DOMINAN
Ff ini tidak akan panjang supaya bisa segera pindah ke ff baru lebih cepat. Jadi, kalau alurnya kecepatan itu memang sengaja. Menyesuaikan saja, ya. Katanya kemarin ada yang kepotong, pas aku cek di file pribadi, nggak ada tuh. berarti di ff aja yang kepotong. Semoga yang ini utuh!
Kalau typo, maafkan. Selamat membaca!
Cast: Kyuhyun, Kibum
Genre: Romance
Rate: T+
Summary:
Awalnya Kyuhyun percaya bahwa dirinya lelaki dominan. Dia pintar, kaya, tampan, berbadan bagus, dan digilai banyak wanita. Namun setelah bertemu Kibum, perlahan-lahan dominasinya menghilang. Dan ketika satu kejadian di masa lalunya muncul di permukaan, Kyuhyun tak lagi dominan. Kibum telah mengambil alih statusnya, dan paling parah mengambil alih hatinya.
Beta
Masalah yang pernah menimpa Kibum tidak sesepele yang Kyuhyun pikir. Sudah mencari ke sana kemari tapi yang diperolehnya hanya itu-itu saja. Banyak kesamaan dengan kasus Donghae yang agak menarik perhatiannya. Pengacara korban yang sama, jaksa penuntut umum, dan hakim yang sama pula. Kyuhyun curiga kasus mereka dibuat oleh orang yang sama. Tapi dengan tujuan apa? Agaknya selama ini Kibum dan Donghae tidak terlalu mencolok di mata masyarakat, bagaimana bisa mereka dijadikan kambing hitam dalam hal ini?
Pengacara korban adalah Yoon Jae Hoon, pengacara kondang yang tarifnya selangit. Dia menangani banyak kasus yang hampir 100% dimenangkan olehnya. Menjadi pengacara banyak keluarga kaya, termasuk keluarga Kyuhyun sendiri. Akan susah mengorek keterangan dari orang itu, apalagi kejadiannya sudah berlangsung lama. Tetapi Kyuhyun akan coba mendekati pengacara keluarganya itu tebih tekun. Siapa tahu muncul satu dua kata penting dari mulutnya.
Jaksa penuntut dipindahkan ke kota lain, sedangkan hakimnya sudah pensiun. Mengandalkan copy-an berkas dari temannya yang bekerja di pengadilan saja tidak cukup. Dalam berkas itu ditulis rapi, semua hal yang terjadi sebelum hingga sesudah hukuman dijatuhkan, tapi masih saja janggal. Nama korban disebutkan dengan marga Lee, namun marga Lee ada jutaan orang di Korea ini. Juga disebutkan nama saksi, namun Kyuhyun yakin itu nama samaran.
Kyuhyun melirik copy-an berkas kejaksaan di dashboard mobilnya. Itu berkas Kibum dan Donghae. Sekali lagi dia merasa aneh. Kenapa repot-repot membantu orang-orang itu, sedangkan sedikit pun dia tak punya hutang budi pada mereka? Tak menemukan jawaban, dia mengabaikan berkas. Rumahnya sudah dekat, dia mau melupakan pekerjaan dan kasus Kibum dulu. Mau istirahat dan menghabiskan akhir pekannya dengan damai. Tetapi sampai di depan gerbang rumah, mobilnya yang hendak menikung masuk terhalangi motor Kibum. Motornya ada di situ, tapi orangnya tak ada di tempat. Menengok ke rumah sebelah, Kyuhyun menemukan yang dicarinya di sana. Kibum tengah mengawasinya. Melongok ke sana kemari, kemudian berniat memasuki rumah itu.
Dia melesat cepat dan berhasil mencegah tangan Kibum memencet bel.
"Kau mau dipenjara lagi karena mencoba menerobos rumah orang?" tanya Kyuhyun tajam.
"Menerobos apanya? Aku mau bertamu." Kyuhyun masih meliriknya tajam, tapi Kibum segera menunjuk dengan dagunya, tangannya yang dicekali Kyuhyun. "Memangnya menerobos rumah orang harus membunyikan bel dulu?"
Sadar Kyuhyun yang salah mengerti, dia segera melempar tangan Kibum jauh-jauh.
"Aku jarang melihat pemiliknya. Mungkin mereka tak ada di rumah." Kyuhyun meninggalkan Kibum, kembali ke mobilnya. Sebelum Kibum mencoba memencet bel itu lagi, Kyuhyun menghentikannya. "Singkirkan motormu, aku mau masuk!" teriaknya dari kejauhan.
Kibum mengurungkan niat. Setelah pintu gerbang rumah Kyuhyun terbuka, dia membawa motornya masuk diikuti mobil Kyuhyun di belakangnya. Kyuhyun masuk rumah, masuk kamarnya, kali ini Kibum mengekor. Giliran Kyuhyun masuk kamar mandi, Kibum memilih menuju balkon, memandang kamar rumah sebelah seperti sebelumnya. Dia tidak membayangkan tidur dengan calon kekasihnya lagi di sana, hanya ingin memandang ke arah kamar itu dan bertanya-tanya siapa arsiteknya dulu.
"Ada apa lagi dengan rumah itu?" Sudah selesai mandi. Kyuhyun merasa segar. Untuk bergabung dengan Kibum pun tidak sungkan lagi. "Kau bilang tidak menarik, tapi terus saja ingin tahu soal rumah itu."
Padangan mata mereka bertemu di tengah-tengah pembicaraan soal rumah. Mata Kyuhyun cemerlang, mata Kibum sebaliknya. Sayu seperti kehilangan semangat. "Aku ingin kenal dengan pemiliknya," kata Kibum mengejutkan Kyuhyun.
"Kau gila!" olok Kyuhyun.
"Kuberitahu sesuatu, tapi kau jangan menertawaiku!" Artinya apa yang akan dikatakannya bisa berarti sesuatu yang lucu buat Kyuhyun. "Beberapa hari yang lalu kukatakan padamu kalau aku akan segera memiliki kekasih. Itu benar," Kibum memberi jeda. Kyuhyun hanya diam, melipat tangannya, siap untuk mendengar lebih lanjut. "Aku ingin bercinta dengannya di kamar itu. Itu juga benar."
"Lalu apanya yang lucu?"
"Yang lucu, aku tidak lagi tertarik untuk bercinta dengan calon kekasihku di sana."
"Lalu kau tertarik bercinta dengan siapa? Mantan kekasihmu?" Kyuhyun mendengus. "Kau parah sekali, kenapa hanya ada kata bercinta dalam kepalamu? Tidak ada yang lebih baik dari itu?"
"Aku sudah lama tidak bercinta," katanya jujur. "Kau pasti pernah merasakannya juga. Seseorang yang jarang bercinta otaknya bisa dipenuhi dengan hal-hal mesum." Dia memandang lagi pada rumah sebelah. Seperti waktu itu, rumah sebelah lampunya hanya menyala di bagian halaman dan teras. Tidak terpikir oleh Kibum ada atau tidak pemiliknya dalam rumah itu. Kalau perkataan Kyuhyun benar, memang hari ini tidak ada orang di sana. "Aku benar-benar ingin bercinta!" ucapnya tanpa malu.
Untungnya Kyuhyun bukan tipe orang yang mudah jijik dengan perkataan kotor. Memang jarang berbicara blak-blakan, tapi dia tidak menutup telinganya untuk sekedar mendengar orang lain berkeluh soal percintaan. Kyuhyun sudah sangat dewasa untuk membatasi hal-hal tabu masuk otaknya.
"Tidak berniat menyewa namja-namja muda seperti dulu?"
"Setelah dipenjara atas tuduhan pemerkosaan yeoja di bawah umur, kau kira aku tega meniduri namja di bawah umur lagi?" Kyuhyun mengendikkan bahu, bahkan mencebikkan bibirnya. "Bahkan aku tidak tega meniduri orang tanpa persetujuan kedua belah pihak."
Walau Kibum tipe lelaki setia, bukan berarti dia hanya tidur dengan kekasihnya. Kadang kala kalau Donghae mengajaknya pergi ke bar, pulangnya ikut membawa satu namja ke hotel. Biasanya namja yang mabuk berat sampai tak bisa meninggalkan tempat, atau seseorang yang sedang galau dan butuh pelampiasan. Kibum akan merayunya, mencekokinya dengan minuman sampai mabuk, lalu berakhir di hotel, menghabiskan satu malam bersama. Paginya kebanyakan dari mereka marah-marah pada Kibum. Jelas karena tindakan Kibum tidak atas persetujuan kedua belah pihak. Kibum suka memanfaatkan keadaan saja, seperti yang sering diajarkan Donghae padanya.
"Jadi, dulu kau tega meniduri orang tanpa persetujuan?" Dia menyeringai. "Itu namanya pemerkosaan. Kau sudah sering memperkosa orang, kenapa mengelak saat dituduh memperkosa gadis di bawah umur?"
"Memperkosa itu secara paksa, kalau meniduri tanpa persetujuan itu beda lagi," sangkal Kibum cepat. Sedikit resah kalau perlakuannya dulu juga bisa dikatakan perkosaan. Hanya beda gender saja. Yang sering ditidurinya adalah namja, yang dituduhkan padanya dalah yeoja. "Pokonya beda!"
"Tampaknya kau takut," ledek Kyuhyun.
"Siapa yang takut?"
"Dahimu mengkerut saat kusebutkan kalimat perkosaan itu." Kibum segera meluruskan kulit dahinya. Tidak tampak mengkerut lagi. "Kau sedikit gemetaran." Kibum mengambil nafas panjang untuk meredakan getaran tubuhnya. "Dan kau meremas kuat kedua tanganmu. Itu tandanya kau takut!"
"Setan kau!" umpat Kibum yang akhirnya menyerah.
Hampir-hampir Kibum menempeleng lelaki di depannya, tapi urung karena tindakan itu bisa jadi pembetulan di mata Kyuhyun. Kyuhyun tertawa kencang, sedangkan Kibum hanya bisa merengut. Untung setelah itu Kyuhyun segera menyudahi tawanya, kalau tidak Kibum akan pamit pulang sekarang juga.
"Ok ok," kata Kyuhyun setelah berdehem menghentikan tawanya. "Jadi dalam waktu dekat ini kau ingin meniduri siapa?"
Kibum menghela nafas sejenak, beruntung juga tema pembicaraan segera diubah Kyuhyun. "Itu yang ingin kukatakan tadi. Kau tahu kenapa aku tidak ingin bercinta dengan calon kekasihku di rumah itu? Kenapa aku ingin bertamu ke sana dan mengenal pemiliknya?"
Kyuhyun tidak tahu.
Matanya menyipit tajam, mukanya ditekuk-tekuk, dan suasa hatinya berubah buruk. Lalu dia mencoba menebak. "Kau ingin bercinta dengan seseorang dari rumah itu?"
Sesaat kemudian dia menyesal mengatakan kalimat barusan.
"Jenius!" kata Kibum sambil menjentikkan jarinya. "Aku tertarik untuk bercinta dengan pemiliknya," kata Kibum bangga. "Di kamar itu," tambahnya sambil mengumbar senyum sejuta watt.
"Sialan!" sekarang Kyuhyun yang mengumpat. Dia menendang udara kosong kemudian beranjak sebelum darahnya mendidih gara-gara Kibum.
"Tenang saja. Saat itu tiba, aku akan mematikan lampu, menutup korden, dan menyuruhnya tak mendesah terlalu keras. Aku jamin kau tidak akan terganggu." Kibum melihat Kyuhyun melambai padanya. Dia senang melihat Kyuhyun seperti itu karena reaksi lelaki itu bisa diartikan bahwa mereka sama-sama lama tidak bercinta. Terus saja menggodanya. "Kalau masih merasa terganggu, kau memang harus meninggalkan rumahmu sendiri untuk sementara." Namun si pemilik rumah malah keluar kamar, menutup pintunya dengan sangat kasar.
Dominan
"Enam tahu lalu..."
"Maaf, Kyu, ada banyak hal yang harus kuurus. Kita bicara lain kali saja."
Setelah itu pengacara keluarga tidak diketahui batang hidungnya lagi. Kyuhyun tahu orang itu masih ada di Korea, tapi telepon darinya tidak pernah diangkat. Setiap kali membuat janji pada asistennya, selalu penuh. Ada saja alasannya. Beberapa hari yang lalu ketika Kyuhyun lewat kantor pengacara itu, dia memutuskan mampir, dan asistennya mengatakan kalau pengacara itu sedang di luar kota. Akan kembali beberapa hari kemudian. Kyuhyun tidak yakin perkataan asisten pengacara itu benar, tapi dia mengalah lalu memutuskan pulang.
Kyuhyun menduga pengacara keluarganya itu tahu apa yang akan dia tanyakan. Dan Kyuhyun tidak boleh tahu jawabannya.
"Appa, sejak kapan keluarga kita menggunakan jasa pengacara Yoon?"
"Sejak kau dan saudara-saudaramu masih kecil."
"Appa percaya dengan orang itu?"
Ayah Kyuhyun tertawa kecil. "Pengacara Yoon telah membantu keluarga kita dalam berbagai hal. Appa tidak pernah dikecewakan olehnya." Beliau menggeser laporan yang baru disodorkan Kyuhyun, jauh ke tepi meja. "Sebagai keluarga kelas atas, bukan berarti kita tidak memiliki masalah. Malahan banyak masalah datang bertubi-tubi, entah dari dalam atau dari luar."
Kyuhyun tahu itu. Sering kali ayah dan paman-pamannya cek cok. Perbedaan visi misi dalam mengatur harta warisan kelurga acap kali terjadi, untungnya mereka bisa sepaham kembali setelahnya. Yang sulit diatasi adalah gangguan dari luar. Pernah, bahkan sering keluarga besarnya dapat masalah itu. Dulu sepupu Kyuhyun pernah diculik. Penculiknya meminta tebusan uang dengan jumlah yang tidak masuk akal, tapi polisi berhasil menemukan sepupunya dan meringkus penculik-penculik itu. Ada lagi gangguan yang sering kali terjadi, yaitu tuduhan-tuduhan sebagai keluarga yang menjalankan bisnis haram. Mempunyai pabrik narkoba, bisnis senjata ilegal, sampai memonopoli perdagangan. Walau semua tuduhan itu tidak terbukti, masih saja ada yang menuduh keluarga mereka berbuat curang.
"Tanpa pengacara Yoon, keluarga kita tidak akan bertahan sejauh ini, Kyu."
"Tampaknya Appa kenal baik dengan pengacara Yoon?"
Ayah Kyuhyun mengangguk. "Kenal baik, tapi kalau kau mau tahu apa saja kasus yang pernah ditanganinya, Appa tidak tahu. Sebagai pengacara hebat, dia akan bertindak profesional dengan tidak membocorkan kasus klien-kliennya ke orang lain."
Padahal Kyuhyun belum mengutarakan apa pun, ayahnya seakan tahu apa yang ada di otaknya. Beliau langsung menyangkal sampai Kyuhyun curiga ada yang disembunyikan darinya. Daripada itu Kyuhyun memilih berhenti bertanya. Dia akan cari tahu dengan caranya sendiri.
Kesimpulannya, Kibum dan Donghae mendapat limpahan kesalahan dari orang yang sama atau keluarga yang sama. Kyuhyun takut kalau mereka dapat masalah itu dari keluarganya. Dia tidak menyangkal kalau dengan memiliki kekuasaan plus pengacara yang hebat, keluarganya bisa melakukan banyak hal, termasuk menjebak Kibum dan Donghae dalam masalah. Namun untuk urusan apa yang Kyuhyun tidak tahu. Maka dari itu Kyuhyun akan membantu mereka menemukan kebenaran, sekaligus membuktikan kalau bukan keluarganya yang bertindak semena-mena terhadap dua teman barunya itu.
.
.
Donghae masih menggunakan seragam montir, tapi selalu terlihat bersih. Sebagai pemilik bengkel, pekerjaannya hanya menunjuk-menunjuk dari kejauhan. Sedangkan Kibum dengan seragam montir pula, namun paling kotor di antara lainnya. Pekerjaannya sama dengan montir-montir lain, namun ulah hampir semua montir yang suka mengelapkan bekas oli di baju Kibum, lelaki itu jadi seperti serbet berjalan.
Kyuhyun dipersilakan duduk, ditemani Donghae. Sedangkan Kibum sibuk menyusup di bawah mobil dan melakukan reparasi besar-besaran di sana.
"Tumben kau tak ke sini bersama Remi."
Kyuhyun hanya tersenyum.
Ya, gara-gara wanita itu juga yang membuatnya dekat dengan Kibum, Donghae, dan bengkel ini. Kyuhyun seperti punya kehidupan baru selain pekerjaan, kencan tiap dua minggu sekali dan keluarga besarnya. Dia suka punya teman di luar urusan bisnis. Untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya pada Remi, dia sering mengajak wanita itu makan malam. Sesekali membelikan bingkisan dan menemaninya jalan-jalan. Hanya saja jalan-jalan mereka sering berakhir di bengkel ini.
"Kau mau minum sesuatu?"
"Tidak, terima kasih. Aku hanya sebentar, setelah ini harus menemui klien."
Donghae menyengir. "Manusia super sibuk," celetuknya. "Jadi, apa yang membawamu kemari? Tentang masalah kami?"
"Tidak." Kyuhyun menarik ulur rencananya, namun kemudian mantap. "Aku berencana membuat pesta, tapi tidak tahu pesta seperti apa yang harus kubuat. Kau ada usul?"
"Pesta bisnis maksudmu?"
Kyuhyun menggeleng. "Aku terlalu lelah bekerja terus. Beri aku usul tentang sebuah pesta yang bisa menghilangkan penatku!"
"Kau yakin mau menampung saranku?"
"Tentu saja."
Donghae berpikir sejenak. Sejujurnya dia juga sudah lama tidak menghadiri pesta, kalau Kyuhyun membuat pesta liar dia akan sangat suka. Tetapi kepribadian Kyuhyun tidak cocok dengan pesta tidak beradap seperti itu. Lebih baik pesta yang tenang, namun cukup untuk membuat Kyuhyun melupakan kesibukannya di kantor.
"Sediakan makanan dan minuman di rumahmu, kita akan datang. Itu saja juga bisa dibilang pesta," usul Donghae yang langsung membuat Kyuhyun memajukan bibirnya. Dia menawarkan pesta itu untuk Donghae, tapi tidak ditanggapi dengan serius, makanya Kyuhyun heran. "Yang penting kau senang, kan? Kalau mengundang teman-teman bisnismu, yang ada kalian akan membicarakan kerja sama. Kalau mengundang orang-orang luar, kau tak akan nyaman dengan orang-orang tidak dikenal masuk ke rumahmu. Jadi, kupikir kau, aku dan anak buahku saja yang hadir dalam pestamu. Undang beberapa gadis yang kau kenal. Itu cukup, kan?"
"Boleh juga!"
"Kapan pestanya akan kau mulai?"
"Kalau cuma kita yang akan berpesta, akhir minggu ini juga bisa."
Donghae mengangguk-angguk setuju.
Dominan
Jumat sore yang agak cerah, Kyuhyun pergi ke klub ji jutsu. Tema latihannya masih sama seperti minggu-munggu sebelumnya, kuncian dari bawah, namun porsi latihannya diperberat. Dua jam serasa hanya lima belas menit karena Kyuhyun menikmati latihan itu. Dia pulang, ingin benar-benar menikmati sisa hari ini untuk bersantai dan tidur sebelum besok berpesta.
Kyuhyun tidak tahu pesta seperti apa yang akan terjadi di rumahnya kalau tamunya sebangsa Donghae dan Kibum, tapi dia cukup antusias. Tadi sebelum berpisah dengan sekertarisnya, dia sudah menitipkan beberapa hal untuk dilakukan wanita itu. Membeli makanan, dan minuman yang sekiranya bisa disuguhkan di depan Kibum dan teman-temannya. Juga beberapa wine tambahan untuk tamu-tamunya itu. Kyuhyun tidak mengundang siapa pun, mengingat tidak semua wanita diakrabinya tanpa maksud. Hanya sekertarisnya, itu pun kalau dia mau bergabung.
Seperti sebelumnya, dia hendak menikung masuk halaman namun motor Kibum menghalangi jalannya. Si empunya masih tidak ada di tempat. Kalau sudah begitu, Kyuhyun harus menoleh ke rumah sebelah. Tidak ada Kibum di depan pagar rumah itu, namun pintu samping pagar terbuka. Besar kemungkinan Kibum berada di sana.
Kibum tengah berbicara dengan wanita paruh baya yang sedang membawa sapu di tangannya ketika Kyuhyun melongok ke dalam. Entah sudah seberapa banyak hal yang diketahui Kibum dari wanita itu, yang pasti Kyuhyun mau Kibum segera pergi dari sana.
"Kibum!" teriaknya dari luar pagar.
Dua orang di teras rumah itu menoleh bersamaan. Si wanita tersenyum, kemudian menunduk hormat. Kyuhyun hanya membalasnya dengan anggukan kecil. Setelah itu si wanita menunjuk Kyuhyun dan membicarakan beberapa hal lagi pada Kibum.
.
.
"Kau masih tertarik meniduri pemilik rumah sebelah?"
Kibum yang sejak masuk rumah langsung melempar tubuhnya ke sofa, masih berada di tempatnya ketika Kyuhyun selesai mandi dan menemuinya lagi. Lelaki itu agak bimbang dengan pertanyaan Kyuhyun. Sesekali mengawasi Kyuhyun dengan tatapan aneh, kemudian prihatin, kemudian tertarik, namun akhirnya mendesah pasrah.
"Tadinya iya" jawab Kibum kehilangan minat. "Kau tahu, menyentuh pagar rumahnya saja sudah kubayangkan seperti menyentuh tubuh pemiliknya. Sampai aku berpikir akan memperkosanya kalau segala usahaku gagal. Tapi..." Kibum berdecak sebal. Sebal bukan main. "Setelah aku tahu siapa pemiliknya, aku kehilangan minat seketika."
Kyuhyun lega mendengar kalimat itu keluar dari mulut Kibum.
"Kenapa kau tak bilang rumah itu milikmu?" Kibum melempar bantal sofa pada si empunya rumah saat dia ikut duduk di sudut jauh sofa. "Pantas saja kau mengumpat-umpat waktu aku bilang ingin tidur dengan pemiliknya. Kau pasti membayangkan aku tidur denganmu."
Kyuhyun menggeleng. "Aku membelinya seminggu sebelum mengenalmu. Rumah itu hadiah untuk ulang tahun adikku. Kau mengatakan ingin meniduri pemilik rumah, sama dengan ingin meniduri adikku. Kau kira aku tak sebal mendengarmu mengatakan itu?"
"Ohhhh" Kibum meringis lebar. "Maaf!" katanya santai. "Ngomong-ngomong adikmu laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki. Karena kau penyuka sesama jenis, makanya aku takut saat kau bilang begitu."
Kibum tertawa lebar. Dia tidak tahu sopan kalau di rumah orang, bahkan menganggapnya rumah sendiri kalau sudah lebih dari dua kali menginap di rumah itu. Seperti rumah Donghae, rumah Remi, begitu juga rumah Kyuhyun ini.
Dia menggeser tubuhnya, mendekat pada Kyuhyun. Sekali gerakan tangannya memulur, kemudian melingkar di bahu Kyuhyun tanpa bisa dicegah.
"Aku tidak sejahat itu," dalihnya.
"Tadi kau bilang akan memperkosanya." Kibum menggeleng. "Jangan pura-pura lupa!"
"Aku bercanda. Sumpah!"
Kyuhyun mengambil lengan Kibum kemudian melemparnya jauh-jauh.
"Kau temanku. Saudaramu, saudaraku juga. Masak aku berniat tidur dengannya?" Kibum mengangkat dua jarinya, membuat isyarat sumpah sambil menyengir lebar. "Kau terlalu serius menanggapi sesuatu. Santai sedikit, nanti kau cepat tua kalau begini terus!" Kembali tangannya memulur, dan dengan santainya melingkar kembali di leher Kyuhyun. "Lupakan masalah barusan. Bahas soal pestamu besok saja!" jeda sebentar hanya untuk menunggu Kyuhyun merubah ekspresi mukanya lebih cerah. "Boleh aku bawa calon kekasihku ke sini?"
"Terserah kau, yang penting jangan membawanya melompati pagar lalu menelusup ke rumah sebelah. Aku tidak rela rumah yang akan kuhadiahkan pada adikku terkontaminasi bau busuk kalian!" kata Kyuhyun sewot. Melotot tajam langsung ke dalam mata Kibum.
Dominan
Donghae menyengir lebar ketika Kyuhyun membuka pintu untuknya. Segera menunjukkan bir kalengan yang dibawa di tangannya, kemudian menerobos masuk rumah. Di belakangnya, anak buah Donghae juga melakukan hal sama. Bertumpuk-tumpuk bir mereka bawa. Vodca murahan, dan beberapa sparkling jus untuk para wanita. Ngomong-ngomong soal wanita, Donghae dan pengikutnya membawa wanita mereka masing-masing. Bersyukur Kyuhyun tidak mengundang siapa pun atau pamornya jatuh di hadapan tamu undangannya setelah tahu pesta macam apa yang diadakannya.
Jadi, makanan lezat yang dipesan sekertrisnya seakan tak ada harganya bersanding dengan keripik kentang dan kacang kulit yang menumpuk di meja. Wine yang sudah berjajar rapi itu juga tak digubris ketika satu demi satu dari orang-orang itu lebih memilih meminum bir dari pada minuman mahalnya.
"Siapa namamu?"
"Stefanie..."
Donghae menyalami tangan wanita itu, menariknya mendekati bibir. Sebelum kecupan mendarat di punggung tangan putih sekertarinya, Kyuhyun menariknya. Memisahkan tautan tangan mereka, dan memelototi Donghae.
"Dia bukan kekasihmu, kan?"
"Tapi dia sekertarisku." Kyuhyun masih melotot tajam. "Menyentuhnya, mati saja kau!"
"Kau memperlakukannya bak barang pecah belah, Kyu. Dia butuh santai sejenak. Benar, kan?" tanya Donghae pada sekertaris Kyuhyun. Untunyanya si sekertaris menggeleng cepat.
"Dia takut padamu."
"Apanya yang ditakutkan dariku? Aku ini orang baik," dalih Donghae. "Kau tak perlu takut padaku, Stefie..."
"Aku tidak takut padamu," sahut si sekertaris. Donghae pasang tampang gembira, seakan bilang, 'Nah apa kubilang!' ke hadapan Kyuhyun. "Aku hanya tak suka padamu!" Sekarang Kyuhyun yang pasang tampang gembira.
Karena sepertinya Donghae tak akan berefek apa pun pada sekeratisnya, dia meninggalkan mereka. Sesekali memang terdengar rayuan dari mulut Donghae, namun jawaban sekertarisnya selalu membuat Kyuhyun tertawa dari jauh. Stefanie benar-benar tak tertarik dengan Donghae.
Dia memandang ke segala arah. Ruangan yang tadinya bersih sekarang berantakan seperti baru diterjang badai. Padahal tidak lebih dari dua puluh orang dalam ruangan itu, sudah seperti kapal pecah saja. TV-nya menyala, beberapa orang duduk, minum, dan ngemil di depannya, namun tidak ada yang matanya mengarah ke TV itu. Segerombolan lain ada yang menonton di laptop mereka. Entah apa, tapi seru sekali. Kyuhyun tak bisa dengar suara yang keluar dari laptop, tapi dia tak mau tahu lebih lanjut.
Ketika ekor matanya menangkap Kibum dan Remi duduk berduaan, ngobrol tentang sesuatu yang sepertinya menarik, dia berniat bergabung dengan mereka. Kyuhyun menepuk bahu Kibum, mengalihkan perhatian namja itu dari Remi.
"Seru sekali, sedang membahas apa?"
Kibum dan Remi menggeser duduknya, saling ke tepi untuk memberi ruang duduk di tengah-tengah mereka. Kyuhyun tidak protes, dia segera menjatuhkan pantatnya di antara dua orang itu.
"Aku baru mencoba anggurmu. Itu enak sekali," kata Remi sambil menunjukkan gelas kosong di bawah kakinya. "Kalau boleh aku mau ambil lagi."
"Kusiapkan itu untuk kalian, tapi kalian malah membawa minuman sendiri." Kyuhyun mengendik sekali. "Sebenarnya siapa yang jadi tuan rumah di sini?"
Sebagai ucapan terima kasih, Remi refleks melingkarkan lengannya ke leher Kyuhyun. Dan sebagai teman, Kibum juga melingkarkan sebelah lengannya ke leher itu.
"Mana calon kekasihmu itu, kau bilang mau membawanya ke sini?"
Remi tertawa kencang, sementara Kibum merengut.
"Aku akan sujud di bawah kakinya kalau namja itu mau dibawa ke sini!" Remi tertawa lagi membuat Kibum makin merengut. "Dia tidak menyukai Kibum. Seribu tahun pun akan tetap tidak menyukainya."
"Bukankah sudah menyatakan cinta?"
Remi menyudahi tawanya, tersenyum-senyum bagai idiot yang kesemuanya demi meledek Kibum. "Digantung. Penyataan cinta Kibum akan digantungnya sampai mati. Soalnya Kibum tak mau mendengar jawaban tidak, makanya dia tak akan menjawab juga."
"Astaga, kasihan sekali kau!" Kyuhyun menepuk paha Kibum sambil menyunggingkan senyum yang bertajuk pengejekan juga.
"Kuambilkan anggur lagi!" Remi berdiri. "Kita boleh menghabiskannya kan, Kyu?"
Kyuhyun mengangguk. "Eh, aku punya martini di lemari. Di bawah meja itu. Bawa kemari juga!" Remi yang sudah beranjak dari sofa mengacungkan jempolnya pada Kyuhyun. "Kutemani kau mabuk!" kata Kyuhyun sambil merangkul balik Kibum.
"Sebenarnya aku masih punya kesempatan atau tidak, sih?" Kibum bingung, menggaruk kepalanya sampai rambutnya awut-awutan. "Dia tidak mau dicintai oleh orang sepertiku. Aku ini orang baik!" dalihnya sama persis seperti dalih yang dikeluarkan Donghae. Namanya juga sahabat, mereka pasti meng-copy satu sama lain.
.
.
Ketika tubuhnya terlempar, busa tebal di bawah sana memantulkannya sejenak. Kyuhyun hanya terkekeh sepanjang malam ini. Kalimat yang keluar dari mulut orang-orang itu membuatnya tertawa meski tidak lucu. Sekarang pun kekehannya belum hilang. Kemudian dia ingat, pintu rumahnya sudah dikunci atau belum? Ada surat-surat berharga di lemari kamarnya. Oh iya, dia ada di kamar sekarang. Tidak akan ada pencuri masuk kalau dia ada di sini.
Busa kasur itu melengkung sangat dalam ketika satu beban lagi jatuh ke atasnya. Perasaan Kyuhyun saja, atau memang kasurnya jadi lebih empuk dari sebelumnya. Seperti tidur di atas bulu-bulu atau gumpalan awan. Lalu sesuatu merayap melewati tubuhnya. Sesuatu yang besar dan berat.
"Hei, Kyu..."
Itu Kibum.
"Mantan kekasihku pernah membuat bubur saat aku sakit, tapi gosong!" kemudian Kibum terkikik. "Aku pernah diusir dari rumah calon kekasihku. Ayahnya galak sekali, mengusir tidak pakai perasaan." Lalu dia mendengus. "Sebungkus permen karet kukunyah bersamaan lalu kutempelkan pada bulu anjing kesayangan lelaki tua sialan itu!" Kibum tertawa kencang. Kyuhyun pun ikut tertawa.
Kyuhyun tidak bisa membuka matanya terlalu lebar. Padangannya buram. Setengah otaknya tidak befungsi lagi. Tubuhnya sulit digerakkan. Begitu pun Kibum, bangkit dan ambruk berkali-kali saat berjalan. Ketika memasukkan kunci ke lubangnya, kunci itu sulit diputar. Malah jatuh ke tanah. Dia hanya bilang, 'Yah, kuncinya jatuh, Kyu. Kita loncati pagarnya saja!' Nyatanya Kyuhyun sudah meloncati pagar itu duluan.
Kibum berguling-guling di kasur sebelum bisa duduk agak tegak. Dengan susah payah melepaskan kaosnya yang bau minuman, lalu melemparnya jauh-jauh.
"Aku suka bau oli," katanya sambil merebah dan berusaha melepas celananya. "Lebih licin dari pada kamar mandi Donghae," racaunya.
"Hahaha!" Kyuhyun tertawa singkat. "Aku juga suka oli. Lebih enak dari saus spageti buatan ibuku," racaunya juga.
Cepat sekali tubuh telanjang Kibum berada di atas pembaringan. Di atas Kyuhyun yang sudah telanjang dari tadi. Menurunkan wajahnya dan mencium Kyuhyun layaknya mencium kekasihnya. Mencumbu Kyuhyun layaknya pemilik rumah sebelah yang memang diincar untuk ditidurinya. Lalu Kyuhyun membalas, seperti ketika wanitanya menggerayangi tubuhnya. Seperti ketika bibir-bibir ber-lipstick tebal mengecupi setiap inci kulit tubuhnya.
Kyuhyun menggulingkan Kibum, kemudian menyerang balik lelaki itu.
Mencium rahang Kibum, menjilat perpotongan leher, kemudian membuat kecupan berderet di dada Kibum. Meraba-raba perut keras Kibum, kemudian merebah dan mengosok-gosokkan mukanya ke kulit perut itu.
Kibum menggulingkan Kyuhyun, kemudian membalas serangan balik dari Kyuhyun.
Melakukukan sama persis seperti yang Kyuhyun lakukan, tapi ditambah bonusnya. Ada hisapan-hisapan dan juga gigitan. Berakhir di satu titik ketika Kibum ke bawah, ke pusat kenikmatan Kyuhyun dan memberinya servis lewat mulutnya. Kyuhyun mengerang, mendesah, lalu menyerah. Melebarkan kaki, menekuk, kemudian lupa gerakannya.
"Heiiii, ada oli di mulutku!" teriak Kibum dengan bodohnya.
Kyuhyun tersenyum dalam masa mabuknya. Melambai ke arah Kibum dan berteriak juga. "Itu spermaku, bodoh!"
"Ohhhh,"
Kibum menjadi lebih bodoh. Kemudian roboh menimpa Kyuhyun.
Kibum terlelap, sementara Kyuhyun meracau tentang keluarganya, klien-nya, sampai operasi plastik yang pernah dilakukannya. Dia mengakui kalau hampir seluruh keluarganya pernah melakukan operasi untuk memperbaiki bentuk wajah mereka. Paling sedikit membuat doble eyelid. Kakak perempuannya menambahkan silikon padat ke payudaranya, membuat ukuran B kecilnya jadi tiga kali lipat lebih besar. Bahkan menyebut kakak iparnya telah dibodohi kakaknya dengan dua benda palsu itu. Seperempat jam kemudian suara Kyuhyun menghilang, suasana jadi sunyi, mereka berdua tertidur.
Seperti ada alarm yang dibunyikan bersama di kepala Kibum dan Kyuhyun, mereka bangun bersamaan selang beberapa menit. Tergeragab dan linglung. Satu mencari berkasnya, satu lagi mencari kunci Inggris. Setelah menemukan satu sama lain, memandang satu sama lain, libido mereka meningkat, lalu cumbuhan diteruskan.
"Kau pemilik rumah sebelah, ya?' tanya Kibum sambil tangannya mengelus sisi tubuh Kyuhyun. "Ayo bercinta!"
"Stttt sstttt!" Kyuhyun meletakkan telunjuknya di depan mulut. "Kibum, ada yang menyentuh bokongku!"
Itu racauan terakhir yang keluar dari mulut mereka. Selebihnya sudah berganti dengan desahan dan erangan. Sesekali jeritan, dan lenguhan nikmat.
Kyuhyun ingat kalau Kibum lelaki, tapi dia tidak ingat ke mana seharusnya lelaki itu menelusupkan kelelakiannya. Sakit iya, tapi enak juga iya. Menolak dalam keadaan keenakan jelas sesuatu yang tidak bisa dilakukan Kyuhyun. Setiap kali Kyuhyun diajarkan kalau harus bersakit-sakit dulu sebelum mendapatkan enaknya, setiap kali itu pula dia mematuhinya. Toh, beberapa kali dia dapat servis lebih memuaskan dari pasangan bercintanya sekarang. Mulut lebih lebar, lidah lebih terampil, dan hisapan lebih kuat. Apalagi yang kurang?
Benda tumpul yang beberapa kali menerobos lubang bawahnya serasa mengganggu, tapi Kyuhyun tidak mengatakan apa pun. Setidaknya menyimpannya dulu sampai kegiatan mereka selesai. Ketika suara seseorang mengatakan 'Aku keluar, Kyu!' lebih dari tiga kali dalam semalam, Kyuhyun baru ingat kalau itu suara Kibum. Makanya dia menyahutnya juga, 'Aku belum, Kibum. Bantu aku!' seakan mereka sama-sama tahu kalau sedang berhubungan badan berdua.
Tidak ada tenaga lagi. Tidak ada sisa alkohol yang bisa membantu mereka berdiri lagi, maka dari itu mereka memutuskan selesai.
"Benda tumpul apa yang masuk lubangku tadi?" bisik Kyuhyun ke dekat telinga Kibum sebelum mereka memejamkan mata.
"Mungkin punyaku!" jawab Kibum.
Lalu mereka benar-benar terlelap.
Dominan
Siang. Sangat siang malahan.
Ketika Kyuhyun mulai bangun, dia merasakan ada sesuatu di celananya. Di atas bagian itunya. Hangat, besar,... kelihatnnya tidak hanya satu. Kyuhyun takut laba-laba atau tikus yang bertengger di sana. Benar-benar gila kalau sampai ada hewan tertarik dengan kelelakiannya. Sekarang hewan itu sedang diam, tapi kalau dia bergerak sedikit, takut-takut digigit. Itunya kena racun, kemudian tak bisa dipakai lagi. Maka dari itu, pelan-pelan dia membuka selimutnya, mengintip dari atas untuk memastikan. Hewan apa pun itu akan diatasinya nanti setelah mengetahui jenisnya.
Mengintip, tapi tidak begitu jelas. Melebarkan selimut, Kyuhyun baru tahu kalau itu bukan laba-laba atau tikus. Lega mendapati kenyataan itu. Hanya tangan dengan jari-jari panjang dan besar, bukan sesuatu yang berbisa. Tapi... tangan siapa?
Melempar selimut itu dan mendapati tangan beserta pemiliknya tengah berada tepat di sampingnya. Kibum telanjang di sana, tangannya menyentuh ke daerah sentitifnya. Kyuhyun takut sesuatu akan terjadi. Dia melompat menjauh. Turun dari rajang sambil berteriak. Sial, ada yang sakit. Kemungkinan sesuatu itu sudah terjadi.
"Ada apa?" Kibum terbangun dengan keadaan linglung. "Ada apa?" tanyanya lagi.
Ketika muka Kibum sudah mengarah kepadanya, Kyuhyun mulai bereaksi. "Sialan kau!" umpat Kyuhyun yang kemudian membawa tubuh telanjangnya ke kamar mandi.
.
.
"Dari tadi kau menggerutu terus. Tidak bisa berhenti dulu, apa?"
"Sialan kau!" umpatnya lagi.
"Aku tidak ingat, kau tidak ingat, kenapa harus diributkan?"
"Kau memperkosaku!"
Kibum yang berada di dekat jendela, mengawasi rumah Kyuhyun dari dalam kamar itu mengernyit tak suka. "Sudah kubilang definisi memperkosa itu berbeda..."
"Tidak usah diulang, aku tidak lupa!"
"Habis kau membahasnya terus." Kibum menyibak gorden, mengintip lagi ke rumah Kyuhyun. "Aku baru melihat beberapa yang sudah pulang. Kurasa Donghae dan beberapa lainnya masih di sana."
Permainan apa yang diikuti Kyuhyun semalam. Gara-gara dia kalah terus, dia harus minum banyak dan telanjang di hadapan semua orang. Di kamar ini pun Kyuhyun hanya menemukan celanan dalamnya saja, sedangkan Kibum bisa menemukan pakaian lengkapnya, minus kaos yang tak bisa dipakai karena bau alkohol. Tidak tahu jam berapa permainan itu berakhir, Kyuhyun tidak sadar sepenuhnya. Dia ingat Kibum merangkulnya sambil berjalan ke sana kemari, mana tahu kalau akhirnya sampai ke rumah ini. Tidur di kamar ini. Dia khawatir saat Kibum mengajaknya ke rumah ini, melewati pintu depan, ada orang yang melihatnya.
"Aku akan ke sana. Kuambilkan baju untukmu!"
"Jangan!"
"Kenapa? Kau mau berjalan dari sini ke sana hanya dengan celanan dalam?"
"Biarkan mereka pulang semua!" Kibum mendengus. Melempar tubuhnya ke sofa dekat jendela. Kyuhyun terus meliriknya tajam dari balik selimut, membuatnya tambah gerah saja. "Aku tak mau mereka mengira kita tidur bersama."
"Kita memang tidur bersama. Mereka tak akan peduli dengan hal itu."
"Karena mereka tahu kau gay." Dia frustasi bicara dengan Kibum. Memang seharusnya tidak dekat-dekat dengan lelaki itu. Apa yang dipikirkannya soal Kibum tidaklah sesuai kenyataan. Kibum tak akan tertarik padanya, memang, tapi tidak mencegah Kibum menginginkan tidur dengannya. Lelaki itu tengah rindu bercinta, sekarang dia jadi korban, kan? Sial memang. "Tapi aku bukan gay!"
"Tidur denganku sekali bukan berarti kau berubah jadi gay. Lagipula kenapa terlalu meributkan hal yang sudah terjadi? Tidak ada gunanya!" Kibum melengos menghindari tatapan tajam Kyuhyun yang rasanya bisa menusuk langsung ke dada. "Anggap saja kau membantu memenuhi keinginanku untuk tidur dengan pemilik rumah ini."
"Enak saja kau bilang begitu."
"Walau aku tak ingat apa yang terjadi semalam, kurasa memang enak." Kibum menyembunyikan ringisannya. Baru sekali dia tidur dengan lelaki straight, lucu juga, tapi agak menakutkan. Kalau Kyuhyun tidak merasakan sakit di sekujur tubuhnya, dia yakin sudah tamat sekarang ini. "Maaf, aku benar-benar tidak ingat!" ucap Kibum tidak tulus.
"Maaf maaf kepalamu itu!" bentak Kyuhyun.
Dominan
Kyuhyun menemukan beberapa potongan pazzel yang hilang dari kasus Kibum dan Donghae. Dia juga berhasil menyatukannya, kemudian menarik kesimpulan yang sedikit banyak membuatnya takut. Semua temuannya itu berkaitan dengan keluarga besarnya.
Dia pergi ke perusahaan induk, menemui ayahnya, juga paman-pamannya di sana. Berdalih menginginkan referensi kerja sama bisnis, dia pergi ke ruang arsip dan mencari berkas masa lalu. Kyuhyun menemukannya, hubungan kerja dengan perusahaan keluarga besar Lee. Ada masalah dicatat di berkas itu, tidak dijelaskan secara detil, tapi samar-samar Kyuhyun bisa menangkap maksudnya. Menggunakan orang luar untuk menutupi kesalahan bersama. Agaknya itu ada hubungannya dengan Kibum dan Donghae. Kyuhyun akan menyelidiki keluarga Lee juga sekarang.
"Agaknya ada berita bagus yang akan kau sampaikan pada kami," Kibum yang baru datang, berdiri di dekat Kyuhyun langsung melingkarkan lengannya ke leher lelaki itu. "Kemajuan tampaknya..." Seperti sudah terbiasa dengan adegan itu.
Kyuhyun menyingkirkan lengan Kibum. Karena ada Donghae, dia melepaskannya begitu saja, walau sebenarnya ingin melempar lengan Kibum dengan tenaga besar. Dia tidak mau kebenciannya terhadap Kibum membongkar kejadian minggu lalu yang disimpannya rapat-rapat.
"Keluarga Lee yang kucurigai," Kyuhyun mengeluarkan gambar silsilah keluarga besar Lee. Menggelarnya di meja di hadapan Donghae, Kibum, dan tentu saja Remi. "Kalau kau memang memperkosa salah satu anak gadis mereka enam tahun yang lalu, ada tiga yang masih di bawah umur. Lee Soo Young, Lee Tae Ri, dan Lee Sungmin."
"Lee Sungmin? Dia laki-laki, seniorku di universitas dulu," ralat Remi. "Mungkin yang kau maksud Lee Sung jin. Itu adiknya Sungmin."
"Oh, mungkin itu."
Foto yang dilihat Kyuhyun, Sungmin terlihat seperti gadis tomboy yang manis. Wajahnya kecil, begitu juga tubuhnya, jadi dia mengira itulah anak gadis Lee. Hanya sekilas melihatnya tadi, tidak sempat cross ceck ke lembaran data.
"Aku kenal kalau keluarga Lee yang ini. Selama lebih dari 10 tahun keluarga kami dekat, makanya aku juga dekat dengan mereka." Remi menerangkan pada tiga lelaki di sekitarnya. "Setahuku tidak ada masalah dengan ketiga gadis itu dalam kurun waktu 10 tahun ini. Atau jangan-jangan Kibum memang memperkosa seseorang dari keluarga Lee. Bukan anak gadisnya, tapi anak lelakinya. Lee Sungmin."
Kibum, Donghae, dan Kyuhyun mengernyit bersamaan. Teori Remi berlebihan. Masak keluarga mereka tega menyebut Sungmin sebagai anak gadis, gadis di bawah umur pula. Sedangkan umur sebenarnya jauh lebih tua dari mereka semua yang ada di ruangan ini. Tidak masuk akal.
"Oh iya, aku lupa. Sungmin ahli bela diri. Tidak mungkin kalau saat mabuk Kibum memperkosanya." Remi menyengir sangat lebar. "Yang lebih kuat darimu saja tumbang olehnya, apalagi kau. Mati pasti!" katanya pada Kibum.
Kibum agak marah, siap menempeleng sepupu Donghae itu, tapi Donghae mencegahnya. Menepuk pundaknnya berkali-kali agar Kibum tenang.
"Kalau anak gadis keluarga Lee tidak pernah mengalami kejadian apa pun dalam kurun waktu 10 tahun ini, Lee Sungmin juga tidak mungkin bisa diperkosa, berarti memang tidak ada kasus perkosaan dan tabrak lari. Kemungkinan kalian berdua jadi kambing hitam dalam kegagalan bisnis mereka."
"Memang ada yang seperti itu?"
"Kami," Kyunhyun menepuk dadanya sendiri, seakan memberitahu ketiga orang itu tentang statusnya. "...orang-orang kelas atas, terkadang melakukan itu demi bisnis. Tapi pastinya kalian akan dapat ganti rugi yang besar sekali."
"Kita tidak dapat apa-apa selain kehilangan waktu saat dipenjara!" aku Donghae. "Berarti keluarga Lee ini memang kejam. Memperlakukan nasib orang kecil seperti mainan saja!"
"Oppa, kurasa keluarga Lee tidak sebegitu buruk," bela Remi. Setidaknya teman-temannya dari keluarga Lee memang tidak buruk.
"Kau hanya tidak tahu permainan orang kelas atas," potong Donghae.
Setelah semua kembali diam, Kyuhyun melanjutkan.
"Orang suruhanku berhasil menemukan bukti dan sudah menduplikatnya. Saksi juga sudah ditemukan. Minggu ini aku akan bertemu dengan orang-orang itu. Semoga setelah ini masalah yang pernah menimpa kalian ketahuan motifnya." Kyuhyun melirik Kibum. Yang dilirik mengernyitkan dahi, seakan bertanya kenapa dia dilirik seperti itu? "Kubawa copy-an berkas yang ada hubungannya dengan kasus kalian. Baca saja, siapa tahu kalian menemukan teori lain!"
Berkas tebal dikeluarkan Kyuhyun dari dalam tas kerja. Diletakkan di meja, dan disorokkan ke hadapan Donghae. Donghae sempat mengeluh dengan banyaknya berkas itu. Berdalih sakit kepala kalau berhadapan dengan kertas-kertas tebal, tapi Remi berjanji membantu membacanya.
"Sekali lagi kuingatkan, kalian akan terkena masalah lebih besar kalau sampai menuntut balas." Kyuhyun diangguki Donghae dan kawan-kawannya. "Aku akan ke toilet sebentar!" Dengan cepat Kyuhyun menghilang dari ruangan itu.
.
.
Kibum tiba-tiba sudah bersandar di dinding dekat Kyuhyun, matanya tengah memandang pada bagian bawah Kyuhyun yang tengah melakukan proses buang air kecil. Kyuhyun terperanjat, sampai hampir malarikan diri.
"Sialan!" umpat Kyuhyun. "Lihat apa kau? Hadap belakang!"
Kibum membalik badan.
"Kenapa tadi kau melirikku seperti itu? Ada yang mau kau katakan padaku?"
"Memangnya tidak boleh melirik orang?"
Kibum berdehem. "Lirikanmu selalu punya maksud."
Mendengar zipper di naikkan, berarti Kyuhyun selesai dengan proses buang air kecilnya, Kibum berbalik lagi. Kyuhyun menekan tombol flash sebelum berpindah ke tempat cuci tangan. Kibum mengikutinya ke tempat itu.
"Jangan melakukan kontak fisik yang berlebihan di depan orang-orang, terutama teman-temanmu yang tahu kau penyuka sesama jenis," pinta Kyuhyun tanpa memandang ke arah Kibum. "Nanti mereka mengira kita pasangan."
"Biasanya aku begitu dengan teman-temanku, mereka bersikap biasa. Kau saja yang berlebihan."
"Berarti teman-temanmu juga gay," celetuk Kyuhyun seenaknya.
"Sebagian," jawab Kibum santai. "Donghae saja sekali dua kali memasukkan namja sebagai kandidat teman tidurnya."
Wah, Kyuhyun salah besar telah bertemu dengan mereka. Remi ternyata bukan membawanya ke arah kebaikan, tapi keburukkan. Tidak pantas wanita itu dapat hadiah darinya lagi.
"Kalau mau masalahmu dibongkar, jangan dekat-dekat denganku!"
Kibum mengangkat kedua tangannya, kemudian mundur beberapa langkah. "Segini sudah jauh?" Namun Kyuhyun mengumpatinya. Bukan itu yang dimaksud. "Eh, nanti malam aku menginap di rumahmu. Sebagai permintaan maaf akan kubawakan apple pie dari toko tetanggaku. Itu hand made, enak dan bersih. Kujamin kau akan suka."
"Kau sedang minja ijin untuk menginap atau sekedar memberi tahu?"
"Aku memberitahu. Karena sering menginap, seharusnya rumahmu itu sudah boleh kuanggap rumah sendiri." Kyuhyun tak bisa berkata-kata lagi kecuali mendengus dan mengumpat-umpat. Kyuhyun tidak seramah sebelumnya sejak kejadian itu. Kibum maklum, tapi masih tak habis pikir lelaki itu bisa bertingkah seperti Remi kalau sedang bad mood paska menstruasi. Kibum dan Donghae sering sekali diomeli wanita itu. "Kalau kau tak mau ketahuan, seharusnya sikapmu wajar saja. Tidak usah dibahas terus, toh, kita sama-sama tak ingat. Kecuali kalau aku memang memperkosamu, kau boleh memusuhiku."
"Terserah aku mau bersikap seperti apa. Pergi sana, aku muak melihat mukamu!"
Gestur yang ditampakkan Kibum hendak berbalik dan pergi dari toilet itu, Kyuhyun sudah lengah malahan. Namun lelaki itu tidak benar-benar pergi, berbalik cepat, mencekali kedua pipi Kyuhyun dan menciumnya. Sebelum Kyuhyun sempat merespon, Kibum berlari keluar sambil tertawa-tawa.
"Bangsat kau, Kibum!" teriak Kyuhyun yang kemudian harus mencuci bibirnya yang bau bibir Kibum. Takut terkontaminasi virus dari lelaki itu, mungkin.
To be continue
Sampai jumpa lain waktu.
