Naruto – Masashi Kishimoto
Long Distance – Kei Dysis
.
AU, OOC, Typo, etc.
.
9/9/2015
Happy reading!
-:-
Hinata duduk nyaman dengan mata terpejam rapat. Sambil menopang dagu di ujung lutut, didekapnya kedua kaki semakin erat. Angin musim gugur masih membelai-belai tubuh mungil Hinata, namun tak membuat gadis itu menggigil kedinginan.
Di hadapan Hinata, tampak ombak putih bergulung melintasi laut biru, masih ingin mengajak sang pantai untuk memadu kasih. Tanpa adanya jenuh. Hamparan karang kecil ikut setia menyambut, membiarkan diri mereka dicumbu berulang kali oleh sapuan buih. Dipeluk kelembutan pasir pantai, sang ombak pun mengumandangkan nyanyian merdunya.
Kelopak mata Hinata masih enggan terbuka. Ia masih ingin menikmati lagu alam yang paling disukainya itu dalam keterdiaman. Hanya sebentuk senyum terulas di bibir Hinata. Senyum penuh kerinduan.
Tiba-tiba terdengar lantunan sebuah nada dering, membuat sepasang mata Hinata mau tak mau kembali menatap dunia nyata. Buru-buru Hinata merogoh ponselnya di dalam tas.
Kerutan dalam sejurus kemudian terbentuk di kening Hinata. Sang penelepon ternyata tidak termasuk dalam daftar kontak ponselnya. Dan Hinata yakin tak pernah sebelumnya melihat deretan nomor itu.
Namun, entah mengapa, debar jantung Hinata justru mengencang. Debaran yang justru terasa familier.
"Halo," sapa Hinata kemudian setelah menekan tombol hijau. Suara lembutnya dibalut kegugupan. Juga kebingungan.
Sahutan tak langsung terdengar. Tetapi gendang telinga Hinata menangkap suara lain dari seberang sana. Suara ombak yang sedang bernyanyi.
"Kau juga sedang ada di pantai."
Sang penelepon itu akhirnya berbicara. Datar dan dingin. Tapi kehangatan seketika menjalar ke dalam keseluruhan diri Hinata. Kehangatan yang juga … terasa familier.
"Umm. Ya," Hinata menyahut pelan, meski tahu seseorang itu menyuarakan pernyataan. Bukan pertanyaan.
"Sendirian?"
Satu tanya itu langsung terlontar tajam, membuat Hinata menggeleng geli, alih-alih merasa gentar. Ia sudah terbiasa.
"Aku baru saja selesai melukis," ujar Hinata lembut, tanpa menjawab secara langsung pertanyaan singkat itu. Sejenak kepala Hinata menoleh ke samping, ke arah sebuah tiang kanvas yang masih menyangga lukisannya.
"Kenapa tidak meminta teman-temanmu untuk menemanimu?"
Lagi, seseorang itu menyampaikan protesnya dengan nada tajam.
"Mereka sedang ada urusan, Sasuke-kun. Dan aku memang tidak ingin terus merepotkan mereka," Hinata menjelaskan dengan tenang. Dipeluknya kedua kaki dengan sebelah tangan, lalu kembali menumpukan dagu di atas lutut. Mendapati Sasuke masih membisu, Hinata pun bertanya dengan hati-hati, "Kenapa diam?"
"Hanya sedang berusaha untuk tidak langsung pergi ke bandara dan kembali ke Jepang sekarang juga."
Napas Hinata seketika tertahan. Kata-kata itu mencelat dalam bentuk geraman rendah. Terdengar sangat sungguh-sungguh. Sekaligus membahayakan.
Hinata menggigit bibir. Matanya kembali tertutup, lalu terbuka dengan gerakan lambat. "Berusahalah lebih keras," tutur Hinata pelan, kontan membuat keheningan sekali lagi diciptakan oleh Sasuke. Keheningan yang lebih mencekam.
Hanya sesaat, karena suara Sasuke kembali terdengar. Kembali menyaingi dinginnya bongkahan es kutub.
"Ah. Begitu? Jadi kau tidak mau bertemu denganku? Hmm?"
Lagi, kedua lavender Hinata memilih bersembunyi dalam kegelapan. Bersembunyi dari dunia nyata. Hanya demi bisa membayangkan sosok sang onyx. Sosok yang sudah beberapa minggu tak terjangkau oleh sang lavender.
"Tidak," Hinata bergumam lirih. "Tidak sama sekali. Saat ini … justru melihatmu adalah satu-satunya yang kuinginkan."
Dengusan geli nan puas terdengar dari seberang telepon.
"Bodoh. Lihatlah ke belakang!"
.:.
THEEND
.:.
THANKS! :)
