Ekspresi datar terlihat di wajah Mikasa. Meski demikian, dalam hatinya sangat campur aduk. Tatapannya masih mengarah pada halaman rumah Eren. Ia duduk di depan pintu rumahnya, tidak mengetuknya karena mengetahui bahwa Eren masih belum pulang. Ya, ia bersama dengan si perempuan yang menggoda Eren. Sungguh Eren yang malang.
Tidak menghiraukan betapa dinginnya pada saat itu, Mikasa masih menunggu Eren untuk pulang. Rasanya ia ingin menghajar Annie dan membuang jasadnya ke burung pemakan bangkai.
"Mikasa?"
Ia tersadar dari lamunannya. Segera ia berdiri dan menatap Eren dengan tajam. "Apa yang telah kaulakukan?"
Eren tersenyum kikuk, tidak mengerti ucapan Mikasa sedikitpun. "Apa? Aku kan dari kegiatan ekskul seperti biasa. Ayo masuk. Maaf membuatmu menunggu lama."
Sembari menunggu Eren membukakan pintu rumahnya, Mikasa menatap lekat gerak-gerik Eren dan tidak ingin melepas pandangannya. Mereka berdua masuk kedalam rumah dan melepas sepatu mereka masing-masing. Eren melangkah masuk duluan dan disusul oleh Mikasa.
Seperti biasa, Mikasa membuat masakan untuk makan mereka berdua. Berhubung mood Mikasa sedang buruk, tanpa sadar cara memasaknya pun jadi lebih mengerikan.
"Erm, Mikasa?" Eren melihat Mikasa dari kejauhan, dengan wajah yang takut. Mikasa hanya berdeham dan masih asyik dengan memotong daging yang ada dihadapannya.
"Kau baik-baik saja kan?"
Mikasa menghentikan aktivitasnya, "Oh, tentu saja!" Sejenak ia melupakan kejadian yang tak mengenakkan baginya. Kapan lagi ia melihat Eren mengkhawatirkan dirinya.
Eren masih menatap Mikasa dari kejauhan. "Tapi... Kau terlihat tidak baik..."
"Terima kasih telah mengkhawatirkanku tapi aku baik-baik saja." Mikasa tersipu malu mendengarnya. Ia sangat menikmati momen Eren yang memerhatikannya. Selangkah lebih dekat dengannya.
Emosi Mikasa kembali stabil. Sejenak ia teringat hari natal. "Eren, hari natal nanti apa kau bisa datang ke stasiun?"
Mikasa masih menatap Eren yang kini melangkah menuju sofa dan duduk diatasnya. Dari wajahnya ia terlihat seperti memikirkan jadwalnya. Ia menoleh kearah Mikasa.
"Entahlah. Semoga saja aku tak sibuk. Pukul berapa? Lagipula hari natal di stasiun? Mikasa, kau mau apa?"
Dibanjiri beragam pertanyaan dari mulut Eren membuat Mikasa sendiri merasa semakin sedih. Ia tak bisa mengatakannya langsung pada Eren bahwa ia akan pindah dari kota itu. Hanya saja ia ingin mengatakan perpisahannya di stasiun dan mengutarakan perasaannya.
"Kira-kira malam hari hmm... pukul... entahlah. Nanti aku beritahu. Kalau mau tahu datang saja." Balasnya dengan sebuah senyum misterius dan kembali memasak.
"Akan kuusahakan."
Setelah Mikasa selesai dengan tugas sukarelanya untuk mengurus dan mengawasi Eren, ia selalu pergi ke sebuah taman kecil di salah satu sudut kota. Taman tersebut cukup membuat Mikasa terkesan, meski kebanyakan orang tidak terlalu memperhatikan tiap detail yang ada. Salah satu spot favoritnya adalah pohon besar yang kini masih meranggas karena musim dingin masih menerpa kota tersebut.
Pohon itu merupakan saksi bisu kejadian setahun yang lalu dan tak bisa dilupakan Mikasa. Mikasa menyentuh pohon itu dan memejamkan matanya, menikmati angin malam yang berada di sekelilingnya.
"Kalau musim semi, pohon ini yang paling indah."
Mikasa tersenyum mengingat kejadian waktu itu. Teringat akan wajah Eren yang menggebu-gebu menceritakan segala hal padanya. Pertemuan awal mereka membuatnya terkesan pada segala tentang Eren.
Mikasa menggosok pipinya yang mulai terasa dingin. Ia selalu lupa waktu bila sudah sibuk dengan pikirannya. Jarum jam menunjukkan arah angka 9. Terlalu larut bagi seorang gadis untuk berada di luar rumah. Ia terus saja mengingat nasihat ibunya itu, meski sudah cukup lama sekali. Dengan sigap diraihnya sebuah kantong plastik yang tak jauh keberadaannya. Tak sengaja ia menabrak seseorang.
"Maaf."
"Ah, tidak. Aku yang harus minta maaf."
Tatapan Mikasa beralih menuju seseorang yang ia tabrak. Seorang lelaki. "Oh, eh. Tidak. Aku yang salah."
Mikasa mengambil langkah ke kiri dan orang itu malah mengikuti gerakannya. Mereka berdua saling menghalangi jalan masing-masing.
"Err, kau ke kanan dan aku ke kanan."
Mikasa mengangguk dan mengikuti instruksi orang tersebut.
Apa-apaan orang aneh itu. Dasar muka kuda.
Kedua iris mata Mikasa tidak pernah lepas dari Annie. Diam-diam ia selalu mengawasi gerak-gerik gadis dingin tersebut. Semua yang dilakukannya hanya untuk Eren. Ia khawatir Eren akan jatuh hati pada gadis mengerikan itu.
"Oh ho, Mikasa!" tiba-tiba Sasha menghalangi pandangan Mikasa.
"Hm?" Mikasa hanya menatap malas temannya yang satu ini. Ia tidak mengerti bagaimana ia malah masuk sekolah khusus wanita, bukannya campuran. Bisa jadi ia memilih untuk bersekolah bersama Eren. Oh, betapa indahnya bila dirinya bisa menghabiskan waktunya bersama lelaki polos itu. Tidak dengan temannya yang hanya memikirkan jam makan siang.
"Akhir-akhir ini kau sering melamun. Ada apa? Oh! Mungkinkah?" kini raut wajah Sasha terlihat aneh dengan seringai bodohnya itu.
"Kau jangan berpikir yang tidak-tidak."
Annie menghampiri Mikasa dengan perdebatan kecilnya bersama Sasha. Mereka saling melempar tatapan, tanpa pembicaraan. Sasha hanya bisa melihat mereka berdua dengan bingung.
"Situasi macam apa ini?" gumam Sasha.
Annie pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun. Sasha berbisik pada Mikasa, "Itu tadi apa?"
Mikasa terdiam menatap lekat Annie, tidak menggubris pertanyaan Sasha. Saat itu Mikasa hanya bisa percaya pada firasatnya.
"Lima hari lagi."
Eren mengalihkan pandangannya ke arah Mikasa. Sejak sejam yang lalu Mikasa terus bergumam tentang hal yang sama.
"Memang ada yang aneh."
Wajah Mikasa memanas melihat Eren muncul dihadapannya. Siapa yang tidak akan terkejut kalau orang yang disukainya tiba-tiba muncul entah darimana.
"Ah! Ka-kau bicara apa?"
"Kau selalu bilang 'lima hari lagi' sejak sejam yang lalu, Mikasa. Hmm, kalau dipikir-pikir lagi lima hari yang kau ucapkan itu... natal?"
Mikasa merasa bodoh telah bertindak aneh hingga Eren curiga. Tidak tahu harus membalas apa. Akhir-akhir ini pikirannya kacau setelah ia menguping pembicaraan Eren dan Annie.
"Oh ya, tentang masakan itu. Kurasa aku tidak akan membuatkanmu angsa panggang untuk natal nanti." Alis Eren terangkat sebelah, tidak mengerti dengan ucapan Mikasa. Mikasa menepuk kedua tangannya. Ia melangkah menuju meja yang tak jauh darinya dan meraih sebuah buku tipis bersampul polos. Dari ukurannya saja seperti sebuah majalah. "Omong-omong, aku menemukan ini di bawah sofa."
Kedua mata iris Eren terbuka lebar, "Oh tidak... Sungguh itu milik... Reiner! Ya, Reiner! Waktu itu dia berkunjung ke rumah bersama teman-teman!"
Mikasa melipat lengan bajunya, siap untuk menjitak Eren. Ia kecewa setelah mengetahui bahwa Eren tidak polos lagi. Dirinya telah ternodai oleh hal yang tak senonoh. Rasanya Mikasa ingin memukul seseorang yang telah membuat Eren terjerumus ke lubang dosa. "Kau berbohong, Eren. Telingamu memerah."
Drrt Drrt
Secepat kilat Eren mengambil ponsel yang ada di saku celananya. Tangan kirinya berusaha menghentikan Mikasa yang mulai menghampirinya. "Sebentar, Mikasa." Eren membaca isi pesan yang entah dari siapa. Eren meraih jaket tebalnya dan membuka pintu. "Aku ada urusan sebentar."
"Aku ikut." Mikasa mengenakan jaketnya. Tak lupa syal merah pemberian Eren dulu. "Pekerjaanku sudah selesai."
"Eh? Ah, tapi kurasa kau tidak perlu ikut." Eren berusaha mencari alasan karena ia ingin pergi sendiri, namun gagal. Mikasa telah memegang tangannya. "Ka-kau tak perlu sampai memegang tanganku seperti itu."
Mikasa menatap wajah Eren. "Kau sering hilang."
"Aku bukan anak kecil."
Mikasa masih menggenggam erat tangan Eren dan itu membuat Eren merasa malu. Ia merasa beberapa orang menatap mereka berdua. Diam-diam mata Eren memandang kesana kemari. "Mikasa, kurasa aku ingin ke toilet sebentar."
Memang benar, di hadapan mereka kini ada toilet umum. "Baiklah." Mikasa masih menggenggam erat tangan Eren.
"Masa kau ikut ke toilet cowok?!"
Dengan berat hari Mikasa melepas genggamannya, "Akan kutunggu."
Sudah setengah jam Mikasa berdiri di depan toilet umum. Terbesit perasaan tidak enak dalam benaknya. Segera ia memasuki toilet cowok.
Para pengguna toilet di sana terkejut melihat seorang perempuan masuk ke dalam sana. Tidak menggubris para lelaki disana, Mikasa mengecek satu persatu toilet. Tidak menemukan Eren, iapun bertanya pada seseorang. "Apakah Anda melihat anak laki-laki yang tingginya sekitar 170 cm dan rambutnya berwarna coklat? Matanya berwarna hijau."
Orang itupun hanya menggeleng, "Kalau ciri-ciri itu aku tidak melihatnya. Tapi, nona, bisakah anda keluar dari toilet ini?"
Mikasa tidak menggubris permintaan orang itu dan masih mengecek kemungkinan bagaimana Eren bisa menghilang.
Tatapannya menuju sebuah jendela yang sedikit terbuka di sudut ruangan. Mikasa mengecek luar jendela itu.
Eren melarikan diri!
-TBC-
.
.
.
.
Ini gak penting
.
.
.
Lah, di scroll mulu
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Cie, zonk. Udah ah, ini cuma balasan review saja. Nggak ada author note ;)
.
.
Hitomi komagata : AAAA~ /hush/ Tenang, ficnya akan kutuntaskan ceritanya. Eh? menunggu sejak kapan? Gomen ne xD Arigatou sudah men-support author selama ini *bow*
