Naruto – Masashi Kishimoto
More – Kei Dysis
.
AU, OOC, Typo, etc.
.
9/5/2014
Happy reading!
-:-
Kerlap-kerlip ribuan lampu kota terbentang indah di hadapannya, berusaha menarik seluruh perhatian gadis itu. Memanjakan kedua mata bulan gadis itu. Seperti biasanya.
Namun, sejak setengah jam yang lalu, sambil berdiri menyandarkan tubuh di pagar pembatas atap gedung kantornya, Hyuuga Hinata hanya menjatuhkan pandangan hampa. Hanya menyiratkan raut datar. Tanpa senyum. Tidak seperti biasanya.
Ada yang terasa salah dengan dirinya, Hinata yakin itu. Terasa kurang. Terasa hilang. Dan … Hinata belum menemukan alasan di baliknya, sejak pertama kali ia menyadari kehadiran perasaan asing itu.
Dengan dada yang bertambah nyeri, Hinata memejamkan mata. Kemudian diputarnya tubuh. Dan … sepasang lavender Hinata seketika terpusat total pada sosok familier itu.
Keduanya saling menatap. Tak bersuara. Tak bergerak.
Lambat-lambat, Hinata berhasil mengerjap kaget. Di kedipan kedua, ia sudah berada dalam pelukan Uchiha Sasuke. Calon tunangannya. Pemuda yang dijodohkan sang ayah dengannya.
"Aneh. Benar-benar aneh," gumam Sasuke kemudian, dengan nada merenung. "Aku mengenalmu baru hanya sebulan, tapi … entah sejak kapan, aku sudah merasa terbiasa untuk melihatmu. Bersamamu." Sasuke mendesah kasar. Tampak frustasi. "Dan saat kebiasaan itu tak kulakukan selama aku pergi, aku justru merasa … segala yang kukerjakan tidak ada yang benar. Padahal sebelumnya aku sudah hidup selama 23 tahun tanpa mengenalmu. Lalu bagaimana mungkin," Sasuke menutup matanya perlahan, "aku masih bisa hidup saat itu, huh?"
Hinata tak menyahut. Masih bergeming dalam keterkejutan. Membeku dalam ketidakpercayaan.
Seiring kembali terbukanya kedua mata, Sasuke mengeratkan pelukannya, dan berkata, "Aku … merindukanmu."
Hinata tetap tak menyahut. Masih bergeming dalam keterkejutan. Membeku dalam ketidakpercayaan.
Sasuke menunggu. Lima detik. Sepuluh detik.
Kemudian kemarahannya meledak!
"Sial! Kenapa kau hanya diam?" geram Sasuke seraya mengurai pelukannya. Dipandangnya Hinata dengan kilatan tajam. "Aku sudah bersedia menurunkan egoku untuk mengatakannya lebih dulu padamu, mengatakan semua kalimat yang bahkan pertama kalinya keluar dari mulutku, tapi kau justru hanya menatapku dengan muka sok-tenang-wakil-direktur-mu itu. Kau …." Sasuke mengepalkan jemarinya, lantas menarik napas panjang. Berusaha menahan emosi. "Apa … jangan-jangan memang hanya aku saja yang merasakannya, huh?"
Tetap tak ada jawaban.
Kepala Sasuke tertunduk. Matanya menggelap dingin. "Sial! Lupakan saja apa yang kukatakan tadi!" geram Sasuke lagi setelah terdiam sesaat, lalu memutar tubuhnya dengan cepat.
Melihat Sasuke mulai melangkah menjauh, topeng di wajah Hinata perlahan terhapus. Perlahan tergantikan oleh raut kebingungan. Keheranan.
Hinata mengernyit. Ditekannya dada dengan satu telapak tangan. Aneh! Ketika melihat kehadiran Sasuke, menerima pelukan Sasuke untuk pertama kalinya, Hinata merasa perasaan asing yang beberapa hari ini menderanya tiba-tiba langsung hilang. Lenyap. Seperti tak pernah ada.
Tapi … setelah pelukan Sasuke tak lagi Hinata rasakan, kenapa perasaan asing itu muncul lagi? Kenapa ia merasakan perasaan asing itu lebih menyakiti dirinya lagi?
Aku … merindukanmu.
"Tunggu," pinta Hinata kemudian. Lirih.
Sasuke sontak berhenti. Hinata mulai melangkah.
Di hadapan Sasuke, Hinata berdiri menengadah. Lekat, ditatapnya mata jelaga pemuda itu. Lalu, sambil berjinjit, perlahan Hinata melingkarkan lengannya di leher Sasuke.
Sasuke bergeming terpana. Hinata diam menanti.
Ketika akhirnya Sasuke mau membalas pelukannya, Hinata tersenyum, dan berucap, "Aku … juga merindukanmu. Lebih dari yang bisa kukatakan."
.:.
THEEND
.:.
THANKS! :)
