Naruto – Masashi Kishimoto
That Smile – Kei Dysis
.
AU, OOC, Typo, etc.
.
28/6/2014
Happy reading!
-:-
Hinata menggeser pintu kelas, memasukinya sambil menyapa teman-temannya dengan senyuman. Langkahnya tertuju ke bangkunya di dekat jendela.
"Ah! Ohayou mo, Hinata! Akhirnya kau datang juga!"
Hinata hanya tersenyum menanggapi seruan Kiba, murid pindahan yang sejak dua bulan lalu duduk di bangku di depannya.
Kiba melebarkan senyumnya. "Aku tidak tahu kalau ternyata kau bisa datang siang juga."
"Aku tidak sesempurna itu, Kiba-kun," balas Hinata ringan, sementara tangannya meletakkan tasnya di atas meja. "Dan aku harus segera ke ruang OSIS sekarang."
"Secepat itu? Baru saja aku mau menunjukkan video anak-anak anjingku padamu."
"Nanti saja, ya?" Lengkungan di bibir Hinata tetap hadir.
.
-:-
.
Hinata berjalan keluar dari ruangan khusus Ketua OSIS, kemudian perlahan menutup pintu. Sekali lagi pandangannya menyapu seluruh sudut ruangan tempatnya kini berada. Beberapa anggota OSIS yang tadi dilihatnya sudah tidak ada.
"Ohayou, Kaichou."
Hinata menoleh, tersenyum melihat kedatangan sang sekretaris OSIS. "Ohayou mo, Sai-san. Maaf, aku datang kesiangan."
"Tidak seperti biasanya." Sesaat alis Sai terangkat. Tangannya mendekap erat berkas-berkas yang baru saja ditandatangani oleh Kepala Sekolah. Kemudian Sai tersenyum lembut. "Biar aku saja yang meletakkan ini di mejamu. Kau bisa menemui orang yang kau cari-cari itu di atap sekolah."
Hinata mengerjap cepat. Senyumnya hampir menghilang. "Aku tidak mengerti maksudmu."
Sai menggelengkan kepala. "Kalau saja Karin tidak harus pindah sekolah, dia pasti akan langsung berbuat sesuatu melihat sahabatnya seperti ini. Pergilah. Dia sudah menunggumu sedari tadi. Jam pelajaran akan dimulai 10 menit lagi."
Tubuh Hinata masih membeku. Lalu embusan napas leganya lolos saat bibirnya semakin merekahkan senyuman. "Arigatou, Sai-san."
.
-:-
.
Ketika membuka pintu menuju atap sekolah, Hinata hanya mengamati sosok sang Wakil Ketua OSIS dalam keterdiaman. Pemuda itu berdiri menyandarkan punggung dan lengan di pagar pembatas. Matanya terpejam dengan kepala menengadah.
"Tidak seharusnya kau masih di sini, Uchiha. Sebentar lagi bel masuk berbunyi," Hinata akhirnya mengeluarkan suara, beriringan dengan kakinya melangkah tenang mendekati Sasuke.
Sasuke hanya bergumam samar, kini beralih menatap Hinata dengan sorot tajam di sepasang mata kelamnya. Ujung kanan bibirnya melekuk dingin.
Hinata bergeming. Tertegun oleh senyum itu. Entah untuk keberapa kalinya. Di antara banyak pemuda yang tersenyum padanya, hanya senyum itu yang mampu membuat jantung Hinata bergemuruh kencang. Hanya senyuman dari Uchiha Sasuke.
Sambil tersenyum ringan, Hinata melanjutkan langkah. Ia memilih berdiri di samping Sasuke, membisu menatap lapangan belakang sekolah.
Perlahan Sasuke berbalik badan, menopang dagunya dengan satu tangan di atas pagar pembatas, dan semakin mengejutkan Hinata saat menepuk puncak kepala gadis itu dengan tangannya yang lain.
Seketika itu juga panas menyengat nyalang mata Hinata. Cairan bening berkumpul cepat di pelupuk matanya. Dadanya terasa sesak. Sangat sesak.
Kemudian Sasuke membawa Hinata ke pelukannya, menekan kepala Hinata ke dadanya. Tangisan di balik senyuman itu akhirnya tumpah. Tangisan yang hanya bisa Hinata tunjukkan kepada Sasuke. Yang hanya Sasuke ijinkan untuk ditunjukkan Hinata padanya, bukan pada laki-laki lain.
Hinata mencengkram erat kain seragam Sasuke. Bibirnya bergetar hebat. "O-okaasan. Okaasan."
Bayangan tubuh ibunya yang tergeletak di ruang tamu kembali berkelebat di benak Hinata. Suara sirene ambulans kembali terdengar seolah meraung di telinga Hinata.
.:.
THEEND
.:.
THANKS! :)
