Disclaimer: Masashi Kishimoto
Main pairing: SasuHina
Genre: Romance, Hurt
Rated : M
8
Victim.1
Gadis kecil berwajah dingin mengenakan seragam lengkap anbu, dilihat dari perawakannya, usianya sekitar empat belas tahun. Ia berdiri lama di depan pintu rumah keluarga Uzumaki, terdengar samar suara serak Naruto sedang menjelaskan sesuatu, sepertinya mereka sedang menerima tamu.
Soku hendak melenggang pergi, tapi suara gagang pintu menghentikan langkahnya. Nyonya Uzumaki tersenyum ramah seperti biasa, "Soku-chan," wanita berambut pink ini cukup sering membantunya dalam masalah medis. Sebagai anggota elit di squad anbu, Soku tergolong gegabah. Setiap kali melaksanakan misi, dia selalu pulang dengan beberapa luka ditubuhnya. Pagi ini malah lebih parah, sepotong kelingkingnya hilang entah kemana, dan ia tak tahu kapan itu terpotong. Sakura memberinya obat oles ampuh ala Tsunade, itu milik Naruto ketika lengannya putus dua tahun yang lalu.
Walau berwajah dingin sedingin hatinya, Soku tetaplah gadis kecil yang manis, ia beniat mengembalikan obat oles itu ditambah tiga buah semangka kotak. Sakura adalah penyuka manis, akan baik memberinya hadiah sebagai tanda terima kasih.
"Ini untukmu."
Iris emerald itu berbinar, "oh Kami, Soku-chan paling mengerti seleraku," diambilnya keranjang buah itu, "arigatau…," Sakura agak malu.
"Ada tamu, ya?"
"Masuklah, mereka adalah temanku," keranjangnya ditaruh di dekat meja, "Hinata dan Tenten, sepupunya."
"Hai…." Suaranya datar.
Soku cukup terkenal di kalangan para senpai, Hinata dan Tenten sering mendengar namanya disebut-sebut nakama, kiprahnya di dunia shinobi tergolong sadis tanpa ampun. Soku tidak pernah mengambil pendidikan di Akademi, dia pun tidak dibimbing oleh seorang guru pribadi. Orang tuanya adalah kepala pelayan di mansion Tuan ke Tiga, dia mengenal jutsu-jutsu hanya dengan mengintip sang Hokage berlatih setiap subuh. Well, jadilah dia sekarang, seorang anbu cilik yang patut diperhitungkan. Shuriken pertamanya adalah hasil rampasan dari seorang nuke, waktu itu usianya tiga tahun ketika ia menembakkan benang chakra di ujung telunjuknya.
Sakura antusias membanggakan teman ciliknya itu, Hinata dan Tenten mengangguk pelan, terkadang mata cokelat si cepol berbinar, betapa kagumnya ia pada gadis kecil yang sedang memandangnya.
"Jangan lihat ukurannya, dia adalah anbu terbaik yang pernah ada," Naruto nyengir.
Soku memamerkan kelingkingnya yang terbalut perban, panjangnya tidak seperti kelingking pada umumnya, "kecelakaan kerja," katanya.
"Artinya kau shinobi hebat, dong," Tenten menopang dagunya, ia meneliti wajah manis si kecil.
"kau adalah shinobi rank A itu'kan?"
"Aku?" Telunjuk Tenten mengarah ke wajahnya sendiri.
"Iya, siapa lagi."
"Iya, itu aku…."
"Sepupunya si alis tebal," nada kalimatnya seperti menebak.
"Hum, betul sekali."
Benda ukuran kecil disodorkannya pada Naruto, "ini, terima kasih telah meminjamkannya."
"Hum, sama-sama."
"Apa itu?" Dirampasnya benda itu, si cepol selalu penasaran dengan benda asing apapun.
"Itu salep oles, sangat baik untuk luka terbuka, aromanya lumayan harum, Nenek Tsunade sengaja membuatnya untuk kami," Naruto nyengir, "kau tahu sendiri'kan, lenganku pernah putus…sebelum memasang lengan dari sel Hashirama, obat itu kuoleskan agar lukanya cepat mengering."
"Uuh…baunya tidak enak," Tenten menjauhkan wajahnya.
Hinata POV
Rasa takut bercampur kecewa menjadi satu, menciptakan sesuatu yang sangat sulit diartikan. Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi bingung harus memulainya dari mana. Kami berkenalan selama dua minggu terakhir, maksudnya benar-benar saling mengenal. Kesan pertamaku, Sasuke adalah pria pendiam yang penyabar—di luar kasusnya sebagai nuke tentunya.
"Kau harus menjadi milikku," dia menanggalkan satu-persatu outfit yang melekat ditubuhnya, meninggalkan celana pendek jounin warna hitam.
Area bahu dan lengan kirinya masih tertutup perban, aroma obat Tsunade cukup keras menyeruak. luka-luka lecet di sekitar tubuhnya nampak seperti tato-tato mini yang menghias di sana. Sontak kupalingkan wajahku, aku tak sanggup melihat tubuh atletis itu.
"Kau tertarik juga, huh," Sasuke bertopang lutut didepanku, "jangan bohong, aku tahu kau menginginkanku."
Diusapnya pipi si gadis, "jangan sentuh aku," katanya ketus.
"Semakin kau menolakku, semakin aku candu padamu."
"Iya, ini terbuat dari campuran hati hewan, baunya sangat menyengat," Naruto terkekeh, ia sukses menipu Tenten.
"Kepalaku pusing, baunya aneh, Hinata," si cepol disisiku berwajah masam.
1 menit.
2 menit.
"Naruto-kun…."
"Iya?"
"Selain Soku dan Naru-kun, siapa lagi yang memakai obat oles itu?"
"Setelah perang berakhir…lengan kami putus, kami rutin mengoleskannya ke area luka."
"Souka."
"Memangnya ada apa, Hinata?" Sakura penasaran.
"Hinata," raut Tenten cemas.
"Sakura-san, Naru-kun, aku permisi…terima kasih."
Aku sukses terkecoh, seperti penjelasan Naruto-kun tentang manipulasi, Uchiha Sasuke telah mengobrak-abrik isi kepalaku demi menutupi perbuatan bejatnya, Kenapa harus wajah Kiba dan Naruto, bukankah mereka adalah nakama? Atau aku sendiri yang memikirkannya hingga Sasuke memanfaatkan itu sebagai kambing hitam.
"Hei, Hinata, kita belum selesai bicara…."
Entah ini yang keberapa butir, sejak pagi mereka terus menetes dengan mudahnya. Dengan berlinang air mata kutinggalkan rumah keluarga Uzumaki, harus kutemui Sasuke sekarang juga. Nuke tetaplah nuke, bodohnya aku telah mengaguminya selama ini. Ku yakin dia menertawakan kebodohanku, betapa mudahnya menipu seorang Hime Hyuuga. Dia bohong ketika berkata, 'aku menghargai Hiashi-sama,' itu adalah bagian dari tipu dayannya, Sesungguhnya dia merendahkan kami. Apapun yang terjadi, aku mati atau dia kujebloskan ke dalam penjara, kami harus bertemu malam ini juga.
Petang berganti malam, suasana di sekitar berubah hitam kelam seiring perjalananku ke mansion Uchiha. Sejak awal aku tak menaruh curiga, dia datang ke mansion Hyuuga bak pria terhormat. Pertama kali memandang matanya, tak kutemukan apapun disana, kosong tanpa makna. Tak peduli sekelam apa masa lalunya, kuanggap dia sebagai senpai, kuhargai sebagai pembimbing, dan kukagumi sebagai seorang pria yang rela mendengarkan keluh kesahku. Dia bahkan diundang Ayah untuk makan malam berkelas, aku memasak makanan untuknya tanpa tahu dialah orang yang berbuat keji di masa lalu.
Manipulasi pikiran dan percumbuan di hutan utara sudah pasti ada kaitannya. Dia sengaja melakukan kontrol jarak jauh agar aku menemuinya, seolah percumbuan itu adalah keinginanku sendiri. Mimpi di machiya buatku ragu, bisa jadi itu bukan mimpi, tapi ia sengaja menguji ingatanku, membaca situasi, membuat sebuah anggapan tentang menjaga batas satu sama lain untuk mencegah hal buruk, padahal dialah sumber keburukan itu sendiri. Semua hanyalah topeng belaka, seseorang yang hidup dalam kegelapan akan sulit keluar dari kegelapan hatinya. Sasuke Uchiha tak tertolong lagi, dia adalah sumber kejahatan sempurna. Berkhianat, membunuh dan pemerkosa, ninja high class yang berlaku layaknya setan.
Betapa bodohnya Tetua karena mengizinkan seorang nuke tinggal di Desa. Hanya karena memiliki sharingan, dia bebas berlenggang santai, dilengkapi fasilitas mewah, dan diberi keleluasaan bertindak. Oh…tidak lagi, ku jamin itu. Selemah-lemahnya aku, wanita lemah ini tetaplah seorang Hyuuga, Hyuuga adalah clan bangsawan yang keberadaannya diperhitungan di Negara Api. Hyuuga tidak akan kalah dari Uchiha, jika harus memperbesar kasus ini, aku siap jiwa dan raga. Tak peduli bagaimana tanggapan Ayah, pro atau kontra, intinya Uchiha Sasuke harus dijatuhkan sekarang juga.
Aku yakin ini bukan pertama kali, mungkin beberapa wanita pernah mengalami hal serupa. Konoha tanpa ampun bagi pemerkosa, walau itu shinobi rank A, B, atau C, semua berhak menerima hukuman. Apa yang dia andalkan? Statusnya sebagai pemilik sharingan tunggal? Berapa pengguna kekkei genkai di Konoha? berapa shinobi yang jumlah chakranya diatas rata-rata? Aku yakin Desa tak akan kekurangan sumber daya jika Sasuke dilenyapkan.
"Jika kau mengetahui siapa pelakunya, katakan padaku segera, biar kuhajar dia," itu kata Naruto-kun. Aku ragu kalimat itu masih berlaku jika tahu Sasuke lah pelakunya. Seperti yang lalu-lalu, Naruto akan membela Sasuke sampai mati—walau tahu dia bersalah. Mustahil mengadu padanya, kekuatannya tak berguna dalam kasus ini. Jika harus mengadu pada seseorang, setidaknya orang itu memiliki sesuatu yang spesial, seperti kekuasaan atau level jutsu.
Naruto tidak mungkin, Sakura-san? Tidak, di suatu kesempatan ia pernah diserang dengan chidori. Yamato-san? Kayu tidak berguna bagi petir. Sai-kun? Aku tak yakin dia tega ikut campur mengingat wajah mereka mirip seperti kembar. Kakashi-sensei? Pengaruhnya cukup kuat, seperti saran Tenten-san, mengadu kepada Hokage akan jauh lebih baik, setidaknya dia akan melindungimu jika terjadi sesuatu. Kakashi-sensei tegas tapi tidak kolot, dia tipikal pendengar setia bagi bawahannya, ku dengar Sasuke pun segan kepadanya.
Dari kejauhan kudengar samar suara Tenten, kurasa ia sengaja mengejarku. Aku agak berlari, biarkan Tenten di belakang, dia tak ada hubungannya dengan semua ini. Ini masalahku, biar aku yang menanganinya, sudah cukup ia menemaniku seharian. Aku tak ingin menyeret namanya, lagipula ia bukan tandingan Sasuke. Tenten adalah gadis berbakat kebanggaan sensei dan orang tuanya, masalah ini bukan levelnya, seorang kunoichi rank A berprestasi tak wajar mengurusi seorang lemah yang telah dipermainkan harga dirinya.
Mansion Uchiha berdiri kokoh dengan pagar kayu hitam, beberapa tiangnya terbuat dari besi, ukiran indah di setiap sisinya semakin menambah kesan elegan rumah besar itu. Aku berdiri disana, kupejamkan mataku seraya berdoa kepada Kami, hilangkan rasa takut dihatiku…setidaknya untuk saat ini saja—melawan Uchiha Sasuke memang mustahil tapi patut dicoba.
Seorang pria tua menghampiriku, sepertinya dia adalah penjaga gerbang, "Paman…," kusapa lebih dulu.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"A-aku ingin bertemu dengan pemilik rumah ini."
"Apakah Nona telah membuat janji?"
"Be-belum…."
"Maaf, agak sulit menemui Tuan dan Nyonya Uchiha, biasanya para tamu akan membuat janji terlebih dahulu."
"Biarkan aku masuk, onegai…a-aku perlu bertemu dengannya," aku memelas.
"Maaf Nona, saya hanya pelayan yang mematuhi perintah," paman itu tersenyum ramah.
"Siapa?" suara seorang wanita dari dalam mansion, sepertinya ia sedang berada di taman utama.
"Maaf Nyonya, ini adalah seorang gadis yang—"
Belum selesai kalimat si paman, wanita itu telah berdiri di depan gerbang, beberapa saat kami saling berpandangan, dia menelitiku, sementara ku yakin dia adalah istrinya, "aah—kau pasti Hime Hyuuga," nada kalimatnya seperti menebak.
"I-iya benar."
Rambutnya maroon, kulitnya putih segar, tubuhnya ramping semampai, perawakannnya mirip seperti Ino, Sakura dan Tenten. Dia seperti wanita yang datang dari musim gugur, warna kulitnya sangat serasi dengan rambutnya. Wajahnya cantik, dagunya seksi, bibirnya merah, hidung itu bangir, ia pun memiliki freckles di area pipinya, "Sasu-kun, banyak bercerita tentangmu," deretan gigi putih itu sukses menyempurnakan senyumnya.
Dia memiliki seorang bidadari sempurna…lalu untuk apa mempermainkanku. Aku ingat, sebelum hal itu terjadi, kami sempat bercakap-capak tentang wanita ini. Dia adalah partnernya di tim Hebi dan Taka, Uzumaki Karin. Seorang kunoichi tipe sensor kepunyaan Orochimaru-sama, penyokong chakra penyembuh bagi Uchiha Sasuke. Jumlah chakranya tak terhingga, setiap sel-sel ditubuhnya dapat menyembuhkan luka apapun, berbeda dengan metode iryo-nin, Karin mengobati seseorang hanya dengan merelakan bagian tubuhnya digigit. Selain keistimewaan chakra, ia pun mampu melacak keberadaan lawan hingga berkilo-kilo jauhnya. Karin adalah tipe petarung jarak menengah yang menyimpan segel ditubuhnya. Sebagaimana keahlian khusus clan Uzumaki, rantai penyegel aktif secara otomatis jika penggunanya dalam keadaan terdesak, bagi anggota Uzumaki lainnya, rantai tersebut dmanfaatkan untuk menyegel bijuu.
Ketika Sasuke kembali ke Konoha, ia pun mengekor bersama dua rekannya, aku lupa namanya, seorang berkekuatan super dan seorang lagi shinobi tipe air.
Kupandangi wajah cantiknya, ia sibuk menjelaskan kegiatan suaminya seharian ini. Apakah dia tak menaruh curiga sedikitpun? Maksudku, Sasuke adalah suaminya, mana mungkin seorang istri bersikap biasa sementara suaminya telah bermain serong. Ya, kuanggap ini sebagai perselingkuhan, walau kami tak saling suka, perlakuannya padaku tergolong main gila. Atau dia telah mengetahuinya tapi tak ambil pusing, toh mereka tetap suami-istri, setidaknya Sasuke mampu berlaku adil, yang lainnya urusan nanti.
"Apakah—Sasuke-san ada di rumah?"
"Aduh, sayang sekali…dia baru saja keluar."
"Hum…souka."
"Sasu-kun adalah shinobi yang sibuk, ia hampir tak punya waktu untuk kami berdua," si bangir nyengir.
"Sebaiknya saya pergi."
"Akan kuberi tahu padanya nanti," katanya lagi.
"Maaf mengganggu anda."
"Ah, bisa saja…panggil aku Karin."
"Aa—Karin-san, maaf mengganggumu," pura-pura aku tak mengenalnya, walau sebenarnya aku cukup tahu dari prestasinya sebagai nuke. Dia lumayan akrab dengan Sakura-san, mereka sering berbelanja bersama.
Kami pernah berada di suatu acara yang sama, bukan hanya sekali tapi beberapa kali. Jujur aku terkejut melihat wajahnya di depan gerbang Uchiha, tak kusangka dialah istri Sasuke. Padahal Karin tak pernah masuk dalam hitunganku, namanya benar-benar hilang dikepalaku. Puzzle acak itu mulai tersusun kembali, kurasa Sasuke sengaja melepas segelnya untuk menuntunku padanya. Layaknya teka-teki, ia ingin aku menyelesaikan permainan ini dengan sempurna.
"Sasuke baru saja pergi sekitar sepuluh menit yang lalu, mungkin dia masih berada di kantor Hokage."
"Saya permisi," kubalikkan badanku, ini adalah momen terbaik. Aku dan Sasuke akan berhadapan di depan Hokage.
Hinata End POV
Konoha sunyi sepi di petang hari, hanya dua orang bocah menggiring bola kembali ke rumahnya. Jalan di sekitar gelap gulita, si gadis agak kesulitan dengan langkahnya. Ini adalah area mansion, mereka tak memberi penerangan di depan gerbangnya.
Tenten di kejauhan sedang berbicara dengan seseorang, dia terlihat girang seraya menjelaskan sesuatu, walau gelap di sekitar, Hinata hafal betul suara cempreng sepupunya. Seseorang dihadapannya adalah pria berpostur tinggi besar, sesekali ia memandang Hinata, sesekali pula ia menanggapi topik pembicaraan Tenten.
"Tenten!" Hinata menyerukan namanya.
1 menit.
2 menit.
Tak ada respon, bibir si cepol malah semakin aktif, "Tenten!" Suaranya menggema di sekitar, "jauhi dia!" Serunya lagi.
Sasuke Uchiha mengenakan seragam serba hitam lengkap dengan jubahnya. Awalnya ia hendak ke kantor Hokage, tapi malah bertemu Tenten di tengah jalan. Mereka terlibat perbincangan ringan tentang misi beberapa hari yang lalu. Seorang gadis berwajah gusar nampak mendekat, matanya tajam memandang wajahnya.
"Ada apa? Jangan teriak di sini?" Tenten mengibas-ngibaskan jemarinya.
"Jauhi manusia ini!" Jika benar prasangka Hinata, Sasuke sedang mengincar Tenten, berpapasan di depan jalan hanya alasan semata. Nyawa si cepol dalam bahaya, dia sengaja mencegat Tenten untuk melakukan sesuatu yang jahat.
"Apa maksudmu?" Rautnya bingung, "ada apa? Kau pergi begitu saja dari rumah Naru-kun, kini kau malah bersikap aneh di depan Sasuke," dipandangnya wajah marah sepupunya, "jangan perlihatkan masalahmu di depan orang lain."
"Sepupuku tidak ada hubungannya dalam masalah ini," tak peduli dengan kalimat Tenten, Hinata menarik lengannya menjauh.
"Kau ini kenapa? Aku dan Sasuke hanya bicara masalah misi," well, Tenten agak kesal.
"Pulanglah, aku tak ingin terjadi sesuatu padamu," bisiknya.
"Apakah ini ada hubungannya dengan masalah itu?" Tenten berbisik juga.
"Masalah?"
"Jangan pura-pura bodoh kau…," telunjuknya mengarah ke wajah Sasuke.
"Hinata, apa-apaan," Tenten menghempas telunjuknya. Sebenarnya ia paham maksudnya, hanya tidak yakin. Sasuke sering bekerjasama dengan tim Guy-sensei, selama ini si pria tak menampakkan tanda-tanda psikopat, sikapnya normal seperti shinobi pada umumnya. Jika tuduhan mengarah pada Uchiha tunggal ini, rasanya kurang wajar, mengingat dia tergolong pria pendiam. Lagipula Sasuke memiliki Karin, untuk apa menjahati wanita lain jika kau menyimpan seorang bidadari di rumahmu.
"Dia adalah pelakunya."
"Apa?"
"Uchiha Sasuke adalah pelakunya."
"Maksudmu?" Tenten tidak kaget, hanya kurang paham kenapa Sasuke malah dituduh. Bukankah selama ini mereka tidak akrab, sementara menurut Hinata sendiri, dia dan pelaku cukup akrab dalam keseharian.
"Dia mencegatmu untuk melukaimu."
"Mencegat untuk apa?" Tenten hampir terkekeh, "Hinata, karena dia mantan nuke bukan berarti dialah pelakunya."
"Percayalah padaku…."
"Sasuke tidak mungkin, dia orang baik."
"Tenten-san, percayalah padaku! Aku ingat semuanya…aroma obat oles milik Naruto sama persis dengan aroma peluh pria di dalam ingatanku," dicengkramnya lengan Tenten, "dia orang yang telah menyakitiku…."
1 menit.
2 menit.
Ketika kau percaya pada seseorang, dan orang itu telah dituduh melakukan tindak kejahatan lengkap dengan bukti yang kongkrit, maka saat itulah kau berpikir, 'apa betul dia pelakunya?' Apalagi orang itu telah banyak membantumu menyelesaikan berbagai misi penting. Sasuke memang agak cuek dalam sikapnya, dia bahkan mengacau di pesta Tenten beberapa hari yang lalu, tapi kalau harus menunduhnya sebagai pelaku pemerkosaan, rasanya tidak adil.
"Oh Kami…ini tidak mungkin," dipandangnya seksama wajah Sasuke, "selama ini kita sering bekerjasama, kau bahkan menggantikan tugas Neji sebagai ketua…tidak benar'kan? Sasuke…."
"Tenten, jarakmu!" Hinata memperingatkan.
"Aku dan Lee mempercayaimu."
1 menit.
2 menit.
Tenten dan Sasuke saling bertatapan satu sama lain, Hinata tak mampu mengartikan makna tatapan itu. Bisa jadi ini adalah komunikasi bawah sadar antar sesama shinobi. Tenten berusaha mencari kebenaran di mata Sasuke, dia berharap pria itu berkata tidak. Jujur ia pun agak kesal dengan sikap acuh tak acuh Uchiha tunggal ini, tapi untuk urusan misi, Sasuke adalah jagonya, dia adalah tipe shinobi yang mampu diandalkan dalam keadaan apapun. Guy sensei memujinya sebagai satu-satunya shinobi yang mampu mengimbangi ketekunan Hyuuga Neji, dan kini orang yang dipuji itu adalah tersangka utama tindak asusila atas Hinata Hyuuga.
"Lalu?"
"Maksudmu, lalu?" Tenten sinis.
"Lalu kenapa jika aku pelakunya."
"Souka…."
"Hn…."
"Nuke tetaplah nuke," gadis itu mengeluarkan sebuah gulungan jutsu dari lengan yukatanya.
Sasuke berdecih, "ingin melawanku, huh?"
"Dia bukan tandinganmu!" Lagi-lagi Hinata mencengkram lengan sepupunya, gulungan itu terjatuh ke tanah.
"Jika perbuatanmu diketahui Dewan Konoha, pembekuan eksekusi mati itu akan dicabut kembali," dilepasnya cengkraman Hinata, "kau, istrimu dan dua rekanmu akan diserahkan ke pengadilan Aliansi Shinobi."
"Tenten! demi Kami, ucapanmu akan menyulut emosinya, dia bisa membunuhmu! Pulanglah...akan kuselesaikan masalah ini."
"Aku membelamu, Hinata."
"Tidak, dengarkan aku—"
"Hina—"
"Dengarkan aku dulu…" dirangkumnya wajah Tenten, "dengar…pergilah ke kantor Hokage, laporkan masalah ini…katamu dia akan mengerti situasinya'kan?" Tenten mengangguk, jemari Hinata bergetar di area pipinya, "jika aku tak menyusulmu dalam sepuluh menit, kembalilah kemari bersama Kakashi-sensei," Hinata menyatukan kening mereka, "aku percaya padamu, One-san…."
"Jangan bilang kau akan melawannya sendirian."
"Jika harus kenapa tidak…ini demi harga diriku, aku lelah berlindung di belakang orang lain."
"Jangan…."
"Pergilah, aku mengandalkanmu."
"Nah, kau dengar itu…pergilah ke kantor Hokage, laporkan masalah ini," Sasuke mengulang kalimat Hinata.
"Hyuuga adalah clan terhormat, Hinata adalah calon hairees, jangan harap kau bisa menang!" Suara Tenten tegas.
1 menit.
2 menit.
"Aku ragu…."
"Maksudmu?"
"Hyuuga hanya clan yang berlindung di balik nama besar Daimyo, aku ragu mereka mampu melawanku," Sasuke memotong jaraknya, "Uchiha tidak akan berlindung di balik siapapun, kami selalu menyelesaikan masalah seorang diri."
"Sekarang kau malah menghina Hyuuga," Hinata sinis.
"Hina? Ini kenyataan…," ia terkekeh, "lihatlah gulungan ini," diambilnya gulungan Tenten yang jatuh ke tanah, "api…."
"Kembalikan milikku!" Tenten hendak merampasnya, tapi Sasuke lincah membuangnya jauh-jauh, "jutsu tak berguna."
"Omae!"
"Tenten! Jangan!" Hinata histeris.
Kekuatannya memang tak sebanding dengan Sasuke, tapi ia harus melawan. Tenten mendorong tubuh tinggi tegap itu, Sasuke berhasil mundur beberapa langkah. Ia siap menggunakan taijutsu, bogem mentah mengarah ke wajah tampan dihadapannya, tapi Sasuke sigap menangkap kedua tangannya. Tak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk mengalahkan Tenten, dari segi level jutsu, gadis itu kalah telak. Sebagai kunoichi rank A, seharusnya ia pandai membaca situasi, emosi dan tergesa-gesa hanya akan memberi celah pada lawan. Jika Tenten mengikuti saran Hinata, sudah pasti lain ceritanya.
"Caramu bukan ciri serang shinobi," sharingan aktif di sebelah kanan, mata indah itu memandang wajah manis kunoichi yang sedang dimabuk emosi, "kau tak berdaya tanpa gulungan-gulungan itu."
"Sialan kau Uchiha!" Makinya.
"Tanganmu cukup bagus dipatahkan."
"Sasuke! Lepaskan dia! Bajingan kau!" Suara Hinata serak, ia panik bukan main kala menyadari ujung jemari Tenten tak lagi menyentuh tanah.
"Wanita ini terlalu banyak tahu…seharian ini dia sibuk mengurusi masalah orang lain."
"Lepaskan dia…akulah masalahmu, Tenten hanya membantuku…kumohon lepaskan dia!"
"Hinata…larilah…."
"Tidak…."
"Lihatlah baik-baik yang akan kulakukan, ini bukan genjutsu, hanya jutsu simpel penyegel pikiran."
"Tidak, tidak…jangan pada Tenten."
"Seperti yang kulakukan pada gadis lugu dua tahun yang lalu, Tenten-senpai akan melupakan kejadian hari ini."
"Bajingan kau…Sasuke Uchiha."
"Aahh!"
Flashback
Tsunade tak menerima misi apapun dalam dua minggu terakhir, diperkirakan ini akan berlangsung selama musim semi. Jika dihitung dari waktu sekarang, jatah libur shinobi berkisar dua bulan lagi.
Libur bukan berarti tanpa kegiatan, Tsunade memberi tugas ringan menyangkut kepetingan Desa. Para pria magang di divisi konstruksi, dan wanitanya lebih banyak membantu di toko-toko.
Khusus Hyuuga Hinata, dia diberi tugas jaga di perpustakaan. Terkurung di machiya terlalu membosankan, duka mendalam atas kematian Neji-nii akan semakin menambah pilu hatinya, perpustakaan adalah tempat yang cocok untuk menyibukkan diri. Kemarin dia ditemani Naruto, tapi si blonde itu dipindahkan ke gelanggang, si paman penjaga agak kewalahan, pasca libur tempat itu menjadi area kumpul muda-mudi, mereka bersantai di sana seraya membuang sampah sembarangan.
Perpustakaan di buka pagi-pagi sekali, tepat pukul setengah tujuh, Hinata siap melaksanakan tugasnya. Lengan yukatanya digulung, rambutnya dikuncir agak tinggi, pekerjaan diawali dengan bersih-bersih ruangan.
"Ohayou gozaimasu," dua genin berlarian di sekitar pintu rusak.
"Kalian lagi?" Setiap hari mereka membolos mata pelajaran pertama, "Hibiki-sensei, kah?" Tebaknya.
"Bukan, tapi Anko-sensei…kami benci pelajaran menghafal."
Pintu tua itu berada di sana sejak zaman Hokage ke dua, para kage mempertahankannya terkait bahan kayu dan ukirannya. Hanya saja beberapa engsel nampak tua berkarat, mereka harus menggantinya sebelum pintu itu melukai seseorang.
"Jangan bermain di dekat pintu, kemarin sore mereka sengaja melepas engselnya."
"Nee, one-chan, apa yang bisa kami bantu?"
"Tidak ada, bacalah sesuatu yang bermanfaat," fokus Hinata tidak lepas dari kain pel ditangannya.
Jika seseorang dari Akademi datang kemari, Hinata akan dianggap cuek. Kemarin Naruto telah memberi ceramah panjang lebar terkait ketekunan dalam berlatih ninjutsu, genin yang sering membolos tak akan sukses menjaga desanya, tapi mereka malah mencibir dan menganggapnya sebagai dongeng belaka.
"Ohayou…."
Nada suara malas dan kalimat seperti diseret, siapa lagi kalau bukan si bibi sekretaris Daimyo.
"Hati-hati dengan pintunya, Nyonya."
"Iya aku tahu," dia berlenggang di sisi Hinata tanpa memandang wajahnya, "tolong tutup tirainya, Nona."
"Hai'"
Padahal ini adalah awal musim semi, hawa pagi lumayan sejuk, sedikit cahaya akan baik untuk kesehatan. Hinata buru-buru menutup tirai, tingkahnya menarik perhatian dua genin, ekspresi wajah mereka seolah bertanya, 'kenapa ditutup, kami butuh cahaya.'
"Silau."
"Kalau begitu nyalakan penghangat ruangan," mereka protes.
"Baik...baik…."
Waktu sibuk perpustakaan berkisar antara pukul 13.00 siang hingga pukul 16.00 sore. Padatnya pun tak seberapa, hanya beberapa kouhai yang penasaran dengan buku-buku baru, mereka hanya melihatnya sebentar lalu meletakkannya begitu saja.
Jam dinding menunjukkan pukul sembilan pagi, masih ada waktu untuk bersantai, ia menghampiri dua genin itu, "setengah sepuluh kalian harus kembali ke kelas."
"Sedikit lagi, kami masih membaca seri lanjutan yang kemarin."
"Kalian ini…."
"One-chan harus membaca buku ini juga."
"Jika kalian suka, pinjam saja buku itu."
"Kami tak punya cukup uang untuk mendaftar."
"Tidak perlu bayar, nanti akan kubuatkan kartunya."
"Benarkah?"
"Kenapa tidak? Perpustakaan ini milikku, aku berhak melakukan apa saja."
"Termasuk pintu itu dan mineral waternya…barang-barang rusak itu dalam kekuasaan neechan, begitu?" mereka terkikik geli.
"Baca saja bukunya, setelah itu kembali ke kelas."
Suara dengkuran si bibi terdengar samar, "jangan berisik," bisik Hinata. Seperti halnya dua genin ini, si bibi pun telah membolos kerja sekitar seminggu, "tertawa pelan-pelan saja, ya…," dia memanfaatkan perpustakaan untuk lari dari tanggung jawabnya. Padahal kantor Daimyo adalah tempat yang sibuk, mereka selalu lembur saking padatnya pekerjaan, tapi wanita ini malah asyik terbuai dalam mimpinya.
Lantai berdecit, bunyinya panjang disertai suara nyaring. Seseorang yang berdiri di sana berusaha menahan pintunya, ia agak kesulitan dengan satu tangan saja, dua genin sigap berlari ke arahnya.
Pintu itu disandarkan ke tembok di sebelahnya, itu akan lebih baik sebelum menimpa seseorang. Terjadi perbincangan seru tentang pahlawan shinobi, si pria tersenyum melihat aksi lincah keduanya.
"Lihatlah…lihatlah…buku ini ada gambarnya."
Uchiha Sasuke mengekor langkah mereka, "duduk disini, Kakak," mereka menarik kursi disebelahnya.
Sasuke repot-repot dibacakan kisah tentang shinobi legendaris, pemandangan ini cukup langkah bagi seorang nuke yang baru saja diberi ampunan bersyarat. Dia tergolong pria yang mudah bergaul dengan sekitarnya, toh ini adalah Desanya juga, tanah kelahirannya, tempat tinggal orang tuanya, ia tak terlalu ambil pusing dengan bisik sana-sini dari warga yang kontra.
"Nah, waktunya kembali ke kelas," telunjuk Hinata mengarah ke jam dinding.
"Tapi—"
"Tidak, kali ini harus benar-benar tepat waktu."
"Onii-chan…"nada suara manja itu seolah minta dilindungi.
"Dia benar," Sasuke mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dari sakunya, "ambillah, buat jajan."
"Yatta!"
"Nah, ucapkan sesuatu pada onii-chan…," Hinata mengambil buku bergambar itu.
"Arigatou!" Mereka memeluknya bergantian lalu berlari keluar ruangan.
"Mereka sering kemari selama satu minggu ini…ceramah Naruto-kun dianggap dongeng, mereka malah mencibirnya," Hinata bergeleng ria, ditaruhnya buku bergambar itu di deretan rak 2A.
"Naruto."
"Hum, kemarin kami piket bersama, tapi sekarang dia membantu paman di gelanggang."
"…."
"Bagaimana?"
"…."
"Resepsinya, apakah mereka telah menentukan tanggalnya?"
"…."
"Kata Sakura-san, dia teman Sasuke juga."
"…."
Sadar tak ada respon dari lawan bicaranya, Hinata menoleh ke arah si pria, "Sasuke-kun?"
"…."
"Sasuke-kun…."
"…." dia sibuk membolak-balik sebuah buku.
"A-apakah terjadi sesuatu?" Suasana berubah canggung, Hinata membuat jeda cukup lama, ia menyibukkan diri dengan buku-buku yang tertumpuk di depan rak, "kata Shika-kun, kau sengaja mengambil misi jangka panjang untuk berkelana, tapi kuyakinkan dia—Sasuke-kun bukan orang seperti itu."
"Kau aneh."
"Eh?"
"Kau selalu membahas orang lain."
"Maksudnya?"
"Berhenti membahas mereka, tidak ada gunanya."
"Sasuke-kun…."
"Kemarilah...," jemarinya memberi isyarat.
Dia menarik kursi disampingnya, "duduklah," diliriknya si bibi malas, "apakah dia akan mengganggu?"
"Mengganggu dari apa?"
"Menggangguku."
"A-aku tidak mengerti maksudmu?" wajah bingung si gadis terlihat menggiurkan di mata Sasuke, dia tersenyum sejenak lalu memalingkan wajahnya.
"Aku ingin menciummu."
"Eh?"
"Maukah kau melakukannya…di sini," ia menunjuk area bibirnya.
Hinata menarik kursinya menjauh, kentara betul ia kurang nyaman dengan kalimat itu, "sebentar lagi perpustakaan akan ramai, a-aku harus membereskan beberapa buku," ia hendak beranjak, tapi Sasuke sigap mencengkram lengannya.
"Sasuke-kun…."
"Ayolah, jangan pura-pura," tawanya menyindir.
"Apa maksudmu?" Situasinya mulai aneh, si gadis mulai panik, cengkramannya tak main-main, itu cukup kuat hingga menimbulkan rasa nyeri.
"Kau menyakitiku…," dia menarik tangannya kembali.
1 menit.
2 menit.
Sasuke memotong jarak, sasarannya adalah area perpotongan leher si gadis, ia berbisik di sana, "aku ingin mengambil jatahku."
Hangat nafasnya menerpa kulit Hinata, aroma mint fresh khas lelaki menguasai indra penciumannya, "jangan…."
"Aku akan segera menikah, setidaknya beri aku sekali saja," bisiknya lagi.
"Sasuke-kun…."
"Aku tahu, kau tahu aku menginginkanmu," lidahnya bermain di permukaan kulit si gadis, aroma mocca semakin menambah gairahnya, "sejak pertama kali bertemu, kau selalu menggodaku."
"Tidak seperti ini…."
"Lima menit, setelah itu aku pergi."
1 detik.
2 detik.
3 detik.
Sasuke adalah pria tampan, siapa yang tega menolaknya. Tapi tidak bagi Hinata, dia cukup tahu diri untuk tidak mengganggu milik orang lain
"Jika aku berada di posisi wanita itu, aku tak rela tunanganku didekati orang lain."
Lagi-lagi tawanya menyindir, "kau bercanda."
"Aku tak berhak atas dirimu."
"Tapi untuk Naruto, kau selalu punya waktu."
"Tidak terjadi apapun antara aku dan Naruto."
"Kau menyukainya."
"Dulu, sekarang tidak lagi."
"Jika Naruto yang memintanya, kau tidak akan menolak."
"Sasuke-kun… Kau bicara apa…."
"Jangan munafik kau."
"Aku menghargaimu sebagai teman Naruto, dan aku tidak ingin merusak penghargaan itu."
"Naruto...lagi-lagi Naruto," rautnya kesal, "bisakah dalam sehari saja kau tidak menyebutkan namanya."
"Dia temanku."
"Tapi aku yang menginginkanmu, bukan dia."
"Mustahil, kau akan segera menikah."
"Lalu kenapa?"
"Sasuke-kun, sadarlah atas ucapanmu," Hinata merendahkan nada suaranya, khawatir kalau si bibi mendengar pembicaraan mereka, "pergilah, lepaskan aku, dan jangan harap kau bisa menyentuhku."
"Aku tak sabar lagi," matanya meneliti setiap inci tubuh si gadis, "ayolah, bukankah ini menyenangkan, akan ku buat kau melayang, Hime."
Praak! Tamparan keras mendarat diwajahnya.
1 menit.
2 menit.
Sudut bibirnya lecet sekekita, "kuanggap itu sebagai iya, santailah…ini hanya sekedar bersenang-senang."
Dua kursi jatuh miring ke samping, mereka yang duduk di sana buru-buru beranjak hingga kursinya hilang keseimbangan, sebuah buku bersampul merah tergeletak di atas meja, suara rintihan si gadis malang tak menganggu si bibi malas yang pulas dalam tidurnya.
Jam dinding menunjukkan pukul sebelas siang, sebentar lagi perpustakaan ramai dikunjungi kouhai. Tirai menutup sempurna, penghangat ruangan cukup menguasai keadaan di sekitar. Tak seorangpun yang akan menyadari kepergian Hinata, mereka akan berpikir dia hanya keluar sebentar untuk makan siang.
Si malang itu berpegang pada apa saja disekitarnya, sesekali kepalanya terbentur rak buku, betapa Sasuke menyeretnya seperti hewan, "kau pikir aku tak mampu melakukannya dengan satu tangan ini, huh."
Ia tersungkur ke dalam ruang penyimpanan perkakas, terdengar bunyi keras ketika pintunya dibanting kuat-kuat. Ember berisi air kotor tumpah seketika, tubuhnya menghantam keras di sana, ia sukses bermandikan air pelnya sendiri.
"Bukan begini maksudku...," disambarnya gagang pintu, tapi Sasuke menghempasnya.
"Jangan harap orang gemuk itu akan membantumu."
"Sasuke-kun tidak seperti ini…aku yakin kau tidak begini," rautnya ketakutan, "aku bisa apa…aku bisa apa…aku pun tak berdaya…aku...aku...a-aku…oh Kami-sama…Sasuke…apa yang kita lakukan."
"…."
"Bukan ini mauku, Sasuke…ampuni aku," ia bahkan mencium kakinya.
"Kau yang memaksaku, Hime."
Rasa takut bercampur kecewa menjadi satu, menciptakan sesuatu yang sangat sulit diartikan. Seolah ia ingin mengatakan sesuatu, tapi bingung harus memulainya dari mana. Mereka berkenalan selama dua minggu terakhir, maksudnya benar-benar saling mengenal. Kesan pertamanya, Sasuke adalah pria pendiam yang penyabar—di luar kasusnya sebagai nuke tentunya.
"Kau harus menjadi milikku," dia menanggalkan satu-persatu outfit yang melekat ditubuhnya, meninggalkan celana pendek jounin warna hitam.
Area bahu dan lengan kirinya masih tertutup perban, aroma obat Tsunade cukup keras menyeruak. luka-luka lecet di sekitar tubuhnya nampak seperti tato-tato mini yang menghias di sana. Sontak Hinata memalingkan wajahnya, ia tak sanggup melihat tubuh atletis itu.
"Kau tertarik juga, huh," Sasuke bertopang lutut dihadapannya, "jangan bohong, aku tahu kau menginginkanku."
Diusapnya pipi si gadis, "jangan sentuh aku," katanya ketus.
"Semakin kau menolakku, semakin aku candu padamu."
"…."
"Peluk pinggangku dengan kakimu," bisiknya.
"Jangan, jangan...kumohon…."
"Kau akan suka ini."
Sasuke POV
Wanita ini selalu mengenakan baju yang merepotkan, aku harus merobek atasannya demi payudara indah yang selalu buatku candu. Kulitnya putih pucat, bra warna hitam kuhempas jauh-jauh, dia berontak ketika jemariku menyentuh permukaan tubuhnya, tangisnya pilu sembari memohon ampun. Tanganku bermain di payudaranya, mereka kenyal bergoyang mengikuti irama yang kubuat. Kubisikkan kalimat-kalimat nakal ditelinganya, bisikan itu akan menambah nikmat permainan kami.
"Uuh…oooh," lenguhnya, kukecup payudaranya, tak akan kusia-siakan secuil pun, kubuat mereka basah dengan liurku.
"Aku disini untukmu, Hime," bisikku.
"Nikmati sentuhanku," kujilati bibirnya, "kau suka, huh."
Dia mulai menangis lagi, kupandang wajah sedih itu sesaat, sejelek apapun dirimu, kau akan selalu menggoda dimataku. Ku usap rambutnya yang basah oleh air kotor, rambut ini selalu wangi setiap saat, aku hafal baunya, aroma khas Hinata sulit untuk dilupakan.
Aku manusia biasa, kau pun manusia biasa. Selama ini kita hanya diam satu sama lain, tapi aku tahu kau menginginkanku sebagaimna aku menginginkan tubuhmu. Menyentuhmu, mencumbumu, mencium bibirmu, tidur bersama saling berbagi kehangatan, itu semua adalah cita-citaku sejak dua minggu terakhir. Pernikahan bodoh itu tidak ada hubungannya denganmu, setiap bertemu kau selalu membahas orang lain, kapan kau fokus padaku? Cinta sejati tabu bagi shinobi, nafsu ini adalah bentuk cintaku padamu, aku harap kau menerimanya dengan ikhlas. Layani aku sebaik mungkin, setidaknya untuk hari ini, karena besok seorang wanita lain akan melayaniku sepanjang hidup. Bukannya aku menyukainya, bukan pula aku mendambakannya, aku hanya perlu didampingi seseorang. Sebelumnya kami pernah bercinta beberapa kali, tapi rasa puas itu hanya sesaat saja. Tapi kau berbeda, hanya dengan memandang matamu nafsuku memuncak, hasratku menggebu, benda di balik celanaku mengeras, aku kalah oleh birahiku. Salahkan diriku sebagai lelaki normal, setiap malam aku mengkhayalkanmu berada dibawahku, bermain bersama, berpagutan, saling meremas tubuh satu sama lain, lalu kita akan terkulai lemas di atas futonku.
Karin tidak bisa memuaskanku, dia telah berusaha tapi selalu gagal. Buktinya aku disini sekarang, mencari kepuasan lain dari wanita lain. Setidaknya biarkan aku menikmati tubuhmu sebelum menjalani rumah tangga membosankan dengan si maroon itu. Cintaku tak lebih dari sekedar permainan, dan aku memilihmu untuk menjadi lawan mainku.
Kami berpagutan dengan liar, awalnya ia menolak, tapi akhirnya ia membalas permainan lidahku. Kumasukkan jemariku ke dalam selangkangannya, spontan ia mengerang nikmat. Pakaian dalam warna hitam menghambat pergerakanku, kuhempas jauh–jauh. Gemas batinku ingin menelanjangi Hinata, selangkangannya saja tak akan cukup, hasrat memaksaku mencicipi setiap inci kulitnya.
"Sasuke...Sasuke…tidak, tidak..."
Aku tahu dia menginginkannya, tapi malu mengakui. Andai saja misi pernikahan itu tidak pernah ada, tubuh indah ini dapat kunikmati setiap hari. Pernikahan hanyalah status, yang penting adalah prakteknya. Seharusnya dialah yang menjadi pengantinku, tapi mereka terlanjur menunjuk si maroon. Haruskah kukatakan di depan Tetua, Karin tidak bisa memuaskanku di ranjang, aku ingin wanita pilihanku sendiri. Tapi mereka telah mengatur semuanya, sebagai mantan nuke, aku dituntut patuh pada semua perintah.
Kubisikkan kalimat nakal selanjutnya, "apakah jariku terlalu kecil untuk menghancurkan selaput darahmu?"
Dia tak menjawab, atau tak sempat menjawabnya saking nikmat perlakuanku. Tanganku basah di dalam sana, kewanitaannya benar-benar sempit dan licin, tubuhnya seperti menyedot jemariku, inilah canduku, "akan kumasukkan milikku yang lebih besar, huh."
"Kau melukaiku."
"Kau akan menyukainya."
Siap-siap kulakukan penetrasi, awalnya kugesekkan kejantananku pada permukaan kewanitaannya, ia bergidik geli seraya membisikkan namaku, "sssshh…Sasuke ooh…Sasuke…ooh…."
"Kau suka?"
Sulit melakukannya dengan lubang sekecil ini, aku yakin ia belum pernah bercinta sebelumnya. Kugerakkan tubuhku perlahan, ini akan membuatnya terbiasa akan bendaku.
"Ah…ah...ah...ah…." rintihnya.
Perlahan-lahan kupercepat tempo gerakanku, "aah aah…Sasuke…," tubuhnya mulai tak karuan, bibirnya digigit berulang kali, dia malu mengakui betapa nikmatnya persetubuhan kami.
"Uuh…uuh…."
"Kau kecil," bisikku.
Semakin kupercepat tempo gerakanku, kulitku dan kulitnya saling bergesek hingga menimbulkan bunyi. Jika ingin menikmati yang sempurna, hentakkan tubuhmu kuat-kuat sedalam-dalamnya agar menyentuh rahimnya. Lima jemariku merangkum dua pergelangan tangannya, kusandarkan kepalanya di sisi tembok, lalu kuhentakkan kejantananku.
"Aaah!" Teriaknya nikmat.
Darah segar mulai mengalir membasahi pahanya, kuyakin itu adalah selaput darah yang pecah.
"Sasuke...ooh Sasuke...apa ini? Hentikan...aku pendarahan...," ia mulai panik.
"Lalu?"
"Hentikan…kumohon."
"Sedikit lagi," ku pompa terus tubuhnya, peluhku jatuh-jatuh menyentuh wajahnya, mereka bercampur di sana dengan air mata kesedihan si gadis malang. Maaf Hinata, aku melakukan ini karna kau adalah wanita yang kupilih.
"Tidak, tidak…aku pendarahan…ini bukan selaput darah," disekanya darah itu, "Sasuke kumohon hentikan, aku terluka...perutku keram."
Kukeluarkan kejantananku, seketika darah itu mengalir deras membasahi pakaiannya dan celanaku. Kudekatkan wajahku pada area kewanitaannya, kesedot darahnya, berharap pendarahannya bisa berhenti dengan cara manual ini.
"Tidak, tidak, bukan begitu…aku harus ke rumah sakit."
Lumayan enak juga, darahnya tidak bau, tapi hangat menerpa wajahku.Ini adalah darah perawan seorang souke Hyuuga, tidak semua pria bisa menikmatinya, aku termasuk yang beruntung.
"Hentikan, hentikan," kakinya menendang tak karuan.
Sebelum permainan ini berhenti, setidaknya biarkan aku mengeluarkan cairanku sekali saja. Kumasukkan kembali kejantananku, kupompa tubuhnya secepat mungkin. Lagi-lagi ia merontah, dipukulnya area dadaku berulang kali, tapi Hinata tak berdaya atas kuasaku, mau tidak mau ia harus memuaskanku hari ini juga.
"Kau gila! Kau menghancurkanku! Kau membunuhku!"
"Sedikit lagi…sedikit lagi…," kupegang kuat-kuat tangannya, sementara pinggulku bergoyang mencari kenikmatan.
"Aah…aah, Sasuke…Sasuke, aku tak tahan lagi….aagghh...aaahh…."
"Nikmati…nikmati kejantananku…."
Sasuke End POV
Pinggulnya bergoyang tanpa henti, kejantanannya menghujam tubuh Hinata dengan tempo super cepat, memaksa si gadis membuka kakinya selebar mungkin. Sasuke tersengal dalam aksinya, ia pantang berhenti sebelum menyelesaikan permainan ini. Darah dan air kotor tergenang di lantai, Hinata menangis dan merintih secara bersamaan, perutnya keram disertai ngilu, rasa sakitnya semakin menit semakin menjadi.
Hinata POV
Peluh membanjiri tubuhku, yukata yang kukenakan lembab acak-acakan, corak bunga lili hilang pesonanya, mereka sobek disana-sini. Rambutku basah kuyup, itu akibat dari tumpahan air pel yang tergenang di lantai, kurasa aku lupa membuang air kotornya, tubuhku tak sengaja menyentuhnya hingga tumpah di sana. Kakiku berat, sangat sulit digerakkan. Tanganku tak berdaya, serasa mati rasa, ku ingin mengucapkan sesuatu, tapi sakit sekali, setetes dua tetes darah segar menghiasi sudut bibirku, Sasuke Uchiha mengigitku cukup kuat.
Gadis lugu nan polos ini telah pergi untuk selamanya, aku tak berdaya atas tubuhku sendiri. Tubuh ini telah menjadi milik orang lain, kuasaku hilang atas kesucianku. Milikku direnggut oleh seorang pria yang sangat kusukai, dia menguasaiku layaknya binatang yang dikuasai birahi. Air mataku jatuh menetes menggenangi tumpahan air pel, menyatu dalam duka hatiku. Rasa sakit menjalar ditubuhku bagian bawah, sensasi nyeri ini melebihi apapun yang pernah kurasakan.
"Aku akan mati…."
Tanpa ampun dia bermain gila atas diriku, tatapannya tanpa ekspresi, yang kutemukan di bola mata indah itu hanyalah nafsu belaka, tidak ada cinta ataupun rasa sayang.Rahangnya terkatup rapat, giginya saling bergesek sama lain menimbulkan bunyi, wajahnya memerah seolah sedang menahan sesuatu, betapa ia menghujamkan benda miliknya dengan sangat kuat. Tubuhku bergoyang mengikuti irama tubuhnya, sesekali ia melenguh nikmat atas perlakuannya, ia mengumpat dalam aksinya, kupandang bibirnya, darah tubuhku menghias ranumnya, "kau milikku."
"Tolong hentikan…," leherku tercekat, tenggorokanku kering, sungguh aku akan mati di tangan pria ini.
Mata itu tanpa belas kasihan, dia adalah orang terjahat yang pernah kutemui, kalimat selanjutnya membuatku takut setengah mati, "Jika harus mati, kau akan mati ditanganku."
"Aku sudah mati sekarang..."
"Belum, puaskan aku dulu."
"Bunuh aku, Sasuke…."
"Uhh sial! Aku akan keluar…."
Kurasakan kejantanannya berkedut di dalam tubuhku, memaksaku untuk menikmati sensasi geli yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Dia melenguh nikmat ketika cairan tubuhnya menyemprot bagian terdalam tubuhku, hangat menerpa rahimku. seiring dengan nafasnya yang tersengal, wajahnya jatuh di atas payudaraku "peluk aku…Hinata," bisiknya.
Hinata End POV
End Flashback
Tubuh Tenten jatuh menghentak tanah, irisnya terpejam sempurna sementara darah segar menetes dari hidungnya.
"Berapa orang lagi, huh?"
Walau sama-sama bergelar shinobi rank A, level jutsu Sasuke jauh di atas Tenten. Doujutsu dan genjutsu bukan keahlian si gadis, sebaliknya Sasuke menguasai fuinjutsu yang dikuasai Tenten.
"Pagi ini kau terlalu sibuk," didekatinya Hinata, gadis itu diam mematung menyaksikan kerabatnya jatuh tak berdaya, air matanya menghiasi pipinya yang pucat. Ingatan akan kejadian dua tahun yang lalu terpampang jelas, bagaimana Sasuke berlaku sangat keji tanpa ampun, menariknya, mendorongnya, memaksanya untuk bercinta, tapi dia masih berani bilang itu adalah simbol perasaannya.
"Siapa lagi selain si cepol ini, huh?" Seolah Tenten tak berarti, dia melangkahi tubuhnya begitu saja.
"Akan kulaporkan perbuatanmu."
"Melapor tentang apa? Bahwa kita telah bercinta di perpustakaan, begitu?"
"Kau tidak punya hati…."
"Kau menikmati persetubuhan itu…akuilah," satu tangannya bersandar di pundak Hinata, "bercinta bukan tindakan ilegal."
"Kau anggap ini permainan?"
"Siapa lagi orangnya? Jangan memaksaku untuk mencari tahu."
"Mereka akan mengusirmu dari Desa."
"Kau menginginkannya juga—"
"Bohong! Aku tak menginginkanmu!" Urat-urat chakra timbul di wajah Hinata.
Sasuke berdecih, "byakugan itu akan membunuhmu."
"Kau bahkan sudah menikah…."
"Laporkan saja pada istriku, aku tidak peduli," sharingan memandang byakugan, "kau akan melawanku dengan byakugan selemah itu? Jangan bercanda."
"…."
"Kenapa diam? Tidak punya bukti? Aku siap berkata jujur, akan kuakui semuanya, itupun kalau dia percaya."
"Tapi Hokage akan percaya."
Sasuke terkekeh, "aku tidak yakin dia akan percaya."
"Aku membencimu."
"Pergilah, laporkan sekarang…aku tidak sabar dihukum Hokage, akupun tak sabar diceraikan Karin, Tetua akan mengusirku dari Desa, dan hidupku akan kembali sebagai nuke."
"Kau mengambil sesuatu yang sangat berharga dariku," byakugan mulai redup, chakranya terlalu sedikit untuk mengaktifkan kekkei genkai.
"Kau tidak berguna bagi apapun dan siapapun, tapi kuakui kenikmatan tubuhmu," jemarinya mengusap kepala si gadis, "bibirmu berkata tidak, tapi tubuhmu memintaku melakukannya lagi dan lagi…lenguhanmu masih tengiang jelas ditelingaku, memaksaku untuk menghujam tubuhmu lebih dalam."
"Hentikan!" Hinata menutup rapat-rapat telinganya, kalimat Sasuke sangat menjijikkan. Dia menangis sejadi-jadinya, pria ini tidak hanya melukai tubuhnya, tapi juga perasaannya. Persetubuhan di perpustakaan bukan keinginannya, tapi si bejat inilah yang memaksanya.
"Kenapa kau malah menangis, ayolah…laporkan sekarang."
"Kau jahat…," kalimatnya diiringi tangis pilu.
"Jangankan melecehkanmu, aku bahkan bisa membunuhmu sekarang juga."
1 menit.
2 menit.
Hinata memekik ketika yukatanya basah oleh darahnya sendiri, jemari Sasuke menembus tubuhnya begitu saja, area dadanya kosong seketika, ia berguling di atas tanah saking tak kuatnya menahan rasa sakit.
"Hentikan! Hentikan! sakit…sakit," teriaknya.
"Ini adalah masalahmu yang sebenarnya," ia enteng memegang paru-paru berukuran sedang, itu berwarna merah dan berkedut, beberapa bagiannya berwarna hitam dan berlubang.
"Tidak, tidak, tidak, kembalikan! Itu milikku! Ku mohon!"
"Wanita lemah."
Hanya sebuah genjutsu tapi efeknya seperti nyata, gadis malang itu bergetar hebat, peluh membanjiri seluruh tubuhnya, kakinya bahkan tak sanggup menopang berat badannya.
"Kau akan mati! Kau akan mati! Aku janji!" Suaranya parau memaki.
"…."
Hinata mengambil beberapa batu lalu dilemparkan ke arah Sasuke "bajingan kau! Mati saja kau! kau jelmaan setan! Nuke gila!"
Salah satunya sukses menghantam pelipisnya, menimbulkan luka memar di sana, "aku membencimu! aku membencimu! aku sangat membencimu! Demi Kami aku sangat membencimu!"
"Dengarkan aku baik-baik," hanya dalam hitungan detik, Sasuke kini berdiri di belakang Hinata, diambilnya batu-batu di tangan si gadis, "batu ini tak akan cukup untuk melukaiku," well, dia tetap gengsi walau pelipisnya mengucurkan darah segar, "Naruto, Sakura dan Kiba…mereka akan bernasib sama dengan si cepol, kecuali kau rela menanggung hukumannya."
"Jangan ganggu mereka."
"Aku janji, jika kasus ini tersebar karena ulahmu yang gegabah, akan kulakukan sesuatu padamu atau pada ketiga orang itu," dilemparnya batu itu kembali ke tanah, "Jika kau punya nyalih, temui Kakashi sekarang juga, dan lihat apa yang akan terjadi selanjutnya."
Suara batuk terdengar nyaring, si malang tak kuasa menahan rasa sakit didadanya. Ini adalah efek dari penggunaan chakra berlebih, batuk-batuk itu mengeluarkan darah segar, "fokus, fokus," berusaha ia mengatur kembali aliran chakranya.
"Hinata?"
"Tenten…ooh Tenten syukurlah."
"Aku hendak kerumahmu, tapi malah tertidur di jalan," ia nyengir.
"…."
"Sakura dan Ino menunggu kita di onsen," irisnya menerawang suasana di sekitar, "tapi ini sudah malam, kurasa kita terlambat," ia nyegir lagi.
"Tenten…."
"Gomen Hinata-chan, aku malah bermalas-malasan di sini," diusapnya area hidungnya yang berdarah, "eh, aku mimisan, lho."
"Tenten…apa yang kau bicarakan?"
"Eh?" ia malah bingung sendiri, "ada apa?" diam sesaat mereka hanya saling bertatapan satu sama lain, "ooh, kurasa aku kelelahan dan tertidur di sini, maaf membuatmu khawatir," ia menggaruk-garuk area wajahnya.
"Tenten…."
"Nee, Hinata-chan, sebaiknya aku pulang, kau pun harus pulang, kita seperti orang bodoh di sini…lagipula aku ngantuk sekali."
Prince of Sharingan, 20 April 2017
*Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, sebenarnya, chap.8 ini belum rampung, tapi karena saya ngeh pengen ngedit FMS, jadinya untuk chap.8 ini saya stop dan paragraph-x akan saya dilanjutkan di chapter depan.
*Saya tetap mengharapkan bantuan dari reader untuk mencari typo..
