Naruto – Masashi Kishimoto

Batas – Kei Dysis

.

AU, OOC, Typo, etc.

.

2/7/2015

Happy reading!

-:-

Sasuke membeku. Perhatiannya tak lagi tertuju pada berkas di tangannya. Tatapannya jatuh pada Hinata yang berdiri di ambang pintu.

"Maaf, Uchiha-sama. Saya tidak berhasil mencegahnya," seorang pria di belakang Hinata berkata sambil membungkuk.

Sasuke mengangguk kaku. Melalui pandangan mata ia menyuruh sekretarisnya itu untuk pergi.

"Tidak seharusnya kau ada di sini," ucap Sasuke setelah hanya ada mereka berdua. Suaranya dingin. "Pulanglah. Aku sedang sibuk."

"Aku tidak akan lama," sahutan Hinata mengalun datar ketika melangkah masuk ke ruang kantor Sasuke. Tangannya merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop besar. "Aku hanya ingin berpamitan dan memberikan ini padamu."

Tatapan Sasuke seketika menajam, tahu benar apa isi amplop itu. Api kemurkaan di sepasang matanya seolah ingin membakar habis benda tersebut. Namun Sasuke tidak bergerak. Tidak bisa bergerak. Tidak bisa mencegah Hinata meletakkan amplop itu di mejanya.

Gerakan Hinata ketika berbalik badan hendak keluarlah yang membuat kesadaran Sasuke kembali terjaga. Tanpa benar-benar berpikir, tangan Sasuke bergerak menekan satu tombol dalam kotak laci yang tersembunyi di mejanya. Gemetar kecil merayapi tangan Sasuke.

Hinata membelalakkan mata, sejenak terpaku melihat pintu di hadapannya tiba-tiba bergeser menutup. Tubuh Hinata berputar cepat. Matanya berkilat garang. "Apa-apaan kau, Uchiha? Cepat buka pintu sialan ini!"

Sasuke mengempaskan berkas di tangannya ke meja. Roda kursinya berdecit nyaring saat Sasuke beranjak dari duduknya. Ia berjalan memutar meja, meraih amplop yang diberikan Hinata, dan mengambil pemantik dari saku celananya.

"Ini yang pertama dan terakhir kalinya kau memberikan ini padaku," ujar Sasuke rendah dan berbahaya, kemudian membakar benda tersebut hingga tersisa debu yang mengotori permadani.

Hinata tertegun dengan mata melebar. "Apa sebenarnya yang kaukatakan? Kau gila, hah? Bukankah kita sudah sepakat? Memang belum sembilan bulan, tapi …," napas Hinata mulai tercekat, "… situasi dan yang lainnya sudah mengubahnya."

Sasuke menarik napas tajam, kemudian berjalan mendekati Hinata. Sesuatu di mata Sasuke sontak membuat Hinata melangkah mundur menabrak pintu di belakangnya. Tanpa sadar ia menjatuhkan tasnya ketika tangan Sasuke sudah berada di kedua sisi kepalanya.

"Aku benar-benar sudah tidak mengenalmu lagi," ucap Hinata dingin setelah sejenak hanya bisa terdiam. "Aku membencimu, Uchiha. Terima kasih karena sudah menghancurkan hidupku."

"Sialan! Aku tidak sepenuhnya mabuk saat itu. Aku sadar itu kau!" Sasuke berteriak berang, lalu tercenung sesaat. Desahan napasnya terdengar lelah seiring kepalanya perlahan merebah di bahu Hinata. "Karena itu kau, maka aku melakukannya," lanjut Sasuke lirih. "Aku ingin memilikimu, Hinata. Memiliki seluruh dirimu, bukan hanya sebagai sahabatmu. Aku sudah lama ingin melewati batas itu, kau tahu?"

Hinata mematung. Air mata membasahi pipinya. "Ta-tapi mengapa …. Bahkan setelah menikah …."

"Rasa bersalah itu membuatku berubah," jelas Sasuke parau. "Begitu besar hingga membuatku tak berani menghadapimu. Menghindarimu sebisa mungkin. Bersikap dingin padamu. Aku … takut melihat kebencianmu setelah malam itu. Setelah malam lainnya."

Kepala Hinata menggeleng lemah. Kesulitan bernapas. "Ka-kau tidak menginginkanku. Ka-kau … tidak menginginkan kami."

"Maaf." Tubuh Sasuke meluruh hingga lututnya menyentuh lantai. Lengannya memeluk pinggang Hinata. Kepalanya terbenam di perut istrinya itu. "Maaf karena tidak menjagamu dengan benar. Karena tidak menjaga kalian seperti seharusnya. Aku benar-benar minta maaf atas semuanya."

Air mata Hinata semakin deras mengalir. Tubuhnya menggigil. "Aku membencimu," bisik Hinata hampa.

Sasuke menahan nyeri di dadanya. Pelukannya semakin mengerat. "Kau boleh terus membenciku, tapi … jangan pergi, Hinata. Aku tidak akan membiarkanmu meninggalkanku. Aku sudah kehilangan anak kita. Aku akan semakin hancur jika kehilanganmu juga."

"Aku membencimu." Hinata membungkuk, mendekap kepala suaminya. "Aku benar-benar membencimu, Sasuke."

.:.

THEEND

.:.

THANKS! :')