Disclaimer: Masashi Kishimoto
Main pairing: SasuHina
Genre: Romance, Hurt
Rated : M
5
Flirtation
Sejak kapan bunke berani menggeser pintu shoji milik souke, Hinata membuka kurungan selimutnya, matanya tertuju pada shoji di sana, sesosok tak asing sedang menatapnya intens.
"…."
"Sa-…."
"…."
"Sasuke-san…,"
"Pelayanmu sangat pandai berbohong," lengan kanannya bersandar pada sisi fusuma.
"A-apa yang kau lakukan?" Hinata panik.
Digesernya kembali shoji itu, tinggallah ia bersama Hinata di dalam machiya, "aku kemari untuk mengambil jubahku."
"…."
Lututnya menopang tubuhnya, ia agak membungkuk untuk menyamakan tinggi kepalanya dengan Hinata, "jubahku."
Tercium jelas aroma shochu, "Sasuke-san sedang mabuk," Hinata mengambil jarak, celakanya, ia hanya mengenakan sleep wear tipis.
"Kenapa kau terus menghindariku?"
"…."
"Aku datang kemari untukmu, dan jubahku."
"I-itu…," telunjuk Hinata mengarah pada sesuatu di atas meja, "jubah Sasuke-san."
"Gadis lugu nan pandai menggoda."
"Eh?"
"Sejak hari pertama bimbingan kau terus melakukannya?" Sasuke menarik selimutnya.
"Hinata menarik selimutnya kembali, "a-apa maksud Sasuke-san?"
"Kau menggodaku."
"A-aku tidak melakukan itu."
"Benarkah?"
"Benar-aku—"
"Hatimu terus berkata kau takut padaku, tapi tubuhmu selalu menggodaku."
"Sasuke-san sedang mabuk…o-onegai."
"…."
"Onegai…."
"Kemarilah, kukatakan sesuatu," jemarinya memberi isyarat.
Hinata enggan mendekat tapi Sasuke malah menarik lengannya, si gadis memekik, "tubuhmu menggodaku," dihempasnya selimut itu, sukses mengekspos sleep wear warna tosca, "seperti ini," wajah mereka sangat dekat, hidung mereka hampir bertemu, aroma shochu menguasai indera penciuman keduanya.
"Hentikan, kau sedang mabuk."
"Kenapa kau terus menghindariku, huh?"
"Sasuke-san, tolong hentikan," Hinata mengulang kalimatnya.
"Sentuh aku, Hime…."
"Eh?"
"Kau bisa merasakannya, hn? Tubuhku merespon…."
"Sasuke-san, ini tidak boleh," Hinata memandangnya lekat-lekat, "Sasuke-san hanya sedang mabuk, pulanglah dan kita akan melupakan kejadian ini," si gadis berusaha terlihat tenang.
"Aku ini hanya laki-laki biasa."
"Sasuke-san…."
Ia mengarahkan jemari Hinata ke bagian alat vitalnya, sesuatu di balik hakama warna hitam mulai menegang, sebagai wanita dewasa, tentu Hinata paham situasinya, "Sasuke-san, tidak…."
"Aku merindukanmu."
Tubuh Hinata bergetar hebat, peluh membasahi wajahnya yang pucat. Selimut itu adalah pertahanan terakhir, dan sleep wear itu adalah kesialan luar biasa, jika Sasuke berhasil menghempas keduanya, Hinata bakal mempertontonkan kemolekan tubuhnya.
Seorang bunke setengah baya nampak cemas, pandangannya tidak lepas dari tingkah aneh sang majikan. Baiklah, mari kita bahas dari awal, hari sebelumnya Hime Hyuuga pulang dalam keadaan berantakan diselimuti jubah hitam, tadi siang dia malah pulang dengan senyum sumringah menghiasi wajahnya, malam ini, dia pulang dengan air mata membanjiri wajahnya, dia bahkan terjatuh di washitsu utama, bunke berusaha menolongnya tapi dia menolak. Hime malang itu memasuki machiya, menghempaskan seluruh outfit yang dikenakannya lalu mengurung diri di dalam selimut.
Sebagai pelayan setia, tentu ia khawatir dengan kondisi majikannya. Hiashi-sama tidak mengetahui ini, dia terlalu sibuk dengan berbagai urusan clan, atau dia memang tidak mau tahu tentang segala hal yang berhubungan dengan Ojou-sama. Perhatian Hiashi selalu tertuju pada Hanabi, si Nona kecil. Prestasi Hanabi sebagai kunoichi rank A telah sukses besar, gadis itu lulus ujian chunin dengan nilai di atas rata-rata, melaksanakan misi setingkat jounin, terkadang pula ia membantu anbu dalam misi mata-mata. Hanabi selalu menonjol dalam hal apapun, tentu sangat berbeda dengan Ojou-sama yang lebih banyak berdiam diri di machiya.
Ojou-sama pergi selama dua tahun ke Negeri orang, itu adalah keinginannya sendiri. Hiashi mengiyakan, dengan alasan agar dia melupakan Uzumaki Naruto. Tapi bukan itu intinya, beredar desas-desus di kalangan para bunke, Hiashi mendukung kepergian Hinata agar si malang itu menjauh dari clan. Anggap saja Hinata tidak berencana meninggalkan Konoha, maka Hiashi telah menyiapkan seribu satu alasan agar hal itu terjadi. Seorang Hyuuga yang tidak mampu mengandalkan kekkei genkai di anggap sebagai pecundang, Hiashi akan malu jika Hinata menyandang predikat itu, maka cara terbaik adalah dengan menyingkirkannya.
Diam-diam dia menggelar rapat tertutup, pembahasan mereka tertuju pada satu nama, Hanabi. Hiashi berencana mengangkat Hanabi sebagai Hairees, tapi keinginan itu tidak disetujui. Usianya masih sangat bocah, akan lebih baik jika dia membantu para jounin saja. Tapi para Tetua berjanji, jika usia Hanabi telah memenuhi syarat, permohonan itu akan dipertimbangkan.
Para bunke memang ditakdirkan sebagai pelayan seumur hidup, tapi lidah mereka tajam seperti kunai. Perlahan-lahan berita itu berkembang dari mulut ke mulut, apa yang terlihat dihadapanmu bukanlah seperti yang terlihat. Hiashi selalu baik di depan Hinata, seolah ia tak membandingkan kedua puterinya. Tapi di sisi lain, otaknya selalu mencari cara agar si malang itu menyingkir dari clan. Hinata hanya sebagai orang yang mengisi kekosongan jabatan, jika Hanabi dewasa, posisi itu akan langsung diserahkan padanya. Hiashi belum gila, mana mungkin ia membiarkan posisi Hairees berlama-lama di tangan seorang yang lemah.
Dia membungkus tubuhnya dengan selimut tebal, rautnya ketakutan setengah mati, tatapannya kosong, dan bibirnya mengucapkan kalimat-kalimat yang susah diartikan.
"Ojou-sama, anda baik-baik saja?" Seorang bunke yang usianya lebih muda mencoba mendekatinya.
"Dia sangat tertekan," terdengar samar suara bunke lainnya, "kasihan sekali dia, Hiashi-sama sungguh tega, mungkin seseorang telah menceritakan itu kepadanya," pintu shoji dipenuhi beberapa bunke, mereka mengkhawatirkan kondisi Tuan Puterinya yang tidak stabil, "pelankan suaramu, dia akan mendengar."
"Ojou-sama apakah anda baik-bak saja?" bunke itu mengulang kalimatnya.
"Ku rasa Ojou-sama sedang mengigau dalam tidurnya."
"Ojou-sama tidak tidur, posisinya sedang duduk di atas futon, kau lihat sendiri."
"Jangankan duduk, terkadang seseorang akan berjalan dalam tidurnya."
"ku rasa Ojou-sama hanya kelelahan."
Ribut-ribut itu memancing amethyst yang nampak kebingungan, dia memandang satu-persatu wajah bunke yang berdiri di depan pintunya. Mulutnya membentuk huruf o, jemarinya menyeka keringat yang memasuki irisnya, perih terasa.
"Ojou-sama, anda baik-baik saja?" Bunke tadi mengulang pertanyannya lagi.
"A-ada apa?" Hinata memandang si bunke.
Si bunke tersenyum, "ku rasa anda baru saja mengigau dalam tidur," dipandangnya bunke yang lebih tua, "tadinya Bibi mengetuk pintu shoji, tapi anda tidak merespon, jadi dia menggeser shoji itu," jelasnya.
"Maafkan kelancangan saya, Ojou-sama," kata si Bibi bunke.
"Berbicara?" Hinata memiringkan kepalanya.
"Saya pikir anda belum tidur, jadi saya memanggil nama anda, tapi anda tidak menjawab," dia merasa bersalah, "jadi saya berani menggeser shoji," ada jeda, "ternyata anda sedang mengigau dalam posisi duduk, jadi saya memanggil bunke lainnya."
"Benarkah?" Hinata bingung.
"Maaf Ojou-sama, apa yang anda rasakan?" Si bunke yang lebih muda penasaran.
"Entahlah...a-aku hanya tertidur lalu—" ia diam sesaat, "…bermimipi," pipinya merona merah.
"Syukurlah, bukan suatu hal yang perlu dikhwatirkan, terkadang memang seperti itu jika kelelahan," kata si bunke.
"Maafkan saya Ojou-sama, Tuan Uchiha sedang menunggu anda di washitsu utama," kata si Bibi bunke, "itulah alasan saya datang kemari."
1 menit.
2 menit.
"…."
"Ojou-sama, perintah anda?"
"So-souka?"
"Iya Ojou-sama."
"Aku akan ke sana sebentar lagi."
Hinata POV
Oh Kami-sama, apa yang terjadi?
Ku rasa otakku mempermainkanku, atau mimpiku sengaja membodohi otakku. Kejadian itu seperti nyata, bahkan sangat nyata. Aroma shochu masih terasa jelas, aku bahkan mencium bau khas pria di sini. Apa yang ku pikirkan? Sasuke-san datang ke kamarku untuk mencumbuku? Merayuku? Berlaku tidak senonoh? Rasanya kurang tepat mengingat di pesta Tente-san dia berusaha mempermalukanku.
Kalimatnya sangat vulgar, tangannya lancang, dan ia menarik lenganku. Walau pada kenyataannya aku baik-baik saja, dan ku anggap itu sebagai mimpi belaka, tapi bekas tangannya masih terasa di lenganku. Di mimpi itu dia menarikku dengan sangat kasar, lalu dia berkata, 'aku merindukanmu.'
Dia terbakar nafsu, wajahnya menunjukkan betapa birahi menguasai akal sehatnya. Hangat nafasnya menerpa wajahku, matanya memandangku lekat-lekat—hasrat tak terbendung terpancar jelas di sana, bibirnya ranum disertai kumis tipis, dan bibir itu menuduhku sengaja menggodanya.
Jika benar pemikiranku, maksud mimpi itu adalah keinginan tanpa sadar dari pemikiran tanpa sadar yang secara otomatis tertuang dalam sebuah mimpi. Kalimat singkatnya, mimpi itu menggambarkan keinginanku untuk bercinta dengan Sasuke-san.
Ah…tidak juga, aku malah menolaknya. Justru dia mengarahkan tanganku ke area vitalnya, itu sangat besar dan keras di sana, seperti itukah milik seorang pria? Apa yang terjadi jika dia melakukan hal-hal jahat dengan benda itu?
Tapi….
Apakah boleh berpikir seperti ini? Terlebih lagi pada Sasuke-san, rasanya tidak wajar. Dia adalah ninja selebriti, digemari banyak wanita, sudah pasti ia memiliki seorang yang spesial dihatinya, kenapa ia harus repot-repot menjahatiku?
Sasuke-san mengetahui rahasiaku, aku banyak bercerita dengannya. Di luar sikapnya yang dingin di pesta Tenten-san, di hutan utara dia adalah pendengar yang baik. Tidak pantas aku menuduhnya berlaku tak senonoh, hal-hal jahat atau semacamnya, Sasuke-san bukan orang seperti itu.
Lihatlah, Sasuke-san duduk manis di washitsu utama, dia bahkan meneguk gyokuro dengan lancar. Dia tidak menunjukkan tanda-tanda seperti orang mabuk, masih tenang seperti kemarin. Rahangnya terkatup rapat, diletakkannya gelas kosong ke tiga, sepertinya ia sudah lama menungguku. Sasuke-san sadar akan keberadaanku, tapi ia enggan memandangku. Apa alasan yang membawanya datang kemari, ini adalah pukul sepuluh malam, bukan waktu yang tepat untuk bertamu, "Sasuke-san," aku menyapa lebih dulu. Aku duduk di sisi lainnya, kami terpisah oleh meja tamu. Kuletakkan di atas meja jubah itu, lalu ku geser kehadapannya, "arigatou," kataku.
"Hn," jawabnya.
"Gomennasai," suaraku lirih, tak berani ku pandang wajah dingin itu. Entah ia sedang memandangku atau bagaimana, bulu kudukku merinding seolah ia sedang mengawasi pergerakanku.
"Kau meninggalkan pesta itu," ada jeda, "hanya karena aku menyuruhmu naik ke panggung untuk berpidato."
"A-aku tidak pandai melakukannya."
Tidak ada pembahasan mengenai kata 'tidak' yang ia utarakan di pesta Tenten-san, kami diam satu sama lain, dia pun enggan bertanya balik tentang kenapa aku tidak pandai berpidato. Entahlah, ku rasa dia sedang membaca pikiranku sekarang, dan mungkin juga dia telah mengetahui tentang mimpi itu.
Rasa canggung melanda, mungkin ia menunggu kalimatku selanjutnya. Apa yang harus ku bicarakan, aku tak pandai basa-basi, apa yang harus kupertayakan, aku tak ingin menanyakan apapun. Oh Kami, keluarkan aku dari situasi ini.
"Berapa usiamu?" Akhirnya dia bicara.
"Dua puluh dua," jawabku, masih tak berani ku pandang wajahnya.
"Kau cukup dewasa untuk merangkai kata-kata," ada jeda, "menjadi kalimat," ada jeda lagi, "seperti yang dilakukan Lee dan Tenten."
"Tenten-san tidak mengatakan itu sebelumnya, jadi aku tidak menyiapkan konsepnya."
"Souka…."
"Lain kali akan kulakukan," kataku lagi.
"Apa yang kau takutkan, huh?"
"Eh?"
"Kau takut karena aku berada di pesta itu?" Aku yakin dia memandangku kali ini, "atau kau malu karena aku berada di pesta itu?
"A-aku hanya kurang persiapan saja—"
"Pandanglah wajah orang ketika berbicara."
"Gomennasai," jawabku lirih, "a-aku kurang pandai bersosialiasi, selama ini hidupku hanya sebatas machiya, ketika bertemu orang banyak, aku merasa canggung dan malu."
"Aku tidak membahas orang banyak, aku bertanya, apakah kau malu karena aku berada di sana?"
"…."
"Tahanlah perasaanmu itu."
"Sasuke-san…."
"Aku adalah pembimbingmu, jadi bersikaplah sebagai orang yang di bimbing, jangan bawa hatimu dalam hal ini."
"…."
"Apapun yang kau rasakan padaku, itu tidak akan pernah terjadi," ada jeda, "aku mengharga Hiashi-sama, dia adalah teman Ayahku—dan aku ingin menjaga hubungan baik dengannya."
"…."
"Bantu aku menjaga hubungan baik itu."
"Sasuke-san…."
"Katakan,"
"Gomennasai…."
"Baiklah, kali ini kumaafkan, kau masih boleh mengunjungi hutan utara, rahasiamu akan ku jaga," suaranya dingin bagai pembunuh, "tapi dengan satu syarat," ku angkat wajahku, ku pandang wajah itu, "berhenti menggodaku."
Hinata End POV
Insting, itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi yang dialami Hinata. Gadis itu hanya sedang terjebak oleh instingnya, dan tentu saja bukan nafsu, bukan pula godaan, apalagi birahi, hanya insting seorang gadis kala bertemu pria tampan. Demi Tuhan, Hinata hanya bercerita tentang kehidupan keluarganya, tentang penyakitnya, tentang hal-hal yang disukainya, dan Sasuke malah berani bilang kalau itu adalah godaan.
Dari segi mana Hinata menggoda Sasuke, tuduhannya jelas tidak beralasan. Di luar insiden homongi yang sukses mempertontonkan underwear, jelas sekali si gadis tak melakukan apapun. Well, jika yang dimaksud adalah ketika Sasuke melihat tubuh telanjang Hinata, itu adalah salahnya sendiri. Hinata tidak melakukan itu dengan sengaja, ia pun tak memiliki cukup chakra untuk mengetahui aura chakra disekitarnya, justru Sasuke lah yang harusnya menghindar jika menyangkut hal-hal di luar batas.
Dia mengatakan, 'aku adalah pembimbingmu, jadi bersikaplah sebagai orang yang di bimbing,' jika Hinata memergoki Sasuke mengintipnya, maka si gadis seharusnya berkata, 'aku adalah orang yang kau bimbing maka bersikaplah sebagai pembimbing.'
Si gadis malang hanya berdiam diri di machiya, ia duduk seraya memeluk lututnya. Hal ini telah berlangsung selama tiga hari, para bunke pusing tujuh keliling, apapun masalahnya, mereka berharap Hiashi-sama pulang secepatnya.
Mereka telah berusaha mengajak si gadis bicara, tapi ia tak menjawab pertanyaan apapun. Di siang hari, Hinata akan duduk di atas futon lalu di malam hari dia akan menangis di atas futon pula. Si malang itu hanya memakan satu biskuit gandum dalam sehari, bukan nasi atau sayuran.
Kalimat Uchiha Sasuke tidak hanya melukai hatinya, tapi juga merendahkan harga dirinya—dan secara otomatis menekan nafsu makannya. Hinata adalah seorang Hime berkelas dari clan berkelas, sebodoh-bodohnya dia, dia tak akan melakukan hal bodoh dengan menggoda pembimbingnya. Mengenai mimpi itu, itu hanyalah sebuah mimpi, toh bukan berarti ia menginginkannya.
Dulu, Ino dan Sakura tergila-gila pada Sasuke, tapi nyatanya tak satupun dari mereka yang menikah dengannya. Ino dan Sakura hanya sekedar kagum, itu wajar mengingat insting seorang wanita adalah menyukai lawan jenis. Sama halnya dengan Hinata sekarang, si malang itu hanya mengagumi pembimbingnya, tidak lebih.
Entah berapa banyak butiran air mata yang berjatuhan, machiya itu hampir menjadi kolam kesedihan. Setiap kali mengingat nama Sasuke Uchiha, perutnya mual, kepalanya pusing, dan ia akan menjatuhkan tubuhnya di atas futon seraya menangis.
Biskuit gandum adalah pemberian Hanabi, oh…betapa beruntungnya, setidaknya ia tak perlu kelaparan dalam duka. Kini kepalanya sibuk mencari alasan agar bimbingan itu segera dihentikan. Hiashi–sama harus berada di sini untuk mendengar penjelasan puterinya, bahwa posisi Hairees harus di pegang oleh Hanabi.
Jika Hiashi menyetujui ini, Hinata tak perlu repot-repot bertemu Sasuke lagi. Lagi pula untuk apa melakukan bimbingan yang tidak pernah ada, toh dia dan Sasuke telah membuat kesepakatan—bahwa bimbingan itu tidak perlu berlanjut terkait kondisi paru-paru Hinata, jadi tidak perlu ada pertemuan di hutan utara, sia-sia belaka.
Seorang bunke remaja buru-buru, larinya cepat menuju machiya Hime, "Ojou-sama, Hiashi-sama dan Hime-chan telah kembali," ia bersemangat.
Hiashi dan Hanabi hanya pergi empat hari, tapi bagi Hinata mereka telah meninggalkan mansion selama empat tahun. Dia berdoa dalam dalam tangisnya, berharap keinginannya dikabulkan sang Ayah.
Tak lama berselang, Hanabi muncul di depan shoji miliknya, "oh…Neechan, ada apa?" Hanabi menghampiri Kakaknya, gadis kecil itu bahkan belum melepas atribut shinobi, "kata bunke, Neechan belum makan apapun," bungkusan biskuit gandum berserakan di atas tatami, "hanya ini?" Si Adik sedih.
"A-aku hanya rindu pada Hanabi-chan," dirangkulnya Hanabi, tangisnya pecah, "jangan mengadu pada Ayah kalau aku menangis," rangkulannya semakin erat, "aku ingin posisi Hairees di pegang oleh Hanabi-chan," bisiknya.
"Kenapa Neechan berkata seperti itu?"
"Aku tidak pantas, ku rasa itu juga keinginan Ayah."
"Itukah alasan Neechan mengurung diri di machiya?"
"Hanabi-chan jauh lebih baik,"disekanya air mata yang membasahi pipinya.
"Apakah terjadi sesuatu?" Tidak biasanya Hinata larut dalam duka mendalam.
Hinata bergeleng, "tidak terjadi apa-apa, aku hanya lelah dengan semuanya."
"Pikirlah lagi Neechan," Hanabi mengusap rambut kusut Kakaknya, "lagi pula aku belum pantas."
"Tidak, Ayah harus memilihmu walau di usia sekarang."
"Itu tidak mungkin Neechan, ini sudah dibicarakan dengan Tetua Desa," Hanabi tak tahu pasti penyebabnya, intinya si gadis benar-benar terluka sekarang, "mandilah, Ayah akan mengajak kita makan malam," Hanabi jelas akan menolak posisi itu, "kami bertemu Sasuke Niisan di pintu gerbang, dia juga baru menyelesaikan misinya," membantu anbu jauh lebih baik, "Sasuke Niisan akan makan malam bersama kita," posisi Hairees hanya akan membatasi pergerakannya, dia tak ingin memimpin sesuatu, setidaknya belum sekarang.
"A-aku malu Hanabi-chan…sangat malu…."
Mereka telah melalui hanami yang indah, bunga sakura bermekaran ditemani ocha dan ichigo daifuku. Musim semi akan segera berlalu, kini mereka siap menyambut tsuyu. Masih tersisa waktu dua puluh hari sebelum musim hujan datang, mereka akan memanfaatkan sisa waktu itu untuk menikmati hangatnya suasana akhir musim semi.
Tadi siang terjadi perbincangan ringan di depan gerbang Desa, berdiri di sana Hyuuga Hiashi dan Uchiha Sasuke. Pembahasan mereka tidak jauh-jauh dari urusan misi, clan, dan cuaca. Setelah tsuyu berlalu, musim panas akan segera datang, dan akan berlangsung selama beberapa bulan. Pada masa-masa itu, Konoha akan kebanjiran misi, shinobi harus menguras tenaga ekstra untuk meladeni permintaan dari Desa non ninja.
Hokage selalu meliburkan shinobi di saat tsuyu, setidaknya biarkan mereka beristirahat sebelum menjalani rentetan misi bertubi-tubi. Bukan hanya itu, ketika tsuyu berlangsung, angin badai akan menghantam sebagian wilayah Negara Api, rasanya nuke pun enggan berkeliaran, maka hal terbaik yang perlu dilakukan adalah berdiam diri di rumah masing-masing.
Hyuuga Hiashi telah memikirkan hal ini, dia berharap sistem itu tidak berlaku bagi Hinata. Pelantikan Hairees akan dilaksanakan setelah musim panas, jika Hinata tetap di beri jatah libur, ia khawatir waktunya tidak akan cukup. Walau hanya untuk jabatan sementara, Hiashi berharap puterinya itu belajar sungguh-sungguh, di bawah bimbingan Sasuke tentunya.
Sasuke belum merencanakan apapun di saat tsuyu, biasanya ia hanya akan tidur berkepanjangan di mansion Uchiha. Jika permintaan Hiashi seperti itu, maka ia siap melakukannya, "jika dia tetap meminta jatah libur, buatlah beberapa alasan," Hiashi tersenyum, "dia hanya gadis kecil, saya harap itu tidak mengganggu waktu Sasuke-san," Sasuke mengangguk, senyumnya simpul tanda ia mengiyakan permintaan Hiashi-sama.
"Jadi malam ini, Sasuke-san hendak ke mana?" Kalimat Hiashi sopan.
"Saya akan berada di kantor Hokage, membantu Tuan ke Enam mengurus dokumen misi," kalimat Sasuke tak kalah sopan.
"Souka, sekarang kau adalah asisten Kakashi."
"Tidak juga," Sasuke tersenyum, "saya hanya membantu seikhlasnya, bersama Naruto dan Shikamaru-kun."
"Iya, dia masih tergolong baru, perlu di bantu beberapa orang."
Mata Hanabi gencar meneliti dua orang di sana, Ayahnya hanya berbicara dengan seorang pria mantan nuke, tapi sopan santunnya seolah pria itu adalah bangsawan berkelas. Pernah suatu waktu, ketika Naruto Niisan datang ke mansion Hyuuga untuk sebuah urusan, Hiashi hanya menyuguhkan ocha tanpa merk, kalimatnya tidak formal, bicara sekenanya, dan dia tidak pernah tersenyum. Tapi jika Sasuke Niisan yang datang, Hiashi menyuguhkan gyokuro, memanggilnya dengan sebutan 'san' tersenyum didepannya, dan mereka mengobrol seperti orang yang sudah lama kenal. Apa beda Sasuke dan Naruto, mereka sama-sama kuat, sama-sama populer, sama-sama dari clan berkelas, dan sama-sama memiliki wajah tampan.
"Sasuke Niisan," Hanabi selalu sukses memotong pembicaraan seseorang.
"Iya," Sasuke berpaling pada gadis remaja di samping Hiashi.
"Apa yang dikerjakan Naruto Niisan sekarang, aku jarang bertemu dengannya."
"Entahlah, aku bertemu dengannya tiga hari yang lalu di pesta Tenten."
"Malam ini datanglah ke mansion," Hiashi menepuk pundak Sasuke.
"Tapi saya—"
"Datanglah, kita akan makan malam bersama, sudah lama aku tidak menjamu seorang Uchiha," Hiashi tertawa, "Sasuke-san harus mencicipi sakura mochi buatan Hyuuga," tawanya semakin nyaring, sukses mengundang perhatian beberapa shinobi di sekitarnya.
"Eer…menurutku Sasuke Niisan biasa saja," Sasuke hampir terkekeh mendengar kalimat Hanabi, "datanglah ke mansion, akan kubuatkan sesuatu untuk Niisan."
"Biasa saja?"
"Sasuke Niisan tidak setampan Naruto Niisan wa Neji Niisan," dia mengucapkan kalimat itu seraya jemarinya menunjuk bulu-bulu tipis di atas bibir Sasuke, "menurutku itu aneh," ia nyengir jijik.
Spontan Hiashi berdehem, matanya melotot, "Hanabi," well itu adalah kode.
Hanabi dan Hinata adalah Nona besar, tapi sifat dan tingkah mereka tak jauh berbeda dari gadis pada umumnya. Sifat dan perilaku Haruka-san menurun pada dua puterinya, rendah hati, baik hati, dan tidak angkuh. Walau dua Anak gadisnya adalah keturunan souke, mereka tak malu-malu terjun langsung ke dapur.
Daidokoro ramai sejak sore hari, para bunke sibuk membantu dua puteri souke yang sedang memasak. Hinata nampak mengarahkan beberapa bunke sementara Hanabi tidak lepas dari masakan Hinata. Dibandingkan Hanabi, Hinata jauh lebih pandai di dapur. Gadis kecil itu tidak bisa disalahkan, dia adalah kunoichi aktif yang wajib melaksanakan misi, waktunya di mansion jauh lebih sedikit. Sementara Hinata lebih banyak berdiam diri di mansion, sudah pasti waktunya jauh lebih banyak.
Terkadang Hanabi menanyakan sesuatu, misalnya jenis bumbu, resep masakan, atau beberapa nama bahan, jika sudah begitu, Hinata akan mengambil kertas dan pulpen, dia sengaja menulisnya agar Hanabi tidak lupa lagi, "nee Hanabi-chan, sebaiknya kita tinggalkan sakura mochi ini, tepung berasnya masih perlu di rendam lebih lama lagi," jelasnya, Hanabi mengangguk, "ini adalah bambu muda yang telah di rebus, lihat—teksturnya sangat lunak," selain Hanabi, beberapa bunke remaja nampak memperhatikan penjelasan Hinata, "sementara ini adalah nasi, jamur dan tahu goreng," mereka mengangguk tanda paham, "semua bahan kita satukan seperti ini," Hinata mengaduknya, "tuangkan kecap manis, gula, sedikit bumbu ikan, jangan terlalu banyak, nah—yang terakhir tuangkan sake," sendok garunya diberikan pada bunke, "Bibi aduklah hingga merata, setelah itu masak dengan api sedang."
"Sugoi…," Hanabi menepuk jemarinya, "segampang itu kah?" ia kagum, "kau menulisnya Hanabi-chan?" Hanabi selau lupa menulis setiap resep yang diajarkan, si gadis nyengir, "aku lupa Neechan," dua buah wan dan denshi renji diserahkan pada Hanabi, "untuk apa ini?" Tanyanya, "kita akan membuat bahan campuran untuk sakura mochi, kali ini kau harus menulisnya."
Si malang Hinata memasak dengan wajah pucat nan mata sembab, dia melakukan ini semua agar Hanabi tidak khawatir. Dulu, sebelum Neji nii meninggal dunia, Hinata selalu menceritakan segalanya. Kini hanya Hanabi seorang, bukannya tidak percaya, tapi Adiknya itu adalah kesayangan Otou-sama, dan dia selalu menceritakan segalanya pada Otou-sama. Tapi bukan berarti dia tidak baik, hanya saja sikapnya terlalu ceplas-ceplos untuk menyimpan rahasia.
Matahari tenggelam setengah tujuh malam, langit Konoha hitam pekat tanpa bintang. Udara hangat masih jelas terasa, hari-hari terakhir musim semi menjadi momen khusus bagi beberapa orang. Mereka percaya bahwa Doa di penghujung musim akan mendatangkan banyak kebaikan.
Termasuk keluarga Hyuuga, sebelum menjamu tamu mereka, Hiashi beserta puteri-puterinya menyempatkan diri berdoa di Kuil. Ini adalah Rabu malam, hari yang baik untuk berdoa, mengucap syukur kepada Kami-sama seraya meminta keselamatan dunia. Hiashi juga berharap clan Hyuuga akan selalu makmur tanpa perpecahan, semoga Hairees baru Hyuuga mampu mengemban tugas mulia, membawa nama Hyuuga sebagai clan yang lebih besar.
Tamu kali ini hanyalah seorang jounin Konoha, tapi Hiashi menyambutnya bagai pangeran dari kerajaan kaya raya. Hinata dan Hanabi sama-sama mengenakan furisode warna ungu, lambang khas Hyuuga nampak di punggung mereka, Hiashi mengenakan outfit kebesaran Hairees, atasan dan hakama warna cokelat disertai jubah warna hitam, lambang keluarga juga tertera dipunggungnya.
Hiashi di apit oleh kedua puterinya, mereka berjalan menuju washitsu utama, well tamu kehormatan menunggu mereka di sana. Terkadang si kecil melakukan roll eyes style, maksudnya ini hanyalah Sasuke Niisan, jadi bersikaplah sewajarnya. Mengenakan furisode adalah kesialan terburuk bagi Hanabi, wajahnya masam, dahinya berkerut, tatapannya sebal, dan ia benar-benar benci kuncir rambutnya. Hinata tersenyum disisinya, walau matanya sembab, si Kakak malah jauh lebih cantik. Rambutnya dibiarkan tergerai indah, aroma parfum mocca tercium jelas dari tubuhnya, riasannya minimalis tapi tak mengurangi kesan mewah. Sementara Hanabi, selain baju berat itu, ia sama sekali tak mengenakan riasan apapun, sesungguhnya ia adalah gadis tomboy yang malas berurusan dengan bedak dan lipstik.
Uchiha Sasuke membungkuk hormat kala menyadari kedatangan sang pemilik mansion. Pria itu lagi-lagi menguncir rambutnya, wajahnya putih bersih ditemani rinnegan di kiri matanya. Hakama warna hitam disertai atasan warna senada masih sama seperti kemarin, well—atau itu memang baju di pesta kemarin, entahlah—intinya outfit itu tak merubah kesan tampan dirinya.
Hinata hanya duduk sebentar, ia tak terlibat dalam pembicaraan di sana. Sebagai Anak gadis yang paling tua, ia wajib menyajikan menu makanan di depan tamunya, menyadari Kakaknya pergi ke dapur, Hanabi mengekor, "biarkan aku melakukannya, biarkan aku melakukannya," ia bersemangat.
Para bunke telah menata semuanya, takenoko gohan sebagai menu utama, kue sakura mochi dan ocha gyokuro sebagai hidangan penutup. Menu ini adalah makanan khas di musim semi, warga Negara Api menyukai sesuatu yang unik dari daun bunga Sakura dan bambu muda. Hinata berjalan paling depan, ia membawa baki berisi hidangn utama dan gyokuro, Hanabi berjalan dibelakangnya, dua jemarinya memegang baki berisi sakura mochi, sementara tiga orang bunke masing-masing membawa kappu, sara, saji dan hashi.
Tawa Hiashi terbahak-bahak, Sasuke tersenyum disisinya. Dua manusia itu nampak akrab satu sama lain, Hiashi yang kolot dan Sasuke yang pendiam, siapa sangka mereka akan berubah ceria kala saling bercakap.
Seperti kemarin-kemarin, Hinata tak berani memandang wajah tampan Uchiha Sasuke. Selepas insiden tuduhan godaan, ia berjanji tidak akan berurusan lagi dengan seorang Uchiha. Jika bukan karena Ayah dan Hanabi, Hinata lebih memilih berdiam diri di machiya, tapi jika ia melakukanya Hiashi, akan curiga dan bertanya macam-macam. Terlebih lagi, Sasuke memegang rahasia penyakit Hinata, mengadukannya ke Hiashi sama saja dengan mengumbar rahasianya sendiri.
Takenoko Gohan tersedia di atas meja, sakura mochi dan ocha hangat nampak menarik perhatian, tapi mereka akan menyantap itu setelah hidangan utama. Hanabi tanpa malu-malu menyantap lebih dulu, ia mengambil bagian lebih banyak hingga sara miliknya penuh. Hiashi mempersilahkan tamu utama, kalimat selanjutnya membuat Hinata merinding, "Hinata, sajikan hidangannya pada Uchiha-san."
1 menit.
2 menit.
"Hinata,"
"Aaa—hai' Otou-sama," Hinata berpindah ke sisi Sasuke, ia mengambil sumpit dan memindahkah Takenoko gohan di sara milik tamunya itu, seharum-harumnya menu utama, wangi parfum Hinata jauh lebih wangi, Sasuke mencium jelas aroma mocca di sisinya, "cukup," katanya, "makanlah lebih banyak, kami menyediakan ini untuk Sasuke-san," kata Hiashi.
Hinata kembali ke tempatnya, malam ini dia akan setia sebagai pendengar. Hiashi bicara panjang lebar, jika di hari–hari biasa ia pantang bicara saat makan, kini peraturan itu hilang entah kemana. Sasuke menanggapi sesekali, kadang ia hanya mengangguk seraya mengunyah makanannya, "aku yang memasak ini semua," Hanabi yang gemar memotong kalimat kini ngerocos dengan mulut dipenuhi nasi dan bambu muda.
"enak," Sasuke menanggapi.
"Benarkah? Si gadis bersemangat, diliriknya Hinata, Kakaknya itu bahkan belum menyentuh apapun, "Hinata-neechan, makanlah sesuatu," tatapannya khawatir, "Hinata, apakah kau sedang sakit?" Hiashi yang bertanya.
"Ie' a-aku baik-baik saja Otou-sama."
"Makanlah sesuatu, bukankah kau yang memasak ini semua—"
"Otou-sama,…"Hanabi protes, "aku yang memasak ini bersama Neechan," pipinya gembung.
Lalu keadaan kembali normal, Hiashi kembali pada topik pembicaraan mengenai masa lalu Uchiha dan Hyuuga. Percayalah, kisah ini telah ribuan kali dibahas, Hanabi dan Hinata bahkan hafal setiap bagiannya. Entah Sasuke pernah mendengarnya atau tidak, sampai makanan dipiringnya habis, Hiashi masih setia dengan ceritanya.
Seorang bunke mengambil piring–piring kotor, bunke lainnya mengganti dengan piring yang ukurannya lebih kecil. Sekali lagi Hinata menyajikan sakura mochi di depan Sasuke Uchiha, tidak lupa gyokuro hangat dituangkan ke dalam kappu.
"Sakura mochi buatan Hinata sangat enak," puji Hiashi, "Hanabi yang membantu Hinata neechan," Hanabi tak ingin ketinggalan di sebut namanya, "baiklah, kau yang membuatnya," Hiashi mengalah, "masakan puteri anda sangat enak," puji Sasuke.
"Hinata, kau dengar itu, katakan sesuatu pada Sasuke-san."
"Aaa—Sasuke-san terlalu memuji, masakan saya biasa saja," katanya.
"Bagaimana latihanmu?" Dengan entengnya Hiashi menyinggung itu, "puteriku sangat beruntung di bimbing oleh seorang Uchiha," Sakura mochi dengan lancar dilahapnya, "sampai di mana latihanmu?"
"…."
"Hinata?"
"Pengintaian, Hiashi-sama," Sasuke menjawabnya.
"Souka, sudah sejauh itu rupanya, tidak semua shinobi seberuntung dirimu."
"Otou-sama…."
"Latihannya akan berlanjut hingga musim panas berakhir," diteguknya gyokuro, "kuatkan dirimu."
"Otou-sama…."
"Ayah, Hinata Neechan ingin mengatakan sesuatu."
"Katakanlah, Nak…."
"…."
"Neechan…." Hanabi mengusap punggung Kakaknya, ia yakin ini masih lanjutan tadi siang, "tenangkan diri Neechan, pikirkan baik-baik," bisiknya.
"Otou-sama, a-aku—"
"Ada apa?"
"A-aku ingin kembali ke Suna."
"Apa?"
"A-aku ingin kembali ke Sunagakure."
1 menit.
2 menit.
Hiashi diam membatu, jika tadi ia sangat bersemangat, kini raut wajahnya kaku, matanya fokus pada puterinya, terlihat jelas ia tak senang mendengar kalimat Hinata, "otou-sama…," Hanabi yakin Ayahnya sedang marah kali ini.
"Sasuke-san," ada jeda, Hinata menelan liurnya berulang-ulang, lehernya serasa tercekat, "Sasuke-san adalah seorang Uchiha, a-aku tak pantas di bimbing olehnya," air matanya mulai berjatuhan, beberapa tetes menodai forisode warna ungu, "Hanabi jauh lebih pantas di bimbing oleh Sasuke-san."
"Neechan…."
"Hanabi-chan adalah kunoichi yang kuat, berbakat, dia sangat pantas di didik oleh Sasuke-san," si gadis lirih.
"Hinata!" Suara Hiashi bagai guntur, wajahnya memerah di sana.
"Otou-sama jangan membentak Neechan."
"Sasuke-san adalah shinobi yang sibuk, dia di pilih langsung oleh Hokage untuk membimbing Hairees," ada jeda, nafasnya memburu, "Sasuke-san telah meluangkan waktunya untukmu dan kau malah bilang ingin kembali ke Suna!"
"Neesan, ini telah di atur oleh Ayah dan Tetua, Neesan tidak boleh berkata seperti itu," Hanabi menenangkah Kakaknya yang terisak.
"Aku tak ingin di bimbing oleh Sasuke-san, aku pun tak menginginkan posisi ini…," suaranya parau.
"Diam!"
"Ayah…jangan bentak Neesan," Hanabi hampir menangis.
"Aku tidak pernah mengajarmu untuk tidak menghargai orang lain!" Tangannya bergetar, Hiashi menahan amarahnya, "bawa saudarimu masuk!" Perintahnya.
"…."
"Hanabi!" Bentaknya lagi.
"Ayah, pelankan suaramu," Hanabi terisak, "Neesan takut mendengarnya."
"Aku telah mengatur segalanya, dan Anak ini malah senang berpergian ke Desa orang lain!"
"Kakak, sebaiknya kita masuk," ia merangkul lengan Hinata, "jangan dengarkan Ayah," bisiknya.
"Posisi Hairees memang untuk Hanabi, kau sebagai Kakaknya wajib mengisi kekosongan jabatan sampai dia benar-benar siap," suaranya tegas, "renungkan! Jangan keluar dari machiya sebelum kau menemukan titik salahmu!"
"Ayah aku—"
"Hanabi, bawa saudarimu masuk!" well Hanabi bawa Hinata masuk, sebelum Hiashi menamparnya di depan tamu.
"Maafkan puteri saya, dia tidak bermaksud seperti itu, dia merasa senang di bimbing oleh Sasuke-san," raut wajahnya menyesal, "dia tetap akan mengikuti setiap sesi bimbingannya, tolong jangan tersinggung."
Awan tebal di pagi hari, cuaca yang sama telah berlangsung selama beberapa hari. Tapi jangan khawatir, ini hanya pengalihan, tsuyu akan datang di Bulan ke empat. Konoha ramai dipadati penduduk, pasar telah melakukan aktifitasnya sejak subuh hari, lapangan di banjiri para genin, shinobi bersiap melaksanakan misi, dan gerbang Desa telah terbuka lebar di sana.
Shikamaru mondar-mandir di depan gerbang, Chouji berusaha menarik lengannya, dan Ino mengumpat pada mereka berdua. Di sisi lain Desa, Kiba dan Shino sedang menunggu seseorang, itu adalah partner baru, si kecil cucu Hiruzen, Konohamaru. Naruto dan Sakura berbelanja di pasar, malam ini mereka akan mengadakan pesta bedua di rumah. Sai dan Anko berwajah datar, atau lebih tepatnya berwajah panik, kedua partner itu akan segera melapor pada Hokage, siang ini mereka akan berangkat untuk misi sesi ke dua. Lee di tonton para genin, si alis tebal sedang melakukan push-up bertubi-tubi, "ayo sensei, semangat," seru mereka, "hei! tinggalkan sensei, kita main bola bersama," kata genin lainnya.
Pemandangan yang sama telah berlangsung selama berhari-hari, bahkan berbulan-bulan atau selama dua tahun terakhir. Semenjak perang berakhir, shinobi tak terlalu khawatir, mereka menjalani kehidupan seperti manusia normal, tidak ada invasi, tidak ada serangan, semua aman terkendali.
Justru pemintaan lebih banyak berasal dari Negara tetangga, non ninja atau non clan. Misi pengawasan, misi pengintaian, misi pengejaran dan bahkan misi pembunuhan. Hokage menerima semuanya, dengan catatan harus diselidiki lebih dahulu. Jika pengawasan, siapa yang akan diawasi? Jika pengintaian, siapa yang akan diintai? Jika pengejaran, siapa yang dikejar? Dan jika harus menewaskan seseorang, siapa orangnya? nuke kah? Koruptor kah? Atau provokator antar Desa. Hokage tidak gegabah, ia tak ingin misi yang dilaksanakn anak buahnya bersifat negatif dan berbuntut panjang.
Sama halnya si gadis Daimyo, Tente-san, dia baru kembali dari sebuah misi tunggal. Sudah menjadi rahasia umum bahwa misi tunggal tergolong misi rank S, beberapa misi rank S mewajibkan shinobi menghabisi nyawa mangsanya.
"Wah…wah…Tenten-chan," Ino menyapa lebih dulu, mereka berpapasan di gerbang Desa.
"Ohayou gozaimasu,"
"Bagaimana?" Shikamaru menghampirinya.
Tenten berdecak, "ck, biasa saja," tentengannya menarik perhatian, "kepala," sebuah pocket ukuran besar berwarna cokelat, "tanpa ini, Daimyo tidak akan percaya."
"Itu resikomu?" Shikamaru terkekeh, Tenten nyengir.
"Ngomong-ngomong, semalam terjadi keributan di gelanggang," Ino si tukang gosip memulai aksinya.
"Keributan?"
Tentengan berisi kepala mangsa di berikan pada tim penyidik Konoha, mereka membutuhkan itu untuk beberapa kepentingan. Buru-buru si gadis meninggalkan kantor Hibiki-san, ia harus melakukan sesuatu dengan bercak darah di seragamnya.
Dua jam si gadis berendam di bak air hangat, betap nikmatnya memanjakan diri setelah melaksanakan misi. Rambut cokelat itu basah sepinggang, yukata warna biru tua cantik ditubuhnya, sekotak kue dango siap di sana, ia membelinya pagi-pagi sekali di dekat kantor Hibiki-san.
Jarak antara rumah susun shinobi dengan area mansion tidak terlalu jauh, apalagi jika melewati jalan tembusan di dekat toko souvenir, kau akan sampai di sana dalam waktu lima belas menit.
Tenten tersenyum manis, bunke tahu persis gadis yang sedang berjalan kearahnya, "Ojou-sama," sapa si bunke, "aku ingin mengunjungi Hinata-san," aroma dari kota warna orange nampak menggoda selera, si bunke tertunduk sedih, "Hinata-sama sedang sakit."
"Sakit?"
"Kemarin terjadi keributan di washitsu utama antara Tuan Puteri dan Tuan Besar," si bunke agak berbisik, "Hiashi-sama marah-marah," katanya lagi.
"Paman memarahi Hinata?" Tenten berbisik pula.
"Maafkan saya Ojou-sama, saya tidak berhak bercerita seperti ini."
"Bisakah aku bertemu dengannya?"
Tenten adalah teman Neji, dia akrab dengan keluarga Hyuuga sejak dulu. Bahkan sebelum dirinya lahir, Ayahnya telah mengenal Hiashi-sama. Sebenarnya mereka masih satu keluarga, istri Hiashi bersaudara tiri dengan Ayah Tenten, jadi wajar jika si gadis bebas berlalu-lalang di mansion Hyuuga.
Hiashi sedang tidak di rumah, ia tak merasakan aura si Hairees sejak tadi, "kemana paman Hiashi?" Tanyanya pada bunke, "entahlah Ojou-sama, Hiashi-sama pergi pagi-pagi sekali."
Berulang kali ia mengunjungi mansion ini, berulang kali pula ia memasuki machiya para souke. Well, machiya yang tidak bisa dimasuki sembarang orang kecuali dari clan sendiri. Dalam hati ia merasa bersalah, Tenten telah berjanji kepada Neji, bahwa ia akan selalu menjaga Hinata. Tapi nyatanya, ketika Uchiha Sasuke menyindirnya di pesta, Tenten tak mampu berbuat apa-apa, sesungguhnya ia pun takut berhadapan dengan Uchiha itu. Malam hari setelah mengadakan pesta, Tenten di panggil ke kantor Hokage, dia ditugaskan untuk sebuah misi tunggal. Jika saja misi itu tidak ada, pagi harinya Tenten pasti akan mengunjungi Hinata.
Dia paham Hinata gadis lugu nan pemalu, dan ia tahu Hinata agak sulit bersosialisasi, maka dari itu ia tak menyinggung soal pidato. Hinata hadir di pesta itu saja, Tenten sudah merasa senang, tapi Sasuke malah mengacaukan segalanya.
Dia duduk termenung, disisinya Hanabi setia menemani, Tenten mendekatinya, mengelus rambut panjangnya, dan mengusap jejak-jejak air mata dipipinya, "Hinata-chan," suaranya lembut.
"Tenten-san," suaranya parau.
Dipeluknya Hinata, "maaf, malam itu aku tak bisa menyusulmu," ada jeda, "kata Ino, Sasuke-kun menyindirmu."
Sebenarnya ia telah menghadapi masalah yang lebih besar dari pada soal pidato itu, "aku baik-baik saja Tenten-san."
"Malam itu Sasuke-kun menyusulmu," dipandangnya lekat-lekat, "apakah dia mengganggumu?"
"Tidak…."
"Apakah dia tidak kemari?" Tatapan Tenten seolah berusaha mencari kejujuran dari kebohongan Hinata.
"Tidak…."
"Sasuke Niisan datang kemarin malam, Ayah mengundangnya makan malam," Hanabi ikut-ikutan bicara.
"Syukurlah, nampaknya kau baik-baik saja, ku pikir dia telah mengganggumu."
"Sasuke-san tidak menyusulku, terjadi sesuatu kah?" ada jeda, "seperti kata Hanabi-chan, Sasuke-san datang ke mansion kemarin malam, bukan di malam ketika pesta Tenten-san berlangsung."
"Sebenarnya Sasuke Niisan menyaksikan Ayah memarahi Neechan."
"Hanabi~" Hinata tersenyum, betapa cerewetnya, "tolong ambilkan gyokuro untuk Tenten-san," dicubitnya pipi sang Adik.
"Baiklah…," gadis itu menggembungkan pipinya, sebenarnya ia selalu tertarik dengan pembicaraan para gadis, tapi kali ini Hinata menyuruhnya mengambil gyokuro, yang berarti bahwa ia tak boleh mendengar pembicaraan mereka, apalagi menyela kalimat Tenten-san.
"Ada apa? Kenapa Paman memarahimu?" Tenten penasaran.
"Tidak kok…."
"Apakah ada hubungannya dengan Sasuke-kun?"
"Cepat-cepat Hinata menjawab, "tidak, tidak seperti itu."
"Lalu?"
"Tidak terjadi apa-apa," ia mengangkat bahunya.
"Tapi kata Ino, kemarin malam terjadi keributan di gelanggang."
"Keributan?"
"Iya, antara Naruto-kun dan Sasuke-kun," ditaruhnya kotak orange itu di atas meja, "aku tak tahu persis kejadiannya, aku baru saja kembali dari misi, Ino yang bercerita, katanya mereka bertengkar," ada jeda, "ku pikir karena Sasuke-kun mengganggumu di pesta lalu."
"A-aku tidak tahu soal itu," well Hinata memang tidak tahu, setahunya kemarin malam Sasuke-kun datang kerumahnya untuk makan malam.
"Kata ino, Naruto telah mencari Sasuke bebebapa hari ini, entah bagaimana caranya—diamenemukannya di gelanggang, lalu terjadi percekcokan hingga berujung perkelahian," raut wajahnya serius, "ku pikir ini ada hubungannya dengan Hinata-chan, makanya aku buru-buru kemari."
"Sasuke-san tidak melakukan apapun padaku, kenapa Naruto-kun memukulnya?"
"Entahlah," kini Tenten yang mengangkat bahunya.
"Tenten-san, a-aku tidak tersinggung, aku baik-baik saja, kenapa Sasuke-san harus di pukul," dari nada kalimatnya, seolah ia menyalahkan Naruto.
"Aku pun tak tahu pasti, Ino yang bercerita."
"…."
"Kata Ino, Wajahnya sampai bengkak lho, kau tahu kan, mereka bersahabat, Sasuke-kun tidak akan menggunakan sharingan untuk melawan Naruto," dibukanya kotak warna orange itu, seketika aroma wangi dango menyeruak, "sungguh Hinata, ku pikir ini karena pesta itu."
"Kasihan Sasuke-san…kenapa Naruto-kun seperti itu…," sesaat ia berpikir, "mu-mungkin ada masalah lain."
"Mungkin saja," ia melahap sebulat dango, "—dan kau sendiri, kenapa Paman memarahimu?" Tatapannya curiga.
"Ti-tidak…a-aku baik-baik saja."
"Jangan bilang kau hendak dinikahkan," Tenten terkekeh.
"Tenten-san~" candaan itu membuatnya tersenyum.
"Nee, akhirnya Hime cantik ini tersenyum juga, jangan cengeng."
"Sasuke-san…"
"Biarkan dia…dia memang aneh sejak dulu," nada suaranya angkuh, "sejak di Akademi aku tidak akrab dengannya, ketika dia menghilang, aku diam saja, di misi pengejarannya, aku sengaja membolos, sebenarnya aku pun tidak mengundangnya di pesta itu, dia datang sendiri."
"Tenten-san, jangan begitu, Sasuke-san adalah nakama Tenten-san juga,"
"Iya sih, tapi jangan bela dia, Hinata," kue dango ke dua dilahapnya, "ku rasa Naruto-kun memukulnya berdasarkan kesepakatan nakama, kau tahu sendiri lah…Sakura-chan, Sai-kun dan Yamato-kun, mereka pasti kompak melakukannya, Sasuke-kun dihabisi seperti tikus," Tenten berdesis dalam kalimatnya.
"Tenten-san~hentikan…."
"Kanapa?"
"I-ini Sasuke-san…."
"Lalu kenapa kalau ini Sasuke?"
"Ti-tidak kok…."
"Lalu?"
"Sasuke-san orang yang baik, jangan menyamakan dia dengan tikus."
1 menit.
2 menit.
Hanabi muncul dengan baki berisi tiga gelas gyokuro hangat, "wah…kue dango," ia bersemangat, Tenten mengibas-ngibaskan jemarinya, "ck, lupakan, sebaiknya kita makan kue dango ini."
Sasuke POV
Luka diwajahku sungguh merepotkan, mata kananku nyeri, hidungku sakit, dan tulang pipiku membiru, 'sial, ini terlalu berlebihan,' batinku. Kakashi memberi jatah libur, ia menyuruhku ke rumah sakit sebelum terjadi infeksi. Ku rasa dia bercanda, pergi ke rumah sakit sama saja mencari penyakit, aku kurang suka dengan Tsunade, mulutnya terlalu berisik untuk ukuran Nenek. Dia selalu membahas soal keturunan, seolah itu hanya sekedar menjentikkan jemari. Tidak gampang menghasilkan anak dalam waktu singkat, butuh proses panjang dan menguras banyak tenaga, hehehe, tidak semudah itu.
Malam ini aku dan Yamato hendak berangkat ke Tenggara, tapi posisiku digantikan oleh Lee. Mereka tidak mempekerjakan seseorang dengan luka diwajahnya. Ketika mengaktifkan sharingan, rasa perihnya semakin menjadi-jadi, beberapa bercak darah terlihat jelas, sepertinya terjadi infeksi di dalam sana.
Rasa kantuk melanda, tapi ku lawan mati-matian. Percayalah, jika aku berbaring dan tertidur, demam akan menguasai tubuhku. Infeksi sharingan tidak terlalu berbahaya, tapi efeknya cukup mengganggu. Aku pernah mengalami ini beberapa kali, tubuh menggigil dan tulang terasa ngilu. Kabuto memberiku dua butir penghilang rasa sakit, dia memaksaku terus bergerak, mengeluarkan keringat akan mengurangi intensitas demam.
Untuk urusan keringat, kau tidak perlu berlari keliling gunung lima puluh kali, cukup berlatih kendo di hutan utara. Gerakan dasar kendo jugamampu memperlancar alirah darah, meregangkan otot-otot, memacu kerja jantung, dan yang paling penting, kau akan terhindar dari demam. Inilah salah satu alasan mengapa Itachi-nii selalu prima saat bertarung, ku rasa dia berlatih sejak masih berstatus genin.
Sebelum ke hutan utara, aku sempat menemui Yamato dan Lee, berharap mereka mampu melaksanakan misi dengan baik. Kami mengatur ulang rencananya, karena di situ bukan aku tapi Lee, beberapa strategi harus diperbaharui. Mengingat Lee hanya menguasai taijutsu, maka metode serang yang menggunakan ninjutsu diambil alih oleh Yamato, sementara untuk serangan jarak dekat diambil alih oleh Lee. Aku berjanji akan menyusul secepatnya, malah mereka berkata, 'sebelum kau menyusul, misi ini akan selesai sebelum waktunya,' ck, sombong sekali.
Seseorang sedang memperhatikanku sekarang, dia berdiri dibelakangku sejak sepuluh menit yang lalu. Dia membawa sesuatu ditangannya, sebuah kotak berwarna putih. Tatapannya nanar, bibirnya ingin mengucapkan sesuatu tapi urung dilakukan. Aroma parfum mocca tercium samar dari kulitnya, ck, arah angin selalu tak berpihak padaku. Pura-pura aku tak menyadarinya, berharap ia segera pulang.
Dia memematung di sana, iris amethyst sedang meneliti punggungku. Rinnegan menangkap aura kesedihan, tetesan air mata membasahi pipinya, dan dia membisikkan sesuatu tentang penyesalan, tapi tak kuhiraukan itu.
Apa yang dia inginkan?
Tidak sadarkah dia, bahwa aku sengaja menjaga jarak untuk menghindari hal-hal di luar batas. Atau dia memang sengaja datang kemari untuk dilanggar batas-batasnya, sungguh menggelikkan. Setelah kejadian kemarin, ku pikir dia enggan berurusan denganku, tapi nyatanya dia malah mendatangiku, "sampai kapan kau tetap disitu."
"…."
"Ku pikir kau telah pergi ke Suna."
"…."
Tak terdengar apapun, hanya suara angin disertai isak tangis, "angin malam seperti ini tidak baik untuk paru-parumu."
"Ber-berbaliklah kearahku," menurutku kalimat itu seperti perintah.
"Lalu?"
"A-aku ingin melihat wajah Sasuke-san."
"Lalu,"
"O-onegai, berbaliklah ke arahku," suaranya agak lantang.
Seperti perintah Tuan puteri, kupalingkan wajahku. Refleks tangan kanannya menutupi area bibirnya, matanya membelalak, dan tangisnya semakin menjadi-jadi, "Sasuke-san…."
"…."
"Wajah Sasuke-san," selangkah dua langkah, dia memotong jarak, "ini karena Naruto-kun," jemarinya menyentuh area pipiku yang terluka, "sasuke-san tidak salah apa-apa," ku hempas tangan itu, "aku tidak terluka," kataku.
"Ini salahku," suaranya lirih.
"maksudmu?"
"Sasuke-san dihajar Naruto-kun karena aku…."
"Masa?"
Sasuke End POV
"A-aku kemari bukan untuk mengikuti bimbingan, tapi membawa obat untuk lukamu."
"Sudah sembuh."
"Sasuke-san…."
"Pulanglah, tempatmu bukan disini."
"Biarkan aku mengobati wajahmu, onegai," Hinata makin memetong jarak, "sekali ini saja."
"Apa maumu?"
"Aku tidak mau apa-apa, hanya mengobati Sasuke-san, setelah itu aku akan pulang."
"Aku tidak butuh obat itu."
"Tolong, berhentilah menjadi angkuh."
"…."
"Aku peduli padamu," jika biasanya ia tertunduk malu, kini ia berani memandang wajah tampan itu, "onegai...maukah kau duduk sebentar, biarkan aku membersihkan lukamu."
"…."
"Ku mohon…."
"Lakukan dengan cepat," Sasuke duduk bersimpuh di atas rumput.
Hinata duduk diatas rumput juga, gadis itu melipat kedua kakinya. Kapas dan cairan pembersih luka segera ia keluarkan, "tahan sebentar, ini agak sakit," ditekannya beberapa kali pada area luka, perlakuan itu membuat Sasuke meringis, "ck, sudah," dihempasnya tangan si gadis.
"Sasuke-san,"
"Pulanglah."
Hinata tidak berpaling, dia meneliti jumlah luka diwajah tampan itu. Sharingan terluka, terdapat bercak darah di dalam sana, punggung hidungnya membengkak, dan tulang pipinya biru keunguan. Sasuke rela menerima semua pukulan hanya karena seorang Hinata. Siapa itu Hinata? Hanya gadis lemah yang tidak harus di bela. Dalam hati si gadis merasa bersalah, dia harus melakukan sesuatu untuk menebus salahnya. Kalimat-kalimat Tenten-san sangat menohok hati, dia memojokkan Sasuke seolah dia lah biang kerusuhan. Hinata diam-diam ke hutan utara, tak seorang pun yang melihatnya melenggang pergi meninggalkan mansion Hyuuga.
"Aku yang salah," lirih dan parau suaranya, dia memegangi tangannya yang dihempas oleh Sasuke. Perlahan-lahan tangan itu mengarah pada wajah lebam dihadapannya, awalnya menghindar, tapi akhirnya ia mengalah. Hinata mengelusnya perlahan, ia tak ingin si pemilik wajah meringis lagi, "maafkan aku," bisik si gadis. Elusan itu melambangkan kasih sayang, terlihat jelas itu bukan sesuatu yang biasa. Hinata menyentuh Sasuke bukan seperti pembimbing dan anak didiknya, tapi lebih kepada seorang wanita menyentuh pria.
Betapa lembutnya kulit Hime, Sasuke meresapinya seperti spons halus yang diusapkan ke wajahnya. Saking nyamannya, ia tak ingin perlakuan itu berhenti. Matanya terpejam, dia benar-benar terbuai dalam sentuhan kasih sayang, jarang-jarang seorang wanita memperlakukanmu seperti ini. Hanya Hime Hyuuga tentunya, si gadis yang telah di tuduh sebagai penggoda.
"Ini jenis godaanmu yang lain, huh."
Hinata hendak menarik tangannya, "maaf…," tapi Sasuke menghentikannya, "lakukanlah, goda aku sebelum pikiranku berubah."
"Sasuke-san…."
"Katakan."
"Maaf, aku menyukaimu."
"Hn…."
"Me-menurutmu?"
"Terserah."
"Kau marah," sendu tatapan Hinata.
1 menit.
2 menit.
"Ck, Ayahmu akan membunuhku," Sasuke memijit pelipisnya.
"Sasuke-san, gomennasai…."
Dikecupnya punggung jemari Hinata, "Kau mengujiku," lalu diusapkannya lagi kewajahnya, "jangan kemari, Hinata."
"Aku tidak ingin Sasuke-san terluka karena aku."
1 menit.
2 menit.
"Kemarilah," perlahan ditariknya lengan Hinata, dirangkulnya tubuh mungil itu, "hanya laki-laki bodoh yang tidak tertarik denganmu, aku bukan diantaranya," Sasuke berbisik, "aku menghindarimu bukan karena tidak menyukaimu, tapi karena aku sangat menghargai Tuan Hiashi," ada jeda, nafas hangatnya menerpa perpotongan leher Hinata, sementara si gadis tenggelam dalam rangkulan dada bidang Sasuke, "aku bukan orang baik, aku tak ingin hal buruk menimpa dirimu," air mata membasahi rompi jounin miliknya, memaksanya merangkul lebih erat, "aku juga suka padamu, aku tertarik padamu, jangan menangis lagi."
Dalam pelukan itu, Hinata mendengar samar debaran jantung Sasuke. Debaran ini lebih cepat dari debaran jantung pada umumnya, pria itu berpacu dengan emosinya, hasrat yang selama ini terbendung lumpah dalam sekali serangan, tembok kokoh yang ia bangun, rubuh seketika, Sasuke kalah akan akalnya sendiri. Tubuhnya mulai merespon, kepalanya terasa panas, tenggorokannya serasa tercekat, dan ia benar-benar harus menyelesaikannya malam ini.
"Hinata…."
"Hm…."
"Katakan sesuatu."
"Sasuke-san seperti orang yang sesak nafas," sungguh lugu si gadis.
Sasuke hampir terkekeh mendengar itu, "aku menginginkannya."
Hinata memandang wajah yang kini memandangnya pula, wajah mereka sangat dekat, hidung mereka saling bersentuhan, Sasuke memainkan ujung hidungnya pada ujung hidung Hinata, aroma khas pria tercium jelas, keringatnya menguasai indera penciuman Hinata, tak ada lagi aroma parfum rasa mocca, tergantikan oleh aroma pria yang sedang dikejar hasratnya sendiri.
"Aku bau?"
"Ie'…aku suka aroma Sasuke-san," irisnya terfokus pada kumis tipis di atas bibir Sasuke, menyadari sedang dipandang, si pria mendekatkan bibirnya, "jangan,"si gadis spontan, dia melepaskan rangkulan si pria.
"Kenapa jangan, huh," satu lengannya cepat merangkul tubuh itu kembali.
"A-aku tidak tahu cara melakukannya."
"Akan kuajari," dikecupnya bibir itu sekali, sekedar membuatnya basah, dijilatnya bibir itu sekali, sekedar membuatnya hangat, "bagaimana? Kau suka?' Hinata blushing, "basah," jawabnya, Sasuke terkekeh, "apanya yang basah?" godanya, "lidah Sasuke-san," jawabnya lugu.
"Ketika kumasukkan lidahku, sambutlah dengan lidahmu, lalu biarkan lidah kita bermain, itu sangat nikmat, kau pasti akan suka."
"Benarkah?"
Sasuke tak perlu menjawab iya atau tidak, segera ia menyerang bibir merah yang menunggu untuk diserang. Awalnya si gadis agak kaget, tapi lama kelamaan ia mampu mengimbangi. Hinata mengerang ketika bibir bawahnya tergigit, tapi tak berlangsung lama karena Sasuke membuat lidah mereka menari di dalam sana. Terdengar sesekali lenguhan kecil, refleks tubuh bereaksi, jemarinya menyisir rambut kelam Sasuke, tekadang dijambaknya pula.
Tak ada ampun, Sasuke menyerang Hinata habis-habisan, ia sama sekali tak memberi jeda pada si gadis, pagutannya semakin lama semakin cepat dan memburu, gerakannya mengandung nafsu, tubuhnya memaksa tubuh si gadis terbaring di atas rumput, satu lengannya menindih lengan Hinata, sementara dua lengan Hinata mengelus area punggung dan leher Sasuke.
"Uuh…Sasuke," lenguhnya.
"Sedikit lagi, aku belum puas," birahinya memuncak, lakukan sekarang atau tidak sama sekali, "Hime, aku menginginkanmu," saliva keduanya menyatu dalam kenikmatan, aroma Sasuke sungguh memabukkan, Hinata kalah dibuatnya. Walau terbungkus yukata, ia bisa merasakan betapa kenyal di dalam sana, "lepas," bisiknya, "Sasuke…," Hinata khawatir, "tidak apa," bisiknya lagi.
"Ini susah dilepas," katanya, "lain kali pakailah pakaian yang lebih simpel," tak kehabisan akal, satu lengannya menyelinap ke dalam yukata, ia meraba bra motif rendah di dalam sana, tangannya berusaha mencari celah, atau lebih tepatnya mencari bongkahan indah yang dilihatnya tempo hari.
"Kau indah," pujian dalam bisiknya.
"Aku malu—"
"Tidak apa , aku suka ini."
Basah tangan Sasuke, kulit Hinata dibanjiri peluh. Ini sangat menguntungkan, betapa jemarinya mampu bereksplorasi akibat landasan yang lembab dan licin, "Sasuke—uuh...," lenguh si gadis, dikecupnya lagi, mereka memainkan lidah untuk kedua kalinya, sesekali si pria berbisik nakal untuk membangkitkan gairah si wanita, "kau takut, huh? Kau berkeringat, akan ku buat kau kelelahan, nikmatilah," bisiknya lagi dan lagi.
"Sasuke, hentikan...," ditariknya tangan Sasuke dari dalam yukatanya.
"Bersabarlah, sebentar lagi kau akan merasa nikmat," lalu tangan itu berpindah ke bawah, jemarinya menggerayangi paha mulus Hinata, si gadis bergidik geli, "hentikan…" dihempaskannya tangan itu.
"Hei, tenanglah, kita sedang bersenang-senang," tangannya kembali melakukan tugasnya.
"Sasuke-san…."
"Apa lagi? Nikmatilah…."
"Apakah kau sering melakukan ini pada wanita."
"Tidak juga."
"Aku takut."
"Takut apa?"
"Banyak hal…."
"katakan salah satunya."
"Perpisahan."
"…," kepalanya bersandar pada payudara Hinata yang masih tertutup yukata, "kau akan pergi ke Suna?"
"Entahlah, aku hanya merasa aneh."
"Ingin ku hajar sampai puas, huh?" Sasuke kembali membisikkan kalimat-kalimat erotis, bisikan itu sukses membuat mereka saling berpagutan untuk yang ketiga kalinya. Kali ini Sasuke lebih aktif, ia menggigit bibir Hinata berulang kali, "jangan di gigit," protesnya, "kalau begitu berikan lidahmu."
Hinata menikmati perlakuan itu, sementara jemarinya asyik meremas area pinggang Sasuke. Paham maksudnya, tangan Hinata diarahkan ke area vitalnya, "kau menginginkan ini? Raba aku."
"Sasuke-san…."
"Ini adalah sumber kenikmatanmu."
Dia membuka kancing dan ritsletingnya, tapi agak sulit dengan satu tangan, "jangan di buka Sasuke-san, biarkan saja…."
"Bantu aku, ini sesak di dalam," buru-buru ia melorotkan setengah celananya, begitu pula dengan celana biru tuanya, "ooh, Sasuke…." Hinata sengaja memalingkan pandangannya, tapi Sasuke menahan wajahnya, memaksa si gadis melihat kejantanannya.
Sesuatu yang pernah digenggamnya di dalam mimpi kini terpampang jelas dihadapannya, "Sasuke-san hentikan…," besar dan kaku disana.
"Pegang," perintahnya.
"Tidak."
"Tidak suka?"
"A-aku belum pernah melakukannya," mood Hinata berubah seketika.
"Ini untukmu, lakukanlah sesekali, di jamin kau akan suka."
"Tidak…."
Sasuke terkekeh, "Kenapa? Ini sangat menyenangkan."
"Tidak mau."
"Kau menolakku?"
"Bu-bukan, hanya saja—" belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Sasuke telah mengarahkan tangannya pada area itu.
"Tidak, hentikan," Hinata menarik tangannya kembali.
"…."
"Ku mohon jangan marah…."
"Bukankah ini yang kau inginkan, huh?"
"Sasuke-san, bukan seperti itu maksudku."
"Maksudmu?"
"A-aku menyukaimu, tapi bukan dengan cara seperti ini."
"Ingat, kau yang menggodaku lebih dulu."
Hinata bangkit berdiri, ia merapikan pakaiannya yang acak-acakan. Tubuhnya bergetar, dan ia benar-benar ketakutan sekarang.
"Aku tidak bisa."
"Alasannya?"
"Ki-kita belum menikah," tatapannya nanar.
"Lalu?"
"A-aku tidak bisa."
"Lalu?!" Nada kalimatnya mulai ketus.
"Aku tidak bisa," Hinata berusaha menjelaskan alasannya, tapi saking paniknya, ia hanya terus mengulang kalimat yang sama.
"Katakan alasanmu."
"Kau bukan milikku…."
"…."
"Lalu?"
"Kau bukan milikku, dan kita tidak terikat hubungan apapun," berusaha ia mencari jenis kalimat lain yang maksudnya sama.
"Berhenti mengucapkan kalimat yang sama," Sasuke bangkit berdiri, dia merapikan celananya yang setengah melorot.
"Aku…."
"…."
"Aku harus pulang."
"Kau menolakku begitu saja, huh," entah bagaimana caranya, kini dia telah berdiri di belakang Hinata, tangan kanannya merangkul pinggang si gadis, "katakanlah sesuatu," dagunya bersandar di pundak itu.
"Maaf…."
"Setidaknya beri aku sekali saja," hangat nafasnya geli menerpa perpotongan leher Hinata.
1 menit.
2 menit.
"Lepaskan aku, Sasuke-san, kita tidak boleh seperti ini, aku tidak ingin terluka…."
"Ku antar pulang."
"Tidak, biarkan aku pulang sendiri," tak berani dipandang wajah itu, "maaf, telah mengganggu latihanmu."
Prince of Sharingan, 29 Maret 2017
*saya sangat bersyukur jika minna-chan membantu saya mengoreksi kalimat yang typo.. (tapi kalo g mau… g apa apa juga hehehhe). Sebenarnya saya benar-benar butuh bantuan minna-chan hehe : ditunggu typo-x
*saya berharap minna-chan bersabar membaca FIC gaje ini …gomennasai kalau banyak kekurangan…banyak banged malah…dan ini bukan fic sasuhina terbaik…banyak kurangx…
*untuk FMS, akan tetap di publish ulang tapi setelah melalui proses edit yang panjang, dan saya masih mencari waktu yg tepat.
*untuk yang nanyain akun wattpad: POSharingan
