggaplah dari seratus persen chakra yang kau ciptakan, delapan puluh persen akan mengalir ke paru-parumu, dan dua puluh persen adalah peluangmu untuk bertarung sebagai shinobi.

Hingga Hyuuga Neji meninggalkan dunia dua tahun yang lalu, rahasia itu tidak pernah terbongkar—dan Hiashi sama sekali tak tahu-menahu soal puterinya yang sekarat.

"Jumlah chakra seperti genin, huh?" tatapan Sasuke intens, entah dia punya hati atau hatinya sudah mati, pria itu sama sekali tidak terharu mendengar cerita pilu Hinata.

"…."

"Pulanglah," ia melenggang pergi meninggalkan Hime Hyuuga yang sedang menangis tersedu-sedu. Rasa penasaran itu telah hilang, kini ia tahu masalah Hinata, dan ia sama sekali tidak punya urusan dengan itu.

End Flashback


Dia tidak tidur semalaman, pikirannya terfokus pada kejadian kemarin siang.

Apa yang akan dilakukan Sasuke?

Apakah pria itu akan memberitahu Hiashi soal penyakitnya?

Apa reaksi Ayah ketika mengetahui penyakit ini?

Hinata bukan Anak yang pintar, tapi setidaknya ia tak ingin mengecawakan Ayahnya. Menjadi seorang Hairees bukan keinginan Hinata, tapi Hiashi yang memaksanya. Di bimbing oleh Sasuke bukan pula keinginan Hinata, Hiashi yang memaksanya di bimbing oleh Uchiha itu. Kini rahasia telah terbongkar, sebuah persoalan penting yang ia tutupi selama enam belas tahun sukses diketahui orang lain.

Uchiha Sasuke tidak berkomentar apapun, ia hanya menyuruhnya pulang sementara ia sendiri melenggang pergi. Tak terlihat ekspresi sedih diwajahnya, hanya tampang datar bermata intens seolah masalah ini sama sekali bukan urusannya. Seperti katanya, ia hanya shinobi yang di bayar untuk bimbingan ini, bukan untuk mencampuri masalah pribadi orang lain.

Pergi atau tidak, hatinya ragu menuju hutan utara. Selain karena trauma atas peristiwa kemarin, ia juga takut berhadapan dengan Uchiha Sasuke. Takut akan keputusan Sasuke, pria itu akan mengadu pada Hiashi, lalu bimbingannya akan gagal, lalu Hiashi dan Hanabi akan kembali ke masa lalu, pada masa-masa duka kala Ibunya tewas akibat penyakit yang sama.

Ayah, Adik, dan Hinata, keluarga kecil itu telah kehilangan tiga orang penting, Haruka, Hizashi dan Neji. Mereka telah melalui tiga duka besar, Hinata tak ingin menambah duka lagi. Hanabi mampu diandalkan, buktinya si gadis tengah menghadiri perjanjian damai. Dari segi jutsu, Hanabi adalah Hyuuga terbaik setelah Neji. Lalu di mana masalahnya? Setidaknya jika Hinata meninggal, Ayah masih punya Hanabi disisinya.

Kata orang, meninggal secara tiba-tiba akan jauh lebih baik dari pada meninggal karena menderita sakit. Maksudnya, ketika tubuhmu mati seketika, kesedihan keluarga akan berlangsung singkat, mereka akan melupakanmu seiring berjalannya waktu. Sementara jika kau meninggal karena sakit parah, keluarga akan lama memikirkanmu, merawatmu, menderita hati, bersedih hati, dan tentu dukanya akan berlangsung lama.

Oh Kami, Hinata harus pilih yang mana? Membiarkan Sasuke mengadu pada Hiashi atau berkompromi agar pria itu menutup rapat-rapat mulutnya.

Tak membiarkan hatinya penasaran, Hinata memilih untuk menghadiri bimbingan hari ke dua. Kali ini dia datang tepat waktu, pukul tujuh pagi. Si gadis mengenakan yukata bercorak, kainnya jauh lebih tipis dan lebih ringan. Rambutnya masih di kuncir seperti kemarin, hanya saja iris amethyst itu agak bengkak, tangisnya semalam cukup lama berkepanjangan.

Uchiha Sasuke telah berada di sana lebih dulu, hutan utara adalah rumah keduanya setelah mansion Uchiha. Jauh-jauh hari sebelum memberi bimbingan, ia cukup sering mengunjungi tempat penuh kenangan itu. Hutan utara adalah sebuah tempat pribadi baginya, Naruto yang sering mengekor pun tidak mengetahui jika sahabatnya punya area sebagus ini. Demi Dewa jangan ajak si blonde, karena sudah pasti Shikamaru akan datang juga, Sai, Sakura, bahkan Kakashi-sensei sekalipun.

Tangan kanannya memegang pedang, ia sibuk memperagakan beberapa gerakan. Bukan sebuah gerakan ninjutsu, melainkan gerakan aneh yang tidak biasa. Sasuke mengenakan pakaian yang tidak biasa pula, sudah jelas itu bukan seragam shinobi.

Atasan berwarna grey dengan hakama berwarna hitam pekat, dada bidangnya putih bening nampak sempurna dengan warna grey di sana. Rambut hitam ia kuncir rapi, sukses memamerkan rinnegan di sebelah kiri dihiasi alis tebal. Dahi Sasuke tidak lebar dan dan tidak sempit, sangat serasi dengan bentuk wajah dan rahangnya yang kokoh. Kau tidak akan menemukan satu noda pun di wajah itu, tampan sempurna dengan dua warna mata yag berbeda.

Hinata berdiri di sana, memandang pria yang sedang sibuk dengan pedangnya, "o-ohayou," suaranya serak.

Entah itu senyum sindiran atau apa, Hinata merasa senyum Sasuke mengandung banyak makna, "ku pikir kau tidak akan datang."

1 menit.

2 menit.

"A-aku ingin meninggal secara tiba-tiba," dari nada kalimatnya, kentara betul si gadis gugup.

"Sasuke menghentikan gerakannya, "maksudnya?" Seraya alisnya bertautan.

"Sasuke-san ti-tidak boleh mengadukan hal ini kepada Ayah," ada jeda, "a-aku sendiri yang akan mengatasinya."

"…." Sasuke makin bingung.

"Me-mengenai penyakitku, bi-biarkan aku mengatasinya—"

"Penyakitmu bukan urusanku," Sasuke tertawa di selah kalimatnya, "aku hanya bertugas untuk melakukan bimbingan dan pelatihan," ia menyeka butir-butir keringat didahinya, "aku tidak sedang menunggumu, hutan ini adalah tempatku berlatih, kau tidak datang pun tak masalah bagiku."

"Ta-tapi—"

"Tapi apa, huh?" Tatapannya intens seperti kemarin, "kau ingin aku segera menemui Hiashi-san, mengatakan bahwa Anaknya sedang sakit dan tidak cocok menjadi Hairees."

"Ja-jangan—"

"Maka diamlah," pedang itu di lempar ke sembarang arah, "bukan kapasitasku mencampuri urusan pribadi mu."

"Sasuke-san…."

"Apa lagi?"

"Ba-bagaimana dengan bimbingannya?"

"Apakah kau mampu melakukan ninjutsu mode tanpa chakra?" Sasuke balik bertanya.

"…," si gadis bergeleng kecewa.

Jemari Sasuke mengisyaratkan agar Hinata duduk disebelahnya, "pilih mana, ku beri transfer chakra tapi hanya untuk bimbingan ini, atau kau ingin mengakhiri bimbingan ini dan berkata jujur pada Ayahmu."

"A-aku ingin meninggal tiba-tiba."

"Ck, kalimat itu lagi."

"Sasuke-san, bisakah aku meminta sesuatu?"

"Hn," kalimat ambigu.

"berpura-pura lah seolah bimbingan ini tetap berlangsung, sambil kupikirkan cara untuk berterus-terang pada Ayahku," ada jeda, disekanya air mata yang mulai berjatuhan, "a-aku hanya butuh waktu untuk sebuah alasan yang baik," kini ia benar-benar terisak, dua mata sasuke yang menatap lurus ke depan sekarang malah terfokus pada Hime malang yang duduk disebelahnya, "Hanabi-chan Adikku, jauh lebih kuat—dia cocok untuk gelar Hairees." Hinata memeluk pinggangnya sendiri, "o-onegai…aku mohon padamu."

"Itu saja?"

"Hm, itu saja."

"Ku pikir kau akan berterus-terang soal paru paru itu."

"Ja-jangan," isak tangisnya semakin kencang, "Ayah tak boleh tahu soal ini, Ibu meninggal karena ini dan aku tidak ingin Ayah sedih soal ini—"

"Ini ini dan ini— " Sasuke kesal.

"Biarkan aku mati tiba-tiba tanpa Ayah mengetahui penyebabnya, aku hanya ingin Sauske-san pura-pura dan—"

"Iya, iya kau telah mengatakannya dua kali, hentikan suaramu karena kepalaku sangat pusing!"

Sial jenis apa ini, di kali pertama menjadi seorang sensei, Sasuke telah dipusingkan dengan masalah anak didiknya. Gadis dihadapannya sungguh merepotkan, dia terus bicara soal mati tiba-tiba, belum lagi suara tangisnya yang berisik, dan itu tepat di dekat telinganya.

"Jadi kau ingin seperti itu, huh?"

"I-iya…."

"Baiklah."

1 menit.

2 menit.

"Sasuke-san…."

"Hn," kalimat ambigu lagi.

"Bi-biarkan aku tetap di sini, aku tidak akan mengganggumu."

"Kau sungguh-sungguh ingin melepaskan posisi Hairees itu?"

"Iya, karena—"

"Kau menolak transfer chakra dariku dan lebih memilih merenungkan penyakitmu, huh?" Ketus kalimatnya.

"Iya…."

"Lalu untuk apa kau datang kemari."

"Se-seolah-olah kita sedang berlatih."

"Tapi kenyataannya tidak begitu."

"Bantulah aku, onegai…."

"…."

"Aku sangat menghargai bantuan Sasuke-san," ada jeda, "tapi chakra yang kubutuhkan jumlahnya sangat besar, aku tak ingin merepotkanmu—dan aku pun tidak ingin bergantung pada orang lain," ada jeda lagi, "seperti kata Sasuke-san, kapasitasmu hanya sebagai pembimbing, dan aku tidak berhak meminta lebih dari itu selain memohon padamu untuk berpura-pura."

"…," pria itu mengambil pedangnya lalu mengulang kembali gerakan sebelumnya.

"A-aku akan tetap datang ke sini, walau Sasuke-san sedang melaksanakan misi," ada jeda isak tangis, "karena hutan ini adalah tempat terbaik untuk merenung."

"Diamlah."

"Eh?"

"Jangan menangis."


Kendo adalah salah satu jenis belah diri Negara Api, selain ninjutsu tentunya. Sebelum manusia mengenal ninjutsu, kendo sangat diandalkan oleh para samurai. Jenis belah diri ini tidak mengandalkan chakra, melainkan sebuah media, misalnya pedang atau kayu.

Kepunahan era samurai turut menenggelamkan nama besar kendo, banyak dari mereka yang meninggal akibat perang dan sebagian lagi beralih berlatih ninjutsu. Tapi tidak bagi Uchiha Sasuke, kemarin ia menemukan sebuah buku di gudang, tertera nama Itachi di sampulnya. Isi buku itu menjabarkan bebebapa teknik bertahan dan menyerang, cukup bagus bagi mereka yang ingin melatih otot.

Hari ini tak ada misi untuk Sasuke, setelah kemarin libur, kini ia bebas bersantai di hutan utara. Gerakan dasar kendo yang ia pelajari setara dengan lari keliling lapangan lima puluh kali. Benar saja, dua jam pasca latihan, peluh membasahi tubuhnya seolah ia telah berolahraga selama empat jam.

Hime Hyuuga diam di tempatnya, iris amethyst tanpa pupil itu menatap kosong, dan sudah pasti pikirannya menerawang. Matanya sembab dan pipinya basah oleh air mata. Sasuke berulang kali berkata, 'jangan menangis', tapi Hime cantik itu tetap saja melakukannya.

"Kau yang di sana," masih setia melakukan gerakan dengan pedangnya.

"Eh, i-iya?" Tersentak dari khayalannya.

"Keahlianmu hanya menangis, huh."

"Anoo—"

"Itu bisa menyebabkan matamu berdarah."

"Benarkah, se-seperti a-amaterasu?"

"Iya, bisa jadi."

"Aku tidak ingin sepeti itu…."

"Maka dari itu berhentilah menjadi cengeng," ada jeda, "hidupku jauh lebih rumit darimu."

"Ayah dan Ibu Sasuke-san—"

"Mereka mati di tangan saudaraku."

Lalu terjadi perbincangan panjang tentang kepahitan clan Uchiha di masa dulu. Hinata mengangguk sesekali, ia mendengarkan dengan seksama betapa Sasuke kecil berlatih sekuat tenaga demi balas dendam kepada saudaranya dan bla...bla...bla….


"Bandingkan!"

"Kasihan Sasuke-san…," si gadis iba.

"Lalu,"

"Lalu," Hinata malah balik bertanya.

"Orang-orang disekitarmu tidak selamanya bahagia, terkadang hidupnya jauh lebih rumit tapi enggan untuk menangis," ia menyeka peluh didahinya lagi dan lagi, "jika mereka tertawa, bukan berarti hatinya senang, jika mereka bersedih, bukan berarti itu akan berlangsung selamanya, semua masalah pasti ada jalan keluarnya."

"…."

"Jadi, apa keahlianmu?"

"Ikebana, semacam teknik merangkai bunga."

1 menit.

2 menit.

"Itu saja?"

"Aku senang memasak," ingatannya menerawang, "Ayah sangat menyukai nabe buatanku, sementara Hanabi-chan lebih suka okonomiyaki, terkadang aku bingung harus memilih salah satu diantaranya," ia tersenyum di selah kalimatnya, "aku sangat menyayangi mereka—lebih dari apapun."

"Lalu."

"Aku membuat dua syal di musim salju, satu untuk Ayah dan satunya lagi untuk Hanabi," ada jeda, "mereka menyukainya dan memuji hasil karyaku."

"Hidupmu menyenangkan."

"Eh?"

"Kau dikelilingi orang-orang yang peduli, hidupmu menyenangkan," percakapannya tidak mempengaruhi konsentrasi pada pedangnya.

"Dulunya kami punya seorang Paman bernama Hizashi dan sepupu bernama Neji, tapi kini keduanya telah tiada."

"Jika takut mati jangan berprofesi sebagai shinobi, "ada jeda, "Paman dan kakakmu pasti merasa bangga telah berkorban demi Desa."

"Iya, Sasuke-san betul," Hinata tersenyum lagi.

Dan perbincangan tentang clan Hyuuga berlangsung panjang, dua manusia di sana membahas kisah hidup souke dan bunke. Ini adalah Sasuke yang tidak biasa, jika biasanya ia lebih diam, kini ia banyak bertanya dan berkomentar. Sungguh Sasuke sedang menghibur Hime yang malang, si gadis butuh teman cerita dan Sasuke siap mendengarkan. Anggaplah ini sebagai materi lain dari bimbingan karena Ayah Hinata terlanjur melunasi honornya.


Hinata melangkah ke sana ke mari seraya menikmati pemandangan hijau hutan utara, tak perlu jauh-jauh, cukup di sekitar air terjun saja. Pria di sana, yang sedang sibuk dengan sebuah buku panduan nampak fokus pada gerakan dasar tahap selanjutnya. Bunga, kelinci, kupu-kupu liar, dan batu dihiasi lumut mencuri perhatian Hime. Ingin sekali ia menyentuhnya tapi Sasuke melarang keras dengan alasan benda-beda itu beracun.

Setsubun no hi terjadi pada tanggal dua puluh Maret, saat itu adalah puncak dari musim semi, masih terlalu dini mengingat ini masih tanggal sepuluh. Tapi kenyataannya sekarang, matahari telah malu-malu, awan tebal sedari tadi setia menghiasi langit. Padahal musim hujan di mulai pertengahan Juni, tapi aura tsuyu gencar terasa. Mendung di siang hari, udara hangat musim semi tergantikan oleh sejuknya angin sepoi-sepoi. Dedaunan saling bergesek satu sama lain menimbulkan bunyi berisik, burung pipit kembali kesarangnya, kelinci-kelinci bersembunyi di balik bebatuan, ini merupakan tanda hujan akan turun.

Mata sembab itu menerawang ke langit, sejak kapan tsuyu berlangsung di pertengahan Maret. Diliriknya Sasuke, pria itu tidak peduli dengan perubahan cuaca. Konsentrasinya tidak buyar kala angin sejuk menyentuh pori kulitnya. Dada bidangnya di ekspos, entah kemana atasan berwarna grey itu, ia merasa terlalu gerah hingga harus bertelanjang dada. Peluh menghujani seluruh tubuhnya, tubuh itu memamerkan luka-luka, luka itu sebagai bukti betapa ia adalah shinobi tangguh. Mata Hinata tidak lepas dari sana, tubuh yang bagus dimiliki pria yang bagus pula, tinggi badan sempurna si pemilik mata terkuat, dia sempurna sebagai shinobi. Sasuke bahkan lebih tinggi dari Neji Niisan, dari segi perawakan, Sasuke pun lebih unggul. Salah satu lengannya memang hilang, tapi itu tidak mempengaruhi kesempurnaan seorang Uchiha tunggal.

"Apa yang kau lihat," Sasuke berjalan kearahnya, ia agak bingung melihat sorot mata Hime yang meneliti dirinya.

"A-anoo—"

"Tidak akan turun hujan," ia memungut pakaiannya yang tergeletak di atas batu.

Semburat merah menghiasi freckle faced, Sasuke membaca pikirannya lagi, "gomenne," Hinata malu-malu.

Butiran peluh diwajahnya ia seka dengan pakaian warna grey, "wajar," ekspresi Hinata memancing senyumnya.

Wajar?

Iya, wajar. Untuk percakapan kali ini, kata itu mengandung banyak makna. Wajar jika turun hujan di pertengahan musim semi, wajar jika cuaca mendung, wajar jika Sasuke berlatih kendo, atau wajar jika Hinata terpesona akan tubuh indah seorang Sasuke. Entah wajar seperti apa yang ia maksud, hanya sebuah kata wajar dan itu sukses membuat suasana kikuk di sana, maksudnya kikuk bagi Hime. Kata wajar itu spontan membuat Hinata membelakangi Sasuke, seolah ia enggan menatap wajah tampan itu. Wajar jika Hinata merasa malu, Sasuke adalah seorang pria, sedangkan ia adalah seorang gadis. Laki–laki dan perempuan bertemu di tempat sunyi dan hanya bicara berdua, dan si gadis malah terpesona dengan tubuh atletis si pria, benar-benar sangat wajar.

"Kau kenapa?"

Entah Sasuke sengaja melakukannya atau tidak, intinya pria itu paham betul isi kepala Hinata dan ia malah bertanya, 'kau kanapa?'

"Gomenne," Hinata masih setia dengan malu-malunya.

"Hn," ambigu.

"Eh?"

Awan gelap berkumpul di atas ubun-ubun, dedaunan kering hanyut terbawa arus sungai, arusnya semakin cepat dibanding kemarin. Benar kata Hinata, di tahun ini tsuyu datang lebih awal. Sharingan dan rinnegan mendeteksi aura chakra, aura ini bukan milik sembarang orang. Dia kuat, tangguh dan sudah jelas pula ia mendeteksi aura chakra Sasuke.

"Apakah terjadi sesuatu?" Hinata bertanya kala menyadari sharingan aktif di sana.

"Seseorang sedang menuju kemari," kata Sasuke.

"Siapa?"

"Aku akan menemuinya, kau tetap di sini," Sasuke bergegas melompat ke dahan pohon dan melesat ke dahan pohon lainnya.

Hutan utara adalah akses bagi anbu nee, mereka adalah shinobi rahasia yang bertugas sebagai mata-mata. Jika shinobi lainnya melaksanakan misi pengintaian dan penyerangan, maka anbu nee hanya bertugas sebagai mata-mata saja. Bukan berarti mereka tidak dibekali ninjutsu, hanya saja, lingkup tugas seorang anbu hanya sebatas mengamati dan melaporkan. Di saat-saat genting mereka wajib menyerang, tergantung perintah dari sang Ketua. Tak jarang mereka berlaku sebagai pembunuh, seorang anbu harus pandai mengambil keputusan, melawan atau melapor.

Berjalan di sana Anko-sensei ditemani Sai, mereka baru saja kembali dari misi mata-mata. Well, Sai sebenarnya berada di tim tujuh yang diketuai Yamato. Hanya saja, belakangan ia rindu akan tugas-tugas sebagai anbu. Ketika Anko hendak melaksanakan misi, ia memaksa ikut. Kakashi menyetujuinya, dimanapun Sai berada, baik di tim tujuh atau di squad anbu, tidak menjadi soal selama ia mampu melaksanakan tugasnya dengan baik.

Organisasi tersebut beroperasi tanpa Ketua, sudah jelas anbu nee membutuhkan orang seperti Sai. Tiga tahun pasca danzo-sama meregang nyawa, anbu nee jatuh dibawah perintah Hokage. Hatake Kakashi tergolong baru, ia tidak mampu mengurusi semua organisasi di Konoha, maka peran Sai sangat dibutuhkan di squad tersebut.

"Aaa—Sasuke-san," Sai menyapa lebih dulu.

"Sedang apa kau di sini?" Tatapan Anko curiga.

"Berlatih, sensei," Sasuke melenggang ke arah dua rekannya.

Tiga shinobi itu terlibat dalam sebuah pembicaraan. Dari pembahasannya, Sai nampak serius menjelaskan sesuatu, sementara Sasuke mengangguk serius pula. Anko terkadang memotong pembicaraan dengan candaan atau kalimat makian, dan itu sukses membuat dua pria tampan itu tersenyum.

"Baiklah, kami harus segera melaporkan situasi ini pada Tuan ke Enam."

"Bagaimana dengan Karin?" Sasuke bertanya.

"Seperti kataku, Karin-chan harus tetap memantau situasi," ada jeda, "ia bersama dengan nakama yang lainnya, aku tak merasa khawatir mengingat jumlah chakra yang dimilikinya, ia adalah shinobi yang tangguh," Anko memuji.

"Souka," Sasuke mengangguk.

"Baiklah Sasuke-san…kami benar-benar harus menemui Hokage sekarang," Sai tersenyum seraya melenggang pergi, diikuti Anko yang melambaikan jari-jemarinya.


Sebuah apel merah digenggamnya, ia melangkah santai menuju taman hutan. Apel itu akan diberikan kepada Hinata, semoga bisa menghibur si malang yang sedang sedih hatinya.

Langit semakin mendung, awan tebal mulai berkumpul di atas ubun–ubun. Suara samar gemuruh mulai terdengar, ini masih pukul satu siang tapi suasana di sekitar seolah menggambarkan petang hari.

Langkah Sasuke terhenti, sharingan dan rinnegan menangkap sesuatu yang tidak biasa. Taman hutan sepi, tak seorang pun berada di sana. Perlahan namun pasti, Sasuke mengatur langkah agar pijakannya tak menimbulkan suara kala menginjak dedaunan kering.

Baju warna grey yang ia lempar sembarangan kini tergantung di dahan pohon, Yukata hitam bercorak terlipat rapi di atas batu, disebelahnya nampak sebuah obi warna emas disertai pengikatnya. Pemandangan lain justru menarik perhatian, sepasang underwear warna hitam di sebelah obi sungguh menggugah selera. Maksudnya, Sasuke adalah pria normal, dan ia dihadapkan pada sebuah keadaan yang mengharuskannya melihat semua ini.

Berusaha keras ia mengalihkan pandangannya, tapi tetap saja urat matanya mengarah pada benda itu. Ia mengusap hidungnya berulang kali, menggaruk pipinya yang tidak gatal, berharap sharingan dan rinnegan teralihkan, tapi gagal. Laki-laki dewasa memiliki indera yang sangat sensitif terhadap pakaian dalam wanita, hanya dengan melihatnya saja, seorang pria mampu menebak ukuran payudara pemiliknya.

Aroma parfum tercium samar dari pakaian Hinata, Oh Kami, ini sungguh bau seorang gadis. Angin sepoi-sepoi tak berpihak pada Sasuke, semakin kencang menerpa wajahnya, maka semakin kencang pula aromanya tercium. Ini adalah tindakan yang sangat sembrono, ketika kau sengaja menanggalkan seluruh pakaianmu lalu menceburkan diri ke dalam sungai sementara seorang pria asyik memandang pakaian dalammu.

Gelegar guntur memaksa si gadis naik ke tepian, segar rasanya menikmati air murni tanpa harus tenggelam seperti kemarin. Diliriknya kiri dan kanan, tak seorang pun di sana. Hinata memberanikan diri melangkahkan kakinya, tubuh itu basah kuyup tanpa benang sehelai pun, diliriknya kembali kiri dan kanan, ia bersyukur Sasuke belum kembali.

Sasuke POV

Dia naik ke tepian, rambut dan kulitnya basah kuyup. Tubuhnya kecil untuk ukuran gadis seusianya, ku jamin tinggi kepalanya berada di bawah pundakku. Matanya yang bulat nampak curiga kiri dan kanan, berulang kali ia melirik, takut jika aku memergokinya tiba-tiba. Tubuhnya pendek tapi kakinya jenjang, walau pendek tapi serasi dengan pinggangnya yang ramping. Perutnya rata nan seksi, paha mulus tak kalah seksi, pinggulnya jauh lebih seksi, Hyuuga Hinata benar-benar sempurna.

Aku candu pada tubuh itu, wajar jika pria normal memiliki hasrat pada wanita sebagus ini. Dua bongkahan bergoyang mengiringi gerak tubuhnya, sungguh indah dipandang mata. Putih, bersih tanpa noda berwarna merah kecoklatan, apakah semua Hime memiliki payudara sebagus ini?

Ku jamin ukurannya sesuai kepalan tanganku, besar dan tidak kecil. Mataku mengarah ke bawah perut di pertengahan pangkal paha, rambut halus di sana tercukur rapi nan bersih, tidak mungkin aku menyibaknya mengingat kapasitasku hanyalah sebagai pembimbing.

Aku kesal karena otakku normal, aku kesal mengutuk diriku sendiri, aku kesal karena hanya bisa melihatnya dari kejauhan, tapi di lain sisi aku lega karena kedewasaanku mampu mengontrol birahiku.

Wajahnya cantik tapi kekanak-kanakan, lugu dan polos, Hime—mana bisa aku menyentuhmu, huh. Ia sedang merapikan pakaiannya ketika aku muncul, rintik air berjatuhan melalui rambutnya yang basah, 'sial, kendalikan dirimu,' batinku. Ku sadari tubuhku merespon, nafasku berpacu, dadaku terasa panas, bibirku kering, ku gigit berulang kali, rasa haus melanda, dan sesuatu di balik hakamaku mulai menegang.

Sasuke End POV

"Ah, Sasuke-kun," Hinata memegang tali pengikat obi, "gomenne, a-aku baru saja berenang," ia masih sibuk merapikan yukatanya, "ku pikir Sasuke-san akan lebih lama."

"…."

"Sasuke-kun?"

"Ambillah," Sasuke memberinya sebuah apel.

"Arigatou," diambilnya apel itu.

"Pulanglah."

"Eh?"

"Pulanglah, sebentar lagi turun hujan, air sungainya akan meluap."

"Aaa…souka, ku pikir—"

"Pulanglah," Sasuke mengulang kalimatnya.

"Lalu Sauske-san akan tetap di sini?"

"Aku juga akan pulang."

"Apakah terjadi sesuatu?" Hinata khawatir.

"Tidak."

"…."


Kata orang, awan mendung disertai angin tidak akan menghasilkan butiran hujan, mereka percaya akan hal itu berdasarkan pengalaman puluhan tahun. Temasuk Tenten dan Lee, alih-alih mengacuhkan awan gelap di langit, dua murid Guy-sensei itu malah sibuk mondar-mandir. Sebuah restoran sengaja di pesan khusus, mereka hendak mengadakan sebuah pesta. Di bantu oleh para nakama, Tenten dan Lee berdiskusi tentang dekorasi ruangan dan menu makanan. Ini adaah keputusan bersama, sepertinya mengadakan pesta akan jauh lebih baik dari pada merenung dalam duka.

Guy-sensei terbaring sakit, Neji meninggal dunia, bukan berita yang menyenangkan. Sudah cukup duka selama dua tahun, kini saatnya mengucap syukur atas kinerja tim Guy selama ini. Berpesta bukan berarti bersenang-senang, mereka hanya akan memperingati dua puluh lima tahun kebersamaan. Walau Neji telah tiada, namanya akan tetap di kenang sebagai shinobi yang paling dicintai.

Undangan telah di sebar, salah satu tamunya adalah Hyuuga Hinata, Sepupu Neji. Jika para nakama ikut membantu persiapan pesta, Hinata malah sibuk berlarian di depan mansionnya. Ia baru saja kembali dari hutan utara, buru-buru ia menempuh jarak lima ratus meter untuk menghindari hujan yang tidak akan pernah datang.

Hinata tidak akrab dengan tema-teman Neji. Walau begitu, ia mengenal beberapa orang, sebut saja Naruto, Lee, Tenten, Sakura, Ino, Shikamaru, dan Chouji. Khusus Kiba dan Shino, mereka pernah tergabung di tim delapan asuhan Kurenai-sensei, tapi sejak perang dunia Ninja ke empat berakhir, Shino dan Kiba lebih banyak melakukan misi berdua. Hinata adalah seorang Hime dan kurang pandai dalam ninjutsu, Hokage melarangnya terlibat dalam aktifitas shinobi dalam kurun waktu yang tidak ditentukan, keputusan ini sangat beralasan mengingat prestasinya hanya sebatas kunoichi rank C saja.

Senyumnya sumringah, sebuah apel digenggamnya, senandung terdengar samar. Jika kemarin ia pulang dalam keadaan basah kuyup disertai tangis, kini ia pulang dengan wajah ceria nan bahagia. Para bunke bertanya-tanya, apa yang menyebabkan Hime mengalami dua emosi berbeda dalam dua hari terakhir. Mereka memberi hormat seraya membungkukkan badan, Hinata membalasnya dengan salam. Seorang bunke menawarkan menu makan siang, namun ia tolak dengan alasan masih kenyang. Sebelum memasuki machiya, ia berpesan agar siang ini ia tak menerima tamu siapapun sampai Tenten-san datang menjemput.

Hinata melepas keseluruhan yang melekat ditubuhnya, ia menyambar handuk warna ungu dan melesat ke kamar mandi. Sebuah bak berisi air hangat telah siap di sana, tanpa basa-basi ia langsung menceburkan tubuhnya.

Hari ini sungguh pahit manis. Pahit, ketika Sasuke mengetahui rahasianya. Manis, karna ternyata Sasuke tak seram seperti dugaannya. Mereka justru saling bercengkrama, masa kelam clan Uchiha, sejarah clan Hyuuga, kehidupan masing-masing semasa kecil, dan bla…bla…bla…sejak kapan si mantan nuke sudi mengerti perasaan orang lain.

Seorang tampan seperti Sasuke bicara lama-lama dengan seorang yang terlupakan seperti Hinata, oh…sungguh sebuah anugerah. Sasuke adalah pria terpopuler di Konoha, dari segi level ninjutsu, level ketampanan, hingga kisah hidupnya yang dipenuhi kontroversi, ia adalah selebriti Desa. Sasuke yang popular itu rela menasihatinya, menanggapinya, mendengar keluh-kesahnya, dan Hinata yakin betul—tidak semua gadis seberuntung dirinya.

Anggapan tentang pria pendiam yang kejam hilang seketika, tergantikan oleh betapa tampannya pria pendiam itu, pria pendiam yang sudi bicara panjang lebar di depan seorang Hinata. Diciptakan oleh Dewa, Sasuke adalah shinobi sempurna dari segi fisik dan mental. Hanya dua hari bersama, dan Hinata telah berhasil mengingat momen-momen kecil bahkan gerakan-gerakan kecil yang diciptakan Uchiha terakhir itu.

Nee—pertanyaannya, Apakah Sasuke memiliki rasa yang sama seperti Hinata? Kagum dan terpesona, momen dan gerakan serta hal-hal lainnya, si gadis tersenyum seraya jemarinya memainkan butiran air, 'arigatou Sasuke-san.'


Mansion Uchiha terletak di barat Konoha, itu adalah area tinggal bagi para Tetua dan jonin rank A. Pemiliknya jarang berada di rumah, ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk melaksanakan misi. Sebagai jonin yang aktif, Sasuke sukar membagi waktu, terkadang ia harus kerja di saat istirahat, terkadang pula ia mencuri waktu tidur jika kepalanya terlampau pening.

Semenjak di tinggal tewas Uchiha Fugaku, mansion Uchiha tidak mengalami perubahan signifikan. Tuan ke Tiga sengaja mempertahankan keaslian rumah itu, ia percaya akan sebuah takdir, bahwa suatu hari clan Uchiha akan bangkit kembali dan menempati mansion mereka.

Takdir Uchiha adalah Konoha, pemilik mata sharingan akan berlalu-lalang di jalan Desa, bocah Uchiha akan mengikuti ujian di Akademi, remaja Uchiha akan di seleksi sebagai anbu, dan ketika dewasa mereka akan bergelar jonin rank A. Walau saat ini Uchiha hanya seorang diri, para Tetua optimis Sasuke akan memiliki keturunan.

Itu pemikiran Tetua, berbeda pula dengan pemikiran Sasuke, sesungguhnya ia tak peduli dengan keturunan. Cukup melaksanakan misi lalu kembali ke Desa melaksanakan misi lagi lalu kembali ke Desa, dan begitulah seterusnya. Suara berisik bayi, suara bocah, atau genin atau apapun yang menyerupai bocah, itu semua masih terlalu jauh dari pikirannya.

Kembali ke pembahasan mansion Uchiha, rumah besar itu memiliki sepuluh orang pelayan, setiap pelayan memiliki tugasnya masing-masing. Seorang yang lebih tua selalu setia di depan gerbang, ia adalah tukang kebun tanpa nama, atau ia memiliki nama tapi sang majikan enggan mengingatnya. Si paman adalah pria tunggal, sembilan lainnya adalah wanita. Empat orang bertugas di machiya dan lima lainnya bertugas di dapur.

Menyadari majikannya pulang lebih awal, para pelayan menghindar ke dapur. Mansion Uchiha dalah mansion tersunyi, percakapan di larang keras di sana. Jika ingin membahas sesuatu, para pelayan akan menyingkir ke ujung dapur, Tuan Uchiha kurang nyaman dengan keramaian.

Machiya Sasuke megah nan mewah, semua kebutuhan manusia tertata lengkap di dalam machiya itu. Ia menggeser shoji, melempar pedangya, melepaskan atasan grey dan hakama, menyambar handuk, lalu melesat ke kamar mandi. Dadanya terasa panas, kepalanya pening, dan rasa haus masih terus melanda. Pemadangan yang disuguhkan Hyuuga Hinata masih teringat jelas, tubuh itu indah sempurna bagai Dewi atau Bidadari—atau bahkan melebihi keduanya. Si gadis memiliki asset yang sangat bagus, sungguh beruntung lelaki yang menyentuhnya. Terbayang bagaimana dia menggerayanginya, menindihnya, melumat bibirnya, membuat tubuh mereka bersatu diiringi aksi-aksi erotis—oh Dewa…Sasuke tak mampu menahan birahi.

Shower air panas membasahi tubuh atletis itu, ia menyisir rambutnya dengan jemarinya, lalu membasuh wajahnya berulang kali. Respon tubuh Sasuke tak kunjung reda, dan respon itu tak akan pernah reda selama otaknya masih terus mengkhayalkan tubuh Hinata. Matanya fokus ke area bawah, sesekali ia menyentuh kejantanannya, membuat gerakan di sana, 'sial!' itu akan tetap menegang selama nafsunya belum tersalurkan.

'Hinata, apa yang kau perbuat?'

'Apakah kau sengaja melakukannya, huh?'

'Apakah kau sengaja mengujiku, huh?'

Salah satu cara terbaik adalah dengan menyentuh dirinya sendiri, menciptakan kenikmatan sendiri guna menyalurkan hasrat tak terbendung ini. Tangannya mulai naik turun di bawah, wajahnya menengadah ke atas, kedua matanya terpejam menikmati sentuhan-sentuhan yang ia ciptakan sendiri. Kadang ia melenguh nikmat kadang pula ia mengerang, akan sempurna jika jemari Hinata yang melakukannya, gerakan tangannya akan sulit di prediksi—akan menciptakan sensasi geli luar biasa.

"Ugh, Hime," erangnya.

Seiring dengan kenikmatan yang melanda jiwa, tempo gerakan tangannya semakin lama semakin cepat. Sesuatu dari kejantanannya memaksa keluar, ia sengaja menahannya lebih lama untuk memperoleh kenikmatan berlebih, 'ugh sial!,' makinya, 'Hinata kemarilah, bantu aku," ia mulai meracau.

Terbayang jelas ketika Hinata duduk di atas futon, lirikannya memberi makna agar Sasuke mendekatinya. Sasuke menanggalkan seluruh pakaiannya lalu berkata, 'buat aku nyaman,' si gadis merespon malu-malu, 'Sasuke-san,' bisikan serak Hime seksi ditelinganya. Bayangkan jika itu adalah kenyataan, ia bersumpah akan memperagakan semua gaya bercinta.

"Ugh Hinata," Sasuke tak mampu menahan lagi, ia harus mengeluarkannya sekarang juga. Dahinya berkerut seperti sedang menahan sesuatu, erangannya terdengar samar nan panjang, ia bahkan hampir terjatuh, tapi satu lututnya sigap menopang tubuhnya. Tangan kanannya dilumuri cairannya sendiri, sebagian lagi menetes dipahanya. Dipandangnya cairan itu lekat-lekat, "bodoh, ini akibatnya jika kau tak mampu menjaga matamu."


Untuk pesta malam ini, Hinata mengenakan furisode warna merah. Wafuku itu nampak serasi ditubuhnya, warna merah berpadu dengan kulit pucat ditemani obi warna gelap, sungguh sempurna penampilan Hime Hyuuga. Tak kalah menarik lipstik merah pekat dan riasan sewajarnya, menunjukkan betapa ia adalah gadis muda yang menarik.

Hinata jarang merias wajahnya, di hari-hari biasa, ia lebih memilih polos seadanya. Tapi ini adalah Tenten-san dan Lee-san, dua sahabat karib Neji Niisan, ia akan berpenampilan sebaik mungkin untuk menghargai mereka.

Menghadiri acara dengan mengenakan wafuku merupakan penilaian tersendiri bagi pemilik acara. Furisode adalah jenis wafuku formal yang biasa dikenakan para gadis muda, lambang keluarga sengaja di ukir di sana sebagai identitas clan. Hinata adalah seorang Hime, furisode yang ia kenakan tidak di jual di sembarang toko. Semua koleksi bajunya dibuat khusus dengan biaya yang tidak murah, ini adalah ciri khas wanita Hyuuga sejak turun-temurun.

Karena ini hanya acara semi-formal, Hinata sengaja mengacuhkan kansazhi. Rambutnya hanya di kepang sederhana dengan ikat pita di bagian ujungnya. Diliriknya Tenten seraya meminta pendapat, si cepol mengacungkan dua jempolnya, ia percaya Hinata akan menjadi gadis tercantik di pesta itu.

Si cepol kini tak lagi mencepol, rambutnya dibiarkan terurai indah sepinggang. Make up minimalis disertai lipstik warna nude semakin menambah kesan manis diwajahnya, furisode yang ia kenakan berwarna hijau dihiasi kupu-kupu, well—para wanita bangsawan selalu paham mode berkelas.

Hinata dan Tenten tiba di restoran pukul setengah delapan, seorang pelayan memandu mereka memasuki ruangan kelas satu. Di sana nakama berkumpul bahagia, sontak pandangan tertuju pada gadis berambut kepang. Ini adalah wajah baru, maksudnya wajah itu baru terlihat setelah menghilang selama dua tahun.

"Yo! Hinata-chan," Kiba menyapa lebih dulu, nampak disebelahnya Shino tersenyum manis.

"Aa…Kiba-kun, Shino-kun," Hinata balik menyapa.

"Nee, Hinata-chan, duduklah disebelahku," Sakura dan Ino memberi jarak diantara mereka agar Hinata duduk di sana.

"Nah, bergabunglah bersama Sakura, aku harus menyiapkan sesuatu untuk pidato penyambutan." Tenten berkedip.

Hinata agak malu, ternyata acara ini hanya menunggu dirinya. Acara ini di buat untuk Neji, dan dia hadir sebagai perwakilan dari Neji, sudah pasti Tenten tidak akan memulai tanpa Hinata didalamnya. Maka dari itu, Lee sengaja menyuruh Tenten untuk menjemputnya, agar memastikan si gadis benar-benar hadir di sini. Setidaknya seorang Hyuuga harus menyaksikan sendiri, betapa nakama sangat mencintai Neji, mereka akan selalu mengenangnya sebagai sahabat setia.

Berbagai macam hidangan tersedia di atas meja, ia bahkan tak mampu menghafal satu persatu saking banyaknya. Shikamaru dan Chouji saling bercengkrama, dihadapan mereka dua gelas mugicha hampir kosong, seorang pelayan dengan sigap mengisi kembali gelas itu.

Hinata POV

Aku di apit oleh Sakuran-san dan Ino-san, mereka nampak cantik dengan tsukesage warna senada. Sama-sama mengenakan wafuku warna maroon dengan corak burung merak, Sakura dan Ino sukses menjadi pusat perhatian nakama lainnya. Betapa cantik istri Naruto-kun, dia ceria penuh kebahagiaan, sesekali ia menanyakan sesuatu tapi aku canggung. Lidahku terbata-bata dan itu membuatnya tersenyum, "bersikaplah seperti biasa Hinata-chan, kami semua adalah temanmu," katanya.

Sementara Ino bersama Sai-kun, pria berambut hitam itu selalu tersenyum, suaranya pelan dan ia menolak shochu yang ditawarkan pelayan. Sungguh beruntung Ino-san, mereka sangat serasi. Sai terkadang berbisik lalu dibalas bisikan pula oleh Ino, lalu mereka akan tertawa berdua…oh Kami, pasangan yang sempurna.

Pesta malam ini sangat ramai, ruangan kelas satu di pesan seluruhnya. Terdapat empat meja panjang, semua telah terisi penuh oleh nakama. Nampaknya meja ini sengaja disediakan khusus untuk sahabat dekat, sementara meja lainnya untuk para senpai dan kouhai.

Sakura-san terus bicara, aku hanya mengiyakan saja. Entah apa inti pembahasannya, ucapannya terlalu cepat hingga sulit ku mengerti. Tentang wafuku, warna lipstik, dan sepatu, sepertinya ia sedang membahas outfit yang kukenakan. Sesaat kemudian ia membahas kegiatannya di Rumah Sakit dan jenis obat penambah stamina. Suasana di sekitar agak ribut, hingga aku harus mendekatkan wajahku ke wajahnya, ia tersenyum melihat tingkahku, "aku akan bicara lebih keras lagi," lalu kami tertawa berdua, "gomenne, Sakura-san."

Entah sejak kapan kami akrab, mungkin sejak malam ini, atau sejak perang dunia Ninja ke empat berakhir. Seingatku, Sakura-san adalah seorang senpai, kami tak pernah saling tegur satu sama lain. Aku tidak pernah bersekolah di Akademi, sedangkan sakura-san mengikuti pendidikan di Akademi sejak balita. Ino dan sakura akrab sejak kecil, mereka di bimbing keras oleh sensei masing-masing, sementara aku lebih banyak menghabiskan waktu di machiya Hyuuga. Dua kehidupan yang berbeda dipertemukan malam ini, rasa canggung terus melanda tapi hatiku selalu menasihatiku, 'bersikaplah biasa Hinata, mereka adalah teman Neji-nii.'

Hanabi justru lebih akrab, jika ia tak mengikuti perjanjian damai itu, ku jamin Hanabi lah yang akan duduk di sini. Gadis itu pandai bergaul, setahuku dia sangat akrab dengan Kiba-kun, jadi wajar jika pria berambut cokelat itu terus melirik kearahku, ku rasa ia sedang mencari Hanabi, atau malah ia kecewa karena bukan Hanabi yang menghadiri acara ini.

Lee-san mengenakan hakama warna hijau dengan atasan warna putih, terjawab sudah maksud dari furisode Tenten-san, Ternyata mereka sengaja mengenakan wafuku yang sama. Dua sahabat Niisan itu sedang bersiap-siap, masing-masing dari mereka memegang secarik kertas, "tes, tes," Lee-san menguji pengeras suaranya, "naikkan sedikit," katanya pada seorang kouhai.

Jika tadi Chouji serius bercengkrama, kini ia sibuk menyantap suppon semangkuk besar. Ia lahap menikmati makanan mewah itu, "dengarkan aku, Chouji," Shikamaru-san agak kesal, "bicaralah, aku mendengarmu dengan baik, mangkuk ini butuh perhatianku," katanya.

Istri Shikamaru-san tidak hadir di sini, ia adalah Temari-san. Ketika aku berada di Suna, Temari pulang dalam keadaan menangis. Telah terjadi pertengkaran hebat di antara mereka, sebenarnya itu wajar bagi pasangan muda yang baru menikah. Aku banyak bercerita dengannya, dia wanita yang pintar dan kuat. Meninggalkan Shikamaru-san adalah keputusan terberat, ia berharap pria itu mau mengalah dan menyusul ke Suna. Tapi dari yang ku lihat sekarang, dia sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda kesedihan, Shikamaru-san berlagak bagai pria yang belum menikah, ia bercengkrama dengan nakama seolah tak memiliki beban sedikitpun.

"Cek, cek, satu dua tiga," Lee-san masih sibuk dengan pengeras suaranya, nampak disebelahnya Tenten-san berwajah masam, "kenapa tidak periksa sejak tadi sih," ia menggerutu.

Terjadi ribut-ribut di depan pintu masuk, beberapa kouhai meneriakkan sesuatu. Mata kami tertuju pada kerumunan orang itu, dua pria kebanggaan Konoha sedang di puja-puji bagai Dewa. Naruto-kun mengenakan wafuku serba hitam, ia tersenyum seraya membalas sapaan para kouhai, "Naruto-kun," Sakura memanggilnya, dia melambai, jemarinya memberi kode bahwa ia akan ke meja ini sebentar lagi. Melihat wajahnya hatiku biasa saja, debaran itu telah hilang entah ke mana, aku bertanya-tanya, 'ada apa?' Apakah perasaanku telah berubah? Apakah cinta itu sudah hilang?

Sosok tinggi besar di samping Naruto-kun menarik perhatianku, itu adalah Uchiha Sasuke. Seperti sahabatnya, ia juga mengenakan outfit serba hitam. Jika Naruto ramah pada juniornya, Sasuke malah diam tanpa kata.

Bagaimana sikapku?

Apa yang harus kulakukan?

Haruskah aku menyapanya?

Harusah kami terlihat akrab?

Oh Kami, aku benar-benar gugup.

Mereka berjalan menuju tempat kami, nakama merapatkan duduknya agar dua pahlawan Desa bisa duduk di sana. Sasuke melirik ke kiri dan ke kanan, ku pikir ia sedang mengamati suasana, sementara jemari Naruto mengacung kearahku, "Hinata-chan, kapan kau datang?"

"Aa...Naruto-kun," aku membungkuk hormat.

"Hime Hyuuga makin cantik, bukan?" Sakura menggoda.

"Sakura-san bisa saja," aku malu-malu.

Uchiha Sasuke mengambil tempat di sisi Shikamaru-san, di sisi lainnya Kiba-kun hilang semangat, sedari tadi ia setia menopang dagu, "mugicha," Shikamaru menawarkan, "shochu," jawab Sasuke," Shikamaru tertawa, jemarinya memberi kode pada seorang pelayan, "Tuan Uchiha berencana mabuk rupanya," candanya, "ini baik untukku," Sasuke meneguk isi gelasnya, "berikan saja botolnya, gelas ini terlalu kecil," katanya pada pelayan, "aku tak akan sanggup meminum semua itu," Sai-kun sibuk memperhatikan Sasuke yang meneguk shochu seperti air mineral, "cobalah," disodorkannya botol itu, "ie, ie, aku tidak minum," katanya.

Lalu terjadi perbincangan hebat, mereka membahas tentang misi rank A. Rasa canggung yang sejak tadi ku bendung semakin canggung, rasanya aku tak dibutuhkan di sini. Ku lirik Tenten-san, rupanya ia sedang melirikku juga, bibirnya membentuk sebuah kata, 'semangat,' katanya.

"Nee, Hinata-chan, kenapa diam saja? Makanlah sesuatu," Ino menaruh mangkuk berisi suppon dihadapanku.

"Ini terlalu banyak Ino-san," kataku.

"Lihatlah Chouji, ia hampir menghabiskan semuanya!"

Mendengar kalimat Ino, semua nakama tertawa lepas, kecuali Sasuke-san tentunya. Dia masih sibuk dengan gelas shochu dan botolnya. tak sedikit pun ia melirik ke arahku, aku pun terlalu malu untuk meliriknya.

Dia tidak terpancing dengan candaan Naruto-kun, dia tidak tertarik dengan pembahasan Shikamaru-san, dia tidak menyadari Kiba-kun yang terkulai sedih di sisinya, dan dia juga tidak peduli dengan Sai-kun yang terus meracau soal minuman keras. Uchiha Sasuke seorang diri, fokusnya tetap pada pikirannya, wajahnya tenang walau disekitarnya ribut luar biasa.

Bagaimana ia melakukan itu? Bersikap datar pada teman-temannya. Dia akan bicara ketika di tanya, dia tidak menggubris lelucon basa-basi, dan dia meneguk shochu seperti orang kehausan, "Sasu, apakah kau mengenal Hime cantik ini? Telunjuk Naruto-kun mengarah padaku.

1 menit.

2 menit.

"Sasu-kun hentikan, nanti kau bisa mabuk," Sakura memperingati, "dia agak aneh," si cherry mengibaskan jemarinya, "dia baik sebenarnya, tapi jarang bicara," bisiknya.

"Tidak."

"Tidak apanya, kau mengatakan tidak, padahal kami membahas banyak hal di sini," Shikamaru menanggapi.

"Aku tidak mengenalnya."

1 menit.

2 menit.

"Nah, Hinata-chan, perkenalkan dirimu," Naruto sinis, "tunjukkan pada si angkuh ini bahwa kedudukanmu sama seperti dia."

"kedudukan yang sama?" Ino-san mengernyit.

"Iya, sama."

"Sama, bagaimana?"

"Maksud Naruto-kun, mereka berasal dari keturunan yang sama, sama-sama memiliki kekkei genkai," Sai-kun menjelaskan.

"Bukan, maksudku Hinata-chan adalah seorang Hime dan ia mampu menjaga sikapnya, tapi lihatlah si teme ini, dia angkuh dan sombong seperti ulat."

Dan candaan tentang 'pewaris kekkei genkai' panjang dan berlarut-larut. Entah dia sengaja melakukannya atau tidak, Sasuke-san baru saja berkata bahwa ia tidak mengenalku. Ku rasa ia berusaha menyampaikan sebuah makna, bahwa pertemuan kami di hutan utara adalah rahasia, termasuk hutan utara itu sendiri, dan mengenai bimbingan itu, ku rasa juga rahasia.

Pernyataan Naruto-kun ada benarnya, pria Uchiha yang duduk dihadapan kami adalah seorang yang angkuh. Begini, Sasuke-san telah menerima upah dari Ayah, maka dari itu ia merasa perlu mendengar masalahku, dan semua itu tidak lepas dari sikap profesional sebagai shinobi.

"Nee, Sasuke-kun, Hinata-chan adalah Adik sepupu Neji," Sakura tersenyum, "dua tahun terakhir ia merantau ke Desa non shinobi."

"Benar begitu Hinata-chan?" dahi Kiba-kun berkerut, "ku pikir kau mengurung diri di machiya."

"Mereka punya saudara di Desa tersebut," ditatapnya Kiba, "aku sih mendengar langsung dari Hanabi."

"Menurutku wajah Hinata tidak berubah," Chouji melahap suppon keduanya.

"Iya tentu saja, Hinata-chan selalu cantik sejak kecil," Ino mengelus rambutku.

Ku pikir sifat Sasuke-kun seperti itu, tapi nyatanya seperti ini. Sepertinya para nakama paham betul, tak satu pun dari mereka yang menggubrisnya, selain Naruto-kun tentunya. Dari tekanan bahasa Sakura yang berkata, 'dia memang aneh,' dan, 'dia baik sebenarnya, tapi jarang bicara,' seolah mempertegas bahwa Sasuke adalah orang yang sukar didekati.

Ini adalah Sasuke yang sebenarnya, sementara Sasuke yang di hutan utara hanyalah seorang jonin yang sedang melakukan sebuah bimbingan, di mana bimbingan itu tidak lepas dari sikap formal antara guru dan murid. Lalu apa yang kuharapkan? Sasuke berkata, 'iya aku mengenalnya, dua hari terakhir kami berduaan di hutan utara,' oh tidak, kalimatnya ketus berkata, "tidak," yang dapat kuartikan sebagai, 'jaga jarakmu.'

Ino menepuk pundakku, "tidak apa," ia tersenyum, "tapi kami mengenalmu dengan sangat baik, kau adalah Adiknya teman kami," katanya.

"Aku dan Neji–kun cukup akrab, kami bnyak melakukan misi bersama," ingatan Sai-kun menerawang.

Kami saling bercengkrama seraya menikmati suppon, Ino-san memberi death glare pada Sasuke-san, "jangan peduli pada orang itu, dia aneh sejak dulu," bisiknya.

Hinata End POV

"Anoo—mohon perhatiannya sebentar, tes, tes," terdengar bunyi gresek ketika Lee menekan ujung pengeras suarannya, "Ok," katanya pada kouhai.

"Guy sensei!" Tenten kaget luar biasa, Guy tiba-tiba hadir di tengah keramaian tamu undangan, "ku pikir Tsunade-sama tidak mengizinkan sensei," dihampirinya sang guru, Tenten mendorong kursi roda menaiki panggung. Guru malang itu datang bersama Hatake Kakashi, irisnya nampak berkaca-kaca.

Suasana hening seketika, para nakama terharu terbawa suasana. Termasuk Hinata, gadis itu ikut menitihkan air mata. Lee memulai pidatonya, dia gagah layaknya pria sejati. Awal pidato di mulai dengan ucapan salam kepada sensei tercinta dan Hyuuga Neji di Surga. Ia menjabarkan awal pertemuan mereka dengan Guy sensei, kemudian misi-misi yang mereka jalani selama dua puluh lima tahun terakhir, hingga perang dunia ninja ke empat berhasil merenggut salah satu anggota tim. Lee berusaha menahan tangis tapi ia kalah oleh hatinya, air mata itu menetes begitu saja.

Pidato ke dua di mulai oleh Tenten, air mata telah membasahi pipinya, ia bahkan belum memulai satu kalimat pun. Lee di sampingnya berusaha menenangkan, tapi air mata itu tak kunjung redah, "dia adalah saudaraku setelah Lee-kun," suaranya parau, "dia adalah sahabat yang baik sekaligus Kakak yang baik," katanya lagi.

Tak satupun dari nakama yang menyantap hidangan, bahkan Chouji sekali pun, dia enggan mengangkat wajahnya, air matanya di seka terus-menerus. Tatapan Shikamaru kosong, kenangan tentang perang dunia ninja ke empat terbayang dikepalanya. Dia mengumpulkan mayat teman-temannya, di antara tumpukan mayat itu adalah senior dan juniornya di Akademi, temannya bermain sejak kecil. Mayat Neji di bopong oleh Naruto, posisi si blonde yang paling dekat ketika Neji menghembuskan nafas terakhir. Dua Minggu waktu mereka tersita untuk menggali tanah, tidak mudah menguburkan ratusan mayat dalam waktu singkat.

Dalam duka si cherry berbisik, "hentikan Sasuke," ia sinis, bagaimana tidak, tunggal Uchiha itu sama sekali tidak peduli dengan duka disekitarnya, "biarkan dia," Ino berbisik pula.

Tersirat kekecewaan dari raut Hinata, Sasuke sama sekali tak menghargai tujuan Acara ini. Dipikirnya ini adalah pesta minum-minum, sehingga ia bebas melakukan apapun. Lee, Tenten dan Guy sensei sedang larut dalam duka, tapi si tangan satu malah asik dengan botol shochu. Hatake Kakashi mendelik ke arahnya, lalu di liriknya Naruto dan Sakura, mata itu seolah berkata, 'ikat Uchiha itu jika berulah.'

"Hei kau."

"Sasuke…." nada kalimat Sakura memperingati.

"Bukan kau, tapi kau," telunjuknya mengarah pada Sakura lalu ke Hinata.

"…."

"Katakan sesuatu tentang saudaramu," katanya.

"…."

"Jangan dengarkan dia Hinata," Ino memperingati.

"Sasuke-san biar ku antar pulang," Sai mendekatinya.

Dihempasnya tangan Sai, "seharusnya kau bicara di atas sana, sebagai perwakilan saudaramu."

"Sai, jangan lembut padanya, tendang dia dari sini," Naruto kesal.

"Anata pelankan suaramu," Sakura mencubit lengannya.

"Aku tidak mabuk, hanya menyarankan agar saudarinya ini menyampaikan pidato duka, apakah salah, hn?"

"Jangan ditanggapi, dia sedang mabuk," Ino membela.

"Suruh istrimu diam," jemarinya mengacung pada Sai, "dia sama cerewetnya dengan si pink ini," lalu jemarinya mengacung pada Sakura, "sembarangan kau Sasuke!" Sakura memamerkan bogemnya.

"Ini bukan tempat bertengkar, begitukah kebiasaan tim tujuh?" Jika Naruto kesal, Shikamaru jauh lebih kesal lagi.

"Hentikan, kalian hanya membuat Hinata semakin sedih," Shino yang sedari-tadi diam kini mulai angkat bicara.

Sasuke tertawa, "kalian ini aneh," ada jeda tawa lagi, "aku hanya menyuruhnya bicara di panggung itu, tapi mulut kalian terlalu berisik."

"Demi Kami, aku akan menendangmu keluar dari sini jika mulutmu terus meracau," Sakura semakin geram, wajahnya memerah, "lihatlah, Kakashi sensei terus mendelik kearahmu, baka," Naruto menggigit kukunya mendengar ancaman Sakura, "tunggu sampai dia kemari lalu menyeretmu seperti kucing."

"Dia takut padaku."

"Maksudmu?"

"Dia takut padaku."

"Siapa?"

"Hime Hyuuga, takut padaku."

"Ggrr! Sasuke kau—"

"Gomennasai…a-aku permisi," Hinata bangkit dari tempatnya, buru-buru ia melangkah pergi. Tenten dan Lee tetap melanjutkan pidatonya tapi mata mereka mengikuti langkah Hinata. Kakashi memberi isyarat agar salah satu dari nakama mengejarnya, Ino baru saja akan melesat, tapi suara berat Sasuke menghentikannya, "biar aku saja."


Hime Hyuuga menangis dalam diamnya, insiden di pesta duka sungguh membuat hatinya sakit. Dia kecewa pada Sasuke, ternyata pria itu memiliki sifat dan sikap yang jauh berbeda. Apa maksudnya menyuruh Hinata berpidato, padahal ia tahu betul Hinata bermasalah dalam hal sosialisasi. Apakah dia sengaja melakukan itu? Untuk membuat Hinata malu, untuk membuat si gadis terekspos?

Dia melepaskan semua outfit yang melekat di tubuhnya, ia gerah dengan wafuku itu. Entah apa yang akan terjadi besok, bagaimana ia akan bersikap di depan Sasuke, atau malah Sasuke tidak akan datang lagi ke hutan utara, Oh Kami—sungguh kacau.

Sasuke terlihat sangat strees malam ini, dia tidak bicara—hanya minum dan minum terus. Berani bertaruh, dia bahkan tak mendengar sedikit pun pidato duka yang disampaikan Lee dan Tenten.

Hinata melepas underwear, di ganti sleep wear tipis berbahan licin. Tubuh itu jatuh di atas futon, irisnya hampir terpejam ketika suara derak tatami menghentikannya, "Ojou-sama, maafkan saya," suara seorang bunke dari balik shoji.

"iya," suaranya parau karena isak tangis.

"Maafkan saya mengganggu Ojou-sama."

"Iya, ada apa?"

"Tuan Uchiha menunggu anda di washitsu utama."

"…."

"Ojou-sama?"

"Iya."

"Apa yang harus saya katakan pada Tuan Uchiha?"

"Katakan padanya, Hinata sudah terlelap."

"Aa…souka, maaf mengganggu tidur anda," suara derak tatami semaki lama semakin menjauh.

Untuk apa dia kemari?

Ingin mempermalukan Hinata?

Ingin menceramahi Hinata?

Oh Kami, jika iya, maka lakukan saja besok. Ini sudah larut malam dan Hinata benar-benar butuh tidur. Si gadis mengurung seluruh tubuhnya dengan selimut, tapi shoji yang bergeser mengurungkan niatnya.

Sejak kapan bunke berani menggeser pintu shoji milik souke, Hinata membuka kurungan selimutnya, matanya tertuju pada shoji di sana, sesosok tak asing sedang menatapnya intens.

"…."

"Sa-…."

"…."

"Sasuke-san…," saking kagetnya, mulut Hinata serasa kaku.

"Pelayanmu sangat pandai berbohong," lengan kanannya bersandar pada sisi fusuma.

"A-apa yang kau lakukan?" Hinata panik.

Digesernya kembali shoji itu, tinggallah ia bersama Hinata di dalam machiya utama, "aku kemari untuk mengambil jubahku."

"…."

Lututnya menopang tubuhnya, ia agak membungkuk untuk menyamakan tinggi kepalanya dengan Hinata, "jubahku."

Tercium jelas aroma shochu, "Sasuke-san sedang mabuk," Hinata mengambil jarak, celakanya, ia hanya mengenakan sleep wear tipis.

"Kenapa kau terus menghindariku?"

"…."

"Aku datang kemari untukmu, dan jubahku."

"I-itu...," telunjuk Hinata mengarah pada sesuatu di atas meja, "jubah Sasuke-san."

"Gadis lugu nan pandai menggoda."

"Eh?"

"Sejak hari pertama bimbingan kau terus melakukannya?" Sasuke menarik selimutnya.

"Hinata menarik selimutnya kembali, "a-apa maksud Sasuke-san?"

"Kau menggodaku."

"A-aku tidak melakukan itu."

"Benarkah?"

"Benar-aku—"

"Hatimu terus berkata kau takut padaku, tapi tubuhmu selalu menggodaku."

"Sasuke-san sedang mabuk…o-onegai."

"…."

"Onegai…."

"Kemarilah, kukatakan sesuatu," jemarinya memberi isyarat.

Hinata enggan mendekat tapi Sasuke malah menarik lengannya, si gadis memekik, "tubuhmu menggodaku," dihempasnya selimut itu, sukses mengekspos sleep wear warna tosca, "seperti ini," wajah mereka sangat dekat, hidung mereka hampir bertemu, aroma shochu menguasai indera penciuman keduanya.

"Hentikan, kau sedang mabuk."

"Kenapa kau terus menghindariku, huh?"

"Sasuke-san, tolong hentikan," Hinata mengulang kalimatnya.

"Sentuh aku, Hime…."

"Eh?"

"Kau bisa merasakannya, hn? Tubuhku merespon…."

"Sasuke-san, ini tidak boleh," Hinata memandangnya lekat-lekat, "Sasuke-san hanya sedang mabuk, pulanglah dan kita akan melupakan kejadian ini," si gadis berusaha terlihat tenang.

"Aku ini hanya laki-laki biasa."

"Sasuke-san…."

Ia mengarahkan jemari Hinata ke bagian alat vitalnya, sesuatu di balik hakama warna hitam mulai menegang, sebagai wanita dewasa, tentu Hinata paham situasinya, "Sasuke-san, tidak…."

"Aku merindukanmu."


Prince of Sharingan, 22 Maret 2017

*saya sangat bersyukur jika minna-chan membantu saya mengoreksi kalimat yang typo.. tpi kalo g mau… g apa apa juga hehehhe. Gomen telat update sehari.

DEAR JUMP AN

SAYA MOHON MAAF YANG SEBSAR2 NYA... g tau mau bilang apa,,,... sbnrnya sya kurnag suka dnegan salah satu review dari reader, maka dari itu fms sngaja saya delete. saya pkir jump an sudah membaca fic gaje itu...dulu, jadi tidak mengapa.. semngat ya...