DOMINAN

Terima kasih untuk review-nya. Maaf postingan kali ini telat dan akan telat lagi di postingan selanjutnya. Semoga berkenan menunggu.

Selamat membaca!

Cast: Kyuhyun, Kibum

Genre: Romance

Rate: M

Summary:

Awalnya Kyuhyun percaya bahwa dirinya lelaki dominan. Dia pintar, kaya, tampan, berbadan bagus, dan digilai banyak wanita. Namun setelah bertemu Kibum, perlahan-lahan dominasinya menghilang. Dan ketika satu kejadian di masa lalunya muncul di permukaan, Kyuhyun tak lagi dominan. Kibum telah mengambil alih statusnya, dan paling parah mengambil alih hatinya.

Denial

Diperkosa Kibum kemudian ditabrak Donghae?

Tidak mungkin. Kyuhyun sama sekali tak ingat bagian itu.

Kibum dan Donghae sudah ditendangnya keluar setelah dengan tidak masuk akalnya minta maaf karena menurut mereka telah memerkosa, menabrak lari, dan membiarkan Kyuhyun selama ini hidup dalam kesedihan. Apanya yang sedih? Kyuhyun bahagia dengan hidupnya, sangat bahagia malah. Dia punya posisi yang bagus di perusahaan keluarga. Dia punya uang banyak. Dia dikenal banyak orang. Dia digilai wanita. Mananya yang terlihat menyedihkan?

Kibum dan Donghae mulai gila menurut Kyuhyun. Makanya ketika dua orang itu terus menggedor pintu rumahnya, Kyuhyun pura-pura tidak dengar apa pun.

.

Hari sabtu pagi ketika seisi rumah sedang bersantai, sebagian masih tidur, Kyuhyun sudah berada di depan pintu rumah keluarga. Disambut baik oleh pembantu-pembantu dan disambut tidak baik oleh adiknya. Pasalnya Kyuhyun menerobos masuk kamar Cho termuda di keluarganya itu, kemudian menyeret adiknya yang masih tidur nyenyak untuk diajaknya jogging. Tentu saja adiknya protes. Kan, dia sudah menolak ajakan Kyuhyun tempo hari, kenapa Kyuhyun berkeras mengajaknya?

"Pagi-pagi sudah ada di sini. Ada perlu apa, Kyu?"

Kakaknya yang juga pagi-pagi ada di sini, harusnya Kyuhyun bertanya balik. Namun, setelah melihat perut buncit kakaknya, lalu teringat kata-kata wanita itu, kalau dia hamil akan tinggal dengan keluarga sampai anaknya lahir. Tipe-tipe wanita yang tidak mau mandiri, tidak mau jauh dari ibunya. Tetapi kata ibunya, sudah wajar kalau wanita hamil akan pulang ke rumah orang tuanya dan melahirkan ditemani ibu. Maka dari itu Kyuhyun urung untuk bertanya.

"Menemui Oemma."

"Oemma ada di dapur. Sedang membuat makanan kesukaanku."

Kakaknya sangat manja, apalagi sekarang dengan perut buncit itu akan lebih manja lagi. Ibunya sangat menyayangi satu-satunya anak perempuan dalam keluarga ini. Bukan berarti ibunya tidak menyayanginya dan adiknya, hanya saja kasih sayang ibunya yang berlebihan terhadap kakak perempuannya itu seakan jadi pernyataan bahwa hanya kakaknya saja yang bisa memberi keturunan untuk keluarga Cho. Kyuhyun bisa, dia adalah lelaki yang suka wanita dan lelaki yang digilai wanita. Mudah baginya memberi cucu untuk keluarga. Adiknya juga bisa, dengan syarat Cho terkecil di keluarganya itu lupa ingatan dan tidak berperilaku seperti wanita.

Ngomong-ngomong soal lupa ingatan dan berubah menjadi laki-laki sejati, itu seperti membicarakan dirinya. Kyuhyun perlu tahu benarkah apa yang dikatakan Kibum dan Donghae itu pernah dialaminya? Meski separuh otaknya menyatakan kalau perkataan dua teman barunya itu tidak mungkin terjadi, ada kesangsian dalam dirinya.

"Noona," Dia mencegah kakaknya yang akan menjauh, memaksa wanita itu menoleh padanya. "aku ingin meminta saranmu." Berhenti sejenak untuk melihat reaksi kakaknya, beruntung kakaknya masih menunggu. "Aku ingin mengenalkan kekasihku pada kalian, tapi ini akan sedikit mengejutkan."

"Kenalkan saja!" kata kakaknya spontan. "Tidak akan semengejutkan kalau kau membawa kekasih serupa adikmu," tambahnya sambil pasang tampang masa bodoh.

Wanita yang lebih tua beberapa tahun dari Kyuhyun itu mengelus perut buncitnya naik turun. Tidak meninggalkan adiknya, tapi tidak memberinya perhatian. Setelah beberapa saat tak mendengar sangkalan, dia mulai fokus. Memperhatikan adiknya yang juga memperhatikannya balik.

"Atau kau memang mau memperkenalkan kekasih yang menyerupai adik salah gaulmu itu?" Kakaknya mengernyit, tidak takut, hanya sedikit penasaran.

Kyuhyun berani bertaruh kalau kakaknya sudah terbiasa melihat hubungan sesama jenis. Sudah bisa menebak kalau sebenarnya kakaknya itu tahu sesuatu. Sesuatu yang menyangkut kejadian enam tahun lalu. Dengan memancing ke percakapan barusan, Kyuhyun mengarahkan pembicaraan ke keadaan dirinya zaman dulu.

Kyuhyun menggeleng ambigu.

"Kalau kau juga penyuka sesama jenis setidaknya jangan memacari lelaki yang bertingkah seperti perempuan, seperti adikmu itu!" Kakaknya berkata lagi seakan anak bungsu di keluarga Cho hanya adiknya Kyuhyun seorang, tidak merangkap sebagai adiknya juga. "Meski penampilanmu sudah berubah dari yang dulu, bukan berarti kau berubah soal kesukaan hati. Begitu kan maksudmu?"

Cengiran kakaknya membuat Kyuhyun menarik satu kesimpulan baru, bahwa dirinya dulunya memang sudah jadi penyuka sesama jenis. Dan kenyataan itu membuatnya sedikit sakit hati. Apa dia pernah punya hubungan dengan Kibum? Apa dia pernah menolak lelaki itu hingga berakhir diperkosa? Lalu Kibum menyuruh Donghae menabraknya demi membalas sakit hati karena telah ditolak?

Ah, rasanya tidak mungkin. Kyuhyun harus menyangkal semua kesimpulan dadakannya itu.

"Sejarah keluarga kita tidak jauh dari hubungan sesama jenis." Ya, Kyuhyun tahu. Ada beberapa anggota keluarga besar Cho yang memiliki pasangan sejenis. Hebatnya, mereka yang punya pasangan sejenis itu lebih mendominasi di keluarga besar. Memiliki kepintaran berlebih, kekayaan berlebih, dan ketenaran berlebih pula. Kyuhyun sendiri heran, mereka yang berpasangan sejenis tidak mendapat perhatian darinya. "Seperti yang kubilang tadi, asalkan kau membawa lelaki yang tepat, tidak akan jadi masalah. Coba bawa dia ke sini!"

"Aku tidak bilang kekasihku itu lelaki juga."

"Tapi kau tidak menyangkal ketika kukatakan sebagai penyuka sesama jenis."

Kyuhyun mendesah sebentar sebelum akhirnya berkata, "Enam tahu lalu masalahnya..."

"Kau mengingatnya?" Kakaknya agak khawatir. "Apa pun yang terjadi padamu itu musibah. Musibah bisa menimpa siapa saja. Kalau tidak ada kejadian itu, kau tidak bisa setegar ini sekarang!" katanya sambil menunjuk perawakan Kyuhyun, naik turun. "Kyu, kami menyayangimu. Kalau ada orang yang menyukaimu, dia juga harus menyayangimu seperti kami menyayangimu. Itu baru benar."

Seacuh-acuh seorang kakak, dia tetap menyayangi adiknya. Itu ditunjukkan kakak Kyuhyun sekarang ini. Wanita itu berjalan ke arah Kyuhyun, memeluknya sejenak, kemudian menepuk-nepuk lengan adiknya sebelum menjauhkan diri.

"Kau tidak akan kalah dengan masa lalu, kan?" Kyuhyun mengangguk mantap. "Bagus. Aku yakin kau bisa mengatasi semuanya. Kekasihmu, kalau dia benar-benar menyukaimu, tidak akan mundur meski kau pernah punya masa lalu yang rumit."

Kakaknya menepuk lengan Kyuhyun lagi, kemudian pergi. Sepertinya ke ruang makan, menunggu makanan kesukaannya selesai dibuat oleh ibunya.

Sejujurnya Kyuhyun tidak ingat apa pun tentang kejadian yang menimpanya enam tahun lalu. Apa yang dikatakan kakaknya barusan telah jadi pembenaran pada keterangan Kibum dan Donghae. Mengingat siapa dirinya sekarang, perkosaan adalah hal yang tidak pernah terlintas di otaknya. Ditambah tabrak lari. Sesuatu yang tak bisa dimaafkan oleh Kyuhyun sendiri. Kalau dia bisa ingat kejadian itu, dia pasti dendam, dan akan membalasnya lebih kejam. Beruntung dia tak ingat. Entah kesakitan, putus asa, sakit hati, atau dendam, perasaan seperti itu tak sedikit pun tertinggal di dirinya. Dia hanya merasa malu kalau memang benar Kibum pernah memerkosanya.

Berniat mencari informasi tambahan, dia menemui ibunya namun tak mendapati keterangan apa pun. Ayahnya dan pengacara keluarga bungkam, sampai kapan pun tetap akan seperti itu. Dan adiknya hanya tahu tentang kejadian tabu enam tahun lalu tanpa tahu kejelasannya. Sama sekali tak membantu. Lalu dia pergi ke dokter bedah plastiknya untuk mencari tambahan keterangan.

"Kau lupa ingatan sebelum operasi itu dilakukan. Sepertinya trauma akan sesuatu." Dokternya memberi tahu sambil membuka file lama sebelum ditunjukkan pada Kyuhyun. "Keluargamu bilang kau tertekan dari bully-an teman-temanmu, makanya kau menginginkan perubahan total di wajah. Mengubah penampilan dan gaya hidup." Lalu dokter menyodorkan foto wajah Kyuhyun sebelum operasi, CT scan wajah, dan beberapa lembar berisi keterangan lain. "Setidaknya begitu yang kudengar dari Dokter Nam. Dia dokter senior yang mengoperasimu, aku hanya asisten saja saat itu."

Setelah melihat fotonya, Kyuhyun ingat foto itu kapan diambilnya. Itu sehari setelah dia ulang tahun, tentu saja bukan sehari saat dia akan dioperasi. Dia mengutarakan itu pada dokter, dan dokter langsung mengutarakan hal lainnya. Bahwa sebenarnya dokter juga curiga dengan gambar-gambar itu. Wajah Kyuhyun yang di foto, tidak sama dengan foto tengkoraknya. Keterangan-keterangan dalam lembaran itu juga berbeda dengan keadaan saat Kyuhyun diopersi dulu. Karena dulu dia hanya dokter pendamping, dia tak berkata apa pun ketika Dokter Nam melakukan bedah plastik pada Kyuhyun. Padahal dia tahu ada beberapa pembenahan tulang di wajah Kyuhyun yang dimaksudkan untuk memperbaiki kerusakan. Juga ada pembetulan syaraf. Sedikit banyak operasi tersebut membuat dokter curiga.

"Kurasa memang ada yang terjadi padamu sebelum operasi itu dilakukan." Kyuhyun juga percaya itu. Perkosaan dan tabrak lari adalah penyebabnya. Hanya saja Kyuhyun tak mau membahas itu dengan dokternya. "Sebuah kerusakan terjadi di wajahmu. Dokter Nam tak membahasnya denganku. Hanya dengan dokter-dokter khusus yang saat itu jadi partnernya."

Dokter Kyuhyun tak bisa menjelaskan lebih lanjut tentang keadaannya dulu, tapi beliau menyarankan untuk menemui Dokter Nam untuk kejelasan operasinya. Sayangnya dokter senior yang menangani operasinya itu tak memberi keterangan memuaskan saat Kyuhyun mengunjunginya.

Dominan

Ada puluhan panggilan yang masuk ke nomornya. Kesemuanya dari Kibum dan Donghae. Kibum sendiri menghubungi nomor Kyuhyun minimal sepuluh kali sehari. Belum lagi pesan singkat yang dikirimnya. Hanya demi bisa bertemu Kyuhyun dan menjelaskan duduk permasalahan yang membuat hubungan mereka renggang. Namun tak satu pun dari pesan itu yang dibalasnya.

Ini hari ke sekian Kyuhyun menghiraukan Kibum. Rasa jengkelnya yang mendarah daging setelah penyataan Kibum dan Donghae soal perkosaan dan tabrak lari itu, berangsur-angsur menghilang. Toh, Kyuhyun tak ingat juga kejadiannya. Seolah otak Kyuhyun dikunci mati untuk dua masalah itu. Setelah tak ada yang bisa dilakukannya, Kyuhyun meraih handphone. Mengecek apa yang ada di sana.

Dari adiknya.

Hyung, besok makan malam di rumah utama. Jangan lupa bawa kado untukku!

Pesan itu dikirim kemarin. Ulang tahun adiknya hari ini. Kyuhyun tidak lupa, hanya tiba-tiba malas kalau malam ini harus datang ke rumah utama kemudian bertemu keluarganya. Mereka tak mau membuka mulut soal kejadian yang menimpanya enam tahun lalu. Kyuhyun tahu itu demi dirinya sendiri, tapi dia merasa janggal kalau belum tahu kisah sebenarnya. Lagipula Kyuhyun tak punya kado apa pun untuk adiknya. Rumah sebelah yang sudah disiapkan, rasa-rasanya tidak ihklas untuk diberikan. Bukan karena Kibum juga menyukai rumah itu, tapi... Entahlah, Kyuhyun tidak ihklas saja.

.

Dari Kibum.

Kita butuh bicara, sekarang!

Itu isi pesan terakhir yang Kyuhyun buka. Selain kata-kata maaf dan janji untuk bertanggung jawab, kalimat ingin bicara itu juga dituliskan berulang oleh Kibum. Memangnya apa yang akan dibicarakan Kibum? Tentang perkosaan terhadap dirinya? Agaknya aneh kalau dua lelaki membicarakan perkosaan yang pernah terjadi di antara mereka. Dan Kyuhyun malu meski sejujurnya dia ingin tahu kejelasannya.

Kyuhyun baru meletakkan handphone di meja ketika sesuatu terlempar mengenai kaca jendela kamarnya. Dua kali. Kyuhyun mengira ada orang gila yang mulai cari gara-gara dengan pemilik rumah di kawasan elit ini. Dan orang gila itu Kibum, yang kemudian menyengir lebar ketika Kyuhyun melongok ke bawah kamarnya.

"Jadi begini cara menarik perhatianmu?" teriak Kibum dari bawah lantai kamar Kyuhyun.

Melempar kerikil ke jendela kaca kamar agar si empunya melihatnya.

"Begitu caramu bertamu ke rumah orang?" tanya balik Kyuhyun.

"Habis, kau tak menjawab telepon dariku, tak membalas pesan, dan tak mau membuka pintu tiap kali aku kemari." Kibum berkacak pinggang. Dia menunduk untuk menunjukkan tangga lipat yang dibawanya entah dari mana. "Aku akan masuk lewat balkon kamarmu kalau kau tak mengizinkanku masuk lewat pintu depan!" lalu memberdirikan tangga dan memasangnya tepat di depan Kyuhyun yang berdiri di balkon kamarnya.

Hanya memperhatikan ketika tangga lipat itu membentur besi di depannya. Sampai Kibum memanjat satu demi satu anak tangga, meraih pinggiran besi pembatas balkon kamarnya, kemudian melompat tepat di depannya. Kyuhyun hanya melipat tangan, kemudian mendengus keras ketika Kibum meringis ke arahnya.

"Memang harus dengan cara ini, ya?"

Kyuhyun tak menyahut. Berjalan ke kamar diikuti Kibum.

"Jadi kau mau bicara apa denganku?"

"Minta maaf."

"Kau sudah minta maaf puluhan kali. Mungkin ratusan kali dengan pesan yang kau kirim tiap harinya itu!" Kyuhyun jengah.

"Kalau kau membacanya, kenapa tidak membalas pesanku?" Namun Kyuhyun hanya mengendikkan bahu, seakan permintaan maaf Kibum bukan sesuatu yang penting untuk dipikirkannya. "Sekarang aku mau menawarkan tanggung jawab padamu."

Kyuhyun berjalan ke ranjangnya, tapi Kibum mendahuluinya. Melempar tubuhnya sendiri ke kasur empuk yang hampir seminggu ini tidak dijamahnya. Seperti rumah sendiri, begitu yang dirasakan Kibum tiap kali menginjakkan kaki di kamar Kyuhyun. Sayangnya si empunya kamar tidak tertarik dengan tingkah Kibum.

"Kemari!" Kibum mengaba Kyuhyun untuk bergabung dengannya, tapi tak ditanggapi. "Ayolah, Kyu. Kau bukan lagi anak kecil untuk merajuk seperti ini."

"Aku tidak sedang merajuk!" sangkal Kyuhyun.

Kibum menyerah, bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa ternyata tidak ditanggapi Kyuhyun. Dia mendudukkan diri dan mulai bersikap tenang. "Kalau tidak merajuk, sini, duduk denganku!" pintanya lagi yang kali ini dengan menepuk tempat di sebelahnya. "Aku tahu kau bingung dengan pernyataan yang telah kubuat dan Donghae waktu itu. Kami pernah menyangkal perkosaan dan tabrak lari, tapi akhirnya mengakui juga."

Ya, itu juga yang sebenarnya jadi pertanyaan Kyuhyun. Kenapa mereka tiba-tiba mengatakan kalau dialah korbannya sementara enam tahun ini mereka tidak mengingatnya sama sekali?

"Aku akan jelaskan."

"Jelaskan sekarang!"

"Akan lebih enak kalau kau duduk dulu," pinta Kibum sambil kembali menepuk tempat di sisinya. Kasur empuk yang sekarang didudukinya, tapi masih ditolak Kyuhyun. "Baiklah kalau kau tak mau duduk denganku."

Sebelum Kibum mulai bicara, Kyuhyun memutuskan duduk. Bukan di sebelah Kibum, tapi di sofa yang berjarak cukup jauh dari ranjangnya. Kyuhyun bukan tidak mau duduk dengan Kibum. Lelaki itu telah memerkosanya, seperti yang dikatakannya sendiri, dan itu terjadi dua kali kalau kejadian di kamar rumah sebelah dihitung juga. Akan tampak lucu kalau dia mau duduk berdekatan dengan orang yang dua kali memerkosanya. Kyuhyun malu, itu masalahnya. Dia butuh jarak agar rasa malunya tidak tertangkap mata Kibum.

Kyuhyun sudah berjanji tidak akan terpengaruh dengan masa lalunya. Dia berubah fisik, pemikiran, dan gaya hidupnya, tidak akan ada lagi yang bisa menghalanginya. Demikian juga dengan Kibum beserta pernyataan yang akan dilontarkannya, sama sekali tak akan memengaruhinya.

"Pengusutan dan penyelesaian kasus yang tidak jelas itu membuat kita susah berfikir. Semua hal dimanipulasi, kau disembunyikan, tentu kita tak bisa mengingat apa pun." Kibum mulai menjelaskan dengan kalimat sederhana yang dia bisa lontarkan. "Tetapi ketika aku melihat foto lamamu, tiba-tiba aku ingat semuanya. Eee... tidak semuanya, tapi sebagian besar. Begitu juga dengan Donghae. Kau tahu kan, apa yang dilihat dan dilakukan manusia semuanya disimpan di otak. Hanya kadang-kadang tidak bisa ingat ketika memori itu dibutuhkan." Kibum bingung menjelaskannya. Dia tidak terlalu pintar mengolah kata-kata. Apalagi pembahasan yang membutuhkan kepintaran tingkat tinggi. "Apa ya namanya?"

Kyuhyun tidak menyahut. Dia hanya butuh mendengarkan. Memasang pose sekeren mungkin, berlagak tidak terpengaruh dengan omongan Kibum.

"Jadi begini..." Kibum mencoba memilih kata yang tepat, yang bahasanya halus agar Kyuhyun bisa menerimanya dengan lapang dada, tapi dia tidak bisa. Kosa katanya terlalu sedikit. Dan akhirnya dia memilih kata yang pertama kali muncul di otaknya. "...aku mabuk, memerkosamu, menyelimutimu dengan jaketku, lalu aku pergi mengambil sesuatu." Kibum tidak ingat sesuatu yang akan diambilnya itu. "Ketika aku kembali, kau tidak ada di tempat." Kyuhyun hendak menyahut, tapi Kibum menyerobot. "Aku yakin kalau kau tak pergi waktu itu, yang aku lakukan adalah bertanggung jawab."

Kyuhyun tidak jadi bicara.

"Donghae yakin saat kau pergi dariku, saat itulah dia menabrakmu. Dia minta maaf soal itu. Dia tak bermaksud kabur setelah menabrak..." tambahnya agak ragu-ragu.

"Oh!"

"Hanya 'Oh'. Tidak ada kata-kata lain?"

"Apa?" Kyuhyun mengangkat sebelah sudut bibirnya. "Lagi pula aku tidak ingat dengan semua yang kau dan Donghae lakukan padaku." Kyuhyun acuh. Sok acuh. Sejujurnya dia hanya tak ingin Kibum menganggapnya lemah. Kyuhyun yang sekarang bukankah sudah beda dengan yang dulu? Tidak ada yang perlu diributkan kalau memang dia tidak ingat. "Malah aku bersyukur karena perbuatan kalian di masa lalu, aku bisa menjadi seperti sekarang."

"Jadi kau tidak marah pada kami?"

"Tentu saja aku marah, tapi bukankah kalian sudah dapat hukuman?" Kyuhyun berdiri sekarang, tak mau berlama-lama berinteraksi dengan Kibum atau lebih tepatnya tidak tahu bagaimana berinteraksi dengan orang yang telah memerkosanya enam tahun lalu. "Aku tak bisa menuntutmu lagi, kan? Jadi, mungkin hukuman terbaik yang bisa aku berikan hanya... tak perlu berteman dengan kalian lagi." Dia berjalan ke meja dekat ranjang. Menarik satu laci lalu mengambil bungkusan kecil dari dalamnya. Kunci rumah sebelah yang telah dibungkus rapi, untuk hadiah ulang tahun adiknya.

Kibum melonjak. Berdiri dari ranjang sambil bertanya-tanya arti tidak berteman barusan.

"Anggap saja aku sudah memaafkanmu atau kejadian itu tidak pernah terjadi. Dan lupakan soal tanggung jawab yang kau tawarkan, aku sama sekali tidak tertarik."

"Kau tidak bisa begitu, Kyu!"

Kyuhyun menyeringai ketika mengambil kunci mobilnya di atas meja. "Aku akan keluar. Kuharap kau sudah tak ada di sini ketika aku kembali!" Keluar dari kamar, meninggalkan Kibum yang melongo sendirian.

Dominan

"Hyung, kau putus dengan dua kekasihmu itu?"

Kyuhyun menoleh pada adiknya. Senyumnya masih sama, cerah seperti ketika Kyuhyun menemuinya tadi sore. Apalagi tadi ketika Kyuhyun menyerahkan kado berupa kunci rumah, yang berarti rumah sebelah rumah Kyuhyun sudah jatuh ke tangan adiknya, Cho termuda di keluarganya itu tak berhenti tersenyum menjijikan. Kyuhyun masih tak rela, tapi dia sedikit lega kalau adiknya suka dengan hadiah darinya.

"Ini hari ulang tahunku, Hyung. Kau pasang muka jelek terus sepanjang acara. Foto keluarga kita jadi tak bisa dipasang di ruang keluarga karena kau tak tersenyum sama sekali tadi."

"Bukan urusanmu!" ketus jawaban Kyuhyun.

"Kalau itu menyangkut foto masa lalumu yang kutunjukkan pada dua kekasihmu, aku minta maaf. Aku hanya bercanda saat itu. Habis kau..."

"Sudah kubilang itu bukan urusanmu. Berhenti juga mengatakan mereka kekasihku. Aku tidak berkencan dengan orang tidak berkelas seperti mereka!"

Adik Kyuhyun menghembuskan nafas panjang. Mengendikkan bahu, kemudian menjauh dari kakaknya.

.

.

Kyuhyun telah membuat kesalahan fatal. Dia menghapus pertemanannya dengan Kibum dan Donghae, tapi akhirnya menyesalinya. Karena dia bukan tipe orang yang menjilat ludah sendiri, jadi tidak mungkin dia menarik kata-katanya. Begini akhirnya, seperti kehilangan sesuatu yang berharga.

Kalau boleh mereka ulang kejadian enam tahu lalunya, Kyuhyun hanya mendapat keuntungan besar pada akhirnya. Muka rupawannya yang sekarang, posisi bagusnya di perusahaan, kepiawaiannya beriteraksi dengan orang lain, kalau bukan karena perubahan besar-besaran setelah kejadian perkosaan dan tabrak lari, tidak mungkin Kyuhyun jadi seperti ini.

Entah dia telah dilecehkan Kibum kemudian ditabrak Donghae sampai cacat di wajahnya hingga butuh operasi plastik besar-besaran, Kyuhyun tetap tak ingat. Mau dikorek-korek sampai otaknya mengkerut juga tetap tak bisa ingat. Marah memang iya. Identitasnya disamarkan, jadi gadis dibawah umur dari keluarga lain, itu demi dirinya juga. Lalu untuk apa dia harus memutuskan pertemanan dengan dua orang itu? Karena malu pada Kibum, hanya itu alasannya. Tidak terlalu masuk akal.

"Kau bilang mau mengenalkan kekasihmu pada kami. Mana dia?" Kakaknya duduk pelan-pelan sambil memegangi perutnya. Sesekali bergumam 'ease, ease baby!' dengan mengelus gundukan besar di badannya. "Kau tidak seberani adikmu atau kau bersikap terlalu hati-hati?"

Adiknya membawa kekasihnya yang tempo hari dilihat Kyuhyun di tepi jalan raya. Diseret ke sana kemari, dikenalkan pada semua orang yang hadir di pesta ulang tahun yang hanya dihadiri keluarga besar. Padahal Semua orang tahu kalau namja itu malu minta ampun ketika harus mengenal satu demi satu anggota keluarga Cho. Namun adik Kyuhyun terlalu percaya diri bahwa yang dibawanya, dikenalkan pada keluarga, akan menjadi jodoh yang sebenarnya. Dan Kyuhyun tidak seberani itu. Tepatnya mempermalukan diri sendiri di hadapan keluarga besar kalau caranya seperti itu. Kyuhyun yang sekarang jelas tak akan melakukannnya.

Ngomong-ngomong Cho termuda yang sedang dibicarakan Kyuhyun dan kakaknya, sedang berduaan dengan kekasihnya. Berdiri di depan meja berisi makanan, menyuapi paksa kekasihnya dengan kue-kuean yang ada di hadapannya.

"Aku tidak seberani dia," aku Kyuhyun. "Dan aku masih berhati-hati. Setidaknya jangan sampai kekasihku merasa malu berhadapan dengan kalian." Masih memandang ke arah adiknya yang memaksa kekasihnya makan, Kyuhyun dan kakaknya bermain tebak-tebakkan. Sampai berapa lama hubungan dua namja itu bertahan? "Lagipula tujuan hubungan kita adalah untuk selamanya. Dikenalkan sekarang atau nanti tidaklah masalah."

Kakaknya tidak tahu kalau Kyuhyun berbohong soal kekasih. Dia belum punya, tapi mengaku punya. Kalau dia sudah menyusun kebohongan sedemikian bagus, dia pasti punya rencana. Setidaknya ada satu dua kandidat yang akan dipacarinya. Lelaki tentunya, seperti yang sudah disepakati di depan kakaknya.

"Baguslah kalau kau memperhatikan soal itu juga. Lebih baik dari pada gonta ganti pasangan dan akhirnya dicap sebagai namja murahan." Meski Kyuhyun tidak akan pernah dianggap murahan oleh orang lain karena status sosialnya, dia tetap harus memperhatikan bahwa bergonta ganti pasangan hanya akan merusak image-nya. Serta harus menghindari orang-orang yang mau dekat dengannya hanya karena dia berharta. "Mantapkan dulu hubungan kalian. Kenalkan dia kapan pun kau siap!"

Kyuhyun mengangguk setuju. Namun, ada beberapa hal yang masih ingin dia diskusikan dengan kakaknya.

"Noona, bagaimana cara agar tidak terlihat jual mahal atau terlalu murahan di hadapan orang lain?" Kakaknya spontan menoleh padanya. "Aku ada masalah sedikit dengan kekasihku."

"Agar tidak terlihat jual mahal atau terlalu murahan?" Kyuhyun mengangguk. "Maksudmu kekasihmu menganggapmu jual mahal?" Dan ketika Kyuhyun mengangguk lagi, kakaknya tertawa kecil. "Sudah sepantasnya kalau anggota keluarga kita bertingkah jual mahal, tapi ada benarnya kalau terus-terusan jual mahal nanti tak akan laku."

"Aku malu mengakui sesuatu padanya."

Dalam hal ini Kibum diibaratkan kekasih oleh Kyuhyun. Bukan tanpa alasan, lelaki itu sudah membuat dunianya jungkir balik. Lelaki itu juga yang membuat Kyuhyun menarik ulur hatinya. Suka atau tak suka. Berniat menjauhkan diri, tapi akhirnya rindu juga. Ada perasaan yang sebenarnya sudah bisa diidentifikasinya sebagai rasa suka, tapi dia masih menyangkal. Lagipula dia telah diperkosa lelaki itu, kalau dia mengaku tidak marah, tidak dendam, jelas Kyuhyun sinting. Atau Kibum akan berfikir Kyuhyun menyukai perkosaan yang dilakukan padanya.

"Kalau kau malu mengakui sesuatu, biarkan dia tahu apa yang ingin kau akui." Kakaknya sok jadi filosof, Kyuhyun tidak paham. "Bertingkah saja sewajarnya. Biarkan kekuatan pheromone bekerja." Kyuhyun mengangguk. Dia sudah mencoba bertingkah wajar, tapi berhadapan dengan Kibum kewajarannya berakhir tragis. Lelaki itu pintar sekali memainkan perannya meski dia sendiri tak sadar. Ujung-ujungnya membuat Kyuhyun salah dalam bersikap. "Pokoknya lakukan seperti biasanya. Kau tahulah cara supaya wanita-wanita itu mengejarmu, lakukan hal sama supaya lelakimu mengejarmu juga."

"Oh!"

"Memangnya hal apa yang tidak bisa kau akui di depan kekasihmu?" Kakaknya mencoba menebak. "Kau tak bisa mengatakan cinta padanya?"

"Bukan." Dia memutuskan berterus terang. "Hanya malu mengakui kalau aku butuh dia." Dan malu mengakui kalau dia sebetulnya tidak mempermasalahkan perkosaan dan tabrak lari yang terjadi padanya.

Dominan

Mobil Kyuhyun ditakdirkan mogok di jalanan yang sedang ramai-ramainya. Di suatu sore yang harusnya jadi waktu Kyuhyun bersantai di rumah setelah pulang kerja, dia dihadapkan dengan situasi seperti ini. Ditambah pemandangan yang membuatnya ingin mengelus dada, bukan mengelus dada karena prihatin, tapi mengelus dada karena lega. Kyuhyun merasa kejengkelannya menyusut secara singkat.

Kibum dengan kekasihnya, sepertinya sedang bertengkar. Kekasihnya menyudahi hubungan mereka, tapi Kibum tidak mau. Yang Kyuhyun dengar dari mulut Kibum sendiri bahwa hubungan mereka hanya untuk dua minggu, harusnya hubungan itu sudah berakhir dari kemarin-kemarin. Kalau Kibum berkeras ingin terus berpacaran, ada benarnya namja itu menolaknya. Kyuhyun menyetujui kalau namja itu meninggalkan Kibum di tepi jalan setelah dimaki-makinya, seperti yang dia lihat sekarang.

"Ada apa dengan mobilmu?"

Kyuhyun mengendikkan bahu.

"Biar kucek!"

"Tidak perlu. Aku sudah menelepon bengkel untuk mengirim mobil derek." Bukan bengkelnya Donghae. Kyuhyun sudah memutuskan pertemanan mereka beberapa hari lalu.

"Kau pulang dengan siapa? Biar kuantar saja. lebih cepat naik motor."

Kyuhyun menggeleng. Benar-benar tidak mau mengakui Kibum sebagai orang yang pernah dikenalnya.

"Kau serius tak mau berteman denganku lagi?"

"Apa aku pernah bicara tidak serius?" tanya Kyuhyun balik.

Kibum ingat temannya pernah berkata kalau Kyuhyun menaruh rasa padanya. Namja itu hanya tidak mau mengakuinya. Pertemanan terputus bukan berarti mereka tak bisa dekat lagi. Mereka bisa jadi pasangan kekasih. Kibum tak pernah keberatan selama pasangannya adalah lelaki juga. Toh, dia baru saja ditolak mentah-mentah oleh namja yang sangat disukainya. Kyuhyun adalah orang yang tepat untuk jadi penggantinya.

"Kalau tak mau jadi temanku, bagaimana kalau jadi kekasihku?"

Kyuhyun menoleh mendadak. Terkejut, tapi dia memaksakan diri untuk tertawa mencemooh. "Berteman saja tak mau, masa aku mau jadi kekasihmu. Kau terlalu percaya diri, Kibum."

"Tidak juga. Hanya mencoba peruntungan." Kibum belum menyerah meski Kyuhyun mencemooh ajakan berpacarannya. "Terakhir kali kau menemuiku di bengkel, temanku bilang kau menyukaiku, tapi tidak mau mengakuinya." Kibum mengambil tempat tepat di sebelah Kyuhyun. Untungnya Kyuhyun tidak menjauh. "Sebenarnya aku tidak percaya, tapi dia berani bertaruh kalau kau mau jadi kekasihku setelah aku putus dengan kekasih dua mingguku itu. Berarti dia tidak main-main dengan perkataannya."

"Modal perkataan dari teman, kau mengajakku berkencan?" Kyuhyun tertawa kembali.

Tidak hanya itu modal Kibum mengajak Kyuhyun berpacaran.

"Aku suka tidur di rumahmu dan aku juga suka tidur denganmu." Kibum jujur soal rasa suka terhadap apa pun yang berbau Kyuhyun. "Tubuhmu enak dipeluk." Ini agak menggelikan, tapi Kibum memang selalu memeluk Kyuhyun tiap kali ada kesempatan. "Kalau apa pun tentangmu sudah kusukai, berarti aku suka denganmu. Jadi kita pacaran saja."

"Kau tidak malu, baru putus dari kekasihmu langsung mengajakku pacaran?"

Kibum menggeleng mantap.

"Tapi aku tidak sudi jadi kekasimu!"

.

.

Pada akhirnya kibum berada di rumah Kyuhyun juga. Kyuhyun tak bisa diajak bicara dari hati ke hati. Kyuhyun tak bisa disentuh meski hanya salaman. Kyuhyun juga tak bisa didekati dengan kode-kode dan bahasa-bahasa percintaan. Namun, Kibum tidak mundur meski dianggap orang asing yang baru bertemu.

"Jam berapa kau akan meninggalkan rumahku?"

"Aku berniat menginap," jawab Kibum santai.

"Aku tak mengijinkamu menginap!"

Kibum nyengir. "Tidak mengijinkanku menginap di sini, aku akan menginap di rumah sebelah," katanya ringan, tak mau kalah dari Kyuhyun. "Kemarin aku ke sini dan kau tak ada di rumah. Aku melihat adikmu di rumah sebelah, dia bilang kau sudah menghadiahkan rumah itu padanya. Dia mengijinkaku datang ke sana kapan pun aku mau."

Kyuhyun tak yakin kalau adiknya sudah menempati rumah itu. Adiknya tipe namja yang tidak berani tinggal sendirian.

"Aku melihatnya datang bersama kekasihnya. Mereka menginap di sana, kemarin." Itu alasan termasuk akal kenapa adik Kyuhyun menempati rumah sebelah dan berbuat baik dengan mengijinkan Kibum datang kapan saja. "Tapi aku yakin dia sudah meninggalkan rumah itu sekarang."

"Anak itu..." Kyuhyun geram.

"Namanya juga anak muda, wajar kalau mereka butuh bersenang-senang. Kita yang sudah dewasa saja masih butuh bersenang-senang..." Kibum memancing untuk kelangsungan hubungan mereka. "...harusnya kau pikirkan dulu tawaran untuk jadi kekasihku. Aku jamin kau tak akan rugi. Aku ini tipe orang yang tidak tanggung-tanggung dalam memberi kesenangan untuk pasangan."

"Tidak tertarik!" Kyuhyun melangkah menjauh. Sebelum naik tangga menuju lantai atas, dia menambahkan, "Segeralah pergi dari sini. Aku risih melihat wajahmu!"

.

.

Pagi harinya Kyuhyun benar-benar melihat Kibum keluar dari rumah sebelah. Harusnya kalau adiknya tidak tinggal di rumah itu, rumah itu akan dikunci. Kenapa Kibum bisa keluar masuk dari rumah itu?

"Seperti yang kau bilang dulu. Perumahan elit ini dilengkapi alarm yang tersambung langsung ke kantor polisi. Tak akan ada penjahat yang mau kemari. Aku meyakinkan adikmu untuk tak mengunci pintu samping agar aku bisa tinggal di situ kapan pun aku mau."

Kyuhyun melengos ketika Kibum menyapanya dengan senyum manis di pagi hari.

"Aku tidur di tempat kita terakhir kali tidur di sana. Aku melihat ke kamarmu hampir sepanjang malam, kau sama sekali tak melihatku, ha?"

"Untungnya apa melihatmu tidur di kamar sebelah?"

Kibum mengendikkan bahu. "Siapa tahu kau ingat terakhir kali kita tidur bersama, kemudian kau jadi merindukanku," jawab Kibum. Masih sangat percaya diri untuk mendapatkan hati Kyuhyun. "Kau belum sarapan, kan? Mau sarapan denganku di kedai langgananku?"

"Tidak tertarik. Lagipula aku tidak terbiasa makan di kedai."

Tawaran makan bersama tidak mempan, Kibum harus mencoba tawaran lain.

"Kau mau kerja, kan? Mau kuantar ke kantor?"

Mobil Kyuhyun di bengkel. Kyuhyun tidak akan membiarkan dirinya kalah dari Kibum. Dia sudah menelepon taksi. Kebetulan taksinya datang tepat setelah Kibum menawarkan tumpangan.

"Aku tidak ke kantor naik motor!" katanya sambil menyeringai, menyindir Kibum.

.

.

Dipertemuan berikutnya Kibum menawarkan makan malam, Kyuhyun menolak dengan dalih tak pernah makan di tempat murahan seperti yang Kibum tawarkan.

Kibum pergi ke kantor Kyuhyun, menunggu lelaki itu selesai kerja dan berniat bicara panjang lebar dengannya. Dia sudah hampir dua jam menunggu di kantor security, tapi Kyuhyun mengatakan tak mengenal Kibum ketika security memanggilnya dan mengatakan kalau Kibum menunggunya.

Sekali waktu teman Kibum menyarankan agar dia memberi sesuatu yang kiranya bisa membuat Kyuhyun luluh. Sayangnya pilihan Kibum salah besar. Dia meletakkan sebuket bunga dan coklat di depan rumah Kyuhyun. Meninggalkannya dengan cacatan bahwa Kibum memberikan dua benda itu khusus untuk Kyuhyun seorang. Dari pantauannya lewat rumah sebelah, Kyuhyun melemparkan dua benda itu ke tong sampah bahkan sebelum membaca catatan yang Kibum tinggalkan di sana.

Untuk malam ini Kibum menggunakan cara sebelumnya. Memasang tangga di sebelah kamar Kyuhyun, lalu masuk ke sana saat si empunya kamar ada di dalam.

Kibum membuka pintu balkon kamar Kyuhyun yang memang jarang dikunci, si empunya kamar baru selesai berganti baju. Tidak tampak terkejut ketika Kibum menerobos kamarnya, namun bertingkah jengah dengan kehadiran Kibum.

"Kau lagi. Tidak bosan terus-terusan kutolak?"

"Bosan, tapi aku tidak bisa berhenti sebelum kau terima."

"Sekali aku bilang tidak, selamanya tidak." Kyuhyun mengingatkan Kibum. "Kusarankan kau jangan buang waktu dengan melakukan hal-hal tidak berguna di depanku!"

"Kyu..." Kibum mendekati Kyuhyun, tapi Kyuhyun menjauhinya. "...aku benar-benar bisa mati penasaran kalau tidak bisa jadi kekasihmu. Seperti ada yang kurang kalau tidak melihatmu sehari saja. Aku rindu memelukmu dengan erat. Masa kau tak merindukan pelukanku itu?"

Kyuhyun tertawa kecil.

"Seumpama perkosaan yang dulu kulakukan padamu itu adalah pertanda bahwa akhirnya kita ditakdirkan jadi pasangan, kau masih akan menolaknya juga?"

"Apa pun alasannya."

Apa perlu memerkosa Kyuhyun sekali lagi agar lelaki itu tunduk di hadapannya? Agaknya dalam keadaan sadar Kyuhyun susah untuk diperkosa. Malah tidak bisa sama sekali. Hatinya keras seperti batu, jadi Kibum harus cari cara agar bisa melunakkan batu itu. Tapi dengan cara apa?

"Kalau aku minta dua minggu saja kita jadi pasangan kekasih, seperti yang dilakukan kekasihku yang kemarin, kau mau memberikan waktu?"

"Aku tidak sebodoh kekasih dua mingggumu itu. Mengadakan perjanjian seperti itu hanya buang-buang waktu saja!" Kyuhyun menunjuk balkonnya, pintu keluar di mana Kibum masuk barusan. "Lebih baik kau pergi!"

"Tapi aku belum selesai bicara."

"Aku tidak suka melihat mukamu!"

Kalau Kyuhyun sudah bilang begitu, Kibum bisa apa? Dia tidak bisa memaksakan kehendak. Tidak bisa meraih hati Kyuhyun sekarang, mungkin bisa besok. Kibum berjalan kembali ke balkon kamar Kyuhyun, mengucapkan selamat malam sebelum dia memanjat ke tangga untuk turun.

Dominan

"Kenapa mukamu kau tekuk sedemikian rupa?" Kakaknya masih memperhatikan meski dengan gaya acuh. "Kekasihmu belum bisa membaca sinyal yang kau kirim?"

"Tidak juga." Kyuhyun sebal tindakannya tidak sesuai perkiraan. "Aku jual mahal terhadapnya. Aku takut dia tidak bisa bertahan lalu benar-benar meninggalkanku."

"Bilang saja kalau kau membutuhkannya. Sekali-kali kita boleh mengungkapkan perasaan kita kalau kepepet. Bukan berarti murahan, kok."

"Aku tidak bisa."

"Kenapa?"

"Karena aku Cho Kyuhyun."

Kakaknya tertawa kencang. "Kau masih percaya anggota keluarga Cho harus jual mahal?" tanyanya masih sambil tertawa. "Kalau kekasihmu meninggalkanmu, tahu rasa kau!"

"Kau juga jual mahal dulu."

Kakaknya berhenti tertawa, menggantikannya dengan senyum tulus. Siap menjelaskan bahwa apa yang dituduhkan adiknya tidak benar-benar terjadi. "Aku tidak benar-benar jual mahal. Kau tahu kan keluarga kita terkenal dengan sikap angkuh. Terlalu menjunjung tinggi martabat sebagai orang kelas atas. Itu dimaksudkan agar dunia luar tahu siapa kita." Kakaknya menambahkan, "Tetapi bukan berarti kita berlaku demikian juga pada pasangan. Aku mencintai kakak iparmu. Kalau dulu bersikap jual mahal, mungkin aku tak menikah dengannya seperti sekarang ini. Jadi, kalau kau tak mau berpisah dengan kekasihmu, kusarankan berhenti jual mahal mulai dari sekarang. Akui saja kau butuh dirinya."

Kyuhyun mengangguk pura-pura setuju.

"Siapa nama kekasihmu?"

Kyuhyun tak punya. Dia tak akan menyebut satu nama pun pada kakaknya sekarang ini.

Dominan

Kyuhyun penasaran, apa betul pintu samping rumah sebelah tidak dikunci? Dia keluar dari kamarnya ke balkon hanya untuk melongok ke rumah sebelah. Pintu sampingnya tertutup rapat, tapi Kyuhyun tidak tahu pintu itu dikunci atau tidak? Dari situ Kyuhyun melihat Kibum masuk pekarangan rumahnya, berjalan ke samping, tepat di bawah kamarnya. Lelaki itu tersenyum padanya. Karena masih mempertahankan sikap jual mahal, Kyuhyun menanggapinya dengan dengusan. Kibum memasang tangga yang belum dipindahkan dari bawah kamar. Dia memanjat, memegang besi tepian balkon, kemudian melompat ke dalam.

"Masih belum bosan juga kau!"

Kyuhyun melengos. Ketika berjalan masuk kamarnya, Kibum mengikutinya. Sebelum jauh, lengan Kyuhyun ditangkap, ditarik, kemudian tubuh mereka saling dihadapan. Lengan sebelah Kibum menarik tengkuk Kyuhyun, memajukan muka mereka, kemudian berciuman.

Kyuhyun berontak.

Sejujurnya tenaga Kyuhyun lebih dari cukup untuk mengenyahkan Kibum, tapi dia tidak melakukan pemberontakan yang berarti. Hanya seperti gadis yang sok kuat menolak ciuman paksa oleh seorang lelaki. Pada akhirnya dia pura-pura kalah.

Kibum memaksa dan Kyuhyun tidak menolak. Kyuhyun membalasnya, malah. Setelah ciuman itu usai, Kibum menarik Kyuhyun ke ranjang dan menjatuhkannya di sana. Lalu dia sendiri menyusul. Bergulat di pembaringan dengan ciuman-ciuman panas mereka yang selanjutnya.

"Kenapa kau selalu menolakku?" tanya Kibum ketika mereka sudah bosan berciuman dan sedang dalam acara tidur-tiduran.

"Kau pernah memerkosaku. Kau bukan orang kelas atas. Kau bukan orang yang bisa diajak berbisnis. Kau..." Kyuhyun berhenti sejenak. Tangannya meraih tangan Kibum dan merematnya kuat. "Banyak sekali alasan untuk menolakmu."

"Kau suka aku dan aku suka kau. Apa itu belum cukup untuk menghapus semua alasan itu?"

Sementara ini cukup.

Seperti apa yang dikatakan kakaknya, kalau dia terus jual mahal nanti dia ditinggalkan kekasihnya. Dalam kasus ini Kyuhyun akan ditinggalkan Kibum. Dia tidak tahu setelah Kibum pergi, ada atau tidak orang lain yang bisa membuatnya nyaman senyaman bersama Kibum. Maka dari itu kesempatan kali ini tidak boleh dilewatkannya. Lagipula the power of pheromone-nya sudah bekerja dengan sangat baik. Kibum yang disukainya, juga menyukainya balik. Untuk apa bepura-pura lagi?

Kyuhyun berguling menyamping. Dia meremat kerah baju Kibum, menariknya, membuat Kibum ikut tertarik ke arahnya. Kemudian menjatuhkan kecupan singkat ke bibir Kibum. Sebagai jawaban kalau sebenarnya tidak ada yang salah kalau mereka punya hubungan.

"Jadi, sekarang kau kekasihku?"

"Kalau kau maunya begitu..." Kyuhyun menyengir lebar. "Katamu kau tidak pernah tanggung-tanggung dalam memberi kesenangan pada pasangan. Aku mau tahu apa yang bisa kau berikan padaku."

"Sekarang?"

"Tidak mungkin tahun depan."

Kibum menyeringai. "Ini akan jadi malam yang panjang. Aku jamin kau akan suka!"

Dimulai dari ciuman panas lagi, kemudian disusul dengan adegan panas lainnya.

To be continue