Disclaimer: Masashi Kishimoto

Main pairing: SasuHina

Genre: Romance, Hurt

Rated : M


9

Victim.2


Area mansion adalah area tinggal elit, penghuninya hanyalah shinobi atau para petinggi Desa. Jalan-jalan disekitarnya selalu sepi, yang berlalu-lalang hanya satu dua orang saja, apalagi di petang hari, mereka lebih memilih jalan memutar yang lebih ramai. Bukan tanpa alasan, area ini selalu gelap tanpa penerangan, gerbang-gerbangnya tinggi menjulang, lampu-lampu taman hanya menyala di dalam gerbang, mustahil cahayanya menerobos keluar. Jika seseorang menghadangmu atau menyakitimu, atau bahkan melancarkan genjutsu, niscaya tak seorang pun akan mendengar jeritanmu.

Sama halnya dengan Hinata Hyuuga, dia sedang mengalami sedikit kesulitan, bukan sedikit sebenarnya, tapi bertubi-tubi kesulitan. Setelah sadar dirinya pernah diperkosa, ia menyelidiki pelakunya selama seharian penuh. Ditemani Tenten, mereka malah menuduh Naruto atau Kiba, prasangka itu menjadi awal mula keributan di gelanggang dan kesalahpahaman di rumah Uzumaki. tapi Kami-sama berbaik hati, setelah mengalami déjà vu yang terakhir, Hinata menemukan fakta baru—bahwa pelaku pemerkosaan dua tahun yang lalu adalah Uchiha Sasuke, mentor pilihan Hiashi. Fakta lain yang mencengangkan adalah, Uchiha Sasuke telah menikah dengan seorang anggota squad anbu bernama Karin, sekaligus partnernya dulu di Tim Taka.

Sial bukan kepalang, Sasuke licik selicik otaknya, pria itu bergerak cepat menghadang Tenten. Alih-alih berpapasan di depan jalan, ia melancarkan jutsu penyegel pada si gadis, Tenten jatuh menghentak tanah dengan lumuran darah di hidungnya. Ketika otak seseorang dihalangi oleh fuin, beberapa ingatannya dipaksa pasif. Pengguna fuinjutsu ini dengan mudah melakukan manipulasi pikiran, dia bebas memasukkan atau menambahkan ingatan apapun pada otak si korban. Spesialis fuinjutsu terkecoh trik fuin murahan dari seorang pengguna doujutsu, ingatan Tenten kembali ke beberapa jam yang lalu, di pagi hari ketika hendak ke mansion Hyuuga.

Hyuuga Hinata baru saja mengaktifkan byakugan, ia tak menghiraukan peringatan Neji-nii, emosi menguasai pikirannya ketika Sasuke tersenyum manis setelah ketahuan bersalah. Efek penggunaan chakra mengganggu titik chakra yang terhubung ke paru-paru, dia akan merasa sakit selama tiga bulan ke depan. Diam sama halnya seperti orang bodoh, Sasuke harus dilawan walau hanya sedikit. Pelipisnya berdarah di sana, beberapa batu dilempar kearahnya sebagai bentuk kemarahan si gadis, tapi apalah batu-batu itu, Sasuke tak terganggu sama sekali.

Ketika kepalanya terbentur tanah, Hinata merasa pusing disertai sesak di dada. Terdengar nyaring batuk-batuk si gadis, paru-parunya serasa hancur di dalam. Batuknya disertai darah segar, cepat-cepat ia menyekanya sebelum Sasuke menertawakan kelemahannya.

"Fokus, fokus, Hinata…."

Berusaha ia agar aliran chakranya kembali stabil. Jemarinya melakukan berbagai gerakan jutsu di sekitar area leher dan pertengahan dada, efek genjutsu dan penggunaan byakugan sukses menyumbat dua aluran chakra sekaligus.

"Ini harus berhasil, aku tidak boleh kalah."

"Butuh bantuan, hn?"

Sasuke menopang lutut seraya memandang gadis malang yang tertelungkup di tanah, lengan yukatanya basah oleh darahnya sendiri, rinnegan membaca pergerakan aliran chakra yang kacau di sana, ia yakin si gadis sedang menahan sakit. Sebenarnya gampang, ia hanya perlu mengalirkan sedikit chakranya, tapi mengingat kondisi sekarang, rasanya tidak mungkin. Gadis ini sedang dikuasai emosi, mustahil ia sudi menerima bantuan dari orang yang telah melukainya.

"Bunuh aku sekarang," kalimatnya kurang jelas karena diiringi batuk.

"Wanita menyedihkan."

"Eeh…eeh…onsen…."

Suara lenguhan Tenten menarik perhatian, dengan lutut bergetar ia berusaha bangkit berdiri, "Tenten…Tenten…oh syukurlah," tergopoh-gopoh tubuhnya mendekati sepupunya yang terbaring di tanah.

"Eh? Hinata…."

"Bangunlah…angkat tubuhmu," walau tubuhnya pun sekarat, ia tetap memprioritaskan Tenten, sepupunya ini tak ada hubungannya dengan si bejat Sasuke, Hinata merasa sangat bersalah jika terjadi sesuatu pada anak emas Guy-sensei itu.

"A-apa yang terjadi?" Tenten meraba-raba tanah disekitarnya.

"Iya, disini memang gelap, ayo…kubantu berdiri."

"Aku hendak kerumahmu, tapi malah tertidur di jalan," ia nyengir.

"…."

"Sakura dan Ino menunggu kita di onsen," irisnya menerawang suasana di sekitar, "tapi sudah malam, kurasa kita terlambat," ia nyengir lagi, jemarinya menghempas-hempas tanah yang menempel di yukatanya.

"Tenten…."

"Gomen Hinata-chan, aku malah bermalas-malasan," diusapnya area hidungnya yang berdarah, "eh, aku mimisan, lho."

"Tenten…apa yang kau bicarakan?"

"Eh?" ia malah bingung sendiri, "ada apa?" diam sesaat mereka hanya saling bertatapan satu sama lain, "ooh, kurasa aku kelelahan dan tertidur di sini, maaf membuatmu khawatir."

"Tenten…."

"Nee, Hinata-chan, sebaiknya aku pulang, kau pun harus pulang, kita seperti orang bodoh di sini…lagipula aku ngantuk sekali."

Tenten menggerutu tentang outfitnya yang kotor berhias tanah, ia menduga penyakit lamanya kambuh kembali. Dulu kala, Tenten kecil selalu berjalan di saat tidur, ia melakukan itu tanpa sadar. Para pelayan selalu berjaga di sekitar kamarnya, takut kalau si kecil malah berjalan ke dapur untuk mengambil pisau atau bermain api. Tak disangka penyakit aneh itu datang kembali, malah ia melakukannya di depan kerabat dan rekan kerjanya.

"Mungkin aku terlalu lelah, misi kemarin cukup banyak menyita tenagaku," rautnya agak jijik mendapati outfitnya yang berantakan, terkadang ia menggaruk area lengan dan betisnya, beberapa rumput gatal sukses membuatnya risih.

"Hinata, kurasa aku harus pulang sekarang…bagaimana denganmu?" kini area pipinya ikut-ikutan gatal.

"…."

"Baiklah, akan kuantar kau dulu."

"Tidak perlu, aku yang akan mengantar Hime, kau pulanglah."

"Aduh Sasuke, aku malu," rautnya memerah, "kau melihat kebiasaan burukku," ia membuat cukup lama jeda seraya mengutuk kebodohannya, "apakah aku terbaring disini cukup lama?"

"Entahlah, aku kebetulan lewat dan melihat Hime histeris, kupikir terjadi sesuatu padamu."

"Maaf, ini hanya kebiasaan buruk semasa kecil, di usia setua ini malah kambuh lagi."

Sebelum melangkah pergi, Tenten memeluk sepupunya yang nampak kelelahan, "nee, kau pulanglah," ia meminta maaf karena gagal mengajak Hinata pergi ke onsen, "baiklah, kita bertemu besok, istirahatlah di mansion, jangan tidur terlalu larut."

Seseorang berhati licik pasti tak akan canggung berbohong, akting Sasuke tergolong hebat untuk ukuran manusia kaku. Hinata diam bukan karena setuju akan kalimat bohong Sasuke, ia hanya tak ingin Tenten terluka lagi. Biarlah sepupunya pergi, mulai sekarang masalah ini hanya milik Hinata seorang. Kunoichi lemah melawan shinobi rank A tangguh, tentu sudah jelas siapa pemenangnya. Tapi Hinata tak boleh kalah, satu-satunya harapan adalah bertemu dengan Kakashi. Setidaknya Sasuke harus dlilaporkan perbuatannya, Hiashi dan clan Hyuuga urusan belakang, yang dipikirkan Hinata saat ini hanyalah harga dirinya sebagai seorang perempuan. Melapor kepada Kakashi tentu tak akan mengembalikan kesuciannya, ia hanya meminta sedikit bantuan agar si bejat ini melalui proses hukum yang berlaku di Konoha, toh misalnya jika Aliansi Shinobi memandangnya sebagai tindakan kriminal, pembekuan hukuman mati itu akan dicabut kembali.

Bayang-bayang Tenten menghilang di sudut jalan, Hinata segera mengambil jarak agar menjauh dari pijakan Sasuke. Kakinya tertatih mencari arah yang benar menuju keramaian, saking gugupnya ia lupa letak kantor Hokage. Sasuke bingung memandang tingkah si gadis, ia seperti wanita linglung kebingungan.

"Kantor Hokage ke arah sana," telunjuknya mengarah ke perkotaan.

Terhuyung-huyung si gadis, satu langkah sangat berarti, aliran chakranya dikontrol sedemikian rupa, berusaha ia mengatur emosinya agar tidak kalah oleh ketakutannya, Hinata harus sampai di kantor Hokage sebelum tubuh lemah ini jatuh menghempas tanah.

Seorang lelaki tampan mengekor dari belakang, rencananya mereka akan bertemu Hokage untuk mengadukan kasus dua tahun yang lalu. Sasuke penasaran, sejauh mana keberanian si gadis berbicara di depan Kakashi. Hinata hanya gadis lemah pemalu yang tak pandai bersosialisasi, pasti akan sangat lucu nantinya jika ia menautkan jemarinya seraya berdehem manja di depan Hokage.

Seolah masalah ini tak terlalu serius, Sasuke melenggang santai menikmati suasana hangat penghujung musim semi. Berbeda betul dengan gadis yang tertatih di depannya, ia terus batuk-batuk diselingi isakan tangis pelan. Sebagai pria yang telah menjahatinya, ada rasa iba di hati Sasuke, sebejat itukah perbuatannya dua tahun yang lalu? Ia tak menyangka respon Hinata akan separah ini. Mereka hanya bercinta, si gadis pun menikmatinya, tapi sekarang ia malah dituding sebagai pemerkosa. Ayolah, ini dunia shinobi, semua orang pernah bercinta, jadi jangan terlalu dipersulit masalahnya.

Lampu-lampu tengah kota mulai nampak, ini pukul delapan malam, ramai di sekitar sebagai pertanda Konoha tak pernah sepi aktifitas. Mereka sedang melintasi pusat perbelanjaan, toko-toko ramai melayani pengunjung, alunan musik terdengar merdu, muda-mudi saling berpegangan tangan menikmati suasana malam, tak seorang pun yang menyadari kesakitan Hinata dalam langkahnya.

Daerah ini cukup asing, salahkan dirinya yang selalu terkurung di machiya, irisnya menerawang kiri dan kanan, nihil kantor Hokage, yang ada hanya pertokoan dan beberapa penjual makanan keliling. Semua orang mengenakan pakaian biasa, tak satupun yang mengenakan seragam shinobi. Hinata tersesat, entah kurang konsentrasi karena sakit atau karena gugup akan pria dingin dibelakangnya, intinya dia harus bertanya pada seseorang.

"Belok kiri," suara dingin Sasuke membuyarkan kebingungannya.

Benarkah? Bagaimana jika ia bohong? sengaja memanfaatkan kebingungan Hinata untuk menjebaknya di daerah sepi, lalu terjadi hal-hal buruk lagi seperti dua tahun yang lalu.

"Terserah, tanyakan pada seseorang jika kau tidak percaya," sebagai tersangka utama, Sasuke tergolong tenang bagai tak bersalah, atau dia terlalu yakin bahwa tindakannya dua tahun yang lalu memang tidak melanggar hukum.

Tiba-tiba Hinata merasa haus sekali, tenggorokannya kering karena batuk berlebihan. Seorang Kakek di pinggir jalan menarik perhatiannya, ia menjual beberapa macam air mineral berbagai rasa. Celakanya Hinata tak membawa uang sepeserpun, pagi ini ia pergi ke onsen dengan tangan kosong, hanya mengharapkan traktiran Sakura, malah tak disangka ia terjebak bersama si bejat.

Si Kakek menampilkan senyum ramah ketika seorang gadis bingung menghampiri dagangannya, ia menyodorkan minuman rasa apel dan anggur bersamaan, "cobalah, Nak, sepertinya kau haus."

"…."

"Hm, ada apa? Tidak suka dengan rasa ini?"

"…."

"Kalau rasa jeruk? Ini lumayan enak," si Kakek menyimpan rasa apel dan anggur.

"A-ano..o-ojii-san, a-aku tidak membawa uang sekarang," wajah pucatnya nampak bersemu merah, "ta-tapi akan kubayar dengan ini," ia menyodorkan anting emas sebelah kanannya, anting itu mengikat berlian kecil berwarna putih bening.

Si Kakek diam sesaat, kasihan si gadis, hanya karena tidak membawa uang, ia rela membayarnya dengan harta benda berharga. Rasanya kurang pantas jika sebotol air mineral ditukar dengan benda semahal itu. Dilihat dari outfitnya, si Kakek yakin ia bukan warga non clan, wajahnya yang cantik dan tutur katanya yang sopan menandakan ia berasal dari keturunan bangsawan.

"Tidak perlu, Nak, ambillah air ini…perhiasanmu jauh lebih berharga daripada daganganku," diserahkannya sebotol pada Hinata.

"A-aa—ojiisan, aku tidak bermaksud begitu, a-aku tidak bisa menerimanya tanpa membayar."

"Duduklah dulu, kau kelihatan sangat lelah," si Kakek mengarahkannya duduk dibangku kecil, bercak darah di lengan yukatanya semakin menambah iba, "apa yang terjadi padamu, Nak?"

"A-aku baik-baik saja," tapi suara batuk nyaring menandakan kondisinya sedang tidak baik.

"Berapa harga air itu?"

"Iya?"

"Air yang diinginkan gadis ini, berapa harganya?"

"Aa...seratus yen, Tuan."

Sasuke mengeluarkan beberapa lembar dari dompetnya, "berikan aku satu juga," katanya.

Bagai malaikat penolong ia membeli sebotol air untuk Hinata yang malang. Sasuke membeli dua, rasa anggur dan jeruk, anggur miliknya, dan Hinata rasa jeruk. Hanya sekali teguk airnya tandas seketika, cuaca sepanas ini selalu sukses memancing rasa hausmu.

"Nak, ambillah ini…Tuan ini membelikannya untukmu, jadi simpanlah perhiasanmu."

"Ta-tapi a-aku tidak mengenalnya, aku tidak menerima barang dari orang lain."

"Berikan padanya, dia rekan saya."

Si Kakek agak bingung, gadis ini mengaku tidak kenal, tapi si Tuan malah mengaku rekan si gadis. Seketika senyum simpul menghias wajah tuanya, ini adalah permasalahan klasik muda-mudi sekarang. Ketika sedang bertengkar dengan kekasihnya, wanita akan jauh lebih manja dan bertingkah, jika sudah begitu, si pria akan melakukan hal-hal manis untuk menarik perhatian gadisnya kembali.

Seperti halnya Sasuke sekarang, ia membuka tutup air kemasan itu dan diserahkan kepada gadisnya, "minumlah, ini baik untuk mencegah dehidrasi."

Hinata malah menitihkan air mata, bukan karena air itu, hatinya sedih karena berbagai hal, orang yang menyuguhkan air ini adalah seorang penjahat, ia malu menerimanya, atau malah harus mengesampingkan gengsinya demi haus tak tertahan ini.

"Minumlah, aku membeli ini untukmu," Sasuke menawarkan untuk yang kedua kalinya.

"Minumlah, Nak, kasihan pacarmu, perhatiannya ini adalah bentuk rasa sayangnya," si Kakek menimpali.

Mau apa lagi, Hinata memang sangat kehausan sekarang, perlahan-lahan ia menerima air kemasan dari tangan Sasuke. Tapi tangan itu bergetar hebat menahan sakit hingga tak kuasa menahan beban botol, setengah airnya tumpah membasahi yukata Hinata, dengan sigap Sasuke mengambil kembali airnya.

"Berikan padaku."

"Maaf…," tangisnya semakin menjadi-jadi.

"Buka mulutmu."

Perlahan-lahan Sasuke menuangkan air di mulut kecil Hime, si Kakek menatap seksama dua pasang muda-mudi yang dilanda cinta, ia bahkan menitihkan air mata melihat saking tulusnya cinta si pria. Walau hanya memiliki satu tangan, Sasuke teliti agar air itu tidak tumpah ke wajah cantik Hinata.

"Pelan-pelan saja, nanti tersedak," ia mengatur tempo air itu agar mulut Hinata tidak terlalu penuh, "kau sangat haus, huh."

Untuk pertama kalinya Sasuke mengutuk satu tangannya yang hilang, itu hanya air, dan ia sangat kesulitan membantu seseorang minum dari botol.

Air mineral itu hampir tandas, sesengukan ia menyeka air matanya, "lagi?" Sasuke menawarkan.

Tertunduk malu ia bergeleng pelan, tak disangka orang yang sangat dibencinya malah membantunya di kala kehausan.

"Nak, kau sangat bersyukur memiliki pria sebaik ini," si Kakek tersenyum, "jadi jangan menangis lagi, aku yakin dia akan selalu ada untukmu."

"O-ojiisan, apakah arah ini sudah benar untuk ke daerah shinobi?"

"Area shinobi? Jadi kalian adalah shinobi?" si Kakek sumringah.

"…."

"Untuk kesana, kalian harus belok ke kiri, itu yang paling cepat…kalian akan langsung menemukan kantor Tuan ke Enam, dari situ kalian bisa tentukan arah tujuan," jelas si Kakek.

"A-arigatou," lagi-lagi ia batuk di selah kalimatnya.

"Sepertinya rekan anda sedang sakit, jaga dia baik-baik."

Sasuke mengangguk pelan seraya pamit, dipapahnya Hinata melangkah pergi.

"Semoga kalian cepat menikah," terdengar samar suara si Kakek di antara suara merdu musik di sekitar.

"Lepaskan aku," dihempasnya tangan itu, "kebaikanmu palsu."

Gadis manis berparas pucat nampak lunglai menyusuri keramaian. Kiri dan kanannya hanya terdengar suara bising musik disko, Hinata baru saja melintas di depan sebuah bar, beberapa bagunan cantik di depan adalah rumah bernyanyi. Jika tadi tak tampak manusia berseragam shinobi, di daerah ini justru di dominasi para jounin dan chunin. Siapa yang sudi betah tinggal di rumah dengan cuaca sepanas ini, bernyanyi bersama nakama akan jauh lebih menyenangkan daripada berdiam diri berkucur keringat.

Mata para pria spontan tertuju pada gadis bertubuh mungil, tidak biasanya yukata dikenakan di tempat disko. Mereka saling berbisik satu sama lain, siapa gadis cantik yang nampak kebingungan ini? Apakah dia orang baru di Konoha? Ia mengenakan pakaian seperti puteri, rambutnya halus dan licin, kulitnya bening dan mulus layaknya porselin, sontak penampilan Hinata menarik perhatian para chunin dan jounin.

"Hei, Misumi," seseorang memberanikan diri menyapa lebih dulu. (Misumi: kecantikan alami).

Tak satupun wanita lain disekitar, hanya Hinata seorang. Dipandangnya pria berambut cokelat, matanya berbinar penuh godaan. Iris amethyst tanpa pupil memandangnya pula, memaksa si pria menundukkan wajahnya.

"Gadis Hyuuga…," bisiknya.

"Kemarilah cantik," pria lainnya malah berani memotong jarak dengan Hinata.

"Hati-hati, dia mempunyai byakugan," yang lainnya memperingatkan.

"Ayo cantik, temani aku minum," kata si pria.

"…."

"Kenapa? Kau malu? Tenanglah, hanya kita berdua saja, jangan hiraukan mereka," jemarinya mulai nakal membelai rambut panjang Hinata.

Perlakuan itu membuat si gadis mundur beberapa langkah, meladeni manusia-manusia mabuk ini sama halnya mencari ribut. Hinata sangat lemah sekarang, ia harus segera ke ke kantor Hokage sebelum tubuhnya jatuh pingsan di jalan.

"Jangan ganggu," suaranya lirih.

"Kenapa? Jadilah pacarku, akan kubuat kau bahagia," jemarinya mencengkram lengan yukata Hinata.

"Lepaskan," ia menghempasnya.

"Tidak, ikutlah denganku."

"Jangan…," makin lirih suaranya.

Seorang chunin muda sedang mengintimidasi seorang gadis, nampak si pria sedang mabuk berat, sementara teman-temannya bersorak gembira melihat kepanikan si gadis.

"Kasihan, tolong dia," terdengar samar suara bisik-bisik di sekitar.

Warga mulai berkerumun, si malang Hinata berusaha mempertahankan tubuhnya agar tidak jatuh terseret di trotoar.

"Jangan kalah oleh byakugan, akan kutraktir sake jika kau berhasil membawanya kemari!" reka-rekannya berseru.

"Tarik! Tarik! Tarik!"

"Tolong lepaskan, aku harus ke tempat Hokage."

"Disini bukan tempat Hokage!"

"Lepaskan dia! Kalian menyakitinya," beberapa warga mulai risih, ini bukan pertama kalinya mereka berbuat ulah.

"Kalian tau apa urusan shinobi!"

Beberapa hari yang lalu, mereka juga mengganggu gadis lainnya yang sedang melintas. Tak seorang pun warga berani melapor, mereka terlalu takut berurusan dengan manusia-manusia pengguna ninjutsu. Seolah tempat ini adalah daerah kekuasaannya, mereka melakukan hal-hal buruk tanpa peduli resikonya. Hanya karena lulusan ujian chunin terbaik, ia semena-mena terhadap yang lemah. Ia terus menarik Hinata agar menjauh dari trotoar, gadis malang itu batuk-batuk disertai darah segar menghias bibirnya, "dia sakit!"

"Lepaskan dia!" Warga bersiap dengan batang sapu ditangannya, jika mereka tak dihentikan, gadis sekarat itu bisa makin sekarat.

Ujian chunin selalu menjadi dilema para shinobi, kekuatanmu akan diakui jika kau berhasil menyelesaikan berbagai tahapan ujiannya. Pemuda ini tak takut apapun, dikiranya lawan tertangguh adalah lawan di ujian chunin. Walau pada kenyataannya tidak begitu, jika kau merasa hebat, yakin dan percaya, seseorang akan selalu berada setingkat diatasmu, bahkan lebih.

Sasuke Uchiha berdiri di depan Hyuuga Hinata, satu tangannya memegang sekotak bento warna hijau. Ia hanya singgah sebentar di toko lauk seberang, tak disangka Hinata malah terseret di trotoar.

"Hn."

"Kau siapa?" nada kalimat si pria menantang.

"Lepaskan dia."

"Kenji! Kenji! Lari!" rekan-rekannya memperingatkan.

Entah shinobi ini kurang populer atau pendatang baru di Konoha, ia sama sekali tak peduli dengan peringatan rekan-rekannya. Pria berwajah dingin di hadapannya sungguh menyeramkan dengan perawakan tinggi besar, mata kelam Uchiha Sasuke bagai pembunuh berdarah dingin dan ia masih berani bilang, "memangnya kau siapa?"

Suara batuk Hinata semakin nyaring memilukan telinga, siapapun yang mendengarnya pasti merasa iba, terlihat jelas ia berusaha menahan sakit didadanya.

"Dia sakit, tolong lepaskan dia," Sasuke mengulang kalimatnya.

"Dia gadismu, ya?"

"…."

"Lawan aku dulu."

"Kenji! Dia Uchiha!"

1 menit.

2 menit.

"Lain kali, lihat-lihatlah dulu sebelum menantang seseorang," Sasuke berbisik pelan di belakang telinganya, hanya dalam jangka waktu tiga detik, ia berhasil membuat tubuh Kenji menyentuh trotoar.

Chunin muda itu memegang area lehernya dengan kuat, ia berusaha mengatur nafasnya, tapi saluran pernafasannya tersumbat sekarang. Sensasinya seperti sedang dijerat tali, berusaha ia melepaskan tali itu, tapi selalu gagal karena Sasuke mengikatnya dengan kuat.

"Celaka! Dia dalam pengaruh genjutsu!" rekan-rekannya mulai panik ketika Kenji berguling di trotoar seraya memegang lehernya.

"Sa-sakit! To-tolong!"

"Kenji! Kenji! Ayo berdiri…lari!" mereka memapahnya menjauh.

Suara-suara bisik terdengar diantara warga, topiknya adalah pria tampan yang sedang memegang bento.

"Jadi dia Uchiha terakhir itu?"

"Ternyata dia masih muda."

"Kupikir dia jahat, ternyata dia rendah hati dan penolong."

"Dia rekan Uzumaki Naruto."

"Dia tampan."

Dan masih banyak bisik-bisik lainnya.

"Pegang ini," bentonya diberikan pada Hinata. Sekali lagi ia mengutuk satu tangannya yang hilang, betapa sulitnya menolong seseorang dengan organ tubuh yang tidak lengkap. Sensasi hangat terasa di area dada si gadis, Sasuke mengalirkan chakranya di sana, Hinata pun menerima perlakuan itu tanpa protes.

"Mereka melukaimu, huh?"

Jika saja kedua tangannya lengkap, ia pasti akan menggendong Hinata kembali ke mansionnya. Kondisinya benar-benar lemah dan butuh perawatan, tapi jika itu terjadi, Hinata akan menudingnya sengaja menghindar dari Kakashi, jadinya serba salah.

Dipapahnya tubuh lemah itu ke salah satu bangku di dekat pohon, Paman yang berjualan disekitarnya nampak mengerti, ia mendorong gerobaknya menjauh agar memberi ruang pada mereka.

Tangan Hinata tak bergetar lagi, batuknya mulai berkurang dan nafasnya mulai teratur, setidaknya chakra Sasuke bisa berguna walau sedikit. Dengan licah ia membuka pengikat bento dengan giginya, aroma nasi kepal dan tamagoyaki rasa bawang menyeruak menggoda selera. Ketika bagian tubuhmu tidak utuh lagi, kau wajib mempelajari beberapa teknik bertahan hidup dengan satu tangan. Percaya atau tidak, Sasuke sering melakukan berbagai aktifitas dengan mengandalkan gigi-giginya.

"Makanlah agar tenagamu pulih kembali."

"…."

"Makanlah."

"Untuk apa kau melakukan ini semua?" Lagi-lagi Hinata mulai terisak.

"Hentikan tangis bodohmu itu dan makanlah."

Pagi ini Hinata hanya makan sedikit nasi dan sup, siang harinya ia berada di gelanggang, sore harinya di mansion Uchiha, dan malam harinya ia berada di area hiburan malam Konoha, mana sempat makan sesuatu. Rasa lapar itu hilang seketika, masalah rumit bersama Uchiha sudah cukup membuatnya kenyang. Tapi aroma tamagoyaki memancing seleranya, Sasuke tahu betul Hinata suka aroma bawang yang dicampur telur.

"Apakah kau melakukan semua ini karena aku lemah?"suaranya lirih.

"iya," Sasuke memilah-milah nasi kepalnya, "kau menyedihkan, bahkan musuhmu kasihan padamu," ia berdecih.

"Mereka akan melakukan sesuatu jika kulaporkan perbuatanmu."

"Hn, lalu?"

"Kau tidak takut?"

"Tidak."

"Aku hanya suka bawang jika dicampur telur, kenapa kau tahu?"

"…."

"Seakrab apa kita dulu?"

"Makanlah, wajahmu terlihat pucat…tidak mungkin kau bertemu Hokage dengan wajah seperti itu."

"…."

Sebongkah kecil nasi diarahkan ke mulut Hinata, "makanlah, aku akan menyuapimu."

"Tidak perlu—"

"Jangan keras kepala."

Agak malu-malu Hinata menyambut suapan itu, justru akan lebih sulit jika menggunakan sumpit, "pelan-pelan, nanti tersedak," diliriknya si Paman pemilik gerobak, "berikan dia air mineral, nanti akan kubayar."

Suap demi suap dilahapnya, sesekali ia meneguk air mineral. Seumur hidup selama dua puluh dua tahun, hanya Sasuke seorang yang melakukan ini padanya. Di mansion, mereka akan menyuapi seseorang dengan sumpit, itupun jika orang itu sedang sakit. Ketika ia dan Hanabi masih kecil, pelayan menyuapinya dengan sendok, tapi mustahil menemukan sendok sekarang, barang itu langka di Konoha, hanya para bangsawan yang memilikinya.

Isi kotak bento tinggal seperempat, ia menolak suapan berikutnya dengan alasan sudah kenyang, dan kalimat Sasuke selanjutnya sukses membuatnya kaget, "baiklah, akan kumakan sisanya."

1 detik.

2 detik.

3 detik.

Seseorang yang memakan sisa makananmu haruslah orang terdekat, jika bukan saudara, pasti kedua orang tua. Dulu, ketika Hanabi masih kecil, ia sering menyisahkan makanan dipiringnya. Hiashi akan marah jika makanan disia-siakan seperti itu, Hinata akan memakannya diam-diam, ia melakukan itu demi melindungi Hanabi dari hukuman sang Ayah. Kini Sasuke melakukan hal yang sama, menggelitik batinnya untuk mencari tahu sedekat apa hubungan mereka dulu.

"Sasuke…"

"…." Arti tatapannya seolah bertanya, 'kenapa?'

"Untuk apa semua ini…."

"Simpan tenagamu untuk berdebat di ruang Hokage."


Kantor Hokage selalu ramai pegawai, bahkan di malam hari pun mereka tetap bekerja. Semakin banyak misi yang diterima Konoha, maka semakin banyak pula dokumen administrasi yang harus diselesaikan.

Hatake Kakashi dilantik dua bulan yang lalu, ia agak kesulitan mengerjakan beberapa laporan. Selama menjabat sebagai shinobi rank A, aktifitasnya lebih banyak dilakukan di luar Desa, ia tak tertarik dengan berbagai urusan di belakang layar. Tak disangka itu berdampak pada kedudukannya sekarang, kini otaknya jungkir balik memikirkan laporan-laporan yang menumpuk dikantornya.

Padahal Shikamaru dan Sasuke rutin lembur setiap malam, tapi itu tak cukup membantu. Belakangan ini Konoha lumayan sibuk melayani permintaan misi, jika mereka selesai mengerjakan satu laporan, besok akan datang tiga laporan lainnya. Belum lagi pegawai yang berada di lantai bawah, mereka bahkan menyantap bentonya di depan meja kerja, laporan-laporan itu tak memberi mereka jeda walau sedikit.

Dua malam berturut-turut Sasuke absen, Kakashi bertanya-tanya, apa yang dilakukan bungsu Uchiha itu? Malam ini pun batang hidungnya tak tampak berlalu-lalang, biasanya dialah yang paling rajin membantu di kantor. Tulisan Sasuke rapi bak diukir, laporannya di buku besar selalu jelas, jika Sasuke menjadi Hokage kelak, ia pasti tak akan kesulitan dalam hal manajemen laporan.

"Bukankah malam ini Sasuke akan menyusul Yamato dan Lee?"

"Betul, tapi tanpa menyusul pun tidak apa, sepertinya mereka baik-baik saja berdua."

Konohamaru datang dengan nampan berisi tiga gelas ocha, malam ini mereka akan kerja super lembur hingga subuh hari.

"Maaf lama menunggu."

Segelas di taruhnya di depan Kakashi, dan segelas lagi di depan Shikamaru, dan gelas lainnya untuk dia sendiri.

"Arigatou, Konohamaru-chan, makin hari kau makin pintar," Kakashi memuji.

"Aa…Hinata nee-san hendak bertemu anda, kurasa ia sedang berbicara dengan Sasuke nii di bawah."

Ketika Konohamaru membawa nampannya, ia kaget luar biasa melihat Hinata, bagaimana tidak, sejak insiden di gelanggang tadi siang, gadis itu sama sekali belum berganti outfit, raut wajahnya kebingungan seraya bertanya sana-sini.

"Di-dimana ruang Hokage?" tanyanya pada salah satu pegawai.

"Kantor Hokage berada di lantai dua, di lantai satu hanya pegawai per divisi," bukan tanpa alasan Hinata bingung, ini adalah gedung baru dengan desain baru, gedungnya bertingkat dua, jumlah ruangannya pun lebih banyak dibanding dulu, yang jarang berkunjung pasti akan kesulitan.

Konohamaru hendak menyapanya, tapi nampan yang ia bawa harus segera diantar, nampak Sasuke mendekati Hinata, mereka terlibat dalam sebuah pembicaraan serius. Jika bukan karena nampan ocha ini, ia pasti sudah menguping.

"Pikirkan lagi."

"Air dan bento itu tidak akan merubah apapun, terima kasih karena sudah mengalirkan chakra, kau melakukan itu karena kau pantang menyerang yang lemah."

"kuberi kesempatan, pikirkan sekali lagi…kau tidak akan mungkin menang melawanku."

"Aku sudah memikirkan semuanya, aku tahu betul resikonya," irisnya mulai menangis lagi, "masalah ini berpotensi menghancurkan reputasiku, aku bisa kehilangan kepercayaan Ayahku, kasih sayang Adikku, dan pandangan-pandangan miring akan muncul tentangku, mereka pasti lebih percaya pada shinobi rank A yang banyak berpartisipasi dalam perlindungan Desa," seorang pegawai yang melintas memandangnya, buru-buru ia menyeka air matanya, "sementara aku hanya kunoichi biasa tanpa prestasi, kemungkinan besar mereka akan membelamu, tapi aku tak punya pilihan lain…karena ini adalah harga diriku…kesucianku, dan kedua hal ini jauh lebih berharga dibanding sebotol air mineral dan kotak bento."

1 menit.

2 menit.

"Baiklah jika itu keputusanmu," ia berpikir sejenak, "jangan pernah menyesali cara ini, lihatlah baik-baik apa yang bisa kulakukan, pertama, dimulai dari Kakashi."

Jemarinya mengisyaratkan si gadis agar mengikuti langkahnya, mereka menaiki tangga menuju lantai dua. Buru-buru ia menuju ruangan Kakashi, tak sabar rasanya membuka aib dihadapan guru masa kecilnya, ini akan menjadi seru, bahwa Uchiha Sasuke telah melakukan tindak perkosaan terhadap Hime Hyuuga.

Mereka tiba di depan sebuah ruangan berpintu putih dengan ukiran lambang Negara Api, "ketuk pintunya."

"A-apakah Hokage-sama masih berkerja di malam begini?"

"Ketuk saja."

Hinata mengikuti perintah Sasuke, ia mengetuknya beberapa kali, beberapa detik kemudian gagang pintu bergerak, Konohamaru muncul di sana, jemarinya memegang segelas ocha yang hampir tandas, "Hinata nee-san?"

Sebenarnya ruangan itu lumayan besar, tapi saking banyaknya kertas-kertas yang menumpuk, jadinya terlihat lebih kecil dari ukuran aslinya. Di sisi kirinya terdapat empat buah sofa biru dan meja hitam, di sisi kanan empat kursi kayu ukiran terlihat serasi dengan meja kayu ukiran pula, selebihnya hanya beberapa lemari yang terisi penuh dengan dokumen. Shikamaru duduk di salah satu kursi ukiran, ia hanya menoleh sebentar seraya tersenyum lalu kembali sibuk dengan aktifitasnya. Kakashi memandang dua shinobi yang melangkah kearahnya, Hyuuga Hinata dan Uchiha Sasuke tidak pernah akrab, alasan apa yang membuat mereka datang bersama, apakah ini ada hubungannya dengan sesi bimbingan? Wajah Hinata sedih, jejak-jejak air mata terlihat jelas di pipi mulusnya, lain halnya dengan Sasuke, pria stoic itu nampak tenang-tenang saja.

"Ho-hokage-sama," Hinata mengawali kalimatnya dengan suara bergetar.

"Hinata, apa kabar? Lama tak bertemu."

"A-aku…."

"Hm?"

Baju kotor, rambut agak kusut, wajah pucat seperti mayat, ada bercak darah di sekitar lengannya, kondisinya cukup membuat orang bertanya-tanya, "ada apa?"

"A-aku…"

"Katakanlah…."

"…."

"Dia ingin melapor," disisinya Sasuke nampak tenang.

"Melaporkan apa?"

Apapun yang akan dibahas Hime Hyuuga, itu pasti sesuatu yang sangat penting, rasanya kurang pantas jika Konohamaru dan Shika-kun mendengarnya. Apalagi Shika adalah tetangganya, Ibunya sering berkunjung ke rumah Hinata, apa tanggapannya jika tahu ia adalah korban nafsu lelaki?

"Baiklah, kurasa aku harus merokok sebentar," seolah mengerti situasinya, Shikamaru melenggang pergi. Sebagai pria dewasa ia cukup tahu berbagai hal, masalah rumah tangganya dengan Temari pun cukup rumit, seharusnya Hinata tak perlu menunjukkan sikap sungkan. Tapi setiap orang berbeda, mungkin ini masalah super rumit yang fatal jika diketahui orang lain.

"Konoha, pergilah ke market depan, aku butuh rokok," well, ini bukan pertama kali Sasuke memerintah cucu Tuan ke Tiga itu, setiap malam pun selalu begitu. Layaknya pelayan cilik, Konohamaru selalu siap melaksanakan tugas dari Tuan Sasuke.

Pintu menutup sempurna, tertinggal tiga orang di dalam ruangan. Walau begitu Hinata tetap gugup luar biasa, sebelumnya ia tak pernah mengakui apapun di depan orang lain, seolah ini sesuatu yang sangat besar, ia harus mempersiapkan kata-kata yang tepat untuk memulainya.

"Melapor tentang apa, Hinata?" Kakashi sengaja melembutkan suaranya, takut kalau si gadis akan meledak tangisnya jika ditegur dengan nada yang keras.

"Aku…Sa-sasuke….."

"Hm…ada apa dengan Sasuke?"

"Sasuke pernah be-berlaku jahat padaku."

Kakashi mendelik ke arah muridnya itu, si murid malah memamerkan ekpsresi datar, "berlaku jahat seperti apa?"

"Sasuke…Sa-sasuke…," tangisnya pecah, buru-buru ia menyeka air matanya, "Sasuke telah…Sasuke…a-aku tak bisa mengatakan ini, sensei…."

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Kami tidur bersama di perpustakaan…dua tahun yang lalu."

"Bohong! Dia bohong! Dia memaksaku melakukannya…."

"Sasuke?" Nada kalimat Kakashi seolah meminta penjelasan atas kalimat Hinata.

"Di-dia menyegel ingatanku untuk menutupi perlakuannya, sampai kemarin a-aku tidak tahu," tangisnya menjadi-jadi, "siang ini aku menemui Shizune-san untuk memeriksa keadaanku, dan ternyata benar—"

"Benar apanya?"

"Sasuke yang melakukannya padaku…."

"Melakukan apa?"

"Pokonya seperti itu, seperti hubungan suami-istri, padahal kami belum menikah tapi dia memaksaku, menarikku, dan itu terjadi begitu saja…aku bingung harus berbuat apa…Ayahku tidak boleh mengetahui ini sensei, dia akan murka…Ayah akan mengusirku dari clan, aku harus bagaimana…aku bingung sensei…."

"Sasuke, benar begitu?"

"Iya itu benar, tapi kami melakukannya atas dasar suka sama suka."

"Bohong! Itu bohong! Hiks…hiks…aku tak pernah menyukaimu, aku membencimu…kau jahat…kau keji…kau bukan manusia…," area dadanya mulai perih lagi.

"Hinata…."

"Jangan sentuh aku, kau penjahat…menjauh dariku," didorongnya tubuh Sasuke.

"Kapan kejadiannya?" Kakashi berusaha tetap tenang, walau ia sendiri syok mendengar kalimat-kalimat ketus Hinata. Gadis yang dikenal pendiam itu menangis sejadi-jadinya, ini bukan pemandangan biasa untuk ukuran seorang souke.

Belum selesai masalah dengan dokumen-dokumen misi, kini Kakashi harus dipusingkan dengan masalah para muridnya. Dua tahun yang lalu berarti setelah perang ninja, ketika itu ia masih berstatus jounin rank A, sementara jabatan Hokage di pegang oleh Tsunade Senju.

"Kata orang-orang, Kakashi-sensei selalu mengerti murid-muridnya…a-aku kemari untuk mengadukan perbuatan murid anda, tapi tolong…jangan adukan ini pada Ayahku, aku tak ingin dia kecewa…."

"Kejadiannya dua tahun yang lalu, musim semi di pagi hari, aku dan Hinata bertugas di perpustakaan, aku menggantikan posisi Naruto yang di geser ke gelanggang."

"Benar begitu, Hinata?"

Si gadis mengangguk, "a-aku harus bagaimana sensei, aku bingung…dia juga telah menyegel ingatan Tenten…tak seorangpun berada di pihakku sekarang, siapa yang akan membelaku jika bukan aku sendiri…."

"Untuk apa kau menyegel ingatan orang lain, Sasuke?"

"Tenten terlalu banyak tahu, biarlah aku dan dia yang mengurus masalah ini, toh jika sensei ingin memperbesar kasus ini…aku siap…."

Sasuke telah menandatangani sebuah surat perjanjian dengan Aliansi Shinobi, bahwa jika terjadi kekacauan atas perbuatannya di luar atau di dalam Desa terhadap satu atau beberapa orang, maka ia siap melanjutkan hukumannya kembali. Sasuke adalah satu dari dua asset terbaik Konoha, rasanya terlalu rugi jika harus melenyapkan orang yang telah banyak berjasa bagi keamanan Desa. Jika Tsunade mendengar ini, urusannya pasti akan lebih mudah. Pertama, dia adalah wanita, urusan seperti ini biasanya diurus oleh wanita juga, lelaki akan canggung tentunya. Kedua, Tsunade memiliki pengalaman hidup yang jauh lebih lama dibanding Kakashi, tentu ia akan cepat mengerti dan menemukan solusi terbaik, setidaknya itu bukan hukuman mati.

Jangan pandang jabatannya sebagai Hokage, tapi pandanglah sebagai pria biasa, Kakashi tak terlalu paham urusan wanita, ia pun jarang berdekatan dengan wanita. Ini tergolong masalah sulit, salah mengambil tindakan maka selesailah sudah, jangan sampai kebijakan yang ia pilih justru merugikan salah satu pihak. Lagipula, kejahatan itu terjadi dua tahun yang lalu, kepemimpinan di pegang oleh Tsunade kala itu, seharusnya Hinata melapor kepada Nona ke Lima, bukan pada Hokage baru yang kaku. Dia terus menangis, membuat Kakashi semakin bingung, kalimat-kalimat Hinata sulit dimengerti, masalah ini pun masih kabur dikepalanya, setidaknya si gadis harus menenangkan diri dulu sebelum bercerita.

"Kenapa anda diam, sensei? Apakah anda membela Sasuke…karena dia adalah shinobi level A yang populer?"

"Bukan begitu Hinata, kasus ini harus diperjelas dulu," ia berdehem, "ketika itu terjadi, yang memimpin adalah Tsunade-sama, bukan aku…jika kau setuju, akan kudiskusikan masalah ini denganya, aku harap Hinata-chan bisa lebih tenang, jangan gegabah…bukankah Hiashi tidak boleh tahu masalah ini?"

"Jika terpaksa, maka aku rela…Jika masalah ini sampai ke telinga Tetua, sudah pasti Ayah akan tahu juga."

"Jadi, kau ingin aku bagaimana? Mendiskusikannya dengan Tsunade untuk sebuah jalan tengah, atau mendiskusikannya dengan Tsunade agar masalah ini sampai ke Tetua, dan Tetua akan memanggil Hiashi, orang tuamu pasti akan marah, lalu mereka akan melaporkan ini sebagai tindak kejahatan level B, lalu Aliasi Shinobi akan melakukan prosedur hukuman mati terhadap empat nuke-nin yang bebas bersyarat."

"A-aku malu dengan Tsunade-sama...."

"Kenapa harus malu, dia pasti akan membantumu."

Sungguh keterlaluan gadis ini, dia malu pada sesama wanita, tapi tidak malu dengan Kakashi yang notabene adalah pria, "Kakashi-sensei adalah guru Sasuke, aku ingin kau menghukumnya, murid anda telah melukai saya, dia berani menyentuhku, menyegel ingatanku, datang kerumahku layaknya pria terhormat, dia makan malam bersama keluarga kami, dia berlagak sebagai pembimbing, tapi nyatanya itu semua palsu, Uchiha Sasuke tidak lebih dari seorang nuke…dan nuke tetaplah nuke," lehernya serasa tercekat, kalimat demi kalimat mengalir begitu saja, "sensei, jika bukan karena sharingan itu, aku yakin dia dan rekan-rekannya telah mati sekarang."

"Hinata…"

"Jangan sebut namaku, aku jijik."

"Lalu, kau ingin memilih opsi yang mana?"

"Pilihan kedua, aku siap jika kasus ini harus besar."

"Kau yakin?"

"A-aku yakin."

"Apakah Sasuke pernah memukulmu?"

"Dia menyerangku dengan genjutsu."

"Genjutsu? Benar begitu, Sasuke!"

"Iya, itu saya…."

"Dia juga mengancamku, jika kuceritakan masalah ini pada Naruto, Sakura, dan anda…dia akan menghukumku."

Hatake Kakashi belum berganti pakaian sejak tadi pagi, sarapan dan makan siang pun hanya secuil, malam ini ia hanya meneguk ocha, dan dua muridnya malah datang dengan masalah pelik menohok hati. Di satu sisi dia kasihan pada Hinata, tapi di sisi lain ia pun tak ingin kehilangan Sasuke. Hinata adalah seorang bangsawan Hyuuga, keluarganya dihormati di seluruh penjuru Negara Api, sama saja mencari ribut jika tak membelanya dalam kasus ini. Sedangkan Sasuke hanya pria terakhir dari Uchiha, Kakashi tahu betul penderitaannya semasa kecil hingga dewasa, dia adalah murid tersayang, sekaligus pewaris jutsu chidori pertama, siapa yang akan membela Sasuke kalau bukan dia? Dalam masalah ini, sebenarnya keberuntungan ada di pihak Hinata, dia adalah gadis souke yang memiliki segalanya, Hiashi akan melakukan apapun demi harga diri puterinya.

"Hal itu terjadi sebelum pernikahanmu dengan Karin?"

"Iya, benar."

"Apakah kalian pernah saling suka?"

Ketika Sasuke hendak menikah, Tetua meminta Kakashi agar menjadi wali nikah. Tentu ia senang mendengar kabar bahagia itu, Iruka menjadi wali Naruto, sementara ia mendampingi Sasuke sebagai orang tuanya. Ini bukan sesuatu yang baru, sejak dulu Kakashi selalu akrab dengan keluarga Uchiha, Obito adalah rekannya, sementara Itachi adalah kouhai di Akademi.

Bukan hanya sebagai wali semata, Kakashi juga bertanggung jawab atas setiap tindakan Uchiha tunggal itu, kini Sasuke membuat ulah dengan mengganggu seorang gadis bangsawan. Dia harus adil sebagai Hokage, sementara ia pun menyayangi Sasuke sebagai Anak didik.

Kejadian itu terjadi sebelum pernikahannya di gelar, mungkin saja Sasuke dan Hinata pernah terlibat cinta. Mungkin juga persetubuhan itu terjadi atas dasar suka sama suka, tapi beberapa tindakan Sasuke dianggap kasar, sehingga Hinata beranggapan bahwa ia telah disakiti.

"Aku tidak pernah menyukainya, kami hanya berkenalan selama dua minggu, aku bertemu dengannya ketika menjenguk Naruto di rumah sakit."

"Souka."

"Hubungan itu terjadi bukan berdasarkan cinta, ia memaksaku, menarikku, mendorongku ke dalam ruang penyimpanan lalu—"

"Hentikan, bodoh!" Sasuke menyelah kalimatnya, raut wajahnya benar-benar marah sekarang. Percuma menjelaskan semuanya di depan Kakashi, kejadian itu sudah terlanjur terjadi, toh Kakashi pun tak akan mampu mengembalikan kesucian Hinata, bercerita panjang lebar sama saja membuka aibnya sendiri.

"Lalu aku harus bagaimana? Diam saja? Membiarkanmu bersantai sementara kau telah merusak hidupku, harga diriku, kesucianku…apakah kau sanggup mengembalikan semua itu?" Hinata sesengukan dalam kalimatnya.

Kakashi memijit pelipisnya, otaknya berdenyut di dalam. Hinata benar, Sasuke pun benar, sayangnya Kakashi adalah pria, tentu ia akan membela sesama pria juga. Biarpun Hinata menceritakan semuanya dengan lengkap, Kakashi tak mampu melakukan apa-apa, siapa yang mampu mengembalikan selaput darah seorang gadis? Mustahil, metode iryo-nin pun tak akan bisa. Satu-satunya jalan terbaik adalah dengan tetap tenang, Hinata harus tenang, Sasuke harus tenang, sambil ia membicarakannya pelan-pelan dengan Tsunade Senju.

Tsunade adalah seorang wanita tua yang kolot, ia tak sepaham dengan sistem muda-mudi jaman sekarang. Kemungkinan besar si pirang berpihak pada Hinata, tapi jangan sampai keberpihakannya malah menjebloskan Sasuke ke dalam Hukuman mati. Maka dari itu, Kakashi harus mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengan Tsunade. Sebaiknya ini antara mereka berempat saja, terlalu jauh jika Tetua harus terlibat, ia berharap masalah ini selesai dengan jalan tengah yang tepat, sungguh Kakashi tak ingin kehilangan Sasuke.

Belum lagi Karin, jika masalah ini tersebar, kemungkinan besar pernikahan yang telah di bina selama dua tahun kandas seketika. Kasihan Sasuke jika harus diceraikan begitu saja, toh itu terjadi sebelum menikah, semoga sang istri mengerti situasinya. Tapi bukan berarti Karin harus tahu, akan lebih baik jika si maroon itu tak mengetahuinya, ia pasti akan sedih mendengar perbuatan suaminya di masa lalu.

"Jadi menurutmu, harus kuapakan muridku?

"Pukul dia…buat dia menderita…."

"…."

Hatake Kakashi bangkit dari tempat duduknya, tatapannya intens kepada Sasuke. Dia dituakan di Tim Tujuh, baik Naruto maupun Sasuke tak mungkin melawan jika orang tua ini sedang marah. Sasuke mundur dua langkah, dia paham betul apa yang akan terjadi beberapa detik ke depan.

"Dia memang muridku, tapi aku tidak selalu berpihak padanya."

Konohamaru tersentak kaget di balik pintu, suara tamparan keras terdengar nyaring dari dalam ruang Hokage. Shika-kun santai menghisap rokoknya, ia bahkan mengangkat satu kakinya di atas kursi panjang di koridor.

"Hentikan kebiasaan buruk itu, menguping tidak baik…."

"Seseorang sedang di pukul di dalam."

"…."

Selang beberapa detik terdengar bunyi tamparan kedua, "pasti sakit sekali…."

Sasuke jatuh menghantam lemari, kumpulan dokumen berhamburan disekitarnya. Sudut bibirnya sukses berdarah, Kakashi menamparnya dua kali dengan menggunakan chakra.

"Aku tidak membelanya, kan?" ada jeda, berusaha ia menahan emosinya, "ku harap masalah ini selesai dengan baik tanpa harus ada yang meninggal."

"Sensei…."

"Kemari, kau," jemarinya memberi kode.

Sasuke bangkit dari jatuhnya, disekanya area bibirnya yang berhias darah. Wajahnya enggan menapat wajah Kakashi, ia hanya tertunduk tanpa ekspresi seraya mengambil posisi di samping Hinata.

"Kelakuanmu tidak mencerminkan sikap seorang shinobi."

"Hai'" jawabnya.

"Kau mengakui kesalahanmu?"

"Iya, saya mengaku, dua tahun yang lalu, saya telah menyentuh Hime Hyuuga dan menyegel ingatannya akan kejadian itu."

"Kau dengar Hinata, dia telah mengakuinya."

"…."

"Jika kau memberiku kesempatan, akan kubicarakan ini dengan Tsunade-sama, aku yakin dia akan membelamu," ada jeda, "semoga tak ada yang mati di sini, kuharap masalah ini bisa memperoleh jalan tengah terbaik."

"A-apakah Tsunade-sama ti-tidak akan marah?" si gadis ragu-ragu akan kalimatnya.

"Dia tidak akan marah, aku jamin."

"Sensei, sebaiknya masalah ini tak diketahui Ayah dan Adikku dulu…."

"Tentu, aku mengerti keadaanmu," diusapnya punggung si gadis, "kau pasti lelah, pulanglah dulu…istirahat yang banyak, aku janji akan membantumu."

"Tapi—"

"Percayalah padaku, Hinata," tatapannya penuh keyakinan.

"A-aku percaya…."

"Nah, sebaiknya kau pulang, Konohamaru berada di balik pintu, dia akan mengantarmu kembali ke mansion."


Konohamaru meninggalkan Hinata di depan gerbangnya, si kecil itu menawarkan diri menginap, ia tahu Tuan Hiashi dan Hanabi nee sedang ke luar Desa. Tapi Hinata menolak, takut jika orang tua Konoha akan marah, lagipula bunke selalu setia dua puluh empat jam, jangan takut kesepian di rumah besar ini.

Para bunke menunggu di taman utama, raut wajah mereka nampak khawatir, beberapa bahkan menangis, sang majikan telah pergi sejak pagi sekali dan baru pulang sekitar pukul sepuluh malam, keadaannya lunglai dan tergopoh pula, apa gerangan kendalanya? Tadi pagi ia segar bugar meninggalkan mansion.

Seorang bunke menawarkan makan malam, tapi Hinata harus tidur sekarang, chakra harus dikumpulkan untuk mencegah efek yang lebih parah. Chakra pemberian Sasuke tak akan bertahan lama, ia harus mengumpulkan miliknya sendiri, bergantung pada orang lain adalah sumber kelemahan sesungguhnya.

Tubuhnya berkeringat hebat, entah karena efek cuaca yang memang panas, atau malah daya tahan tubuhnya mulai menurun. Ia memilih baju tidur berbahan sifon hitam, ini cukup nyaman dikenakan. Hanya membasuh wajahnya sebentar dan mengoles lotion, Hinata langsung menjatuhkan tubuhnya di atas futon, disingkirkannya selimut warna ungu, itu terlalu tebal untuk cuaca sepanas ini.

Irisnya hendak terpejam, tapi kalimat-kalimat Kakashi terngiang dikepalanya. Entah kenapa ia merasa Kakashi lebih condong kepada Sasuke, pria berambut putih itu berjanji akan membicarakan ini dengan Tsunade, berharap seorang wanita berada di pihak Hinata, karena pria terlalu canggung. Jadi kesimpulannya, Kakashi membela Sasuke, dan Tsunade membela Hinata, mungkin supaya adil, toh jika kasus ini menjadi besar, mereka masing-masing memiliki dua orang penting dibelakangnya.

Tak seorang pun akan tidur nyenyak dengan masalah serumit ini, Hinata adalah korban sempurna Sasuke, dua tamparan saja tidak akan cukup membayar perlakuannya dua tahun yang lalu. Seperti apa hubungan mereka dulu? Akrab kah? Atau hanya sekedar kenal antar nakama. Di depan umum dia selalu bersikap baik dan sopan, dengar saja komentar penduduk, mereka sunkan padanya seraya berbisik-bisik penuh pujian. Sasuke membeli air dan bento, seolah ia iba kepada Hinata, tapi sebenarnya itu hanya strategi pencitraan semata. Jika mereka memang akrab, kenapa Hinata tak mengingat satu momen pun, justru hanya kejadian diperpustakaan saja, sementara déjà vu lainnya selalu soal nakama melulu.

Dan lagi, kenapa Sasuke repot-repot menyantap sisa makanan Hinata? Itu terlalu aneh untuk pria yang pernah berlaku keji padamu.

Apakah betul kata Kakashi? Mereka pernah menjalin hubungan sebelumnya, Tapi rasanya mustahil, mana ada gadis yang mencintai pria yang telah memperkosanya? Hanya gadis bodoh yang melakukan itu.

Ia dan Sasuke tak pernah jatuh cinta, itu hanya pendapat Kakashi semata. Dia berkata begitu karena membela muridnya, seolah persetubuhan itu terjadi atas dasar saling suka, jadi hukumannya nanti bisa lebih ringan, atau malah dianggap tak bersalah sama sekali.

Semakin memikirkannya, maka semakin sulit pula irisnya terpejam, keringatnya semakin mengucur, dan ia agak kesulitan bernafas, mungkin efek chakra Sasuke mulai berkurang.

Rasa panas ini memancing rasa hausnya, diliriknya gelas di atas meja, kosong sejak pagi. Sekarang pukul dua belas malam dan rasanya kurang etis jika harus membangunkan para bunke.

Hinata POV

Dapur kosong melompong, para bunke meninggalkannya selalu dalam keadaan rapi. Lampu utama telah dimatikan, hanya dua lampu kecil yang menerangi koridor hingga ke pintu dapur. Kupandangi nampan berisi sup di atas meja, mereka pasti membuatkannya untukku, kasihan para bunke…mereka repot-repot memasaknya tapi tak kusentuh sedikitpun.

Gelas ukuran tinggi hampir penuh terisi, kuteguk semuanya, rasa haus ini semakin menjadi-jadi. Tunggu dulu, ada pemandangan aneh disini…sejak kapan lampu utama dimatikan? Bukankah Ayah selalu berpesan agar lampu utama harus selalu menyala, justru lampu koridor lah yang harus dimatikan. Mengapa para bunke malah melakukan hal sebaliknya?

Kudekati pemantik di sudut, bersyukur Ayah tak harus melihat ini, dia terlalu keras kala menegur bunke. Kutekan pemantiknya ke arah berlawanan, seketika ruangan terang kembali, ternyata di atas meja tak hanya sup saja, tapi juga nasi dan beberapa masakan dari daging babi. Jika kondisiku sehat pasti akan kusantap semuanya, ini terlalu sayang untuk dibuang begitu saja.

Kudekati nampan di atas meja, setidaknya harus kusentuh walau sedikit. Tapi langkahku agak terganggu, jariku tersangkut sesuatu, "apa ini?" rasanya agak aneh, teksturnya seperti rambut. Kupandangi seksama, sesuatu yang panjang hitam dan agak lembab, sumbernya berasal dari bawah meja, "oh Kami!" itu memang rambut, atau tepatnya rambut salah satu bunke yang terbaring kaku di bawah meja.

"Take! Take!" kuserukan nama bunke yang biasa mengurusi taman kami.

Langkahku buru-buru keluar dapur, "Take! Bibi!" kemana mereka semua?

Kepanikanku semakin menjadi-jadi ketika kulihat seorang bunke lainnya terbaring di depan machiya Hanabi.

"Apa yang terjadi, oh Kami? Mereka kenapa?"

fokusku menuju washitsu utama, semoga seseorang masih sadar di sana, "Take! Take!" kuserukan lagi.

Washitsu utama gelap gulita, ini bukan kebiasaan para pelayanku. Pelakunya sengaja mematikan semua lampu, dia juga melumpuhkan para bunke, dia pasti tahu Ayahku sedang pergi, kurasa akulah sasarannya. Kutekan pemantiknya ke arah berlawanan, seketika itu pula kakiku serasa mati lemas, para bunke terbujur kaku di atas tatami, termasuk Bibi dan Take, entah mati atau pingsan, tapi tubuh mereka kaku seperti mayat.

"Si-siapa?"

"Si-siapa yang melakukan ini? Keluarlah!"

Kuberanikan diriku menantangnya, "ja-jangan sembunyi! Kau menyerang rumah Hyuuga!" Sesaat kupikir ini adalah serangan massal, bisa jadi rumah Shino dan Sika diserang juga. Dulu kala, ketika perang dunia ninja ke tiga, rumah para shinobi selalu menjadi sasaran dan sanak keluarganya dibantai dengan sadis, mungkinkah sekarang Konoha sedang di serang? Tapi alarm tanda bahaya tidak berbunyi.

Otakku berpikir cepat, sekarang bukan zaman perang, setidaknya itu telah berakhir sejak dua tahun yang lalu. Lalu siapa yang berani menyerang mansion Hyuuga?

Aku tak beranjak dari posisiku, tetap kupandangi para pelayanku. Setelah kuperhatikan seksama, ternyata mereka tidak tidur, irisnya terbuka lebar tapi tubuhnya seolah mati.

Batapa bodohnya aku, ini adalah Desa shinobi, sudah pasti penduduknya mahir menggunakan ninjutsu. Apa yang terjadi pada para bunke adalah salah satu trik shinobi, membuat mereka diam seperti tidur, walau kenyataannya sistem kerja otaknya tetap berfungsi seperti normal. Yakin dan percaya, bunke-bunke ini tak menyadari telah diserang, seolah dalam dunia fantasi, mereka tetap melakukan aktifitasnya seperti sedia kala.

Hangat nafas seseorang menerpa perpotongan leherku, kuyakin ia tersenyum di sana. Seketika rasa takut melanda batinku, ternyata orang ini tak pernah main-main dalam ucapannya.

"Bukankah sudah kukatakan sebelumnya, huh."

"A-apa maumu?"

"Tentang hukuman."

"Berani-beraninya kau menyerang rumahku."

"Kenapa tidak? Aku datang kemari untuk menagih kata-katamu."

"Ma-maksudmu?"

"Ingatlah…Naruto, Sakura, Kakashi…," ia berdecih, "tak kusangka kau menemui Shizune juga."

"Lalu apa maumu?"

"Kau harus membayar atas keterlibatan empat orang ini, bukankah sudah kukatakan sebelumnya, akan kulakukan sesuatu padamu jika masalah ini tersebar. Keterlibatan Kakashi adalah awalnya, kau harus membayar atas tamparan keras tadi," nafasnya menghirup dalam-dalam kulit leherku, rasanya geli dan dingin di sana, "maka dari itu…hukumanmu dimulai saat ini, malam ini…dirumahmu sendiri."

"Kau jahat…."

"Maka lihatlah…sejauh apa yang bisa kulakukan padamu."

Hinata End POV

"Aku menginginkanmu…dan akan kudapatkan kau," Sasuke mulai menggerayangi pinggang dan pinggul Hinata, "tak seorangpun yang akan menghalangiku, bahkan Hokage sekalipun," lengannya mulai masuk ke area pribadi si gadis, perlakuan itu membuatnya meringis perih, "aku menginginkan ini, aku haus akan ini…dan hanya inilah yang mampu menghentikan dahagaku."

Kuat-kuat Hinata menggigit bibirnya sendiri, Sasuke meraba dan meremas area pribadinya dengan kasar dan terburu-terburu, "Aaah…sakit…sakit…aku membencimu…sakit…."

"Kau suka, bukan?"

"Hentikan…hisk…hisk…hentikan…akan kulaporkan perbuatanmu."

"Dimana malumu, huh? Mengadu pada Kakashi bahwa kau telah memperoleh kenikmatan batin dariku, begitu?"

"Tolong hentikan..aah..aaah…."

"Tunjukkan kamarmu, malam ini kita akan bercinta sampai puas."

Sasuke POV

Kubisikkan kalimat-kalimat nakal ditelinganya, memujinya sebagai wanita terseksi dan pemuas nafsu terbaik. Aku suka gaunmu, tipis dan ringan, kau bahkan tak mengenakan apapun didalamnya selain kain sifon itu.

Kakinya tak kuasa menopang tubuhnya, tanganku bermain di daerah kewanitaanmu dengan intens, betapa lembut di dalam sana, aku suka ini…aku bisa melakukannya semalam penuh.

"Aaah..aah…"

Nafasmu tersengal hebat, kurasa kau akan segera mencapai puncaknya, "jangan sekarang, kita belum bermain."

Kuseret tubuh mungil itu menjauh, kami tak mungkin bermain di tengah-tengah pelayan yang terlelap. kau merontah hebat, tanganmu aktif menggapai apa saja untuk bertahan, lalu kubisikkan lagi, "perlawananmu tak berarti apapun bagiku, aku tahu kau menyukainya," kupamerkan jemariku yang basah oleh cairanmu, "lihatlah, betapa kau merindukanku, Hime."

Kau menangis sejadi-jadinya seraya mengutuk perlakuanku. Satu tamparan keras mendarat diwajahku, rasanya panas dan perih, tapi kuanggap itu sebagai ajakan untuk bercumbu.

Satu tanganku menggendong tubuhmu, kita memasuki salah satu machiya, kuyakin itu milikmu karena machiya lainnya nampak gelap gulita. Bersyukur Ayah dan Adikmu sedang pergi, ini adalah kesempatan terbaik untuk melepas rindu. Mainanku yang satu ini sungguh merepotkan, bibirnya cantik tapi cerewet, sikapnya lembut tapi menohok hati, canduku tak akan pernah puas sampai kapanpun, hanya Hime Hyuuga pemuas batinku, tidak yang lainnya.

Tak perlu repot-repot membuka pakaianmu, cukup menyibaknya ke atas lalu kubuka lebar-lebar kakimu, "kau indah…," tak lepas irisku dari pemandangan cantik ini, "aku selalu mendapatkan apapun yang kumau."

"Jangan lakukan apapun Sasuke, aku akan pendarahan lagi…kumohon….hisk…hisk…."

Kuhirup aroma kewanitaanmu, sungguh wangi ini memabukkan batinku, membangkitkan nafsuku, mendorong semangatku untuk segera menjamah tubuhmu. Hinata adalah wanita yang bersih, setiap lekuk tubuhnya harum rasa mocca, dulu aroma ini akrab denganku, tapi setelah kepergianmu ke Suna tak pernah lagi kulakukan hal semacam ini.

"Ahh…uuh..Sasuke…"

"Enak?"

"Sakit…hentikan…."

Sesekali kugigit, sesekali lidahku bermain di sana, setiap aksi-aksi yang kulakukan sukses membuatmu mendesah. Aku tahu kau pasrah, berontak sama saja mencari sakit. Bercinta itu harus dinikmati, gugup hanya akan membuat setiap gerakannya menjadi hambar.

Kuremas tanganmu ketika jemarimu menjambak rambutku kuat-kuat, tak akan kulepaskan sebelum lidahku puas, aku ingin menikmati tubuh ini pelan-pelan, lagipula tak ada alasan untuk terburu-buru, toh Hiashi sedang tidak di rumah, aku bisa menikmati tubuh anak gadisnya sesuka hati.

Lidahku menyusuri pusarmu hingga ke bawah payudaramu, rasamu manis seperti dulu, kau tak berubah sama sekali. Hinata oh…Hinata…berikan padaku setiap inci kenikmatan tubuhmu. Kujilati payudaramu bergantian, membuat mereka basah oleh liurku, "uuh Sasuke…Sasuke….." desahmu.

"Akuilah kau menyukainya, bukankah ini adalah favoritmu, huh?"

Kunikmati dua bongkahan indah Hime Hyuuga, ini adalah milikku, aku yang pertama kali menyentuhnya, dan akan menjadi milikku selamanya. Ku usap wajahku di sana, kuhirup kulitmu, dan kugigit intens, aku tahu kau menyukai perlakuan ini. kau suka jika kusentuh di bagian payudara, kau akan menekan wajahku di sana agar bibirku bisa bermain lebih gila.

Kuku-kukumu membuat garis merah dipunggungku, itu tak mengapa, ini adalah bagian dari persetubuhan kita. Kau melenguh nikmat tanda suka, irismu terpejam dan kakimu semakin terbuka lebar. Bibirmu menolakku tapi tubuhmu merespon cepat, setiap desahanmu seolah berkata, sentuh aku, jamah aku seliar mungkin, masukkan kejantananmu segera, aku tak sabar merasakan cairanmu membasahi rahimku.

Gadisku menangis di tengah-tengah persetubuhan kami, area dadanya bergetar diwajahku. Aku tahu masalahmu, aku tahu kesedihanmu, aku bisa merasakan setiap kesakitanmu, kita adalah satu, tapi kau terlalu banyak bicara, terlalu banyak aturan…membuatku kesal hingga berlaku kasar. Kau yang memaksaku, Hime, seharusnya kita bisa bercinta dengan damai.

Kukecup setiap tetes air matamu, satu tanganku tidak akan cukup menghapus kesedihan diwajahmu, "pandanglah aku sekali saja, sebut namaku sekali saja…fokuslah padaku," bisikku. Aku disini untukmu, jangan menangis lagi, persetubuhan ini adalah hukuman dariku, tapi bukan berarti aku bermaksud jahat, aku hanya ingin melepas rindu, berbagi rasa, saling berbagi kenikmatan seperti dulu.

Kukecap rasa asin dari air matamu, tapi bagiku itu manis. Lidahku bermain di bibirmu yang pucat, kupaksa lidahku masuk tapi kau menolaknya, "cium aku, biarkan aku merasakan rasamu, Hime,"

"Kau menyakitiku…."

"Ini hukuman atas kesalahanmu."

Kau mengerang ketika kugigit bibir bawahmu, cepat-cepat kumasukkan lidahku lalu kuajak lidahmu bermain. Aku tahu kau mahir memanjakan lidahku, kita bahkan pernah melakukannya dihutan utara. Lidahmu hangat sehangat tubuhmu, kita bisa saling bermain lidah selama mungkin sesukaku. Semakin lama tempo pagutan kita semakin cepat tubuhmu merespon, gigitan-gigitan kecil dariku menghasilkan erangan-erangan kecil dari bibirmu.

Suaramu seksi ditelingaku, memancing tubuh bawahku bergesek dengan tubuh bawahmu. Kubuat beberapa tekanan lalu kau balas dengan gerakan-gerakan erotis. Pinggulmu bergoyang menerima tekanan dariku, aku tahu itu tanda untuk penetrasi.

"Kau menginginkannya, huh?"

Tubuhku bermandi peluh membasahi seluruh outfitku. Kulepaskan segalanya yang melekat ditubuhku, tak satupun tersisa. Kupamerkan kejantananku di wajahmu, kuusap disana, malah tangismu semakin menjadi-jadi.

"Aku tahu kau bohong."

Kejantananku tegang sempurna, aku siap bercinta malam ini. Kubuat bendaku bermain dipayudaramu, "uuuh Hinata, milikku bersentuhan dengan kulitmu, aku rindu masa-masa ini."

Kuremas kuat-kuat payudaramu lalu kusentuh kewanitaanmu dengan bendaku, kau melenguhkan namaku dalam nikmat, "uuh Sasuke…Sasuke…jangan…a-aku akan pendarahan."

"Kau siap?" penisku berada di depanmu sekarang.

Tak perlu menunggu jawaban darimu, kumasukkan kejantananku perlahan, "uuh nikmatnya," tubuhmu selalu menggigit seperti dulu.

Awalnya agak sulit, milikmu tetap sempit seperti dulu, padahal kita telah bercinta beberapa kali. Berbeda sekali dengan milik istriku, dia tak pernah mampu memuaskanku. Percumbuanku dengannya terjadi beberapa tahun silam, kala itu kami masih berstatus sebagai nuke, tubuh Karin kusentuh dengan mudahnya, tak ada penghalang di dalam sana. Sejak awal aku tahu ia tak suci lagi, aku memakai tubuhnya hanya untuk bersenang-senang saja.

Tapi kau berbeda Hinata, kau selalu memancing rasa penasaranku. Sifatmu yang lugu tidak dibuat-buat, kau manja tapi sunkan menunjukkannya, malu-malumu semakin menambah pesona kecantikanmu, kau adalah wanita yang sempurna. Beruntungnya aku sebagai laki-laki pertama, kau memberikan sesuatu yang sangat kuidam-idamkan, bohong besar jika tak kuhargai kesucianmu, salahmu yang menceritakan masalah kita pada orang lain.

Biarlah kau menuduhku jahat dan keji, setidaknya aku melakukannya didepanmu, bukan di depan wanita lain. Aku tak ingin berpura-pura didepanmu, aku memang seorang penjahat, dan kuharap kau menyukai penjahat ini. Tapia pa, percumbuan pertama kita kau anggap sebagai tindak kejahatan, kau melapor kepada Kakashi hingga ia memukulku dua kali.

Sungguh perbuatan ini tak bisa kuterima, kau harus menanggung akibatnya. Hukuman ini wajar buatmu, setiap orang akan kau tanggung hukumannya. Dimulai dari Kakashi, maka besok Naruto, Sakura dan Shizune akan menyusul. Persiapkan dirimu manis, kita akan bercinta hingga tubuhmu bermandikan cairanku.

"Uuuh nikmat…uuh Hinata…," tanpa sadar bibirku ikut mendesahkan namamu seiring dengan rintihan nikmat dari bibir kecilmu.

"Sasuke…Sasuke…Sasuke…"

"Kenapa? Kau suka?"

"Ini terlalu besar…keluarkan…keluarkan…aku akan pendarahan…hisk...hisk…."

Semakin kutekan tubuhku ke dalam tubuhmu, pinggulku bergoyang mengikuti irama kenikmatan, tanganku tetap pada posisi payudaramu, kuremas dan kupijit sesekali.

"Sasuke…aku tak tahan lagi."

"Tak tahan ingin mencapai puncak atau karena sakit?"

"Sakit…sakit sekali…perih….kumohon hentikan…aku akan diam sekarang…aku janji…aku akan diam…."

"Terlambat bodoh…lagipula aku sudah memasuki tubuhmu, jadi nikmatilah."

Kuputar tubuhmu kebelakang, kini kita akan melakukannya dengan gaya lain, awalnya kau merontah tapi aku sigap menahan pinggulmu. Kau pikir aku tak bisa menguasaimu hanya dengan satu tangan ini, salah besar...malah lebih mudah.

Kuhentakkan kejantananku kuat-kuat sedalam-dalamnya, lebih nikmat melakukannya dari belakang, "oooh uuuhhh…," dapat kurasakan rahimmu dengan posisi ini.

"Goyangkan pinggulmu Hinata, aku butuh kenikmatan lebih," kutepuk area pinggulnya dua kali, lalu kubuat gerakan memutar di dalam, "ayo, buat aku keluar…uuh uuh…."

"Aaahh..aah…sakit…perih…."

"Ayolah Hinata…goyangkan lebih cepat lagi."

Tak kusangka kau melakukannya dengan mahir, Hinata memang pandai memuaskanku. Desahan dan eranganmu semakin membakar birahiku, payudaramu bergoyang mengikuti irama tubuhmu, satu tanganku memegang sala-satunya lalu kuremas kuat-kuat.

"Uhh Sasuke..Sasuke...a-aku…aku…"

Sudah lama aku mendambakan ini, menunggangimu adalah impianku. Hanya kita berdua di sebuah rumah besar, bermandi peluh, berbagi saliva, dan menyatukan air kenikmatan. Permainan gila ini hanya antara kita berdua, tidak ada Kakashi, Tsunade ataupun para Tetua.

"Uhh…aah…uuh sial nikmatnya…," aku bahkan meracau tak karuan, mataku terpejam, pelipisku berkerut, aku berusaha menahannya lebih lama, karena semakin lama akan semakin enak.

"Sasuke…Sasuke…oooh Sasuke."

Sudah jelas itu bukan erangan kesakitan, Hinataku menikmati perlakuanku. Sudah pasti tidak ada darah, kita telah melakukannya beberapa kali bodoh, hanya ingatanmu saja yang tak karuan.

Aku tak sanggup menahannya lebih lama lagi, harus kukeluarkan sekarang juga. Cairanku akan membasahi rahimmu, itu adalah bukti cintaku. Kejantananku berkedut di dalam tubuhmu, sementara kewanitaanmu semakin menjepit penisku lebih kencang.

"Kita akan mengakhirinya bersama-sama, huh," nafasku memburu, sesuatu di bawah perutku akan menyeprot tubuhmu.

Satu hentakan keras diiringi lenguhan panjang nan nikmat, kami terkulai lemas di atas futon, cairanku berceceran di sekitar selangkanganmu, kau menangis sejadi-jadinya, kau acak rambutmu berulang kali lalu kau cakar tubuhmu sendiri.

Aku tahu kau sekarat, aku tahu kau kesakitan, perih karena bercinta tak ada gunanya dibanding dengan luka di paru-parumu. Percuma kau sesalkan percumbuan ini, toh kita pernah melakukannya dulu sekali, bahkan lebih lama dari ini.

Kutekan kedua tanganmu seraya kuselimuti tubuh telanjangmu, "tenanglah, hukuman ini belum selesai, kau harus mampu memuaskanmu."

"Kau jahat, aku membencimu…lepaskan aku….kumohon lepaskan aku…aku tak akan bicara lagi…kumohon lepaskan aku...," Hinataku menangis sejadi-jadinya.

Sebaiknya kualirkan sedikit chakra sebelum tubuh indahmu sekarat, kutekan salah satunya di lenganmu, spontan irismu terpejam.

Tidurlah Hinata, kurasa kau memang membutuhkannya, chakraku akan membantumu menutupi luka itu. Sekarang kita tidur di futon yang sama, akan kumanfaatkan momen langka ini untuk menatap wajah cantikmu, "sudah lama aku menantikan saat-saat ini, aku selalu kesepian setiap malam…memikirkanmu, merindukanmu, mendambakan tubuhmu…bahkan aku harus menyentuh penisku sendiri…lalu kubayangkan kita saling bercumbu dalam nikmat."

Sasuke End POV


Mansion Hyuuga sunyi senyap, pemilikinya sedang pergi bersama Anak bungsunya, sementara para bunkenya sedang dalam pengaruh genjutsu. Karena ini area mansion, setiap rumah memiliki privacy masing-masing, pagar yang tinggi menjulang menghalangi pandanganmu akan apa yang terjadi di dalam sana, para tetangga tak akan menyadari rumahmu sedang dikuasai oleh seorang Uchiha.

Para bunke masih tetap pada posisi yang sama, mereka sedang sibuk berfantasi pada mimpi masing-masing. Tak seorang pun yang menyadari si gadis malang yang terbaring lemah diatas futonnya, Hinata adalah korban kekejian Uchiha Sasuke, pria itu terbaring disisinya tanpa mengenakan apapun, mereka bahkan berbagi selimut bersama.

Satu tangan Sasuke mengunci dua pergelangan tangannya, sementara kakinya memeluk pinggang Hinata. Semalam ia mengalirkan chakranya, jangan anggap itu sebagai tindakan positif, Sasuke melakukan itu agar Hinata kuat saat bercinta. Ingin rasanya ia bangkit dan berlari keluar, tapi Sasuke pasti akan menyadarinya. Takut hukumannya akan lebih parah, kini Hinata pasrah dan hanya bisa menangis dan menangis.

Persetubuhan semalam memang tidak menyebabkan pendarahan, tapi Hinata merasa nyeri di bagian perut. Belum lagi sakit di selangkangannya karena dipaksa mengangkang, sementara payudaranya nyeri berbekas kebiruan. Efek bercinta dengan Sasuke sukses menyakiti lahir batinnya, ia sama sekali tak menyangka Sasuke berani memasuki mansion Hyuuga dan menyerangnya tanpa ampun.

Wajah tampannya tertidur pulas, Hinata bisa melihat jelas freckles samar disekitar tulang pipinya. Sekilas itu tak terlalu jelas, kau akan mengetahuinya jika memandangnya lebih teliti. Hangat nafasnya menerpa wajah Hinata, jelas betul ia terbuai dalam mimpi.

Sebenarnya Sasuke mengalami gangguan tidur dalam dua tahun terakhir, waktu tidurnya hanya sekitar dua atau tiga jam sehari, selebihnya ia menghabiskan waktu di kantor Hokage hingga pagi menjelang. Tapi tidak sekarang, dengkuran halus yang terdengar samar bertanda Uchiha Sasuke sedang menikmati tidur paginya di mansion Hyuuga.

Sekarang pukul tujuh pagi, waktu yang sibuk untuk penduduk Konoha. Tentunya hanya mansion Hyuuga yang sepi tanpa kegiatan, padahal disekitarnya warga berlalu-lalang untuk memulai aktifitas. Shino dan Shikamaru berlenggang begitu saja tanpa curiga, mereka lupa atau memang tidak ingat, seharusnya gerbang Hyuuga terbuka sejak subuh hari. Well, Sasuke telah memperkirakan ini, ia sengaja menyembunyikan aura chakranya untuk meredam kecurigaan, jadi seolah semuanya nampak baik-baik saja.

Tapi berbeda dengan Tenten, ia bingung seraya melirik kiri dan kanan, tidak biasanya rumah Paman Hiashi tertutup rapat. Bahkan ketika si Paman sedang pergi pun, para bunkenya pasti selalu bangun pagi-pagi sekali. Sebagai kerabat dekat yang tahu kebiasaan keluarganya, tentu ia agak aneh dengan pemandangan ini.

Hari ini ia hendak ke onsen, Sakura dan Ino sedang menunggunya di salah satu onsen terkenal di tengah kota. Akan lebih baik jika mengajak Hinata, gadis itu butuh sedikit refreshing keluar machiya.

Ternyata pagar mansion tidak terkunci, hanya sekedar dirapatkan saja, 'aneh, lalu kenapa tidak dibuka lebar?' Batinnya.

Tenten masuk pelan-pelan, "ohayou…."

Taman utama kosong, Take yang biasanya bertugas bersih-bersih kebun hilang entah kemana.

'Apakah mereka semua sedang pergi? Atau masih tidur?' Batinnya lagi.

Sasuke terbangun, alam bawah sadarnya merasakan aura chakra seorang pengguna fuinjutsu. Spontan Hinata mengalihkan pandangannya, ia agak malu kedapatan meneliti wajah tampan dihadapannya.

"Bangun, pakai bajumu!" Kalimatnya memerintah.

Hinata bingung, ada apa gerangan? Sasuke mengenakan celana jouninnya, ia buru-buru membuka oshiire, dan menarik salah satu yukata, "pakai itu, Tenten sedang berada di taman utama."

"Tenten?" Semangat Hinata seolah bangkit kembali, "aku harus menemuinya…perbuatanmu harus dilapor," dikenakannya yukata tosca itu buru-buru.

"Lakukanlah, maka hukumanmu akan bertambah lagi, ingat…ini belum selesai, kau masih harus menanggung hukuman tiga orang lainnya, semakin kau membuat kesalahan, maka semakin bertambah juga hukumanmu."

"…."

"Sekarang temui dia, katakan padanya kau menolak ajakannya."

"…."

"Ayo bangun! Beritahu dia sebelum ia masuk ke washitsu."

Sasuke mencengkram lengan Hinata, mereka buru-buru melangkah di koridor, jangan sampai Tenten melihat para bunke di washitsu, masalah lain akan bertambah jika si cepol itu selalu ikut campur.

Mereka melewati jalan memutar di samping, Sasuke sengaja bersembunyi di balik tembok beton.

"Temui dia, jangan buat tingkah mencurigakan, jika kau melakukannya, dia akan bernasib sama dengan para pelayanmu."

Hinata hanya mengangguk, disekanya wajahnya yang berantakan serta merapikan rambutnya yang lumayan kusut, Tenten harus dibohongi demi menutupi kejahatan Uchiha bangsat ini.

"Tenten-san…," langkahnya hati-hati di atas bebatuan di tengah kolam.

"Aa—Hinata-chan," Tenten sumringah, kini rambutnya dicepol seperti biasa, tidak ada lagi uraian rambut indah itu, "kupikir rumahmu sedang kosong."

"Pa-para pelayan sedang istirahat, Ayah dan Hanabi tidak di rumah, jadi kuambil kesempatan untuk meliburkan mereka."

"Souka…," Tenten mengiyakan tanpa curiga, "oh iya, hari ini aku akan ke pergi onsen, Sakura dan Ino sedang menungguku, kuharap kau juga ikut."

"…."

"Ikut ya, Hinata," ia memelas.

"…."

"Hinata…kenapa diam saja?"

"O-onsen?"

"Iya, kami sudah membuat janji sejak kemarin, pagi-pagi begini onsen masih sepi, jadi kita bisa berendam sepuasnya."

"Go-gomennasai…a-aku tidak bisa."

"Eh, kenapa? Itu baik untukmu."

"Untuk hari ini aku ingin istirahat, para pelayan sedang libur, rumah akan kosong."

Tenten nampak berpikir sejenak, raut wajahnya agak kesal, "baiklah…aku akan pergi sendiri saja."

"Ma-maaf, kuharap Tenten-san tidak marah."

"Hahahah tenanglah, aku baik-baik saja, yosh! Istirahatlah Hinata, kurasa kau lebih membutuhkan itu daripada berendam," langkahnya mundur ke belakang seraya melambaikan tangannya, "tutup gerbangmu, okay,"lalu tubuhnya menghilang dibalik gerbang warna hitam.

"Apa yang kau lakukan pada Tenten?" didorongnya tubuh Sasuke, "kenapa dia hendak pergi ke onsen? Kenapa ia mengulang kejadian kemarin? Apa yang kau lakukan pada otaknya?"

"Otaknya butuh sedikit permainan, dia terlalu banyak ikut campur urusan kita."

"Kau jahat! Kau keji! Tenten adalah senpai mu! Kenapa kau tega menyakitinya!" Jemarinya tak karuan memukul pria itu, "aku telah menuruti semua perintahmu! Tapi kenapa kau malah menyakiti kerabatku! Kau jahat! Kau perwujudan setan! Aku benci padamu!"

"Menuruti semua perintahku?" ia berdecih, "kau bahkan hanya menyelesaikan sebagian hukuman kecil saja."

"Kembalikan Tenten seperti semula!"

"Puaskan aku dulu…setelah itu aku janji akan mengembalikannya seperti normal."

"Kenapa Tuhan menciptakan manusia seperti dirimu?"

"Jangan banyak bicara, simpan tenagamu untuk hukuman selanjutnya, kita masih harus bercinta pagi ini, aku tak sabar ingin menjamahmu," senyumnya memamerkan deretan gigi putih bersih, "kemarahanmu merespon birahiku."


Prince of Sharingan, 26 April 2017

*Saya telah berusaha sebaik mungkin untuk chapter 9, saya harap ini tidak mengecewakan reader (T.T)/

*Saya tetap mengharapkan bantuan dari reader untuk mencari typo...