Terdengar bunyi pintu dibanting membuka oleh seseorang, dan saat itu juga Luhan terbangun. Saking kagetnya, dia sampai duduk tegak, matanya masih lengket dan berusaha mencari tahu idiot mana yang berani mengganggu tidurnya. Beberapa detik setelah pintu dibuka, dan dia belum sepenuhnya sadar, gorden digeser, cahaya matahari menyilaukan menerangi kamar. Luhan mendecak kesal, siap melontarkan sumpah serapah.
Seseorang menepuk bahu Luhan terlampau keras. Lalu ada suara cempreng berkata, "Astaga, kawan! Aku tidak tahu kau akan datang hari ini! Junmyeon, Minseok, KE BAWAH SEKARANG JUGAAAA!"
Dia langsung mengenalinya. Setengah merutuki teriakan membahana Baekhyun dalam hati, Luhan mengucek matanya, berusaha mengumpulkan kesadaran. Derap langkah kaki ribut terdengar mendekat. Dua orang cowok bertinggi badan minimalis berdiri di ambang pintu. Minseok melotot ketika melihat Luhan, senyum lebar tersungging di wajahnya. Di sebelahnya, berdiri seorang cowok luar biasa tampan, yang tingginya tak melebihi Minseok sendiri. Cowok itu tersenyum canggung, kentara sekali tidak mengenal Luhan.
"Luhan—hei, buka matamu, idiot! Perkenalkan, itu Junmyeon, yang membelikan kau sapu. Nah, Junmyeon, ini Luhan. Yang kau belikan sapu waktu itu. Salam kenal, salam kenal. Luhan, kapan kau tiba di sini? Kenapa tak bangunkan aku, sih?" selesai mencerocos, Baekhyun menjitak kepala Luhan, lalu duduk di tepi ranjang. Minseok dan Junmyeon duduk di kursi di sebelah nakas.
"Mana tega aku membangunkanmu? Kau kalau tidur mirip orang mati, tahu. Tidak bisa dibangunkan, jadi percuma saja aku membangunkan kau," kata Luhan sambil mengusap kepalanya yang sakit. Baekhyun nyengir lebar.
Kemudian Byun Jisoo, kakak Baekhyun yang luar biasa cantik, datang membawakan nampan sarapan. Belum pernah Luhan merasa sekenyang ini; telur goreng, sosis, dua pai apel, dan sepotong besar daging sapi ludes dilahapnya. Mereka berempat membicarakan soal Quidditch, ternyata Chudley Cannons menang semalam. Itu berarti Hoseok kalah taruhan dengan Joohyuk. Baekhyun—yang merupakan penggemar berat Chudley Cannons—terus menerus mengoceh tentang hal ini selama setengah jam non-stop. Minseok kelihatan berhasrat sekali menamparnya.
"Bayangkan, dua ratus lima puluh untuk Cannons, dan dua puluh untuk Wasps. Hah, Seeker-seeker Inggris emang hebat! Aku menang taruhan lima belas Galleon, tapi aku belum dapat uangku. Minseok belum ke Gringotts untuk ambil uangnya," Baekhyun mengakhiri penjelasannya dengan tatapan galak pada Minseok. "Awas kau kalau tidak mau bayar. Aku butuh uang itu untuk beli buku-buku bagus."
Minseok mendengus kesal.
"Aku bisa membelikannya untukmu, Baekhyun. Aku kebetulan juga mau beli buku-buku bagus di Flourish and Blotts," kata Junmyeon ramah. Baekhyun tersenyum lebar dan mengucap terima kasih.
Mereka menghabiskan waktu tiga jam, berdiskusi tentang Quidditch dan pelajaran apa yang akan mereka ambil tahun ini. Luhan mengambil sembilan pelajaran—Arithmancy, Rune Kuno, Ramuan, Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, Sejarah Sihir, Transfigurasi, Herbologi, Telaah Muggle, dan Astronomi. Dia sudah kapok belajar Ramalan, karena terakhir kali dia menghadiri kelas itu, nasibnya diprediksikan tak beruntung. Dan Luhan tidak mau lagi belajar Pemeliharaan Satwa Gaib. Dia nyaris mati diterkam Hippogriff yang mengamuk tahun lalu.
Minseok mengambil delapan; Herbologi, Ramalan, Transfigurasi, Rune Kuno, Ramuan, Sejarah Sihir, Mantra, dan Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Sungguh berita yang mengejutkan bagi Luhan dan Baekhyun, mengingat Minseok adalah salah satu Chaser terbaik di Hogwarts dan tidak mengambil pelajaran Terbang.
Baekhyun, tak tanggung-tanggung, mengambil sebelas pelajaran; Transfigurasi, Terbang, Pemeliharaan Satwa Gaib, Mantra, Arithmancy, Ramuan, Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, Astronomi, Ramalan, Sejarah Sihir, dan Rune Kuno. Baik Luhan, Minseok, maupun Junmyeon bingung bagaimana caranya Baekhyun mengontrol waktu belajarnya. Karena biasanya Professor Kim Myungsoo, pengajar Ramuan yang super menyebalkan itu, memberi banyak sekali PR dalam sekali pertemuan.
Junmyeon, sesuai dengan kepribadiannya yang santai, mengambil enam; Arithmancy, Ramuan, Telaah Muggle, Terbang, Herbologi, dan Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Ternyata dia bukan seorang perfeksionis seperti Baekhyun. Meskipun dia sangat kaya dan merupakan anak dari Kepala Kantor Auror yang sekarang, Kim Soo Hyun, Junmyeon tidak sombong, malah dia sangat murah hati dan suka membantu.
"Wah, maaf sekali harus mengganggu perbincangan serius ini," seorang pria jangkung, berambut coklat, dan bermata sipit berdiri di ambang pintu. Tuan Byun nyengir konyol. "Tapi kita harus segera pergi beli buku. Mandi dan cepat ganti baju, para cowok."
Junmyeon dan Baekhyun bersorak gembira. Mengenal betul Baekhyun, Luhan langsung beranggapan dia senang pergi ke Diagon Alley karena bisa makan es krim gratis. Tentu saja, Junmyeon yang membayarnya, secara dia kaya dan sepertinya suka makan es krim juga.
Tapi Luhan tidak melihat Nyonya Byun hari ini. Tidak di meja makan, di dapur, maupun di ruang tamu. Setahunya, Nyonya Byun adalah pegawai di Kementerian Sihir, Kepala Departemen Penggunaan Sihir yang Tidak Pada Tempatnya, wanita yang amat sibuk bekerja untuk bisa naik pangkat sebulan sekali. Luhan dan Minseok, yang selesai mandi duluan, mengikuti Tuan Byun ke ruang keluarga. Ketika dihadapkan dengan perapian, firasat Luhan langsung tidak enak.
"Dasar barbar," gerutu Baekhyun, merutuki entah siapa, begitu sampai di ruang keluarga. Rambutnya yang basah tidak disisir dan wajahnya ditekuk, kentara amat berang. "Dia tuh. Dia membuatku sebal, menuduhku menyembunyikan dasinya, dan bicara padaku dengan bahasa formal!"
"Aku tahu. Dia menganggap dirinya penting sih," kata Minseok penuh simpati. Matanya mengerling ke arah Tuan Byun. Untungnya, Tuan Byun tidak mendengarnya.
"Jangan begitu, Minseok. Dia kan emang penting," kata Junmyeon.
"Bagus, bagus, bela dia, Junmyeon. Kami semua tahu kau naksir padanya," bentak Minseok pada sepupunya itu.
Komentar yang aneh sekali jika itu untuk Tuan Byun. Luhan baru saja ingin mengutarakan ketidaktahuannya, tetapi seorang cowok memasuki ruangan tanpa senyum. Dasinya acak-acakan. Cowok itu wajahnya mirip Baekhyun, jangkung, tampan, cenderung manis, dan berbahu bidang. Berbeda dengan Baekhyun yang kecil, bantet, dan cantik meskipun dia cowok. Di belakangnya ada seorang cewek luar biasa cantik yang tersenyum lebar ke arah semuanya. Luhan mengenali si cewek; Byun Jisoo, cewek yang tadi mengantarkan sarapan ke kamar, tampak cantik dibalut jubah bepergian warna ungu muda.
Cowok itu melihat arlojinya dengan lagak sok penting. "Dad, aku tidak bisa pergi. Menteri Sihir membutuhkanku. Oh, ya, Mum pergi ke Kantor untuk menyelesaikan beberapa hal. Tenang saja, Jisoo akan ikut bersama kalian. Aku pergi dulu."
"Itu Baekbeom," Minseok berhenti berbisik pada Luhan karena mendengar bunyi pop pelan di beranda rumah. "Dia kakak Baekhyun yang kedua. Wajar kalau kau belum pernah mendengar atau melihatnya. Dia anggota Kementerian, selalu sok sibuk, jarang berada di rumah."
"Bagaimana bisa? Aku sudah empat kali ke sini dan aku tidak pernah melihat Baekbeom sama sekali."
"Kau tahu? Baekbeom bisa tidak pulang setahun jika Nyonya Byun tidak menyuruhnya. Sejak lulus dari Hogwarts tiga tahun lalu, dia mulai berambisi jadi Auror—sebenarnya bukan ambisi, itu kegilaan atau obsesi. Bahkan dia lebih parah daripada Baekhyun. Oh, jika dia berada di rumah, jangan pernah sekali-sekali kau masuk atau mengetuk pintu kamarnya. Kecuali kalau kau mau disihir jadi musang. Dan, kamarnya bau kol, menjijikkan. Kedengarannya sangat barbar, kan?" bisik Minseok, mengerling ke kanan-kiri untuk memastikan bahwa Tuan Byun tidak mendengarnya.
"NAH!" teriak Tuan Byun girang, keras sekali, tangannya menepuk-nepuk sisi perapian. "Anak-anak, perapiannya sudah dibetulkan. Jisoo, bawa kemari bubuk Floo-nya."
Jisoo, yang masih kaget, mengambil sejumput bubuk Floo, lalu mengoper mangkuk besar berisi bubuk berkilau itu kepada ayahnya. Dia melangkah ke perapian, menaburkan bubuk Floo ke nyala api. Dengan deru keras api berubah menjadi hijau zamrud, menjulang tinggi, Jisoo melangkah ke dalamnya, berteriak jelas sekali, "Diagon Alley!" dan langsung menghilang. Baekhyun melongo, mata coklatnya berkilat-kilat hijau merefleksikan api. Minseok dan Junmyeon mundur selangkah, sementara Luhan nyaris pingsan.
"Para cowok, sekarang giliran kalian. Minseok, kau duluan," Tuan Byun mempersilahkan. Minseok maju dengan senyum semringah, mengambil sejumput bubuk berkilauan dan menaburkannya ke nyala api. Api berubah menjadi hijau, Minseok lenyap. Selanjutnya Baekhyun, lalu Junmyeon. Sampai akhirnya tinggal Luhan dan Tuan Byun di ruang tamu.
Gemetar, Luhan maju selangkah, mengambil sejumput bubuk Floo, dan menaburkannya ke nyala api. Api berubah menjadi hijau zamrud, menjulang tinggi, terasa bagai angin hangat begitu Luhan masuk ke dalamnya. Dia menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata, mengucapkan, "Diagon Alley!" dan menelan banyak abu panas.
Detik selanjutnya, dia seperti berpusar cepat, tersedot sebuah lubang yang amat besar, perutnya mual dan kepalanya pusing. Pemandangan ruang tamu lenyap, semuanya hijau, tangan-tangan dingin menampar wajahnya. Hijau menutup pandangannya sepenuhnya. Pai apel dan telur gorengnya bergejolak di dalam perutnya. Kemudian, setelah pusaran itu melemah, dan gelap menutup pandangannya, Luhan jatuh terjembap di tanah berbatu yang dingin. Hidungnya sakit seolah patah.
Pusing dan memar, berlumur angus di sana-sini, Luhan dengan amat hati-hati bangun. Dia sendirian, sama sekali tidak tahu di mana dirinya sekarang. Yang diketahuinya hanyalah dia berdiri di depan perapian baru, di tempat yang kelihatannya toko sihir bekas. Sangat kotor, penuh debu, dan banyak sarang laba-laba. Paranoid, Luhan berlari ke pintu, memutar kenopnya, dan membukanya lebar-lebar.
"LUHAN!"
Dua tubuh mungil serentak memeluk Luhan. Dia sampai terhuyung sedikit ke belakang. Sunggung sebuah mukjizat, Baekhyun dan Minseok bisa menemukannya. Luhan memperhatikan sekelilingnya; Diagon Alley, bank penyihir Gringotts berdiri kokoh di ujung jalan. Di hadapannya ada toko tongkat sihir Ollivanders. Baekhyun dan Minseok melepaskan pelukan mereka. "Aku dengar ada suara geladak-geluduk dari arah sini. Ternyata itu beneran kau—apa yang kau lakukan dengan jubahmu?"
Selesai bicara, Baekhyun mencabut keluar tongkat sihirnya, mengacungkannya ke arah ujung jubah Luhan yang robek parah, dan berkata, "Reparo." dan jubah itu kembali utuh.
"Trims."
Diagon Alley tidak begitu ramai hari ini. Mereka bertiga memutuskan untuk mengambil uang terlebih dahulu, dan bertemu Junmyeon di pintu masuk bank Gringotts. Mereka naik kereta berkecepatan tinggi ke lemari besi Junmyeon. Ketika lemari besi dibuka, Luhan hampir pingsan. Isinya Galleon dan emas batangan serta berlian murni, hanya ada beberapa keping Knut dan sekeping Sickle. Ruangan itu penuh sesak, benar-benar penuh sesak. Junmyeon meraup dua genggam emas dan memasukkannya ke dalam kantong yang cukup besar. Lalu dia menambahkan segenggam lagi. Lagi dan lagi sampai kantong itu penuh emas.
Kereta berputar menuju lemari besi Luhan. Dia langsung merasa paling miskin di sini, mengingat isi lemari besinya tidak sebanyak Baekhyun, Minseok, maupun Junmyeon. Buru-buru dijejalkannya segenggam Sickle dan beberapa keping Galleon ke dalam kantong kulit. Lalu kereta berputar menuju lemari besi Minseok dan Baekhyun, yang kebetulan bersebelahan. Minseok dan Baekhyun kembali dengan saku bergemerincing, dan mereka keluar dari bank.
"Buku-buku kalian semuanya aku yang bayar. Tidak ada penolakan," kata Junmyeon. "Sudah, ayo ke Fortescue. Aku lapar banget."
Junmyeon membeli empat es krim kelapa-kacang ukuran besar yang mereka nikmati dengan gembira sambil berjalan menuju Flourish and Blotts. Yang membuat heran, toko itu sangat ramai, padahal di luar sepi. Luhan menyambar buku Seribu Ramuan dan Jamur Magis, Kutukan dan Kontra-kutukan, Kitab Mantra Standar, Tingkat 4 dan Teori Sihir, kemudian menyelinap di antara kerumunan penyihir-penyihir jangkung yang mengantre. Junmyeon benar-benar membayar semuanya—tiga belas buku Baekhyun, sebelas buku Luhan, sembilan buku Minseok, dan tujuh bukunya sendiri.
Mereka pergi menuju Leaky Cauldron sambil membawa bertumpuk-tumpuk buku tebal. Kata Baekhyun, Tuan Byun menunggu di sana. Sekali lagi, Junmyeon memperlihatkan sisi murah hatinya; dia membeli semacam kuali keemasan dan bahan-bahan kelas Ramuan untuk mereka berempat. Luhan tidak pernah merasa sebersalah ini. Belum pernah ada yang sudi membelikannya barang-barang sekolah baru secara cuma-cuma. Dan yang membuatnya makin merasa bersalah, kuali itu harganya dua puluh satu Galleon. Tangan mereka penuh buku-buku, kuali, dan bahan-bahan kelas Ramuan.
Junmyeon dan Baekhyun saling melontarkan lelucon-lelucon menggelikan di sepanjang perjalanan. Beberapa detik kemudian, terdengar bunyi GUBRAK keras dan buku-buku tebal Baekhyun jatuh berantakan ke jalanan sempit Diagon Alley, mengenai kaki seorang cowok jangkung memakai syal hijau-perak. Si cowok mengusap-usap kakinya yang kejatuhan buku. Tampaknya jari-jari kakinya patah. Baekhyun memunguti buku-bukunya, berdiri, agak sedikit kelimpungan karena keberatan beban. Dia harus mendongak saking tingginya cowok yang baru saja ditabraknya.
Tetapi begitu melihat syal yang dipakai si cowok, ekspresi Baekhyun berubah datar. "Oh, Slytherin," bisiknya entah pada siapa, nada bicaranya dingin sekali. "Maafkan aku," lanjutnya lebih keras.
"Kau oke? Kakimu tidak apa-apa, kan?" tanya Luhan ketika si cowok Slytherin tetap mengerang kesakitan dan tak kunjung berhenti mengusapi kakinya. Luhan membawanya ke tempat duduk terdekat, di depan toko penjual hewan peliharaan, Eeylops. Dia berlutut di depan si cowok, melepas kedua sepatunya, dan tercekat. Keempat jarinya patah dan berdarah, kacau sekali. Si cowok mengerang kesakitan, air matanya merebak. Wajahnya merah padam menahan sakit.
"Oke, tenanglah. Hanya ada satu cara..." Luhan mencabut tongkat sihirnya dari balik jubah, mengacungkannya ke jari-jari yang patah, dan bergumam agak keras, "Episkey." Si cowok mengerang lebih keras, lalu detik berikutnya terdiam, jari-jarinya sudah tidak patah lagi, tetapi masih ada banyak darah kering. Jadi Luhan bergumam sekali lagi, "Tergeo."
Darah kering langsung tersedot oleh tongkat. Kini cowok itu tersenyum penuh kelegaan. Luhan berdiri dan membungkuk rendah kepadanya. "Maafkan temanku. Dia tidak memerhatikan jalannya. Sekali lagi, atas nama temanku, aku minta maaf. Dan aku—"
Detik berikutnya, mendadak Luhan sudah ditarik menjauh oleh Baekhyun. Dia kelihatan marah dan gundah sekali. Mereka melangkah lebar-lebar menuju Leaky Cauldron, Baekhyun menendang pintu kuat-kuat hingga menimbulkan bunyi seperti tembakan meriam, keras sekali. Tuan Byun, yang sedang minum segelas minuman hangat warna oranye di sudut ruangan sambil bercengkrama dengan beberapa penyihir tua bermantel, terlonjak kaget. Jisoo muncul dari balik meja, membawa senampan kue coklat, sup kacang hangat, dua gelas Butterbeer, dan roti panggang.
"Berikan padaku bubuk Floo-nya, Jisoo, aku akan pulang duluan," ujar Baekhyun dingin. Dia mengantongi dua genggam bubuk Floo dan menyeret ketiga temannya ke perapian dekat situ. Luhan mengelus hidungnya yang masih sakit gara-gara jatuh menghantam lantai perapian tadi. Ini jelas bukan cara bepergian favoritnya. Apalagi suasana mendadak canggung, Baekhyun masih marah tanpa alasan. Belum pernah Luhan melihat Baekhyun semarah ini.
"Kau tidak bisa bersikap seperti itu!" kata Minseok cukup berang begitu mereka sampai di rumah, berlumur angus dan belepotan abu panas. "Kau tidak lihat kakinya? Kakinya terluka parah. Untung saja Luhan menolongnya!"
"Aku sudah minta maaf! Dan apakah cowok itu meminta maaf setelah dia melemparkan Bludger padaku tahun lalu? Oh Sehun sialan itu membuatku terbaring di rumah sakit selama dua bulan, Minseok. Dia dan teman-temannya merobek jubah Luhan! Merusak kualiku dan meledakkan ramuanku! Bahkan—apa kau tidak ingat—membuatmu kena detensi membersihkan pantat kuali! Dan kau menyuruhku untuk menolongnya?" cibir Baekhyun. Matanya agak berkaca-kaca.
"Tapi apa salahnya menolong orang lain? Itu yang akan dilakukan oleh seorang Gryffindor sejati!" ucap Minseok. Dadanya naik turun menahan emosi.
"Tetap saja aku tidak mau menolong orang menyebalkan seperti si Sehun itu!"
"STOP!" teriak Junmyeon tak kalah keras. "Tidak ada faedahnya kalian bertengkar sekarang! Toh, Luhan sudah menyembuhkan Sehun. Sebaiknya kalian minta maaf, sebelum Tuan Byun dan Jisoo pulang. Ayo cepat, kalian berdua minta maaf! Minseok, Baekhyun, jabat tangan, minta maaf! Sekarang—jangan menatapku seperti itu, Minseok!"
Baekhyun dan Minseok, dengan ogah-ogahan, berjabat tangan, tersenyum lebar. Mereka lalu tertawa sendiri dan saling merangkul. Minseok tertawa sampai air matanya keluar. Lalu mereka berjalan ke taman belakang untuk bermain Quidditch. Luhan mengernyit aneh, ada apa dengan mereka berdua?
"Aku tidak tahu bagaimana kau bisa tahan punya sahabat idiot macam sepupuku," Junmyeon menghela napas lelah, menepuk pundak Luhan prihatin, dan menghilang di tangga menuju lantai dua.
TBC.
