Disclaimer: Masashi Kishimoto
Main pairing: SasuHina
Genre: Romance, Hurt
Rated : M
7
Presupposition
Rumah sakit Konoha dipadati Ibu hamil, ini adalah hari selasa yang sibuk untuk memeriksa calon bayi. Sebuah ruangan di lantai satu, pintunya besar dipenuhi ukiran khas clan Senju, papan nama di atas bertuliskan 'Kepala Rumah Sakit Konoha.'
Deretan kursi panjang dipadati para ibu, mereka santai menunggu namanya dipanggil. Seorang perawat memegang sebuah daftar, ia akan memanggil satu-persatu nama pasien. Satu pasien mendapat jatah sepuluh menit, itu sudah termasuk konsultasi dan USG, ditambah acara bergosip ria tentunya. Kebanyakan dari mereka adalah kunoichi, iryo-nin yang bertugas adalah kunoichi juga, satu saja pembahasan menarik, maka akan berbuntut panjang hingga bermenit-menit lamanya.
Sebenarnya ruang periksa khusus kehamilan berada di lantai tiga, Tsunade sengaja memindahkannya ke lantai satu agar lebih mudah bagi para calon ibu. Ruangan itu cukup besar untuk menaruh alat periksa, ini tak menjadi soal mengingat betapa repotnya jika harus merangkak menaiki anak tangga dengan bayi di perutmu. Beberapa tahun yang lalu telah diperbincangkan tentang pembangunan lift atau escalator, tapi Tetua masih menunggu donator yang bersedia menyumbang dana, dan sampai sekarang, tak satupun pemberitahuan tentang itu lagi.
Wanita berambut pirang itu sibuk meladeni pasien, ia dibantu oleh tiga orang kunoichi. Kebanyakan para ibu mengeluhkan hal yang sama, seperti mual, muntah, berat badan berlebih, kaki bengkak, dan nyeri pada ulu hati. Tsunade memberikan beberapa obat penunjang, katanya, jika gejala ini masih berlanjut, segera ke rumah sakit walau bukan di hari Selasa.
Saking sibuknya, wanita bertubuh curvy itu tak menyadari dua gadis kunoichi yang ikut mengantri di depan ruangan. Dua gadis ini sedang tidak hamil, mereka hanya memanfaatkan kursi panjang untuk sekedar duduk sebentar. Seorang berambut indigo dan seorang lagi warnanya cokelat, yang berambut indigo nampak sedih, takut, bimbang bercampur bingung, yang cokelat terlihat gusar dan kesal.
Tenten syok, Hinata jauh lebih syok, informasi dari Shizune berhasil membuat tubuhnya seringan kapas. Ketika kau mengalami déjà vu aneh disertai kecurigaan-kecurigaan akan aktifitas di masa lalu, saat itulah kau harus menemui seseorang, dan betapa terkejutnya kala menemukan fakta bahwa dirimu telah hilang kesuciannya, dan orang yang mengambil kesucianmu sengaja memotong ingatanmu guna menutupi jejaknya.
Si malang Hinata, jemari mungilnya bertautan, tubuhnya bergetar diiringi peluh dipelipisnya. Tenten berjanji tak akan mengadukannya pada siapapun, sepupu tirinya itu berharap ia lebih tenang, mereka akan mencari tahu siapa pelakunya. Konoha dihuni oleh puluhan shinobi hebat yang terpercaya kualitasnya. Meminta bantuan akan jauh lebih baik daripada harus mencari berdua. Para shinobi ini bisa memegang rahasia, mereka dapat dimanfaatkan jasanya dengan bayaran tak seberapa.
Hinata menolak ide itu, ia takut masalah ini akan sampai di telinga Hiashi. Para shinobi yang dimaksud adalah teman Hiashi juga, bagaimana jika mereka melapor? Maka selesai sudah kiprahnya di mansion Hyuuga. Tenten butuh satu nama, setidaknya jadikan orang itu sebagai awalan. Dia berharap Hinata mampu mengingat orang lain yang terlibat, selain pelaku tentunya. Adalah dua orang genin dan seorang wanita bertubuh gemuk, mereka tak terlalu banyak ambil bagian, wajahnya pun tak jelas, genin dan wanita itu hanya tersenyum dan menutup gorden.
"Kapan aku bercerita tentang pria itu?"
"Kira-kira dua Minggu setelah perang, saat itu Konoha tidak mengambil misi, semua shinobi diliburkan," jelasnya.
Betul kata si cepol, dua minggu setelah perang, Konoha libur total. Kebanyakan dari mereka hanya berpesta, bagi yang kehilangan, mereka juga tetap berpesta, tapi pestanya lebih ke acara baca doa dan bakar dupa. Intinya, semua shinobi berada di Konoha, jadi semuanya berhak dicurigai, atau kata lainnya, akan sulit mencari sebuah jarum di dalam tumpukan jemari.
"Berikan aku satu nama…satu saja," bisik si gadis.
Ditatapnya gadis malang di sampingnya, ia pun memikirkan hal yang sama, satu nama sebagai permulaan atas puzzle acak ini, "entahlah, aku tak ingin menuduh seseorang."
"Satu saja…."
Selama ini, sebelum atau setelah perang, Hinata jarang bertemu dengan nakama. Dia adalah gadis pendiam yang tak pandai bergaul, ketika bertemu sesekali, si gadis hanya menyapa sebentar lalu menghindar. Nakama hafal sifatnya, tapi bukan berarti mereka tak menyukainya, Hinata seperti itu karena merasa minder. Nakama seumurannya rata-rata adalah shinobi hebat dengan segudang prestasi, tak seperti dirinya yang selalu terbatas dalam hal apapun, termasuk kontrol chakra yang lemah dan kurangnya pengetahuan tentang kekkei genkai.
"Selama ini kau jarang berinteraksi dengan nakama."
"Yang paling sering siapa?"
"Aku takut menyebutnya, Hinata."
"Sebutkan saja, biarpun bukan dia orangnya, setidaknya kita bisa mengorek sedikit informasi darinya," ia agak kesal karena Tenten ragu-ragu.
"Seseorang yang tampan dan lumayan dekat denganmu," ada jeda cukup lama, ia tengah memikirkan satu nama, "ah! aku tahu seseorang," katanya kemudian.
"Siapa?"
1 menit.
2 menit.
"Inuzuka Kiba, rekanmu di tim delapan," matanya membentuk roll eyes, "tidak mungkin Shino-kun, menurutku dia kurang tampan dan bau serangga."
Ini pukul sepuluh pagi, masih terlalu dini untuk membaca buku diperpustakaan, hanya dua orang genin, ditambah Hinata beserta Bibi penjaga, ruangan ini masih terlalu besar menampung empat orang. Genin di sana agak ribut, mereka membahas tentang tokoh pahlawan di dalam buku bergambar. Suaranya menggema di seluruh ruangan, seorang bersuara cempreng dan seorang lagi dengan suara melengking, dua genin itu larut dalam dunia mereka sendiri.
Hinata hanya berjarak lima meter, dia tersenyum, jika kehidupannya dan Hanabi sebebas itu, mereka pasti sangat bahagia. Salah satunya menengok pada gadis dibelakangnya, si gadis menaruh telunjuk dibibirnya, merasa ditegur, genin tersebut nyengir lebar, memamerkan gigi depannya yang rusak karena kelebihan makan permen.
Sepertinya si Bibi kurang sukses melaksanakan tugasnya, dia sama sekali tidak terganggu dengan suara ribut disekitarnya. Entah apa yang ia mimpikan, suara dengkurnya terdengar samar menandakan betapa ia menikmati tidur paginya. Jenis-jenis kekkei genkai, itu adalah tema buku yang dibaca oleh Hinata, ia tetap fokus pada isi bukunya walah dua genin didepannya saling mengoceh satu sama lain. Suara pintu menarik perhatian mereka, Kiba berdiri di sana. Entah lantainya yang terlalu tinggi atau pintunya yang tidak rata, hingga tersangkut dan menimbulkan bunyi gesekan di lantai. Dua genin itu sigap, mereka berlari menuju arah si pria, terjadi perbincangan seru tentang kondisi kayunya yang sudah tua, mereka mendorongnya bersama-sama, terdengar suara nyaring yang sukses membuat ngilu telinga, tapi akhirnya pintu itu menutup rapat kembali.
Rupanya dua genin tadi hendak keluar, mereka meloloskan tubuhnya secepat kilat. Kiba tersenyum, dipikirnya dua genin tadi sengaja membantunya, tapi nyatanya mereka memang hendak meninggalkan ruangan. Langkahnya santai menuju arah wanita yang sedang memandangnya, pandangan itu seolah berkata, 'ada apa?' Tapi Kiba tak menunjukkan ekspresi apapun. Dia menarik kursi di samping si gadis, mengambil buku tentang kekkei genkai dan menaruhnya sejauh mungkin.
"Apa yang kau lakukan di tempat ini?" Suaranya serak, semalam ia dan nakama berpesta hingga pukul dua pagi.
"Sakit?" Tebak Hinata.
"Tidak juga, tenggorokanku sedikit serak," penyuka anjing itu mengelus area lehernya, "kau sedang apa di sini?" pertanyaannya diulang.
"Aa—hanya membaca beberapa buku."
"Beberapa atau satu saja, itu dua makna yang berbeda," pandangannya tidak lepas dari iris amethyst yang sedang malu-malu.
"Satu saja," jawab si gadis.
"ku rasa sensei sedang mencarimu."
"So-souka," Hinata memalingkan wajahnya, ia kurang nyaman jika ditatap seperti itu, "a-aku akan ke tempat sensei," ia hendak bangkit berdiri, tapi tangan si pria menahannya.
"Ayolah, jangan menemuinya dulu, ini masih pukul sepuluh."
"Ta-tapi…."
Suara dengkuran Bibi gemuk memancing perhatian Kiba, lalu dipandangnya kembali Hinata, "dia malas," bisiknya.
Hinata berusaha melepaskan genggamannya, terlihat betul dia kurang nyaman, "gomennasai," dia membuat beberapa jarak dengan menarik kursinya.
Kiba terkekeh, "ayolah, bukankah ini menyenangkan," senyumnya mengandung berjuta makna, digenggamnya kembali lengan Hime "akan ku buat kau melayang."
"Tolong, jangan seperti ini,"
"Ini hanya sekedar bersenang-senang."
Konohamaru mengambil langkah seribu, ia mengutuk kebiasaan telat yang berlebihan. Pukul dua belas siang bukan waktu untuk berlatih, melainkan waktu untuk makan siang. Walau usianya masih dua belas tahun, cucu Tuan ke Tiga itu senang bergaul dengan orang dewasa. Semalam ada ajakan dari Shikamaru nii, adalah sebuah kunjungan ke ruang pribadi Hokage, karena Sasuke tidak hadir malam itu, ia menggantikan tugasnya untuk menulis ulang surat resmi ke buku besar. Mereka selesai pukul satu malam, tak langsung pulang begitu saja, ia malah menemani Shikamaru minum di kedai. Perlu diperjelas, hanya menemani saja, Konohamaru masih terlalu muda untuk mengenal sake. Alhasil, dia tiba dirumahnya pukul empat pagi, Ibunya marah besar, Ayahnya bahkan telah menyediakan cambuk. Niat itu urung dilakukan kala melihat kondisi sang putra, tanpa memandang wajah orang tuanya, Konohamaru melangkah oleng menuju kamarnya "jangan bangunkan aku," katanya seraya membanting pintu.
"Sial, Moegi dan Udon pasti datang lebih dulu," gerutunya.
Gelanggang ramai padat, orang-orang disana nampak antusias bersorak gembira, mereka bahkan berlarian disekitarnya. Dari kejauhan, Moegi dan Udon melambaikan tangannya, mereka meneriakkan sesuatu, 'gawat! Sesi latihannya sudah selesai,' batinnya.
Semakin cepat ia berlari, semakin cepat pula orang-orang berlarian menjauhi gelanggang. Seseorang bahkan menabrak bahunya, "maaf, maaf," katanya, lalu kembali berlari. Beberapa dari mereka nampak ketakutan, yang lainnya mengumpat kasar.
"Konohamaru-chan, cepatah kemari!" Teriak Moegi.
"oe! Ada apa ini? kenapa mereka ketakutan?"
"Kiba nii sedang bertengkar dengan Tenten nee," Udon panik.
"Bertengkar? Ada apa?"
"Entahlah, kami sedang berlatih lempar shuriken, tiba-tiba dia datang dan menghajar Kiba nii," jelasnya, bukannya ketakutan, Moegi terlihat bangga akan aksi si cepol, "Tenten nee selalu keren seperti biasanya."
"Mereka sering begitu, teman-teman Naruto nii rata-rata suka bertengkar satu sama lain," Konohamaru enteng, "tenangah, mungkin itu hanya pertengkaran biasa."
"Tapi Tenten nee mengeluarkan senjatanya dalam jumlah banyak sekali," Udon melingkarkan kedua tangannya, "seperti ini…," katanya.
"Sebanyak itu?"
"Sepertinya ia marah sekali, wajahnya sangat menakutkan," genin berkacamata itu bergidik ngeri.
"Oh Kami-sama, kupikir aku telat, ternyata Tenten nee menyelamatkanku," Konohamaru mengelus-elus area dadanya, "yosh! sebaiknya kita jangan ikut campur, ini urusan orang dewasa—sebantar juga baik."
"Tapi, Kiba nii terpojok, Akamaru sembunyi di belakang papan," Udon makin panik kala terdengar suara gemuruh dari dalam gelanggang, "ku rasa ini masalah serius."
"Hoi! Anak-anak! Cepat pergi, gelanggang akan segera runtuh, gadis itu mengeluarkan fuma shuriken!" Seorang paman berlari ke arah mereka, selama ini dialah yang dipercaya untuk merawat gelanggang.
"Ho! Benarkah? Keren!"
"Konohamaru-chan, ini kiba nii—dia pembimbing kita, kenapa kau senang dia dipukuli?" Udon protes seraya menyeka cairan kental yang mengalir dari lubang hidungnya.
"Ayo kita ke dalam!" Ia berlari menuju pintu utama, tanah bergetar, serpihan kecil mulai berjatuhan dari langit-langit. Tempat ini terbuat dari beton utuh, jika kau tertimpa olehnya, selesai sudah riwayatmu, "Konohamaru-chan—tunggu! Jangan ke dalam!" Udon dan Moegi menyusulnya.
Jika Tenten dipanggil keruang Hokage karena mengacau, artinya ini adalah kali pertama ia membuat masalah. Sebagai murid andalan Guy-sensei, ia terkenal taat pada peraturan dan selalu bersikap positif pada siapapun. Jika ia bermasalah dengan seseorang, mereka akan berunding bersama guna mencari solusi. Tapi tidak kali ini, Inuzuka Kiba harus diberi sesuatu.
Awalnya biasa saja, Tenten dan Hinata memasuki gelanggang seraya menyapa beberapa kouhai. Nampak Kiba sedang memberi instruksi pada dua genin, pria itu nyengir bahagia, ia senang dipercaya oleh Ebisu-sensei melatih muridnya, ini adalah kesempatan bagus untuk menunjukkan betapa kuatnya putra Inuzuka. Tapi nyengir bahagia itu justru menyulut emosi si cepol. Walau belum jelas dia pelakunya, tapi hati kecil Tenten berkata bahwa si pria penyuka anjing itu tahu beberapa hal.
Terjadi percekcokan ringan, para genin yang sedang berlatih fokus memandang mereka. Hinata berusaha menenangkan sepupunya, tapi empat shuriken mini siap menyerang Kiba. Merasa ini tak serius, Kiba malah mengejek cepolnya yang akhir-akhir ini jarang terlihat. Cepol dikepalanya bukan sembarang cepol, melainkan untuk memudahkannya ketika bertarung. Hinata menarik Tenten menjauh, diambilnya empat shuriken itu lalu dibuang ke sembarang tempat.
"Hinata, jangan halangi aku!" Bentaknya.
Hanya dua detik setelah ia mengatakan itu, kini hidungnya hanya berjarak dua centimenter dari hidung Kiba, sebuah bogem mentah segera melayang, namun pria itu sigap menghindar, sejurus kemudian mereka berlarian di langit-langit. Terjadi beberapa serangan level B yang sukses membuat gedung serasa runtuh. Hinata melindungi kepalanya dari serpihan, Akamaru sembunyi dibelakang papan, ia takut setengah mati, pernah di suatu kesempatan, si cepol menendangnya karena ketahuan mencuri cemilan.
Sebagai kunoichi yang ahli dengan senjata-senjata ninja, Tenten wajar mengeluarkan fuma shuriken. Kiba tak melawan, ia terus menghindar seraya tertawa. Tawa ejekan itu semakin membuat Tenten emosi, "keluar kalian semua! Akan kuhabisi dia disini!," katanya. Penghuni gelanggang berhamburan, "puteri Daimyo itu mengamuk!" seorang chunin lari tak karuan, yang lainnya berkata, "panggil seseorang sebelum gedung ini runtuh!"
Hinata terus meneriaki nama Tenten, ia berharap sepupunya itu bisa lebih tenang, toh belum jelas Kiba pelakunya, "bukan seperti ini, biarkan aku bicara dengan Kiba-kun!" katanya, "ji-jika gedung ini runtuh, kau akan terkena masalah…."
"Tapi—"
"Onegai…," Hinata memohon.
Dari kejauhan suara cempreng Konohamaru terdengar jelas, "sugoi! Ibunya shuriken!" teriaknya. Kiba bergantung di langit-langit, ia berulang kali menggaruk area pipinya yang tidak gatal. Apa yang menyebabkan saudara Lee ini mengamuk? Dan sasarannya adalah dirinya, sementara dia sendiri tak tahu-menahu sumber masalahnya.
Mata pisau fuma shuriken lebih tajam dari kunai biasa, ia mengasahnya dengan tulang dan darah hewan secara berkala, biasanya selepas misi, atau di saat senggang. Kiba bahkan sering membantunya melakukan itu, dan kini Tenten menyerangnya tanpa alasan jelas.
"Kiba-kun…cepat lari, jangan diam saja," saking besarnya ukuran fuma shuriken, Hinata agak mengambil jarak, sementara pisau-pisau itu berputar layaknya kipas angin gantung, "mirip seperti kipas angin Ibuku," Kiba terkekeh atas kalimatnya sendiri.
"Diam kau, pengkhianat!" Ia mengambil ancang-ancang untuk melemparnya ke arah Kiba.
"Ha? Siapa yang kukhianati?" tubuhnya dibiarkan jatuh dari langit-langit, ketika hendak mencapai permukaan lantai, ia segera merubah posisinya, "sejak kapan kau kukhianati?" diliriknya Konohamaru yang sedang memandangnya juga, "aku sedang mengajar, akan kulandeni lain kali."
"Apa yang kau lakukan dua tahun yang lalu?"
Kiba melakukan banyak hal dua tahun lalu, misalnya, berperang, misi, melatih Akamaru, makan, tidur, memandikan Akamaru, lalu tidur lagi, makan lagi, "apa maksudmu, cepol?"
"Maksudku, apa yang kau lakukan pada Hinata, dua tahun yang lalu?" terdengar bunyi 'dug' ketika fuma shuriken menyentuh lantai.
Telunjuknya mengarah kewajahnya, "aku? Apa yang kulakukan pada Hinata?" ditatapnya lekat-lekat si gadis yang dimaksud.
"Be-belum tentu itu Kiba-kun," jemarinya bertautan.
"Tapi dialah yang paling dekat denganmu! Tidak mungkin Shino pelakunya, karena dia tidak tampan!" Suaranya menggema seisi gelanggang.
Well, dia berkata sepeti itu sementara Shino sedang berdiri didepannya. Dua cola ditangannya nampak bergetar, jika fuma shuriken beraksi artinya telah terjadi sesuatu yang sangat buruk. Shino tak mengerti kenapa Kiba di serang, ia hanya pergi selama lima menit ke mesin cola dan kini gelanggang nyaris rubuh.
"Ma-maaf Shino-kun, Tenten-san tak bermaksud begitu…."
"Mungkin kau sudah gila, ku dengar Yamato-senpai belum melamarmu sampai sekarang," Kiba mengambil salah satu cola dari tangan Shino.
"Omae!"
"Tenten–san onegai! Biarkan aku bicara dengan Kiba…."
"Awas kau gigi runcing…," jemarinya membentuk isyarat aneh yang dapat diartikan sebagai, 'i watch you.'
Mereka mengambil tempat di sudut, Kiba melangkah malas, cola diseruput cepat-cepat sebelum kalengnya di lempar ke tempat sampah. Beberapa meter di depan terlihat Tenten tetap siaga, Shino masih memegang cola miliknya, sementara kelompok Konohamaru berusaha mencuri dengar.
"Nah, bicaralah," ia duduk menyilangkan kakinya, "sial, sepupumu hampir membunuhku."
"Ku-ku harap Kiba-kun tidak tersinggung."
"Aku jarang tersinggung," jawabnya cuek.
1 menit.
2 menit.
Kiba berdehem, Hinata terlalu lama mengambil ancang-ancang. Selepas dari sini ia akan menemani tim Konohamaru mencari burung beo, "cepatlah, aku harus mendampingi genin."
"A-anoo—Kiba-kun, a-apakah sebelumnya kita pernah ada hubungan?"
"…." Kiba berpikir, salah satu alisnya terangkat.
"Ma-maksudku selain rekan di tim delapan."
"Selain rekan?"
"Ma-maksudku sebagai teman akrab yang dekat…."
"Bagaimana mengatakannya yah…soalnya Hinata-chan jarang berpartisipasi dalam misi, kau lebih banyak mengambil libur, dan tugasmu digantikan oleh orang lain—jadi kalau dibilang akrab…," ia berpikir sesaat, "sepertinya…tidak juga."
"Souka…."
"Hm, begitulah…."
"A-apakah ki-kita pernah bertemu di luar untuk urusan lain? Selain urusan shinobi?" si gadis agak ragu dengan kalimatnya.
"Ha? Bertemu di luar?" Kiba bingung.
"i-Iya…bertemu di luar, bicara panjang lebar mungkin…."
"Maksudmu, kencan ya?"
"Bisa jadi…."
1 menit.
2 menit.
Sontak tawanya menggelegar, sukses memamerkan dua gigi taringnya. Tubuhnya bahkan kehilangan keseimbangan hingga harus terjatuh dari bangku. Kiba menggulung dirinya di atas lantai, suaranya menggema disekitar, kalimat Hyuuga Hinata sangat lucu ditelinganya, "Hinata, kau ini adalah gadis machiya, tidak mungkin pergi berkencan," kalimatnya kurang jelas diselingi tawa, "apalagi denganku…mustahil."
"Telah terjadi sesuatu padaku—"
"Eh?"
"—sesuatu yang buruk…bahkan sangat buruk."
"Sesuatu seperti apa?" Rautnya mendadak serius.
"A-aku tak perlu menjelaskan detailnya, intinya seseorang pernah berlaku sangat buruk padaku."
"Siapa? Katakan."
"A-aku tidak tahu, aku lupa orangnya."
"Bagaimana bisa?"
"Kiba-kun, orang itu sengaja memotong ingatanku."
Dengan fungsi otaknya yang pas-pasan, Kiba menghubungkan pernyataan Hinata dengan penyerangan yang dilakukan Tenten, "tunggu dulu, menurutmu aku yang melakukannya, maka dari itu Tenten menyerangku dengan fuma shuriken, begitu?"
"A-aku tidak menuduhmu, tapi aku sama sekali tak punya opsi lain," dibuatnya jeda cukup lama, "di dalam penggalan déjà vu yang kualami, orang itu terlihat seperti Kiba, sementara yang akrab denganku hanya Kiba dan Shino, makanya aku menemuimu," ditatapnya rekannya itu, "aku tak menuduhmu, dan kuharap itu bukan Kiba…."
"Oe! Shino, sebaiknya permak wajahmu agar terlihat lebih tampan," teriaknya.
"Bagaimana Hinata-chan, dia kah pelakunya, katakan sekarang lalu kulempar dengan fuma shuriken!" Suara Tenten lantang.
"Aku bingung…."
"Kejahatan seperti apa yang dilakukan orang itu?"
"Pokoknya jahat…."
"Maaf Hinata, aku tak bisa membantu apa-apa jika kau tak berkata jujur," Kiba bangkit dari lantai dan kembali duduk di bangku, "banyak hal yang terjadi dua tahun yang lalu, kapan kejadiannya? dan dimana?"
"Entahlah, tapi ku anggap itu dua Minggu setelah perang ninja ke empat," terdengar samar perdebatan antara Shino dan Tenten di sana, "dua tahun yang lalu aku mengenal seseorang, tapi aku lupa, wajah dan namanya hilang begitu saja dikepalaku," terlihat Tenten menjewer Shino, sementara Moegi berusaha melerai keduanya, "jika Tenten tidak menyinggungnya di onsen tadi pagi, masalah ini akan kulupakan untuk selamanya."
"Hm, lalu?" Kiba menyimak.
"Ku rasa…orang yang memotong ingatanku dan orang yang kuceritakan pada Tenten adalah orang yang sama."
"Apakah dia seorang shinobi?"
"Mungkin begitu, ingatanku dihapus menggunakan ninjutsu atau genjutsu."
"Menurutku, tidak ada jenis jutsu yang mampu menghilangkan ingatan seseorang, bahkan genjutsu sekalipun, tapi kalau menyegel, bisa jadi."
"Segel? Maksudmu seperti fuinjutsu?"
"Iya, fuinjutsu, tapi yang di segel bukan benda atau orang, melainkan ingatan seseorang," Akamaru mendekati mereka, anjing itu masih ketakutan, "segel itu hanya bisa di lepas oleh penggunanya, jutsu ini biasa digunakan oleh anbu dalam keadaan genting, ketika mereka tertangkap, musuh akan kesulitan mengorek informasi."
"Siapa saja yang bisa menggunakan jutsu ini?"
"Hampir semua shinobi rank A menguasainya, tapi anbu paling sering memanfaatkannya, aku tak bilang pelakunya adalah seorang anbu—dan jika kau tetap ngotot menuduhku, maka kau salah besar—karena aku tak menguasai jenis jutsu ini."
"Souka…."
"Dua Minggu setelah perang, ya?" Kiba menerawang, "aku ingat, waktu itu aku menemuimu diperpustakaan."
Flashback
Ini pukul sepuluh pagi, masih terlalu dini untuk membaca buku diperpustakaan, hanya dua orang genin, seorang wanita bertubuh gempal ditambah Hinata, ruangan ini masih terlalu besar menampung empat orang. Genin di sana agak ribut, mereka membahas tentang tokoh pahlawan di dalam buku bergambar. Suaranya menggema di seluruh ruangan, seorang bersuara cempreng dan seorang lagi dengan suara melengking, dua genin itu larut dalam dunia mereka sendiri.
Hinata hanya berjarak lima meter, dia tersenyum, jika kehidupannya dan Hanabi sebebas itu, mereka pasti sangat bahagia. Salah satunya menengok pada gadis dibelakangnya, si gadis menaruh telunjuk dibibirnya, merasa ditegur, genin tersebut nyengir lebar, memamerkan gigi depannya yang rusak karena kelebihan makan permen.
Wanita gemuk di sana bukanlah seorang kunoichi, mungkin dia bekerja untuk Daimyo. Langkahnya malas ke arah jendela, ia menggerutu tentang cahaya mentari, "akan kututup gordennya, ini silau," katanya.
"Silahkan," kata Hinata.
Matahari pagi adalah vitamin, tapi si gemuk enggan terkena sinarnya. Dia kembali ke tempatnya, sebuah meja panjang di sudut, tangannya dilipat lalu kepalanya bersandar pada dua tangannya itu, dia melanjutkan tidur paginya.
Jenis-jenis kekkei genkai, adalah tema buku yang dibaca oleh Hinata, ia tetap fokus pada isi bukunya walau dua genin didepannya saling mengoceh satu sama lain. Suara pintu menarik perhatian, Kiba berdiri di sana. Entah lantainya yang terlalu tinggi atau pintunya yang tidak rata, hingga tersangkut dan menimbulkan bunyi gesekan di lantai. Dua genin itu sigap, mereka berlari menuju arah si pria, terjadi perbincangan seru tentang kondisi kayunya yang sudah tua, mereka mendorongnya bersama-sama, terdengar suara nyaring yang sukses membuat ngilu telinga, tapi akhirnya pintu itu menutup rapat kembali.
Rupanya dua genin tadi hendak keluar, mereka meloloskan tubuhnya secepat kilat. Kiba tersenyum, dipikirnya dua genin tadi sengaja membantunya, tapi nyatanya mereka memang hendak meninggalkan ruangan. Langkahnya santai menuju arah wanita yang sedang memandangnya, pandangan itu seolah berkata, 'ada apa?' Tapi Kiba tak menunjukkan ekspresi apapun. Dia menarik kursi di samping si gadis, mengambil buku tentang kekkei genkai dan menaruhnya sejauh mungkin.
"Apa yang kau lakukan di tempat ini?" Suaranya serak, semalam ia dan nakama berpesta di rumah bernyanyi hingga pukul dua pagi.
"Sakit?" Tebak Hinata.
"Tidak juga, tenggorokanku sedikit serak," penyuka anjing itu mengelus area lehernya, "kau sedang apa di sini?" pertanyaannya diulang.
"Piket."
"Diperpustakaan?"
"Iya, menurutku ini bagus."
"lain kali ikutlah bersama kami," Kiba meneliti buku tebal warna merah di meja, "itu akan baik untuk perkembanganmu."
"Ma-maaf Kiba-kun, kontrol chakraku buruk, Tsunade-sama melarangku."
Irisnya memandang lekat, "sampai kapan kau akan mengurung diri di Konoha, kau butuh sesuatu yang baru…."
Hinata memalingkan wajahnya, ia kurang nyaman jika ditatap seperti itu, "a-aku baik-baik saja…."
"Sensei sedang mencarimu, lho."
"Ada apa?"
"Hanami, ingat? Sensei ingin kita berkumpul, sekaligus merayakan tiga tahun lahirnya Mirai-chan."
"Souka…"
"Ayolah, ini pukul sepuluh, sebentar lagi makan siang, sensei telah menyediakan bento untuk kita."
"Menyantap bento di bawah pohon sakura…."
"Memangnya Hanami seperti apa lagi?"
Hinata terkekeh melihat wajah cuek Kiba, "Ta-tapi…."
Suara dengkuran si gemuk memancing perhatian, "dia malas," bisiknya, "ayo, ikut," digenggamnya tangan Hinata, "mereka telah menunggu kita, Hinata bagian dari tim delapan juga."
"Gomennasai…."
Kiba mendecak kesal, "ayolah, bukankah ini menyenangkan, aku tak sabar bermain dengan Mirai-chan."
"A-aku sedang piket…."
"Naruto akan menggantikanmu, dia akan datang sebentar lagi."
"Benarkah?"
"A-aku takut dituduh lalai dalam tugas…," Hinata ragu.
"Ayolah, ini hanya sekedar bersenang-senang…kau tegang sekali…."
Adalah sebuah taman sakura di sisi kuil, warga Konoha berbondong-bondong ke sana lengkap dengan tikar dan bento. Beberapa orang membawa alat musik, iringan lagu akan semakin menambah suasana sejuk musim semi tahun ini.
Karena perang baru saja berakhir, sebaiknya perayaan Hanami dimulai dengan doa bersama. Beruntung Hokage memberi jatah libur total, jadi semua shinobi dapat berkumpul di kuil guna membakar dupa.
Hinata di himpit oleh Kiba dan Kurenai-sensei, si guru cantik menitihkan air mata kala mengenang suaminya yang telah tiada. Puteri tunggal mendiang Asuma-sensei tidak peduli dengan suasana sakral disekitarnya, ia sibuk memainkan kepik pemberian Shino.
Shikamaru menghampirinya, "jangan bermain," bisiknya.
"Shikamaru nii, mereka semua tertunduk, apa maksudnya?" Bisiknya," dan kayu asap itu?"
"Mereka sedang mendoakan keluarganya di surga, Mirai-chan juga harus berdoa untuk Otou-chan."
"…." Mirai diam saja, otaknya belum mampu mencerna kalimat orang dewasa.
"Akhirnya kau datang juga," Kurenai mengarahkan muridnya keluar kuil, "Shino, tikar berwarna hijau di sisi kiri," katanya.
"Tadinya begitu, tapi ini demi Mirai-chan," Shikamaru nampak malu-malu, ia pun mengekor langkah Kurenai menuju taman sakura.
"Shikamaru sangat menyayangi Mirai, ucapkan sesuatu, Nak."
"Arigatou," kalimatnya masih kurang jelas, Mirai belum fasih mengucapkan huruf-huruf.
"Sama-sama Mirai-chan."
"Aku senang Shikamaru dan Hinata hadir di tengah-tengah kita, akan sangat membosankan jika hanya aku, Mirai, Kiba dan Shino saja," si kuncir berdehem, "sensei, sebenarnya aku di tim sepuluh…."
"Bukan masalah, Shika-kun adalah bagian dari Asuma-san, kita seperti keluarga."
Mirai girang ketika kelopak bunga jatuh di atas rambutnya, "sakura! Sakura!" Teriaknya.
Semua gemas melihat aksi lucunya, "keluarga bahagia," sindir penghuni tikar di sebelah, itu adalah Shizune-san dan Tsunade-sama, "manfaatkan waktu senggang ini sebelum Konoha kebanjiran misi," botol sake ditangannya sukses mengundang senyum beberapa orang disana.
"Naruto berjaga di perpustakaan," isi kotak bento berwarna cokelat dilahap Kiba.
"Iya, masa pemulihannya masih berlangsung, tak banyak kegiatan di perpustakaan, tempat itu cocok untuknya," ada jeda, "sebaiknya Naruto menghindari gerakan-gerakan aneh."
"Gerakan aneh bagaimana?" Kurenai penasaran.
"Ya, kau tahu sendirilah, dia bocah yang tak bisa diam," si iris madu telihat kurang fokus, pagi ini dia meneguk terlalu banyak sake, "berbeda dengan Sasuke, Uchiha yang satu itu lebih senang diberi misi."
"Misi? Bukankah anda meliburkan semua shinobi."
"Dia menolak, jadi aku bisa apa…."
"Rasanya kurang adil, dua pahlawan Desa tidak hadir di tengah-tengah kita," Shino memainkan anak kepik di jemari mungil Mirai.
"Naruto butuh istirahat, Sasuke keras kepala…biarkan mereka semaunya," ia memijit pelan pelipisnya, sesaat kemudian tubuhnya jatuh di atas tikar warna kuning, "toh perang telah usai….oh Kami, aku lelah…."
"Nah, waktunya makan siang," Kurenai membuka bentonya, "maaf sensei, aku melahapnya lebih dulu, ini terlalu enak," Kiba nyengir.
"Silahkan, aku senang murid-muridku melahap masakan senseinya," irisnya menatap gadis berponi yang nampak canggung, "Ne, Hime-chan, silahkan disantap bentonya, ini kubuatkan khusus untukmu, lihatlah…kotaknya warna ungu, seperti warna kesukaan Hime."
"A-arigatou…Kurenai-sensei…."
"Ayahmu tidak ikut merayakan hanami?" Tanya Tsunade.
"Aa—Ayah dan Hanabi merayakannya di rumah saudara, mereka akan kembali empat hari lagi," jelasnya.
"Souka, menginaplah dirumahku malam ini, temani aku dan Mirai," samar terdengar suara Tsunade, 'beruntungnya Hinata, Kurenai-san sangat perhatian padamu.'
"Be-benarkah sensei?" gadis itu bersemangat, "yatta! Yatta!" Mirai girang, ia memeluk leher Hinata seraya mencium pipinya, "nee, Mirai-chan, kita akan berbagi futon malam ini…," kata si gadis.
"Sensei rindu padamu, Hinata jarang berkumpul bersama kita," Kiba menyindir.
"Mirai-chan umurnya berapa, ya?" Shizune meneliti si kecil yang sibuk mencomot bento Hinata.
"Tepat hari ini umurnya tiga tahun…."
"Sugoi…lancar sekali bicaranya."
"Gizinya Shizune…gizinya…," Tsunade hampir terlelap, tapi bibirnya tetap terjaga, "itu berkat aku yang merawat ibunya semasa hamil…."
Suasana akrab ini nampak asing bagi Hinata, hadir di tengah-tengah Kurenai-sensei, nakama, dan Hokage ke lima membuatnya merasa spesial. Bento warna ungu itu sangat lezat, sensei sengaja menambahkan bawang dan cabai. Hinata bukan pecinta bawang, tapi kali ini ia menyantapnya seperti orang kelaparan, entah jenis rempah apa yang digunakan sensei, tamagoyaki itu serasa pas di lidah.
Tidak ketinggalan Akamaru si anjing ninja, sebuah wadah kecil disediakan untuknya. Walau hanya anjing, Akamaru pun dianggap sebagai keluarga, sementara pemiliknya siap menyantap bento ke dua.
"Hei, makanlah sesuatu, wajahmu terlihat pucat," Kiba menepuk pundaknya, pria berkuncir itu bahkan hampir tertidur.
"Semalam kami bepesta hingga pukul empat pagi, sudah tiga hari berturut-turut," berulang kali Shikamaru menggosok area matanya.
"Wajahmu pucat sekali, hati-hati kurang darah," walau irisnya terpejam, Tsunade tetap peka dengan pembahasan disekitarnya.
"Ibu…ibu…bento…bento…," rengek Mirai.
"Nee…pelan-pelan, ini agak panas," nasi kepalnya dipilah-pilah, Mirai tak sabar ingih segera melahapnya.
"Hei…Shizune, makanlah yang banyak, Kurenai sengaja menambahkan bawang dan cabai, bukannya kau suka?" lagi lagi ia komentar, "oh Kami-sama, aroma bawang rebus sungguh nikmat, arigatou Kurenai-san, kami tak akan sanggup membuat bento seenak ini…."
"Anda terlalu memuji," ia terkekeh sembari menyuapi Mirai.
"Hei, Kakashi! Kakashi! kemarilah!" pria yang bersandar di pohon sakura menarik perhatian, "kasihan, kurasa dia seorang diri," bisik Shizune.
"Ajak dia Shizune-san, bentonya masih cukup," Kurenai mengambil sekotak lagi dari keranjangnya, "Hinata, ambilkan air kemasan itu."
"Beruntungnya dia dikelilingi nakama yang peduli, sangat berbeda dengan jamanku dulu."
"Apa kabar kalian semua…." icha-icha paradise seri ke delapan digenggamnya.
"Daripada kau membaca buku aneh itu, bergabunglah bersama kami," bento ukuran sedang disodorkan padanya.
"Sudah ku duga akan diberi bento, arigatou Hokage-sama," Kakashi mengambil tempat di antara Shino dan Kiba.
"Jangan berterima kasih padaku, kami pu diajak oleh kurenai…."
"Aah— Kurenai-chan, kau baik sekali…arigatou," ia terkekeh.
Suasana kekeluargaan kental disana, mereka bergembira menyambut datangnya musim semi di bawah pohon sakura. Kelopak bunga warna pink jatuh–jatuh menghiasi tanah Konoha, ini akan berlangsung selama beberapa bulan ke depan, haru adalah musim terindah diantara tiga musim lainnya.
End Flashback
"Percaya atau tidak, tapi seperti itulah pertemuan kita dua minggu setelah perang."
"Aku ingat sekarang, malam harinya kita semua bermalam di rumah kurenai-sensei, padahal beliau hanya mengajakku, tapi kalian ngotot…."
"Iya betul, malamnya kita makan tamagoyaki lagi."
"Iya…," air matanya mulai berjatuhan, "aku salah karena mencurigaimu…maaf…."
"Sebaiknya temui Naru-kun, bukankah dulu kau sempat suka padanya?" ada jeda, "dia menguasai jenis jutsu ini, mungkin dia bisa membantumu."
"Aduh panasnya…apakah musim panas akan datang lebih cepat? Artinya musim semi waktunya lebih pendek, dong…." kipas merah bercorak naga dikibas-kibaskan Tenten, peluh membanjiri wajah manisnya, seharusnya udara sedikit lebih sejuk mengingat ini adalah musim semi, "di malam hari malah lebih panas lagi," gerutunya.
"Ini akhir musim semi, cuaca memang lebih hangat."
"Hangat apanya…ini panas namanya…," alisnya bertautan.
"Peluh itu muncul karena Tenten-san bertarung bersama Kiba-kun," kelompok Konohamaru, Kiba dan Shino menatap sinis kearahnya, mereka melangkah santai tanpa menyapa dua gadis yang sedang kebingungan, 'awas kau…,' bibirnya bergerak tanpa suara.
"Apa katamu?" Tenten merasa di tantang dengan sikap Kiba yang seperti itu.
"Me-menurutku dia mengatakan, kami pergi dulu…."
"Menurutku dia mengatakan, awas kau Tenten…."
"I-itu hanya perasaanmu saja."
"Ah! Sialan…aku hampir membunuh Kiba…."
Shinobi dari divisi konstruksi menuju area gelanggang, mereka harus melakukan rekonstruksi ulang berkaitan dengan beberapa tiang penyangga yang posisinya miring. Ini bukan karena pertarungan, melainkan karena kondisi gedung yang terbilang tua. Siapa yang akan melapor tentang perkelahian antara Tenten dan Kiba, mereka lebih memilih diam daripada harus berurusan dengan keduanya. Seolah menutup mata, semua saksi tak tahu-menahu soal itu, mereka hanya berlatih melempar shuriken, tanah tiba-tiba goyang, lalu serpihan gedung mulai berjatuhan dan semua shinobi berhamburan keluar.
Sebuah taman di depan gelanggang menjadi pelarian Tenten, ia ditemani sepupunya seraya menggerutu soal panasnya cuaca di musim semi. Rombongan Kiba meninggalkan area gelanggang, mereka hendak menangkap burung beo yang hilang kemarin malam. Satu sama lain tak saling menyapa, ini akan berlangsung selama beberapa hari, setelah itu mereka akan melupakannya. Toh bukan Kiba pelakunya, dalam hati ia agak merasa bersalah, lagipula Kiba sering membantunya merawat shuriken, rasanya kurang baik jika permusuhan ini berlanjut.
"Baiklah, aku minta maaf!" teriaknya.
"Gadis tua!" tawa mereka berbarengan.
"Kurang ajar kau Kiba! Ku jamin para gadis akan membencimu!"
"Menurutmu, apakah Kiba-kun dapat menyimpan rahasia?" Hinata agak ragu.
"Tenanglah, kurasa dia bukan tipe lelaki cerewet," ada jeda, "Jika kau setuju, kita bisa melapor pada Kakashi-sensei, mungkin dia bisa membantumu."
"Jangan ke Hokage…itu terlalu beresiko."
"Kakashi-sensei bukan orang yang kolot, buktinya ia menyetujui hubunganku dengan Yamato-kun, malah ia mengetahui itu dari orang lain, bukan dari kami berdua," jelasnya.
"Kiba-kun menyebut satu nama."
"Siapa?" Jawabnya cepat.
"Naruto-kun…."
"Tidak mungkin dia orangnya…," dua telunjuknya menyilang.
"Aku pun berpikir begitu…."
"Setahuku, Hinata-chan jarang mengobrol lama dengan Naru…walaupun bertemu, kalian hanya saling sapa."
"…."
"Jangan bilang kalau kau pernah menyukainya."
"Naruto-kun orang yang baik, dia suami Sakura-san…aku tak menuduhnya, namanya di luar daftarku."
"Naruto-kun adalah nakama terbaik kita, tak mungkin dia sejahat itu."
"Menurut Kiba, Naruto menguasai jenis jutsu ini."
"Haruskah kita menemuinya sekarang?"
"Tidak, jangan libatkan orang lain lagi, Kiba-kun sudah cukup, aku takut masalah ini akan menyebar."
"Asal jangan beritahu Ino," Tenten terkekeh.
Hinata bersandar di bahu sepupunya, ini merupakan hari yang sangat melelahkan. Banyak hal yang perlu dikhawatirkan, utamanya tentang Hiashi, lalu Kiba, lalu bagaimana tanggapan Hanabi jika mengetahui Kakaknya pernah mengalami tindak kejahatan seksual? Oh Kami, jangan buat Adikku membenciku, hanya dia yang kupunya, batinnya.
Tenten menyarankan agar mereka kembali ke mansion, tapi ia menolak, masalah ini harus tuntas sekarang juga. Semakin ditunda, maka semakin menohok hati, si gadis tak ingin berlarut-larut dalam kebimbangan, jangan tunggu besok atau nanti, pelakunya akan diketahui hari ini juga.
"Beruntungnya dirimu yang dicintai seseorang," iris si gadis hampir terlelap di pundak saudaranya.
"Suatu saat akan datang seseorang yang mencintaimu dengan hati tulus," diusapnya indigo si malang, "aku yakin itu, kau adalah gadis baik nan cantik, seseorang akan menyukaimu."
"Siapa?
"Entahlah, biarkan waktu yang menjawabnya, Hinata-chan hanya perlu bersabar dan berbuat baik pada orang-orang," kini jemari mereka saling bergenggaman, "pria itu akan datang sebentar lagi…percayalah," walau hanya sekedar hiburan semata, Tenten berharap itu bisa mengurangi kesedihan Hinata.
"Laki-laki tampan…matanya indah…," suaranya kurang jelas, iris di sana hendak tertidur.
"Iya…tampan dan bermata indah," Tenten mengiyakan.
"Tenten-san…."
"Hm…."
"Aku hafal bau Kiba-kun…sangat berbeda dengan aroma pria itu…."
"Syukurlah kalau begitu…pelakunya bukan Kiba."
"A-aku hanya perlu tahu siapa pemilik bau itu…."
"Apakah kita harus mendengus Satu-persatu para nakama?"
"Jika harus…."
"Permisi, bisakah kami duduk sebentar?" dua kouhai mendekati mereka, "aa—silahkan," Hinata agak tersentak, tadinya ia hendak tertidur.
Kouhai itu sedang terluka kakinya, sebagai dalang di balik insiden di gelanggang, Hinata menyesal. Jika Tenten tak bertarung demi membelanya, mungkin gedung tua itu masih baik-baik saja, tiangnya tak perlu miring kiri-kanan, mereka bahkan harus menggunakan alat berat untuk membenarkan posisnya.
"Syukurlah, lukanya tidak terlalu parah," darah segar mengucur dari pergelangan kakinya, "lecetnya tidak seberapa, hanya keseleo biasa," katanya.
"Hanya tertimpa tulangan beton," dia menggunakan kata 'hanya' untuk luka dikakinya, sementara bagi Hinata, luka itu tergolong level B.
"Bukankah kau akan segera menikah?" Rekannya menggoda, "jangan sampai luka ini menghalangimu, lho," ia terkekeh.
Ini pukul delapan pagi, masih terlalu dini untuk membaca buku diperpustakaan, hanya dua orang genin, seorang wanita bertubuh gempal ditambah Hinata, ruangan ini masih terlalu besar menampung empat orang.
Beberapa buku berhamburan di atas meja, ia harus merapikannya sebelum pengunjung berdatangan, "One-chan, biar kubantu," dua genin itu menghampirinya.
"Arigatou, tolong bawah ini ke rak 2B." katanya tersenyum, setidaknya dua genin itu ada kemajuan walau sedikit. Kemarin mereka hanya datang membaca buku bergambar, kini mereka bersedia membantu.
"One-chan, yang ini juga?"
"Iya, taruh di 2A."
Wanita gemuk di sana adalah sekretaris Daimyo, sejak kemarin ia mengunjungi pepustakaan. Terkadang seseorang sengaja menghidari tanggung jawab dan lebih memilih tidur di tempat sepi. Hinata menutup gordennya, cahaya mentari menerpa wajah si gemuk, ia nampak kurang nyaman
"Arigatou…," katanya, lalu kembali tidur, padahal Matahari pagi adalah vitamin, tapi si gemuk enggan terkena sinarnya.
Suara pintu menarik perhatian, Naruto berdiri di sana. Si blonde agak kesulitan dengan pintunya, "macet lagi…," gerutunya.
Dua genin itu sigap, mereka berlari ke arah Naruto, mereka mendorongnya bersama-sama, terdengar suara nyaring yang sukses membuat ngilu telinga, tapi akhirnya pintu itu menutup rapat kembali.
Rupanya dua genin tadi hendak keluar, mereka meloloskan tubuhnya secepat kilat. Naruto tersenyum, dipikirnya dua genin itu sengaja membantunya, tapi nyatanya mereka memang hendak meninggalkan ruangan, "ku rasa mereka hendak kembali ke Akademi."
Hinata tersenyum, "mereka datang ke tempat ini karena membolos pelajaran."
"Itu sudah biasa…." Naruto enteng.
Langkahnya santai menuju arah wanita yang sedang memandangnya, pandangan itu seolah berkata, 'ada apa?' Tapi Naruto tak menunjukkan ekspresi apapun.
"Maaf, terlambat," katanya.
"Tidak apa…bu-bukankah kemarin aku malah meninggalkamu sendirian," rautnya menyesal.
"Bagaimana? Ramai?" si blonde menarik kursi disamping Hinata.
"Hm, lumayan…Kakashi sensei dan Hokage ke lima hadir di sana."
"Baguslah…."
"Naruto-kun…a-apakah lukamu masih sakit?"
Dia nyengir, "agak mendingan, obat dari Nenek Tsunade sangat ampuh," nampak ia malu-malu, pipinya digaruk berulang kali.
Suara dengkuran si gemuk memancing perhatian, "dia tidur di sana sejak kemarin, lho," bisik Naruto.
"Menghidari tugas…," Hinata berbisik pula.
"Iya, perpustakaan adalah tempat tidur terbaik, sunyi dan sepi," iris biru Naruto menerawang.
"Ini baik untuk Naruto-kun…,"
"Tidak, ini baik untuk kita berdua," ditatapnya Hinata lekat.
Gadis itu mengambil jarak, kentara betul ia kurang nyaman dengan situasinya, "se-sebentar lagi perputakaan ramai dipadati genin kelas empat, ini hari rabu."
Lagi-lagi Naruto nyengir, "iya betul, mata pelajaan hari rabu adalah membaca di perpustkaan, aku ingat waktu di Akadami, ternyata peraturannya masih sama sampai sekarang."
"Ki-kita harus bersiap-siap," Hinata beranjak.
"Tunggu," tangan si blonde mencegahnya.
"Eh?"
"Ruangan di sana tidak akan ramai," telunjuknya mengarah pada ruangan di sudut, adalah sebuah tempat penyimpanan perkakas untuk bersih-bersih.
"Ma-maksud Naruto-kun?"
Dia mendecak kesal, "ayolah, bukankah ini menyenangkan, aku tak sabar ingin bermain denganmu...akan ku buat kau melayang, Hime."
"Naruto-kun...apa yang kau bicarakan...a-aku tidak mengerti."
Dua bahunya terangkat, "entahlah…bagaimana kau bisa mengerti sebelum mencobanya."
"Lepaskan aku—"
"Ikut aku," langkahnya cepat menuju ruang segi empat di sudut.
"Hentikan Naruto...hentikan…Naruto-kun…ada apa denganmu?" Hinata berusaha melepaskan cengkramannya.
"Tidak…," didorongnya si gadis malang, ia bahkan terjungkal dan tak sengaja menyentuh ember berisi air pel.
Pintu dibanting kuat-kuat, "tak seorangpun yang akan menyadari keberadaan kita di ruangan ini."
"Aku mau keluar…," Hinata hendak membuka pintunya, tapi Naruto sengaja berdiri di depan pintu itu.
"Kau keras kepala….aku tahu kau menyukaiku sejak dulu…."
"Ja-jangan lakukan apapun, o-onegai," suaranya bergetar.
"Bicaralah sepuasmu, setelah ini kau akan bungkam…."
"Bukankah kau akan segera menikah…."
"Lalu kenapa? kau tidak ada hubungannya dengan pernikahan bodoh itu."
"A-aku akan mengadukanmu pada Tsunade-sama…."
"Nenek tua itu tidak ada hubungannya, kau tidak ada hubungannya dengan pernikahanku…jangan menyangkut-pautkan sesuatu seenaknya…apapun yang terjadi di ruangan ini, hanya antara kita," ada jeda cukup lama, ia menghirup aroma mocca dari rambut si gadis, "kau lemah…mudah untuk dimiliki."
"Senpai, arigatou," sepertinya rekan saya harus ke rumah sakit, dia akan menikah, aku tak ingin luka ini menghalanginya," rekannya itu terkekeh disela kalimatnya.
"Aa—souka," Tenten masih setia dengan kipasnya.
Dua kouhai itu melenggang pergi, yang sedang terluka melingkarkan lengannya di perpotongan leher rekannya, "kasihan sekali, aku menyesal," raut Tenten sedih.
"Tenten-san…orang itu sudah menikah…."
"Hm? Orang yang mana?"
"Pria jahat itu…di telah menikah sekarang."
"Maksudmu?"
"A-aku baru saja mengalami déjà vu, kukatakan padanya, bahwa dia akan segera menikah…dan jika dihitung sampai waktu sekarang, artinya dia telah menikah…."
"Si-siapa?" Tenten ikut-ikutan gagap—saking khawatirnya melihat ekspresi Hinata.
"Aku tak menuduh Naruto-kun, tapi aku harus menemuinya sekarang…."
Di sebuah rumah sederhana di kawasan padat penduduk, Uzumaki Naruto tinggal bersama istrinya, Haruno Sakura. Clan Uzumaki merupakan pendatang dari Barat, walau memiliki keistimewaan jutsu, Uzumaki tidak tergolong kaum bangsawan. Haruno bukan sebuah clan, melainkan sebuah keluarga yang terdiri dari tiga orang, Haruno Kizashi, Haruno Mebuki, dan Haruno Sakura. Kizashi adalah pendatang dari Desa non ninja, saking penasarannya dengan ninjutsu, ia merantau hingga ke Konohagakure, karena berasal dari luar, Haruno pun tidak tergolong kaum bangsawan.
Di Konoha berlaku sebuah peraturan, bangsawan akan tinggal bersama para bangsawan, dan penduduk non clan akan tinggal bersama kaumnya, inilah alasan mengapa Naruto dan istrinya tidak diizinkan menempati area mansion. Walau kau adalah seorang pahlawan, status kependudukanmu tidak akan merubah bentuk rumahmu.
Si blonde terbaring lemas di depan TV, kepalanya pening dan hidungnya tersumbat. Tiga butir vitamin ditelan sekaligus, itu baik untuk mencegah virus influenza. Keadaan ini telah berlangsung sejak kemarin, entah siapa yang menularkan virus padanya, sepulang dari gelanggang bersama Sasuke dan Kakashi-sensei, kepalanya sakit dan mudah mengantuk. Air hangat di atas meja ditemani beberapa snack, ia hanya menyantap itu sejak pagi. Rasanya sulit makan sesuatu ketika lehermu tak berselera. Semua hambar rasanya, bahkan cup ramen super jumbo gagal membangkitkan selera makannya. Keripik keju di atas meja habis seperempatnya, beberapa berjatuhan di atas karpet orange, ia memungut itu dan memakannya, "ini belum kotor...," suaranya serak.
"Anata, hentikan kebiasaan buruk itu," Sakura protes.
"Apakah kau akan pergi, Sakura?"
"Hm…ke toko Yamanaka, aku ada janji dengan Ino, kami akan melihat yukata model terbaru…bukankah sebentar lagi musim panas?"
"pergilah ke mansion Sasu-kun, katakan padanya aku membutuhkannya…."
Sakura terkekeh, permintaan suaminya sungguh menggelitik, "Sasu-kun akan marah mendengar itu," kalimatnya diselingi tawa.
"Setidaknya kami bisa main shogi bersama," nada kalimatnya malas.
"Naru-kun hanya flu biasa, ini akibat dari pergantian cuaca…jangan terlalu dibesar-besarkan," dikecupnya kening suaminya, "lihatlah ke jendela, satu minggu belakangan awan tebal terus menumpuk di langit Konoha, awan itu malah menyebabkan hawa panas…bagi mereka yang memiliki daya tahan tubuh lemah, biasanya akan terserang virus."
"Aku kuat, Sakura."
"Orang yang kuat sekalipun bisa turun daya tahan tubuhnya, virus akan mudah menyerang di saat seseorang sedang kelelahan."
"Penjelasanmu rumit sekali, otakku tak mampu mencernanya."
Sakura terkekeh lagi, "bukankah kau akan menjadi Hokage, banyak-banyaklah membaca buku."
"Aku malas…."
Acara TV sore ini menyiarkan kisah kelompok hewan melata, termasuk cara mereka kawin, berkembang biak dan bertahan hidup. Hewan melata bukan favorit Naruto, dia menekan 'off' lalu dilemparnya remot itu ke sembarang tempat, "hati-hati, kita sudah mengganti remot TV sebanyak empat kali, tidak untuk yang ke lima," Sakura memperingatkannya.
"Gomenne…aku benar-benar malas, acaranya jelek."
"Tidurlah, aku hanya pergi sebentar."
"Sakura, Tenten berdiri di depan pintu."
"Eh?
"Tenten berdiri di depan pintu rumah kita, dia akan memencet belnya."
"Kau ini…masih juga menggunakan chakra," Sakura buru-buru menuju pintu utama, "benar-benar kau Naruto…."
Wanita bertubuh ramping nampak cantik dengan busana tampa lengan, dari riasan wajahnya, sepertinya ia hendak keluar. Senyumnya ramah pada dua wanita bingung di depan pintunya, irisnya meneliti tampilan dua wanita itu, mereka belum berganti pakaian sejak dari onsen.
"Tenten-chan, Hina-chan…."
"Sa-sakura….a-aku—"
"Apakah kalian baik-baik saja?" rautnya khawatir, dua rekannya yang cantik nampak berantakan, peluh di wajah dan nafas tersengal pertanda mereka buru-buru datang kerumahnya.
"A-apakah Naruto-kun ada di rumah?" Hinata bertanya.
"Tentu, masuklah…," dia mempersilahkan kedua tamunya, "duduklah, akan kupanggil Naru-kun," Sakura mempercepat langkahnya, dari raut dan tampilan keduanya, nampak ini sesuatu yang serius.
"Bicaralah yang baik, jangan sampai menyinggung Naruto," Tenten memperingatkan.
"Iya, aku tak menuduhnya, tapi déjà vu tadi bisa menjadi petunjuk…aku percaya pada Naruto-kun…."
"Rupanya kalian berdua…," Naruto melangkah santai, nampak ditangannya sekotak tisu, "maaf…aku sedang flu, akan kubuat beberapa jarak agar kalian tidak tertular, kurasa ini ulah Sasu-kun, dia bicara terlalu dekat…," gerutnya.
"Akan kubuatkan ocha," Sakura tersenyum seraya ke dapur.
"Maaf merepotkan…," Tenten tersenyum balik.
"Nah, ada apa gerangan hingga dua gadis cantik datang mencariku," Naruto menyandarkan punggungnya pada bantalan kursi.
"A-aku ingin menanyakan sesuatu pada Naruto-kun…."
"Apa itu?"
"Dua tahun yang lalu, dua minggu setelah perang, a-apakah kita pernah bertemu di perpustakaan?" Hinata nampak gugup.
Naruto berpikir, alisnya bertautan, matanya menyipit. Well, setidaknya sistem kerja otak Kiba masih lebih cepat dibanding Naruto, "e-etoo…eeerr…," kepalanya miring kiri dan kanan, berulang kali ia mengeluarkan suara-suara aneh, "hmm…dua tahun yang lalu…dua minggu…," blondenya digaruk berulang kali, dua kakinya dilipat di atas sofa, "aku lupa."
"Ingat-ingatlah…," Hinata memelas, "Naru-kun pasti ingat sesuatu."
"Memangnya ada apa?" ditatapnya Tenten, gadis itu malah menyilangkan dua telunjuknya.
"I-ini penting bagiku…aku hanya butuh satu nama."
"Kau kenapa Hinata…gugup sekali."
"Seharian ini aku mengalami déjà vu."
"Eh? Déjà vu itu apa, ya?" iris birunya menyipit.
"Seseorang telah menyegel ingatanku…karena orang itu telah berlaku sangat jahat padaku."
"Ha? Siapa?"
"Entahlah…aku tidak tahu siapa orangnya…," si malang hampir menangis, dia bingung. Mustahil menuduh Naruto, dia adalah pahlawan Desa, sudah pasti semua orang akan membelanya.
"Wah…Hinata, kau masih muda tapi pelupa," Naruto nyengir.
"Seseorang telah menggunakan jutsu pada Hinata," si cepol pun hampir pun hampir menangis di sisinya.
"Menurut Kiba-kun, Naruto-kun menguasai jenis jutsu yang mampu menyegel memori seseorang," suaranya bergetar, irisnya berkaca-kaca.
"Iya betul, tapi jarang kugunakan, jutsu itu dikuasai ketika jumlah chakramu melebihi kapasitas tubuhmu, semacam kemampuan khusus yang datang dengan sendirinya."
"Dalam déjà vu yang kualami, Naruto-kun berlaku jahat padaku," Hinata agak berbisik, ia takut Sakura mendengarnya.
"Aku?"
"Aku tak menuduhmu, tapi jika Naru-kun mengetahui sesuatu, beritahu aku sekarang."
Dia terkekeh, "aku tidak pernah menjahatimu, Hinata," tatapnya tak percaya.
"Déjà vu itu belum tentu benar, dan bisa saja itu bukan Naruto, malah sebelumnya aku menuduh Kiba, aku datang kemari untuk mencari petunjuk atas kejadian dua tahun yang lalu."
1 menit.
2 menit.
"Hinata, aku tak mungkin menjahati seseorang, apalagi kau…Adik Neji, sahabatku."
"Itu benar, Naru-kun tidak begitu…," Sakura muncul dari pintu dapur, ia memegang sebuah baki berisi tiga gelas ocha.
"Jika seseorang berlaku jahat padamu, belum tentu aku…," blonde itu membela dirinya.
"Jangan tuduh Naruto…onegai," tatapan Sakura nanar.
"Sakura, aku baik-baik saja…," digenggamnya jemari sang istri.
"Maaf, Sakura-san…a-aku—"
"Aku tidak marah, hanya saja…jika ini menyangkut ucapanku di onsen tadi pagi, aku jamin itu bukan Naruto…."
"…."
"Sakura…biarkan Hinata bicara dulu," Naruto menenangkan istrinya, "aku membelamu, aku tak ingin kau mendapat masalah" wanita itu agak berbisik.
"Sakura tenanglah dulu, aku ingin membantu Hinata," ada jeda, "percayalah… bukan aku yang menjahatinya, dan aku pun tidak tahu jenis kejahatan apa yang menimpanya, mengenai ucapanmu di onsen, aku tak mengerti karena aku tidak pergi ke onsen…jadi, biarkan Hinata memperjelasnya."
"Sakura…maaf, a-aku hanya ingin meminta bantuan Naruto," ada jeda isak tangis, "ucapanmu di onsen itu benar…tapi itu bukan kekasihku seperti yang kau kira…aku tidak mengenal orang itu, dia menyegel ingatanku untuk menutupi kejahatannya, kau mengerti'kan maksudku…."
"Hinata…," nampak Sakura iba.
"A-awalnya kupikir itu Kiba, tapi setelah mendengar penjelasannya, aku yakin itu bukan dia," ia terisak berulang kali, "lalu déjà vu berikutnya, muncul wajah Naru-kun, tapi bukan berarti aku menuduhmu…bisa jadi itu orang lain dan Naru-kun mengetahui orang itu…."
1 menit.
2 menit.
"kejahatan seperti apa?"
"Aku malu menyebutnya," gadis itu makin tersedu, Tenten disisinya berusaha menenangkan, "tenanglah…kita pasti menemukan orang itu."
"Dua tahun yang lalu di perpustakaan, kita pernah bertemu," air matanya diseka berulang kali, "aku dan Naru-kun diberi tugas piket jaga."
1 menit.
2 menit.
"Ah! Iya…waktu pintunya rusak, engselnya lepas, kan?"
"Iya…."
"Siapa lagi selain kita?"
"Entahlah, karena aku tak selamanya berada diperpustakaan, tapi ada dua orang genin dan seorang Bibi gemuk, sekretaris Daimyo."
"Iya betul," suaranya hampir habis karena isak tangis, "apa yang terjadi waktu itu?"
"Ya, seperti biasa…tidak terjadi apa-apa, kita hanya merapikan buku-buku dan menulisnya di buku besar," Naruto agak bingung, "apakah kejahatan itu terjadi diperpustakaan?"
"Mungkin…aku tak terlalu percaya déjà vu, mengingat sebelumnya aku telah salah menuduh Kiba-kun."
"Apa yang dikatakan Kiba soal justsu itu?" Sepertinya Naruto mulai mengerti alur ceritanya.
"Sistem kerjanya seperti fuinjutsu, jutsu ini hanya dimiliki oleh shinobi rank A, tapi anbu biasa memanfaatkannya ketika menghadapi musuh," ada jeda, "seseorang yang terkena jutsu ini akan lupa pada kejadian tertentu, kurasa maksud Kiba, bagian memori yang disegel tergantung dari penggunanya," ada jeda lagi, "jutsu ini hanya bisa dilepas oleh penggunanya, dengan kata lain, Naru-kun tidak bisa melepasnya walau kau menguasai jutsu serupa."
"Akan kutambahkan sedikit, jutsu jenis ini…selain untuk menyegel memori, juga bisa digunakan untuk manipulasi jarak pendek."
"Jarak pendek?"
"Iya, jarak pendek, penggunanya akan mudah mengontrol ingatanmu pada jarak tertentu, aku lupa…tapi sepertinya hingga jarak satu kilo," ada jeda, "pikiran si pengguna dan si korban akan saling berhubungan, dia bisa seenaknya memerintahmu melakukan apa saja…tanpa kau sadari…seolah kau sendiri yang ingin melakukannya."
"Bukan genjutsu?" Sakura nampak lebih tenang sekarang.
"Bukan genjutsu, tapi masih dalam jangkauan fuinjutsu."
"Separah itu…."
"Termasuk déjà vu itu, bisa jadi karena manipulasi si pengguna, dia sengaja memasuki pikiranmu, mencari memori tentang orang-orang yang dekat denganmu, lalu dibentuknya ingatan baru…sehingga timbul prasangka, inilah awal mula tuduhanmu padaku dan kiba."
"Mengerikan," Tenten bergidik, "dia mengendalikanmu, Hinata."
"Atau, segel jutsu telah dilepas, maka dari itu…ingatanmu menjadi acak dan tidak sempurna, memori-memori masa lalu bercampur dengan masa kini, menciptakan sebuah cerita ilusi," jika kau melihat tampang Naruto sekarang, dia seperti seorang sensei yang sedang menggurui muridnya, "saranku, tunggulah beberapa saat hingga ingatanmu sempurna, lalu semua cerita akan tersusun sesuai alurnya, dan dengan sendirinya kau akan mengingat wajah si pelaku."
"…." Hinata mencerna penjelasan Naruto.
"Manipulasi dan pelepasan segel, aku yakin salah satunya benar, ini jutsu umum kok, hanya tidak terlalu menonjol, shinobi lebih memilih cara buka-bukaan untuk melawan, berbeda dengan anbu yang selalu memilih cara rahasia."
"seorang anbu, kah?" Sakura penasaran.
"Siapa orang itu?" leher Hinata serasa tercekat, "sampai separah itukah dia melakukannya..."
"Tunggulah Hinata…seiring berjalannya waktu, ingatanmu akan pulih dan kita akan mengetahui siapa pelakunya," Tenten mengusap indigonya.
"Tidak, aku harus mengetahuinya hari ini juga…."
"Hinata…."
"Sakura, maafkan aku telah menuduh Naru-kun."
"Aku mengerti kondisimu," Sakura pun nampak sedih setelah mendengar penjelasan Naruto.
"Naruto-kun, onegai, ceritakan padaku kejadian dua tahun yang lalu…di perpustakaan."
Flashback
Ini pukul delapan pagi, masih terlalu dini untuk membaca buku diperpustakaan, hanya dua orang genin, seorang wanita bertubuh gempal ditambah Naruto dan Hinata, ruangan ini masih terlalu besar untuk menampung lima orang.
Beberapa buku berhamburan di atas meja, mereka harus merapikannya sebelum pengunjung berdatangan, "One-chan, biar kubantu," dua genin itu menghampirinya.
"kalian membolos terus," alis Naruto berkerut.
"Ini mata pelajaran Hibiki-san, wajahnya menyeramkan—"
"Ie' pelajaran Hibiki-san berkaitan dengan jarak lempar shuriken, sudah pasti ada perhitungan didalamnya," si blonde bertolak pinggang, "aku yakin kalian sengaja menghidarinya."
"Jangan mengadu," yang bergigi ompong nampak cemas.
Naruto berdecak, "kenapa kalian mirip sekali denganku…."
Hinata tertawa, "bukankah itu baik…."
"One-chan, biar kami bantu," mereka menawarkan diri untuk yang kedua kalinya.
"Arigatou, tolong bawah ini ke rak 2B." katanya tersenyum, setidaknya ada kemajuan walau sedikit, kemarin mereka hanya datang membaca buku bergambar, kini malah bersedia membantu.
"One-chan, yang ini juga?"
"Iya, taruh di 2A."
Wanita gemuk di sana adalah sekretaris Daimyo, sejak kemarin ia mengunjungi pepustakaan. Terkadang seseorang sengaja menghidari tanggung jawab dan lebih memilih tidur di tempat sepi. Hinata menutup gordennya, cahaya mentari menerpa wajah si gemuk, ia nampak kurang nyaman.
"Arigatou…," katanya, lalu kembali tidur, padahal Matahari pagi adalah vitamin, tapi si gemuk enggan terkena sinarnya.
"Aku punya dua gelas gyokuro untuk kalian?"
"Hontou!" mereka girang, well…itu adalah daun teh pilihan yang hanya diminum oleh para bangsawan.
"Tapi setelah ini, kalian harus kembali ke kelas."
"Hai'!" mereka berbarengan.
"Di seduh dengan air dingin, cobalah," Hinata menyodorkan dua gelas ukuran jumbo.
Mereka meminumnya hingga tak tersisa, "arigatou, One-chan."
"Apa janji kalian?" Naruto mengacak-ngacak rambut keduanya.
"Kembali ke kelas Hibiki-san!"
Suara pintu menarik perhatian, Shikamaru berdiri di sana. Si kuncir agak kesulitan dengan pintunya, "macet lagi…," gerutunya.
"Sudah semingguan seperti itu…aku telah melaporkannya ke bagian teknisi," Naruto berjalan ke arah pintu, "jika ada palu atau tang, mungkin kita bisa memperbaikinya, terkadang mereka melupakan hal-hal kecil seperti ini…," Shikamaru meneliti engsel yang lepas di sana.
Dua genin itu sigap, mereka berlari ke arah pintu, mereka mendorongnya bersama-sama, terdengar suara nyaring yang sukses membuat ngilu telinga, tubuh keduanya lolos secepat kilat.
"Ada apa dengan mereka?" Shika mengabaikan pintunya, seseorang akan datang memperbaikinya.
Hinata tersenyum, "mereka datang ke tempat ini karena membolos pelajaran."
"Itu sudah biasa…." Naruto enteng.
Langkahnya santai menuju arah wanita yang sedang memandangnya, pandangan itu seolah berkata, 'ada apa?' Tapi Shikamaru tak menunjukkan ekspresi apapun.
"Bagaimana? Kiba dan Shino ikutan keruman Kurenai-sensei?" Tanyanya.
"Iya…mereka tidur di depan TV."
"Oh iya, bagaimana perayaan hanami kemarin? Ramai?" si blonde menarik kursi di samping Hinata.
"Hm, lumayan…Kakashi sensei dan Hokage ke lima hadir di sana."
"Baguslah…."
"Naruto-kun…a-apakah lukamu masih sakit?" Shikamaru pun menarik kursi di samping Naruto.
Dia nyengir, "agak mendingan, obat dari Nenek Tsunade sangat ampuh," nampak ia malu-malu, pipinya digaruk berulang kali.
Suara dengkuran si gemuk memancing perhatian, "dia tidur di sana sejak kemarin, lho," bisik Naruto.
"Menghindari tugas…," Hinata berbisik pula.
"Iya, perpustakaan adalah tempat tidur terbaik, sunyi dan sepi," iris biru Naruto menerawang.
"Ini baik untuk Naruto-kun…,"
"Tidak, ini baik untuk Sasuke," rautnya sedih, "dia belum pulang sejak kemarin...aku kasihan padanya, dia melaksanakan misi karena merasa bersalah pada Konoha."
"Kurasa dia akan melakukan perjalanan panjang…," Shika menopang dagu.
"Sasuke-san akan kembali, dia telah berjanji akan datang secepat mungkin setelah misinya selesai," Hinata merapikan beberapa buku bergambar di atas meja.
"Kita harus bersiap-siap."
Naruto nyengir, "iya betul, mata pelajaan hari rabu adalah membaca di perpustkaan, aku ingat waktu di Akadami, ternyata peraturannya masih sama sampai sekarang," blonde itu beranjak, ia merapikan buku di meja sebelahnya.
"Tempat ini sangat membosankan…."
"Akan kubuatkan gyokuro setelah ini…"
"Ah…boleh juga."
Beruntungnya perpustakaan ini difasilitasi dengan mesin mineral water, kau tidak perlu takut kehausan,"ku rasa gallon airnya bocor."
"Benarkah?" Naruto bergegas ke mesin water.
"Lihatlah, air tergenang di bawah meja," telunjuknya mengarah ke lantai yang basah.
"Naru-kun, tahu apa yang kupikirkan…."
"Apa?"
"Sebaiknya perpustakaan ini ditutup saja…toh, para shinobi lebih senang melaksanakan misi daripada membaca," Shika membuat jeda, senyumnya menyindir, "pintu rusak, gallon rusak, besok apa lagi…," gerutunya.
"Katakan itu pada Nenek Tsunade, shinobi tak butuh buku, mereka hanya perlu chakra," Naruto terkekeh.
"Akan kubersihkan," Hinata buru-buru ke ruang perkakas, karena setelah ini ia akan menyeduh gyokuro untuk shikamaru.
"Pelan-pelan saja Hina, kau bisa terjatuh nati," Naruto mengekor dari belakang.
"Naruto-kun biar aku saja…bukankah kau akan segera menikah, pekerjaan seperti ini tak cocok untukmu."
Tawanya menggelegar, "mengepel lantai tidak ada hubungannya dengan hari pernikahanku," ia tersipu malu, "lagipula jika Sakura-chan di sini, dia pasti akan memarahiku jika tak membantumu."
"Nah, kalau begitu, biar aku yang memeras kain pelnya," si gadis menggulung lengan yukatanya.
"Hei, kau itu seorang Hime, biar aku saja…."
"Aku biasa melakukannya, lagipula lenganmu masih terluka."
"Hoi...hoi…kalian ribut, hanya pekerjaan seperti itu tapi omongan kalian segudang," Shikamaru menggerutu, "ku rasa dia kesal karena sesuatu," keduanya tertawa berbarengan.
End Flashback
"Jika Hina-chan tak mempercayaiku, silahkan konfirmasi langsung pada Shikamaru, dia memiliki ingatan yang tajam."
"A-aku percaya padamu."
"Setelah itu, aku bertugas di gelanggang, membantu Paman membersihkan taman disekitarnya," Naruto berdehem, "waktu itu Konoha libur total, para shinobi di beri tugas untuk mempercantik Desa, membantu pekerjaan non shinobi, dan magang di toko-toko."
"Iya…betul Hinata, waktu itu aku dan Sakura membantu di Toko bunga Yamanaka," Tenten menimpali.
"Sejak hari itu, aku tak pernah bertemu denganmu lagi," ditatapnya Sakura, "aku dan Sakura pergi ke mansion Hyuuga, kami mencarimu...tapi Paman Hiashi berkata, Hina-chan sedang berlibur ke rumah saudara."
"Besoknya, aku, Lee, Kiba, Shino, dan Ino berkunjung juga, dan jawaban Paman tetap sama."
"Souka…."
"Maaf Hinata, hanya itu yang bisa kuceritakan, karena memang hanya seperti itu kejadiannya."
"Apakah aku harus menunggu sampai ingatanku kembali pulih, atau menunggu sampai orang itu membunuhku melalui déjà vu aneh ini," si gadis putus asa.
"Jika kau mengetahui siapa pelakunya, katakan padaku segera, biar kuhajar dia."
"Naru-kun, tak bisakah kau melakukan sesuatu pada Hinata," Sakura cemas melihat ekspresi gadis itu, "akan kuberi obat penambah stamina untukmu," dia merogoh laci di dekat kursi, obat-obat racikannya tersimpan rapi di sana.
"Tidak, ingatan yang di segel hanya bisa di buka oleh penyegelnya."
Sebulat kecil warna hitam, itu adalah obat penambah stamina buatan Sakura, "minumlah dengan ocha hangat, akan baik untukmu."
"Arigatou…sakura-san, sekali lagi aku minta maaf atas kesalahpahaman tadi."
Senyumnya cantik, "aku mengerti…."
"Sakura, Soku ada di depan pintu, kurasa dia hendak mengembalikan salep olesku."
"Kau ini...lagi-lagi menggunakan chakra," Sakura bergegas.
Seorang gadis kecil berambut warna bata berdiri di depan pintu rumahnya, suasana sore nampak serasi dengan warna kulit dan rambutnya, "ada tamu, ya?"
"Masuklah, mereka adalah temanku."
Si kecil itu mengenakan seragam lengkap anbu, ekspresinya datar memandang Hinata dan Tenten, "Hime Hyuuga dan Tenten sepupunya," Sakura memperkenalkan.
"Hai…," sapanya, kedua gadis itu mengangguk pelan, sesungguhnya mereka mengenal Soku, namanya banyak diperbincangkan orang.
"Jangan lihat ukurannya, dia adalah anbu terbaik yang pernah bekerjasama denganku," Naruto nyengir.
Soku memamerkan kelingkingnya yang terbalut perban, panjangnya tidak seperti kelingking pada umumnya, "kecelakaan kerja," katanya.
"Artinya kau shinobi hebat, dong," Tenten menopang dagu, ia meneliti wajah manis si kecil, kira-kira usianya menginjak empat belas tahun.
"kau adalah shinobi rank A itu'kan?"
"Aku?"
"Iya, siapa lagi."
"Iya, itu aku…."
"Sepupunya si alis tebal," nada kalimatnya seperti menebak.
"Hum, betul sekali…."
Tenten adalah anak tunggal, tapi jika Soku menjadi Adiknya, maka lengkap sudah kebahagiaannya. Sikapnya memang cuek, tapi Soku terlihat manis dan imut. Walau ia adalah pembunuh berdarah dingin, tapi usianya masih sangat muda, sifat keluguan masih terlihat jelas dari perawakannya.
"Ini, terima kasih telah meminjamkannya," disodorkannya sebuah benda ukuran kecil pada Naruto.
"Hum, sama-sama."
"Apa itu?" Tenten penasaran.
"Ini salep oles, sangat baik untuk luka-luka terbuka, aromanya lumayan harum," Tenten merampasnya, "Nenek Tsunade sengaja membuatnya untuk kami," ia nyengir, "kau tahu sendiri'kan, lenganku pernah putus…sebelum memasang lengan dari sel Hashirama, obat itu kuoleskan agar lukanya cepat mengering."
"Uuh…baunya tidak enak," Tenten menjauhkan wajahnya dari obat itu.
"Iya, ini terbuat dari campuran hati hewan, baunya sangat menyengat," Naruto terkekeh, ia sukses menipu Tenten.
"Kepalaku pusing, baunya aneh Hinata."
1 menit.
2 menit.
"Naruto-kun…."
"Iya?"
"Selain Soku dan Naru-kun, siapa lagi yang memakai obat oles itu?"
"Setelah perang berakhir…lengan kami putus, kami rutin mengoleskannya ke area luka."
"Souka."
"Memangnya ada apa, Hinata?" Sakura penasaran.
"Hinata," raut Tenten cemas.
"Sakura-san, Naru-kun, aku permisi…terima kasih."
"Hei Hinata, kita belum selesai bicara…."
Terlambat, gadis itu melesat pergi, ia harus menemui seseorang sekarang juga.
Petang hari akan berganti malam, dari kejauhan terdengar sama suara Tenten, sepertinya ia mengejar Hinata. Si gadis terus melangkah…sesekali berlari, ia harus menemui pelakunya sekarang juga.
Berdiri kokoh sebuah mansion megah dengan pagar kayu hitam, beberapa tiangnya terbuat dari besi, ukiran indah di setiap sisinya menambah kesan elegan rumah besar itu.
Hinata berdiri disana, haruskah ia masuk sekarang atau menunggu Tenten yang mengejarnya. Rautnya ragu, jemarinya bertautan, irisnya terpejam, setidaknya hilangkan rasa takut dihatimu…untuk saat ini saja, batinnya.
Seorang pria tua menghampirinya, sepertinya dia adalah penjaga gerbang, "Pa-paman…," Hinata menyapa lebih dulu.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"A-aku ingin bertemu dengan pemilik rumah ini."
"Apakah Nona telah membuat janji?"
"Be-belum…."
"Maaf, agak sulit menemui Tuan dan Nyonya, biasanya para tamu akan membuat janji terlebih dahulu."
"Biarkan aku masuk, onegai…a-aku perlu bertemu dengannya," Hinata memelas.
"Maaf Nona, saya hanya pelayan yang mematuhi perintah," Paman itu tersenyum ramah.
"Siapa?" suara seorang wanita dari dalam mansion, sepertinya ia sedang berada di taman utama.
"Maaf Nyonya, seorang gadis—"
Belum selesai kalimat si Paman, wanita itu telah berdiri di depan gerbang, dipandangnya si gadis bingung seksama, Hinata pun menatapnya balik, "aah—kau pasti Hime Hyuuga."
"I-iya benar."
Rambutnya maroon, kulitnya putih segar, tubuhnya ramping semampai, perawakannnya mirip seperti Ino, Sakura dan Tenten. Dia seperti wanita yang datang dari musim gugur, warna kulitnya sangat serasi dengan rambutnya. Wajahnya cantik, dagunya seksi, bibirnya merah, hidung itu bangir, ia pun memiliki freckles di area pipinya, dan deretan gigi putih itu sukses menyempurnakan senyumnya.
"Apakah—Sasuke-san ada di rumah?" si gadis agak ragu.
"Aduh, sayang sekali…dia baru saja keluar."
"Hum…souka."
"Sasu-kun adalah shinobi yang sibuk, ia hampir tak punya waktu untuk kami berdua," si bangir nyengir.
"…."
"Sebaiknya saya pergi."
"akan kuberi tahu padanya nanti," katanya lagi.
"Maaf mengganggu anda."
"Ah, bisa saja…panggil aku Karin."
"Aa—Karin-san, maaf mengganggumu," suara si gadis lirih.
"Sasuke baru saja pergi sekitar sepuluh menit yang lalu, mungkin dia masih berada di kantor Hokage."
Prince of Sharingan, 10 April 2017
*saya sangat bersyukur jika minna-chan membantu saya mengoreksi kalimat yang typo.. (tapi kalo g mau… g apa apa juga hehehhe). Sebenarnya saya benar-benar butuh bantuan minna-chan hehe : ditunggu typo-x
*saya berharap minna-chan bersabar membaca FIC gaje ini …gomennasai kalau banyak kekurangan…banyak banged malah…dan ini bukan fic sasuhina terbaik…banyak kurangx.
*Saya selalu menghargai para reader smart yang sudi membaca fic gaje ini. Dengan tulus saya mengucapkan TERIMA KASIH TELAH ME-REVIEW FIC gaje ini, kalau ada kesalahan itu datang dari saya pribadi, tidak ada hubungannya dengan Sasuke dan Hinata,
