Luhan bangun jam sepuluh malam lebih empat menit hari berikutnya, menghabiskan hampir dua jam mengepak koper dan barang-barangnya. Sesuai yang telah direncanakannya kemarin, dia akan berkunjung ke Daegu, ke rumah Baekhyun. Luhan menarik ritsleting koper dan menenteng sangkar Owlett, lalu meninggalkan kamarnya. Dia menempelkan sticky notes yang telah ditulisinya dengan kalimat: Aku berangkat ke Daegu. Mengunjungi Baekhyun, naik kereta. Sampai jumpa di musim panas tahun depan. xx di kulkas, dan berjalan menerobos malam gelap.

Sebenarnya dia merasa tidak sopan, mengendap-endap pergi saat dini hari tanpa memberitahu paman dan bibinya. Tapi Luhan terlanjur mengatakan bahwa dia akan pergi naik kereta. Karena menurutnya, ada baiknya juga kalau Paman Kyuhyun dan Bibi Sungmin tidak tahu apa-apa soal Bus Ksatria dan Jaringan Floo. Entah reaksi apa yang akan mereka perlihatkan jika tahu keponakannya pergi ke Daegu melalui api hijau zamrud di perapian, atau bus tingkat tiga dengan banyak kasur di dalamnya.

Semua Muggle sudah tidur nyenyak. Luhan menyeret kopernya lebih kuat lagi dan sampai di halte bus dekat situ, duduk di trotoar, mengacungkan tangan kanannya. Menunggu bus ungu cerah bertingkat tiga datang. Tak sampai lima detik, bunyi DUAR keras terdengar dan Luhan beranjak. Seorang cowok berwajah agak lonjong melompat turun dari bus, mulai berteriak-teriak.

"Selamat datang di Bus Ksatria, transportasi darurat untuk penyihir yang tersesat. Julurkan saja tangan-pemegang-tongkatmu, naiklah ke atas, dan kami bisa membawamu ke mana saja kau ingin pergi. Namaku Jung Hoseok dan akulah kondekturmu malam ini."

"Berapa ongkos ke Daegu? Taman Apsan?" tanya Luhan cepat-cepat.

"Empat belas Sickle. Tapi kalau kau bayar lima belas, kau akan dapat tiga Tongkat Likor dari Honeydukes, dan kalau tujuh belas kau akan dapat Butterbeer dan sepiala Wiski Api," jawab Jung Hoseok, setengah berteriak.

Luhan menjejalkan beberapa perak ke tangan Hoseok, dan melompat masuk ke dalam bus. Setengah lusin tempat tidur kekuningan berderet di sebelah jendela bertirai. Pemandangannya masih sama seperti terakhir kali Luhan menaikinya tahun lalu; cahaya emas lampu gantung menyinari dinding bus yang berlapis papan, banyak suara dengkuran, asalnya dari lantai atas. Luhan mendorong koper ke bawah tempat tidur di belakang sopir.

Hoseok melompat naik, lalu duduk di kursi berlengan di sebelah sopirnya. Setelah Hoseok mengatakan sesuatu pada si sopir, terdengar bunyi DUAR keras, dan Luhan terlempar ke belakang saking cepatnya Bus Ksatria meluncur, jatuh terduduk di atas tempat tidurnya. Seorang pelayan berwajah ramah dan berambut hitam belah-tengah menghampirinya, membawakan segelas Butterbeer dan sepiala minuman berwarna madu. Pelayan itu menghela napas lega, tersenyum lebar menampilkan sederet gigi putihnya.

"Benar ternyata, penumpang kali ini belum cukup umur," diletakkannya Butterbeer dan minuman warna madu di atas meja di sebelah tempat tidur. "Kuganti Wiski Api-nya dengan mead aroma madu Madam Rosmerta. Kau akan menyukainya, itu mead madu terbaik yang pernah ada."

"Oh, trims," Luhan mengangkat piala berisi mead, mulai menghirupnya sedikit-sedikit. Rasanya enak sekali. Benar-benar minuman terbaik yang pernah Luhan minum.

Pelayan tadi menengok ke luar jendela, tersenyum ramah pada Luhan, dan menghilang menaiki tangga kayu sempit. Bus Ksatria bertambah cepat, berkali-kali naik ke trotoar dan membuat pohon-pohon di sekitarnya melompat menghindari bus. Telepon umum, semak-semak, dan hotel mewah menyingkir begitu Bus Ksatria membelok ke kanan jalan.

Di sebelah gelas Butterbeer-nya, Luhan melihat Daily Prophet terbitan hari sebelumnya, menampilkan berita yang kelihatannya menarik. Dia tersenyum lebar ketika membaca sampai paragraf dua; Puddlemere United, tim Quidditch favoritnya, menang lawan tim Quidditch Bulgaria bulan lalu. Lalu di halaman dua, ada berita dari Kementerian Sihir; Choi Siwon, pria yang dulu menjabat sebagai Kepala Kantor Auror, sekarang menggantikan Lee Sooman sebagai Menteri Sihir. Kalau dilihat dari fotonya, Siwon berusia kurang dari empat puluh tahun, berbahu bidang, luar biasa tampan, dan beralis tajam. Meski begitu, dia tampak baik hati.

"Kita sudah sampai, Madam Kim," si pelayan tadi turun bersama penyihir wanita paruh baya. Sopir menginjak rem dan tempat tidur bergeser tiga puluh senti ke depan. Madam Kim menuruni tangga bus, si pelayan melemparkan tasnya ke bawah, lalu membanting pintu bus hingga menutup. Bunyi DUAR keras kembali terdengar dan bus meluncur lagi, menuruni jalan sempit yang jalannya belum diaspal. Luhan terguncang sampai Butterbeer-nya bertumpahan. Hoseok memandang heran si sopir.

"Joohyuk, ngapain kita lewat sini?" tanyanya.

"Jalan utama ditutup. Masyarakat demo—lain kali sering-sering baca Prophet," Joohyuk melemparkan halaman depan Daily Prophet edisi pagi ini pada Hoseok. Luhan mendekatinya, ikutan membaca lewat belakang bahu si kondektur. Sebagian besar halaman ini terisi oleh foto besar hitam putih Choi Siwon yang berambut klimis dibelah samping, memakai kacamata, dan wajah dengan beberapa bekas luka. Foto itu bergerak-gerak, Siwon berusaha menerobos kerumunan para fotografer dan jurnalis Daily Prophet. Artikel ini berjudul: Pemberontakan di Kementerian Sihir.

Tapi Luhan tidak bisa membaca isi artikel, dikarenakan huruf-hurufnya agak terlalu kecil. Hoseok mendecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tolol amat masyarakat Daegu! Siwon, kan, cakap juga mengatur di Kementerian. Dia Auror, lho. Mana bisa mereka meragukannya? Dan lihat, mereka mau Lee Donghae menggantikan Siwon secepatnya. Apa mereka sudah gila?" ucapnya berapi-api. Joohyuk mengangguk setuju.

"Tunggu, apa?" Luhan angkat bicara. Jelas saja dia heran. Bagaimana bisa mereka mengusulkan wakil kepala sekolah Hogwarts sekaligus guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, sebagai pengganti Choi Siwon? "Profesor Donghae menjadi Menteri? Apa mereka sudah gila?"

"Nah, aku juga mau bilang begitu tadinya! Mereka sudah sinting! Setahuku Donghae sudah sangat sibuk mengurusi Hogwarts. Siwon kelihatannya bertanggungjawab, kok. Dia mantan Kepala Kantor Auror!" ucap Joohyuk.

"Sudahlah!" gertak Hoseok marah. "Bicara tentang yang lain saja. Aku muak berbicara tentang orang-orang tolol itu."

Dan mereka—kecuali Luhan yang masih terdiam—membicarakan soal Quidditch. Bus belok ke kiri saat sampai di pertigaan, melewati jalan luar biasa sempit sehingga bus berkali-kali naik ke trotoarnya. Pohon-pohon dan rumah-rumah tua dengan patuh menyingkir. Diterangi oleh lampu depan bus, Luhan samar-samar dapat melihat Gunung Apsan, dan rumah Baekhyun berada tepat di belakang gunung itu. Hoseok meraih gelasnya dan menghirup isinya, setelah itu kembali bicara berapi-api tentang siapa yang akan menang antara Wimbourne Wasps dan Chudley Cannons.

Bus Ksatria mengeluarkan bunyi DUAR DUAR dan bertambah cepat. Sepuluh detik kemudian, Joohyuk menginjak rem, tempat-tempat tidur meluncur tiga puluh senti ke depan, Luhan jatuh terjembap. Butterbeer dan mead aroma ek-nya tumpah. Bus Ksatria berhenti di depan Taman Apsan. Hoseok membantunya menurunkan koper dan sangkar Owlett, membanting pintunya menutup, dan melesat menembus kegelapan lagi.

Luhan menyeret kopernya dengan susah payah. Setelah berjalan sejauh dua ratus meter ke utara, ke belakang gunung, dia sampai di depan sebuah rumah kecil kotor yang tak terurus. Berandanya penuh sampah. Tetapi begitu dia membuka pintunya, cahaya keemasan langsung menyambutnya. Luhan melihat ruang tamu yang teramat besar, luas, begitu rapi dan necis. Ruangan itu sebagian besar dipenuhi rak buku. Di sofa, Nyonya Byun sedang membaca buku supertebal sambil beberapa kali mengangguk-angguk tidak jelas. Luhan berdehem dan berucap, "Selamat malam, Nyonya Byun."

"Oh, astaga, Sayang!" Wanita paruh baya itu meletakkan buku tebalnya di meja dan berhambur memeluk Luhan. "Astaga, Luhan, kenapa tidak memberi kabar? Aku senang sekali kau datang! Mari, duduk dan makan dulu. Baekhyun sudah bilang kau akan datang, tapi aku tidak tahu kapan—kau mau makan apa, Sayang?"

"Tidak, tidak, Nyonya—"

"Jangan panggil aku Nyonya, Luhan Sayang. Kau sudah kuanggap sebagai anak sendiri, jadi kau boleh panggil aku Ibu," Nyonya Byun tersenyum manis, mengetuk sangkar Owlett dan koper Luhan menggunakan tongkat sihirnya. Sangkar dan koper melayang memasuki kamar tamu di seberang ruangan. Kamar tamu itu terletak di sebelah kamar Baekhyun dan ruang setrika.

"Nah, Sayang, kau yakin tidak mau makan?" tanya Nyonya Byun memastikan, dan Luhan menjawabnya dengan gelengan anggun. "Baiklah. Pokoknya kalau kau lapar, pergilah ke dapur. Ada banyak pai dan ayam panggang. Oke, habis ini cuci kaki, gosok gigi, dan ganti baju. Tidurlah yang nyenyak, mimpi indah. Besok kita akan langsung pergi beli buku."

Nyonya Byun mengecup kedua pipi Luhan dan meninggalkan ruang tamu, menuju lantai atas. Luhan memasuki kamar yang akan ditempatinya. Terdapat empat foto berpigura di atas nakas kecil. Foto pertama berisi fotonya dan Baekhyun, berangkulan, pipi mereka bersentuhan. Mereka tersenyum lebar ke arah kamera. Mulut Baekhyun belepotan es krim dan remahan kacang. Foto itu diambil pada tahun kedua mereka bersekolah di Hogwarts, saat mereka berkunjung ke toko es krim Florean Fortescue di Diagon Alley. Yang kedua diambil saat tim Gryffindor memenangkan piala Quidditch, ada Minseok di foto itu. Luhan tersenyum lebar ketika melihat Baekhyun mengangkat pialanya tinggi-tinggi.

Yang ketiga adalah pigura paling besar, berisi lukisan wajah Luhan, Minseok, Baekhyun, Kim Taehyung, dan Min Yoongi. Mereka dihubungkan oleh pita berwarna merah dan ditulisi kata-kata yang tintanya berwarna emas: 'Rusa Cina, Baozi Imut, Orang Gila, dan Tukang Tidur. Sahabat Selamanya.' Dan yang terakhir adalah foto seluruh anggota tim Gryffindor di tengah-tengah lapangan Quidditch. Luhan, Minseok, dan Yoongi sebagai Chaser; Baekhyun dan Park Jimin sebagai Beater, melambai ke kamera; Jeon Jungkook sebagai Keeper; dan Kim Namjoon sebagai Seeker. Mereka semua tertawa dan terlihat amat bahagia.

Owlett mengeluarkan uhu lemah. Luhan tersenyum macam orang idiot. Dia merangkak ke tempat tidur, berbaring telentang, memandang langit-langit kamar. Dan tanpa melepas sepatunya atau berganti baju dengan piama, dia tertidur pulas.


TBC.