Naruto – Masashi Kishimoto
Taste – Kei Dysis
.
AU, OOC, Typo, etc.
.
04/04/2016
Happy reading!
-:-
Mata Hinata membulat sempurna. Bibirnya menganga kecil.
"Kuantar kau pulang."
"Hah?" Hanya gabungan tiga huruf itu yang mampu dilontarkan oleh Hinata, pada pria berpayung biru gelap di hadapannya.
Uchiha Sasuke.
Sial! Ia sedang tidak bermimpi, kan?
Masih belum sepenuhnya sadar dari ketidakpercayaan, mendadak Hinata merasakan Sasuke menariknya paksa hingga berdiri. Pundak Hinata dipeluk oleh sebelah lengan Sasuke agar Hinata bisa ikut berada di bawah naungan payung. Lalu Sasuke pun mengajak Hinata menjauhi bangku halte bus, melangkah menuju mobil Sasuke yang diparkir di pinggir jalan.
Hujan masih mengguyur sangat deras. Jantung masih berdenyut sangat kencang di dada kiri sang Hyuuga.
Hinata berkedip lambat. Sekali. Dengan cepat. Dua kali.
Dan akhirnya Hinata sadar ia sedang berada di dalam mobil Uchiha Sasuke. Sedang duduk di samping Uchiha Sasuke yang sedang menyetir. Uchiha Sasuke … yang Hinata ketahui adalah seorang arsitek muda yang biasanya sangat dingin dengan kebanyakan perempuan.
Hinata mengernyit, kemudian mendengus samar. Ah, benar juga. Sasuke pasti hanya bersikap baik padanya karena ada inginnya saja. Apalagi dirinya adalah Hyuuga Hinata, adik sepupu dari Hyuuga Neji. Pria yang Hinata yakini diam-diam disukai oleh Sasuke.
Cih! Pasti Sasuke berpikir aku akan memberi tahu Neji-nii kalau dia sudah menolongku yang terjebak hujan. Lalu Sasuke akan menerima ucapan terima kasih, bahkan mungkin kopi gratis dari Neji-nii.
Hinata merengut kecil. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Langkahi dulu mayatku dan Karin kalau kau ingin mendapatkan Neji-nii, Uchiha!
"Kau bisa membuatkanku kopi?"
Hinata tersentak, dan hanya sanggup berkata, "Hah?"
.
-:-
.
Dengan pandang ragu, Hinata menatap dua cangkir kopi yang baru saja selesai dibuatnya. Hanya kopi hitam biasa, yang Hinata belajar cara membuatnya dengan meniru cara ibunya membuat kopi untuk sang ayah. Bukan seperti kopi yang sesuai dengan selera Sasuke seperti yang sering ia beli di kedai kopi milik Neji. Yang cara pembuatannya menggunakan teknik andal seorang barista, bahkan menggunakan mesin pembuat kopi yang rumit dan canggih.
Hinata menggigit bibir bawahnya. Masih merasa kaget dengan permintaan Sasuke. Pria itu beralasan ia terlalu lelah dan mengantuk setelah bekerja dari kemarin malam hingga sore, jadi Sasuke tidak ingin menanggung risiko menyetir mobil di tengah hujan yang sangat deras. Sementara kedai kopi milik Neji yang berada di dekat tempat Sasuke bekerja sedang tutup.
Helaan napas Hinata terdengar lemah. Diangkatnya nampan, kemudian melangkah menuju ruang tamu apartemennya.
"Silakan diminum," ucap Hinata pura-pura ramah. Seraya mengambil kopinya sendiri, Hinata duduk di sofa di seberang Sasuke.
Kepala Hinata menunduk, menikmati kopinya dengan wajah mendung. Kopi itu terasa nikmat di lidah Hinata, tapi tetap saja ….
Kopi buatanku tak sebanding dengan kopi buatan Neji-nii. Sasuke pasti tidak suka. Lagipula … aku, yang seorang perempuan, juga bukanlah selera Sasuke.
Hinata menghela napas lagi. Pelan. Berat.
Lalu tiba-tiba terdengar suara tawa. Suara tawa yang pernah didengar Hinata, hanya pernah didengarnya ketika melihat Sasuke dan Neji mengobrol di kedai kopi.
Hinata mendongak. Terpana mendengar tawa langka itu.
"Sempurna sudah." Sasuke menyeringai puas. "Aku sama sekali tak menyangka perempuan yang diam-diam kusukai ternyata bisa membuat kopi seenak ini," gumam Sasuke sambil menggeleng-geleng pelan. Kemudian ditatapnya Hinata, tepat di kedua lilac milik wanita muda itu. "Bersiaplah untuk menjadi Nyonya Uchiha, Hinata, sekaligus ... menjadi pembuat kopi pribadiku."
Dan sekali lagi, Hinata hanya mampu mengucapkan satu kata, "Hah?"
.:.
THEEND
.:.
THANKS! :)
