Naruto – Masashi Kishimoto

Ex Lover – Kei Dysis

.

AU, OOC, Typo, etc.

.

24/5/2015

Happy reading!

-:-

Hinata menahan senyum saat melihat pantulan dirinya di pintu kaca kafe. Dibukanya pintu itu, kemudian melangkah masuk.

Ternyata belum datang. Hinata mendengus pelan.

Kaki Hinata lantas melangkah anggun menuju sebuah meja, dekat dengan jendela kaca yang membuatnya bisa melihat pemandangan luar kafe. Sambil duduk menunggu, secangkir kopi dipesan Hinata.

Hinata memangku dagu dengan sebelah tangan. Bola matanya bergerak menatap ke seberang kafe. Sebuah bangunan putih tampak berdiri kokoh, dengan sebentuk simbol religius menjadi puncak tertingginya. Sinar lavender Hinata seketika meredup.

Seandainya ….

Mendesah tak percaya, Hinata menggelengkan kepala. Tersenyum miris. Dialihkannya pandangan ke arah pintu kafe, dan kehadiran sesosok pria sontak menjadi pusat perhatiannya.

Hinata mengerjap lambat. Terpesona. Merindu. Sudah seminggu ia tidak melihat pria itu.

"Aku tidak tahu sejak kemarin kau sudah pulang dari Kyoto," ucap Sasuke datar setelah duduk di depan Hinata.

Hinata tidak langsung menanggapi. Memilih menunggu seorang pelayan yang membawa kopinya dan mencatat pesanan Sasuke pergi terlebih dahulu.

"Kau sudah tidak punya hak untuk kuberi tahu," sahut Hinata ketus. Jantungnya berdetak gugup. "Kita sudah putus, ingat?"

Sasuke hanya mengangkat alis.

Berusaha tetap tenang, Hinata berucap tak acuh, "Ha-hanya karena aku mau memakai gaun yang kau kirim padaku tadi, bukan berarti aku mau menjadi kekasihmu lagi."

Sasuke tersenyum datar. "Aku ingin bertemu denganmu bukan untuk itu," tukasnya dingin. "Aku juga tidak menginginkan status hubungan kita seperti dulu lagi."

Hinata membeku. Tak bisa bernapas.

"Aku hanya ingin memberikan ini padamu," lanjut Sasuke sambil mengeluarkan sebuah amplop putih dari saku jasnya, kemudian meletakkannya di samping cangkir kopi Hinata. Dengan gerakan elegan khas Uchiha-nya, Sasuke bangkit berdiri. "Aku harus pergi sekarang. Ada urusan yang sangat penting."

Hinata berkedip, menyadari Sasuke telah pergi. Dadanya semakin nyeri.

Mengabaikan panas di matanya, Hinata menatap amplop tipis itu. Jemarinya bergetar kecil saat meraihnya. Ketika dibuka, Hinata hanya mampu tertegun.

"Aneki."

Kepala Hinata berputar cepat. "Ka-kalian …."

Sedetik kemudian, Hinata sudah ditarik hingga berdiri oleh sepasang tangan dari seorang wanita bersurai kuning. Gaun putih selutut Hinata telah 'disulap' menjadi gaun yang menjuntai indah hingga menutupi kakinya. Sebuah flower crown telah tersemat di puncak kepalanya. Sebuket bunga calla lily pun telah digenggam tangan Hinata, menggantikan amplop putih yang diberikan Sasuke padanya.

"Ayo! Adik iparku sudah menunggumu di altar."

Masih tak bisa berkata-kata, Hinata seolah tersihir untuk bergerak mengikuti langkah Ino dan Hanabi menuju sebuah katedral di seberang kafe. Tempat pertama kalinya ia bertemu Sasuke.

-:-

.

-:-

"Kalau kau terus memandangku seperti itu, jangan salahkan aku jika ada pramugari atau penumpang lain yang melihatku menciumimu."

"Kau benar-benar akan menjadi milikku sepenuhnya seminggu ini?"

"Aku milikmu seterusnya."

"Tidak akan menjadikanku yang kedua lagi?"

"Bodoh. Kau adalah prioritas pertamaku. Pekerjaanku bukanlah apa-apa."

Hinata tersenyum. Kali ini sepenuhnya percaya dengan ucapan itu. Pernikahan mereka sejam yang lalu menjadi salah satu buktinya.

"Hati-hatilah, Sasuke-kun. Akan kubuat kau selalu mengingatnya." Hinata memandang ke luar jendela. Menyeringai bahagia.

Mungkin hanya Uchiha Sasuke satu-satunya pria yang langsung berhasil melamar mantan kekasihnya. Bukan dengan sebuah cincin. Hanya cukup dengan dua buah tiket bulan madu ke Dublin.

.:.

THEEND

.:.

THANKS! :)