"Ah, Eh... Baiklah... Iya, Bu. Aku tahu." Mikasa pun masih berbicara dengan ibunya dengan nada yang serius. "Aku tutup ya, Bu. Selamat malam Bu."
Mikasa menurunkan ponselnya. Ditaruhnya di dalam kantong jaket yang ia pakai. Mengapa harus sekarang...
Mikasa hanya menatap pagar besi rumahnya. Ya, menatapnya. Tidak ada keinginan untuk memasukinya. Terlalu malas untuk melakukannya.
Krieet...
Ia pun terduduk lemas di dalam ruang tamu. Menatap kosong meja yang memantul bayangan wajahnya. Dirinya kembali merasa tidak hidup. Berita yang buruk baginya.
"Kejam..." ia pun menutupi wajahnya dengan kakinya.
Dilihatnya sebuah kalender kecil miliknya yang berada di sudut meja belajarnya. Ia pun mencoret beberapa tanggal. Dilihatnya tanggal 25 Desember, ya, hari natal. Sebelum perpisahan pun Mikasa memutuskan untuk membuat sarung tangan untuk Eren sebagai hadiah natal.
Mikasa pun kembali rebahan setelah menandai kalendernya. Tidak lama lagi ia akan pindah. Kepindahannya pun dipercepat. Entah apa yang membuat orang tuanya berpikir untuk pindah dari kota yang menurutnya cukup nyaman untuk ditinggali. Pergi berarti cintanya juga...
Ia menepuk pipinya dengan keras. Meski keras ia tidak merasakan sakit. "Aku tidak boleh berpikir negatif." Mikasa pun berusaha menyemangati dirinya sendiri. Ia beranjak dari tempat tidurnya dan menuju ke meja belajarnya.
Dinyalakan laptop hitam miliknya dan ia berselancar di dunia maya. Entah apa yang dicarinya. Ekspresinya pun sangat serius. Yap, sangat serius akibat layar laptopnya tiba tiba blue screen.
"Sial." Ia pun mengangkat tinggi laptopnya dan ia letakkan kembali ke tempatnya. Sabar...
Mikasa mematikan laptopnya dengan paksaan dan ia mulai rebahan lagi di kasur kesayangannya. Ia pun tidak tahu harus melakukan apa. Orang tuanya pun juga tiba-tiba pergi keluar kota.
Terbesit dalam pikirannya tentang Eren. Ia pun tersenyum sendiri mengingat semua kejadian tersebut. Dan akhirnya sebelum hari itu tiba ia pun ingin membuat sebuah kenangan untuk Eren.
"Kurasa sarung tangan bagus juga." gumamnya.
"Kulihat akhir-akhir ini kau sering merajut." Celetuk Sasha dihadapan Mikasa. Mikasa hanya mengangguk, tanpa memperhatikan Sasha sedikitpun.
Sial, tidak dihiraukan... Dasar dingin...
"Merajut?" Christa pun mulai berusaha ikut ke dalam perbincangan mereka. Yah bukan perbincangan sih sebenarnya. "Ah, untuk kekasihmu?"
Wuossshh... wajah Mikasa memanas mendengarnya. "Uh... Yah, bisa dibilang seperti itu." sahutnya dengan wajah memerah menghiasi wajahnya.
"Caramu salah."
Mikasa menoleh kearah gadis berambut pirang yang sempat melintas di dekat mejanya. Ia hanya menatap sekilas dan pergi menjauh begitu saja.
"Ugh, Annie selalu begitu..." bisik Sasha yang masih memerhatikan gerak-gerik Annie yang kini sudah duduk di tempatnya. Mikasa tidak terlalu peduli dengan tingkah acuh-tak-acuhnya Annie. Lagipula terkadang Mikasa bisa bertindak demikian.
"Erm... Kurasa Annie ada benarnya." Christa mengamati rajutan yang masih setengah jadi. "Rajutanmu lepas."
Dengan sigap, Mikasa mengamati rajutannya. Memang benar rajutannya terlihat mau lepas. Ucapan Annie memang benar. Mikasa menatap sedih rajutannya. Merajut adalah hal yang jarang ia lakukan sehingga ia lupa cara merajut yang benar.
Bukk
Tatapannya beralih pada sebuah buku rajutan yang kini ada dihadapannya. Ia menatap heran siapa yang meletakkan buku itu dimejanya. Christa menunjuk ke arah Annie yang sudah berada di luar kelas. Mikasa tersenyum tipis melihat punggung Annie.
Ia membuka buku itu secara acak dan ditemukannya sebuah catatan kertas yang ada di dalam buku rajutan itu.
'Kalau sudah kembalikan. Jangan pikir buku ini termasuk rongsokan.'
Siapa sangka, gadis yang terlihat ganas bisa sebaik malaikat.
Mikasa menatap kotak kecil berwarna merah tua dengan sebuah pita yang membelitnya. Perasaan puas terbesit dalam benaknya. Meski natal masih beberapa hari lagi, ia ingin memberikan hadiah itu sebelum natal tiba. Semoga ia menyadari perasaanku.
Langkahnya terhenti melihat minimarket yang ada disebelahnya. Sebelum ia ke rumah Eren, lebih baik membeli beberapa makanan ringan untuk dinikmati bersama. Di beberapa sudut ia menemukan beberapa makanan favorit Eren.
Setelah berbelanja, ia melangkah keluar dengan dua kantong plastik ditangannya. Mikasa tidak menyangka bahwa ia akan menghabiskan beberapa uang sakunya untuk membeli camilan yang ditambah dengan beberapa kebutuhannya.
Langkahnya terhenti setelah melihat seseorang yang mirip dengan Eren melangkah dari arah yang berlawanan. Oh, itu memang Eren.
Sebuah senyuman terlihat dari wajah Mikasa. Ia ingin menghampirinya. Namun langkahnya terhenti lagi setelah ia melihat Annie menghampiri Eren. Mikasa marah melihatnya. Cemburu? Tentu saja.
Diam-diam ia mengikuti mereka berdua dan sampailah di sebuah gang sempit yang jarang dilalui oleh orang. Dengan sigap, Mikasa bersembunyi di tempat yang sekiranya ia bisa mendengar percakapan mereka berdua dan tanpa diketahui keberadaannya.
"Kurasa kita bisa bicara di tempat yang sewajarnya." Eren memulai pembicaraan diantara mereka berdua. Wajah Annie masih saja datar seperti biasanya.
"Ini tempat yang wajar."
Rasanya Mikasa ingin melempar tong sampah yang tak jauh darinya kearah wajah Annie. Wajar darimananya... Dasar orang aneh.
Annie mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam tasnya. Mikasa semakin panik setelah melihatnya. Lebih panik lagi ketika ia melihat wajah Annie terlihat sangat... malu?
"Em... Jadi... Sudah lama aku ingin mengatakan ini."
Tidak... tidak... tidak! Jangan katakan! Jangan dengarkan dia, Eren! Dia penghasut! Dia iblis berwajah malaikat!
Untungnya, Eren tidak mengerti situasi macam apa yang sedang dihadapinya. "Katakanlah. Aku menunggu."
Annie memalingkan wajahnya. Ini pertama kalinya ia melihat sisi temannya-bukan, rivalnya seperti ini. "Sudah lama aku menginginkan ini... Tapi aku baru..."
Klang
Mikasa menatap horor kaleng sarden yang tak jauh darinya. Ia tak sengaja menyenggolnya. Terkutuk kau, Tuan Kaleng Sarden!
Hal yang tidak diharapkan Miaksa pun terjadi. Perhatian mereka berdua mengarah ke tempat persembunyiannya. Keringat dingin pun mengucur deras di pelipis Mikasa. "Aku akan mengeceknya."
Gadis berambut hitam itu segera lari dari persembunyiannya. Ia tidak perlu mendengar semua perdebatan kecil diantara kedua orang itu akibat bunyi kaleng sarden yang disenggolnya. Lebih baik ia keluar dari sana daripada tertangkap menguping pembicaraan.
Keberuntungan berpihak pada Mikasa. Ia cukup mengenal daerah itu sehingga ia bisa lolos dengan mudah. Namun tak lama ia menyesali keputusannya. Ia tidak tahu apa yang sedang mereka bahas tapi dari gerak-gerik Annie terlihat jelas bahwa...
...Gadis itu ingin mengutarakan perasaan sukanya pada Eren.
-TBC-
A/N:
Ano ne, saya selaku author When the First Love Ends meminta maaf karena baru meng-update fanfic ini *sujud lalu dikeroyok*. Lagi-lagi saya mengalami WB dan merasa bingung dengan jalan cerita fanfic ini. Atleast saya memutuskan untuk update~ Etto, see ya next chapter~ kalau minna-sama ada ide boleh mampir ke bagian review ya~
.
Balasan review minna-sama ada dibawah ini ya ehew
Ana cii Bunny : Arigatou sudah meninggalkan jejak di review~ Ohoho no problemo, Bunny-chan baca aja saya udah seneng *tersipu malu*
Marry : Aduh penasaran ya~ Stay tune ya, biar tahu gimana kisah mereka berdua *senyum-senyum*
Minami Naro : Gomen bila saya bikin fanficnya pendek-pendek, padahal kalau nulis kayak udah panjang banget ehe /alesan lu/
Akiko Han : *terelap keringetnya* /? aduh maaf baru update ehe semoga Akiko menikmatinya~
