Disclaimer: Masashi Kishimoto
Main pairing: SasuHina
Genre: Romance, Hurt
Rated : M
6
Déjà vu
Aneh, angin yang berhembus malam ini terasa hangat menyentuh pori-pori, titik-titik peluh jatuh pertanda suasana di sekitar panas membara. Pedang yang dijatuhkan ke sembarang tempat entah di mana keberadaannya, pria itu masih sibuk dengan si Nona cantik yang terbaring di atas rumput.
Seseorang dengan pangkat jounin tidak harus memakai rompi jounin setiap hari, apalagi bagi mereka yang tidak suka pamer, rompi jounin hanya akan digunakan pada saat perang saja. Rompi milik Sasuke tersimpan rapi di dalam oshiire, tapi karena suatu alasan, rompi itu sengaja dipakai untuk pengalihan.
Beredar kabar dari si pirang Ino Yamanaka, bahwa terjadi perkelahian di gelanggang kemarin malam, pelakunya adalah Uzumaki Naruto dan Uchiha Sasuke. Kabar itu bukan sekedar isapan jempol belaka, buktinya wajah babak belur Sasuke sukses menarik perhatian Hokage. Lebam di mata kirinya berujung infeksi ringan, sharingan tak akan bekerja maksimal dalam kondisi ini.
Padahal Sasuke hendak pergi bersama Yamato untuk sebuah misi di Tenggara, tapi mengingat kondisinya sekarang, rasanya tidak mungkin. Lee-kun yang menggantikannnya, pengguna taijutsu itu siap kapan saja dan dimana saja. Betapa sombongnya mereka kala berkata, 'sebelum kau menyusul, misi ini akan selesai sebelum waktunya,' sebagai jounin A rank yang diakui kemampuannya, tentu Sasuke kesal bukan main, diam-diam dia menyusul mereka.
Sasuke sengaja mengenakan seragam resmi jounin, seolah-olah hendak melaksanakan tugas yang super resmi, dia melakukan itu agar lolos di gerbang Desa. Petugas piket hanya beberapa junior, pasti akan mudah menipu mereka. Tapi takdir berkata lain, yang berjaga kali ini bukanlah junior, melainkan seorang senior, bahkan melebihi senior. Yeap, Kakashi paham betul watak mantan muridnya, Sasuke tidak akan semudah itu mengatakan 'iya' mengingat dia bukanlah murid penurut. Dia terkekeh kala menyaksikan seorang keturunan Uchiha mengenakan rompi barunya, Sasuke memicingkan matanya, alisnya bertautan, dan bibirnya mengumpat habis-habisa. Tanpa basa-basi ia melenggang pergi seolah tak terjadi apa-apa.
Sasuke bukan tipe shinobi yang selalu rindu rumah, tak ada misi bukan berarti dia harus kemballi ke mansion Uchiha. Hutan utara adalah tempat pelariannya, membuang peluh dengan berlatih kendo akan baik untuk staminanya. Apalagi pasca infeksi sharingan, sedikit berolahraga akan mengurangi intensitas demam dan ngilu tulang.
Awalnya semua berjalan lancar, tapi seorang gadis yang belakangan ini cukup mengganggu datang mengganggu lagi. Hyuuga Hinata banyak bicara tentang perasaan, gadis itu bahkan menangis dengan kotak P3K ditangannya. Dia mengenakan yukata manis—warna tosca tanpa motif, rambutnya panjang menarik perhatian lelaki, bibirnya warna merah alami dan terus bergerak, memancing selera Sasuke untuk segera mengecupnya.
Bermula dari insiden tenggelamnya Hime di sungai, lalu insiden menemukan Hime mandi di sungai, kini ia menemukan fakta baru, bahwa begitu mudahnya mendapatkan seorang keturunan souke Hyuuga. Hanya mengucapkan beberapa kata ajaib seperti, 'iya, aku suka padamu, ia aku tertarik padamu, sudahlah jangan menangis lagi,' dan Hyuuga Hinata siap digerayangi tubuhnya.
Si gadis melenguh nikmat, Sasuke menyerang bibirnya berulang kali. Mereka memainkan lidah di sana, gigitan-gigitan kecil menciptakan lecet diwajahnya. Satu tangannya dalam kuasa Sasuke, sementara dua tangannya mengacak-ngacak rompi baru milik Sasuke. Tangan Hinata tak karuan, dia menggenggam apa saja yang bisa ia genggam. Si gadis benar-benar kalah oleh hasratnya sendiri, sentuhan lelaki yang disajikan tak ada duanya, mereka bercumbu layaknya sepasang suami istri yang baru menikah.
Sasuke di ujung tanduk, batinnya mengamuk, itulah hasrat terpendam, sesuatu yang beberapa hari ini ia tahan mati-matian, sampai harus mengunjungi mansion Hyuuga hanya untuk memperingatkan Hime agar menjauhinya. Tapi pada kenyataannya, takdir berkata lain, buktinya sekarang Hime berada dibawahnya dan ia berada di atas Hime. Aktif jemari Hime menyelinap masuk ke dalam rompinya, kaos jounin warna hitam masih terlalu tipis hingga ia merasakan jari-jemari mungil itu meremas otot dadanya berulang kali. Rasa geli bercampur nikmat bersatu di bawah perutnya, sesuatu di dalam sana merespon. Dia tak ingin berakhir di kamar mandi seperti kemarin, rasanya terlalu aneh ketika kau memperoleh nikmat dari sentuhanmu sendiri.
Dia membuka kancing dan ritsletingnya, tapi agak sulit dengan satu tangan, "jangan di buka Sasuke-san, biarkan saja…."
"Bantu aku, ini sesak di dalam," buru-buru ia melorotkan setengah celananya, begitu pula dengan celana biru tuanya, "ooh, Sasuke…," Hinata sengaja memalingkan pandangannya, tapi Sasuke menahan wajahnya, memaksa si gadis melihat kejantanannya.
Sesuatu yang pernah digenggamnya di dalam mimpi kini terpampang jelas dihadapannya, "Sasuke-san hentikan…," besar dan kaku disana.
"Pegang," perintahnya.
"Tidak."
"Tidak suka?"
"A-aku belum pernah melakukannya," mood Hinata berubah seketika.
"Ini untukmu, lakukanlah sesekali, di jamin kau akan suka."
"Tidak…."
Sasuke terkekeh, "Kenapa? Ini sangat menyenangkan."
"Tidak mau."
"Kau menolakku?"
"Bu-bukan, hanya saja—" belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Sasuke telah mengarahkan tangannya pada area itu.
"Tidak, hentikan," Hinata menarik tangannya kembali.
"…."
"Ku mohon jangan marah…."
"Bukankah ini yang kau inginkan, huh?"
"Sasuke-san, bukan seperti itu maksudku."
"Maksudmu?"
"A-aku menyukaimu, tapi bukan dengan cara seperti ini."
"Ingat, kau yang menggodaku lebih dulu."
Hinata bangkit berdiri, ia merapikan pakaiannya yang acak-acakan. Tubuhnya bergetar, dan ia benar-benar ketakutan sekarang.
"Aku tidak bisa."
"Alasannya?"
"Ki-kita belum menikah," tatapannya nanar.
"Lalu?"
"A-aku tidak bisa."
"Lalu?!" Nada kalimatnya mulai ketus.
"Aku tidak bisa," Hinata berusaha menjelaskan alasannya, tapi saking paniknya, ia hanya terus mengulang kalimat yang sama.
"Katakan alasanmu."
"Kau bukan milikku…."
"…."
"Lalu?"
"Kau bukan milikku, dan kita tidak terikat hubungan apapun," berusaha ia mencari jenis kalimat lain yang maksudnya sama.
"Berhenti mengucapkan kalimat yang sama," Sasuke bangkit berdiri, dia merapikan celananya yang setengah melorot.
"Aku…."
"…."
"Aku harus pulang."
"Kau menolakku begitu saja, huh," entah bagaimana caranya, kini dia telah berdiri di belakang Hinata, tangan kanannya merangkul pinggang si gadis, "katakanlah sesuatu," dagunya bersandar di pundak itu.
"Maaf…."
"Setidaknya beri aku sekali saja," hangat nafasnya geli menerpa perpotongan leher Hinata.
1 menit.
2 menit.
"Lepaskan aku, Sasuke-san, kita tidak boleh seperti ini, aku tidak ingin terluka…."
"Ku antar pulang."
"Tidak, biarkan aku pulang sendiri," tak berani dipandang wajah itu, "maaf, telah mengganggu latihanmu."
Gadis ini baru saja membangunkan seekor macan, dan kini ia malah berkata 'tidak mau' yang dapat diartikan oleh Sasuke sebagai sebuah tindakan penolakan terhadap dirinya. Hinata terus mengoceh tentang perasaannya, membuat Sasuke makin tak mengerti. Betapa simpelnya hubungan antara laki-laki dan perempuan, bertemu, bicara sebentar, saling berjanji, bercinta, setelah itu tentukan sendiri, apakah kalian akan tetap bercinta keesokan harinya atau menyudahi hubungan saat itu juga. Ini adalah dunia shinobi, hubugan antara lekaki dan wanita tidak terlalu diperhitungkan, jika suka lanjutkan, jika tidak suka, hentikan. Hinata menolak bercinta dengan Sasuke, lalu untuk apa dia datang ke hutan utara, jika pada akhirnya percumbuan itu berujung pertengkaran.
Pria itu memungut pedangnya di belakang batu, sarung pedangnya tergantung di dahan pohon, dia terlalu malas untuk mengambilnya ke sana, sebagai gantinya pedang itu ia hunuskan ke arah Hinata, "jika kau menceritakan kejadian ini pada seseorang, akan kulakukan sesuatu padamu," iya betul, Sasuke adalah seorang mantan nuke, dia adalah shinobi dengan reputasi terburuk, satu kesalahan kecil mampu menjerumuskannya ke dalam masalah. Tetua telah berjanji, jika terjadi hal-hal negatif di dalam lingkungan Negara Api dan itu menyangkut nama Uchiha Sasuke, maka kebijakan pengampunannya akan ditarik kembali. Mereka bahkan membuat sebuah surat pernyataan resmi dengan tanda tangannya di sana, well, dan surat itu kini berada di ruang Hokage. Jika Sasuke kembali merugikan satu atau beberapa pihak, maka Persatuan Aliansi Shinobi siap melaksanakan eksekusi mati, itu isi perjanjiannya.
Menyentuh Hime Hyuuga sama halnya mengusik clan Hyuuga, clan terbesar di Negara api dengan reputasi terbaik melawan seorang pembangkang Desa dengan reputasi terburuk, sudah sangat jelas siapa pemenangnya. Lagipula Hyuuga Hiashi adalah teman Ayahnya, dia tak ingin reputasi Fuugaku dipertaruhkan di sini, mempermalukan nama Fuugaku sama saja memfitnah jasadnya, maka jalan pintas yang wajib ditempuh adalah dengan mengancam Hime Hyuuga.
Wanita adalah makhluk paling cerewet di dunia, jika Hinata berani melaporkan kejadian ini kepada seseorang, dan orang itu melapor kepada Tetua, maka berakhirlah kiprah Sasuke di dunia shinobi. Seseorang disini bisa siapa saja, misalnya Hiashi, Adiknya yang cerewet itu—entah siapa namanya, temannya yang berambut cepol, atau para bunke yang rajin bergosip. Sasuke hanya menghindari keributan, dia ingin Hime mengerti posisinya. Mengancam bukan berarti ingin membunuh, dia berharap semua baik-baik saja dan tidak pernah terjadi apa-apa. Lagipula ia belum melakukan apapun, hanya melorotkan setengah celananya seraya memamerkan pusakanya, rasanya tidak terlalu parah untuk ukuran pria yang diliputi birahi.
"Anggap pertemuan ini tidak pernah ada, pulanglah," pedang itu ia lempar dan tertancap ke dalam anah, "ku harap kita saling membantu, aku memegang rahasia penyakitmu dan kau memegang rahasia ini."
"Sasuke-san…," Hinata maju beberapa langkah.
"Berhenti menyebut namaku," tatapnya penuh kemarahan.
"Bukan seperti itu maksudku…."
Sasuke enggan memandag iris amethyst di sana, mata bengkaknya tertuju ke arah lain, "sampai kapan kau ingin seperti ini, huh?"
"Sasuke-san, aku—"
"membodohi diri sendiri, membohongi diri sendiri, pura-pura tidak tahu tapi sebenarnya kau tahu," ada jeda, "kau hanya pandai bersembunyi di belakang kelemahanmu, dimana kelemahan itu adalah senjatamu untuk menarik perhatian orang-orang—ingin dikasihani, ingin seseorang memperhatikanmu, tapi ketika semua itu datang, kau akan menolak itu kembali," Hime memeluk pinggangnya, air matanya mengalir tanpa henti, "itulah dirimu yang sebenarnya, wanita menakutkan."
"Kenapa kau mengatakan itu semua?" Kalimatnya di sela isak tangis.
"Pulanglah, aku tak ingin melihat wajahmu."
"…."
"Jika kau ingin tetap di sini, maka ambillah tempat ini, tapi untuk besok dan seterusnya, aku tidak akan mengunjungi hutan utara."
"I-ini tempat Itachi-san...aku tidak berhak—"
Sasuke terkekeh, "kau ingat, huh? Hebat juga," dia terkekeh lagi, "pergi, aku tidak butuh wanita cengeng sepertimu."
"Maafkan aku untuk malam ini…."
"Pergilah," sharingan yang sedang terluka pun aktif di sebelah kanan," jangan paksa aku menggunakan genjutsu untuk memulangkanmu."
"Tapi Sasuke-san bilang akan mengantarku—"
"Tidak, pulanglah sendiri."
Hinata mundur beberapa langkah, tangisnya menggema di sekitar, "kau melukaiku," dia berlari meninggalkan Sasuke. Sementara Sasuke, ia memijit pelipisnya yang tidak sakit, malam ini ia banyak mengeluarkan kata-kata, "sial, kenapa jadi seperti ini," umpatnya dalam hati.
Pohon di sana menghalangi mentari, bulat-bulat menyelinap di antara celah dedaunan, cahaya keemasan menerpa wajah cantik Hime Hyuuga. Seorang wanita tersenyum padanya, "haruskah ku tutup tirainya?" tidak juga, matahari baik untuk kesehatan. Wanita itu kembali ke tempatnya, sebuah meja khusus di sudut ruangan. Entah siapa namanya, petugas yang berjaga di perpustakaan selalu berganti-ganti orang.
Minggu lalu adalah seorang Bibi bertubuh kurus, sepertinya dia bertugas di divisi tata usaha juga, Hinata pernah melihatnya mengatur dokumen di sana, mungkin dia kembali ke divisi itu. Penjaga yang sekarang tubuhnya agak gemuk, entah dimana Bibi ini bertugas, wajahnya tergolong baru di Konoha. Si Bibi melipat kedua tangannya, kepalanya bersandar pada dua tangan itu, dia sukes tertidur.
Ini pukul sepuluh pagi, masih terlalu dini untuk membaca buku diperpustakaan, hanya dua orang genin, ditambah Hinata beserta Bibi penjaga, ruangan ini masih terlalu besar menampung empat orang. Genin di sana agak ribut, mereka membahas tentang tokoh pahlawan di dalam buku bergambar. Suaranya menggema di seluruh ruangan, seorang bersuara cempreng dan seorang lagi dengan suara melengking, dua genin itu larut dalam dunia mereka sendiri.
Hinata hanya berjarak lima meter, dia tersenyum, jika kehidupannya dan Hanabi sebebas itu, mereka pasti sangat bahagia. Salah satunya menengok pada gadis dibelakangnya, si gadis menaruh telunjuk dibibirnya, merasa ditegur, genin tersebut nyengir lebar, memamerkan gigi depannya yang rusak karena kelebihan makan permen.
Sepertinya si Bibi kurang sukses melaksanakan tugasnya, dia sama sekali tidak terganggu dengan suara ribut disekitarnya. Entah apa yang ia mimpikan, suara dengkurnya terdengar samar menandakan betapa ia menikmati tidur paginya. Jenis-jenis kekkei genkai, itu adalah tema buku yang dibaca oleh Hinata, ia tetap fokus pada isi bukunya walau dua genin didepannya saling mengoceh satu sama lain. Suara pintu menarik perhatian mereka, seorang pria berpakaian serba hitam agak kesulitan dengan pintu di sana. Entah lantainya yang terlalu tinggi atau pintunya yang tidak rata, hingga tersangkut dan menimbulkan bunyi gesekan di lantai. Dua genin itu sigap, mereka berlari menuju arah si pria, terjadi perbincangan seru tentang kondisi kayunya yang sudah tua, mereka mendorongnya bersama-sama, terdengar suara nyaring yang sukses membuat ngilu telinga, tapi akhirnya pintu itu menutup rapat kembali.
Rupanya dua genin tadi hendak keluar, mereka meloloskan tubuhnya secepat kilat. Si pria tersenyum, dipikirnya dua genin tadi sengaja membantunya, tapi nyatanya mereka memang hendak meninggalkan ruangan. Langkahnya santai menuju arah wanita yang sedang memandangnya, pandangan itu seolah berkata, 'ada apa?' Tapi si pria tak menunjukkan ekspresi apapun. Dia menarik kursi di samping si gadis, mengambil buku tentang kekkei genkai dan menaruhnya sejauh mungkin.
"Apa yang kau lakukan di tempat ini?" Suaranya berat seperti logam.
"Aa—hanya membaca beberapa buku," jawab Hinata.
"Beberapa atau satu saja, itu dua makna yang berbeda," kata si pria, pandangannya tidak lepas dari iris amethyst yang sedang malu-malu.
"Satu saja," jawab si gadis.
"ku rasa sensei sedang mencarimu."
"So-souka," Hinata memalingkan wajahnya, ia kurang nyaman jika ditatap seperti itu, "a-aku akan ke tempat sensei," ia hendak bangkit berdiri, tapi tangan si pria menahannya.
"Ayolah, jangan menemuinya dulu, ini masih pukul sepuluh."
"Ta-tapi…."
Suara dengkuran Bibi gemuk memancing perhatian si pria, lalu dipandangnya kembali Hinata, "dia tidak akan bangun," wajahnya mendekat ke wajah si gadis, bibirnya bicara tanpa suara, aroma nafasnya mint fresh, mungkin dia baru saja meminum atau memakan sesuatu dari daun mint. Hinata berusaha melepaskan genggamannya, terlihat betul dia kurang nyaman.
"Gomennasai," kata Hinata, dia membuat beberapa jarak dengan menarik kursinya menjauh.
Si pria malah terkekeh, "ayolah, bukankah ini menyenangkan," senyumnya mengandung berjuta makna, digenggamnya kembali lengan Hime "akan ku buat kau melayang, Hime…."
"Tolong, jangan seperti ini,"
"Ini hanya sekedar bersenang-senang."
Hinata membuka kedua matanya, tubuhnya aman tertutup selimut tebal, lagi-lagi ia bermimpi tentang pria. Jika kemarin di mimpinya adalah Uchiha Sasuke, di mimpi kali ini ia tak mengenal pria itu, wajahnya samar dan tingkahnya aneh. Dua kali ia bermimpi, dua kali pula tangannya digenggam sangat kencang. Bahkan hangat tangan si pria masih jelas di pori-pori kulitnya, seperti kesemutan rasanya.
Semalam adalah hal yang paling menyedihkan, sekaligus memalukan. Kenapa harus mendatangi Uchiha Sasuke? Kenapa harus berkata 'aku menyukaimu,' padahal mereka tak saling suka satu sama lain, hanya sekedar rasa kagum belaka antara seorang gadis kepada pembimbingnya. Dalam hati ia mengutuk kebodohannya, kesuciannya hampir hilang di tangan seorang Uchiha.
'Apa yang kulakukan?'
'Kenapa aku bertindak sejauh ini?'
'Atau inikah yang kuinginkan?'
Mereka nyaris bercinta, pria itu telah melorotkan setengah celananya, masih terngiang jelas, bagaimana Sasuke mengarahkan jemari Hinata untuk memegang alat vitalnya. Sasuke mencumbunya, menggerayangi tubuhnya, menciumnya, menggigit bibirnya, dan bahkan bekas-bekas aksinya masih membekas di kulit pucat si gadis. Lalu si gadis sendiri, dia mencumbu Sasuke, meremas otot–otot Sasuke, menggerayangi punggung pinggang dan panggul Sasuke, membuat pria itu membisikkan namanya berulang kali, dimana bisikan-bisikan itu mengandung unsur birahi.
oh Kami-sama dari mana Hinata belajar itu semua, inikah yang disebut kedewasaan, dalam artian ia telah siap menikah tapi sayangnya tak satupun pria di Konoha yang sudi melamarnya.
Setelah semua yang terjadi, Hinata bingung menentukan sikapnya, suda jelas bimbingan ini harus segera dihentikan. Dengan atau tanpa persetujuan Hiashi, Hinata harus menghentikan semuanya sebelum semakin bertambah parah. Sangat berbeda dengan Naruto dulu, ia yakin yang dirasakannya pada Sasuke bukan cinta, tapi nafsu. Disinilah inti permasalahannya, dari mana nafsu itu datang, kenapa ia melenggang santai menemui Uchiha Sasuke, hanya mendengar cerita Tenten soal insiden di gelanggang, hatinya sontak terganggu, seolah ia tak akan merasa nyaman sebelum melihat wajah pria itu. Bermula dari rasa khawatir akan luka-lukanya, ia merasa bertanggung jawab atas insiden pemukul itu, lalu entah bagaimana ia dan Sasuke saling bercumbu layaknya sepasang suami istri.
'Aku tak memiliki hubungan apapun dengan Sasuke-san, sebelum atau setelah perang,' batinnya.
Mungkin inilah kekuatan seorang laki-laki, ketika Sasuke berinteraksi dengan Hinata, rasa penasaran tiba-tiba muncul. Hinata tak menyadari itu semua, tapi sebagai laki-laki dewasa, Sasuke jelas menyadarinya, itulah sebabnya dia mengunjungi Hinata untuk memperingatkannya. Tapi Hinata hanyalah gadis biasa, dia malah mendatangi Sasuke di hutan utara semalam, lalu terjadilah percumbuan itu. Walau berakhir dengan pertengkaran, tapi itu tetaplah percumbuan, dan melanggar aturan Hyuuga tentunya. Jika Hiashi mengetahui ini, matilah ia, dan Sasuke akan terkena masalah juga. Sesuai dengan ancamannya semalam, dia akan ditendang dari Desa jika ketahuan menyentuh Hime Hyuuga, jadi salah satu jalan terbaik adalah dengan menutup mulut rapat-rapat.
Hanabi muncul di depan shoji, ia tersenyum manis memamerkan lesum pipi kirinya, "ku rasa One-chan lebih cocok dengan warna biru," pujinya.
"Hanabi-chan…jangan bercanda," jemarinya mengepang rambut panjangnya, Hanabi mengambilkan sebuah kanzashi berwarna hitam, "ini cocok, taruhlah di ujung rambut Kakak," katanya.
"Otou-sama mengajak kita sarapan pagi," matanya meneliti satu persatu botol parfum di dalam kotak rias Hinata, "ku rasa amarahnya sudah reda."
"A-aku salah Hanabi-chan," diberikannya pada Hanabi parfum aroma mocca, "tidak seharusnya Ayah dibantah," well, walau pada kenyataannya ia sedang mencari cara untuk membolos sesi bimbingan tanpa sepengetahuan Hiashi.
Hanabi menumpahkan sedikit parfum itu ditangannya, "mungkin dia akan mencari pembimbing yang lain, menurutku Sasuke-nii terlalu dingin untuk ukuran sensei."
Berbeda dengan washitsu utama, ruang makan Hyuuga sedikit lebih kecil, adalah sebuah ruangan segi panjang khusus untuk menjamu para souke. Duduk di sana Hyuuga Hiashi, ia sedang menikmati gyokuro, kali ini di campur sedikit madu dan kuning telur, sangat baik untuk menambah stamina. Hanabi dan Hinata duduk berdampingan tepat dihadapan Ayah mereka, dia yang cerewet memilih diam, Hinata yang pendiam tetap pendiam seperti biasa.
Tersaji di meja sup miso dan tamagoyaki, dua menu andalan dua puteri Hyuuga di pagi hari, "makanlah, pagi ini kau akan melaksanakan misi, bukan? Hinata, kau juga akan menemui Sasuke-san," Hiashi memulai perbincangan, tapi mata itu tetap fokus meneliti pecahan kerak telur di dalam gyokuro miliknya. Di luar dugaan, ternyata tak ada perbincangan tentang insiden makan malam dengan Sasuke, Hiashi malah bersikap santai seperti hari-hari biasa. Lagi pula jika ia telah berkata A, maka harus A, membantahnya hanya akan memperpanjang masalah. Entah bagaimaa caranya Hinata harus menghindar dari Sasuke, pagi ini ia akan membolos sesi bimbingan.
"One-chan, makanlah sesuatu," ia memberikan beberapa tamagoyaki di atas piring Hinata, "kau terlihat pucat sekali."
"Hei, makanlah sesuatu, wajahmu terlihat pucat," nasi kepal disodorkan pada Hinata, si pria memilah-milah nasi kepal itu, "ini agak panas, pelan-pelan."
"Hanabi?" Dipandangnya wajah sang Adik.
"Iya?" si Adik sedang memilah-milah nasi di piring Kakaknya "ini panas, pelan-pelan makannya."
"Maksudmu?"
Kalimat itu sukses membuat Hiashi fokus kearahnya "ada apa?" Tanya sang Ayah, "Kakak kenapa?" Hanabi memandang wajah bingung Hinata.
Hinata POV
Apa yang terjadi padaku? Rentetan kejadian aneh membayangi hidupku pasca kembali ke Konoha. Mula-mulanya aku bermimpi Sasuke-san mendatangi kamarku, dia hendak berlaku tak senonoh, tapi ku yakin itu bukanlah Sasuke-san, saking kagumnya aku padanya, hingga wajah itulah yang muncul. Lalu di mimpi kedua aku bertemu seorang pria di perpustakaan, dia membisikkan sesuatu yang membuatku tidak nyaman, dia menggenggam tanganku dengan sangat kuat, dan ku yakin terjadi sesuatu setelah itu. Celakanya, deretan kejadian di mimpi itu kupraktekkan di dunia nyata, misalnya mimpi bertemu dengan Sasuke, aku malah mendatanginya di hutan utara, kami bercumbu di sana. Setelah ini entah siapa yang akan menjadi pelarianku diperpustakaan. Jika aku bermimpi membunuh seseorang, apakah aku akan membunuh seseorang juga di dunia nyata? Dua mimpi itu tidak hanya terasa nyata, tapi seolah pernah kualami. Kenapa kusimpulkan begitu, aku baru saja bermimpi dalam posisi duduk, seorang pria menyodorkan nasi kepal padaku, dan kebetulannya, Hanabi pun melakukan hal yang sama di dunia nyata. Kalimat yang diucapkan si pria dan Hanabi sama persis, mereka memilah-milah nasi pun sama persis.
Ku yakin ini bukan genjutsu, selemah-lemahnya kondisiku, aku pasti merasakannya. Titik-titik chakra ditubuhku memang terfokus ke paru-paru, tapi mereka aktif di sana, peka terhadap jenis jutsu yang menyerang, walau tak mampu melawan balik, setidaknya aktifitas titik chakra akan langsung di respon oleh byakugan. Haruskah ku lepas titik chakra ini untuk mengetahui jawabannya? Seperti pesan Neji-nii, jika kubebaskan titik chakra selama satu jam, maka aku akan menanggung sakit di paru-paru selama tiga bulan. Ini terlalu beresiko, Otou-sama akan curiga, setidaknya dia akan bertanya, dari mana aku menciptakan chakra, setahu dia aku lemah dalam mengolah chakra.
"One-chan, kau baik-baik saja?"
"Hinata, istirahatlah jika memang kau perlu," setidaknya nada suara Ayah tidak sekeras kemarin malam.
"A-aku baik-baik saja, Otou-sama," ku lahap tamagoyaki.
"One-chan, makanlah yang banyak, tamagoyaki ini benar-benar enak, mereka menambahkan bawang didalamnya," Hanabi bersemangat.
"Makanlah yang banyak, mereka menambahkan bawang dan cabai di lauknya, aku biasa memakan ini di malam hari," dia bicara sambil mengunyah, bukan cara yang sopan untuk ukuran pria berkelas, "aku tidak makan bawang, baunya aneh," kataku padanya.
"Hanabi, berhenti mengucapkan kalimat yang sama," ku pandang iris amethyst Adikku, berusaha mencari jawaban atas semua kebetulan ini. Apa yag salah dengan Hanabi, kenapa dia terus mengucapkan kalimat yang sama denga orang di dalam mimpiku. Adikku balik memandangku pula, ku rasa ia bingung dengan ucapanku. Mimpi sembari terjaga sungguh aneh, setidaknya inilah yang kualami sekarang. Seperti sebuah layar, di dalam layar itu kumainkan sebuah peran bersama seorang pria, ketika kupalingkan wajahku sebentar, maka pikiranku akan kembali ke dunia nyata, tapi jika ku tatap kembali layar itu, sandiwara yang kuperankan seolah nyata. Sangat sulit membedakan antara mimpi dan kenyataan di sini, aku khawatir acara sarapan pagi ini hanyalah mimpi, sementara bersama dengan si pria adalah kenyataanku.
"One-chan, Aku tidak mengatakan apapun," Adikku mengangkat bahunya.
"Ma-maksudku tentang bawangnya, a-aku kurang suka dengan bawang."
"Jangan dimakan jika tidak suka, makanlan sup miso ini," Ayah menyodorkan semangkuk padaku.
Jika ini adalah genjutsu, berarti penggunanya tidak ahli dalam jutsunya. Jika ini adalah genjutsu, seharusnya si korban terjebak di dalam dunia mimpi terus-menerus. berbeda dengan kasusku, aku masih berada di dunia nyata, sementara dunia mimpi itu muncul ketika orang yang ku ajak berinteraksi mengucapkan kalimat yang sama dengan orang yang ada di dalam mimpiku.
Ayah dan Hanabi pergi lagi, mereka hendak melaksanakan misi selama dua hari. Oh Kami, semoga mimpi itu tidak pernah muncul lagi. Kubaringkan tubuhku di atas futon, hari ini aku tak merencanakan apapun, apalagi dengan kondisi pikiran seaneh ini, bermalas-malasan di kamar akan jauh lebih baik.
Tenten-san lagi-lagi berkunjung, di datang dengan senyum sumringah penuh keceriaan. Betapa bahagianya menjadi sepupuku, dia adalah kunoichi hebat spesialis pelempar kunai. Seolah tanpa beban, Tenten-san melakukan apapun tanpa dibayang-bayangi penyakit apapun. Tidak sepertiku yang terkurung di dalam machiya, kehidupanku hanya sebatas kotak segi empat ini, ditambah lagi dengan mimpi-mimpi aneh yang belakangan muncul, diriku tidak lebih dari seonggok daging menyedihkan.
"Kau ini malas," ia melipat kedua tangannya.
"A-aku hanya merasa sedikit aneh."
"Aneh bagaimana?" Ia mengambil tempat di sisi kiriku.
"Mungkin hanya kelelahan saja."
"Souka, butuh refreshing," ia memicingkan matanya.
"A-anoo Tenten-san…."
"Hm?" Kanzashi hitam berbentuk kipas menarik perhatiannya.
"Apakah Tenten-san mempunyai buku tentang genjutsu?"
Sesaat ia berpikir, "entahlah," ia nampak berpikir lagi, "tapi kalau di perpustakaan pasti ada," katanya.
"Tidak, maksudku kepunyaan Tenten-san," aku tidak ingin ke perpustakaan sekarang, bisa jadi di sana telah menantiku hal-hal buruk, walau mimpi itu hanya sepenggal, ku yakin terjadi sesuatu setelah pria itu mengenggam erat lenganku.
"Aku tidak punya, mungkin Lee ada, dia adalah spesialis taijutsu yang selalu membaca teori ninjutsu dan genjutsu," jelasnya.
"Aa—souka."
"Kenapa? Ingin belajar genjutsu?"
"I-ie' a-aku hanya tertarik saja membacanya," ku pandang lekat-lekat wajahnya, "a-apakah Tenten-san pernah dalam pengaruh genjutsu?"
"Pernah, beberapa kali," jawabnya enteng.
"Bagaimana rasanya?"
"Hmm…," dia memiringkan kepalanya, "bagaimana mengatakannya ya, genjutsu masing-masing shinobi beraneka macam dengan level yang berbeda-beda," matanya melakukan roll eyes style seperti Hanabi, "kalau urusan genjutsu, clan Uchiha adalah ahlinya."
"I-iya, aku tahu itu…."
"Ah…sudahlah, jangan membahas soal jutsu," Tenten-san menjatuhkan tubuhnya di atas futon, "hari ini Sakura-chan wa Ino-chan berkumpul di permandian air panas," ia memeluk pinggangku, tubuhku hilang keseimbangan dan terjatuh disampingnya, "nee Hinata-chan, ayo kita menyusul ke sana."
"Maaf, Tenten-san aku—"
"Ck, Ayolah…air hangat baik untuk para gadis."
Ini adalah pagi hari, di hari Selasa di waktu kerja pula, jangan harap onsen akan ramai dipadati pengunjung, warga terlalu sibuk dengan aktifitasnya masing-masing.
Sebagai Desa shinobi yang delapan puluh persen penduduknya adalah shinobi, onsen bukan pilihan utama untuk bersantai. Mereka lebih memilih hiburan malam dan tempat karaoke, percaya atau tidak, bar dan rumah bernyanyi selalu full, bahkan di siang hari sekalipun.
Tapi tidak dengan kunoichi, onsen dan tempat belanja selalu menjadi yang utama. Aku datang bersama Tenten-san, kami memasuki area onsen, "Sakura-chan dan Ino-chan pasti di dalam," Tenten-san antusias, ku rasa ia merasakan aura chakra mereka.
Bisa dibilang dia adalah penghubungku dengan dunia luar setelah Neji nii, jika bukan karena Tenten-san, aku enggan mengobrol dengan nakama, jika bukan karena Tenten-san aku pasti mengurung diri di machiya lagi dan lagi. Jika bukan karena Tenten-san aku tak akan pernah menginjakkan kakiku di onsen air panas. Dari hati yang paling jujur, onsen ini adalah pemandangan baru bagiku, aku bahkan tak tahu-menahu jika Konoha mempunyai tempat permandian di tengah kota. Dekorasinya mengandalkan pemandangan alam, sungguh seperti di tengah hutan, beberapa batang bambu kuning dan pohon hias menghiasi sisi kolam batu, kolam itu cukup besar dengan air hangat menggiurkan didalamnya.
"Hinata-chan, jangan malu, ayo turun kemari," Ino-san melambaikan tangannya.
Tanpa ragu Tenten-san membuka semuanya, dia polos tanpa sehelai benangpun. Dalam hati ku puji tubuhnya, betapa kerennya seorang kunoichi aktif, sehat bugar, padat semampai. Cepolnya hilang seketika, rambut cokelat itu dibiarkan tergerai indah, "ayo Hinata," ajaknya, "tak seorangpun disini," dia menceburkan setengah badannya ke dalam air. Sakura dan Ino bersandar di bebatuan, mereka menikmati sensasi air hangat, "Hinata, ini baik untuk kesehatan," Sakura menyeka wajahnya dengan kain tipis, "baik bagi mereka yang sudah menikah dan belum menikah," Ino menyindir dirinya sendiri.
"Kau tetap cantik Adik, biarpun telah menikah," Tenten-san mengambil tempat di sisi Sakura.
Kujatuhkan semua yang melekat ditubuhku, ini adalah pengalaman pertamaku bertelanjang di depan umun. Yukata dan sepatu kutaruh di atas batu, yang lainnya menaruh outfit mereka di sana juga. Ino-san meneriakkan namaku berulang kali, sementara emerald Sakura terbelalak kearahku, "Hinata-chan, kau sangat seksi!" Sepertinya ada yang salah dengan mata Ino, tubuhku kecil dan pendek, malah dia lah pemilik tubuh terindah, tinggi semampai bak model majalah.
Kulangkahkan kakiku ke dalam air, sungguh nikmat terasa. Ku pandang langit, awan tebal masih setia di atas sana, hujanlah oh Kami, cuci otakku dari mimpi-mimpi aneh ini. Ku dekati mereka, "bersandarlah disini," Ino memberiku tempat diantaranya dan Sakura.
"Sangat berbeda dengan waktu itu, onsen ini jauh lebih rapi," Ino-san menutupi area matanya dengan kain tipis, "iya betul, kini pemiliknya agak ketat soal kebersihan," Sakura tersenyum, ia memberiku kain tipis serupa yang digunakan Ino, "gosokkan ketubuhmu, lumayan enak lho."
Aku diam saja di saat mereka terus bicara, pembahasannya mengenai pemilik onsen sebelumnya, dia memasang tarif murah tapi kurang menjaga kebersihan. Sedangkan pemilik yang sekarang, ia agak menaikkan tarifnya tapi mempekerjakan beberapa pelayan, mereka akan membersihkan kolamnya setiap empat jam sekali. Jadi jika tamu berikutnya datang, onsen tetap bersih seperti semula. Aku malu sendiri, ku pikir onsen ini bisa digunakan sepuas hati, tapi nyatanya hanya empat jam sesuai tarif, "tenang, aku yang bayar," Sakura san mengacungkan jempolnya.
"Jadi Tenten-chan, bagaimana?" Ino melirik nakal padanya.
Pipi manis sepupuku memerah, "apa maksudmu, Ino-chan?"
"Kau dan Yamato-senpai, sejauh mana hubungan kalian?" si pirang terkikik geli, "ayolah, usia yamato-senpai sudah kepala tiga lho, suruh dia cepat-cepat melamarmu," Sakura mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah
Aku adalah sepupu tirinya dan tak tahu-menahu tentang siapa yang dekat dengannya, Tapi Ino dan Sakura mengetahui hal itu seperti mereka mengetahui bahwa sakura mochi adalah kue terbaik sepanjang musim semi. Jadi inilah alasan ia menyebut nama Yamato-san dengan sebutan 'kun' sebagai pertanda betapa akrabnya mereka. Kuberikan senyum terbaikku, spontan ia menyilangkan dua telunjuknya sebagai tanda 'x' atau tidak.
"Ayolah…semua nakama telah mengetahuinya, bahkan Kakashi-sensei pun tahu soal kedekatan kalian."
"Sakura~" ia tertunduk malu.
"Kakashi-sensei mendukungmu, dialah orang yang paling dekat dengan Yamato-senpai, mereka seperti saudara," ada jeda diselingi canda tawa, "kuncinya agar Yamato-senpai melamarmu, dekatilah Hokage ke enam terlebih dahulu," kedua sahabat itu tersenyum penuh arti.
"Yamato-kun masih sibuk menyelesaikan beberapa misi," wajahnya berubah serius, "kalian tahu sendiri'kan, terkadang dia harus membantu squad anbu nee, dia adalah mantan anggota, jadi dianggap senior untuk beberapa urusan."
"Anbu sedang kesulitan sekarang, mereka butuh Ketua baru."
"Bahkan Anko-sensei dibantu oleh Sai-kun, ku rasa mereka kekurangan tenaga," ada jeda, "banyak shinobi yang menolak bergabung dengan organisasi itu, sejarah masa lalu terlalu sulit dilupakan," raut Ino ikut-ikutan serius, lengan Sakura melingkar di lengan Tenten-san, "jadi maksudmu, kau harus menunggu sampai squad anbu menyelesaikan masalah internalnya hingga menemukan Ketua baru, begitu?"
"Entahlah, kami masih membicarakan ini."
Ini adalah kali pertama kulihat sepupuku bersedih, sebelumnya ia selalu ceria tanpa beban. Siapa sangka Tenten-san mempunyai hubungan spesial dengan Yamato-san, mereka bahkan telah menyinggung urusan pernikahan. Sakura dan Ino menghiburnya, mereka berharap misi-misi Yamato-san segera terselesaikan dan pernikahan segera dilaksanakan. Sebagai shinobi kepercayaan, Yamato-san tidak ingin mengecewakan Kakashi-sensei, ia harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum urusan pribadinya.
"Nee, Hinata-chan, bagaimana denganmu?" iris emerald menatapku, "siapa yang dekat denganmu?"
"Eh?"
"Jangan malu, kita sama-sama wanita," kini Ino-san ikut menatapku juga, "apakah kau menyukai seseorang?"
Tak mungkin kusebut nama Naruto-kun, tak mungkin juga kusebut nama Sasuke-san, karena aku tak punya hubungan apapun dengan mereka. Neji-nii adalah sepupuku, dia ku anggap sebagai Kakak sendiri. Kiba-kun wa Shino-kun adalah mantan rekanku di Tim delapan, mereka seperti nakama pada umumnya, akrab tidak juga, tidak akrab tidak juga, jadi biasa saja.
"A-aku tidak dekat dengan siapapun," jawabku, pertanyaan ini membuatku gugup.
"Masa?" Emerald Sakura-san penuh tanya, "menurutku kau cantik lho."
"A-aku agak berbeda dengan Sakura-san," kubuat jeda, "selama ini aku lebih banyak menghabiskan waktu di machiya, pengetahuanku tentang dunia luar cukup terbatas."
"Apakah Hiashi-sama menjodohkanmu dengan seseorang?"
"Ti-tidak juga…."
"Hinata-chan…."
"Eh?"
"Menurutku kau benar-benar cantik, bohong jika seseorang tak menyukaimu, aku jamin," emerald itu meneliti wajahku, "kau bahkan melebihi dari cantik."
"Sakura-san terlalu memuji, wajahku biasa saja."
"Kau terlalu banyak diam menurutku, sesekali bergabunglah bersama nakama, mungkin kau akan menemukan salah satu dari mereka," Ino terkekeh.
"Nah…Hinata, lalu bagaimana dengan pria itu?"
"Pria?"
"Iya, pria yang kau ceritakan padaku dua tahun yang lalu," kalimat Tenten-san sukses mengundang suara-suara aneh dari Ino dan Sakura.
"Ma-maksud Tenten-san?"
Jika yang dimaksud Tenten adalah Naruto-kun, rasanya tidak mungkin, aku tak pernah menceritakan apapun, yang mengetahuinya hanya Ayah dan Hanabi-chan. Sebagai cinta monyet semata, perasaanku pada Naruto-kun tak tergolong cinta sejati, itu hanyalah cintai biasa yang bertepuk sebelah tangan. Lagipula Naruto-kun telah menikah, dan Sakura-san hadir diantara kami selaku istri sahnya.
"Siapa dia Hinata?~" Ino menggoda, "ayolah, dia dari clan mana?~" Sakura menggoda juga.
"Katamu dia adalah pria tampan," ingatan Tenten-san menerawang, Ino dan Sakura menjerit kala mendengar kata tampan, "wooow! setampan apakah dia?"
"A-aku tidak dekat dengan siapapun, yang dikatakan Tenten-san sepertinya bukan aku, mu-mungkin salah orang."
"Hinata, kau sendiri yang bercerita padaku, dan aku belum pikun sekarang."
"A-aku bercerita pada Tenten-san?" oh Kami, siapa pria yang dimaksud sepupuku ini.
"Iya, katamu di adalah seorang shinobi juga."
"A-apakah aku menyebut nama pria itu?"
Tenten berpikir keras, alisnya berkerut, ingatannya kembali ke dua tahun yang lalu, ia memberi jeda cukup lama, memancing Sakura-san dan Ino-san mendesaknya, "ayo ingat! Siapa dia? Seorang senpai kah si tampan ini?" Mereka antusias.
"Tidak…kau tidak menyebutkan namanya," ia menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, "Hinata, kau membuatku gemas, usiamu lebih muda dariku, tapi ingatanmu benar-benar tumpul."
"A-aku tidak pernah mengatakan apapun," aku pun berusaha mengingat-ngingat kejadian lalu, benarkah aku telah menceritakan seorang pria pada sepupuku? Siapa dia? Kenapa aku tidak ingat? Terjadi jeda cukup lama, aku berpikir, Tenten-san juga, Sakura wa Ino memandang kami secara bergantian.
1 menit.
2 menit.
"Ya sudah, tidak mengapa jika kau merahasiakannya, ini adalah privacy memang, dan tidak semua orang ingin diketahui pribadinya, benar'kan?" Ino melingkarkan lengannya ke lenganku.
"Nama tak perlu disebut, usia juga, intinya dia seorang shinobi yang tampan~" mereka bersorak manja, "jadi sejauh mana hubungan ini?"
"Sakura-san, a-aku tidak mengerti…."
"Iya, Hinata memang jarang berdekatan dengan pria, dia adalah gadis tertutup, tapi seharusnya itu memacing minat para pria, mereka lebih suka dengan gadis pendiam."
"Ino-san…a-aku—"
"Sudah sejauh mana?" mereka bertiga memandangku, "apakah kalian pernah melakukan itu?"
"Itu?"
"Iya, itu…."
Kusilangkan kedua telunjukku, "ti-tidak, kok…" spontan wajah Uchiha Sasuke terbayang dikepalaku, jika semalam hal 'itu' benar-benar terjadi, entah aku harus menjawab apa sekarang.
"Sudah atau belum," Sakura memiringkan kepalanya, ku rasa ia mengharapkanku menjawab 'sudah.'
"Belum pernah," aku yakin betul.
"Masa?"
"I-iya…belum," lagipula aku harus melakukannya dengan siapa, tak seorangpun yang pernah dekat denganku, tuduhan Tenten-san tidak masuk akal, mungkin dia salah ingat.
"Ayolah Hinata, tidak apa juga…kita ini teman, sudah biasa jika seorang pria memiliki hubungan spesial dengan seorang gadis—dan mereka pernah melakukan itu," Ino-san agak berbisik ketika mengatakan 'itu.'
"A-aku tidak akan berani, Otou-sama akan memarahiku," Oh Kami, kenapa Sakura dan Ino mencurigaiku, apakah mereka mengetahui kejadian semalam? Tidak mungkin, hanya antara aku dan Sasuke-san, lagipula 'itu' yang dimaksud tidak terjadi juga kok, kami malah bertengkar.
"Tapi menurutku, Hinata-chan sudah pernah melakukannya," Sakura meneliti tubuhku, "maaf…bukan maksudku sok tahu, tapi aku adalah seorang iryo-nin," emerald itu memandangku teliti lagi dan lagi, "Hinata-chan sudah pernah melakukan itu."
Peluh membanjiri tubuhku, yukata yang kukenakan lembab acak-acakan, corak bunga lili hilang pesonanya, mereka sobek disana-sini. Rambutku basah kuyup, itu akibat dari tumpahan air pel yang tergenang di lantai, kurasa mereka lupa membuang air kotornya, tanganku tak sengaja menyentuhnya hingga tumpah di sana. Kakiku berat, sangat sulit digerakkan. Tanganku tak berdaya, serasa mati rasa, ku ingin mengucapkan sesuatu, tapi sakit sekali, setetes dua tetes darah segar menghiasi sudut bibirku.
Gadis lugu nan polos itu telah pergi untuk selamanya, aku tak berdaya atas tubuhku sendiri. Tubuh ini telah menjadi milik orang lain, kuasaku hilang atas kesucianku. Milikku direnggut oleh seorang pria yang sangat kusukai, dia menguasaiku layaknya binatang yang dikuasai birahi. Air mataku jatuh menetes menggenangi tumpahan air pel, menyatu dalam duka hatiku. Rasa sakit menjalar ditubuhku bagian bawah, sensasi nyeri melebihi apapun yang pernah kurasakan. Darah segar lagi-lagi menyatu dengan tumpahan air pel dilantai, darah itu berasal dari balik yukata motif lili kebanggaanku. Pahaku berwana merah, kurasa terjadi pendarahan hebat di bawah sana.
Tanpa ampun si pria bermain gila atas diriku, dia menghujamkan tubuhnya ditubuhku dengan keji. Tatapannya tanpa ekspresi, yang kutemukan di bola mata indah itu hanyalah nafsu belaka, tidak ada cinta ataupun rasa sayang. Rahangnya terkatup rapat, giginya saling bergesek sama lain menimbulkan bunyi, wajahnya memerah seolah sedang menahan sesuatu, betapa ia menghujamkan benda miliknya dengan sangat kuat. Tubuhku bergoyang mengikuti irama tubuhnya, sesekali ia melenguh nikmat atas perlakuannya padaku, ia mengumpat dalam aksinya, kupandang bibirnya, darah tubuhku menghias ranumnya, "kau milikku," katanya, tapi dari perlakuannya padaku, dapat kusimpulkan bahwa pria ini tidak ingin memiliku, malah ingin membunuhku.
"Tolong hentikan…," leherku tercekat, tenggorokanku kering, sungguh aku akan mati di tangan pria ini.
Mata itu tanpa belas kasihan, dia adalah orang terjahat yang pernah kutemui, kalimat selanjutnya membuatku takut setengah mati, "Jika harus mati, kau akan mati ditanganku."
Hinata End POV
"Hinata?" Sakura panik.
"Oh Kami…ada apa dengannya?" Tenten mengacak-ngacak rambutnya.
"Entahlah, dia diam begitu saja."
"Hinata-chan, katakan sesuatu," Ino mengguncang tubuhku.
Si gadis memandang tiga rekannya yang ketakutan, "A-aku—"
"Hinata, maaf jika kalimatku menyinggungmu" Sakura menyesal.
"Kau diam seperti patung, membuat kami ketakutan setengah mati."
"Aku bermimpi…."
"Hinata, kau baik-baik saja? Sebaiknya kita pulang sekarang," Tenten khawatir.
"Ini gara-gara aku…,"
"Sakura-san, aku baik-baik saja…."
"Maafkan aku Hinata…"
"Tidak apa," dipeluknya si cherry, "aku hanya sedang memikirkan sesuatu."
Hinata POV
Sakura-san adalah seorang iryo-nin, tentu dia hafal seluk-beluk tubuh manusia. Pagi ini dia mengatakan sesuatu yang menohok hati, keperawanan adalah hal yang paling kujaga, dan dia baru saja berkata bahwa diriku pernah disentuh oleh lelaki. Bukan berarti aku menyalahkannya, sepertinya dia juga menyesal telah mengatakan itu, tapi ini terlalu mustahil kuterima. Aku benci mengatakannya, tapi penyataan Sakura-san singkron dengan mimpi-mimpi aneh yang kualami.
Tepat setelah dia memvonisku tidak perawan lagi, layar lebar seolah dipertontonkan di depan mataku. Seorang pria melakukan sesuatu, entah dimana kejadiannya, itu adalah sebuah ruangan segi empat dengan lantai basah, aroma peluh si pria cukup khas, aku pernah mencium bau serupa, tapi lupa siapa pemiliknya. Dari semua kejadian yang kualami, dapat kutarik kesimpulan bahwa mimpi-mimpi itu bukanlah mimpi, melainkan déjà vu dari kejadian nyata yang pernah kualami di kehidupan lalu. Seseorang telah berlaku sangat jahat padaku, dan entah bagaimana caranya, ingatan itu telah kembali dalam bentuk acak. Seperti sebuah puzzle, setiap bagiannya tidak beraturan. Aku perlu menyusun satu-persatu alurnya hingga membentuk sebuah cerita. Disinilah kecerdasan dibutuhkan, salah satu cara agar puzzle itu tersusun sempuna adalah dengan menunggu déjà vu berikutnya.
Kejadiannya sudah pasti di Konoha, sebut saja machiya souke, perpustakaan Konoha, dan ruangan segi empat yang didalamnya banyak tumpahan air pel. Kapan waktu kejadiannya? Kenapa aku berada di sana? Bagaimana aku kenal dengan orang itu? Entahlah, tapi hatiku yakin bahwa tiga pria ini adalah orang yang sama. Hanya satu pria Konoha, dan dia adalah seorang shinobi. Pria itu pernah kusinggung di depan Tenten-san, dan aku malah tak menyebutkan namanya. Aku yakin dia orangnya, tepat dua tahun yang lalu setelah perang ninja ke empat, kesucianku direnggut oleh seseorang yang kukenal.
"Jangan mengambil kesimpulan secepat itu," Tenten-san mengibaskan rambutnya yang basah, "mungkin hanya karena stress."
Aku tak pernah terbuka pada seseorang, tapi Tenten-san mengetahui sedikit informasi tentang pria ini, setidaknya dia dapat membantuku, "onegai, ingat-ingatlah tentang ucapanku padamu, ku rasa dia sengaja memotong ingatanku."
"Jika betul begitu kejadiannya, menurutku ini bukan genjutsu," ada jeda, "seorang yang terkena pengaruh genjutsu akan hilang kesadaran sepenuhnya dan larut dalam dunia yang diciptakan penggunanya," ada jeda lagi, "tapi kau malah menyadarinya, bukan seperti itu cara kerja genjutsu."
"Lalu bagaimana dengan ucapan Sakura-san?"
"Belum tentu benar juga, Sakura-chan hanya manusia biasa," kami melangkah keluar onsen, "mungkin dia salah," digenggamnya jemariku erat, "aku adalah saudaramu—dan aku mendukungmu, semua akan baik-baik saja, percaya pada dirimu sendiri, jika kau merasa belum pernah melakukannya, maka kau tak perlu mengkhawatirkan apapun."
"Lalu pria yang kuceritakan padamu…."
"Itu juga tak bisa dijadikan patokan, mungkin kau melihat wajahnya di sampul majalah atau koran, lalu kau terpesona, lalu kau mengatakan padaku kalau pria itu tampan, kau tertarik padanya," kami melewati pasar yang ramai, suara Tenten-san tenggelam oleh keramaian, "maka dari itu kau tak menyebutkan namanya, karena pria itu hanya model majalah," seorang Kakek menawarkan udang segar, tapi Tenten-san menolaknya dengan halus, "dulu aku juga seperti itu, pria tampan dimajalah kuvonis sebagai kekasihku, kupamer di depan Lee-kun dan Neji-kun, dan mereka malah mempercayainya," ia cekikian.
"Sesimpel itukah?"
"Tenanglah…yakin pada hatimu."
"Tenten-san, tolong jangan ceritakan ini pada siapapun, utamanya Ayahku dan Hanabi-chan—ini hanya diantara kita saja, onegai…."
"Beres, aku berada dipihakmu."
Wanita Hyuuga selalu menjaga kesuciannya, pantang bagi mereka melakukan hubungan intim di luar nikah. Jika melanggar peraturan, Ketua clan wajib memberi hukuman. Jika kau adalah souke, statusmu akan diturunkan sebagai bunke, dan jika kau adalah bunke, maka siap-siaplah ditendang dari clan. Namamu akan dicatat dalam daftar hitam Hokage sebagai pembangkang. Mari kita bayangkan kemungkinan terburuknya, anggaplah prediksi Sakura-san betul dan entah bagaimana caranya sampai Otou-sama mengetahui hal itu, status kebangsawananku akan diturunkan sebagai bunke. Tapi berhubung karena aku adalah Anak sulung dari Ketua Hyuuga dan calon Hairees pula, bisa jadi hukumannya lebih parah.
Dulu sekali, kami mempunyai seorang Bibi, dia adalah Kakaknya Ayah dan Paman Hizashi. Bibiku bernama Hikari, dia adalah seorang kunoichi tangguh yang bertugas di squad anbu. Entah bagaimana kejadiannya, dia melahirkan seorang putera di luar nikah. Hal itu membuat Ketua Hyuuga marah besar, yang mana Ketua Hyuuga itu adalah Ayahnya sendiri, atau Kakekku. Bibi Hikari tidak hanya diturunkan statusnya sebagai bunke, ia pun harus rela diusir dari clan. Kakek melakukan itu semua karena merasa malu, nama Bibi Hikari terdaftar dalam catatan nama pembangkang di buku Hokage. Tak satupun clan atau Desa yang sudi menerimanya, akhirnya ia dan puteranya mengasingkan diri ke dalam hutan. Diam-diam Kakek mengirim beberapa orang untuk menghabisi nyawa Bibi Hikari. Clan Hyuuga punya alasan yang kuat untuk melakukan itu, tentunya atas izin Hokage pula, dikhawatirkan orang-orang seperti mereka akan menyerang Desa di masa datang, salah satu jalan terbaik adalah dengan melakukan eksekusi mati. Byakugan Bibi Hikari dan puteranya kini tersimpan rapi di mansion Hyuuga, itu sebagai pengingat bagi para wanita Hyuugaagar lebih menjaga kehormatannya.
"Hei, apa yang kau pikirkan?" Tenten-san menepuk pundakku, "ingin makan sesuatu?" Pasar ini penuh sesak, "lihat, mereka menjual hanami dango di sana, jarang-jarang lho di akhir musim semi," ia menarik tanganku ke arah toko kue di sudut jalan.
Tadinya kami akan kembali ke mansion, "Tenten-san, a-apakah ini tidak apa-apa?"
"Tidak apak-apa bagaimana?"
"Ucapan Sakura-san dan rentetan déjà vu yang kualami—"
"Jangan dipikirkan, santailah…itu masih dugaan saja," ia menyelah kalimatku.
"—keduanya seperti saling berhubungan…."
Kue toko ramai dipadati pengunjung, hanami dango adalah kue spesial musim semi setelah sakura mochi, jika kau menemukannya di akhir musim semi, artinya kau sedang beruntung. Semakin kau berada di penghujung musim semi, maka semakin sulit pula kau temukan aneka jenis makanan yang bertema manis, hanami dango adalah salah satunya. Tenten-san antusias, dia bicara panjang lebar tentang kecap asin dan saus teriyaki.
"Hinata, ada permintaan lain? Ku minta agar kecap asin dan sausnya dituang lebih banyak, kau tidak keberatan, kan?" Pelayan di depan kami menulis semua permintaannya.
"Hm…aku juga suka kecap asin."
"Hidangannya akan siap dalam waktu lima belas menit, ini adalah toko terkenal lho, Gaara-sama bahkan pernah memesan dua puluh kotak sebagai oleh-oleh," kelompok Tenten-san sangat akrab dengan Gaara-kun sejak dulu, "ini adalah dango terenak," jemarinya ditepuk berulang kali, "—dan kue favoritku tentunya."
Kami duduk di dekat jendela, dari sini terlihat jelas lapangan para genin. Lapangan itu ramai dipadati bocah, mereka didampingi oleh sensei masing-masing, berlatih seraya bermain.
Di meja sebelah, seorang pria dan wanita nampak mesra, jelas sekali mereka adalah sepasang kekasih. Si wanita agak pucat dan terlihat lemah, si pria terus memperhatikannya, sepertinya ia khawatir, "anata, ingin kuambilkan sesuatu?"
"Hei, makanlah sesuatu, wajahmu terlihat pucat," nasi kepal disodorkan padaku, si pria memilah-milah nasi kepalnya, "ini agak panas, pelan-pelan."
"Aku masih kenyang."
"Kau belum makan apapun sejak tadi."
"Ie' aku baik-baik saja."
"Atau ingin kuambilkan sesuatu?"
"Tidak perlu, nasi ini cukup," ku lahap perlahan nasi kepal itu.
"Waaaah! Ini belum lima belas menit tapi kuenya sudah siap!" Tenten-san kegirangan, ia membuyarkan mimpiku.
Ini adalah kelanjutan déjà vu di mansion tadi pagi. Dia adalah pria di ruangan segi empat itu, atau pria yang sama di perpustakaan dan di machiya. Dari potongan percakapan itu, sepertinya kami lumayan akrab, aku bahkan menyantap nasi kepal yang dipilah-pilah olehnya. Oh Kami, siapa dia? Sejak kapan aku akrab dengannya? Kenapa aku tak mengingatnya.
"Hinata, makanlah…ini enak," mulut Tenten-san dipenuhi sebulat dango, kalimatnya kurang jelas, "jangan perhatikan mereka, kelak jika kau telah memiliki kekasih, kujamin kemesraan kalian jauh melebihi itu," rupanya ia memperhatikanku memperhatikan pasangan di meja sebelah.
"Aku mengenal laki-laki ini."
"Laki-laki yang mana?"
"Laki-laki yang berbuat jahat padaku," kutatap lekat sepupuku itu, "ingatlah sesuatu Tenten-san—nama, alamat, atau ciri-ciri fisiknya."
"Kau hanya bilang kalau dia tampan, setelah itu kita tak membahasnya lagi, dua minggu kemudian kau menghilang," ia mengangkat dua bahunya, "kata Ayahmu, kau pergi mengunjungi saudara jauh kalian."
"Itu saja?"
"Iya, hanya itu yang kau katakan."
Braak!
Meja dihentak sangat kuat, sontak mata kami tertuju pada pasangan muda-mudi di sebelah. Jika tadi mereka nampak mesra, kini mereka malah sedang bertengkar hebat, suasana riuh ramai seketika berubah tegang.
"Aku membencimu! Pergi dari hidupku! Kembalikan semua yang kuberikan padamu!" Kata si wanita.
"Kau keras kepala! Aku melakukan itu demi kebaikanmu!" Si pria tak mau kalah.
Seorang pria berkacamata menghampiri mereka, ku rasa dia adalah pemilik toko. Pasangan kekasih itu diceramahi habis-habisan, nampak si pria berusaha menjelaskan duduk permasalahannya, si wanita hanya duduk seraya menangis, tapi sang pemilik toko tak mau mendengarkan apapun dan berharap mereka segera pergi.
"Wow…dramatis sekali," Tenten-san menopang dagunya, "belakangan ini banyak pasangan yang dirundung masalah, kemarin saja, seorang wanita membuang dirinya dari lantai empat," ia mengunyah bulatan dango ke dua, "alasannya karena putus dari kekasihnya, kasihan sekali."
"Kau keras kepala, aku melakukan ini semua untukmu."
"Jangan lagi, onegai…."
"Bicaralah lebih banyak, ini adalah terakhir kali aku mendengar suaramu."
"Hinata, sejak tadi kau hanya memandang kuenya," lagi-lagi suara Tenten-san menyadarkanku. Bagaimana urutan kejadiannya? Jika memang kami dekat, kenapa dia melakukan hal keji padaku?
"Hinata-chan, kau sangat gelisah," digenggamnya jemariku.
"Maafkan aku Tenten-san, déjà vu ini menggangguku."
"Ku pikir Hinata-chan akan lebih santai jika kuajak ke tempat ramai, tapi jika kau merasa cara ini tidak berhasil, sebaiknya kita pulang—kurasa kau hanya butuh istirahat."
"A-aku menyukainya, hanya saja—"
"Kalimat Sakura-chan? Ingatan-ingatan yang belum tentu benar?" Lagi-lagi ia menyelah kalimatku.
Aku diam sesaat, betul kata sepupuku, semua masih perlu bukti, jangan menarik kesimpulan secepat ini.
1 menit.
2 menit.
"Arigato nee Tenten-san, aku suka kue ini, kok," ku gigit sepotong kue dango.
Ia tersenyum seraya mencibir, "Adik manisku jangan bersedih terus, nanti wajahmu cepat keriput."
Setelah melahap dango, kami memasuki toko disebelahnya. Adalah toko penjual kanzashi, Tenten-san penasaran dengan beberapa bros model terbaru. Tidak seperti toko kue disebelah, toko perhiasan ini jauh lebih sepi, hanya beberapa pengunjung wanita.
"Lihatlah ini, Hinata-chan," ia mencoba sebuah kanzashi berwarna emas dirambutnya, "sepertinya ini untuk pengantin."
"Nah, itu cocok untukmu," pujiku.
"Pernikahanku masih jauh," kalimatnya diselingi tawa.
"Tenten-san bisa memakainya sekarang, kenapa harus menunggu hari pernikahan," kuperlihatkan kanzashi model serupa tapi warnanya pastel, "Yamato-san pasti akan menyukainya."
"Dia banyak memberiku perhiasan, aku hanya menyimpannya di dalam oshiire," senyumnya malu-malu, "kelak akan kupakai jika menjadi istrinya."
"Kenapa bukan sekarang saja?"
"Aku merasa tak pantas memakai pemberiannya sebelum menikah."
Dua orang kunoichi menghampiri kami, atau tepatnya menghampiri sepupuku. Sepertinya mereka adalah kouhai di Akademi, seorang berambut pirang model bob dan seorang lagi berambut kelam panjang. keduanya berwajah manis, postur mereka juga ramping semampai seperti kunoichi pada umumnya.
"Apa kabar kalian?" Tenten-san menyapa lebih dulu.
Mereka membungkuk hormat, aku dan Tenten-san melakukan hal serupa, "baik senpai," kata yang berambut pirang.
"Bagaimana upacara pemakamannya?" Ditaruhnya kanzashi berwarna emas ke tempat semula, sepertinya ia akan membeli yang warnanya pastel.
"Jasadnya diantar ke rumah orang tuanya kemarin siang," raut mereka sedih, "dia adalah penduduk non clan, tak bisa di kubur di Konoha, begitu ketentuannya."
"Kawaisou na…."
"Dia melakukan itu bukan karena putus dari kekasihnya, senpai," kunoichi berambut kelam agak berbisik.
"Maksudmu?"
Matanya meneliti kiri dan kanan, berharap tak seorangpun yang mendengar ucapannya, "dia bunuh diri bukan karena putus dari kekasihnya," ada jeda, "tapi karena diperkosa oleh rekannya di tim empat belas."
"Oh Kami-sama…."
"Ini terkuak setelah dilakukan penyelidikan, Hokage ke enam merasa janggal, dia memerintahkan orang untuk menyelidikinya," ada jeda, "dari penyelidikan itu didapat beberapa barang bukti yang mengarah pada rekannya itu."
"Sejahat itu? Mereka tumbuh bersama sejak kecil, dan ketika dewasa dia malah menjahati rekannya."
"Kekasihnya sangat terpukul atas kejadian ini," kata si pirang, "rekannya itu mendekam dipenjara sekarang, tak ada ampunan bagi pemerkosa," kunoichi berambut kelam menimpali.
Kakiku tak kuasa menopang tubuhku, aku bahkan harus merangkak guna menggapai pintu, tapi percuma, gagang pintu itu terlalu tinggi. Pendarahanku mengalir cukup deras, mereka mengucur tanpa henti, yukata corak lili warna hijau berubah jadi merah. Entah jam berapa sekarang, pagi atau malam? Sepertinya aku berada di ruangan ini cukup lama. Di luar sangat bising, kurasa itu adalah suara bocah.
Pria itu mengulang aksinya beberapa kali, ia lelah dan terjatuh kini malah tertidur. Tubuhku hancur sempurna, pundakku serasa ingin lepas, ada rasa nyeri dibagian payudaraku, luka-luka lecet menghiasi permukaannya, bekas gigitan berwarna merah sangat mengganggu mataku, segampang itukah diriku dipermainkan?
Jika pendarahan ini tak segera kuhentikan, akan terjadi sesuatu pada kandunganku, perutku mulai keram, ada yang salah di dalam sana.
'Siapapun…tolong aku…,' batinku.
Mata indah sedang memandangku, entah sejak kapan ia terbangun, mata itu tak seindah perlakuannya, "tolong aku…," bisikku.
"Tenten-san…," kuremas pelan lengannya.
"…."
"Tenten-san...," kuremas lagi lengannya.
"…." tetap tak ada respon, dia masih fokus pada dua kouhai dihadapannya.
"Tenten-san!" agak kutinggikan suaraku.
"Iya?"
"Ki-kita harus ke rumah sakit sekarang…."
"…."
"A-aku harus memeriksakan sesuatu."
"Hinata-chan," pandangnya penuh tanya.
"O-onegai…antar aku ke rumah sakit."
Kugenggam erat tangan sepupuku, langkah kami pasti menuju ruangan Shizune-san. Menurut Tenten-san, urusan-urusan seperti ini biasanya Shizune-san yang mengetahuinya, jangan langsung berhadapan dengan Tsunade-sama, ia akan menyerangmu dengan berbagai macam pertanyaan. Masalah keperawanan dianggap tabu di Konoha, mereka masih memegang teguh prinsip orang tua dulu. Pria dan wanita dilarang melakukan hubungan intim sebelum menikah, mereka akan memberi sanksi berat jika itu dilanggar. Hampir mirip dengan prinsip Hyuuga, Konoha sengaja membuat peraturan itu guna menjaga kesucian para wanitanya.
Tsunade-sama tergolong orang tua dulu, ia murka jika aturan ini dilanggar. Lahir dari clan Senju yang terkenal, ia pun menjaga kesuciannya hingga sekarang. Walau pernah menjalin hubungan dengan Dan Kataou, ia tak pernah melakukan hal-hal diluar batas.
Namun sekarang jaman telah berubah, peraturan itu dilanggar diam-diam. Shinobi yang terlibat cinta lokasi tak kuasa menahan diri, mereka akan melakukan apapun guna membuktikan seberapa besar makna cinta sejati. Shizune-san adalah pelariannya, mereka yang telah hilang kesuciannya akan menemui asisten Tsunade-sama itu. Tak jarang dari mereka yang telah mengandung, jika sudah begitu, pernikahan akan dilaksanakan secepat mungkin guna menghindari hukuman.
Mereka yang mengunjungi Shizune-san adalah pasangan yang sudah mantap untuk hidup bersama. Setidaknya ia tahu pasangannya, dan ia tahu siapa yang telah merenggut kesuciannya. Aku malah berbeda, aku tak tahu siapa pelakunya, jangankan wajahnya atau namanya, waktu kejadiannya pun aku tak ingat. Orang itu tak hanya melakukan hal keji pada tubuhku, tapi juga pada otakku. Ingatanku hilang sepenggal, yang tersisa hanya potongan-potongan kecil berupa déjà vu. Satu-satunya cara untuk memastikannya adalah dengan memeriksakan tubuhku pada seorang iryo-nin. Déjà vu terakhir yang kualami adalah setengah jam yang lalu, aku yakin itu potongan dari kejadian di ruangan segi empat. Jika betul keperawananku telah direnggut, berarti itu bukan hanya sekedar déjà vu, tapi adalah suatu kejadian yang pernah kualami di dunia nyata.
"Bersikaplah tenang di depan Shizune-san, jangan tunjukkan kegelisahanmu."
Kutarik nafas dalam-dalam lalu kuhembuskan perlahan, "doakan aku."
"Aku tak bisa menemanimu ke dalam."
"A-apakah ini tidak apa-apa? Aku takut jika Shizune-san mengadu pada Otou-sama…."
"Shizune-san bukan orang seperti itu, banyak kunoichi yang datang diam-diam, aku percaya padanya, dan aku yakin ia akan mengerti situasinya," ada jeda, diusapnya bahuku, "lagipula ini belum tentu benar, hanya perkiraan saja, dan kita datang kemari untuk memastikannya."
"Baiklah…."
"Kuatkan dirimu, percaya pada dirimu, jika memang itu hanya karena stress, kita bisa berkonsultasi pada Tsunade-sama, benar?"
"Hm…semoga saja, doakan aku Tenten-san," kugenggam jemarinya.
"Buatlah alasan yang bagus agar ia tak curiga, kau tidak datang bersama pasanganmu, ia pasti akan bertanya keberadaannya," kalimat selanjutnya ia berbisik, "pokoknya jangan sampai Shizune-san tahu kalau kau mencurigai dirimu pernah diperkosa."
"Ke-kenapa begitu?"
"Ya, karena itu adalah tindak kejahatan, bukan dilakukan berdasarkan cinta," ia menghela nafas panjang, "kau ini lugu sekali, Hinata-chan…."
Ketika aku memasuki ruangannya, tak seorang pun berada di sana. Ia adalah asisten ketua iryo-nin Negara Api, sudah pasti diberi jatah ruangan khusus. Ruangan itu cukup besar dipenuhi berbagai macam peralatan medis, beberapa bahan percobaan di dalam wadah nampak mengerikan, bukan rahasia umum lagi jika Konoha adalah rajanya penelitian organ shinobi. Mereka memasukkan organ shinobi mati ke dalam tubuh shinobi hidup, tujuannya untuk mencopy kekkei genkai atau jenis jutsu langka, Yamato-san dan Anko-sensei adalah dua contoh yang berhasil.
"Aa—Hinata-chan, lama tak berjumpa?" Shizune-san memamerkan senyum khasnya, jarum suntik ditangannya cukup panjang, sepertinya ia sedang mengerjakan sesuatu.
"A-aku berkunjung ke rumah pamanku di luar Desa?"
"Selama dua tahun?"
"Mereka tak mempunyai Anak, jadi kutemani cukup lama," aku tak pandai berbohong, entah Shizune-san mempercayainya atau tidak.
"Souka…," ia menyuntikkan semacam cairan warna ungu pada sel warna pink di atas meja.
"Shizune-san…."
"Hm?" Konsentrasinya tidak buyar.
"A-aku ingin memeriksakan tubuhku."
"Kau kenapa?" ditaruhnya jarum suntik itu.
"A-aku terjatuh kemarin."
"Lalu? Ada yang luka?"
"A-aku pendarahan."
"di bagia mana? Akan kuperiksa."
"Di-di selangkangan…."
Ia memandangku, tatapannya penuh tanya, "separah itu?"
"Ku-kurasa ada yang salah dengan organ intimku, maka dari itu a-aku menemui Shizune-san."
"Maksudmu, kau ingin memeriksa apakah terjadi hingga terjadi pendarahan, begitu?"
"I-ya...," semoga Shizune-san tidak bertanya macam-macam, "a-aku takut karena insiden itu—selaput darahku rusak di dalam."
"Iya, bisa jadi, selaput darah pada alat vital tidak hanya rusak setelah berhubungan intim," ada jeda, "bisa juga karena faktor lain, misalnya terjatuh dan terbentur keras di bagian perut ke bawah" ia meneliti wajahku, "kapan itu terjadi, Hinata?"
"Ke-kemarin," apa lagi alasanku oh Kami, "di atas pohon, ma-maksudku—a-aku terjatuh dari pohon ketika berlatih," kupusatkan kontrol chakra pada paru-paruku, aku tak ingin Shizune-san mencurigai penyakitku, "periksa bagian bawah saja, a-aku baik-baik saja di bagian atas."
Ia terkekeh "ya ampun…kau ini bicara apa Hinata-chan," dicubitnya pipiku, "kau sangat lugu sayang," ia mengarahkanku pada sebuah ranjang di sudut, sisi-sisinya ditutupi tirai putih panjang, "berbaringlah di sana, aku akan memeriksamu," dipakainya kaos tangan putih berbahan karet tipis, "cukup pakaian dalam saja, tak usah buka semuanya."
Oh Kami, tangan dan kakiku mati rasa, aku tak percaya tubuhku berada di ruangan ini. Bagaimana tanggapan Shizune-san? Apakah ia akan mengadukannya pada Otou-sama—bahwa seorang Puteri Hyuuga memeriksakan keperawanannya di rumah sakit.
"Berbaringlah, dan buka kakimu agak lebar," perintahnya.
Kutarik nafas dalam-dalam, tenanglah Hinata semua akan baik-baik saja, batinku. Kurasakan jemari Shizune-san menyentuh alat vitalku, dia agak memasukkan tangannya ke dalam, kepalanya mengangguk pelan, tatapannya serius di sana, entah apa isi kepalanya sekarang.
"Sudah, bangunlah," kaos tangan itu dibuang ke tempat sampah.
"Ba-bagaimana?"
1detik.
2 detik.
3 detik.
Dipandangnya aku seksama, lalu senyum simpul menghiasi wajah ovalnya, "kau sudah dewasa, Hinata-chan."
"Ma-maksud Shizune-san?" Kutautkan jemariku, kebiasaan di saat gugup.
"Tidak apa-apa, sudah biasa seperti itu."
"Maksud Shizune–san?"
Ia terkekeh, "siapa pria itu, Hinata-chan?"
'Bu-bukan seperti itu, a—"
"Hinata-chan, bukankah tadi kukatakan—kalau yang seperti ini sudah biasa," senyumnya malah membuatku semakin takut.
"A-aku—"
"Semoga dia pria yang baik…."
"Shizune-san…."
"Hm?"
"A-aku tidak suci lagi, ya?"
Kini ia malah tertawa, pipinya merona, "kau sangat lugu Hinata-chan, aku sampai malu sendiri."
"Shizune-san onegai.…"
"Aku mengerti, kau memeriksakan ini karena takut pada Ayahmu, aku sangat mengerti situasinya," diusapnya punggungku, "semoga pria itu segera melamarmu sebelum Hiashi-sama mengetahui hal ini," kemudian ia berbisik, "lain kali gunakanlah alat pelindung agar kalian tidak kebablasan."
"Shizune-san—bu-bukan begitu, a-aku harus mengetahui kondisiku," tak mampu ku tahan air mataku, "a-apakah kesucianku telah hilang?"
1 menit.
2 menit.
Tatapannya penuh kepastian, "iya, kau telah melakukan hubungan itu setidaknya dua atau tiga kali."
Hinata End POV
Hinata menutup kembali pintunya, Shizune-san malah tersenyum bahagia, ia berharap pria yang menjadi kekasih Hinata adalah seorang shinobi tampan. Tenten cemas di depan pintu, ia berharap semuanya baik-baik saja—dan déjà vu itu tidaklah benar.
"Bagaimana?"
"…."
"Semuanya baik-baik saja, kan?"
"…."
"Jawablah," Ia mengguncang pelan tubuh sepupu tirinya.
"Tenten-san, ini bukan hanya sekedar déjà vu, tapi pernah kualami sebelumnya," dirangkulnya Tenten, "seseorang telah memperkosaku…dan aku tidak tahu siapa pelakunya."
Prince of Sharingan, 04 April 2017
*saya sangat bersyukur jika minna-chan membantu saya mengoreksi kalimat yang typo.. (tapi kalo g mau… g apa apa juga hehehhe). Sebenarnya saya benar-benar butuh bantuan minna-chan hehe : ditunggu typo-x.
*saya berharap minna-chan bersabar membaca FIC gaje ini …gomennasai kalau banyak kekurangan…banyak banged malah…dan ini bukan fic sasuhina terbaik…banyak kurangx.
*Terima kasih atas review dari minna-chan, saya telah membaca review maupun PM yang masuk…maaf karena tidak bisa membalas semuanya, tapi saya sangat menghargai itu, dan menjadi acuan/penyemangat untuk menulis chapter-chapter selanjutnya.
