Hal pertama yang Luhan sadari begitu dia bangun tidur adalah dia terlambat, hampir sepuluh menit, dan semua teman sekamarnya sudah turun ke Aula Besar untuk sarapan. Setengah sadar, dia memakai jubahnya, menyambar tas, lalu segera turun ke bawah. Entah kenapa, ketika dia melirik keempat meja panjang Aula Besar dan tidak menemukan cowok pucat berambut pirang kemarin, suasana hatinya mendadak buruk. Meja Slytherin, yang biasanya sunyi senyap, kali ini terlihat lebih ramai—meja panjangnya didominasi oleh para siswi. Mereka berbisik-bisik seru, menatap Luhan seakan dia adalah buronan yang berhasil kabur.
Anehnya, siswi-siswi Hufflepuff, Ravenclaw, bahkan Gryffindor melakukan hal sama. Luhan diam saja, meski ingin sekali rasanya dia bertanya apa yang terjadi, berjalan cepat-cepat menuju meja asramanya dan duduk di samping Minseok. Baekhyun dan Yoongi bisik-bisik juga, kelihatannya seperti berdebat tanpa suara. Merasa jengah sendiri dengan perlakuan teman-temannya, Luhan membuka mulut, "Apa sih, yang kalian bicarakan?"
"Maaf, tapi, apa itu benar?" bisik Seokjin, suaranya pelan sekali. "Kau—Oh Sehun—satu kompartemen kemarin. Apa itu benar? Tapi kau tak apa-apa, kan? Kau tidak cari gara-gara dengannya, kan?"
"Memangnya kenapa, sih? Aku enggak paham, tahu," kata Luhan polos.
"Ya ampun, kau tidak tahu?" kata Taehyung. "Wah, dia benar-benar tidak tahu. Daebak."
"Ish, diam kau, pergi sana," desis Baekhyun. "Oh Sehun—anak Slytherin itu. Yang tahun lalu menghajar delapan—bayangkan, delapan—anak kelas enam, dengan tangan kosong. Alasannya masuk akal, sih, habisnya mereka menghina Sehun karena dia kelahiran-Muggle. Mudblood, Darah-lumpur atau apalah itu sebutannya. Tapi siapa sangka, marahnya bisa sampai seperti itu? Mereka masuk St Mungo dan baru keluar dua bulan kemudian."
"Apa yang salah dengan sebutan itu? Artinya apa sih?" tanya Namjoon.
"Sebutan Darah-lumpur adalah suatu penghinaan bagi kelahiran-Muggle. Tidak ada penyihir beradab yang tega memakai istilah itu," kata Luhan. "Dan wajar jika dia marah. Aku pun juga akan melakukan hal yang sama jika aku jadi dia."
"Kami kuatir padamu, sungguh. Maksudku, aku kuatir jika kau salah omong dan Sehun emosi. Kau harus tahu apa yang dilakukannya saat ada anak Slytherin yang coba-coba mengajaknya bicara," jelas Seokjin. "Dia menyerang dengan Mantra Pengikat-tubuh."
"Itu alasan kenapa anak-anak memandangimu terus dari tadi. Beritamu sudah menyebar luas. Mungkin mereka takut kau akan dimantrai juga. Mati membatu itu sama sekali enggak cool, kawan," kata Baekhyun bercanda.
"Menurutku itu bukanlah sesuatu yang buruk. Berbahagialah, selagi dia belum menghajarmu," kata Yoongi.
"Tapi sebentar," Taehyung menyela setelah menelan sepotong besar pai labu. "Kau bilang Darah-lumpur adalah sebutan untuk kelahiran-Muggle—"
"Hinaan," koreksi Yoongi absolut.
"—kenapa aku tidak dipanggil Darah-lumpur juga? Kalian tahu ayahku Muggle," lanjut Taehyung.
"Kalau cuma ayahmu yang Muggle, tapi ibumu penyihir, berarti kau seorang Darah-campuran. Sama seperti aku. Ayahku Darah-murni, sementara ibuku Darah-campuran, berarti aku Darah-campuran," kata Namjoon.
"Di Gryffindor jarang sekali ada yang Darah-murni. Paling mentok cuma Darah-campuran," kata Jungkook, yang telah mengambil posisi di sebelah Baekhyun, menyendok sup kacang merah ke dalam mangkuknya. "Itu karena Gryffindor tidak pilih-pilih macam Slytherin."
Ketika bel berdering, para kepala asrama meminta murid-murid mereka untuk segera merapikan diri dan berbaris di Aula Depan. Kepala asrama Slytherin, Profesor Myungsoo, mengerling jijik kepada seluruh murid Gryffindor. Hubungan antara kedua asrama ini memang tak pernah baik.
"Anak-anak kelas satu di depan... jangan dorong-dorong... ikuti aku," kata Profesor Yunho.
Mereka berbaris menuruni tangga dan berjajar di depan kastil. Udara pagi itu dingin sekali, Luhan jadi kasihan pada Yoongi yang kecil mungil. Sebagian besar anak-anak memandang ke angkasa, menatap langit mendung. Tak ada apa-apa.
"Lihat ke danau! Profesor, danaunya!" teriak anak Ravenclaw kelas dua.
Dari posisi mereka di puncak padang rumput yang menghadap ke halaman, mereka bisa melihat dengan jelas permukaan air yang licin dan gelap—hanya saja kini permukaan itu tidak lagi licin. Gelembung-gelembung besar terbentuk di permukaannya, seolah gangguan besar sedang terjadi di dalam air. Dan kemudian, di tengah danau, muncul pusaran air, besar sekali, anak-anak menyaksikan dengan amat bergairah.
Sesuatu yang tampak seperi tiang hitam muncul dari tengah pusaran air, kemudian Luhan melihat tali temalinya. Sejenak dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, lalu, dengan megah, sebuah kapal besar muncul, diikuti beberapa kapan lainnya, dan meluncur menuju pantai. Orang-orang turun dari kapal, namun hanya kelihatan siluetnya karena cuaca hari ini agak berkabut.
Luhan memperhatikan, anak-anak Durmstrang sangat jangkung dan bertubuh kekar. Jubah merah darah mereka sangatlah bagus jika disandingkan dengan jubah hitam polos Hogwarts. Yang paling jangkung berdiri di depan, jubahnya beda sendiri—keperakan dan licin, senyumnya merekah lebar. Profesor Yunho tertawa, lalu mereka berjabat tangan.
"Welcome to Hogwarts, my lovely Durmstrang children," kata Profesor Yunho dengan bahasa Inggris, tersenyum lebar kepada seluruh murid di belakang orang jangkung itu. "Max Changmin, it's a pleasure to see you again."
"Ah, Hogwarts, it's been so long since the last time I got here," Profesor Changmin, kepala sekolah Durmstrang, menjawab dengan aksen Eropa yang kental sekali. Sepertinya dia blasteran Korea-Norwegia—wajahnya oriental, dan sepertinya tak bisa bahasa Korea. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun, matanya menatap kastil Hogwarts dengan tatapan sedingin es.
"Apakah mereka dari Durmstrang cabang Korea? Kalau iya, kenapa pakai bahasa Inggris?" tanya Baekhyun. Luhan mengendikkan bahu.
Mereka berjalan masuk kembali ke Aula Besar. Anak-anak Durmstrang langsung duduk di meja Gryffindor, melepas mantel bulu mereka yang berat, dan mendongak menatap langit-langit biru cerah dengan ekspresi kagum. Namjoon mengerang kelaparan di sebelah Taehyung, yang tampaknya sangat bersemangat. Salah satu murid Durmstrang menunduk mengajak bicara Minseok.
"Selamat pagi, anak-anak, para guru, para hantu, dan tentu saja, para tamu yang terhormat," kata Profesor Yunho, tersenyum untuk entah yang keberapa kalinya kepada tamu-tamu. "Dengan sukacita yang teramat besar, aku menyambut kedatangan kalian semua di Hogwarts. Aku berharap dan percaya selama kalian tinggal di sini, kalian akan nyaman dan senang. Dan sekarang, marilah kita makan. Selamat menjamu selera, dan anggap saja di rumah sendiri."
Piring-piring dipenuhi makanan. Namjoon dan Taehyung—mereka selalu kompak—berteriak senang dan mulai melahap ayam panggang. Di hadapan mereka tersaji lebih banyak makanan daripada biasanya, termasuk beberapa yang jelas sekali asing.
"Apa ini?" tanya Yoongi, mengangkat piring berisi kue selai stroberi.
"Lingonberry mousse," kata Park Jimin, Beater tim Gryffindor.
"Dan apa itu?" tanya Yoongi lagi, menunjuk bola-bola coklat beku bertabur parutan kelapa.
"Chokladboll," jawab Jungkook.
"Buset, dah," sergah Taehyung. "Aku kan, pengin kimbap."
"So, Jungkook, ceritakan padaku sedikit tentang Hogwarts—oh, please forgive my Korean. I'm still bad at it," kata salah satu anak Durmstrang yang tampan, alisnya tebal dan berhidung lurus mancung.
"Your Korean is so good for a beginner, by the way," Jungkook tersenyum maklum. "Hogwarts has four houses; Gryffindor, Slytherin, Hufflepuff, and Ravenclaw. And now, you are sitting at Gryffindor's table. And we also have—"
Sisanya Luhan tidak dengar karena dia sibuk memerhatikan sosok pucat berambut pirang itu. Oh Sehun makan sendirian, jarak tiga meter dari teman-temannya, dan tampak tak peduli sama sekali. Luhan mengernyit, separah itukah diskriminasi Slytherin terhadap seorang kelahiran-Muggle? Ketika Sehun menatapnya balik dan tersenyum, wajah Luhan langsung panas. Jantungnya berdegup kencang, dasar perutnya diaduk-aduk oleh kebahagiaan. Dia yakin sekali dirinya merona parah sampai ke leher.
"Seokjin, maukah kau pergi ke pesta dansa bersamaku? Would you be my dance partner?"
Sorakan riuh memutus kontak mata antara Luhan dan Sehun. Namjoon baru saja mengajak Seokjin ke pesta di depan semua anak. Alhasil, wajah Seokjin semerah kepiting rebus sekarang. Dia mengangguk malu-malu, dan Taehyung meninju lengan Namjoon, memberinya selamat. Luhan ikut tertawa geli bersama anak-anak lainnya.
"Hei," Jimin meraih tangan kanan Jungkook. "Pergilah ke pesta bersamaku."
Detik itu juga, wajah Taehyung berubah masam. Yoongi tersedak pai apel.
"Oh," Jungkook merona. "Oh, oke, baiklah."
Luhan memiliki firasat Yoongi tidak baik-baik saja.
"Hei, hei, kau!" seru Taehyung pada seorang anak Slytherin kecil mungil yang baru saja lewat. "Siapa namamu?"
"L-lee Chan," jawabnya pelan.
"Sudah punya pasangan?"
"E-eh?" Lee Chan kebingungan. "B-belum, sunbae."
"Pergilah denganku."
Luhan antara ingin ngakak dan kasihan melihat wajah Lee Chan, yang kentara sekali terpaksa. Tubuhnya kecil sekali, nyaris dua puluh sentimeter lebih pendek dari Taehyung sendiri. Lee Chan lari keluar aula setelah itu, gemetar dan alih-alih merona malu seperti Jungkook dan Seokjin, dia pucat pasi.
"Dia kayak habis lihat hantu," gumam Minseok. Baekhyun tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
"Kurasa aku harus ke kamar mandi," kata Yoongi kepada Seokjin. "Dan aku tidak akan kembali. Nikmati makanannya... er... oke... sampai jumpa..." dan Yoongi berjalan perlahan meninggalkan Aula Besar.
"Apa yang salah?" tanya Seokjin.
"Entahlah, dia kan suka begitu. Aneh," jawab Jimin ketus.
Perasaan marah menggelayuti hati Luhan, jadi dia harus pergi ke kamar mandi untuk meredam amarahnya. Koridor kosong, semua orang sedang menikmati pesta penyambutan Durmstrang. Dia tidak tahu bagaimana dia bisa menjelaskan pada Jimin bahwa Yoongi menyukainya sejak kelas satu, dan sekarang pastilah cowok itu patah hati mengingat tadi Jimin terang-terangan mengajak Jungkook ke pesta.
Luhan berhasil menemukannya di toilet laki-laki lantai bawah, jauh sekali dari Aula Besar, sedang menatap hampa kaca wastafel, ditemani segerombolan burung mungil warna biru yang berkicau di kanan-kiri kepalanya. Kedua mata itu berair, merefleksikan cahaya putih lampu toilet. Yoongi menghela napas berkali-kali, kelihatan putus asa dan menyerah. Ketika Luhan hendak berkata sesuatu, Yoongi menatapnya lewat kaca, tersenyum tipis, lalu menunduk untuk membasuh mukanya yang merah padam.
"'Alo," sapanya serak. "Mantra pemikat, baru kupelajari."
"Ah, bagus sekali," jawab Luhan jujur. "Kau menyukainya, kan? Menyukai Jimin, kan?"
Yoongi tertawa, pelan sekali, mencemooh. "Kau itu apa, seorang telepati?" dia menyedot ingus dan tawanya berhenti. "Jimin, kelihatannya dia menikmati pestanya. Dia... mereka—pasti akan menghisap wajah satu sama lain, dan—"
Luhan menunggu lanjutannya, tetapi Yoongi berhenti, suaranya tercekat, wajahnya sedih sekali. Jadi Luhan buru-buru mengalihkan pembicaraan. "Kau tenanglah, masih banyak orang yang mau pergi bersamamu," katanya.
"Oh, ya, kuharap begitu," Yoongi menggosok matanya yang berair. "Aku sebaiknya ke kamar. Sampai jumpa."
Yoongi berjalan tegak ke arah pintu. Ketika tangannya sudah menyentuh kenop, dia berbalik. "Kau sudah bisa latihan Quidditch besok. Kuucapkan selamat. Tahun ini kita musuh Hufflepuff," dan dengan senyuman lirih, Yoongi menghilang di koridor.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Seseorang masuk. Luhan refleks mundur sampai pinggangnya menyentuh porselen wastafel. Itu Oh Sehun, jelas sekali, wajahnya pucat dan babak belur, sama seperti yang terakhir kali dilihatnya di kompartemen. Hening sejenak, sebelum Luhan tersenyum sangat canggung macam orang sakit gigi dan melambaikan tangannya, berkata dengan intonasi gugup tak wajar, "Halo. Lama tak berjumpa, ya? Haha... ha."
Oh Sehun tertawa kecil. "Kita baru bertemu kemarin malam."
"Hehehe," wajah Luhan menghangat. Dia pasti terlihat goblok sekarang. "A-apa semester ini menyenangkan bagimu? Kau tahu—hik—maksudku—hik—kan?"
"Cukup oke. Ngomong-ngomong, kenapa kau cegukan begitu?''
Ah, dasar sialan. Kau terlalu tampan, makanya aku cegukan! "Hehehe, tak apa—hik," Luhan menggaruk tengkuknya gugup.
"Anapneo," kata Sehun tenang, mengacungkan tongkat sihirnya ke arah Luhan, yang langsung berhenti cegukan. "Apakah sudah lebih baik?"
"Ya. Terima kasih banyak."
"Kuucapkan selamat. Kata Yifan, kau diterima menjadi anggota Quidditch lagi. Tapi, entah kenapa dia tak begitu senang mengucapkannya," Sehun mengulurkan tangannya.
Luhan menyambutnya malu-malu. Tangan Sehun dingin dan kuat. "Terima kasih."
"Mau ke Menara Utara? Kita bisa ngobrol sebentar. Kalau ngobrol di sini tidak enak, nanti orang curiga kita—" kini Sehun yang merona, ujung telinganya memerah sedikit. "Ehm, bagaimana?"
Luhan mengangguk saja. Mereka berjalan berdampingan menuju Menara Utara yang letaknya tak seberapa jauh dari kamar mandi lantai bawah. Sehun mengacungkan tongkat sihirnya ke arah kenop pintu kelas Ramalan, mengucapkan sebuah mantra, dan pintu langsung terbuka. Kelas Ramalan adalah kelas paling kotor yang pernah Luhan lihat; baunya perpaduan antara kol dan ampas teh basi, lantainya terbuat dari kayu yang sudah reyot, selalu berderik jika seseorang meginjaknya. Pantas saja peminat pelajaran ini sedikit sekali, sudah pelajarannya membosankan, kelasnya kotor pula.
"Agak kotor, ya. Pasti Profesor Yoochun lupa membersihkannya," Profesor Yoochun adalah guru pengajar Ramalan. "Sebentar. Biar kubersihkan. Reparo."
Cowok pucat itu melambaikan tongkatnya asal. Boks-boks berisi bola kaca menutup kembali dan melayang ke rak atas, diikuti oleh gelas-gelas dan buku-buku usang. Kursi membalik sendiri, meja-meja yang berantakan didorong ke dinding sesuai dengan letak aslinya. Ampas teh dan tumpahan air lenyap diserap lantai kayu. Luhan tersenyum miris, meskipun sudah agak bersih, namun tetap saja bau kol.
"Nah, seenggaknya sekarang sudah bersih," Sehun menarik satu kursi dan duduk di atasnya
"Ini alasan kenapa aku enggak suka Ramalan," kata Luhan. Dia mendudukkan diri di hadapan Sehun sambil mendengus jijik. "Ewh. Kol."
"Kau tadi ngapain di kamar mandi? Dan, kulihat ada cowok yang menangis. Apa itu temanmu?"
"Yeah, itu Yoongi. Kau tahu, lah, masalah remaja. Patah hati terbaik," Luhan melihat Sehun menggaruk luka di sudut bibirnya, sehingga dia tak kuasa untuk tidak bertanya. "Kalau boleh kutanya, kenapa wajahmu lebam gitu?"
Sehun mendadak diam. Menyadari hal ini, tentu saja Luhan merasa tidak enak. "Maaf, maaf! Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya... er... kau tahu, refleks. Uh, mau kubantu menghilangkannya? Aku tahu mantra yang tepat."
"Tidak apa. Tak usah repot-repot," kata Sehun dengan suara rendah.
"Aku benar-benar minta maaf. Aku beneran refleks tadi," gumam Luhan agak keras.
"Tidak apa. Toh, ini bukan kasus yang memalukan. Aku akan menceritakannya. Tapi akan sedikit lama."
"Tidak usah! Aku tahu kau tidak mau menceritakannya. Aku bisa menghargai privasimu, kok," Luhan tersenyum macam orang sakit gigi untuk yang kedua kalinya.
"Cuma kau yang sudi bicara denganku. Rasanya enggak adil kalau aku merahasiakan sesuatu dari kau," kata Sehun. Suaranya terdengar rapuh sekali. Luhan bergeser pindah ke sebelahnya, merangkulnya, mengelus bahunya perlahan. "Aku sudah memperingatkan, ini akan sedikit lama."
"Aku siap mendengarkan."
Sehun tampak ragu sejenak, tapi dia tersenyum lirih dan menghela napas getir. "Ayahku membenciku karena aku penyihir," kemudian ada jeda, Luhan semakin erat merangkulnya. "Aku kelahiran-Muggle. Ayah bahkan tak mau menemaniku menukarkan uang Muggle ke Gringotts. Tak mau menemaniku belanja. Menjauhiku. Yeah, bayangkan saja ada anak cupu, pucat, dan kurus kerontang berkeliaran di Diagon Alley membawa keranjang berisi peralatan sihir. Kira-kira, dulu aku kayak gitu."
Luhan tak bisa tidak tertawa. "Siapa sangka anak cupu, pucat, dan kurus kerontang itu ternyata berubah menjadi salah satu anak terpintar di Hogwarts? Kadang hidup selucu itu, ya?"
"Kau benar. Siapa sangka, seorang ayah yang dulu mencintaiku, begitu membanggakanku, sekarang berubah menjadi orang yang paling tak peduli padaku? Orang yang selalu memukuliku jika aku berani mengungkit-ungkit tentang sekolah, padahal dulunya dia hampir tak pernah membentakku. Ibuku diusir dari rumah karena mendukungku sebagai penyihir, padahal dulu Ayah sangat mencintai ibuku. Teman-temanku menjauhiku karena takut kukutuk jadi kelinci, padahal dulu mereka berjanji akan berada bersamaku sampai kapanpun. Kau benar, Luhan, kadang hidup selucu itu," Sehun tertawa.
"Tapi semua masalah pasti menyimpan hikmah di baliknya. Aku dulu terbiasa hidup bergelimang harta dan kasih sayang, yang jika kupikirkan, akan membuatku manja kalau aku terus-terusan begitu. Aku sedikit bersyukur, karena seenggaknya, aku bisa belajar mandiri. Belanja sendiri, tukar uang sendiri, apa-apa sendiri, bukankan itu menyenangkan, jika tak ada orang yang mengganggumu? Aku juga tentu tak bisa membenci orang yang telah membesarkanku, kan?"
"Yeah, kau tak bisa membenci orang yang telah merawatmu," kata Luhan ngelantur. Pikirannya melayang pada Paman Kyuhyun, yang selalu memarahinya jika belajar di kamar, dan Bibi Sungmin, yang melarangnya makan kurang dari tiga kali. Ada masa-masa di mana Luhan ingin sekali mengutuk mereka menjadi kelelawar buntung, atau minimal menutup mulut mereka. "Jadi, ayahmu memukulimu karena kau mengungkit-ungkit tentang sekolah? Aneh sekali."
"Tidak juga. Kalau yang ini," Sehun menyibak poninya, menampilkan luka lebam biru yang mengerikan. Luhan merinding hebat. "Ini karena aku ketahuan mempelajari mantra. Dan kalau memar yang ini," dia menunjuk pipi kirinya, "ini karena aku ketahuan melanggar peraturan."
"Peraturan apa?"
"Aku berkelahi di koridor. Aku memukuli anak-anak asramaku sampai babak belur tahun lalu. Kau tidak tahu tentang berita itu?"
Luhan mengangguk. Ternyata, omongan Baekhyun benar dan tidak sekadar gosip. "Aku tahu dari temanku. Kejadiannya aku tidak lihat."
"Sejak kecil aku sudah belajar bela diri. Hapkido, judo, dan karate adalah keahlianku. Dan anak-anak yang kupukuli itu sangat ringan, membanting mereka ke atas ke bawah mudah sekali. Mereka menghinaku duluan, tapi aku yang dapat detensi. Banyak yang menjauhiku, mungkin karena takut kubanting atau apa. Saat ayahku tahu, dia benar-benar marah. Liburan kemarin dia memberiku detensi tambahan; tidak makan selama seminggu."
"Tunggu, tunggu, tunggu, apa? Tidak makan seminggu? Hell, tidak makan tiga jam saja emosiku sudah naik turun. Ini malah seminggu! Pelanggaran hak asasi manusia—eh, penyihir!" Luhan mengumpat.
Sehun terbahak. "Aku sudah terbiasa diperlakukan tidak adil. Lagian, aku enggak benar-benar enggak makan. Aku punya banyak kue dan permen di kolong kasurku. Sahabatku di Beauxbatons juga bisa diandalkan. Dia sering mengirimkan bantuan lewat burung hantu. Entah bagaimana aku bisa membalas kebaikannya. Yang pasti aku berjanji akan membalas semuanya," kedua matanya menerawang jauh.
"Wah, aku salut padamu. Kau benar-benar tabah," puji Luhan tulus. "Berarti, kita sama-sama dibesarkan oleh Muggle, ya? Kau dengan ayahmu, dan aku dengan paman dan bibiku."
"Apakah orang tuamu... maafkan aku, aku hanya menebaknya... meninggal?" tanya Sehun.
"Ya. Ayahku penyihir, ibuku Muggle. Mereka meninggal karena kecelakaan mobil beberapa tahun yang lalu. Saat itu aku duduk di bangku belakang, jadi aku selamat," jawab Luhan.
"Aku turut berduka untuk orang tuamu."
"Terima kasih banyak," Luhan nyengir lebar. "Oh, ya, apakah kau akan ikut pesta?"
Sehun berpikir sejenak. "Kelihatannya tidak. Aku tidak punya jubah mahal. Kau sendiri?"
Senyum Luhan pudar sedikit. Entah kenapa, hatinya mendadak kosong. "Aku? Entahlah. Di satu sisi, aku ingin ikut, tapi pamanku tak akan mau membelikanku jubah pesta. Dia sibuk sekali."
Mereka kemudian berbicara banyak tentang pelajaran. Luhan bersorak girang begitu tahu Sehun juga mengambil pelajaran yang sama dengannya; Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, Astronomi, Ramuan, Transfigurasi, dan Arithmancy. Itu berarti keduanya bisa sering-sering bertemu. Meskipun berasal dari keluarga tanpa latar belakang sihir, Sehun sangatlah pintar, wawasannya luas sekali sampai-sampai Luhan minder. Dia merasa menjadi orang paling bodoh di muka bumi setiap kali Sehun memulai pembicaraan.
"Aku selalu bertanya-tanya kenapa aku ditempatkan di Slytherin, padahal sifatku lebih ke Hufflepuff," kata Sehun.
"Kita sama. Sifatku lebih ke Ravenclaw, tapi Topi Seleksi malah menempatkan aku di Gryffindor," kata Luhan. "Tapi menurutku, kau cocok di Slytherin. Setahuku, Slytherin hanya menerima anak yang pintar, ambisius, pemberani, dan banyak akal. Semuanya cocok denganmu."
"Maksudmu, aku licik, begitu?" tanya Sehun geli. Wajah Luhan memerah.
"Bukan begitu. Kau pintar, buktinya wawasanmu sangat luas dan kau selalu peringkat satu, mengalahkan yang lain. Kau ambisius dalam menepati janjimu pada sahabatmu, aku bisa melihatnya. Pemberani, tentu saja, kau berani menghadapi semua masalahmu. Ayahmu, sekolah, ujian, PR, dan lain lain. Kau juga punya banyak akal untuk mengatasi masalah yang ada. Misalnya kau dihukum tak boleh makan, kau bisa mengatasinya dengan cara menghubungi sahabatmu. Itu maksudku," jelas Luhan panjang lebar serta jujur.
Hening sejenak. Keadaan berubah sangat canggung.
"Belum ada orang yang berkata seperti itu padaku," kata Sehun lirih.
"Maafkan aku. A-aku tidak bermaksud berkata kau licik atau apa, aku hanya berkata ka—"
"Terima kasih," cowok pucat itu tersenyum manis. Sangat manis. Luhan bisa mimisan. "Aku tidak pernah diperlakukan semanusiawi ini. Kau sudah menolongku."
"Kau juga menolongku. Selama ini, aku merasa akulah orang paling tak beruntung di dunia. Ternyata, masalahku tak ada apa-apanya dengan masalahmu," Luhan malu. Mengingat dia sering mengeluh tentang hal-hal sepele macam televisi rusak atau makanan yang kurang enak.
"Saling menolong itu indah, bukan?" Sehun terkekeh.
"Itulah gunanya sahabat!" seru Luhan dan terbahak. Tapi Sehun tidak tertawa.
"Kau menganggapku sahabat?" bisiknya kaget.
"Tentu! Mulai sekarang kita sahabat, dan kau bisa bercerita apapun denganku. Jika ada masalah, jangan sungkan minta bantuan padaku," Luhan tersenyum lebar-lebar.
Senyuman itu muncul. Senyuman yang bisa membuat Luhan mimisan seketika. "Terima kasih. Ternyata, alam semesta masih menyayangiku. Terima kasih, Luhan."
TBC.
hunhan akhirnya ketemu. azek.
