"Bagaimana Reaksimu jika tokoh favoritemu memiliki kelainan jiwa atau disebut PSYCHOPATH..?"
Psyche and Pathos
.
.
Disclaimer : Kuroko no Basuke Fujimaki Tadoshi
Genre : Crime, Thiller, Romance and Hurt
History : Hitomi Matsu
Chapter 2 : The Shadow Dust (Kuroko Tetsuya x OC)
Author P.O.V
"tugas harus di kumpulkan besok. Mengerti?" ujar sang ibu dosen dengan muka yang garang. Para siswa yang memang terlalu malas mengikuti kelas bak neraka ini, menjawabnya dengan lesu.
"baik~" twitch! Sang dosen memberikan deathglare kepada mereka semua.
"apa kalian benar – benar mengerti!?" tanya sekali lagi sang dosen itu. brak! Semua siswa langsung tegap dari meja dengan cepat.
"baik!" balas mereka keras. Tatapan dosen yang satu ini memang mengerikan, bahkan bisa menumbuhkan tanaman toge menjadi sebesar pohon beringin. Kadang sang dosen juga heran dengan kekuatannya sendiri.
"entah kenapa kalian begitu malas dalam kelasku. baiklah, kelas hari ini sudah selesai. Sampai jumpa minggu depan." Balas sang dosen. Kalimat itu membuat semua siswa yang ada disana bernafas lega.
"terimakasih banyak." Balasnya. Saat kepergian dosen itu di nanti, ia malah berhenti di depan pintu keluar. Semua siswa malah tegang.
"oh iya, apa kalian melihat mahasiwi haruka – san? dia sudah melewati 2 kelasku." Tanya sang dosen sambil menatap para mahasiswa. Mahasiswapun juga bertanya – tanya, 'kemana si kutu buku cantik itu?' itulah yang ada di otak mereka. Salah satu anak mengangkat tangan.
"mungkin dia sudah lelah dengan ibu...haha – !.." candanya, tetapi bukan auranya mencair, malah menjadi membeku saat dosen mengeluarkan aura hitam mencekam.
"APA KATAMU!?"
"Ah saya mi...minta maaf!" sang mahasiswa malang itu akhirnya mengekori sang dosen dan bersiap dengan hukuman tugas yang akan menyibukkannya. Sebagian siswa tertawa dan sebagian juga heran kemana perginya haruka, kecuali sang mahasiswa babyblue yang pendiam dan pintar, kuroko tetsuya.
"tapi benar juga sih..akhir – akhir aku tak melihat wajahnya." Ujar salah satu mahasiswi. Kuroko memasukkan bukunya dan pergi keluar dari kelas yang ribut.
"kemana dia? Nee kuroko – kun, apa kau tahu sesuatu – ...huwaa!" salah satu mahasiswi terkejut karena teman sebangkunya tadi sudah menghilang. Mereka bersweatdrop.
"dia sudah menghilang.."
"dia benar – benar hebat..."
Apa kuroko tahu sesuatu? Tentu saja dia tahu sesuatu. Setelah ia mengerjakan rutinitasnya seperti ke perpustakaan, magang di perusahaan lalu sesudah pulang membeli chese burger dan nori bento satu porsi, ah tak lupa dengan milkshake yang ia sukai.
Setiba di rumah Kuroko langsung ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari debu – debu dunia. Harum vanilla sudah menempel di tubuh sang babyblue, iapun memberi makan pada nigou yang kini sudah besar. Nigou menjilati kuroko karena senang majikannya sudah pulang. Sebagai balasan, kuroko mengelus – ngelus anjing yang sudah menemaninya selama 7 tahun.
"yosh..yosh.. apa kau menjaganya dengan baik? Baiklah cepat makan ini makanan kesukaanmu." Ucap kuroko. Nigou langsung memakan makanan anjing itu dengan lahap, ekornya bergerak ke kanan dan ke kiri. Kuroko bangkit dan mulai memakan burger chese dan nori bento yang ia beli tadi sembari menonton pertandingan basket yang ia sukai. Kadang ia menelpon dengan partner basketnya, aomine daiki.
Kuroko meregangkan tubuhnya, menyegarkan tubuhnya yang kaku karena terlalu lama menonton tv. Iapun melihat jam, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Kuroko bangkit dan mengelus nigou yang sedang tertidur pulas. Ia keluar dari rumah menuju ke gudang miliknya. Terdapat wanita yang hanya memakai pakaian dalam saja bersimpuh di hadapannya, terikat dan tubuhnya sudah memar dan memerah, tak diberikan minum selama 5 hari. Siapa dia? Tentu saja Haruka Ritsu yang menghilang 2 minggu. Sudah 2 minggu ia terkurung disana. Siapa yang mengurungnya? Tentu saja orang yang sedang menatapinya saat ini.
"hah...hah...hah...ku..kuroko – kun..." lirihnya. Kuroko mendekati haruka. menarik dagunya.
"air...aku ingin...a..air...tenggorok...kannku..." pintanya dengan suara serak dan gemetar, kuroko menatap haruka datar.
"haru – san...apa kau haus?" tanya kuroko. Si gadis mengangguk lemah. Kuroko tersenyum tipis, sangat tipis sampai takkan ada yang tau jika ia sedang tersenyum.
"benarkah...kalau begitu minumlah dari sini... tapi kau harus berusaha, karena air dari sini tak bisa keluar sendiri." Jelas kuroko sambil menurunkan celananya dan menunjukkan penisnya yang sudah menegang namun belum membesar. Menyodorkan penisnya kearah mulut haruka. haruka menoleh ke kiri, tak mau menghisap itu.
"a..air...aku ingin air...hmph! humph!" kuroko menarik rambut haruka dengan keras dan memaksa haruka menghisapnya.
"nanti juga akan keluar air..." kuroko menggoyangkan pinggulnya dengan pelan namun perlahan menjadi cepat.
"humph! Hmph! Un! Ahn!.. kuro – hmmph!" kadang di lepaskan namun dimasukkan kembali. Kuroko memejamkan mata untuk menambahkan sensasi ransangannya, sedangkan haruka hanya pasrah di perlakukan seperti itu. kuroko semakin cepat menggoyangkan tubuhnya dengan cepat, remasannya terhadap rambut haruka juga semakin erat.
"argh! Hah...hah..hah.." splurt! Kuroko klimaks di mulut haruka. Haruka mau tak mau menelan peju itu. selang beberapa menit kuroko baru melepaskan mulut haruka yang di bungkam olehnya. Haruka mengambil nafas sebanyak – banyaknya.
"ke..kenapa?..." tanya haruka despresi. Kuroko mengeryitkan alis.
"hah?" tanya kuroko sambil mengeryitkan alis.
"ke..kenapa kuroko – kun melakukan ini..? kenapa kau melakukan..sejahat ini?" tanya haruka, menunduk, sambil mengingat kenangan 2 minggu yang lalu, kenangan yang begitu buruk dan mengerikan hingga semua ini terjadi.
Flashback 2 minggu yang lalu..
DUAGHH! BUGGH! Suara pukulan berulang – ulang terdengar dari dalam gudang kecil nan gelap itu.
"To...tolong ampuni aku! Aku akan memberikan -...argh!" tanpa mendegar tawarannya, ia langsung memukuli prang tersebut. suara lirihan juga terdengar jelas dari sana. Tapi tenang saja, gudang itu kedap suara. Sebesar apapun suara yang di keluarkan takkan terdengar kecuali jika kau membuka pintunya.
"a..aku punya anak dan... akh!" duagh! Pukulan terdengar lagi. kuroko mengambil nafas dengan tenang. Mengambil oksigennya kembali karena terlalu asik untuk memukuli 2 orang di depannya. setelah selesai mengisi tenaga, kuroko memulainya lagi. memukuli orang di tengah kegelapan.
Dilain tempat. Seorang wanita yang kepalanya sudah mengeluarkan darah karena pukulan sebelumnya, membuka mata dengan perlahan. Ia menatap sekelilingnya, terlalu gelap karena lampu yang ada di atasnya hanya bisa meneranginya. Ia mencoba menggerakkn tangannya, namun tak bisa karena ia terikat.
"ngh.. apa ini? kenapa aku diikat?" tanyanya. Kepalanya masih terasa sakit dan pusing. Iapun mengitari andangannya lagi tapi hal itu percuma. Disini terlalu gelap.
"argghhh! Tolong...tolong!" hatinya terkejut saat mendengar suara lirihan yang mengerikan itu. ia kenal dengan suara itu.
"suara apa itu? kenapa begitu gelap disini..." ucap haruka. Suara lirihan itu tak berhenti membuat haruka menjadi takut.
"kalau begitu..." suara itu ia kenal.
"suara ini, kuroko – kun?" panggil haruka. Bayangan seorang pria muncul dari kegelapan bersama 2 orang yang sedang meringkuk gemetar menuju kearahnya.
"minta maaf lah pada haru – san." 2 orang yang lehernya di kalungkan tali tambang yang sudah di lumuri darah muncul begitu saja. Tentu saja, kedua wajah orang itu sudah babak belur dan berlumur darah juga, mereka juga tak mengenakan pakaian sehelaipun. Haruka membulatkan mata.
"kyaaa!" haruka begitu ketakutan dan langsung menatap horor pemandangan itu.
"ritsu! Ritsu! Aku minta maaf! Aku salah! Tolong beritahu dia untuk berhenti!" ucap mitsuoda yang sudah begitu mengerikan sambil menghampiri haruka.
"ha..hah?!" tanya haruka. Siapa yang mereka takutkan? Siapa orang yang melakukan hal yang mengerikan seperti ini?
"ma...maafkan aku! Tolong! Aku punya istri dan 3 anak yang masih bersekolah! Aku benar – benar minta maaf!" kini satu orang lagi yang menghampirinya dengan wajah yang begitu ketakutan.
"siapa maksud kalian?" tanya haruka. Haruka menggerakkan kedua tangannya untuk melonggarkan ikatannya. Suara langkah kaki semakin mendekat menuju kearahnya. Akhirnya wajah sang pelaku yang melakukan hal kejam seperti ini muncul dari kegelapan.
"bagaimana haru – san?" tanya kuroko datar. Wajahnya ada cipratan darah. Haruka membulatkan matanya lagi. orang yang ia kagumi melakukan hal seperti ini?
"kuroko – kun?" tanya haruka. Kini mitsuoda sembah sujud pada haruka, termasuk rekan mitsuoda yang juga memohon ampun padanya.
"ritsu maafkan aku! Maafkan aku!"
"aku yang salah.. aku yang salah..maaf" lirih mitsuoda yang begitu memilukan dan begitu despresi. Haruka tak percaya jika kuroko melakukan hal semacam ini.
"kuroko – kun..apa kau yang melakukan ini semua?" tanya haruka memastikan. Kuroko menghampiri haruka dengan sebuah tali tambang yang tersambung dengan 2 orang itu, dan jangan lupa sebuah golok besar yang terlihat begitu tajam.
"iya." Balas kuroko singkat. Bibir haruka bergemetar hebat. Kini dia begitu ketakutan. Dia baru sadar, selama ini ia mengagumi orang yang begitu berbahaya. Kuroko yang melihat ketakutan haruka menatapnya dengan tajam.
"kenapa? Kenapa kau begitu ketakutan? Dan juga kenapa kau menanyakan hal seperti itu?" tanya kuroko sambil mengelus pipi sampai ke dagu dengan lembut, memaksa haruka untuk melihat wajahnya seorang.
"eh?" haruka mengeluarkan setitik air mata nya. Kuroko tersenyum lembut.
"haru – san...tentu saja. Ini demi dirimu." Ucap kuroko. Haruka tak berhenti terkejut.
"a..apa?" tanya haruka reflek. Kuroko mengeryitkan alisnya.
"mereka hampir memperkosamu, sebenarnya aku langsung ingin membunuhnya tetapi entah kenapa aku merasa harus menunggu jawaban darimu." Balas kuroko datar. Haruka bergemetar hebat.
"ku...kuroko – kun"
"nah..haru – san...sekarang jawabanmu." Bisik kuroko sambil memeluk haruka dari belakang. Haruka menatap kedua orang yang hampir memperkosanya itu. mereka begitu menyedihkan dan menjijikkan, Terutama mitsuoda.
Kenapa dia begitu tega mengkhianati cinta tulus haruka? Mereka selalu mengatakan 'aku mencintaimu' tapi kenapa dia melakukan hal setega itu?
"ritsu..aku minta maaf...aku minta maaf..kumohon ampuni aku.."
"maafkan aku..." dia ingin memberi mereka berdua pelajaran, tetapi dari lubuk hatinya yang terdalam entah kenapa memaafkan mereka. Kenapa? Tentu saja haruka tak mengtahui hal itu juga.
"haru – san...jawabanmu?" bisik kuroko sambil menatap mata haruka. Bisa kuroko tebak jika haruka akan memaafkan mereka. Kuroko mempunyai rencana.
"a..aku - ..."
"oh iya aku lupa. Kuingatkan... jawabanmu itu akan menentukan masa depan kalian bertiga.." jelas kuroko. Haruka menatap horor kuroko. Wajah kuroko begitu dekat.
"be..bertiga?" tanya haruka.
"kau juga termasuk haru – san.." ucap kuroko sambil mencubit pipi haruka dengan lembut.
"sekarang pilihlah..pilihlah dari hatimu yang terdalam, sampai aku menemukan kebohongan kecil darimu, aku akan sangat kecewa dan kau pasti tahu bagaimana akhirnya nanti..." jelas kuroko.
Haruka semakin tidak bisa membuat pilihan. Ia yakin jika kuroko menginginkan hal yang berbeda dari pikirannya. Tetapi jika ia tak jujur itu sama saja mengantarnya ke jalan menuju kematian. Ia harus jujur, inti yang ia dapat adalah harus jujur. Haruka meneguk salivanya.
"aku...akan memaafkan kalian." Jawab haruka. Terdapat senyuman yang begitu membahagiakan dari dua orang itu.
"terimakasih! Terima kasih!" balas mereka.
"tapi ada satu syarat. Ka..kalian tak boleh memberitahukan hal ini kepada siapapun...me..mengerti? termasuk yang di lakukan kuroko pada kita bertiga..." tambah haruka, mereka berdua mengangguk senang dan semangat. Kini mereka bertiga menatap kuroko.
"ku..kuroko – kun...bagaimana -...ugh!" duagh! Kuroko meninju wajah haruka dengan kuat. Dengan kesal, kuroko menarik salah satu tambang yang terikat dengan mitsuoda.
"HUWAAA!" kuroko menariknya dan diikat di pilar pilar yang sudah ia siapkan.
"JANGAN DEKAT! JANGAN DEKAT – DEKAT AKU! EEK!" mitsuoda sudah tercekik karena ikatan talinya di kencangkan oleh kuroko.
"ARGHKK! EHK!" mitsuoda meronta – ronta kesakitan. Kakinya menendang – nendang liar mengammbarkan kesakitannya.
"karen – san!" haruka memanggil nama mitsuoda. Hal itu membuat keadaan semakin buruk.
"bahkan kau masih bisa memanggil namanya." Ucap kuroko yang sudah gelap mata. Kuroko mengangkat goloknya dan bersiap mengarahkan ke leher mitsuoda. Mereka bertiga menatap horor hal itu.
"KAREN – SAN!" syung! Zret! Tenggorokan mitsuoda tergorok dengan kasar. Darahnya keluar dengan kencang sampai membuat pancuran singkat dan mengotori wajah dan baju kuroko. Sudah diputuskan, mitsuoda tewas dan takkan kembali ke dunia ini. melihat pemandangan itu, salah satu temannya langsung berlari namun tercekik saat kuroko menarik talinya.
"hu..huwaaaaa! menjauhlah! Menjauh! Hyaak!" zrat! Tenggorokannya juga berhasil di sayat, orang ini mati dengan keadaan berdiri dan kejang – kejang lalu terjatuh. haruka membatu. Kedua orang yang ia kenal, sudah tiada. Mitsuoda yang dulu mencintainya dan kuroko yang ia anggap takkan bisa membunuh orang sekalipun lalat.
"ka..karen – san?" panggil haruka kembali, memastikan jika ini hanya mimpi tapi sayang ini bukan mimpi. Set!
"ugh!" kuroko dengan cepat meraih rambut. Mendekatkan bibirnya ke telinga haruka.
"padahal sudah kuberi kesempatan, tapi malah kau sia – siakan.." ucap kuroko. Haruka menatap kuroko marah.
"bu...bukankah ka..kau menyuruh..ku untuk jujur!? Ke...kenapa – kyaaa!" kuroko menarik rambut haruka dengan kuat dan memaksa haruka melihat terangnya lampu.
"karena ke jujuranmu itu yang membuatku kecewa!" senjata tajam sudah siap mengorok lehernya. Haruka menangis.
"ma..maafkan aku...ma...maafkan aku kuroko – kun..." gerakan kuroko terhenti saat haruka meminta maaf kepadanya. Kuroko menggertakan giginya.
"cih!" trang! Kuroko melempar goloknya. Menarik dagu haruka lalu menciumnya dengan kasar. Haruka begitu terkejut dan tak bisa mengimbangin kecepatan lidah kuroko.
"hmmph! Pwah! mpphh..." kuroko melepaskan sejenak namun menciumnya kembali. Ciuman itu begitu menyesakkan hatinya.
"pwah..hah...hah.." kuroko melepaskan ciumannya. Haruka mengambil nafas yang banyak, sedangkan kuroko langsung melepaskan celananya.
"ya ampun aku sudah tidak tahan lagi." set! Kuroko melepaskan ikatan haruka lalu melebarkan selangkangannya. Nafsu kuroko bertambah besar disaat melihat bentuk vagina yang masih terbalut kain terpampang jelas di hadapannya. Kuroko menjilati bibirnya sendiri. Iapun mulai mendekati vagina milik haruka dan bersiap menjilatnya. Haruka yang terlalu sibuk dengan nafasnya tak sadar jika kuroko sudah siap di depan kemaluannya. Mukanya langsung memerah saat melihat kuroko menyingkirkan pakaian dalamnya.
"ku..kuroko – kun apa yang kau – hhuwaaa!" tubuhnya menggeliat disaat benda yang begitu lembut menyapu kemaluannya dengan kasar. Lidah itu memaksa vagina haruka yang terbuka sempit. Kuroko melepaskan salivanya agar menjadi lembab di bagian itu. wajah haruka begitu memerah dan berkeringat. Merasakan sensasi yang begitu aneh.
"benar – benar sempit. Kukira haru – san sudah melakukan seks dengan orang itu. ternyata aku salah..." kuroko mengarahkan penisnya kearah vagina haruka. Haruka menatap kuroko dengan wajah seperti anak anjing yang memelas dilepaskan dari ikatannya. Tapi wajah itu membuat kuroko makin tidak tahan dengan nafsunya.
"sial. Kau begitu manis..haru - ! san!" kuroko langsung memasuki penisnya.
"kyaa!" sedangkan haruka langsung berteriak kesakitan dan mendesah kecil. Tanpa basa – basi lagi kuroko langsung menngerakkan pinggulnya.
"luar biasa..luar biasa...di dalam haru –san benar – benar luar biasa.." ucap kuroko yang masih menggerakkan pinggulnya tanpa henti.
"ku..kuroko – kun ja..jangan ber..bergerak! ma..masih sakit...kyaa..anh...ahh.." permintaan haruka tak di gubris oleh kuroko. Ia masih tetap menngerakkan pinggulnya.
"maaf aku tak tahan!" pak! Pak! Kuroko semakin mempercepat gerakannya dan menikmati sensasi yang ia rasakan disini.
"a..aku mohon! Ma...maafkan aku! Maafkan aku!" teriakan minta maaf haruka yang begitu memelas menjadi musik tersendiri baginya. Kuroko tak pernah menghentikan atau memelankan kelajuannya.
"ka..karen – san...maafkan aku...ma..maafkan...aku~" plak! Kuroko menampar haruka dengan keras.
"BERANI – BERANINYA KAU MENYEBUT NAMA ORANG ITU!" Plak! Bugh! Kuroko menampar dan memukulnya, tetapi pinggulnya tetapp bergerak tanpa henti.
"apa kekuranganku!? Aku begitu mencintaimu! Apa itu tidak cukup!? HAH!?" PLAK!
"Apa semua orang akan meninggalkanku!? Kenapa orang yang begitu aku cintai selalu meninggalkanku!? Hei!? Kenapa!?" bugh! Bugh! hal itu terus berlanjut sampai haruka pingsan tak bergerak...
"
Flashback END
GREB! Kuroko menarik rambut haruka dengan kasar. Menghadapkan wajah haruka ke wajahnya. Haruka melihat iris ocean kuroko yang kelam. Seperti tak ada cahaya disana.
"kau tanya kenapa? Hmm...kenapa ya? Tentu saja. Karena aku mencintai ritsu – chan. Aku SANGAT mencintai Ritsu – chan." Ucap kuroko. Kuroko melepaskan rambut nya. Kuroko melepaskan semua pakaian dalam milik haruka.
"sekarang ritsu – chan, layani aku dengan baik ya." Ucap kuroko yang siap memperkosanya lagi. haruka begitu ketakutan dan berusaha kabur, namun tak bisa karena dari awal ikatan kuroko memang sangat keras.
"ku..kumohon lepaskan aku! Kumohon! Aku sangat memohon padamu. Kuroko – kun!" pinta haruka dengan histeris dan menjerit. Melihat reaksi haruka yang seperti itu, membuat kuroko kesal dan marah. Seolah haruka sangat amat tidak menyukai keberadaannya. Kuroko melepaskan sabuknya. Menekan leher haruka agar ia bisa diam. Kuroko mengangkat sabuknya dan siap memecut punggung haruka.
"hentikan! Kuroko – kun! Hentikan! Hen-..." CTAAR! Kuroko memukulnya dengan keras.
"kyaa!kyaa!" kuroko memecutnya berkali hingga punggung haruka memerah bahkan ada tergores sampai mengeluarkan darah.
"diam -...lah?" kuroko heran karena haruka tidak memberontak lagi. ia menarik rambutnya lagi. seperti yang ia duga... haruka pingsan. Kurokopun melepaskan cengkramannya dan otomatis wajah haruka bertabrakan dengan alas gudang.
"sepertinya aku berlebihan..."
.
.
.
.
.
.
.
.
E.N.D or To be continued...?
Mind to reviews?
Thanks for Reading "Psyche and Pathos"
