Hidup di kawasan keluarga Byun sama sekali berbeda dengan hidup di Seoul, di kediaman paman dan bibinya. Keluarga Cho tinggal di sebuah rumah minimalis yang nyaman dan cukup luas di tengah kota—keluarga Byun tinggal di sebuah rumah sangat besar seperti istana, semuanya serba mewah, glamor, dan teratur. Posisinya berada di kawasan gunung sehingga pemandangannya begitu menyejukkan. Baekhyun selalu membaca buku dan mendiskusikan isinya bersama Jisoo di ruang tamu setiap malam. Minseok dan Junmyeon selalu berdiri menghadap cermin tiap sejam sekali, ribut terus soal tinggi badan mereka.

Nyonya Byun, yang pulang seminggu sebelum tanggal satu September, meributkan tubuh Luhan yang terlalu kurus dan memaksanya tambah saat makan. Jisoo selalu menanyainya beberapa pertanyaan seputar dunia Muggle, memintanya menjelaskan bagaimana cara kerja hal-hal kecil macam korek api kayu atau telepon. Sementara Baekbeom, anak kedua keluarga Byun, tidak akan pulang sampai akhir liburan musim panas tahun depan. Jisoo dan Baekhyun bersorak girang dan bertos ria begitu mendengarnya.

Dan hari ini Luhan dibangunkan pukul enam seperempat oleh Minseok, yang sudah mengepak koper, buku, dan burung hantunya—Jo. Baekhyun mengerang dan ngomel-ngomel dari ruang sebelah, disusul oleh bentakan Jisoo yang menyuruhnya cepat mandi. Luhan berpakaian dalam diam, masih terlalu mengantuk untuk bicara, dan menyeret barang-barangnya menuju dapur. Perutnya bergemuruh ketika mencium aroma sup bawang yang kental dan berasap. Junmyeon dan Tuan Byun sudah duduk mengitari meja, Nyonya Byun sedang berkutat dengan panci dan alat-alat makan.

"Mana Baekhyun?" tanya Luhan sambil duduk di atas kursi di sebelah Junmyeon.

"BYUN BAEKHYUN!" teriak Jisoo dari lorong, disusul suara benda jatuh, semacam sapu atau apa. "Buka matamu dan segera makan! Semuanya sudah—" ada benda jatuh lagi, kali ini Luhan yakin itu buku-buku, "—oh Merlin! Aku bersumpah akan menggotongmu, adikku sayang! Sekarang cepat buka matamu dan PERGI MAKAN!"

Sepuluh detik kemudian, seorang cewek luar biasa cantik muncul dengan seorang cowok kurus kerontang di pundak kirinya, mengangkatnya macam karung beras. Jisoo mendudukkan Baekhyun di sebelah ayahnya yang sibuk membaca Daily Prophet. Nyonya Byun melambaikan tongkat sihirnya; panci berasap melayang menuju meja, menuangkan sup kental ke dalam masing-masing mangkuk. Lambaian kedua membuat sebilah roti melayang ke atas meja dan memotong sendiri.

"Selamat jalan, anak-anak," kata Nyonya Byun begitu sesi sarapan berakhir. "Sayang sekali aku tidak bisa ikut. Kuharap hari-hari kalian menyenangkan di Hogwarts. Jaga diri kalian baik-baik. Luhan, Minseok, Junmyeon, aku titip Baekhyun. Dia agak nakal. Pokoknya, jangan biarkan dia tidur sambil berjalan keliling sekolah lagi. Itu memalukan."

Baekhyun merona hebat sampai ke telinga.

Mereka bergegas masuk mobil dan berangkat ke Stasiun Dongdaegu. Sebenarnya mereka bisa berangkat menggunakan bubuk Floo, tapi Tuan Byun tidak ingin ambil risiko ada Muggle melihat rombongan keluarga keluar dari api hijau zamrud. Dan tidak mungkin mereka berangkat dengan ber-Apparate, secara mereka belum lulus ujian Apparition. Sepanjang perjalanan, Baekhyun mendengkur keras di bahu Minseok. Luhan sibuk menggumamkan materi-materi yang dipelajarinya tadi malam. Junmyeon ketiduran di kursi belakang, telentang, dan bagian menyenangkannya; dia tidak mendengkur.

Stasiun Dongdaegu, masih sama seperti tiga tahun lalu, tampak sepi. Luhan menyeret kopernya menuju peron sembilan tiga perempat, yang terletak di antara peron sembilan dan sepuluh, tak terlihat oleh Muggle. Sekolah Sihir Hogwarts berada di kota Seoul, dua ratus delapan puluh dua kilometer jauhnya dari Daegu. Akan sangat melelahkan jika jaraknya ditempuh menggunakan kereta Muggle, tetapi untung saja kereta Hogwarts Express ini sudah diberi sihir, jadi mereka akan tiba di Seoul dalam waktu kurang dari tiga jam.

Luhan berjalan menembus penghalang padat setelah Baekhyun dan sedetik kemudian berada di peron sembilan tiga perempat, tempat Hogwarts Express menunggu. Tuan Byun, Junmyeon, dan Minseok menyusul di belakangnya. Dia segera memberi isyarat pada ketiga kawannya untuk ikut mencari kompartemen kosong.

"Sudah penuh!" ucap Baekhyun berang. "Padahal ini masih jam sebelas kurang dua menit tiga puluh sembilan detik... sekarang kurang tiga puluh tujuh detik!"

"Aku harus bertemu dengan Yixing dulu, kami harus—yah—kami sudah janjian sebelumnya. Jadi, kurasa aku akan menemuinya. Sampai jumpa di kastil," wajah Junmyeon merah padam. Dia menghilang di balik pintu kompartemen D. Minseok mendengus jijik.

"Junmyeon suka padanya. Yixing," ada jeda beberapa detik. "Sebenarnya dia baik. Cuma dia agak pelupa. Ah, syukurlah, ada yang kosong di sebelah sini. Tapi lampunya enggak nyala, biarkan saja. Ayo, masuk."

Minseok membuka pintu kompartemen J dan meletakkan barang-barangnya di rak atas. Luhan duduk di dekat jendela, mencoba untuk mencari posisi tidur yang nyaman. Hawanya terlalu dingin dan dia lupa bawa selimut. Perut Baekhyun meraung minta diisi, hal ini membuat Minseok tertawa terpingkal-pingkal sampai meneteskan air mata. Kereta mulai bergerak meninggalkan Stasiun Dongdaegu. Sosok-sosok orang tua yang mengantar anak mereka mengecil dengan cepat. Langit berubah mendung dan hawa menjadi semakin dingin. Jo dan Owlett beruhu-uhu keras, lalu berhenti setelah kucing Baekhyun—Angela—mengeong marah.

Kereta baru saja melintasi perkebunan apel ketika pintu kompartemen dibuka secara tergesa. Seorang cowok berwajah imut dan bergigi kelinci berdiri di ambang pintu. Lencana Prefek-nya berkilauan, berwarna merah menyala. "Baekhyun, Minseok, apa kalian sudah lupa kalau kalian itu Prefek? Kita harus ke gerbong khusus dan berpatroli! Mana lencana kalian?" tanya Jeon Jungkook, Keeper tim Gryffindor.

"Oh, Merlin! Maafkan kami. Yeah, kami akan pergi ke gerbong khusus. Tunggu kami berganti baju dulu. Trims, Jungkook," jawab Minseok. Dia menggeledah kopernya dan melemparkan jubah, dasi, serta syalnya. Lalu dia mengembalikan kopernya ke rak atas dan menyeret Baekhyun keluar kompartemen.

"Kutinggal dulu. Oh, ya, pesankan Tongkat Likor untukku. Untuk Baekhyun juga. Dadah," dan mereka bertiga menghilang dari pandangan.

Luhan menghela napas. Sekarang, dia kedinginan dan sendirian. Troli penjual makanan akan datang sekitar dua jam lagi, dan perutnya sudah berbunyi. Tetes-tetes air membasahi jendela, jumlahnya makin tak keruan seiring berjalannya waktu. Luhan melepas jaketnya, berganti dengan jubah panjang hitam dan melilitkan syal merah-emas Gryffindor di sekeliling lehernya. Kereta melaju makin cepat melintasi hutan belantara, kemudian membelok ke kanan, melewati hamparan padi yang menguning, siap dipanen.

Pintu kompartemen kembali dibuka. Di ambang pintu, berdirilah seorang cowok luar biasa jangkung dan berkulit pucat. Cowok itu sama menggigilnya dengan Luhan, dan pastilah, tentu saja, tidak kebagian kompartemen. Cowok itu berdeham keras. "Apakah kau akan keberatan jika aku duduk bersamamu?"

Tersenyum, Luhan menggeleng pelan. Si cowok masuk, meletakkan kopernya di rak atas, dan duduk di hadapan Luhan. Wajahnya nyaris tidak kelihatan di bawah tudung jaketnya yang berwarna hitam, tangannya pucat sekali, ramping dan kurus, sekilas pandang dia tampak seperti vampir sedang bepergian. Rambutnya berwarna pirang, hampir perak, senada dengan warna kulitnya. Jemarinya yang kurus bergerak menurunkan tudung jaketnya, namun tetap saja wajahnya tidak kelihatan. Lampu kompartemen J tidak menyala dan langit mendung, nyaris tak ada penerangan di dalam sini.

Kereta bertambah cepat. Kilat menyambar dan Luhan memekik pelan. Cahaya kilat menerangi wajah si cowok sehingga tampak jelas. Wajahnya penuh bekas luka, benar-benar pucat di bawah surai pirangnya. Sudut bibirnya sobek, hidungnya agak bengkok. Satu-satunya bagian di wajah itu yang tidak pucat adalah bibirnya, yang berwarna merah jambu pucat. Kedua iris matanya segelap malam dan setajam pisau, jika saja tatapan bisa membunuh, mungkin saat ini Luhan sudah mati.

Troli penjual makanan muncul satu jam kemudian. Dia meraup empat boks jeli, sepuluh pak Cokelat Kodok, setumpuk besar Bolu Kuali, dan dua gelas teh hijau hangat. Setelah membayar totalnya, dia membawa semua itu ke dalam kompartemen, disambut dengan tatapan menilai dari si cowok.

"Apa kau lapar?" tanya Luhan takut-takut, tangannya mengulurkan dua pak Cokelat Kodok dan segelas teh hangat. "Minum ini. Di sini dingin sekali."

"Terima kasih," jawab si cowok. Dia meniup-niup tehnya, menghirupnya perlahan, dan tersenyum penuh kelegaan.

Sepanjang sisa perjalanan, keduanya hanya diam. Rahang mereka sama-sama bergelatuk kedinginan. Luhan mengunyah jeli dan Cokelat Kodok-nya secara bersamaan dalam kesunyian, dia baru saja akan tidur ketika Hogwarts Express mulai mengurangi kecepatannya dan berhenti di stasiun Hogsmeade. Dia menurunkan barang-barangnya, bertanya-tanya kapan Baekhyun dan Minseok kembali dari gerbong Prefek. Begitu Luhan membuka pintu kompartemen, suara di belakangnya menginterupsi.

"Terima kasih."

"Eh?"

"Terima kasih," Luhan bisa melihat cowok itu tersenyum tipis. "Aku permisi. Uh... sampai jumpa, Luhan."

Luhan terperanjat, dari mana cowok itu tahu namanya? Apa dia penguntit? Penggemar rahasia yang fanatik? Tapi, Luhan bukan siapa-siapa, hanya seorang anak Gryffindor biasa. Dia mengendikkan bahu, pura-pura tidak peduli dan berjalan menuruni kereta. Hawa seratus kali lebih dingin di luar sini. Anak-anak, dengan riang gembira, berlarian keluar stasiun, buru-buru menaiki seratus kereta yang ditarik oleh Thestral. Kata Profesor Jung Yunho, kepala sekolah Hogwarts, hanya orang yang telah menyaksikan kematian yang bisa melihat Thestral. Luhan sudah pernah melihat ayahnya meninggal, lima tahun yang lalu, karena kecelakaan mobil.

"Lu?"

"Ya—? Oh, Baekhyun, Minseok," kata Luhan. "Sejak kapan kalian ada di sini? Mau naik kereta Thestral bersamaku?"

"HEI, TUNGGU AKU! BAEKHYUN, MINSEOK, TUNGGU AKUUU!" teriak Junmyeon dari kejauhan. Seorang cowok manis berlesung pipi terlihat berusaha menyejajarkan langkahnya dengan Junmyeon. Luhan langsung mengenali Zhang Yixing, cowok Hufflepuff super pelupa dan termasuk salah satu murid terpintar di Hogwarts. Aneh? Memang. "Sudah kubilang... tungguh... akuh... dih... luar... keretah..."

"Atur napas nagamu dulu, baru bicara. Lagian, aku sudah menunggumu di luar kereta sejak beberapa menit lalu, tapi kau malah keenakan menggoda cowokmu ini. Dan jujur saja, gombalanmu tadi sangatlah garing, Bung," oceh Minseok. Wajah Yixing merona.

Mereka berlima naik kereta Thestral menuju kastil. Baekhyun menguap lebar, akhirnya tidur di bahu Minseok. Beberapa saat kemudian, kereta sudah sampai di depan gerbang, yang kanan-kirinya dijaga patung babi hutan bersayap, dan mendaki jalan menanjak. Luhan bisa melihat Hogwarts semakin dekat, cahaya dari jendela-jendelanya kabur dan bergoyang di balik tirai hujan lebat. Kereta berhenti di depan pintu besar dari kayu ek, di atas undakan batu. Kelimanya turun dan menaiki undakan, baru menengadah setelah mereka berada dalam Aula Depan, yang diterangi belasan obor, dengan tangga pualamnya yang megah.

Sesampainya di Aula Besar, Junmyeon dan Yixing berjalan ke meja asrama masing-masing. Luhan, Baekhyun, dan Minseok bergegas melewati meja Slytherin, Ravenclaw, dan Hufflepuff, dan duduk bersama anak-anak Gryffindor lainnya di meja paling ujung. Park Jimin dan Kim Namjoon berceloteh tentang guru Transfigurasi yang baru. Profesor Kwon Jiyong mengundurkan diri tahun ajaran lalu, dan hal itu membuat Baekhyun berang sekali karena menurutnya, Profesor Jiyong adalah guru Transfigurasi terbaik di Hogwarts.

"Hei, Lu, coba tebak, siapa Prefek Slytherin yang baru?" bisik Minseok. "Wu Yifan, Park Chanyeol, dan Yoon Jeonghan. Sejauh yang aku ketahui, hanya Jeonghan yang waras di antara mereka bertiga."

"Yeah, untung saja aku tidak di Slytherin. Prefek-nya saja tak becus begitu, aku tidak yakin akan berhasil di sana," celetuk Baekhyun, mengerling tajam ke arah sekumpulan anak berdasi hijau-perak di seberang meja Gryffindor. Pintu aula terbuka dan ruangan menjadi hening. Anak-anak kelas satu yang kecil mungil berjalan malu-malu, dipimpin oleh wakil kepala sekolah Hogwarts, Profesor Lee Donghae.

Profesor Donghae sekarang meletakkan bangku berkaki empat di lantai di depan anak-anak kelas satu. Di atas bangku itu terdapat topi penyihir yang sudah amat butut, kotor, dan bertambal. Kemudian robekan lebar di dekat tepi topi menganga lebar seperti mulut, dan topi itu mulai bernyanyi:

Lebih dari seribu tahun yang lalu,
Waktu aku masih baru berkilap,
Ada empat penyihir terkenal,
Yang namanya kini masih diingat;
Gryffindor si gagah berani dari padang liar,
Gadis gunung Ravenclaw yang jelita,
Hufflepuff yang manis dari lembah luas,
Si pintar Slytherin dari tanah berawa.
Mereka berbagi keinginan, harapan, impian,
Mereka menetaskan rencana berani,
Untuk mendidik para penyihir muda,
Begitulah Sekolah Hogwarts dimulai.
Keempat pendiri Hogwarts ini
Masing-masing mendirikan asrama
Karena mereka menentukan nilai berbeda
Bagi murid-murid pilihan mereka.
Gryffindor paling menghargai
Mereka yang gagah berani;
Bagi Ravenclaw, yang terpintarlah
Yang paling berarti;
Bagi Hufflepuff, yang mau bekerja keras
Itulah yang diterima;
Dan Slytherin yang haus kekuasaan
Menyukai mereka yang besar ambisinya.
Sewaktu mereka masih hidup
Murid-murid favorit mereka pilih sendiri,
Tapi bagaimana menentukan murid yang cocok
Setelah mereka meninggal dan tak ada lagi?
Gryffindor-lah yang menemukan cara,
Dia melepasku dari kepalanya
Keempatnya menyumbangkan otak kepadaku
Supaya aku bisa memilih bagi mereka!
Sekarang selipkan aku di atas telingamu,
Aku belum pernah keliru,
Aku akan mengintip benakmu,
Dan memberi tahu di mana tempatmu!

Aula besar dipenuhi sorak riuh begitu Topi Seleksi selesai bernyanyi. Profesor Donghae membuka gulungan besar perkamen. "Yang kusebutkan namanya maju, memakai topi, dan duduk di atas bangku," katanya kepada anak-anak kelas satu. "Setelah Topi Seleksi menyebutkan asrama kalian, kalian duduk di meja masing-masing.

"Cha Eunwoo!"

"GRYFFINDOR!"

"Kim Myungjoon!"

"HUFFLEPUFF!"

"Amber Liu!"

"RAVENCLAW!"

"Bang Yongguk!"

"SLYTHERIN!"

"Choi Junhong!"

"HUFFLEPUFF!"

"Chou Tzuyu!"

"RAVENCLAW!"

"Park Chaeyoung!"

"GRYFFINDOR!"

"Lalisa Manoban!"

"GRYFFINDOR!"

Dan akhirnya, dengan "Im Nayeon!" ("SLYTHERIN!") acara seleksi selesai sudah. Profesor Donghae mengangkat kursi dan topinya, lalu membawanya pergi. Profesor Yunho berdiri, dia tersenyum kepada seluruh muridnya, lengannya terbuka lebar menyambut mereka. "Hanya dua kata yang akan kusampaikan kepada kalian; selamat makan."

"Horeeeeee!" sorak Namjoon dan Taehyung ketika piring-piring kosong di depan mereka tiba-tiba penuh berisi makanan. Baekhyun menatap mereka dengan pandangan dasar-cowok-cowok-hina.

"Kira-kira siapa ya, yang akan menggantikan Profesor Jiyong?" tanya Min Yoongi, memenuhi piringnya dengan kentang tumbuk dan ayam goreng.

"Kuharap orangnya enggak neko-neko. Enggak suka kasih PR banyak-banyak macam si hidung bengkok Myungsoo itu," bisik Taehyung sambil melirik ke arah meja guru, menatap jijik Profesor Myungsoo. "Lihat caranya menatap kita. Benar-benar menyebalkan. Aku berani taruhan, lima Galleon, kalau dia dulu tidak punya teman."

"Taehyung! Dia itu gurumu!" tegur Jungkook.

"Jungkook, aku tidak bermaksud kasar, tapi sepertinya kita semua harus menyetujui kata Taehyung," sahut Kim Seokjin. "Tidak ada satupun murid Hogwarts yang mau diajar oleh Profesor Myungsoo—kecuali Slytherin, tentu saja."

"Bahkan kami, para Prefek, berharap sekali bisa menonjok hidungnya. Biar sekalian bengkok ke kanan," dengus Minseok sebal, kemudian memasukkan sepotong besar daging sapi ke dalam mulutnya.

"Nah," kata Profesor Yunho setelah acara makan selesai. Dengung celoteh yang memenuhi aula langsung berhenti, sehingga hanya deru angin dan gerujuk hujan yang terdengar. "Sekali lagi, aku minta perhatian kalian untuk beberapa pengumuman. Dengan sangat bangga, sangat gembira, aku memperkenalkan guru baru Transfigurasi, Profesor Jaejoong."

Di sana-sini terdengar tepukan antusias. Profesor Jaejoong tampak menawan dibalut jubah berwarna hitam mengkilap, senyumnya sangatlah manis, wajahnya yang luar biasa cantik untuk ukuran laki-laki berusia 30-an berseri-seri memandang seisi aula. Dia kelihatan baik hati, berbeda jauh dengan Profesor Jiyong yang berwajah murung dan terkenal menyeramkan. Satu-satunya orang yang tidak antusias menyambut hal ini adalah—tidak lain tidak bukan—Profesor Myungsoo. Ekspresinya datar dan tatapannya menghakimi. Bahkan bertepuk tangan pun tidak.

"Dan juga," Profesor Yunho kembali berbicara, sedikit mengeraskan suaranya melawan suara tepukan tangan. Aula mendadak hening. "Dengan sangat gembira, aku umumkan bahwa besok tidak akan ada pelajaran dan latihan Quidditch."

"Anda BERGURAU, Profesor!" seru Namjoon dan Taehyung keras. Mereka tersenyum lebar sekali.

Tawa murid-murid langsung pecah. Profesor Yunho terkekeh senang. "Aku tidak bergurau. Kami, para guru, telah sepakat mengirimkan beberapa murid kelas tujuh Hogwarts ke Sekolah Durmstrang. Dan besok, perwakilan murid-murid Durmstrang akan datang dan, tentu saja, sesuai tradisi, kita akan mengadakan pesta kecil-kecilan untuk menyambut kedatangan mereka. Aku harap kalian bisa bersikap ramah dan sopan selama mereka berada di sini.

"Kabar baik yang kedua, tanggal dua puluh lima Desember nanti, Hogwarts akan mengadakan pesta dansa Natal. Kegiatan ini adalah tradisi lama Hogwarts tiap tahunnya—tetapi tidak diteruskan karena alasan tertentu. Meski demikian, para guru memutuskan untuk mengaktifkan lagi kegiatan ini. Kalian patut berbahagia karena kita akan melaksanakan pesta bersama murid-murid Durmstrang. Yang diizinkan ikut pesta dansa hanyalah anak-anak kelas empat ke atas, tetapi kalian bisa mengajak anak yang lebih muda kalau mau.

"Cukup sudah penjelasannya. Sekarang, murid kelas tujuh yang kusebutkan namanya harap segera keluar dari aula dan mengepak koper masing-masing. Kalian diberi waktu satu jam untuk mengosongkan lemari kalian."

Total seluruh murid yang akan pergi ada empat belas, dan delapan di antaranya berasal dari Gryffindor—Park Bogum, Lee Seunggi, Bae Suji, Lee Sungkyung, dan empat murid lainnya yang Luhan lupa namanya. Mereka semua murid-murid populer, baik karena fisik maupun prestasi akademiknya. Baekhyun bersungut-sungut menggumamkan kekesalannya tidak bisa mengikuti pertukaran pelajar.

"Nah, kuucapkan selamat untuk anak-anak yang terpilih. Semoga sukses. Untuk yang lainnya, aku tahu kalian butuh istirahat. Silahkan tidur. Selamat malam, pip pip!"

Anak-anak bergegas meninggalkan aula. Baekhyun dan Jungkook melesat terlebih dahulu untuk melaksanakan tugas mereka sebagai Prefek, menuntun anak-anak kelas satu, sementara Minseok memutuskan untuk langsung tidur. Satu kamar berisi enam orang; Luhan sekamar dengan Baekhyun, Minseok, Taehyung, Namjoon, dan Yoongi. Sebenarnya Luhan tidak mau karena Taehyung dan Namjoon berisik sekali, selalu membuat kekacauan di malam hari dan tidak akan berhenti kecuali kalau Yoongi meneriaki mereka.

"Kata kunci?" kata lukisan Nyonya Gemuk ketika mereka berlima sampai di Menara Gryffindor.

"Paprika asam," jawab Minseok. Lukisan mengayun terbuka, memperlihatkan lubang di dinding. Mereka menaiki tangga spiral dan tiba di kamar mereka, yang terletak di puncak menara. Namjoon berguling di tempat tidurnya, Taehyung tertawa-tawa keras sekali sehingga mendapat lemparan sepatu dari Yoongi ("Apa kalian tidak bisa tenang sehari saja, hah?!")

"Apa kalian sudah punya pasangan dansa? Yeah, maksudku, empat bulan lagi acaranya mulai," kata Minseok.

"Aku berencana mengajak Seokjin. Dia oke juga, sih," ucap Namjoon, tatapannya menerawang jauh. "Tapi kurasa, anak-anak Slytherin juga banyak yang oke. Kalian tahu Wonwoo? Dia cakep, kalau menurutku."

"Dengar-dengar sih, Wonwoo naksir Luhan. Apa itu benar?" tanya Yoongi.

"Berita itu tidak benar. Wonwoo sudah jadian dengan Mingyu, si hitam Slytherin itu," Taehyung mencibir.

"Yah, sia-sia deh, ramuannya," gumam Minseok.

"Hm, begitu, ya? Baiklah. Aku masih punya Yixing, anak pelupa Hufflepuff itu. Terus kudengar Kyungsoo si mata-lebar Ravenclaw itu menarik juga. Oh, bagaimana dengan Zitao, si panda Hufflepuff? Kudengar dia jomblo dan tidak sedang dekat dengan siapa-siapa. Bagaimana menurut kalian? Apa aku harus mengajak mereka semua?" tanya Namjoon antusias. Sifat serakahnya muncul.

"Biar kuperjelas; Yixing sudah pasti akan datang bersama sepupuku, Junmyeon. Kyungsoo? Lupakan soal dia, kudengar dia sudah jadian dengan Kim Jongin. Bisa-bisa lehermu digorok olehnya. Dan Zitao—lupakan juga soal dia. Dia sangat antisosial, enggak suka bergaul, dan lebih suka menyendiri di perpustakaan. Sebelum kau meminta pun, ajakanmu pasti ditolak," jelas Minseok panjang lebar.

"Dari mana kau tahu soal semua ini?" tanya Taehyung takjub.

"Baekhyun. Siapa lagi?" sahut Namjoon. Minseok mengangguk-angguk mengiyakan.

"Besok akan menjadi hari yang sangat menyenangkan, karena kalau saja jadwal kita enggak dikosongkan, pelajaran pertama kita adalah Ramuan!" seru Yoongi.

"Yeah, hidup Profesor Yunho," kata Taehyung.

"Sudah semuanya, ayo kita tidur. Aku capek," Yoongi bergelung masuk ke dalam selimut tebalnya.

Luhan membaringkan diri, ingin bertanya sesuatu tentang pesta Natal kepada Namjoon, tetapi semuanya sudah tidur. Serangkaian gambar baru terbentuk dalam benaknya, begitu indah dan menyenangkan... Dia berkenalan dengan salah satu murid Durmstrang yang tampan... mereka berkencan... si anak Durmstrang menciumnya... lalu mereka pergi ke pesta bersama-sama, memakai jubah mewah dan mendapat pujian dari sana-sini... tatapan iri mengarah padanya... kemudian Baekhyun bertanya bagaimana bisa dia menggaet pria setampan si Durmstrang...

Luhan nyengir malu, senang Minseok tidak bisa melihat apa yang dibayangkannya.


TBC.

A/N: Prefek di FF ini dipilih pada tahun keempat dan tiap asrama punya tiga.