Naruto – Masashi Kishimoto

Menunggu Pagi – Kei Dysis

.

AU, OOC, Typo, etc.

.

11/5/2014

Happy reading!

-:-

"Aku tahu kau sudah bangun."

Manik jelaga Sasuke langsung terlihat. Tak lagi bersembunyi di balik kelopak. "Ah, kali ini ternyata ketahuan," tukas Sasuke, dengan senyum kecil yang muncul kala melihat rona merah tipis di sepasang pipi manis.

"Kenapa kau tadi berpura-pura masih tidur?"

Sasuke terkekeh pelan. Kemudian dikecupnya bibir yang sedikit mengerucut di hadapannya. "Hanya ingin membiarkanmu lebih lama melakukan kegiatan favoritmu, tanpa merasa malu padaku," jawab Sasuke, dengan dagu yang bertumpu di puncak kepala wanita dalam pelukannya itu.

"Se-sejak kapan kau tahu?"

Seringai Sasuke terbentuk cepat, saat satu tanya itu akhirnya meluncur setelah keheningan sekejap menyelimuti. "Sejak … pagi pertama kau terbangun menjadi Nyonya Uchiha," sahut Sasuke, dengan mata yang kembali terpusat memandang wajah sang pemilik mutiara kembar.

"Ber-berarti ini sudah pagi ke-12 a-aku …."

Sasuke mengangkat alis, selagi senyuman menggoda tampak bermain-main samar di bibirnya. "Benar. Sudah pagi ke-12. Dan selama itu aku diam-diam sangat menikmati—setiap detiknya— menjadi objek favorit matamu," kata Sasuke, dengan satu punggung tangan yang membelai ringan helai-helai poni indigo.

"Jahat! Kenapa tidak langsung memberitahuku di pagi sebelum-sebelumnya?"

Kekehan pelan Sasuke yang langka terdengar lagi, sementara lehernya kini sudah menjadi tempat persembunyian wajah yang sedang memerah. "Aku selalu yang lebih dulu bangun, kau tahu? Dan bukan hanya kau saja yang memiliki kegiatan favorit di pagi hari," ujar Sasuke, dengan telapak tangan yang mengusap pelan punggung tanpa helaian benang yang tertutupi surai panjang.

"Memang apa itu?"

Sasuke tersenyum mendengar suara gugup itu. Dipejamkannya mata. "Memandang wajahmu dan mendengar kau bernapas. Mengetahui kau ada. Bersamaku. Sama seperti yang kaulakukan padaku," bisik Sasuke, dengan bibir yang menyentuh lembut bahu berkulit putih.

"A-apa itu artinya … ketakutan terbesarmu sama denganku?"

Debar jantung Sasuke sejenak berhenti. Setelah hanya mampu bergeming, lengkungan di kedua ujung bibirnya kembali hadir. "Ya. Sama persis. Nah, sekarang apa kau sudah ingat sesuatu yang seharusnya kauucapkan sejak tadi untukku?" tanya Sasuke, dengan hidung yang menghidu aroma lavender di balik daun telinga mungil.

"Tentu saja aku ingat."

Sasuke mengangkat wajah. "Kalau begitu katakan," pinta Sasuke, dengan kening yang menempel di kening seraut paras juwita.

"Ohayou, Sasuke-kun," Hinata berbisik lemah. "Dan … maaf karena membuatmu menunggu lama."

Kelopak mata Sasuke terbuka cepat. Diangkatnya kepala dari tumpukan kedua tangannya yang ia gunakan sebagai bantal tidur. Dengan tubuh gemetar, Sasuke bergeming menatap wanita yang ada di hadapannya.

Perlahan, Sasuke akhirnya berdiri. Ia bungkukkan badannya, lalu mengusap lembut puncak kepala Hinata, istrinya yang terbaring koma karena kecelakaan, tepat setelah pagi ke-12 itu berlalu.

"Ohayou mo, Hinata," ucap Sasuke. Parau. "Tak terasa aku sudah menunggumu selama 57 pagi. Tapi kau tak perlu minta maaf. Berapa pagi pun akan aku tunggu, selama … kau mau tetap bertahan. Untukku."

Sunyi. Masih tak ada reaksi yang berarti.

Tanpa Sasuke sadari, kabut sudah menjalar cepat di permukaan netranya. Ia kemudian membungkuk, menyentuhkan bibirnya di kening Hinata. "Aku mencintaimu, Pagiku," bisik Sasuke, dengan satu bulir air mata yang perlahan mengalir jatuh ke pipi Hinata.

Hening. Hanya ada gerakan samar di lima jemari ramping.

.:.

THEEND

.:.

THANKS! :)